Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 25

DUA PULUH LIMA


BEBERAPA  HARI  BERIKUTNYA  ia  habiskan  waktu dengan  bermukim  di  gunung,  setelah  memutuskan  bahwa ia  tak akan meninggalkan daerah surgawi ini begitu cepat. 

Pertama-tama ia mengendus mencari  air  dan menemukan sebuah  arus  kecil  di  retakan  bebatuan,  sedikit  di  bawah puncak  gunung.  

Memang  tidak  banyak,  tapi  kalau  cukup sabar  menjilat,  selama  satu  jam  ia  bisa  memenuhi kebutuhan  air  sehari-hari.  

Makanan  ia  temukan  dalam wujud  kadal-kadal  kecil  dan  ular  cincin.  Grenouille 
menjepit  kepala  mereka  lalu  memakan  mereka  hidup-hidup.  Ia  juga  makan  lumut  kering,  rumput,  serta  buah berry lumut. 

Pola makan seperti ini, walau tak bisa diterima 
olah  standar  borjuis,  sama  sekali  tak menjijikkan  baginya. 

Dalam  beberapa  minggu  dan  bulan  terakhir,  ia  tak  lagi makan makanan  hasil  olahan  tangan manusia  seperri  roti, sosis, atau keju. 

Setiap kali lapar ia memakan apa saja yang 
kira-kira bisa dimakan dan lewat dekat situ, tak peduli rasa. Ia lebih kenal indra penciuman ketimbang indra pengecap, jadi  tidak ada masalah.  Ia juga  tak butuh  tempat berteduh 
dan  cukup  puas  bernaung  di  atas  batu.  

Tapi  tak  lama sampai ia menemukan ini. Dekat  retakan  sumber  air,  Grenouille  menemukan sebuah  gua  alam  yang mengarah  ke  perut  gunung  dengan jalur  tajam  dan  berkelok,  berakhir  kira-kira  30  meter  di sebuah lereng berbatu. 

Punggung gua begitu sempit sampai Grenouille  harus  berjalan  membungkuk  dan  bahunya bergesekan  dengan  langit-langit.  Tapi  ia  bisa  duduk  dan dengan  sedikit  memutar  badan  bahkan  bisa  berbaring.

Begini  saja  rasanya  sudah  sangat  nyaman.  Tempat  ini banyak  memberi  keuntungan.  Ujung  terowongan  gelap gulita,  bahkan  di  siang  hari.  Sepi,  tanpa  suara  apa  pun. 

Udara  terasa  lembap,  asin,  dan  dingin.  Grenouilie  dapat langsung  mengendus  bahwa  tak  ada  makhluk  hidup  yang pernah masuk ke sini. Saat tinggal di sana, batin Grenouille terseret  ke  dalam  arus  kekaguman  agung  - seperti  saat pertama  kali  seseorang menjejakkan  kaki di  katedral Paus di  Roma,  atau  mesjid  agung  di  Konstantinopel.  

Selimut pelana  digelar  hati-hati  di  atas  lantai  seperti  menutupi altar,  lalu  ia  berbaring  di  atasnya.  Sangat  nyaman  dan 
penuh  berkah.  Grenouille  kini  berada  45  meter  di  bawah tanah,  di  dalam  perut  gunung  paling  terpencil  di  Prancis. 

Seperti  berada dalam kuburan sendiri.  Seumur‐umur ia tidak pernah merasa  demikian aman. Bahkan melebihi kenyamanan  berada  dalam  kandungan.  Dunia  boleh 
musnah di luar sana, tapi Grenouille tak akan peduli. Lalu ia mulai menangis  perlahan Tak  tahu  harus  berterima  kasih pada siapa untuk karunia sebaik ini.

Hari-hari  selanjutnya,  Grenouille  keluar  hanya  untuk menjilat  air,  buang  hajat,  dan  berburu  kadal  serta  ular. Mereka  lebih  mudah  ditangkap  pada  malam  hari,  saat 
bernaung  di  bawah  batu gamping atau  dalam lubang  kecil yang mudah dilacak hidung. 

Ia kembali ke puncak beberapa kali lagi selama beberapa minggu  pertama  untuk  mengendusi  cakrawala.  Lama-kelamaan  ini  lebih  menjadi  kebiasaan  ketimbang kewaspadaan karena ia  tak pernah mencium ancaman apa pun.  

Jadi  bosan  sendiri  dan  lebih  suka  kembali  ke gua secepat  mungkin  setelah  selesai  memenuhi  kebutuhan dasar bertahan hidup. Di dalam sini ia merasa lebih hidup. 

Dua  puluh  jam  sehari  ia  habiskan  dalam  kegelapan, kesunyian,  dan  tidak  bergerak  sama  sekali.  Duduk  di  atas selimut  pelana  di  ujung  koridor  gua,  punggung  bersandar 
dinding, bahu terjepit di antara batu, dan menikmati diri. 

Kita  kenal  orang-orang  yang  suka  mencari  kesendirian seperti orang saat dirundung penyesalan, orang-orang yang mengalami  kegagalan,  para  santo  atau  nabi.  Umumnya 
mereka  menyepi  ke  gurun,  hidup  bersama  serangga  dan madu alam. 

Ada juga yang lebih suka thiggal di gua, lubang, atau  pulau  terpencil.  Yang  lain  berkutat  di  gua‐gua pegunungan,  berkawan  kabut  dan  udara  dingin.  

Mereka melakukan  semua  ini  agar  bisa  lebih  dekat  pada  Sang Pencipta. 

Kesendirian  dijadikan  media  pertobatan  dan 
penebusan  dosa,  didasari  keyakinan  bahwa  - jalan  hidup yang  dipilih  telah sesuai dengan  kehendak  Tuhan.  Ikhlas menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sampai kesendirian  itu  dipecahkan  oleh  pertanda  agung  untuk mewartakan wahyu pada umat manusia.

Tapi kasus Grenouille tidak begitu. Sama sekali tidak ada Tuhan  dalam  pikirannya.  Ia  tidak  sedang  menebus  dosa atau  menunggu wahyu  Ilahi.  Kesendirian  ini  dilakukan murni  atas  dasar  kesenangan  pribadi,  untuk  lebih  dekat pada  diri  sendiri.  Tidak  lagi  terganggu  oleh  hal-hal eksternal.  Ia  puas  dengan  diri  sendiri  dan  sangat  suka begini.  

Berbaring  di  atas  batu  seperti  mayat,  nyaris  tak bernapas  dan  jantung  nyaris  tak  berdetak,  tapi  tetap merasa  menjalani  hidup  lebih  intensif  dan  ceria  daripada seumur hidup tinggal di luar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...