Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 27

DUA PULUH TUJUH


AH,  SUNGGUH  MENYENANGKAN  pulang  ke  rumah! Peran ganda sebagai pembalas dendam dan pencipta jagat sungguh  melelahkan.  Kendati  lantas  dirayakan  selama berjam-jam  oleh  hasil  ciptaan  juga  belum  Cukup meredakan  kelelahan.  

Grenouille  Yang  Agung  kini merindukan sedikit kesenangan domestik. Hatinya adalah  sebuah puri berwarna ungu. 

Terletak di sebuah  padang  bertaburan  karang,  tertutup  bukit-bukit pasir,  dikelilingi  oasis  berawa,  dan  didirikan  di  belakang 
dinding-dinding  batu.  Puri  ini  hanya  bisa  dicapai  dari udara.  

Memiliki  seribu  kamar  pribadi,  seribu  ruangan bawah  tanah,  dan  seribu  ruang  duduk  nan  elegan  yang salah  satunya  berisi  sebuah  sofa  ungu  tempat  Grenouille tak  lagi  menjadi  Grenouille  Yang  Agung,  tapi  kembali menjadi  Grenouille  biasa atau barangkali  lebih  tepat, disebut sebagai Jean-Baptiste. Di sanalah ia beristirahat. 

Kamar-kamar  pribadi  yang  jumlahnya  seribu  itu dipenuhi  rak  dari  lantai  sampai  ke  langit-langit,  berisi seluruh aroma yang dikumpulkan Grenouille seumur hidup. 

Jumlahnya ada beberapa juta. Yang terbaik disimpan dalam tong-tong  di  gudang  loteng.  Seperti  anggur,  setelah  cukup lama  disimpan  aroma-aroma  ini  akan  dipindah  ke  dalam botol  yang  disusun  berjejer  bermil-mil  sepanjang  koridor puri,  disusun  berdasarkan  tahun  dan  tingkatan  tertentu. 

Begitu banyak sampai tak mungkin dihabiskan semua - pun bila memakan waktu seumur hidup untuk itu. 

Begitu Jean-Baptiste kembali ke rumah, berbaring di sofa sederhana  nan  empuk  di  ruang  duduk  berwarna  ungu, barulah  ia  benar‐benar  beristirahat.  Tangan  Grenouille 
bertepuk memanggil para pelayan. Sosok-sosok penurut ini tidak terlihat, tak bisa diraba, tidak bersuara, dan tentu sajatidak  berbau - sungguh  gambaran  pelayan  imajiner  sejati. 

Grenouille memerintahkan mereka pergi ke kamar pribadi dan  mengambil.  sebotol  ini  atau  sebotol  itu  dari  pustaka aroma, juga  ke gudang loteng untuk mengambil minuman. 

Pelayan-pelayan  imajiner  itu  bergegas,  sementara  perut Grenouille  keram  menanti  penuh  harap.  Mendadak  ia merasa  seperti  seorang  pemabuk  yang  cemas  kalau pesanan brendinya, entah bagaimana, tidak ada. 

Bagaimana kalau  gudang  loteng  atau  pustaka  aroma  itu  mendadak kosong?  Atau  anggur  dalam  tong-tong  itu  mendadak 
masam?  Kenapa  mereka  membiarkannya  menunggu? Kenapa  mereka  tidak  datang  juga?  Ia  butuh  pesanan  itu sekarang.  

Amat  sangat Ia ketagihan dan  bakal  mati  di  tempat kalau tidak segera mendapatkannya. 

Tenangkan  dirimu,  Jean-Baptiste!  Tenanglah,  kawan! Mereka  pasti  datang  membawakan  pesananmu.  Pelayan-pelayan  seperti  terbang  mempersembahkan  permintaan. 

Membawa buku aroma di atas nampan tak terlihat, tangan-tangan  bersaput  mereka  yang  juga  tak  terlihat membawakan  botol-botol  berharga  itu,  meletakkan  di lantai  dengan  sanga   hati-hati,  membungkuk  hormat,  lalu menghilang. 

Kini  akhirnya  ia  sendirian  lagi.  Tangan  Jean-Baptiste meraih,  membuka  botol  pertama,  menuang  penuh-penuh sampai ke bibir gelas, menariknya ke mulut dan meminum sampai  habis.  

Segelas  penuh  aroma  dingin  ia  habiskan 
dalam  sekali  teguk.  Hmm...  nikmat  sekali.  Begitu  segarnya sampai  mata  Jean-Baptiste  berlinang  bahagia.  

Segera  ia menuang segelas lagi. Aroma dari tahun 1752, dipanen saat musim semi, sebelum matahari terbit di Pont-Royal. Waktu 
itu hidungnya dituntun ke arah barat, di mana angin semilir membawa aroma laut, hutan, serta sedikit sentuhan tar dari kapal-kapal  tongkang  yang  terikat  di  pinggir  sungai.  Ini 
adalah  aroma  di  penghujung  malam pertama  ia menghabiskan  waktu  berkeliling  Paris  tanpa  izin  Grimal.

Aroma segar dari hari baru berikutnya. Fajar pertama yang pernah  diendusnya  dalam  kebebasan.  Tak  heran  jika  kini jadi lambang kebebasan. Lambang sebuah kehidupan yang 
berbeda.  Aroma  harapan  bagi  Grenouille.  Ia  jaga  dengan sangat hati-hati dan diminum setiap hari. 

Begitu gelas kedua kosong, semua kegugupan, keraguan, dan  rasa  tidak  aman  langsung  lenyap,  digantikan  oleh kenyamanan luar  biasa.  

Grenouille merebahkan  punggung ke  sofa,  membuka  sebuah  buku  dan  mulai  membaca memoarnya sendiri. Ia membaca tentang aroma masa kecil, masa  sekolah,  aroma  jalan  raya  dan  ceruk  tersembunyi 
kota  Paris,  juga  tentang  aroma  manusia.  

Grenouille merinding lagi teringat bau tak sedap itu - bau yang telah ia musnahkan.  Dengan  jijik  ia  terus  menelaah,  sampai 
akhirnya  benar-benar  tak  tahan  dan  menutup  buku  kuat-kuat, menyingkirkannya dan meraih buku lain. 

Ini  dilakukannya  sambil  terus  menenggak  aroma  tanpa putus.  Setelah  botol  berisi  aroma  harapan,  ia  membuka yang lain dari tahun 1744, berisi kehangatan aroma kayu di 
muka  rumah  Madame  Gaillard.  

Setelah  itu  ia  melahap sebotol  aroma  sore  musim  panas,  diimbuhi  parfum  dan sarat  percik  aroma  dari  pinggiran  sebuah  taman  di  Saint‐Germain-des-PrĂ©s, bertahun 1753.

Grenouille  minum  sampai  mabuk.  Kaki  dan  tangan terasa  makin  berat  tergeletak  di  sofa.  Pikiran  nyaman dalam  kabut.  Tapi  pesta  belum  berakhir.  Mata  memang sudah tak kuat membaca dan jemarinya juga sudah tak kuat memegang  buku,  tapi  ia  belum  ingin  menyerah  sebelum menandaskan  satu  botol  lagi.  Aroma  terbaik  yang  pernah 
ada. Aroma si gadis dari jalan Marais.... 

Ia  minum  dengan  takzim  dan  punggung  tegak  di  atas sofa,  walau  sulit  dan  ruang  duduk  serasa  berputar  setiap kali  ia  bergerak.  Seperti  anak  kecil  di  ruang  kelas  ia merapatkan  kedua  lutut,  kaki  lurus  bersisian  dan  tangan kiri  bersandar  rapi  di  atas  paha  kiri.  Begitulah  si  kecil Grenouille menenggak aroma yang paling berharga. 

Segelas demi  segelas  dan  merasa  makin  sedih  setiap  kalinya.  Ia sadar  sudah  minum  terlalu  banyak.  

Sadar  tak  akan  bisa menahan  aroma  lezat  sebanyak  itu.  Tapi  ia  terus  minum sampai  botol  kering.  Ingatannya  melayang  ke  perjalanan menyusuri  gang  gelap  dari  jalan  raya  ke  pekarangan samping  rumah  dan  akhirnya  tiba  di  bawah  penerangan teras  belakang.  

Si  gadis  duduk mengupas  plum  kuning. Di 
kejauhan,  petasan  roket dan desis  kembang  api membahana....

Grenouille  meletakkan  gelas  dan  duduk  bergeming selama  beberapa  menit.  Kaku  oleh  nostalgia  dan  aroma, sampai  rasa  terakhir  lenyap  dari  langit-langit  mulut. 

Pandangan  dan  kepala  terasa  kosong,  lalu  ia  ambruk  ke sofa dan mulai mendengkur. 
Tepat  saat  itu,  Grenouille  yang  lain  juga  lelap  di  atas selimut  pelana.  Sama lelapnya  dengan  Grenouille imajiner tadi.  

Segala  tindak‐laku,  dan  kelelahan  luar  biasa  yang dirasakan  oleh  Grenouille  Yang  Agung  juga  persis dirasakan oleh Grenouille yang asli. Saat  bangun  tentu  saja  ia  tidak  berada  di  ruang  duduk atau  puri  ungu  atau  padang  aroma  batin  tadi,  tapi  dalam gua batu pengap di ujung  terowongan, di atas  tanah keras, dalam kegelapan. 

Mual oleh lapar dan haus, kedinginan dan 
sengsara seperti seorang pemabuk setelah semalam suntuk pesta minuman. Grenouille merangkak keluar dari gua.

Di luar sudah hari baru lagi. Biasanya menjelang malam atau pagi. Tapi di tengah  malam buta sekalipun, cahaya bintang serasa  menusuk seperti  jarum. 
Udara berdebu, menyengat dan menggores paru-paru.  

Bentangan  lanskap serasa rapuh. Grenouille berjalan tertatih membentur batu. Bau  paling  samar  sekalipun  tercium  begitu  tajam  dan 
membakar  bagi  hidung  yang  tak  biasa  dengan  aroma realitas.  

Si  kutu  Grenouille kini  sudah  sepeka  petapa  keluar dari cangkang, bertelanjang ria menyusur pantai.  Ia  pergi  ke  sumber  air  di  retakan  batu,  menjilat-jilat selama  satu  jam.  Lebih  dari  itu  akan  sangat  menyiksa. 

Detak waktu di alam nyata ini tak kenal berhenti dan terus membakar  kulit.  Beberapa  larik  lumut  di  kupas  dari bebatuan, ditelan tanpa dikunyah. Ia berjongkok dan buang 
air  sembari  makan.  Ini  harus  dilakukan  cepat,  cepat,  dan cepat. 

Bagai makhluk buron yang ketakutan - binatang kecil berdaging  lembut.  Terlebih  ketika  melihat  burung  nazar berputar-putar di atas kepala... 

Ia bergegas lari masuk gua, ke tempat ujung  terowongan  selimut  pelana  tergelar.  Hanya di situ ia bisa merasa aman. 

Grenouille  bersandar  ke  dinding  batu,  merentang  kaki dan menunggu. Ia harus menahan tubuh agar diam sediam mungkin.  

Perlahan  ia  mulai  bisa  menguasai napasnya. jantungnya  berdetak  lebih  lambat  dan  teratur.  Dentuman gelombang  dalam  jiwanya  perlahan  menyurut.  Mendadak 
kesendirian  serasa  menusuk  jantung.  

Grenouille  menutup mata.  Pintu-pintu  kegelapan  dalam  dirinya membuka,  dan ia  masuk.  Pementasan  berikut  dari  teater  jiwa  Grenouille akan segera dimulai. 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...