TIGA PULUH
PENAMPILAN GRENOUILLE TAK KERUAN. Rambut panjang mengijuk sampai ke lutut, janggut sampai ke pusar, kuku panjang-panjang seperti cakar burung, kulit di kedua
lengan dan kaki (yang tidak tertutup pakaian) mengelupas kemerahan.
Manusia pertama yang ia temui adalah para petani di ladang dekat kota Pierrefort. Mereka langsung lari ketakutan. Tapi begitu tiba di kota, ia malah jadi tontonan.
Ratusan orang merubung ternganga. Banyak yang percaya bahwa ia pasti budak pelarian sebuah kapal dagang. Yang lain bilang ia bukan manusia, tapi gabungan antara manusia dengan beruang atau makhluk ajaib dari hutan.
Seorang pelaut menyatakan bahwa ia tampak seperti Indian Cayenne dari seberang lautan. Ia lantas digiring menghadap wali kota.
Di sana sekali lagi ia mengejutkan semua orang saat mengeluarkan surat-surat status sebagai seorang ahli, membuka mulut dan berkata-kata dengan suara tidak terlalu jelas karena ini pertama kalinya ia berbicara pada orang lain setelah tujuh tahun.
Grenouille mengutarakan bagaimana ia diserang perampok, diseret dan ditawan di
dalam gua selama tujuh tahun. Selama itu ia tak pernah melihat matahari atau manusia lain, diberi makan oleh tangan-tangan tak terlihat yang mengusung keranjang dalam gelap, dan akhirnya dibebaskan begitu saja - tanpa pernah tahu kenapa dan tanpa pernah melihat penculik
ataupun penyelamatnya.
Grenouille sengaja mengarang kisah ini karena pasti akan lebih mudah dipercaya
ketimbang alasan sebenarnya. Toh waktu itu para perampok memang dikenal sering merajalela di pegunungan Auvergne dan Languedoc, termasuk di Cévennes.
Grenouille cakup puas melihat wali kota
mencatat tanpa protes, lalu mengirim laporan itu ke Marquis de la Taillade-Espinasse, sang penguasa kota sekaligus anggota parlemen di kota Toulouse.
Di usia empat puluh tahun, sang Marquis tak lagi peduli pada kehidupan istana di Versailles dan lebih suka menyepi.
Mengabdikan diri sepenuhnya untuk ilmu
pengetahuan. Goresan penanya melahirkan banyak karya penting seputar dinamika ekonomi-politik, termasuk usulan penghapusan pajak tempat tinggal dan hasil-hasil pertanian. Sebagai gantinya, ia memperkenalkan metode pajak pendapatan progresif terbalik yang akan sangat
memberatkan masyarakat termiskin dan memaksa mereka untuk lebih giat mengusahakan kegiatan ekonomi.
Terdorong oleh kesuksesan buku ini, ia menulis sebuah risalah tentang bagaimana mendidik anak-anak lelaki dan perempuan usia lima sampai sepuluh tahun.
Kemudian ia beralih ke eksperimen di bidang peternakan. Dengan menebar benih sapi jantan ke berbagai jenis rumput, ia
mencoba menghasilkan hibrida antara sayuran dengan binatang penghasil susu.
Setelah sukses membuat keju dan ‘rumput susu’ ciptaannya - seperti dijelaskan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Lyon sebagai, “bercita rasa susu kambing, walau agak pahit” - ia terpaksa meninggalkan eksperimen itu karena mahalnya biaya menebar benih banteng ke ratusan hektar ladang rumput.
Kendati demikian, keseriusan menekuni bidang agrobiologi telah membangkitkan minat tak hanya pada binatang pembajak
sawah, tapi juga pada bumi dan keterkaitannya dengan biosfer itu sendiri.
Ia belum lagi usai menuntaskan penelitian tentang hibrida tanaman-binatang ketika mendadak terserang demam riset gila-gilaan untuk membuat risalah agung mengenai hubungan antara kedekatan makhluk hidup terhadap bumi dan energi kehidupan.
Tesisnya menyatakan bahwa kehidupan hanya mampu berkembang pada jarak tertentu dari bumi, karena bumi secara terus-menerus mengeluarkan gas perusak (disebut sebagai
fluidum letale) yang melemahkan daya hidup, dan cepat atau lambat - bahkan berpotensi - memusnahkan daya hidup tersebut.
Itu sebabnya semua makhluk hidup secara
naluriah berusaha menjauhkan diri dari bumi melalui proses pertumbuhan - maksudnya bahwa kita tumbuh semakin tinggi dan menjauh dari tanah, bukan mengarah ke tanah. Itu pula sebabnya kenapa bagian‐bagian terpenting makhluk hidup secara alami mengarah ke atas, seperti kuncup butir padi, mekaran bunga, kepala manusia. Dus, tubuh mulai membungkuk dan merunduk kembali ke arah
tanah selama proses penuaan, semua makhluk akhirnya menjadi korban gas maut, untuk kemudian berubah menjadi gas itu sendiri setelah membusuk dalam kematian.
Ketika Marquis de la Taillade-Espinasse menerima kabar bahwa di Pierrefort ada orang yang pernah mendekam di gua selama tujuh tahun - itu artinya benar-benar
terbungkus oleh elemen perusak dari bumi, ia girang bukan kepalang dan segera memboyong Grenouille ke laboratoriumnya, untuk dijadikan objek penelitian.
Ia menemukan bahwa teorinya terbukti benar. Bahkan tampak secara visual. Gas fluidum letale telah begitu parah menyerang Grenouille sampai tubuh berusia 25 tahun itu jelas-jelas menunjukkan gejala penuaan.
Taillade‐Espinasse menegaskan bahwa Grenouille bisa lolos dari kematian karena selama dikurung ia diberi makan tanaman
penyingkir elemen bumi secara teratur, kemungkinan berupa roti dan buah-buahan.
Kondisi fisik Grenouille hanya bisa dipulihkan melalui pengusiran sepenuhnya
unsur fluidum, menggunakan mesin ventilasi khusus ciptaan Taillade-Espinasse.
Alat itu tersimpan di rumah mewahnya di Montpellier. Kalau Grenouille bersedia
merelakan dirinya menjadi objek demonstrasi ilmiah, ia tak hanya akan membantu melenyapkan kontaminasi gas beracun, tapi juga memberi Grenouille banyak uang.
Dua jam kemudian mereka duduk bersama di kereta kuda. Meski kondisi jalan amat buruk, mereka berhasil menempuh jarak 64 mil ke Montpellier hanya dalam dua hari.
Sang Marquis mendayagunakan wewenang
kebangsawanannya untuk melecut kuda dan saisnya sampai maksimal. Bahkan tak sungkan membantu membetulkan roda patah atau pelana putus.
Begitu bergairahnya ia dengan temuan ini dan begitu ingin menampilkannya di hadapan publik sesegera mungkin.
Grenouille sendiri tak sekalipun diizinkan beranjak dari kereta. Ia dipaksa terus duduk, dibungkus pakaian perca dan selimut pelana yang kumal oleh tanah dan lumpur.
Selama perjalanan ia diberi umbi mentah sebagai pengganjal perut. Sang Marquis berharap prosedur ini mampu mempertahankan status kontaminasi fluidum
untuk sementara.
Setiba di Montpellier, ia segera membawa Grenouille ke gudang di loteng, lalu menyebar undangan ke seluruh anggota fakultas kedokteran, asosiasi botani, sekolah pertanian, klub kimia terapan, Freemasons' Lodge, dan kalangan terpelajar lain yang jumlahnya tak lebih dari selusin di kota itu.
Beberapa hari kemudian, persis seminggu setelah turun gunung, Grenouille berdiri di atas podium, di aula utama Universitas Montpellier. Kepada pengunjung yang datang Ia dipersembahkan sebagai sebuah sensasi ilmiah tahun ini.
Dalam ceramah tersebut, Taillade-Espinasse
menggambarkan Grenouille sebagai bukti hidup kesahihan teorinya tentang fluidum letate. Sambil melucuti pakaian Grenouille satu per satu ia menjelaskan efek merusak gas mematikan itu terhadap tubuh. Ia menunjuk bekas gosong dan parut pada kulit, kanker kulit kemerahan yang amat luas di dada, bahkan bukti efek merusak gas tersebut terhadap struktur tulang dengan mengacu pada kepincangan dan kebongkokan Grenouille.
