Selasa, 03 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 12

DUA BELAS


DI  HADAPANNYA  DI  ATAS  MEJA,  berdiri  flacon  berisi parfum  karya  Pélissier. Berkilapan  cokelat  keemasan diterpa  sinar  matahari,  bening  dan  tidak  kusam.  Tampak 
begitu  polos  seperti  air  teh  yang  tidak  kental,  tapi  tetap solid sebagai parfum. 

Selain empat perlima bagian alkohol, 
seperlimanya  berisi  campuran  misterius  yang  mampu mengharubirukan seluruh Paris. 

Campuran itu kalau diteliti mungkin  berisi  tiga  atau  tiga  puluh  ramuan  berbeda  yang 
disiapkan dari berbagai kemungkinan kimia,  yang masing-masing proporsinya sangat tepat. 

Jiwa parfumnya sungguh terasa - itu kalau kita cukup berbaik hati menyebut parfum buatan  oportunis  macam  Pélissier  'memiliki  jiwa’.  

Tugas Baldini sekarang adalah bagaimana menemukan komposisi parfum ini. Baldini  menghela  napas  perlahan  lalu  menarik  gorden menutupi jendela. Cahaya matahari langsung  dapat  sangat merusak  aroma parfum  atau  aroma  konsentrat  lain  yang 
sejenis.  

Sehelai  sapu  tangan  putih  berenda  ia  keluarkan dari laci dan digelarnya di atas meja. Lalu, sambil menarik kepala sejauh mungkin dan memencet hidung, ia memutar tutup flacon perlahan-lahan. Ia tak ingin merasakan sensasi penciuman  prematur  secara langsung  dari  botol.  

Parfum harus diendus dalam bentuk gas yang sedang mekar, bukan dalam  bentuk konsentrat.  Ia  memercik  beberapa  tetes  ke 
permukaan  sapu  tangan,  mengibas-ibas  sebentar  untuk mengusir  uap  alkohol,  lalu  didekatkan  ke  hidung.  Dalam tiga tarikan napas cepat ia mengisap aroma parfum seolah terbuat  dari  bubuk  saja,  lalu  segera  mendengus menghembuskan napasnya ke diri sendiri, mengendus lagi dengan irama waltz,  dan  akhirnya menarik  napas  panjang dalam-dalam yang kemudian dilepas perlahan dengan jeda diam  beberapa  detik  sampai  hembusan  terakhir.  

Baldini menghempaskan  sapu  tangan  ke  meja  dan menghentakkan badan ambruk ke kursi.

Jujur  saja,  aromanya  luar  biasa.  Missier  sialan  itu rupanya benar‐benar ahli. Seorang master, malah! Pun bila ia memang belum pemah menerima pelatihan apa pun soal 
pembuatan  parfum. Baldini  sungguh  berharap  dialah  yang membuat  'Cinta  dan  jiwa’  ini.  

Benar-benar  orisinal sekaligus  klasik,  padat,  harmonis,  dan  sama  sekali  baru! 
Aromanya  terasa  segar  tapi  tidak  seronok.  Bernuansa bunga  tapi  manisnya  tidak terasa  palsu.  Ada  kedalaman dari  warna cokelatnya  yang  kaya,  enak  dilihat  dan menggairahkan,  tapi  tetap  tidak  terkesan  berlebihan  atau 
bombastis. 

Nyaris  dengan  ketakziman  Baldini  berdiri  dan mengangkat  sapu  tangan  itu  sekali  lagi  ke  dekat  hidung. 

“Menakjubkan...  menakjubkan...,”  

demikian  ia  bergumam sambil  mengendus  dengan  rakus.  

“Parfum  ini  punya karakter  yang  riang  dan  mempesona.  Seperti  melodi  yang mampu membuatmu merasa nyaman sekaligus.... Ah, tidak! Langsung  membuatmu  nyaman  detik  pertama  kau menciumnya!”  

Baldini  melempar  sapu  tangan  itu  kembali 
ke  meja  dengan  kesal.  Memutar  badan  dan  berjalan menjauh  ke  sudut  ruangan,  seolah  malu  oleh antusiasmenya sendiri. 

Ngaco!  Benar-benar  ngaco!  Bagaimana  mungkin  ia membiarkan  diri  hanyut  memuji,  

“...  seperti melodi,  riang, indah,  terasa nyaman.”  Dasar  idiod.  

Idiotisme  kekanak-kanakan!  Itu  kan  cuma  kesan  sedetik.  Kelemahan  sesaat. Bias  temperamen  semata-terutama  dari  darah  Italianya. 

Jangan menilai saat mengendus! Itu peraturan nomor satu, dasar Baldini bodoh! Baui saja saat mengendus dan menilai belakangan! 'Cinta dan jiwa’ tidak jelek sebagai parfum dan 
terhitung  produk  berhasil.  

Peracikan  dilakukan  dengan cerdas  dan  baik - kalau  tak  mau  disebut  “menyulap”.  Dan 
kau  tak  bisa  berharap  lebih  dari  sulap  murahan  kalau sudah  bicara  soal  Missier.  

Orang  seperti  dia  tak  mungkin bisa menciptakan  parfum  sempurna.  Penipu itu menyulap dengan  keahlian  seorang  master.  Membingungkan  indra penciumanmu dengan kesempurnaan harmoni. 

Dalam seni klasik pembuatan parfum, orang itu adalah serigala berbulu domba.  Pendek  kata:  Missier  tak  lebih  dari  monster belaka  Lebih buruk lagi ia sepert setan yang menggodai iman para ahli parfum sejati. 
Tapi  engkau,  wahai  Baldini,  tidak  akan  sampai terbodohi.  Kau  memang  terkejut  untuk  sesaat  oleh  kesan pertama ramuan ini, tapi tahukah kau bagaimana aromanya satu  jam  dari  sekarang,  saat  unsurnya  yang  mudah menguap  lenyap  dan  struktur  utamanya  naik  ke permukaan? 

Atau bagaimana  perubahan aromanya malam 
ini,  saat  sisa-sisa  aroma  yang  bisa  dicium  meninggalkan komponen-komponen  gelap  nan  berat  yang  saat  ini tersembunyi di balik  kemegahan aroma bunga? Tunggu dan lihatlah sendiri, Baldini! 

Peraturan  kedua  menyatakan  bahwa  parfum  sejati bersifat  langgeng.  Memiliki  tiga tahapan  masa  - sebutlah 'masa remaja’, 'masa dewasa’, dan 'masa tua’. 

Hanya apabila mampu  memerikan  aroma  yang  tetap  segar  dan  enak  di ketiga  tahapan  itu,  sebuah  parfum  bisa  disebut  berhasil. 

Berapa  sering  kita  menemukan  bahwa  campuran  aroma yang  terasa begitu segar saat pertama kali dicoba ternyata berbau  seperti  buah  busuk  selang  beberapa  waktu  dan akhirnya  sama  sekali  tidak meninggalkan  aroma  apa  pun selain bau kesturi yang dipakai sebagai dasar? 

Seorang ahli parfum  harus  sangat  hati-hati  soal  ini.  Kelebihan  setetes saja  akan  sangat  merusak  hasil  akhir  sebuah  parfum.  Ini kesalahan  klasik  pembuatan  parfum.  

Siapa  tahu,  bisa  saja Missier  berlebihan  menggunakan  aroma  dasar  ini. Barangkali  malam  ini  juga  akan  kita  singkap kepalsuan 
'Cinta dan jiwa'. Lihat saja. 

Kita  akan  mengendus  lagi  nanti.  Indra  penciuman  kita ibarat  kapak  tajam  yang  mampu  membelah  kayu  sampai menyerpih. Memfragmentasi setiap detail parfum ini. 

Akan jelas  nanti  betapa  aroma  magis  palsu  ini  ternyata  terbuat dari  bahan  dan metode  yang  biasa  saja.  Kita,  Baldini  sang ahli  parfum,  akan  menangkap  basah  tipuan  Pélissier  si pembuat cuka apel. 

Topeng itu akan kita robek dari wajah buruknya  dan  kita  tunjukkan  pada  dunia  bagaimana sesungguhnya  kehebatan  Baldini.  

Campurannya  akan  kita tiru  dan  ubah  menjadi  sesuatu  yang  sama  sekali  baru. 
Tiruan  yang  sedemikian  sempurna  sampai Missier  sendiri tak  mampu  membedakannya  dengan  buatannya  sendiri. 

Tidak! Masih belum cukup! Kita akan meningkatkan parfum ini!  Kita  angkat  apa  yang  salah,  membuangnya,  dan memamerkannya  di  bawah  hidungnya  sendiri!  Kau  hanya seorang  penipu, Pélissier!  Tak  lebih  dari  penipu  busuk! 

Pesohor karbitan  di dunia  pembuatan  parfum Tak  lebih dari itu. Dan  sekarang,  ayo  kita  kerja,  Baldini!  Tajamkan hidungmu  dan  enduslah  tanpa  bias  sentimentalitas!  Filter 
aroma ini dengan aturan seni yang benar! 

Sebelum malam ini berakhir, kau sudah harus menggenggam formulanya! Baldini seperti  terjun ke meja kerja. Menyambar kertas, tinta, dan selembar sapu tangan baru, lalu digelarnya baik-baik,  dan  ia  pun  mulai  menganalisis.  

Prosedurnya  begini: 
celup ujung sapu tangan ke dalam parfum, kibaskan dengan cepat  di  bawah  hidung, lalu  saring aromanya  berdasarkan pilahan-pilahan  ramuan  yang  terkandung  tanpa  bias  dari 
kompleksitas gabungan bagian yang lain. 

Kemudian, sambil memegang sapu tangan di ujung tangan yang terjulur, catat nama  ramuan  yang  ditemukan,  lalu  ulangi  lagi  dari  awal sambil  terus  melayang-layangkan  sapu  tangan  ke  dekat hidung,  menangkap  fragmen  aroma  berikutnya,  dan seterusnya....




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...