DUA BELAS
DI HADAPANNYA DI ATAS MEJA, berdiri flacon berisi parfum karya Pélissier. Berkilapan cokelat keemasan diterpa sinar matahari, bening dan tidak kusam. Tampak
begitu polos seperti air teh yang tidak kental, tapi tetap solid sebagai parfum.
Selain empat perlima bagian alkohol,
seperlimanya berisi campuran misterius yang mampu mengharubirukan seluruh Paris.
Campuran itu kalau diteliti mungkin berisi tiga atau tiga puluh ramuan berbeda yang
disiapkan dari berbagai kemungkinan kimia, yang masing-masing proporsinya sangat tepat.
Jiwa parfumnya sungguh terasa - itu kalau kita cukup berbaik hati menyebut parfum buatan oportunis macam Pélissier 'memiliki jiwa’.
Tugas Baldini sekarang adalah bagaimana menemukan komposisi parfum ini. Baldini menghela napas perlahan lalu menarik gorden menutupi jendela. Cahaya matahari langsung dapat sangat merusak aroma parfum atau aroma konsentrat lain yang
sejenis.
Sehelai sapu tangan putih berenda ia keluarkan dari laci dan digelarnya di atas meja. Lalu, sambil menarik kepala sejauh mungkin dan memencet hidung, ia memutar tutup flacon perlahan-lahan. Ia tak ingin merasakan sensasi penciuman prematur secara langsung dari botol.
Parfum harus diendus dalam bentuk gas yang sedang mekar, bukan dalam bentuk konsentrat. Ia memercik beberapa tetes ke
permukaan sapu tangan, mengibas-ibas sebentar untuk mengusir uap alkohol, lalu didekatkan ke hidung. Dalam tiga tarikan napas cepat ia mengisap aroma parfum seolah terbuat dari bubuk saja, lalu segera mendengus menghembuskan napasnya ke diri sendiri, mengendus lagi dengan irama waltz, dan akhirnya menarik napas panjang dalam-dalam yang kemudian dilepas perlahan dengan jeda diam beberapa detik sampai hembusan terakhir.
Baldini menghempaskan sapu tangan ke meja dan menghentakkan badan ambruk ke kursi.
Jujur saja, aromanya luar biasa. Missier sialan itu rupanya benar‐benar ahli. Seorang master, malah! Pun bila ia memang belum pemah menerima pelatihan apa pun soal
pembuatan parfum. Baldini sungguh berharap dialah yang membuat 'Cinta dan jiwa’ ini.
Benar-benar orisinal sekaligus klasik, padat, harmonis, dan sama sekali baru!
Aromanya terasa segar tapi tidak seronok. Bernuansa bunga tapi manisnya tidak terasa palsu. Ada kedalaman dari warna cokelatnya yang kaya, enak dilihat dan menggairahkan, tapi tetap tidak terkesan berlebihan atau
bombastis.
Nyaris dengan ketakziman Baldini berdiri dan mengangkat sapu tangan itu sekali lagi ke dekat hidung.
“Menakjubkan... menakjubkan...,”
demikian ia bergumam sambil mengendus dengan rakus.
“Parfum ini punya karakter yang riang dan mempesona. Seperti melodi yang mampu membuatmu merasa nyaman sekaligus.... Ah, tidak! Langsung membuatmu nyaman detik pertama kau menciumnya!”
Baldini melempar sapu tangan itu kembali
ke meja dengan kesal. Memutar badan dan berjalan menjauh ke sudut ruangan, seolah malu oleh antusiasmenya sendiri.
Ngaco! Benar-benar ngaco! Bagaimana mungkin ia membiarkan diri hanyut memuji,
“... seperti melodi, riang, indah, terasa nyaman.” Dasar idiod.
Idiotisme kekanak-kanakan! Itu kan cuma kesan sedetik. Kelemahan sesaat. Bias temperamen semata-terutama dari darah Italianya.
Jangan menilai saat mengendus! Itu peraturan nomor satu, dasar Baldini bodoh! Baui saja saat mengendus dan menilai belakangan! 'Cinta dan jiwa’ tidak jelek sebagai parfum dan
terhitung produk berhasil.
Peracikan dilakukan dengan cerdas dan baik - kalau tak mau disebut “menyulap”. Dan
kau tak bisa berharap lebih dari sulap murahan kalau sudah bicara soal Missier.