Organ internal juga ditunjuk sebagai korban, seperti pankreas, hati, paru-paru, kandung kemih, dan sistem pencernaan. Analisis ini
dibeberkan dengan sebaskom penuh contoh organ-organ tersebut, di kaki podium.
Ringkasnya, tak diragukan lagi bahwa kelumpuhan daya hidup yang disebabkan oleh kontaminasi fluidum letale selama tujuh tahun telah sedemikian parah sampai si korban - yang penampilan luarnya memang lebih mirip tikus ketimbang manusia - bisa dikatakan sebagai makhluk di ambang kematian.
Namun demikian, sang Marquis meyakinkan bahwa hanya dalam waktu delapan hari, dengan memakai alat terapi ventilasi plus diet ketat, ia mampu menyembuhkan makhluk malang ini, mengarah kepada titik bukti berikutnya bahwa penyembuhan total tetap bisa diterapkan bagi siapa saja.
Dus, ia mengundang hadirin untuk datang lagi minggu depan dan menyaksikan
kesuksesan prognosis ini - dengan catatan tentu saja, bahwa paparan saat itu harus dipandang sebagai bukti tak terbantahkan dari kebenaran teori Marquis tentang gas
fluidum dari bumi.
Ceramah ilmiah itu sukses luar biasa. Para hadirin ramai menyambut bertepuk tangan, lalu antre melewati podium tempat Grenouille berdiri. Dalam kondisi fisik seperti sekarang - penuh parut dan cacat bentuk - Grenouille memang tampak begitu mengerikan sampai orang yakin ia tak mungkin bisa disembuhkan dan tinggal menunggu mati
saja. Padahal yang punya badan merasa sehat dan biasa saja.
Banyak di antara orang-orang terpelajar itu yang menepuk-nepuk tubuhnya atas-bawah dengan lagak profesional, mengukur, melihat ke dalam mulut dan mata Grenouille seperti dokter.
Beberapa ada yang langsung menyapa dan bertanya tentang pengalaman selama tinggal
di gua dan kondisi kesehatannya saat ini.
Tapi Grenouille bersikukuh dengan skenario Marquis dan menjawab semua pertanyaan dengan suara seperti orang tercekik ditambah aksi gerakan tangan menunjuk ke pangkal tenggorok, seolah mengatakan bahwa organ ini juga sudah busuk dimakan fluidum letate.
Seusai demonstrasi, Taillade-Espinasse bergegas mengepak dan memboyong Grenouille kembali ke gudang di loteng rumah. Lalu di hadapan beberapa dokter terpilih dari fakultas kedokteran ia mengunci Grenouille dalam mesin ventilasinya - sebuah kamar sempit terbuat dari papan-papan pinus yang dijalin rapat.
Sebuah corong pengisap dipasang di atasnya, mencuat sampai ke atap rumah. Corong ini berfungsi mengisap udara dari langit, bebas dari gas maut. Udara ini lalu dialirkan keluar melalui sebuah katup buka-tutup dari kulit yang dipasang di lantai.
Seorang pelayan ditugasi mengoperasikan dan mengawasi siang-malam, agar ventilator di dalam corong tidak berhenti memompa. Demikianlah, Grenouille kini dikelilingi arus udara yang disaring terus-menerus, diberi
menu diet penyingkir racun bumi berupa kaldu daging burung dara, pai burung pipit, daging cincang bebek liar, buah-buahan segar yang dipetik langsung dari pohon, roti
gandum yang khusus dikukus di ketinggian, anggur Pyrenees, susu kambing, dan krim beku dari telur ayam betina yang diternak di loteng rumah.
Semua disajikan selang beberapa jam melalui sebuah pintu bertekanan berdinding ganda di sisi mesin. Kombinasi perawatan dekontaminasi dan revitalisasi fisik ini berlangsung selama lima hari. Pada hari keenam sang Marquis mematikan ventilator, membawa Grenouille ke kamar bilas untuk dimandikan selama beberapa jam dalam sebuah bak berisi air hujan yang dihangatkan, dan terakhir membedaki tubuh dari kepala sampai kaki dengan sabun cair khusus dari Potosi di pegunungan Andes.
Kuku jari tangan dan kaki dipotong rapi, gigi dibersihkan dengan limau pembersih dari Dolomites. Setelah itu cukur jenggot, potong rambut, disisiri, ditata, dan dibedaki.
Penjahit dan tukang sepatu juga didatangkan. Grenouille dibuatkan kemeja sutra, lengkap dengan jabot (rumbai kain) di dada dan manset, stoking sutra, mantel panjang, celana panjang dan rompi beludru warna biru, plus sepatu hitam gagah bermata sabuk dari kulit. Yang sebelah kanan diganjal sedemikian rupa untuk menutupi kepincangan Grenouille.
Sang Marquis turun tangan memberi riasan bedak putih ke wajah Grenouille yang penuh parut, memberi pemerah pada pipi dan bibir, tak lupa menebalkan alis membentuk lengkung khas para bangsawan dengan pensil alis nan lembut. Terakhir ia memercikkan parfum favoritnya tipis-tipis beraroma violet. Sang Marquis mundur dua langkah, mengamati hasil karyanya, dan lama memikirkan kata yang tepat mengutarakan suka cita.
“Monsieur,” katanya kemudian,
“saya benar-benar puas. Kagum pada kegeniusan saya sendiri. Tentu saja saya tak pernah meragukan teori saya tentang fluidum letale, apalagi ditambah konfirmasi terapi terapan seperti ini. Telah saya ubah Anda dari binatang menjadi manusia.
Sungguh tindakan agung nan terpuji. Maaf, tapi saya benar‐benar terharu! Berdirilah di depan cermin dan pandang diri Anda sendiri.
Untuk pertama kalinya Anda akan sadar bahwa Anda adalah seorang manusia.
Mungkin tidak tampan atau spesial atau apalah, tapi tak pelak seorang manusia normal
yang bisa diterima lingkungan. Silakan, Monsieur! Pandangi dan kagumilah eajaiban yang telah saya ciptakan bersama Anda!”
Itu adalah pertama kalinya seseorang memanggil Grenouille dengan sebutan 'monsieur'. Sebuah sapaan terhormat yang menggetarkan.
Grenouille melangkah ke depan cermin dan melihat keajaiban itu. Ini juga pertama kalinya ia becermin. Di hadapannya berdiri seorang lelaki dalam balutan biru nan tampan, dengan kemeja putih dan stoking sutra. Secara refleks ia merunduk, sebagaimana kebiasaan untuk selalu
merunduk di depan lelaki seperti itu. Si lelaki ikut merunduk. Begitu pun saat ia tegak lagi. Keduanya saling pandang. Yang paling mencengangkan Grenouille adalah
fakta bahwa ia tampak begitu normal.
Sang Marquis benar, bahwa tak ada yang spesial dari penampilannya. Tidak tampan tapi juga tidak buruk. Biasa dan normal saja.
Berpostur kecil dan agak kaku, wajah sedikit tanpa ekspresi ‐ pokoknya seperti ribuan lelaki normal lain di dunia.
Kalau sekarang ia keluar jalan-jalan pasti tak ada yang memerhatikan. Jenis orang yang kalau bertemu di jalan tidak memberi kesan menonjol. Dan selain sedikit bau
violet serta perangkat yang dikenakan, Grenouille tak mencium apa-apa dari sosok itu.
Tak terbayangkan bahwa sepuluh hari lalu para petani berlarian menjerit ketakutan melihatnya. Secara pribadi, Grenouille tak merasa ada perubahan antara ia yang dulu
dengan yang sekarang - pun saat berpejam mata.
Hirupan napasnya mengenali aroma parfum murahan, beludru, sepatu baru, aroma sutra, bedak, riasan, dan aroma samar sabun Potosi. Seketika ia sadar bahwa bukan makanan mewah atau omong kosong unit ventilasi yang membuatnya tampak normal.
Kenormalan itu murni datang dari balutan beberapa lembar pakaian, potongan rambut,
dan riasan kosmetik.
Grenouille berkedip membuka mata dan melihat lelaki di cermin mengedip balik. Selarik senyum di bibir bergincu seolah menyatakan bahwa ketampanannya biasa saja. Tapi Grenouille juga merasa bahwa lelaki di cermin itu, figur tak berbau yang didandani seperti manusia ini, tidak terlalu jelek.
Bahkan kalau kostumnya disempurnakan, mungkin cukup berpotensi mempengaruhi dunia.
Jauh di luar dugaan Grenouille sendiri. Anggukan dibalas anggukan. Begitu pun saat ia curi-curi mengembangkempiskan hidung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar