Rabu, 04 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 14

EMPAT BELAS


KULIT  KAMBING  UNTUK  BAHAN  kulit  Spanyol  Count Verhamond. Baldini baru ingat sekarang. Ia memesan kulit itu  dari  Grimal  beberapa  hari  lalu.  Kulit  kambing  dengan 
kualitas  terbaik  dan  terhalus  yang  akan  dipakai  sebagai pengering  tinta  di  meja  Count  Verhamont,  seharga  lima belas  Franc  per  potong.  

Tapi  ia  tidak  terlalu membutuhkannya  lagi  sekarang,  di  samping  untuk menghemat pengeluaran. Di pihak lain, kalau ia tolak begitu saja... ? Siapa tahu akan membuat kesan jelek, orang-orang akan  bergunjing  dan  menebar  gosip  bahwa  Baldini  mulai tak  bisa  dipercaya,  Baldini  mulai  kehabisan  pesanan, Baldini tak hisa membayar tagihan... dan itu tidak baik. 

Oho, tidak, karena justru akan menurunkan nilai jual bisnisnya. Akan  jauh  lebih  baik  kalau  sekarang  ia  terima  saja  kulit tak berguna  ini.  Tak  ada  yang  perlu  tahu  bahwa Giuseppe Baldini sebenarnya telah memutar haluan. 

“Masuklah!” 

Ia memersilakan bocah itu masuk dan berjalan bersama ke  arah  toko.  Baldini  memimpin  dengan  lilin  di  tangan, sementara  Grenouille  mengikuti  di  belakang  sambil menenteng  kulit  kambing.  Ini  adalah  kali  pertama 
Grenouille  menginjakkan  kaki  di  rumah  seorang  ahli parfum. 

Tempat di mana aroma bukan sekadar hiasan tapi menjadi pusat perhatian.  Ia mengetahui setiap ahli parfum dan apoteker di kota ini, sering berdiam bermalam-malam di etalase mereka dengan hidung menempel di celah lubang kunci. 

Ia tahu setiap aroma yang ditangani di sini dan kerap menggabungkannya  di  rumah  aroma  imajiner  dalam ingatan  untuk  menciptakan  parfum  terbaik.  

Jadi sebenarnya tidak ada yang baru atau terlalu aneh, namun ia tetap  merasa  seperti  anak  kecil  genius  musik  yang jejingkrakan kegirangan ingin melihat sebuah orkestra dari 
dekat atau memanjat melewati paduan suara gereja hanya untuk  melihat  organ  yang  tersembunyi.  

Grenouille  ingin sekali  melihat  toko  parfum  dari  dalam,  dan  karena  itu segera menyambar  kesempatan  untuk  mengantar  kulit kambing ke tempat Baldini. 

Kini  ia  berdiri  dalam  ruang  toko  Baldini.  Satu-satunya tempat di Paris dengan jumlah  terbesar aroma profesional yang  diracik  dalam  sebuah  ruangan  kecil.  Ia  tak  bisa 
melihat banyak di keremangan cahaya lilin, kecuali sekejap bayangan  meja  kasir  dengan  timbangannya,  dua  patung bangau di atas baki parfum, sebuah kursi berlengan untuk 
pelanggan,  lemari-lemari  gelap  sepanjang  dinding,  sekilas peralatan  menulis  dari  perunggu,  serta  label-label  putih pada  botol  dan  wadah  leburan  logam.  

Ia  juga  tak  bisa mencium  melebihi  apa  yang  sudah  biasa  diciumnya  dari jalanan,  tapi  ia  segera  bisa  merasakan  keseriusan  yang melingkupi  rumah  ini.  Boleh  juga  disebut  sebagai keseriusan suci - kalau kata 'suci' memang punya arti buat seorang seperti Grenouille. 

Yang jelas ia merasakan sensasi keseriusan  yang  dingin,  ketegasan  dari  keahlian  dan  seni seorang  seniman,  serta  keseriusan  atmosfer  bisnis  yang melekat  di  setiap  mebel,  setiap  alat,  sampai  ke  kaleng, botol, dan pot. 

Sepanjang langkah mengikuti Baldini, dalam 
bayang-bayang tubuh si ahli parfum karena Baldini tak mau repot‐repot  menerangi  jalan,  Grenouille  hanyut  dalam fantasi bahwa tempat ini miliknya. 

