DUA PULUH LIMA
BEBERAPA HARI BERIKUTNYA ia habiskan waktu dengan bermukim di gunung, setelah memutuskan bahwa ia tak akan meninggalkan daerah surgawi ini begitu cepat.
Pertama-tama ia mengendus mencari air dan menemukan sebuah arus kecil di retakan bebatuan, sedikit di bawah puncak gunung.
Memang tidak banyak, tapi kalau cukup sabar menjilat, selama satu jam ia bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Makanan ia temukan dalam wujud kadal-kadal kecil dan ular cincin. Grenouille
menjepit kepala mereka lalu memakan mereka hidup-hidup. Ia juga makan lumut kering, rumput, serta buah berry lumut.
Pola makan seperti ini, walau tak bisa diterima
olah standar borjuis, sama sekali tak menjijikkan baginya.
Dalam beberapa minggu dan bulan terakhir, ia tak lagi makan makanan hasil olahan tangan manusia seperri roti, sosis, atau keju.
Setiap kali lapar ia memakan apa saja yang
kira-kira bisa dimakan dan lewat dekat situ, tak peduli rasa. Ia lebih kenal indra penciuman ketimbang indra pengecap, jadi tidak ada masalah. Ia juga tak butuh tempat berteduh
dan cukup puas bernaung di atas batu.
Tapi tak lama sampai ia menemukan ini. Dekat retakan sumber air, Grenouille menemukan sebuah gua alam yang mengarah ke perut gunung dengan jalur tajam dan berkelok, berakhir kira-kira 30 meter di sebuah lereng berbatu.
Punggung gua begitu sempit sampai Grenouille harus berjalan membungkuk dan bahunya bergesekan dengan langit-langit. Tapi ia bisa duduk dan dengan sedikit memutar badan bahkan bisa berbaring.
Begini saja rasanya sudah sangat nyaman. Tempat ini banyak memberi keuntungan. Ujung terowongan gelap gulita, bahkan di siang hari. Sepi, tanpa suara apa pun.
Udara terasa lembap, asin, dan dingin. Grenouilie dapat langsung mengendus bahwa tak ada makhluk hidup yang pernah masuk ke sini. Saat tinggal di sana, batin Grenouille terseret ke dalam arus kekaguman agung - seperti saat pertama kali seseorang menjejakkan kaki di katedral Paus di Roma, atau mesjid agung di Konstantinopel.
Selimut pelana digelar hati-hati di atas lantai seperti menutupi altar, lalu ia berbaring di atasnya. Sangat nyaman dan
penuh berkah. Grenouille kini berada 45 meter di bawah tanah, di dalam perut gunung paling terpencil di Prancis.
Seperti berada dalam kuburan sendiri. Seumur‐umur ia tidak pernah merasa demikian aman. Bahkan melebihi kenyamanan berada dalam kandungan. Dunia boleh
musnah di luar sana, tapi Grenouille tak akan peduli. Lalu ia mulai menangis perlahan Tak tahu harus berterima kasih pada siapa untuk karunia sebaik ini.
Hari-hari selanjutnya, Grenouille keluar hanya untuk menjilat air, buang hajat, dan berburu kadal serta ular. Mereka lebih mudah ditangkap pada malam hari, saat
bernaung di bawah batu gamping atau dalam lubang kecil yang mudah dilacak hidung.
Ia kembali ke puncak beberapa kali lagi selama beberapa minggu pertama untuk mengendusi cakrawala. Lama-kelamaan ini lebih menjadi kebiasaan ketimbang kewaspadaan karena ia tak pernah mencium ancaman apa pun.
Jadi bosan sendiri dan lebih suka kembali ke gua secepat mungkin setelah selesai memenuhi kebutuhan dasar bertahan hidup. Di dalam sini ia merasa lebih hidup.
Dua puluh jam sehari ia habiskan dalam kegelapan, kesunyian, dan tidak bergerak sama sekali. Duduk di atas selimut pelana di ujung koridor gua, punggung bersandar
dinding, bahu terjepit di antara batu, dan menikmati diri.
Kita kenal orang-orang yang suka mencari kesendirian seperti orang saat dirundung penyesalan, orang-orang yang mengalami kegagalan, para santo atau nabi. Umumnya
mereka menyepi ke gurun, hidup bersama serangga dan madu alam.
Ada juga yang lebih suka thiggal di gua, lubang, atau pulau terpencil. Yang lain berkutat di gua‐gua pegunungan, berkawan kabut dan udara dingin.
Mereka melakukan semua ini agar bisa lebih dekat pada Sang Pencipta.
Kesendirian dijadikan media pertobatan dan
penebusan dosa, didasari keyakinan bahwa - jalan hidup yang dipilih telah sesuai dengan kehendak Tuhan. Ikhlas menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sampai kesendirian itu dipecahkan oleh pertanda agung untuk mewartakan wahyu pada umat manusia.
Tapi kasus Grenouille tidak begitu. Sama sekali tidak ada Tuhan dalam pikirannya. Ia tidak sedang menebus dosa atau menunggu wahyu Ilahi. Kesendirian ini dilakukan murni atas dasar kesenangan pribadi, untuk lebih dekat pada diri sendiri. Tidak lagi terganggu oleh hal-hal eksternal. Ia puas dengan diri sendiri dan sangat suka begini.
Berbaring di atas batu seperti mayat, nyaris tak bernapas dan jantung nyaris tak berdetak, tapi tetap merasa menjalani hidup lebih intensif dan ceria daripada seumur hidup tinggal di luar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar