DUA PULUH TUJUH
AH, SUNGGUH MENYENANGKAN pulang ke rumah! Peran ganda sebagai pembalas dendam dan pencipta jagat sungguh melelahkan. Kendati lantas dirayakan selama berjam-jam oleh hasil ciptaan juga belum Cukup meredakan kelelahan.
Grenouille Yang Agung kini merindukan sedikit kesenangan domestik. Hatinya adalah sebuah puri berwarna ungu.
Terletak di sebuah padang bertaburan karang, tertutup bukit-bukit pasir, dikelilingi oasis berawa, dan didirikan di belakang
dinding-dinding batu. Puri ini hanya bisa dicapai dari udara.
Memiliki seribu kamar pribadi, seribu ruangan bawah tanah, dan seribu ruang duduk nan elegan yang salah satunya berisi sebuah sofa ungu tempat Grenouille tak lagi menjadi Grenouille Yang Agung, tapi kembali menjadi Grenouille biasa atau barangkali lebih tepat, disebut sebagai Jean-Baptiste. Di sanalah ia beristirahat.
Kamar-kamar pribadi yang jumlahnya seribu itu dipenuhi rak dari lantai sampai ke langit-langit, berisi seluruh aroma yang dikumpulkan Grenouille seumur hidup.
Jumlahnya ada beberapa juta. Yang terbaik disimpan dalam tong-tong di gudang loteng. Seperti anggur, setelah cukup lama disimpan aroma-aroma ini akan dipindah ke dalam botol yang disusun berjejer bermil-mil sepanjang koridor puri, disusun berdasarkan tahun dan tingkatan tertentu.
Begitu banyak sampai tak mungkin dihabiskan semua - pun bila memakan waktu seumur hidup untuk itu.
Begitu Jean-Baptiste kembali ke rumah, berbaring di sofa sederhana nan empuk di ruang duduk berwarna ungu, barulah ia benar‐benar beristirahat. Tangan Grenouille
bertepuk memanggil para pelayan. Sosok-sosok penurut ini tidak terlihat, tak bisa diraba, tidak bersuara, dan tentu sajatidak berbau - sungguh gambaran pelayan imajiner sejati.
Grenouille memerintahkan mereka pergi ke kamar pribadi dan mengambil. sebotol ini atau sebotol itu dari pustaka aroma, juga ke gudang loteng untuk mengambil minuman.
Pelayan-pelayan imajiner itu bergegas, sementara perut Grenouille keram menanti penuh harap. Mendadak ia merasa seperti seorang pemabuk yang cemas kalau pesanan brendinya, entah bagaimana, tidak ada.
Bagaimana kalau gudang loteng atau pustaka aroma itu mendadak kosong? Atau anggur dalam tong-tong itu mendadak
masam? Kenapa mereka membiarkannya menunggu? Kenapa mereka tidak datang juga? Ia butuh pesanan itu sekarang.
Amat sangat Ia ketagihan dan bakal mati di tempat kalau tidak segera mendapatkannya.
Tenangkan dirimu, Jean-Baptiste! Tenanglah, kawan! Mereka pasti datang membawakan pesananmu. Pelayan-pelayan seperti terbang mempersembahkan permintaan.
Membawa buku aroma di atas nampan tak terlihat, tangan-tangan bersaput mereka yang juga tak terlihat membawakan botol-botol berharga itu, meletakkan di lantai dengan sanga hati-hati, membungkuk hormat, lalu menghilang.
Kini akhirnya ia sendirian lagi. Tangan Jean-Baptiste meraih, membuka botol pertama, menuang penuh-penuh sampai ke bibir gelas, menariknya ke mulut dan meminum sampai habis.
Segelas penuh aroma dingin ia habiskan
dalam sekali teguk. Hmm... nikmat sekali. Begitu segarnya sampai mata Jean-Baptiste berlinang bahagia.
Segera ia menuang segelas lagi. Aroma dari tahun 1752, dipanen saat musim semi, sebelum matahari terbit di Pont-Royal. Waktu
itu hidungnya dituntun ke arah barat, di mana angin semilir membawa aroma laut, hutan, serta sedikit sentuhan tar dari kapal-kapal tongkang yang terikat di pinggir sungai. Ini
adalah aroma di penghujung malam pertama ia menghabiskan waktu berkeliling Paris tanpa izin Grimal.
Aroma segar dari hari baru berikutnya. Fajar pertama yang pernah diendusnya dalam kebebasan. Tak heran jika kini jadi lambang kebebasan. Lambang sebuah kehidupan yang
berbeda. Aroma harapan bagi Grenouille. Ia jaga dengan sangat hati-hati dan diminum setiap hari.
Begitu gelas kedua kosong, semua kegugupan, keraguan, dan rasa tidak aman langsung lenyap, digantikan oleh kenyamanan luar biasa.
Grenouille merebahkan punggung ke sofa, membuka sebuah buku dan mulai membaca memoarnya sendiri. Ia membaca tentang aroma masa kecil, masa sekolah, aroma jalan raya dan ceruk tersembunyi
kota Paris, juga tentang aroma manusia.
Grenouille merinding lagi teringat bau tak sedap itu - bau yang telah ia musnahkan. Dengan jijik ia terus menelaah, sampai
akhirnya benar-benar tak tahan dan menutup buku kuat-kuat, menyingkirkannya dan meraih buku lain.
Ini dilakukannya sambil terus menenggak aroma tanpa putus. Setelah botol berisi aroma harapan, ia membuka yang lain dari tahun 1744, berisi kehangatan aroma kayu di
muka rumah Madame Gaillard.
Setelah itu ia melahap sebotol aroma sore musim panas, diimbuhi parfum dan sarat percik aroma dari pinggiran sebuah taman di Saint‐Germain-des-PrĂ©s, bertahun 1753.
Grenouille minum sampai mabuk. Kaki dan tangan terasa makin berat tergeletak di sofa. Pikiran nyaman dalam kabut. Tapi pesta belum berakhir. Mata memang sudah tak kuat membaca dan jemarinya juga sudah tak kuat memegang buku, tapi ia belum ingin menyerah sebelum menandaskan satu botol lagi. Aroma terbaik yang pernah
ada. Aroma si gadis dari jalan Marais....
Ia minum dengan takzim dan punggung tegak di atas sofa, walau sulit dan ruang duduk serasa berputar setiap kali ia bergerak. Seperti anak kecil di ruang kelas ia merapatkan kedua lutut, kaki lurus bersisian dan tangan kiri bersandar rapi di atas paha kiri. Begitulah si kecil Grenouille menenggak aroma yang paling berharga.
Segelas demi segelas dan merasa makin sedih setiap kalinya. Ia sadar sudah minum terlalu banyak.
Sadar tak akan bisa menahan aroma lezat sebanyak itu. Tapi ia terus minum sampai botol kering. Ingatannya melayang ke perjalanan menyusuri gang gelap dari jalan raya ke pekarangan samping rumah dan akhirnya tiba di bawah penerangan teras belakang.
Si gadis duduk mengupas plum kuning. Di
kejauhan, petasan roket dan desis kembang api membahana....
Grenouille meletakkan gelas dan duduk bergeming selama beberapa menit. Kaku oleh nostalgia dan aroma, sampai rasa terakhir lenyap dari langit-langit mulut.
Pandangan dan kepala terasa kosong, lalu ia ambruk ke sofa dan mulai mendengkur.
Tepat saat itu, Grenouille yang lain juga lelap di atas selimut pelana. Sama lelapnya dengan Grenouille imajiner tadi.
Segala tindak‐laku, dan kelelahan luar biasa yang dirasakan oleh Grenouille Yang Agung juga persis dirasakan oleh Grenouille yang asli. Saat bangun tentu saja ia tidak berada di ruang duduk atau puri ungu atau padang aroma batin tadi, tapi dalam gua batu pengap di ujung terowongan, di atas tanah keras, dalam kegelapan.
Mual oleh lapar dan haus, kedinginan dan
sengsara seperti seorang pemabuk setelah semalam suntuk pesta minuman. Grenouille merangkak keluar dari gua.
Di luar sudah hari baru lagi. Biasanya menjelang malam atau pagi. Tapi di tengah malam buta sekalipun, cahaya bintang serasa menusuk seperti jarum.
Udara berdebu, menyengat dan menggores paru-paru.
Bentangan lanskap serasa rapuh. Grenouille berjalan tertatih membentur batu. Bau paling samar sekalipun tercium begitu tajam dan
membakar bagi hidung yang tak biasa dengan aroma realitas.
Si kutu Grenouille kini sudah sepeka petapa keluar dari cangkang, bertelanjang ria menyusur pantai. Ia pergi ke sumber air di retakan batu, menjilat-jilat selama satu jam. Lebih dari itu akan sangat menyiksa.
Detak waktu di alam nyata ini tak kenal berhenti dan terus membakar kulit. Beberapa larik lumut di kupas dari bebatuan, ditelan tanpa dikunyah. Ia berjongkok dan buang
air sembari makan. Ini harus dilakukan cepat, cepat, dan cepat.
Bagai makhluk buron yang ketakutan - binatang kecil berdaging lembut. Terlebih ketika melihat burung nazar berputar-putar di atas kepala...
Ia bergegas lari masuk gua, ke tempat ujung terowongan selimut pelana tergelar. Hanya di situ ia bisa merasa aman.
Grenouille bersandar ke dinding batu, merentang kaki dan menunggu. Ia harus menahan tubuh agar diam sediam mungkin.
Perlahan ia mulai bisa menguasai napasnya. jantungnya berdetak lebih lambat dan teratur. Dentuman gelombang dalam jiwanya perlahan menyurut. Mendadak
kesendirian serasa menusuk jantung.
Grenouille menutup mata. Pintu-pintu kegelapan dalam dirinya membuka, dan ia masuk. Pementasan berikut dari teater jiwa Grenouille akan segera dimulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar