Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 30

TIGA PULUH


PENAMPILAN  GRENOUILLE  TAK  KERUAN.  Rambut panjang mengijuk sampai ke lutut, janggut sampai ke pusar, kuku panjang-panjang seperti cakar burung, kulit di kedua 
lengan dan  kaki (yang tidak tertutup pakaian) mengelupas kemerahan.

Manusia  pertama  yang  ia  temui  adalah  para  petani  di ladang  dekat  kota  Pierrefort.  Mereka  langsung  lari ketakutan. Tapi begitu tiba di kota, ia malah jadi tontonan. 

Ratusan  orang merubung  ternganga. Banyak  yang percaya bahwa ia  pasti  budak  pelarian  sebuah  kapal  dagang.  Yang lain bilang ia bukan manusia, tapi gabungan antara manusia dengan  beruang  atau  makhluk  ajaib  dari  hutan.  

Seorang pelaut  menyatakan  bahwa  ia  tampak  seperti  Indian Cayenne dari seberang lautan. Ia lantas digiring menghadap wali  kota. 

Di  sana  sekali lagi ia mengejutkan  semua  orang saat mengeluarkan surat-surat status sebagai seorang ahli, membuka  mulut  dan  berkata-kata  dengan  suara  tidak terlalu  jelas  karena  ini  pertama  kalinya  ia  berbicara  pada orang  lain  setelah  tujuh  tahun.  

Grenouille  mengutarakan bagaimana  ia  diserang  perampok,  diseret  dan  ditawan  di 
dalam  gua  selama  tujuh  tahun.  Selama  itu  ia  tak  pernah melihat  matahari  atau  manusia  lain,  diberi  makan  oleh tangan-tangan  tak  terlihat  yang  mengusung  keranjang dalam  gelap,  dan  akhirnya  dibebaskan  begitu  saja - tanpa pernah  tahu  kenapa  dan  tanpa  pernah  melihat  penculik 
ataupun  penyelamatnya.  

Grenouille  sengaja  mengarang kisah  ini  karena  pasti  akan  lebih  mudah  dipercaya 
ketimbang  alasan  sebenarnya.  Toh  waktu  itu  para perampok  memang  dikenal  sering  merajalela  di pegunungan  Auvergne  dan  Languedoc,  termasuk  di CĂ©vennes.  

Grenouille  cakup  puas  melihat  wali  kota 
mencatat  tanpa  protes,  lalu  mengirim  laporan  itu  ke Marquis  de  la  Taillade-Espinasse,  sang  penguasa  kota sekaligus anggota parlemen di kota Toulouse.

Di usia empat puluh tahun, sang Marquis tak lagi peduli pada  kehidupan  istana  di  Versailles  dan  lebih  suka menyepi.  

Mengabdikan  diri  sepenuhnya  untuk  ilmu 
pengetahuan.  Goresan  penanya  melahirkan  banyak  karya penting  seputar  dinamika  ekonomi-politik,  termasuk usulan  penghapusan  pajak  tempat  tinggal  dan  hasil-hasil pertanian.  Sebagai  gantinya,  ia  memperkenalkan  metode pajak  pendapatan  progresif  terbalik  yang  akan  sangat 
memberatkan masyarakat termiskin dan memaksa mereka untuk  lebih  giat  mengusahakan  kegiatan  ekonomi. 

Terdorong  oleh  kesuksesan  buku  ini,  ia  menulis  sebuah risalah  tentang  bagaimana  mendidik  anak-anak  lelaki  dan perempuan  usia  lima  sampai  sepuluh  tahun.  

Kemudian  ia beralih  ke  eksperimen  di  bidang  peternakan.  Dengan menebar  benih  sapi  jantan  ke  berbagai  jenis  rumput,  ia 
mencoba  menghasilkan  hibrida  antara  sayuran  dengan binatang penghasil susu. 

Setelah sukses membuat keju dan ‘rumput susu’ ciptaannya - seperti dijelaskan oleh Akademi Ilmu  Pengetahuan  Lyon  sebagai,  “bercita  rasa  susu kambing,  walau  agak  pahit”  - ia  terpaksa  meninggalkan eksperimen  itu  karena  mahalnya  biaya  menebar  benih banteng  ke  ratusan  hektar  ladang  rumput.  

Kendati demikian,  keseriusan  menekuni  bidang  agrobiologi  telah membangkitkan minat  tak  hanya  pada  binatang  pembajak 
sawah,  tapi  juga  pada bumi dan keterkaitannya dengan biosfer itu sendiri.

Ia  belum  lagi  usai  menuntaskan  penelitian  tentang hibrida  tanaman-binatang  ketika  mendadak  terserang demam  riset  gila-gilaan  untuk  membuat  risalah  agung mengenai  hubungan  antara  kedekatan  makhluk hidup terhadap  bumi  dan  energi  kehidupan.  

Tesisnya menyatakan bahwa kehidupan hanya mampu berkembang pada  jarak  tertentu dari  bumi,  karena  bumi  secara  terus-menerus  mengeluarkan  gas  perusak  (disebut  sebagai 
fluidum letale)  yang  melemahkan  daya  hidup,  dan  cepat atau  lambat  - bahkan  berpotensi  - memusnahkan  daya hidup  tersebut.  

Itu sebabnya semua makhluk hidup secara 
naluriah  berusaha  menjauhkan  diri  dari  bumi  melalui proses  pertumbuhan  - maksudnya  bahwa  kita  tumbuh semakin tinggi dan menjauh dari tanah, bukan mengarah ke tanah.  Itu  pula  sebabnya  kenapa  bagian‐bagian  terpenting makhluk  hidup  secara  alami  mengarah  ke  atas,  seperti kuncup  butir  padi,  mekaran  bunga,  kepala  manusia.  Dus, tubuh mulai membungkuk dan merunduk kembali ke arah 
tanah  selama  proses  penuaan,  semua  makhluk  akhirnya menjadi  korban  gas  maut,  untuk  kemudian  berubah menjadi gas itu sendiri setelah membusuk dalam kematian. 

Ketika Marquis de la Taillade-Espinasse menerima kabar bahwa  di  Pierrefort  ada  orang  yang  pernah  mendekam  di gua  selama  tujuh  tahun  - itu  artinya  benar-benar 
terbungkus oleh elemen perusak dari bumi, ia girang bukan kepalang  dan  segera  memboyong  Grenouille  ke laboratoriumnya,  untuk  dijadikan  objek  penelitian.  

Ia menemukan  bahwa  teorinya  terbukti  benar.  Bahkan tampak secara visual. Gas fluidum letale telah begitu parah menyerang  Grenouille  sampai  tubuh  berusia  25  tahun  itu jelas-jelas menunjukkan gejala penuaan. 

Taillade‐Espinasse menegaskan  bahwa  Grenouille  bisa  lolos  dari  kematian karena  selama  dikurung  ia  diberi  makan  tanaman 
penyingkir  elemen  bumi  secara  teratur,  kemungkinan berupa  roti  dan  buah-buahan.  

Kondisi  fisik  Grenouille hanya  bisa  dipulihkan  melalui  pengusiran  sepenuhnya 
unsur  fluidum,  menggunakan  mesin  ventilasi  khusus ciptaan  Taillade-Espinasse.  

Alat  itu  tersimpan  di  rumah mewahnya  di  Montpellier.  Kalau  Grenouille  bersedia 
merelakan dirinya menjadi objek demonstrasi ilmiah, ia tak hanya  akan  membantu  melenyapkan  kontaminasi  gas beracun,  tapi  juga  memberi  Grenouille  banyak  uang.  

Dua jam  kemudian  mereka  duduk  bersama  di  kereta  kuda. Meski  kondisi  jalan  amat  buruk,  mereka  berhasil menempuh  jarak  64  mil  ke  Montpellier  hanya  dalam  dua hari.  

Sang  Marquis  mendayagunakan  wewenang 
kebangsawanannya  untuk  melecut  kuda  dan  saisnya sampai  maksimal.  Bahkan  tak  sungkan  membantu membetulkan  roda  patah  atau  pelana  putus.  

Begitu bergairahnya  ia  dengan  temuan  ini  dan  begitu  ingin menampilkannya  di hadapan  publik  sesegera  mungkin. 

Grenouille  sendiri  tak  sekalipun  diizinkan  beranjak  dari kereta.  Ia  dipaksa  terus  duduk,  dibungkus  pakaian  perca dan  selimut  pelana  yang  kumal  oleh  tanah  dan  lumpur. 

Selama  perjalanan  ia  diberi  umbi  mentah  sebagai pengganjal  perut.  Sang  Marquis  berharap  prosedur  ini mampu  mempertahankan status  kontaminasi fluidum
untuk sementara. 

Setiba di Montpellier, ia segera membawa Grenouille ke gudang  di  loteng,  lalu menyebar  undangan  ke  seluruh anggota  fakultas  kedokteran,  asosiasi  botani,  sekolah pertanian,  klub  kimia  terapan,  Freemasons'  Lodge,  dan kalangan  terpelajar  lain  yang  jumlahnya  tak  lebih  dari selusin  di  kota  itu.  

Beberapa  hari  kemudian,  persis seminggu  setelah  turun  gunung,  Grenouille  berdiri  di  atas podium,  di  aula  utama  Universitas  Montpellier.  Kepada pengunjung  yang  datang  Ia dipersembahkan sebagai sebuah sensasi ilmiah tahun ini. 

Dalam  ceramah  tersebut,  Taillade-Espinasse 
menggambarkan Grenouille sebagai bukti hidup kesahihan teorinya  tentang  fluidum letate.  Sambil  melucuti  pakaian Grenouille  satu  per  satu  ia  menjelaskan  efek  merusak  gas mematikan itu  terhadap  tubuh.  Ia menunjuk bekas gosong dan  parut  pada kulit,  kanker  kulit  kemerahan  yang  amat luas  di  dada,  bahkan  bukti  efek  merusak  gas  tersebut terhadap  struktur  tulang  dengan  mengacu  pada kepincangan  dan  kebongkokan  Grenouille.  

Organ  internal juga ditunjuk sebagai korban,  seperti pankreas, hati, paru-paru,  kandung  kemih,  dan  sistem  pencernaan.  Analisis  ini 
dibeberkan  dengan  sebaskom  penuh  contoh  organ-organ tersebut,  di  kaki  podium.  

Ringkasnya,  tak  diragukan  lagi bahwa  kelumpuhan  daya  hidup  yang  disebabkan  oleh kontaminasi  fluidum letale  selama  tujuh  tahun  telah sedemikian  parah  sampai  si  korban  - yang  penampilan luarnya  memang  lebih  mirip  tikus  ketimbang  manusia  - bisa  dikatakan  sebagai  makhluk  di  ambang  kematian. 

Namun demikian, sang Marquis meyakinkan  bahwa  hanya dalam waktu delapan hari,  dengan memakai alat terapi ventilasi plus  diet  ketat, ia mampu menyembuhkan makhluk  malang ini, mengarah kepada titik bukti berikutnya  bahwa  penyembuhan  total  tetap  bisa diterapkan  bagi  siapa  saja.  

Dus,  ia  mengundang  hadirin untuk  datang  lagi  minggu  depan  dan  menyaksikan 
kesuksesan  prognosis  ini  - dengan  catatan  tentu  saja, bahwa paparan saat itu harus dipandang sebagai bukti  tak terbantahkan  dari  kebenaran  teori  Marquis  tentang  gas 
fluidum dari bumi.

Ceramah ilmiah itu sukses luar biasa. Para hadirin ramai menyambut  bertepuk  tangan,  lalu  antre  melewati  podium tempat  Grenouille  berdiri.  Dalam  kondisi  fisik  seperti sekarang  - penuh  parut  dan  cacat  bentuk  - Grenouille memang tampak begitu mengerikan sampai orang yakin ia tak mungkin bisa disembuhkan dan tinggal menunggu mati 
saja.  Padahal  yang  punya  badan  merasa  sehat  dan  biasa saja.  

Banyak  di  antara  orang-orang  terpelajar  itu  yang menepuk-nepuk  tubuhnya  atas-bawah  dengan  lagak profesional,  mengukur,  melihat  ke  dalam  mulut  dan  mata Grenouille  seperti  dokter.  

Beberapa  ada  yang  langsung menyapa dan bertanya tentang pengalaman selama tinggal 
di  gua  dan  kondisi  kesehatannya  saat  ini.  

Tapi  Grenouille bersikukuh dengan skenario Marquis dan menjawab semua pertanyaan  dengan  suara  seperti  orang  tercekik  ditambah aksi  gerakan  tangan  menunjuk  ke  pangkal  tenggorok, seolah  mengatakan  bahwa organ  ini  juga  sudah  busuk  dimakan fluidum letate. 

Seusai  demonstrasi,  Taillade-Espinasse  bergegas mengepak  dan memboyong  Grenouille  kembali  ke  gudang di loteng rumah. Lalu di hadapan beberapa dokter  terpilih dari  fakultas  kedokteran  ia  mengunci  Grenouille  dalam mesin  ventilasinya  - sebuah  kamar  sempit  terbuat  dari papan-papan  pinus  yang  dijalin  rapat.  

Sebuah  corong pengisap  dipasang  di  atasnya,  mencuat  sampai  ke  atap rumah.  Corong  ini  berfungsi  mengisap  udara  dari  langit, bebas dari gas maut. Udara ini lalu dialirkan keluar melalui sebuah katup buka-tutup dari kulit yang dipasang di lantai. 

Seorang  pelayan  ditugasi mengoperasikan  dan mengawasi siang-malam,  agar  ventilator  di  dalam  corong  tidak berhenti  memompa.  Demikianlah,  Grenouille  kini dikelilingi  arus  udara  yang  disaring  terus-menerus,  diberi 
menu  diet  penyingkir  racun  bumi  berupa  kaldu  daging burung  dara,  pai  burung  pipit,  daging  cincang  bebek  liar, buah-buahan  segar  yang  dipetik langsung  dari  pohon,  roti 
gandum  yang  khusus  dikukus  di  ketinggian,  anggur Pyrenees,  susu  kambing,  dan  krim  beku  dari  telur  ayam betina  yang  diternak  di  loteng  rumah.  

Semua  disajikan selang  beberapa  jam  melalui  sebuah  pintu  bertekanan  berdinding ganda di sisi mesin. Kombinasi  perawatan  dekontaminasi  dan  revitalisasi fisik  ini  berlangsung  selama  lima  hari.  Pada  hari  keenam sang  Marquis  mematikan  ventilator,  membawa  Grenouille ke  kamar  bilas  untuk  dimandikan  selama  beberapa  jam dalam  sebuah  bak  berisi  air  hujan  yang  dihangatkan,  dan terakhir membedaki tubuh dari kepala sampai kaki dengan sabun cair  khusus dari Potosi di pegunungan Andes. 

Kuku jari tangan dan kaki dipotong rapi, gigi dibersihkan dengan limau pembersih dari Dolomites. Setelah itu cukur jenggot, potong  rambut,  disisiri,  ditata,  dan  dibedaki.  

Penjahit  dan tukang  sepatu  juga  didatangkan.  Grenouille  dibuatkan kemeja  sutra, lengkap  dengan jabot  (rumbai  kain)  di  dada dan manset, stoking sutra, mantel panjang, celana panjang dan  rompi  beludru  warna  biru,  plus  sepatu  hitam  gagah bermata  sabuk  dari  kulit.  Yang  sebelah  kanan  diganjal sedemikian  rupa  untuk  menutupi  kepincangan  Grenouille. 

Sang Marquis turun tangan memberi riasan bedak putih ke wajah  Grenouille  yang  penuh  parut,  memberi  pemerah pada  pipi  dan bibir,  tak lupa menebalkan  alis membentuk lengkung  khas  para  bangsawan  dengan  pensil  alis  nan lembut.  Terakhir ia memercikkan  parfum  favoritnya  tipis-tipis  beraroma  violet.  Sang  Marquis  mundur  dua  langkah, mengamati hasil karyanya, dan lama memikirkan kata yang tepat mengutarakan suka cita. 

“Monsieur,” katanya kemudian,  

“saya benar-benar puas. Kagum  pada  kegeniusan  saya  sendiri.  Tentu  saja  saya  tak pernah meragukan teori saya tentang fluidum letale, apalagi ditambah  konfirmasi  terapi  terapan  seperti ini. Telah  saya ubah  Anda  dari  binatang  menjadi  manusia.  

Sungguh tindakan  agung  nan  terpuji.  Maaf,  tapi  saya  benar‐benar terharu! Berdirilah di depan cermin dan pandang diri Anda sendiri.  

Untuk  pertama  kalinya  Anda  akan  sadar  bahwa Anda adalah seorang manusia. 

Mungkin tidak tampan atau spesial atau apalah, tapi tak pelak seorang manusia normal 
yang bisa diterima lingkungan. Silakan, Monsieur! Pandangi dan kagumilah  eajaiban  yang telah  saya ciptakan bersama Anda!” 

Itu  adalah  pertama  kalinya  seseorang  memanggil Grenouille  dengan  sebutan  'monsieur'.  Sebuah  sapaan terhormat yang menggetarkan. 

Grenouille  melangkah  ke  depan  cermin  dan  melihat keajaiban  itu.  Ini  juga  pertama  kalinya  ia  becermin.  Di hadapannya  berdiri  seorang lelaki dalam  balutan  biru nan tampan,  dengan  kemeja  putih  dan  stoking  sutra.  Secara refleks  ia  merunduk,  sebagaimana  kebiasaan  untuk  selalu 
merunduk  di  depan  lelaki  seperti  itu.  Si  lelaki  ikut merunduk.  Begitu  pun  saat  ia  tegak  lagi.  Keduanya  saling pandang.  Yang  paling  mencengangkan  Grenouille  adalah 
fakta bahwa ia tampak begitu normal. 

Sang Marquis benar, bahwa  tak  ada  yang  spesial  dari  penampilannya.  Tidak tampan  tapi  juga  tidak  buruk.  Biasa  dan  normal  saja. 

Berpostur kecil dan agak kaku, wajah sedikit tanpa ekspresi ‐ pokoknya seperti ribuan lelaki normal lain di dunia. 

Kalau sekarang  ia  keluar  jalan-jalan  pasti  tak  ada  yang memerhatikan.  Jenis  orang  yang  kalau  bertemu  di  jalan tidak  memberi  kesan  menonjol.  Dan  selain  sedikit  bau 
violet  serta  perangkat  yang   dikenakan,  Grenouille  tak mencium apa-apa dari sosok itu. 

Tak  terbayangkan  bahwa  sepuluh  hari  lalu  para  petani berlarian  menjerit  ketakutan  melihatnya.  Secara  pribadi, Grenouille  tak  merasa  ada  perubahan  antara  ia  yang  dulu 
dengan  yang  sekarang - pun  saat  berpejam mata. 

Hirupan napasnya  mengenali  aroma  parfum  murahan,  beludru, sepatu baru, aroma sutra, bedak,  riasan, dan aroma samar sabun  Potosi.  Seketika  ia  sadar  bahwa  bukan  makanan mewah  atau  omong  kosong  unit  ventilasi  yang membuatnya tampak normal. 

Kenormalan itu murni datang dari  balutan  beberapa  lembar  pakaian,  potongan  rambut, 
dan riasan kosmetik. 

Grenouille berkedip membuka mata dan melihat lelaki di cermin  mengedip  balik.  Selarik  senyum  di  bibir  bergincu seolah menyatakan bahwa ketampanannya biasa saja. Tapi Grenouille juga merasa bahwa lelaki di cermin itu, figur tak berbau  yang  didandani  seperti  manusia  ini,  tidak  terlalu jelek.  

Bahkan  kalau  kostumnya  disempurnakan,  mungkin cukup berpotensi mempengaruhi dunia. 

Jauh di luar dugaan Grenouille sendiri. Anggukan dibalas anggukan. Begitu pun saat ia curi-curi mengembangkempiskan hidung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...