Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 24

DUA PULUH EMPAT 


KUTUB ITU, titik kerajaan yang paling jauh dari manusia itu  bernama  Massif  Central  di  Auvergne,  sekitar  lima  hari perjalanan  sebelah  selatan  Dermont,  di  puncak  gunung 
Plomb du Cantal berketinggian enam ribu kaki. 

Gunung  itu  terdiri  atas  sebuah  karang  kerucut  raksasa berwarna  biru  kelabu  dan  dikelilingi  oleh  tanah  tandus yang  amat  luas,  dipasaki  beberapa  pohon  gosong  yang tertutup lumut serta semak belukar. 

Di sana-sini batu-batu besar mencuat  seperti gigi  busuk. Di  terik  siang  sekalipun daerah  itu  begitu  muram  dan  redup  sampai gembala terpapa di provinsi termiskin ini tak akan sudi menggiring ternaknya  ke  sini.  

Malam  hari  diputihkan  oleh  cahaya bulan,  membuat  dataran  ini  tampak  seperti  berasal  dari dunia  lain.  Bahkan  Lebrun, bandit  paling  terkenal  di Auvergne, walau dikejar dari segala penjuru, lebih suka lari ke  Uvennes  untuk  ditangkap,  diseret,  dan  dipenjara ketimbang bersembunyi di Plomb du Cantal yang jelas-jelas tak terusik orang. 

Sadar bahwa di gunung itu ia bakal mati sendirian. Lebih baik  mati  di  bui  bersama  manusia  normal  daripada  jadi zombi  kesepian.  Bermil‐mil.  di  sekitar  pegunungan,  tak sejengkal  tanah  pun  dihuni  manusia  atau  binatang mamalia.  Kalaupun  ada,  paling-paling  kelelawar,  beberapa ekor  kumbang,  dan  ular  beludak.  Tak  ada  yang  sudi menjejaki tempat ini selama puluhan tahun. 

Grenouille tiba di gunung ini pada suatu malam di bulan Agustus  tahun  1756.  Saat  fajar menyingsing, ia  berdiri  di puncak.  Belum sadar  bahwa  perjalanannya  sudah  sampai 
akhir. Dipikirnya ini sekadar lokasi  transit sebelum  tiba di daerah  berudara lebih murni.  

Ia  memutar  tubuh  dan membiarkan hidungnya  mengendus  bebas,  mengembara 
melintasi panorama alam liar pegunungan. Di sebelah timur terletak  dataran  tinggi  Saint-Flour  dan  rawa-rawa  sungai Riou. Di sebelah utara - arah datangnya tadi - berjejer rapat 
pegunungan  baru  gamping.  

Dari  sebelah  barat,  angin lembut  pagi  hari  membawa  aroma  bebatuan  dan  rumput liar.  Dan  dari  selatan,  kaki  gunung  Plomb  membentang bermil-mil  sampai  ke  ngarai  Truyère  yang  gelap.  Benar-benar tak ada manusia dari segala penjuru. 

Selangkah lebih dekat  saja,  ke  arah  mana  pun,  baunya  pasti  akan  tercium. Hidung  kompas  Grenouille  berputar  bingung  kehilangan orientasi.  Ia  sadar  telah  sampai  tujuan, meski  tetap  butuh waktu untuk yakin dan jatuh hati pada tempat ini.

Saat matahari terbit, Grenouille masih berdiri di puncak itu  dengan  hidung  terangkat  tinggi  ke  udara.  Setengah putus  asa  ia  mencoba  menentukan  arah  munculnya manusia  yang  mungkin  datang  mengancam,  plus  arah 
sebaiknya  untuk  melarikan  diri.  

Ia  menduga  bahwa  ke arah  mana  pun  pasti  sama  saja,  karena  cepat  atau  lambat pasti  bakal  tercium.  Tapi  tak  ada  apa  pun.  

Hanya  ada kedamaian-kedamaian  penciuman,  kalau  boleh  dibilang demikian.  Ke  mana  pun  kepala  berputar  yang  tercium 
hanya aroma bebatuan, lumut, dan rumput kering.

Grenouille  butuh  waktu  sangat  lama  untuk  percaya bahwa  saat  itu  ia  tidak mengandalkan  penciuman  lagi.  Ia tak  siap  mendapati  kesialan  dan  jadi  ragu  terhadap 
indranya  sendiri.  Ia  bahkan  menggunakan  mata  untuk membantu  pengamatan, terutama  saat  matahari  terbit.

Mencermati  cakrawala,  mencari  tanda-tanda  kehadiran manusia  seperti  atap  gubuk, asap,  pagar,  jembatan,  atau hewan  ternak.  

Tangannya  mencakup  ke  dekat  telinga  dan 
menyimak kalau-kalau ada suara desing sabit, gonggongan anjing, atau  tangisan anak  kecil. 

Seharian  penuh ia  berdiri diam  di  terik  matahari,  di  puncak  Plomb  du  Cantal  dan 
menunggu  sedikit  saja  dari  tanda-tanda yang  ia  cari.

Keraguannya  perlahan  reda  menjelang  senja,  seiring terbitnya perasaan girang luar biasa. Ia telah lolos dari bau menjijikkan  itu!  Ia  benar-benar  sendirian  sekarang.  Satu-
satunya manusia di dunia. 

Grenouille melompat bersorak keras-keras. Seperti awak kapal  karam  melihat  daratan  setelah  berminggu-minggu terapung  tanpa  arah.

Kesendirian  ini  sungguh  patut dirayakan! Sekali lagi ia  bersorak girang  seraya melempar ransel, selimut, dan tongkat ke tanah. Kakinya berhentakan ke  tanah,  kedua  tangan  terangkat,  menari  berputar-putar, 
menjeritkan  namanya  sendiri  ke  empat  penjuru  angin, mengangkat  dan  mengguncang  tinju  kuat-kuat  ke  arah bawah, dan kepada matahari  tenggelam. 

Grenouille benar-benar  kegirangan  seperti  orang  gila  dan  terus  begitu sampai larut malam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...