Orang seperti dia tak mungkin bisa menciptakan parfum sempurna. Penipu itu menyulap dengan keahlian seorang master. Membingungkan indra penciumanmu dengan kesempurnaan harmoni.
Dalam seni klasik pembuatan parfum, orang itu adalah serigala berbulu domba. Pendek kata: Missier tak lebih dari monster belaka Lebih buruk lagi ia sepert setan yang menggodai iman para ahli parfum sejati.
Tapi engkau, wahai Baldini, tidak akan sampai terbodohi. Kau memang terkejut untuk sesaat oleh kesan pertama ramuan ini, tapi tahukah kau bagaimana aromanya satu jam dari sekarang, saat unsurnya yang mudah menguap lenyap dan struktur utamanya naik ke permukaan?
Atau bagaimana perubahan aromanya malam
ini, saat sisa-sisa aroma yang bisa dicium meninggalkan komponen-komponen gelap nan berat yang saat ini tersembunyi di balik kemegahan aroma bunga? Tunggu dan lihatlah sendiri, Baldini!
Peraturan kedua menyatakan bahwa parfum sejati bersifat langgeng. Memiliki tiga tahapan masa - sebutlah 'masa remaja’, 'masa dewasa’, dan 'masa tua’.
Hanya apabila mampu memerikan aroma yang tetap segar dan enak di ketiga tahapan itu, sebuah parfum bisa disebut berhasil.
Berapa sering kita menemukan bahwa campuran aroma yang terasa begitu segar saat pertama kali dicoba ternyata berbau seperti buah busuk selang beberapa waktu dan akhirnya sama sekali tidak meninggalkan aroma apa pun selain bau kesturi yang dipakai sebagai dasar?
Seorang ahli parfum harus sangat hati-hati soal ini. Kelebihan setetes saja akan sangat merusak hasil akhir sebuah parfum. Ini kesalahan klasik pembuatan parfum.
Siapa tahu, bisa saja Missier berlebihan menggunakan aroma dasar ini. Barangkali malam ini juga akan kita singkap kepalsuan
'Cinta dan jiwa'. Lihat saja.
Kita akan mengendus lagi nanti. Indra penciuman kita ibarat kapak tajam yang mampu membelah kayu sampai menyerpih. Memfragmentasi setiap detail parfum ini.
Akan jelas nanti betapa aroma magis palsu ini ternyata terbuat dari bahan dan metode yang biasa saja. Kita, Baldini sang ahli parfum, akan menangkap basah tipuan Pélissier si pembuat cuka apel.
Topeng itu akan kita robek dari wajah buruknya dan kita tunjukkan pada dunia bagaimana sesungguhnya kehebatan Baldini.
Campurannya akan kita tiru dan ubah menjadi sesuatu yang sama sekali baru.
Tiruan yang sedemikian sempurna sampai Missier sendiri tak mampu membedakannya dengan buatannya sendiri.
Tidak! Masih belum cukup! Kita akan meningkatkan parfum ini! Kita angkat apa yang salah, membuangnya, dan memamerkannya di bawah hidungnya sendiri! Kau hanya seorang penipu, Pélissier! Tak lebih dari penipu busuk!
Pesohor karbitan di dunia pembuatan parfum Tak lebih dari itu. Dan sekarang, ayo kita kerja, Baldini! Tajamkan hidungmu dan enduslah tanpa bias sentimentalitas! Filter
aroma ini dengan aturan seni yang benar!
Sebelum malam ini berakhir, kau sudah harus menggenggam formulanya! Baldini seperti terjun ke meja kerja. Menyambar kertas, tinta, dan selembar sapu tangan baru, lalu digelarnya baik-baik, dan ia pun mulai menganalisis.
Prosedurnya begini:
celup ujung sapu tangan ke dalam parfum, kibaskan dengan cepat di bawah hidung, lalu saring aromanya berdasarkan pilahan-pilahan ramuan yang terkandung tanpa bias dari
kompleksitas gabungan bagian yang lain.
Kemudian, sambil memegang sapu tangan di ujung tangan yang terjulur, catat nama ramuan yang ditemukan, lalu ulangi lagi dari awal sambil terus melayang-layangkan sapu tangan ke dekat hidung, menangkap fragmen aroma berikutnya, dan seterusnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar