EMPAT BELAS
KULIT KAMBING UNTUK BAHAN kulit Spanyol Count Verhamond. Baldini baru ingat sekarang. Ia memesan kulit itu dari Grimal beberapa hari lalu. Kulit kambing dengan
kualitas terbaik dan terhalus yang akan dipakai sebagai pengering tinta di meja Count Verhamont, seharga lima belas Franc per potong.
Tapi ia tidak terlalu membutuhkannya lagi sekarang, di samping untuk menghemat pengeluaran. Di pihak lain, kalau ia tolak begitu saja... ? Siapa tahu akan membuat kesan jelek, orang-orang akan bergunjing dan menebar gosip bahwa Baldini mulai tak bisa dipercaya, Baldini mulai kehabisan pesanan, Baldini tak hisa membayar tagihan... dan itu tidak baik.
Oho, tidak, karena justru akan menurunkan nilai jual bisnisnya. Akan jauh lebih baik kalau sekarang ia terima saja kulit tak berguna ini. Tak ada yang perlu tahu bahwa Giuseppe Baldini sebenarnya telah memutar haluan.
“Masuklah!”
Ia memersilakan bocah itu masuk dan berjalan bersama ke arah toko. Baldini memimpin dengan lilin di tangan, sementara Grenouille mengikuti di belakang sambil menenteng kulit kambing. Ini adalah kali pertama
Grenouille menginjakkan kaki di rumah seorang ahli parfum.
Tempat di mana aroma bukan sekadar hiasan tapi menjadi pusat perhatian. Ia mengetahui setiap ahli parfum dan apoteker di kota ini, sering berdiam bermalam-malam di etalase mereka dengan hidung menempel di celah lubang kunci.
Ia tahu setiap aroma yang ditangani di sini dan kerap menggabungkannya di rumah aroma imajiner dalam ingatan untuk menciptakan parfum terbaik.
Jadi sebenarnya tidak ada yang baru atau terlalu aneh, namun ia tetap merasa seperti anak kecil genius musik yang jejingkrakan kegirangan ingin melihat sebuah orkestra dari
dekat atau memanjat melewati paduan suara gereja hanya untuk melihat organ yang tersembunyi.
Grenouille ingin sekali melihat toko parfum dari dalam, dan karena itu segera menyambar kesempatan untuk mengantar kulit kambing ke tempat Baldini.
Kini ia berdiri dalam ruang toko Baldini. Satu-satunya tempat di Paris dengan jumlah terbesar aroma profesional yang diracik dalam sebuah ruangan kecil. Ia tak bisa
melihat banyak di keremangan cahaya lilin, kecuali sekejap bayangan meja kasir dengan timbangannya, dua patung bangau di atas baki parfum, sebuah kursi berlengan untuk
pelanggan, lemari-lemari gelap sepanjang dinding, sekilas peralatan menulis dari perunggu, serta label-label putih pada botol dan wadah leburan logam.
Ia juga tak bisa mencium melebihi apa yang sudah biasa diciumnya dari jalanan, tapi ia segera bisa merasakan keseriusan yang melingkupi rumah ini. Boleh juga disebut sebagai keseriusan suci - kalau kata 'suci' memang punya arti buat seorang seperti Grenouille.
Yang jelas ia merasakan sensasi keseriusan yang dingin, ketegasan dari keahlian dan seni seorang seniman, serta keseriusan atmosfer bisnis yang melekat di setiap mebel, setiap alat, sampai ke kaleng, botol, dan pot.
Sepanjang langkah mengikuti Baldini, dalam
bayang-bayang tubuh si ahli parfum karena Baldini tak mau repot‐repot menerangi jalan, Grenouille hanyut dalam fantasi bahwa tempat ini miliknya.
Bahwa di sinilah tempat di mana ia kelak akan mengguncang dunia, Gagasan ini tentu saja sombong sekali. Tak ada alasan yang bisa membenarkan seorang pembantu penyamak kulit berlatar belakang tak jelas, tanpa koneksi atau perlindungan dan tanpa status sosial apa pun, untuk sampai berharap bahwa ia bisa mengambil keuntungan dari toko parfum paling terkenal di Paris ini.
Apalagi sejak kita tahu bahwa Baldini hendak mengakhiri bisnisnya. Namun bagi Grenouille, gagasan sombong ini bukan
semata-mata harapan, tapi kepastian. Ia sadar bahwa satu-satunya cara untuk lolos dari penjara nasib adalah dengan kabur meninggalkan Grimal dan mengambil alih toko ini.
Grenouille si kutu parasit mulai mencium darah. Bersumber dari dendam dan kebencian yang ia biarkan tidur selama bertahun-tahun, terbungkus rapat dan menanti peluang.
Sekaranglah kesempatan itu. Tak peduli
bagaimana akhirnya. Jadi sama sekali bukan soal harapan. Itu sebabnya Grenouille bisa begitu yakin.
Mereka sampai di ruangan toko. Baldini membuka ruang belakang yang menghadap ke arah sungai dan berlaku sebagai gudang sekaligus bengkel dan laboratorium.
Tempat di mana sabun dimasak, pomade diracik menjadi minyak rambut, dan eau de toilette dicampur dalam botol-botol besar.
“Di sana!”
Baldini menunjuk ke sebuah meja besar di depan jendela.
“Taruh kulitnya di sana!”
Grenouille melangkah keluar dari bayang-bayang Baldini, menaruh kulit kambing di meja, lalu dengan cepat melompat kembali ke belakang, memosisikan diri di antara Baldini dengan pintu. Baldini berdiri diam beberapa saat.
Lilin diletakkan tegak lurus di atas meja agar cairannya tidak menetes. Punggung jemari Baldini mengusap permukaan kulit kambing yang mulus. Ia membalik lapisan
teratas dan mengusap lapisan berbulu dari kulit itu. Terasa kasar sekaligus lembut.
Kualitasnya benar-benar bagus dan cocok digunakan untuk kulit Spanyol. Saat kering tidak akan menyusut, dan setelah dipasang dengan benar permukaannya akan tetap fleksibel dan lentur.
Baldini bisa langsung tahu hanya dengan menekan lembaran kulit di antara jempol dan jari telunjuk. Kulit kambing ini mampu
menahan aroma sampai lima atau sepuluh tahun.
Bagus, bagus sekali. Benar-benar kualitas prima. Ia juga berpikir untuk membuat sarung tangan - tiga pasang untuk diri
sendiri dan tiga pasang lagi ntuk istrinya, sebagai bekal perjalanan ke Messina.
Baldini menarik kembali tangannya. Meja kayu yang telah disiapkan juga dibuat dengan baik. Semua sudah siap.
Ada baskom kaca untuk merendam kulit dalam cairan parfum, piring kaca untuk mengeringkan, adukan untuk mencampur racikan dalam alkohol, lengkap dengan alu,
pengaduk, kuas, mesin pengupas, dan gunting besar.
Seolah semua ini sudah lama tertidur dalam gelap dan akan bangun menjelang pagi. Ia jadi berpikir apakah harus membawa meja ini sekalian ke Messina?
Bersama beberapa peralatan lain - yang penting-penting saja tentunya. Meja ini sungguh enak dan cocok dipakai bekerja.
Kayunya dari pohon ek sampai ke kaki meja, dengan penahan rangka dipasang bersilangan agar tidak goyang.
Permukaannya juga tak mempan dihajar asam, minyak, atau goresan pisau. Tapi pasti akan menuntut biaya besar bila diboyong ke Messina, bahkan dengan kapal sekalipun! Jadi memang tidak bisa tidak, ia tetap harus menjual meja ini besok, lengkap dengan tetek bengek yang ada di atas, di bawah, dan di sisinya.
Pokoknya ia akan menjual semuanya besok!
Seorang Baldini memang sentimental, tapi tetap memiliki karakter kuat dan teguh dengan pendirian, apa pun kesulitan yang menghadang.
Boleh jadi ia menyerahkan semua ini dengan mata berlinang, tapi akan tetap di lakukan
karena inilah jalan yang benar, sesuai pertanda dari Tuhan. Baldini berbalik hendak pergi.
Agak kaget melihat makhluk aneh yang kini berdiri menghadang di pintu - ia sendiri hampir lupa.
“Kulitnya bagus,” kata Baldini.
“Katakan pada majikanmu bahwa aku puas dengan pekerjaannya dan akan mampir
beberapa hari lagi untuk membayar.”
“Baik, Tuan,” jawab Grenouille.
Tapi ia tetap bergeming.
Menghalangi Baldini yang sudah hendak meninggalkan ruangan. Baldini jelas kaget, tapi masih belum curiga dan cenderung menangkap gelagat si bocah sebagai malu-malu.
“Ada apa?” ia bertanya.
"Ada hal lainnya yang bisa kulakukan untukmu? Hmm? Bicaralah!”
Grenouille berdiri di sana dengan tubuh membungkuk dan menatap Baldini dengan tatapan yang sengaja dipasang malu-malu.
“Saya ingin bekerja untuk Anda, Maître Baldini. Bekerja untuk Anda di bisnis ini.”
Kalimat ini mengalir bukan sebagai permintaan, tapi tuntutan. Juga tak bisa dibilang mengucap, karena mulut Grenouille mendesis seperti reptil.
Sekali lagi, Baldini salah mengenali membaca gelagat buruk ini sebagai kegugupan seorang anak kecil. Ia malah tersenyum ramah.
“Lho, kau kan murid seorang penyamak, anak muda,” ujar Baldini.
“Aku tidak butuh murid karena sudah ada
asisten.”
“Anda ingin membuat kulit kambing ini harum, Maître Baldini? Ingin membuat kulit yang saya bawa ini berbau harum, kan?"
Mendesis seperti tak menyimak Grenouille
Jawaban Baldini.
“Benar,” jawab Baldini.
“Dengan parfum ' cinta dan jiwa’ buatan Pélissier?” tanya Grenouille. Tubuhnya membungkuk lebih dalam.
Mendengar ini, tubuh Baldini langsung gemetar tersengat teror. Bukan lantaran heran bagaimana si bocah bisa tahu persis, tapi karena Grenouille telah menyebut nama parfum terkutuk yang gagal ia uraikan siang tadi.
“Dari mana kau dapat gagasan ngawur bahwa aku akan menggunakan parfum buatan orang lain ... ?”
“Karena tubuh Anda sarat aroma itu!” desis Grenouille lagi.
“Tercium di keningmu, dan di kantong baju sebelah kanan ada sapu tangan yang juga kuyup oleh parfum itu. Parfum 'Cinta dan jiwa’ ini tidak terlalu bagus. Jelek. Terlalu berminyak bergamot dan daun rosemary, dan sedikit sekali sari bunga mawarnya.”
“Aha!” seru Baldini.
Kaget menyadari percakapan yang bergeser ke penyebutan unsur secara spesifik. Dengan bernafsu ia mengejar lebih jauh,
“Apa lagi?”
“Bunga pohon jeruk, limau, cengkeh, minyak kesturi, melati, alkohol, dan satu lagi saya tak tahu namanya - di sana, tapi dari sana, di botol itu!”
Telunjuk Grenouille menunjuk di kegelapan.
Baldini menjajarkan terang lilin sesuai arah telunjuk, ke lemari, ke sebuah botol berisi
Ballsam berwarna kuning kelabu.
“Storax?” ia bertanya.
Grenouille mengangguk.
“Benar. Itu juga. Storax.”
