Minggu, 01 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 4

EMPAT


MADAME GAILLARD tampak jauh lebih tua dari usianya yang  belum  lagi  tiga  puluh  tahun.  Banyak  orang menganggap  begitu.  Bagi  dunia  ia  terlihat  sesuai  dengan usia  sebenarnya,  namun  sekaligus  pada  saat  yang  sama tampak  dua  atau  tiga  ratus  tahun  lebih  tua  - jadi  seperti mumi seorang gadis muda. Tak banyak yang tahu bahwa di 
balik  itu  semua,  jiwanya  sudah  lama  mati.  

Sewaktu  kecil ayahnya memukul kening Gaillard dengan tongkat, persis di atas dasar  tulang hidung. Sejak itu ia kehilangan kepekaan membaui  berikut  kehangatan  dan  dinginnya  rasa kemanusiaan.  Satu  pukulan  sudah  cukup  membuatnya Terasing  dari  perasaan  wajarnya  manusia,  baik  itu 
kehangatan,  kebaikan,  dendam, kebahagiaan,  atau kesedihan.  Ia  tak  merasakan  apa  pun  saat  tidur  dengan seorang  laki-laki,  dan  hanya  ada  setitik  haru  saat  ia mengandung  anak.  Ia  tak  menangisi  yang  mati  atau 
mensyukuri  yang  hidup.  

Bergeming  saat  dipukuli  suami tidak pula lega saat laki-laki itu meninggal akibat kolera di Hôtel-Dieu.  Dua  rasa  kemanusiaan  yang  bisa  ia  rasakan hanya  setitik  depresi  saat  menjelang  migrain  menstruasi dan  perubahan  mood  saat  kembali  normal.  Lain  dari  itu, wanita zombi ini sama sekali tak merasakan apa pun. 

Di  pihak  lain...  atau  barangkali  justru  karena  ketiadaan emosi manusiawi itu, Madame Gaillard  terkenal bertangan besi  dalam  hal  tatanan,  keteraturan,  dan  keadilan.  Ia  tak membedakan  atau  mendiskriminasi  anak  asuh.  Jatah makanan  setiap  anak  tetap  tiga  kali  sehari.  Tak  lebih,  tak kurang.  Ia  bersedia  mengganti  popok  tiga  kali  sehari,  tapi hanya  sampai  usia  dua  tahun.  

Siapa  pun  yang membangkang akan dipukul dan dikurangi jatah makannya jadi  dua  kali  sehari.  Biaya  perawatan  setiap  anak  dibagi 
persis  separo-separo  untuk  kepentingan  rumah  penitipan yatim-piatu dan dirinya sendiri. 

Harga yang ditetapkan juga tak  pemah  berubah  - tak  peduli  paceklik  atau  sedang 
makmur. Meski tampak aneh, tapi hanya dengan cara itu ia bisa  menghargai  bisnis  yang  dijalani.  Ia  butuh  uang  dan sangat memperhitungkan setiap peraknya. 

Saat tua kelak ia ingin  punya  simpanan  tunjangan  yang  cukup  untuk membiayai kematian di rumahnya sendiri - tidak di Hôtel-
Dieu  seperti  suaminya  dulu.  

Bayangan  ini  membuat perutnya  dingin.  Ia  tak  ingin  mati  bersama  ratusan orang asing.  Ia  ingin  mati  sendirian.  Untuk  itulah  ia  kini 
menabung  dari  usaha  penitipan anak  yatim-piatu. 

Kendati publik mafhum dengan fakta bahwa kadang tiga atau empat anak  titipnya meninggal  saat musim  dingin,  tapi ini masih 
jauh  lebih  baik  dari  kebanyakan  rumah  penitipan  lain, bahkan  terhitung  nomor  dua  terbaik  di  Paris  karena umumnya perbandingannya mencapai 9 dari 10 anak mati setiap  tahun.  

Toh  tak  ada  yang  peduli  karena  jumlah 
kelahiran  jauh lebih  banyak -  Paris menghasilkan  sepuluh ribu bayi  resmi, haram, dan  yatim‐piatu setiap  tahun.  

Jadi, perbandingan itu masih dianggap wajar. 
Grenouille  kecil  sungguh  beruntung  dibuang  ke  rumah penitipan Madame Gaillard. Besar kemungkinan ia tak akan bertahan di  tempat lain. Tapi di sini, bersama wanita mati rasa  ini,  ia  tumbuh  pesat.  

Grenouille  punya  ketahanan jasmani  yang  tinggi.  Siapa  pun  yang  mampu  bertahan 
dilahirkan  di  keranjang  sampah  tak  akan  semudah  itu tersingkir  dari  dunia.  

Sehari-hari  ia  mampu  hanya  makan sup  tanpa  tambahan  apa  pun.  Susu  paling  encer,  sayuran maupun  daging  paling  basi.  

Sepanjang  masa  kecil  ia bertahan  dari  campak,  disentri,  cacar  air,  kolera,  jatuh  ke 
sumur  sedalam  dua  puluh  kaki,  atau  luka  bakar  di  dada akibat  tersiram  air  panas.  

Badannya  kenyang  memar  dan bekas luka serta sedikit pincang di kaki, tapi ia tetap hidup. 

Daya  tahannya  setangguh  bakteri  atau  kutu  pohon  yang hidup  dari  setetes  darah  yang  diawet-awet  selama bertahun-tahun.  Ia hanya  butuh  sedikit  saja  jatah  makan-minum  serta  pakaian  karena  jiwanya  tak  menuntut  apa-apa. Perlindungan, perhatian, kehangatan,  cinta,  atau  apa pun yang katanya dibutuhkan oleh anak-anak, benar-benar jauh  dari  Grenouille.  

Atau  barangkali  - setidaknya  dalam pandangan  umum,  ia  sengaja  membuang  semua  itu  agar mampu  bertahan  hidup.  Ini  dilakukan  sejak  usia  amat muda.  Tangisan  yang  mengikuti  kelahiran  Grenouille  - tangisan  yang  mengangkatnya  dari sampah dan mengirim 
ibunya  ke tiang gantungan, bukanlah tangisan  naluri  demi simpati atau cinta. 

Tangisan itu berasal dari pertimbangan 
hati - hati sang bayi  (bahkan boleh dibilang pertimbangan dewasa),  dari  putusannya  untuk  membenci  cinta  dan kehidupan.  Dalam  situasinya  kita  bisa  maklum  bahwa hidup  hanya  memungkinkan  bagi  Grenouille  bila  tanpa cinta  atau  kasih  sayang.  

Sejarah  mungkin  akan  berbunyi lain  kalau  saja  saat  itu  ia  memilih  “tanpa  kehidupan”. 

Memang,  ia  tetap  bisa  mengambil  “Jalan  mudah”  dengan memilih  untuk  langsung  mati  saja  ketimbang  membebani dunia  dengan  kelahirannya  yang  tak  berarti.  Tapi  pilihan ini jelas menuntut kerendahan hati yang tak sedikit, dan itu tidak  dimiliki  Grenouille.  

Merasa  sebagai  monster  sejak lahir ia memilih untuk  menjalani  hidup  di  jalur dendam dan kebencian.  Putusan  ini  hadir  tidak  seperti  orang  dewasa  saat mengambil  putusan,  karena  sebagai  anak  kecil  ia  tidak 
memiliki cukup pengalaman dan nalar untuk memilih dari berbagai  pilihan  yang dihadirkan  oleh  pengalaman. 

Bagaimanapun, putusan ini perlahan hadir. Seperti  kacang yang  saat  dilempar  ke  tanah  harus  memutuskan  apakah hendak tumbuh atau tidak.

Atau seperti kutu pohon dalam permisalan tadi, di mana hidup  tak  menawarkan  apa  pun  selain  hibernasi  abadi. Kutu kecil nan jelek itu hanya tahu bagaimana menggulung 
badan  biru  kelabunya  tanpa  menawarkan  apa-apa  bagi dunia.  

Juga  dengan  memuluskan  serta  mengeraskan  kulit yang  tiada  berkeringat  sedikit  pun.  Sedemikian  rupa menciutkan  diri agar tidak diperhatikan dan  diinjak manusia.  

Sang  kutu  yang  kesepian  menggulung  diri  di pohon.  Buta,  tuli,  bodoh,  dan  tanpa  kegiatan  lain  selain mengendus-endus  sepanjang  tahun,  sepanjang  jalan,  demi 
setetes darah dari binatang  yang kebetulan lewat lantaran tak  kuat  menggapai  dengan  kekuatan  sendiri.  Sang  kutu hanya  bisa  jatuh.  Jatuh  ke  tanah  di  tengah  hutan  lalu 
merangkak barang satu atau dua milimeter ke sana kemari dengan  enam  kakinya  yang  mungil,  berbaring  pasrah menunggu mati di bawah dedaunan. 

Tuhan tahu betapa tak berartinya  hal  ini.  Tak  akan  ada  yang  merasa  kehilangan. Tapi dasar  si  kutu  keras  kepala,  menggerutu dan 
menjijikkan.  Ia  tetap  bergeming.  

Hanya  hidup  dan menunggu.  Menunggu  “sang  kebetulan”  untuk membawakan  darah  dalam  wujud  seekor  binatang,  persis di bawah pohon. 

Hanya dengan cara itu si kutu bisa bebas jatuh  dari  pohon  untuk menggaruk,  mengisap, dan 
menggigit kulit mulus korbannya. 

Grenouale  muda  tak  ubahnya  si  kutu  pohon.  Ia membungkus diri sedemikian rupa, menanti saat yang lebih baik.  Sumbangsihnya  bagi  dunia  tak  lebih  dari  sekadar kotoran saat buang air. Tanpa senyum,  tanpa  tangis,  tanpa keceriaan, bahkan tanpa bau badan! 

Wanita mana pun pasti tak  tahan  dan  segera  menendangnya  keluar  rumah.  Tapi tidak Madame Gaillard. Ia tak bisa mencium fakta bahwa si bocah, tak berbau  pun soal ke jiwaan si anak, karena ia juga menutup diri rapat-rapat. 

Namun  anak-anak  lain  langsung  bisa  merasakan kelainan  Grenouille.  Sejak  hari  pertama  ia  datang, kehadirannya  sudah  membawa  atmosfer  mencekam.

Refleks  awal  mereka  adalah  menjauhi  keranjang  tidur  si bayi dan meringkuk bergerombol di pojok ranjang masing-masing,  seolah  suhu  ruangan  mendadak  anjlok.  

Yang termuda  di  antara  mereka  bahkan  kerap  menangis  saat malam.  Yang  lain  bermimpi  seperti  ada  yang  hendak mencuri napas mereka. Pernah suatu hari anak-anak tertua berencana  mencekik  saja  bayi  itu.  

Mereka  menumpuk potongan-potongan  kain,  selimut,  serta  jerami  ke  muka Grenouille lalu memberati dengan batu bata. Saat Madame 
Gaillard menyingkirkan semua itu keesokan paginya, si bayi sudah  kisut,  lumat,  dan  membiru,  tapi  tidak  mati.  Anak-anak mencoba lagi beberapa kali, namun tetap gagal. Kalau saja mereka mencekik langsung dengan tangan kosong atau menutup  mulut  serta  hidung  si  bayi,  kemungkinan  akan 
lebih  sukses,  tapi  tak  ada  yang  berani  mencoba.  Tak  ada yang sudi menyentuh si bayi. 

Grenouille membuat mereka gerah. Seperti  orang  yang tak  tahan melihat laba-laba  api 
tak berani menginjaknya karena jijik. 

Seiring  pertambahan  usia,  anak-anak  akhirnya  tak bernafsu lagi meneruskan percobaan pembunuhan mereka-barangkali  di  bawah  kesadaran  bahwa  Grenouille  tak  bisa dihancurkan.  Pilihan  yang  tertinggal  adalah  aksi  menjauh. 

Menyebar, berlarian, atau setidaknya menghindar agar  tak tersentuh.  Anehnya,  mereka  tak  membenci  Grenouille. 

Cemburu atau dendam pun tidak. Jatah Grenouille di rumah penitipan  yatim-piatu  tak  pernah  lebih  atau  kurang  dari mereka  sendiri,  jadi  tak  ada  alasan  untuk  itu.  

Perasaan terganggu dan tak nyaman berada dekat Grenouille semata-mata hadir karena  tak bisa mencium bau badannya. Untuk 
itu mereka takut dan jeri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...