Bahwa di sinilah tempat di mana ia kelak akan mengguncang dunia, Gagasan  ini  tentu  saja  sombong  sekali.  Tak  ada  alasan yang bisa membenarkan seorang pembantu penyamak kulit berlatar  belakang  tak  jelas,  tanpa  koneksi  atau perlindungan  dan  tanpa  status  sosial  apa  pun,  untuk sampai  berharap  bahwa  ia  bisa  mengambil  keuntungan dari  toko parfum paling  terkenal di Paris ini. 

Apalagi sejak kita  tahu  bahwa  Baldini  hendak  mengakhiri  bisnisnya. Namun  bagi  Grenouille,  gagasan  sombong  ini  bukan 
semata-mata harapan, tapi kepastian. Ia sadar bahwa satu-satunya cara untuk lolos dari penjara nasib adalah dengan kabur  meninggalkan  Grimal  dan  mengambil  alih  toko  ini. 

Grenouille  si  kutu  parasit  mulai  mencium  darah. Bersumber  dari  dendam  dan  kebencian  yang  ia  biarkan tidur  selama  bertahun-tahun,  terbungkus  rapat  dan menanti  peluang.  

Sekaranglah  kesempatan  itu.  Tak  peduli 
bagaimana akhirnya.  Jadi  sama  sekali  bukan  soal  harapan. Itu sebabnya Grenouille bisa begitu yakin. 

Mereka sampai di ruangan toko. Baldini membuka ruang belakang  yang  menghadap  ke  arah  sungai  dan  berlaku sebagai  gudang  sekaligus  bengkel  dan  laboratorium. 

Tempat  di  mana  sabun  dimasak,  pomade  diracik  menjadi minyak rambut, dan eau de toilette dicampur dalam botol-botol besar. 

“Di  sana!”  

Baldini  menunjuk  ke  sebuah meja  besar  di  depan jendela. 

“Taruh kulitnya di sana!” 

Grenouille  melangkah  keluar  dari  bayang-bayang Baldini, menaruh kulit kambing di meja, lalu dengan cepat melompat kembali ke belakang, memosisikan diri di antara Baldini  dengan  pintu.  Baldini  berdiri  diam  beberapa  saat. 

Lilin  diletakkan  tegak  lurus  di  atas  meja  agar  cairannya tidak  menetes.  Punggung  jemari  Baldini  mengusap permukaan kulit kambing yang mulus. Ia membalik lapisan 
teratas dan mengusap lapisan berbulu dari kulit itu. Terasa kasar sekaligus lembut. 

Kualitasnya benar-benar bagus dan cocok  digunakan  untuk  kulit  Spanyol.  Saat  kering  tidak akan  menyusut,  dan  setelah  dipasang  dengan  benar permukaannya akan tetap fleksibel dan lentur. 

Baldini bisa langsung  tahu  hanya  dengan  menekan  lembaran  kulit  di antara  jempol  dan  jari  telunjuk.  Kulit  kambing ini mampu 
menahan  aroma  sampai  lima  atau  sepuluh  tahun.  

Bagus, bagus  sekali.  Benar-benar  kualitas  prima.  Ia  juga  berpikir untuk  membuat  sarung  tangan  - tiga  pasang  untuk  diri 
sendiri  dan  tiga  pasang  lagi  ntuk  istrinya,  sebagai  bekal  perjalanan ke Messina. 

Baldini  menarik  kembali  tangannya.  Meja  kayu  yang telah disiapkan juga dibuat dengan baik. Semua sudah siap. 

Ada  baskom  kaca  untuk  merendam  kulit  dalam  cairan parfum,  piring  kaca  untuk  mengeringkan,  adukan  untuk mencampur  racikan  dalam  alkohol,  lengkap  dengan  alu, 
pengaduk, kuas, mesin pengupas, dan gunting besar. 

Seolah semua  ini  sudah  lama  tertidur dalam  gelap  dan  akan bangun  menjelang  pagi.  Ia  jadi  berpikir  apakah  harus membawa meja ini sekalian ke Messina? 

Bersama beberapa peralatan  lain  - yang  penting-penting  saja  tentunya.  Meja ini sungguh enak dan cocok dipakai bekerja. 

Kayunya dari pohon  ek  sampai  ke  kaki  meja,  dengan  penahan  rangka dipasang  bersilangan  agar  tidak  goyang. 

Permukaannya juga tak mempan dihajar asam, minyak, atau goresan pisau. Tapi  pasti  akan  menuntut  biaya  besar  bila  diboyong  ke Messina,  bahkan  dengan  kapal  sekalipun!  Jadi  memang tidak  bisa  tidak,  ia  tetap  harus  menjual  meja  ini  besok, lengkap  dengan  tetek  bengek  yang  ada  di  atas,  di  bawah, dan di sisinya. 

Pokoknya ia akan menjual semuanya besok! 
Seorang  Baldini  memang  sentimental,  tapi  tetap  memiliki karakter  kuat  dan  teguh  dengan  pendirian,  apa  pun kesulitan  yang  menghadang.  

Boleh  jadi  ia  menyerahkan semua ini dengan mata berlinang, tapi akan  tetap di lakukan 
karena inilah jalan yang benar, sesuai pertanda dari Tuhan. Baldini  berbalik  hendak  pergi.  

Agak  kaget  melihat makhluk  aneh  yang  kini  berdiri  menghadang  di  pintu - ia sendiri hampir lupa. 

“Kulitnya bagus,” kata Baldini. 

“Katakan pada majikanmu bahwa  aku  puas  dengan  pekerjaannya  dan  akan  mampir 
beberapa hari lagi untuk membayar.”

“Baik, Tuan,” jawab Grenouille. 

Tapi ia  tetap bergeming. 

Menghalangi  Baldini  yang  sudah  hendak  meninggalkan ruangan.  Baldini  jelas  kaget,  tapi  masih  belum  curiga  dan cenderung menangkap gelagat si bocah sebagai malu-malu. 

 “Ada  apa?”  ia  bertanya.  

"Ada  hal  lainnya  yang  bisa kulakukan untukmu? Hmm? Bicaralah!” 

Grenouille  berdiri  di  sana  dengan  tubuh  membungkuk dan menatap Baldini dengan tatapan yang sengaja dipasang malu-malu. 

“Saya ingin  bekerja untuk Anda, Maître Baldini. Bekerja untuk Anda di bisnis ini.” 

Kalimat  ini  mengalir  bukan  sebagai  permintaan,  tapi tuntutan.  Juga  tak  bisa  dibilang  mengucap,  karena  mulut Grenouille mendesis seperti reptil. 

Sekali lagi, Baldini salah mengenali membaca  gelagat buruk  ini  sebagai  kegugupan seorang anak kecil. Ia malah tersenyum ramah. 

“Lho,  kau  kan  murid  seorang  penyamak,  anak  muda,” ujar  Baldini.  

“Aku  tidak  butuh  murid  karena  sudah  ada 
asisten.” 

“Anda  ingin  membuat  kulit  kambing  ini  harum,  Maître Baldini?  Ingin  membuat  kulit  yang  saya  bawa  ini  berbau harum, kan?"

Mendesis  seperti  tak  menyimak Grenouille 
Jawaban Baldini. 

“Benar,” jawab Baldini. 

“Dengan parfum ' cinta dan jiwa’ buatan Pélissier?” tanya Grenouille. Tubuhnya membungkuk lebih dalam. 

Mendengar  ini,  tubuh  Baldini  langsung  gemetar tersengat  teror. Bukan lantaran heran bagaimana  si bocah bisa  tahu  persis,  tapi  karena  Grenouille  telah  menyebut nama parfum terkutuk yang gagal ia uraikan siang tadi. 

“Dari mana kau dapat gagasan ngawur bahwa aku akan menggunakan parfum buatan orang lain ... ?”

“Karena  tubuh  Anda  sarat  aroma  itu!”  desis  Grenouille lagi.  

“Tercium  di  keningmu,  dan  di  kantong  baju  sebelah kanan  ada  sapu  tangan  yang  juga  kuyup  oleh  parfum  itu. Parfum 'Cinta dan jiwa’ ini tidak terlalu bagus. Jelek. Terlalu berminyak  bergamot  dan  daun  rosemary, dan  sedikit  sekali sari bunga mawarnya.” 

“Aha!”  seru  Baldini.  

Kaget  menyadari  percakapan  yang bergeser  ke  penyebutan  unsur  secara  spesifik.  Dengan bernafsu ia mengejar lebih jauh, 

“Apa lagi?” 

“Bunga  pohon  jeruk,  limau,  cengkeh,  minyak  kesturi, melati,  alkohol,  dan  satu  lagi  saya  tak  tahu  namanya  - di sana,  tapi  dari  sana,  di  botol  itu!”  

Telunjuk  Grenouille menunjuk  di  kegelapan.  

Baldini  menjajarkan  terang  lilin sesuai arah telunjuk, ke lemari, ke sebuah botol berisi 
Ballsam berwarna kuning kelabu. 

“Storax?” ia bertanya. 

Grenouille  mengangguk.  

“Benar.  Itu  juga.  Storax.” 

Tubuhnya  membungkuk  sedemikian  rupa  sampai  seolah kejang-kejang sambil menggumamkan sedikitnya nama itu dua belas kali, “Storax storax‐storax storax.... "

Baldini  mengangkat  lilin  menerangi  si  aneh  yang menggumamkan 'storax’ itu  dan berpikir,  

“Orang ini  kalau tidak gila, mestinya pencuri atau memang genius berbakat.” 

Ia  yakin  seratus  persen  bahwa memang itulah  unsur  yang dicarinya  selama  ini.  Unsur  yang  sedemikian  rupa  diracik dengan proporsi yang tepat dan membentuk parfum 'Cinta dan Jiwa'. 

Pengalamannya sebagai seorang ahli mengatakan bahwa  ini  memang  mungkin  sekali.  Sari  bunga  mawar, cengkeh,  dan  storax  ‐  tiga  unsur  itulah  yang  ia  cari-cari 
sepanjang siang. 

Bila digabung dengan unsur lainnya dalam 
komposisi yang tepat - yang ia yakin telah berhasil ia kenali sebelumnya,  akan menyatulah  semua  itu  menjadi  sebuah 
bulatan  cantik  berwujud  kue.  

Tinggal  masalah  proporsi penggabungannya  saja  sekarang.  Untuk  ini  Baldini harus melakukan percobaan selama beberapa hari.  Ini pekerjaan sulit dan bahkan lebih buruk dari kegiatan mengidentifikasi bagian-bagian  tadi,  karena  ia  harus  mengukur  bobot  dan 
mencatat  serta  mengawasi  seluruh prosesnya  dengan sangat  hati-hati.  

Sedetik  saja  lengah  dalam  jentikan  pipet 
atau  salah  menghitung  jumlah  tetesan,  akan  merusak segalanya. 

Setiap  kegagalan  akan  menghabiskan  biaya 
sangat mahal. Baldini jadi ingin menguji makhluk aneh ini. 

Menanyakan  formula  yang  tepat  dari  parfum  'Cinta  dan Jiwa’. Dalam perhitungan Baldini, kalau ia bisa tahu sampai setiap  tetes dan gramnya, maka ia pasti seorang pembajak 
yang - entah  bagaimana,  mencuri  resep  asli  dari  Pélissier untuk  dipakai  sebagai  dasar  negosiasi  agar  Baldini  mau mengangkatnya  sebagai  murid.  

Tapi  kalau  mendekati,  ia pasti seorang genius aroma, dan ini  tentu saja menggelitik 
minat  profesional  Baldini.  Ini  bukan  berarti  ia  hendak membatalkan  niat  awal  untuk  pensiun,  karena  parfum  itu toh sudah  tak penting lagi sekarang. 

Bila orang ini mampu membawakan  sampai  bergalon-galon  pun, ia  tetap enggan mengharumi  kulit Spanyol milik Count Verhamont dengan parfum  buatan  Pélissier. 

Baldini  yang  sekarang  bukan lagi seorang obsesif wewangian yang rela menghabiskan umur dalam bisnis campur-mencapur aroma. Semangat bisnisnya sudah  bergeser  sama  sekali.  

Saat  ini  ia  hanya  ingin menemukan  formula  parfum  sialan  itu,  dan  kemungkinan lebih  jauh  untuk  memelajari  bakat  bocah misterius  ini. 

Anak  yang  mampu  mengendusi  dan  mengenali  aroma  begitu saja. Baldini ingin tahu rahasianya. Penasaran saja. 

“Tampaknya  kau  memiliki  hidung  yang  baik,  anak muda,”  ujar  Baldini  setelah  Grenouille  usai  mendesah-desah. Ia kembali menuju meja dan meletakkan lilin dengan hati-hati.  

“Tak  diragukan  lagi  memang  hidung  yang 
berbakat. Tapi....”

“Hidung  saya  adalah  yang  terbaik  di  seluruh  Paris, Maître  Baldini,”  potong  Grenouille  dengan  suara  serak. 

“Saya  tahu  semua  aroma  di  dunia-semuanya.  Hanya  saja beberapa namanya saya tidak tahu, tapi saya cepat belajar. Aroma yang memiliki nama jumlahnya  tak banyak  ‐ hanya beberapa  ribu.  Saya  mau  memelajari  semuanya.  Saya  tak akan pernah lupa  nama  balsam  itu...  storax Balsam  itu. namanya storax, namanya storax, namanya storax.... 

“Diam!”  bentak  Baldini.  

“Jangan  potong  kalau  saya sedang  bicara!  Kau  kurang  ajar  dan  tidak  sopan.  Tak  ada 
orang  yang  tahu  nama  seribu  macam  aroma.  Aku  sendiri tidak tahu. Paling hanya beberapa ratus, karena jumlahnya sendiri  tak  sampai  beberapa  ratus  di  bisnis  ini.  Yang lain bukan aroma, hanya bau saja. Tak berguna.” 

Tubuh  Grenouille  yang  semula  nyaris  tegak  lagi  saat begitu  bersemangat menggambarkan  pengetahuannya tentang  ribuan  aroma  sampai  membentangkan  tangan, kembali mengkerut seperti katak mendengar bentakan dan selaan Baldini. 

“Tentu saja aku juga  tahu,” lanjut Baldini, 

 “meski belum lama, bahwa 'Cinta dan Jiwa’ terdiri dari storax, sari bunga mawar, dan cengkeh, plus bergamot, ekstrak rosemary, dan sebagainya.  Yang  ingin  kuketahui,  seperti  kataku  tadi, adalah  hidungmu.  

Kemungkinan,  betapa  Tuhan  telah 
menganugerahimu  dengan  hidung  setajam  itu  ‐ sebagaimana  berkahnya  pada  banyak  orang  lain, khususnya  pada  orang-orang  seusiamu.  Tapi  dalam  kasus 
ahli  parfum,”  

sampai  di  sini  Baldini  mengangkat  telunjuk 
dan  membusungkan  dada,  

“seorang  ahli  parfum  sejati membutuhkan  lebih  dari  sekadar  hidung  tajam.  Ia  juga 
butuh  organ  lain  yang  murni,  bersih,  serta  terlatih membaui  selama  puluhan  tahun.  

Mampu  menguraikan aroma  yang  paling  kompleks  sekalipun  berdasarkan komposisi  dan  proporsi,  sekaligus  menciptakan  racikan
parfum  yang  benar-benar  baru.  Hidung  seperti  ini,”  

Ujar Baldini sambil mengetuk hidungnya dengan jari, 

“bukanlahsesuatu yang dimiliki begitu saja, anak muda! Tapi diperolehmelalui  kerja  keras  dan  ketekunan.  Atau  barangkali  kau bisa memberiku komposisi  yang  tepat dari masing-masing ramuan parfum 'cinta dan jiwa' saat ini juga? Hmm? Bisa tidak? "
 
Grenouille tak menjawab. 

“Setidaknya  perkiraan  yang  mendekati,  barangkali?” desak  Baldini.  

Badannya  sedikit  terjulur  agar  bisa melihat 
katak jelek di depannya dengan lebih jelas.

“Perkiraan saja. Sekadar estimasi, begitu? Hmm.. ? Bisa  tidak? Ayo bicara! 
Katanya hidungmu terbaik di seluruh Paris?” 

Tapi Grenouille tetap diam. 

“Hah!  Sudah  kuduga!”  seru  Baldini  puas  sekaligus kecewa.  Ia meluruskan badan. 

“Kau  tidak  bisa,  kan? Tentu saja  tidak.  Kau  termasuk  orang  yang  tahu  apakah  ada 
peterseli atau chervil dalam  sebuah  sup  saat makan  siang. Itu  bagus,  dan  terhitung  luar  biasa.  Tapi  tidak  lantas menjadikanmu  seorang  koki,  kan?  Mendekati  pun  tidak. 

Dalam  seni  dan  keahlian  apa  pun  - catat  ini  baik-baik sebelum  kau  pergi,  bakat  tetap  tidak  berarti  banyak  bila dibandingkan dengan  pengalaman  yang  diperoleh  dari  kerendahan hati dan kerja keras. Itu yang utama. "

Baldini  tengah  mencari  batang  lilin  di  meja  saat Grenouille  menggeram,  

“Saya  tak  tahu  apa  itu  formula, Maître.  Saya  tidak  tahu.  Tapi  dari  itu,  saya tahu selain segalanya!” 

“Formula  adalah  dasar  dari  inti  setiap  parfum,”  tegas Baldini.  Ia ingin mengakhiri saja percakapan ini. Sekarang. 

“Sebuah  formula  memuat  instruksi  langkah  demi  langkah dan  mendetail  tentang  proporsi  yang  dibutuhkan  untuk mencampur  setiap  unsur  agar  hasilnya  persis  sesuai keinginan.  Itulah  yang  namanya formula.  Ia  bertindak  sebagai resep - kalau kau lebih mengerti istilah ini.” 

“Formula,  formula…”  gumam  Grenouille  serak,  makin lama  makin  keras  dari  arah  pintu.  

“Saya  tidak  butuh formula.  Resepnya  sudah  ada  di  hidung  saya.  Boleh  saya racikkan untuk Anda, Maître? Bolehkah? Bolehkah?” 

“Bagaimana caranya?” pekik Baldini sambil mengangkat lilin ke wajah Grenouille. 

“Bagaimana caramu meraciknya?” 

Sekali  itu  Grenouille  tidak  mengkerut.  

“Lho,  semua bahan  kan  sudah  ada  di  sini.  Segala  yang  dibutuhkan, aroma-aromanya,  semua  ada  di  ruangan  ini.”  

Kembali  ia menunjuk-nunjuk  ke  kegelapan.  

“Ada  sari  bunga  mawar, ada bunga pohon  jeruk,  di  situ  ada  cengkeh,  di sana rosemary, itu....” 

“Tentu  saja  semua  ada  di  sini!!”  raung  Baldini  kesal. 

“Semua  memang  tersedia  di  ruangan  ini.  Tapi  biar kukatakan  padamu,  bodoh,  bahwa  apa  pun  itu  tetap  tak berguna kalau formulanya tidak adal” 

“…  di  sana  bunga  melati,  di  sana  alkohol,  bergarnot  di sana, storax di sana…” 

Grenouille mengoceh. Setiap nama ia 
sebutkan  sambil  menunjuk  ke  tempat-tempat  berbeda  di ruangan itu. Padahal begitu gelap sampai orang hanya bisa 
mengira-ngira  bayangan  lemari  berisi  bermacam  botol  di kejauhan. 

“Kau bisa melihat dalam gelap, ya?” Baldini melanjutkan. 

“Kau  tak  hanya  memiliki  hidung  terbaik,  tapi  juga  mata paling  tajam  di  seluruh  Paris.  Iya?  Sekarang  - barangkali kau juga punya kuping terbaik - buka lebar-lebar kupingmu karena akan kuberi tahu: kau ini sok tahu dan penipu. 

Bisa saja  kau  curi  informasi  itu  dari  Pélissier.  Habis  kau  mata-matai  dia,  kan?  

Dan  sekarang kau  pikir  bisa  membodohi aku, begitu?” 

Grenouille  kini  berdiri  tegak.  Badannya  menjulang dengan  kaki  membentang  menghalangi  pintu,  dengan kedua  tangan  sedikit  terentang - mirip  laba-laba  di  sudut 
kusen.  

“Beri  saya  waktu  sepuluh  menit,”  ujarnya  dengan nada  dan  suara  nyaris  normal.  

“Saya  akan  buatkan  'Cinta dan  Jiwa’  untuk Anda. Saat ini, di  sini juga, di  ruangan ini. 
Maître, beri saya waktu sepuluh menit saja!” 

“Kau  pikir  aku  akan  begitu  saja  membiarkanmu seenaknya mengacak-acak laboratoriumku? Dengan  segala Ramuan mahal ini? Kau?”.

“Benar,” jawab Grenouille. 

“Bah!!”  

Bentak  Baldini,  sambil  memuntahkan  seluruh udara  dari  paru-paru.  Tapi  kemudian ia  menghirup  napas dalam-dalam  dan  menatap  Grenouille  lama  sekali.  

Sambil merenung.  Kalau  mau  jujur,  sebenarnya  tak  rugi  bila dicoba. Toh semua akan berakhir besok. Aku tahu persis ia tak  akan  bisa membuktikan  apa  pun.  

Tak mungkin.  Sebab kalau  memang  bisa,  wah,  artinya  ia  lebih  dahsyat  dari Frangipani  sendiri.  Jadi,  kenapa  tidak  kubiarkan  saja  ia mendemonstrasikan  kebenaran  ini?  Bukan  tidak  mungkin suatu hari kelak, di Messina, aku akan menyesal telah salah mengenali  seorang  ahli  penciuman  nan  genius,  walau 
anugerah ini sengaja ditutupi Tuhan di balik wujud buruk... 

Ah,  tidak  mungkin.  Nalarku  menegaskan  bahwa  hal  ini tidak mungkin - tapi toh mukjizat memang bisa terjadi. Itu pasti. 

 Bagaimana  jika  suatu  hari  kelak,  saat  aku  terbaring sekarat di Messina, aku akan  sampai berpikir bahwa dulu, suatu  senja  di  Paris,  aku  menutup  mata  pada  keajaiban? Duh,  sama  sekali  tak menyenangkan,  Baldini.  

Biarkan  saja si  bodoh  ini  menyia-nyiakan  beberapa  tetes  sari  bunga mawar  dan  minyak  kesturi.  Toh  akan  kau  sia-siakan  juga jika  kau  masih  berminat  membajak  parfum  Pélissier. 

Apalah artinya beberapa tetes - walau memang amat sangat mahal,  dibanding  peluang  mendapatkan  pengetahuan  dan kedamaian di hari tua?

“Sekarang,  perhatikan!”  ujar  Baldini  dengan  suara ditegas-tegaskan.

“Perhatikan  baik-baik Aku...  siapa namamu tadi?” 

“Grenouille,”  jawab  Grenouille,  

“Jean-Baptiste Grenouille.” 

“Aha,  benar,”  balas  Baldini  sok  tahu. 

“Baiklah,  sekarang perhatikan  baik-baik,  Jean-Baptiste  Grenouille!  Telah kupertimbangkan  masak‐masak.  Kuberi  kau  kesempatan, sekarang,  detik  ini  juga,  untuk  membuktikan  ucapanmu. 

Kegagalanmu  nanti  juga  akan  menjadi  pelajaran  berharga agar  bersikap  rendah  hati,  yang  - walau  bisa  dimaklumi mengingat  usiamu  sekarang,  akan  menjadi  syarat  mutlak bagi  kemajuanmu  sendiri  di  masa  depan  sebagai  anggota perserikatan  ahli  parfum,  sekaligus  buat  dirimu  sendiri sebagai  seorang  laki-laki,  anggota  masyarakat,  dan  umat Kristen  yang  baik.  

Aku  siap  mengajari  tanpa  dipungut biaya. Entah kenapa aku sedang murah hati...sore ini. Siapa tahu  parfum  hasil  buatanmu  akan  berguna  buatku  kelak. 

Tapi  jangan  kau  kira  bisa  menipu  aku.  Hidung  Giuseppe Baldini boleh jadi sudah tua, tapi masih cukup tajam untuk langsung  mengenali  perbedaan  antara  buatanmu  dengan parfum  aslinya.”  

Baldini  mengeluarkan  sapu  tangan 
beraroma 'Cinta dan jiwa’ dari saku dan mengibaskannya di depan hidung Grenouille. 

“Sekarang majulah, wahai pemilik hidung terbaik di seluruh Paris! Dekati meja dan tunjukkan kehebatanmu.  Tapi  hati-hati,  jangan  menjatuhkan  atau menyenggol apa pun. Jangan sentuh apa-apa dulu. Biar aku 
beri penerangan lebih dulu. Kita ingin agar percobaan kecil ini bisa terlihat dengan jelas, kan?” 

Jadilah  Baldini  memasang  dan  menyalakan  dua  batang lilin  di  sudut  kanan  dan  kiri  di  atas  meja  kerja  besar  dari kayu  ek  itu.  Tiga  lilin  tambahan  ia  pasang  bersisian  di bawah  meja,  di  sudut  kanan  dan  kiri.  

Ia  menyingkirkan tumpukan kulit kambing, dan mengosongkan bagian tengah meja.  Dengan  gerakan  cepat  dan  terlatih  ia  menyiapkan 
peralatan  yang  dibutuhkan:  

botol  aduk  berperut  besar, corong  gelas,  pipet,  gelas  pengukur  kecil  dan  besar,  lalu 
meletakkan  semuanya  dalam  urutan  yang  benar  di  atas meja. 

Sementara  itu,  Grenouille  telah  beranjak  dari  ambang pintu. Bahkan ketika Baldini berpidato panjang lebar, sikap kaku dan pura‐puranya telah lenyap. Yang ia dengar hanya 
persetujuan Baldini, dengan gairah dan kegirangan seorang anak kecil saat keinginannya diluluskan dan meledek pada 
keterbatasan,  kondisi,  serta  kekangan  moralitas  yang semula  mengekang.  

Tenang-tenang  ia  berdiri  menunggu sampai  Baldini  puas  berorasi.  Untuk  pertama  kalinya  ia merasa  lebih  sebagai  manusia  ketimbang  binatang  saat kelak berhasil mematahkan sikap skeptis orang. 

Sementara  Baldini  sibuk  memasang  lilin,  Grenouille menyelinap  berkeliling  di  kegelapan  laboratorium, mengamati lemari-lemari  berisi  bermacam  ramuan mahal, minyak,  dan  ramuan  dalam  larutan  alkohol  - semua mengikuti  tuntunan  hidung.  

Dengan  santai  ia  mengambil botol-botol  yang  dibutuhkan.  Semua  ada  sembilan  botol: 

sari  bunga  pohon  jeruk, minyak limau,  sari  bunga mawar, cengkeh,  ekstrak  melati,  bergamot,  rosemary,  minyak kesturi,  serta balsam  storax. Semua diambil  dan disiapkan 
dengan  cepat  di  pinggir  meja.  

Yang  terakhir  ia  siapkan adalah  sebuah  botol  besar  berleher  sempit  berisi  larutan 
alkohol  konsentrasi  tinggi.  Kemudian  ia  kembali menempatkan  diri  di  belakang  Baldini.  

Si  tua  itu  masih asyik  menata  peralatan  racik  dengan  sikap  dibuat-buat untuk  memamerkan  keahlian.  Memindahkan  tabung  yang ini  sedikit  ke  belakang,  yang  itu  sedikit  ke  pinggir, sedemikian  rupa  agar  sesuai  tatanan  tradisi  dan  tampak apik di tengah cahaya lilin. Grenouille menunggu tak sabar.

Ingin  agar  si  tua  segera menyingkir  dan  membiarkan  ia bekerja. 

“Nah!”  akhirnya  Baldini  berseru  sambil  menyingkir. 

“Sudah  kusiapkan  semua  yang  dibutuhkan  untuk eksperimenmu.  Jangan  pecahkan  apa  pun,  jangan tumpahkan  apa  pun.  Dan  ingat:  semua  cairan  yang  akan kau  pakai  selama  lima  menit  ke  depan  adalah  barang‐barang yang sangat mahal  dan langka. Tak  kan pernah lagi kau temui mereka dalam wujud konsentrat seperti ini ”.

“Berapa  banyak  yang  harus  kubuat,  Maître?”  tanya Grenouille. 

“Membuat  apa  ...  ?”  sergah  Baldini  yang  merasa  belum selesai bicara. 

“Parfum  yang  harus  kubuat'  “  jawab  Grenouille  serak. 

“Anda  ingin  berapa  banyak?  Haruskah  kupenuhi  botol besar  ini  sampai  ke ujungnya?”  

Ia  tunjuk  ke  sebuah  menu sebotol aduk berukuran minimal satu galon. 

“Jangan!”  jerit  Baldini  ngeri  - spontan  takut 
membayangkan betapa mubazirnya bila itu sampai terjadi. 

Merasa malu sendiri, ia langsung berkoar lagi,

“Dan jangan memotong  kalau  aku  sedang  bicara!”  Suaranya  berubah kalem dan ironis saat kemudian bergumam, 

“Buat  apa  segalon  parfum  yang  kita  sendiri  juga  tak suka?  Setengah  gelas  saja  sudah  cukup.  Tapi  karena memang  sulit  mengukur  sejumlah  itu,  bolehlah  kau  mulai dengan mengisi sampai sepertiga botol.” 

“Baiklah,” tukas Grenouille. 

“Saya akan mengisi sepertiga botol aduk ini dengan parfum 'Cinta dan jiwa’. Tapi, Maître 
Baldini, saya akan melakukannya dengan cara saya sendiri. 

Entahlah bagaimana seorang ahli sejati melakukannya, tapi saya akan coba melakukan ini dengan cara saya sendiri.” 

“Sesukamulah,”  sergah  Baldini.  Ia  tahu  bahwa  dalam bisnis ini  tak ada istilah 'caraku’ atau 'caramu’. 

Hanya ada satu  cara,  yaitu  dengan mengetahui  formula dan menggunakan kalkulasi  yang  tepat  untuk  mencapai kuantitas yang diinginkan, menciptakan sebuah konsentrat terukur  yang  tepat dari berbagai unsur, diuapkan menjadi 
parfum  dengan  cara mencampurkan  unsur-unsur  tersebut dalam  rasio  yang  tepat  dengan  alkohol - biasanya  dengan variasi  perbandingan  antara  1:10  dan  1:20.  Tak  ada  cara lain  lagi  yang  ia  tahu.  

Inilah  yang  hendak  ia  saksikan sekarang.  Mulanya  berbekal  kesombongan  karena  yakin Grenouille  tak  akan  berhasil,  tapi  perlahan  berubah menjadi kekagetan, dan akhirnya terheran-heran  tak habis pikir.  

Bahkan  terasa  seperti  mukjizat.  Seluruh  detailnya begitu terpatri dalam ingatan. Tak mungkin terlupa sampai mati.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...