Tubuhnya membungkuk sedemikian rupa sampai seolah kejang-kejang sambil menggumamkan sedikitnya nama itu dua belas kali, “Storax storax‐storax storax.... "
Baldini mengangkat lilin menerangi si aneh yang menggumamkan 'storax’ itu dan berpikir,
“Orang ini kalau tidak gila, mestinya pencuri atau memang genius berbakat.”
Ia yakin seratus persen bahwa memang itulah unsur yang dicarinya selama ini. Unsur yang sedemikian rupa diracik dengan proporsi yang tepat dan membentuk parfum 'Cinta dan Jiwa'.
Pengalamannya sebagai seorang ahli mengatakan bahwa ini memang mungkin sekali. Sari bunga mawar, cengkeh, dan storax ‐ tiga unsur itulah yang ia cari-cari
sepanjang siang.
Bila digabung dengan unsur lainnya dalam
komposisi yang tepat - yang ia yakin telah berhasil ia kenali sebelumnya, akan menyatulah semua itu menjadi sebuah
bulatan cantik berwujud kue.
Tinggal masalah proporsi penggabungannya saja sekarang. Untuk ini Baldini harus melakukan percobaan selama beberapa hari. Ini pekerjaan sulit dan bahkan lebih buruk dari kegiatan mengidentifikasi bagian-bagian tadi, karena ia harus mengukur bobot dan
mencatat serta mengawasi seluruh prosesnya dengan sangat hati-hati.
Sedetik saja lengah dalam jentikan pipet
atau salah menghitung jumlah tetesan, akan merusak segalanya.
Setiap kegagalan akan menghabiskan biaya
sangat mahal. Baldini jadi ingin menguji makhluk aneh ini.
Menanyakan formula yang tepat dari parfum 'Cinta dan Jiwa’. Dalam perhitungan Baldini, kalau ia bisa tahu sampai setiap tetes dan gramnya, maka ia pasti seorang pembajak
yang - entah bagaimana, mencuri resep asli dari Pélissier untuk dipakai sebagai dasar negosiasi agar Baldini mau mengangkatnya sebagai murid.
Tapi kalau mendekati, ia pasti seorang genius aroma, dan ini tentu saja menggelitik
minat profesional Baldini. Ini bukan berarti ia hendak membatalkan niat awal untuk pensiun, karena parfum itu toh sudah tak penting lagi sekarang.
Bila orang ini mampu membawakan sampai bergalon-galon pun, ia tetap enggan mengharumi kulit Spanyol milik Count Verhamont dengan parfum buatan Pélissier.
Baldini yang sekarang bukan lagi seorang obsesif wewangian yang rela menghabiskan umur dalam bisnis campur-mencapur aroma. Semangat bisnisnya sudah bergeser sama sekali.
Saat ini ia hanya ingin menemukan formula parfum sialan itu, dan kemungkinan lebih jauh untuk memelajari bakat bocah misterius ini.
Anak yang mampu mengendusi dan mengenali aroma begitu saja. Baldini ingin tahu rahasianya. Penasaran saja.
“Tampaknya kau memiliki hidung yang baik, anak muda,” ujar Baldini setelah Grenouille usai mendesah-desah. Ia kembali menuju meja dan meletakkan lilin dengan hati-hati.
“Tak diragukan lagi memang hidung yang
berbakat. Tapi....”
“Hidung saya adalah yang terbaik di seluruh Paris, Maître Baldini,” potong Grenouille dengan suara serak.
“Saya tahu semua aroma di dunia-semuanya. Hanya saja beberapa namanya saya tidak tahu, tapi saya cepat belajar. Aroma yang memiliki nama jumlahnya tak banyak ‐ hanya beberapa ribu. Saya mau memelajari semuanya. Saya tak akan pernah lupa nama balsam itu... storax Balsam itu. namanya storax, namanya storax, namanya storax....
“Diam!” bentak Baldini.
“Jangan potong kalau saya sedang bicara! Kau kurang ajar dan tidak sopan. Tak ada
orang yang tahu nama seribu macam aroma. Aku sendiri tidak tahu. Paling hanya beberapa ratus, karena jumlahnya sendiri tak sampai beberapa ratus di bisnis ini. Yang lain bukan aroma, hanya bau saja. Tak berguna.”
Tubuh Grenouille yang semula nyaris tegak lagi saat begitu bersemangat menggambarkan pengetahuannya tentang ribuan aroma sampai membentangkan tangan, kembali mengkerut seperti katak mendengar bentakan dan selaan Baldini.
“Tentu saja aku juga tahu,” lanjut Baldini,
“meski belum lama, bahwa 'Cinta dan Jiwa’ terdiri dari storax, sari bunga mawar, dan cengkeh, plus bergamot, ekstrak rosemary, dan sebagainya. Yang ingin kuketahui, seperti kataku tadi, adalah hidungmu.
Kemungkinan, betapa Tuhan telah
menganugerahimu dengan hidung setajam itu ‐ sebagaimana berkahnya pada banyak orang lain, khususnya pada orang-orang seusiamu. Tapi dalam kasus
ahli parfum,”
sampai di sini Baldini mengangkat telunjuk
dan membusungkan dada,
“seorang ahli parfum sejati membutuhkan lebih dari sekadar hidung tajam. Ia juga
butuh organ lain yang murni, bersih, serta terlatih membaui selama puluhan tahun.
Mampu menguraikan aroma yang paling kompleks sekalipun berdasarkan komposisi dan proporsi, sekaligus menciptakan racikan
parfum yang benar-benar baru. Hidung seperti ini,”
Ujar Baldini sambil mengetuk hidungnya dengan jari,
“bukanlahsesuatu yang dimiliki begitu saja, anak muda! Tapi diperolehmelalui kerja keras dan ketekunan. Atau barangkali kau bisa memberiku komposisi yang tepat dari masing-masing ramuan parfum 'cinta dan jiwa' saat ini juga? Hmm? Bisa tidak? "
Grenouille tak menjawab.
“Setidaknya perkiraan yang mendekati, barangkali?” desak Baldini.
Badannya sedikit terjulur agar bisa melihat
katak jelek di depannya dengan lebih jelas.
“Perkiraan saja. Sekadar estimasi, begitu? Hmm.. ? Bisa tidak? Ayo bicara!
Katanya hidungmu terbaik di seluruh Paris?”
Tapi Grenouille tetap diam.
“Hah! Sudah kuduga!” seru Baldini puas sekaligus kecewa. Ia meluruskan badan.
“Kau tidak bisa, kan? Tentu saja tidak. Kau termasuk orang yang tahu apakah ada
peterseli atau chervil dalam sebuah sup saat makan siang. Itu bagus, dan terhitung luar biasa. Tapi tidak lantas menjadikanmu seorang koki, kan? Mendekati pun tidak.
Dalam seni dan keahlian apa pun - catat ini baik-baik sebelum kau pergi, bakat tetap tidak berarti banyak bila dibandingkan dengan pengalaman yang diperoleh dari kerendahan hati dan kerja keras. Itu yang utama. "
Baldini tengah mencari batang lilin di meja saat Grenouille menggeram,
“Saya tak tahu apa itu formula, Maître. Saya tidak tahu. Tapi dari itu, saya tahu selain segalanya!”
“Formula adalah dasar dari inti setiap parfum,” tegas Baldini. Ia ingin mengakhiri saja percakapan ini. Sekarang.
“Sebuah formula memuat instruksi langkah demi langkah dan mendetail tentang proporsi yang dibutuhkan untuk mencampur setiap unsur agar hasilnya persis sesuai keinginan. Itulah yang namanya formula. Ia bertindak sebagai resep - kalau kau lebih mengerti istilah ini.”
“Formula, formula…” gumam Grenouille serak, makin lama makin keras dari arah pintu.
“Saya tidak butuh formula. Resepnya sudah ada di hidung saya. Boleh saya racikkan untuk Anda, Maître? Bolehkah? Bolehkah?”
“Bagaimana caranya?” pekik Baldini sambil mengangkat lilin ke wajah Grenouille.
“Bagaimana caramu meraciknya?”
Sekali itu Grenouille tidak mengkerut.
“Lho, semua bahan kan sudah ada di sini. Segala yang dibutuhkan, aroma-aromanya, semua ada di ruangan ini.”
Kembali ia menunjuk-nunjuk ke kegelapan.
“Ada sari bunga mawar, ada bunga pohon jeruk, di situ ada cengkeh, di sana rosemary, itu....”
“Tentu saja semua ada di sini!!” raung Baldini kesal.
“Semua memang tersedia di ruangan ini. Tapi biar kukatakan padamu, bodoh, bahwa apa pun itu tetap tak berguna kalau formulanya tidak adal”
“… di sana bunga melati, di sana alkohol, bergarnot di sana, storax di sana…”
Grenouille mengoceh. Setiap nama ia
sebutkan sambil menunjuk ke tempat-tempat berbeda di ruangan itu. Padahal begitu gelap sampai orang hanya bisa
mengira-ngira bayangan lemari berisi bermacam botol di kejauhan.
“Kau bisa melihat dalam gelap, ya?” Baldini melanjutkan.
“Kau tak hanya memiliki hidung terbaik, tapi juga mata paling tajam di seluruh Paris. Iya? Sekarang - barangkali kau juga punya kuping terbaik - buka lebar-lebar kupingmu karena akan kuberi tahu: kau ini sok tahu dan penipu.
Bisa saja kau curi informasi itu dari Pélissier. Habis kau mata-matai dia, kan?
Dan sekarang kau pikir bisa membodohi aku, begitu?”
Grenouille kini berdiri tegak. Badannya menjulang dengan kaki membentang menghalangi pintu, dengan kedua tangan sedikit terentang - mirip laba-laba di sudut
kusen.
“Beri saya waktu sepuluh menit,” ujarnya dengan nada dan suara nyaris normal.
“Saya akan buatkan 'Cinta dan Jiwa’ untuk Anda. Saat ini, di sini juga, di ruangan ini.
Maître, beri saya waktu sepuluh menit saja!”
“Kau pikir aku akan begitu saja membiarkanmu seenaknya mengacak-acak laboratoriumku? Dengan segala Ramuan mahal ini? Kau?”.
“Benar,” jawab Grenouille.
“Bah!!”
Bentak Baldini, sambil memuntahkan seluruh udara dari paru-paru. Tapi kemudian ia menghirup napas dalam-dalam dan menatap Grenouille lama sekali.
Sambil merenung. Kalau mau jujur, sebenarnya tak rugi bila dicoba. Toh semua akan berakhir besok. Aku tahu persis ia tak akan bisa membuktikan apa pun.
Tak mungkin. Sebab kalau memang bisa, wah, artinya ia lebih dahsyat dari Frangipani sendiri. Jadi, kenapa tidak kubiarkan saja ia mendemonstrasikan kebenaran ini? Bukan tidak mungkin suatu hari kelak, di Messina, aku akan menyesal telah salah mengenali seorang ahli penciuman nan genius, walau
anugerah ini sengaja ditutupi Tuhan di balik wujud buruk...
Ah, tidak mungkin. Nalarku menegaskan bahwa hal ini tidak mungkin - tapi toh mukjizat memang bisa terjadi. Itu pasti.
Bagaimana jika suatu hari kelak, saat aku terbaring sekarat di Messina, aku akan sampai berpikir bahwa dulu, suatu senja di Paris, aku menutup mata pada keajaiban? Duh, sama sekali tak menyenangkan, Baldini.
Biarkan saja si bodoh ini menyia-nyiakan beberapa tetes sari bunga mawar dan minyak kesturi. Toh akan kau sia-siakan juga jika kau masih berminat membajak parfum Pélissier.
Apalah artinya beberapa tetes - walau memang amat sangat mahal, dibanding peluang mendapatkan pengetahuan dan kedamaian di hari tua?
“Sekarang, perhatikan!” ujar Baldini dengan suara ditegas-tegaskan.
“Perhatikan baik-baik Aku... siapa namamu tadi?”
“Grenouille,” jawab Grenouille,
“Jean-Baptiste Grenouille.”
“Aha, benar,” balas Baldini sok tahu.
“Baiklah, sekarang perhatikan baik-baik, Jean-Baptiste Grenouille! Telah kupertimbangkan masak‐masak. Kuberi kau kesempatan, sekarang, detik ini juga, untuk membuktikan ucapanmu.
Kegagalanmu nanti juga akan menjadi pelajaran berharga agar bersikap rendah hati, yang - walau bisa dimaklumi mengingat usiamu sekarang, akan menjadi syarat mutlak bagi kemajuanmu sendiri di masa depan sebagai anggota perserikatan ahli parfum, sekaligus buat dirimu sendiri sebagai seorang laki-laki, anggota masyarakat, dan umat Kristen yang baik.
Aku siap mengajari tanpa dipungut biaya. Entah kenapa aku sedang murah hati...sore ini. Siapa tahu parfum hasil buatanmu akan berguna buatku kelak.
Tapi jangan kau kira bisa menipu aku. Hidung Giuseppe Baldini boleh jadi sudah tua, tapi masih cukup tajam untuk langsung mengenali perbedaan antara buatanmu dengan parfum aslinya.”
Baldini mengeluarkan sapu tangan
beraroma 'Cinta dan jiwa’ dari saku dan mengibaskannya di depan hidung Grenouille.
“Sekarang majulah, wahai pemilik hidung terbaik di seluruh Paris! Dekati meja dan tunjukkan kehebatanmu. Tapi hati-hati, jangan menjatuhkan atau menyenggol apa pun. Jangan sentuh apa-apa dulu. Biar aku
beri penerangan lebih dulu. Kita ingin agar percobaan kecil ini bisa terlihat dengan jelas, kan?”
Jadilah Baldini memasang dan menyalakan dua batang lilin di sudut kanan dan kiri di atas meja kerja besar dari kayu ek itu. Tiga lilin tambahan ia pasang bersisian di bawah meja, di sudut kanan dan kiri.
Ia menyingkirkan tumpukan kulit kambing, dan mengosongkan bagian tengah meja. Dengan gerakan cepat dan terlatih ia menyiapkan
peralatan yang dibutuhkan:
botol aduk berperut besar, corong gelas, pipet, gelas pengukur kecil dan besar, lalu
meletakkan semuanya dalam urutan yang benar di atas meja.
Sementara itu, Grenouille telah beranjak dari ambang pintu. Bahkan ketika Baldini berpidato panjang lebar, sikap kaku dan pura‐puranya telah lenyap. Yang ia dengar hanya
persetujuan Baldini, dengan gairah dan kegirangan seorang anak kecil saat keinginannya diluluskan dan meledek pada
keterbatasan, kondisi, serta kekangan moralitas yang semula mengekang.
Tenang-tenang ia berdiri menunggu sampai Baldini puas berorasi. Untuk pertama kalinya ia merasa lebih sebagai manusia ketimbang binatang saat kelak berhasil mematahkan sikap skeptis orang.
Sementara Baldini sibuk memasang lilin, Grenouille menyelinap berkeliling di kegelapan laboratorium, mengamati lemari-lemari berisi bermacam ramuan mahal, minyak, dan ramuan dalam larutan alkohol - semua mengikuti tuntunan hidung.
Dengan santai ia mengambil botol-botol yang dibutuhkan. Semua ada sembilan botol:
sari bunga pohon jeruk, minyak limau, sari bunga mawar, cengkeh, ekstrak melati, bergamot, rosemary, minyak kesturi, serta balsam storax. Semua diambil dan disiapkan
dengan cepat di pinggir meja.
Yang terakhir ia siapkan adalah sebuah botol besar berleher sempit berisi larutan
alkohol konsentrasi tinggi. Kemudian ia kembali menempatkan diri di belakang Baldini.
Si tua itu masih asyik menata peralatan racik dengan sikap dibuat-buat untuk memamerkan keahlian. Memindahkan tabung yang ini sedikit ke belakang, yang itu sedikit ke pinggir, sedemikian rupa agar sesuai tatanan tradisi dan tampak apik di tengah cahaya lilin. Grenouille menunggu tak sabar.
Ingin agar si tua segera menyingkir dan membiarkan ia bekerja.
“Nah!” akhirnya Baldini berseru sambil menyingkir.
“Sudah kusiapkan semua yang dibutuhkan untuk eksperimenmu. Jangan pecahkan apa pun, jangan tumpahkan apa pun. Dan ingat: semua cairan yang akan kau pakai selama lima menit ke depan adalah barang‐barang yang sangat mahal dan langka. Tak kan pernah lagi kau temui mereka dalam wujud konsentrat seperti ini ”.
“Berapa banyak yang harus kubuat, Maître?” tanya Grenouille.
“Membuat apa ... ?” sergah Baldini yang merasa belum selesai bicara.
“Parfum yang harus kubuat' “ jawab Grenouille serak.
“Anda ingin berapa banyak? Haruskah kupenuhi botol besar ini sampai ke ujungnya?”
Ia tunjuk ke sebuah menu sebotol aduk berukuran minimal satu galon.
“Jangan!” jerit Baldini ngeri - spontan takut
membayangkan betapa mubazirnya bila itu sampai terjadi.
Merasa malu sendiri, ia langsung berkoar lagi,
“Dan jangan memotong kalau aku sedang bicara!” Suaranya berubah kalem dan ironis saat kemudian bergumam,
“Buat apa segalon parfum yang kita sendiri juga tak suka? Setengah gelas saja sudah cukup. Tapi karena memang sulit mengukur sejumlah itu, bolehlah kau mulai dengan mengisi sampai sepertiga botol.”
“Baiklah,” tukas Grenouille.
“Saya akan mengisi sepertiga botol aduk ini dengan parfum 'Cinta dan jiwa’. Tapi, Maître
Baldini, saya akan melakukannya dengan cara saya sendiri.
Entahlah bagaimana seorang ahli sejati melakukannya, tapi saya akan coba melakukan ini dengan cara saya sendiri.”
“Sesukamulah,” sergah Baldini. Ia tahu bahwa dalam bisnis ini tak ada istilah 'caraku’ atau 'caramu’.
Hanya ada satu cara, yaitu dengan mengetahui formula dan menggunakan kalkulasi yang tepat untuk mencapai kuantitas yang diinginkan, menciptakan sebuah konsentrat terukur yang tepat dari berbagai unsur, diuapkan menjadi
parfum dengan cara mencampurkan unsur-unsur tersebut dalam rasio yang tepat dengan alkohol - biasanya dengan variasi perbandingan antara 1:10 dan 1:20. Tak ada cara lain lagi yang ia tahu.
Inilah yang hendak ia saksikan sekarang. Mulanya berbekal kesombongan karena yakin Grenouille tak akan berhasil, tapi perlahan berubah menjadi kekagetan, dan akhirnya terheran-heran tak habis pikir.
Bahkan terasa seperti mukjizat. Seluruh detailnya begitu terpatri dalam ingatan. Tak mungkin terlupa sampai mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar