Rabu, 04 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 20

DUA PULUH


DEMAM  TINGGI  MENYERANG  GRENOUILLE.  Beberapa hari  pertama  dibarengi  keringat  deras,  tapi  kemudian, seolah  pori-pori  kulitnya  tak  tahan  lagi  dan  mulai mengeluarkan  jerawat  serta  bisul  dalam  jumlah  tak terhitung.  Banyak  yang  pecah  dan  mengeluarkan  air  tapi kemudian  tumbuh  lagi.  Ada  juga  yang  tumbuh  sampai matang  benar,  membengkak  tebal  dan  memerah,  lalu meletus  menumpahkan  nanah  kental  serta  darah kekuningan. 

Dengan segera ratusan borok, bisul, dan nanah itu membuat Grenouille tampak seperti patung martir yang ditimpuki dari dalam. 

Baldini tentu saja khawatir. Sangat tidak menyenangkan kehilangan  murid  berharga  di  saat  ia  justru  tengah berencana mengembangkan  bisnis  lebih  jauh.  Membuat cabang-cabang  di  luar  kota  dan  bahkan  sampai  keluar negeri. 

Pesanan  terus meningkat,  tidak hanya dari seluruh Paris,  tapi  terutama  dari  negeri-negeri  seberang.  Ini  tentu saja  harus  segera  diantisipasi  dengan  membuka  cabang baru. 

Baldini berniat membuka sebuah pabrik kecil di kota Saint-Antoine,  di  mana  ia  bisa  memproduksi  parfum-parfum  yang  paling  cepat  dibuat  dalam  kuantitas  besar, dikemas dalam botol-botol kecil oleh anak-anak perempuan sebagai buruh, dan segera dikirim ke Belanda,  Inggris, dan Jerman  Raya.  

Usaha  begini  tak  sepenuhnya  legal  untuk 
seorang  ahli  parfum  yang  berdiam  di  Paris,  tapi  Baldini baru saja beroleh dukungan dari orang-orang berpengaruh - bukan  hanya  dari  komisaris  perdagangan,  tapi  juga  dari pihak-pihak pemegang hak waralaba untuk  kantor pabean kota  Paris,  atau  dengan  salah seorang  anggota  Majelis Keuangan  Istana  dan  promotor  pelaksana  perdagangan 
nasional seperti Monsieur Feydeau de Brou. 

Tokoh terakhir ini  bahkan  menawarkan  prospek  untuk  mendapatkan paten  kerajaan  - benar-benar  mimpi  indah  serupa  cek kosong untuk meretas semua batasan sipil dan profesional. 

Menjamin  kebebasan  dan  keamanan  berbisnis  secara permanen serta kekayaan tak terbayangkan. 

Baldini  juga  menyimpan  rencana  lain.  Rencana  favorit yang  berfungsi  sebagai  rencana  tandingan  atas  rencana pendirian  pabrik  di  pinggiran  kota  Saint-Antoine.  Barang-barang  dagangan  di  tempat  itu,  kelak,  walau  tidak diproduksi  massal,  akan  tersedia  untuk  siapa  saja.  

Tapi untuk  orang-orang  tertentu  dan  klien-kiien  dari  kalangan atas, ia ingin menciptakan - bahkan sudah dibuat - parfum pribadi  yang  hanya  cocok  untuk  masing-masing  orang 
tersebut,  seperti  pakaian  jadi  yang  dibuat  khusus  dengan parfum  tersebut,  misalnya,  lengkap  dengan  pengenal  dan sulaman  nama  pemakai.  

Ia  bisa  membayangkan  nama‐nama parfum itu sebagai 'Parfum de la Marquise de Cema’, 
'Parfum  de  la  Marechale  de  Villar’,  'Parfum  du  Duc d'Aiguillor’,  dan  seterusnya. 

Ia membayangkan  'Parfum  de Madame la Marquise de Pompadour', atau bahkan 'Parfum de  Sa  Majeste  le  Roi'  dalam  kemasan  flacon  bertatahkan batu  akik  mahal  dengan  pegangan  bersepuh  emas  dan  di bagian dasarnya, pada tempat tersembunyi, terukir tulisan: 

'Giuseppe  Baldini,  Sang  Ahli  Parfum’. Nama  sang  Raja  dan namanya  kelak  akan  tertulis  di  satu  benda  yang  sama. Sedemikian  tingginya  angan-angan  dan  gagasan  Baldini. 

Dan  sekarang  Grenouille  jatuh  sakit,  kendati  Grimal  - semoga  arwahnya  beristirahat  dengan  tenang  - telah bersumpah  bahwa  anak  itu  tidak  mengidap  penyakit  apa pun, bahwa Grenouille sanggup menghadapi tugas apa pun, bahkan  tak mempan  diganyang  wabah  hitam - wabah  pes abad  pertengahan  yang  membunuh  nyaris  separo penduduk  Eropa  Barat.  

Tapi  nyatanya  sekarang  ia  jatuh sakit.  Sakit  berat.  Bagaimana  kalau  sampai meninggal? Mengerikan!  Bisa  rusak  semua  rencana  indah  mendirikan pabrik,  mengupah  buruh-buruh    mendapatkan  wanita, paten, dan parfum untuk sang Raja. 

Baldini  bertekad  melakukan  apa  saja  demi  nyawa  sang murid.  Ia  menyuruh  Grenouille  pindah  dari  dipan  di laboratorium  ke ranjang  baru  yang  bersih  di  lantai  atas.

Kasurnya  ia  lengkapi  dengan  kain  sutra.  Ia  bahkan memapah  Grenouille  naik  tangga  dengan  tangannya sendiri,  walau  jijik  pada  jerawat  dan  pecahan  bisul.  Ia menyuruh  istrinya  memanaskan  sup  kaldu  ayam  dan 
menyiapkan anggur. Ia memanggil dokter paling terkenal di Paris - seorang bernama Procope yang menuntut dibayar di muka sejumlah dua puluh  franc, bahkan sebelum ia setuju untuk berkunjung. 

Sang dokter datang, mengangkat selimut dengan tangan terjumput karena jijik, melihat sekilas ke  tubuh Grenouille yang  seperti  ditembusi  ratusan  peluru,  dan  langsung 
meninggalkan  kamar  tanpa  sekalipun membuka  tas medis yang  dibawa  oleh  seorang  asisten.  

Kepada  Baldini  sudah jelas.  Ini  kasus  cacar air  sifilistik  bernanah  stadium  tinggi. Tak bisa ia melaporkan bahwa kasusnya dengan komplikasi campak dilakukan pengobatan karena pisau bedah tak bisa dimasukkan dengan benar ke bagian  tubuh  yang luka - ini 
pun  sudah lebih mirip  badan mayat ketimbang  organisme hidup.  

Dan  meskipun  bau  khas  yang  biasanya  timbul bersama  wabah  ini  belum  tercium  (dari  sudut  pandang ilmiah,  ini  terhitung  telaah  detail  yang  luar  biasa),  sang dokter  memastikan  bahwa  si  penderita  akan  mati  dalam waktu  48  jam  - sepasti  namanya, Procope.  

Saat  itu  ia menuntut  dua  puluh  franc  lagi  untuk  kunjungan  dan prognosisnya  - lima  franc  bisa  diambil  kembali  apabila jasad  Grenouille  boleh  dibawa  untuk  keperluan 
demonstrasi medis. Lalu sang dokter pun pamit.

Baldini  sangat  terpukul.  Ia  meraung  menangisi kehancuran  yang  menjelang.  Menggigiti  jemari  meratapi nasib.  Sekali  lagi,  persis  di  ambang  pencapaian  cita-cita, 
seluruh  rencana  agungnya  runtuh berantakan.  

Kalau  dulu ia  dihancurkan  oleh  Pélissier  dan  kelompoknya  dengan kekayaan  dan  plagiarisme  mereka,  sekarang  oleh  pemuda 
dengan sumur aroma baru yang tak pernah kering ini, anak bungkuk sialan ini yang lebih berharga dari seluruh emas di dunia.  

Entah  bagaimana  anak  itu  kini  memutuskan  untuk terserang cacar air sifilistik plus campak bernanah stadium tinggi. justru di saat seperti ini! Kenapa tidak dua tahun ke depan saja? Atau paling tidak setahun mendatang? Saat itu 
Baldini  pasti  sudah  kaya  raya  seperti  tambang  perak, seperti  Raja  Midas  dengan  pantat  bersepuh  emas! 

Grenouille  boleh  saja  mati  tahun  depan,  tapi jangan  sekarang, brengsek! Tidak dalam waktu 48  jam! Sesaat  Baldini  sempat  mempertimbangkan  gagasan untuk ke Notre-Dame di mana ia bisa menyalakan lilin dan 
berdoa  memohon  pertolongan  Bunda  Maria  untuk kesembuhan  Grenouille.  

Tapi  ia  tepiskan  gagasan  itu karena  waktunya  sempit.  Baldini  bergegas  menyambar kertas  dan  tinta,  lalu  mengusir  istrinya  keluar  dari  kamar Grenouille.  Ia  akan  mengawasi  sendiri.  Duduk  di  kursi  di 
samping ranjang, kertas catatan di pangkuan, sebuah pena bertinta  di  tangan  dan mencoba  memeras  pengetahuan Grenouille tentang seni buatan parfum. 

Demi Tuhan, jangan sampai  dia  berani  mati  duluan  tanpa  berkata  apa-apa  membawa  harta  karun  Baldini  ke  liang  kubur. 

Tidakkah Grenouille  sudi  meninggalkan  warisan  pada  orang tepercaya, agar generasi mendatang tidak harus kehilangan aroma  terbaik  sepanjang  masa?  Ia,  Baldini,  dengan  amat senang  hati  akan menyampaikan warisan itu.  

Formula utama  dari  parfum  terluhur  yang  pernah  ada.  Akan menghantarkannya  ke  puncak  ketenaran,  bahkan  atas nama Grenouille - ya,  ia  sungguh  bersumpah  demi  segala suci  akan  melakukan  itu.  

Ia  akan  menggelar  yang  terbaik dari  parfum‐parfum  itu  di  hadapan  sang  Raja,  dalam 
sebuah  flacon  batu  akik  bersepuh  emas  dengan  ukiran dedikasi berbunyi, 

“Dari Jean-Baptiste Grenouille, Sang Ahli 
Parfum, Paris” . 

Demikian bisik Baldini ke telinga Grenouille. 

Dengan segenap hati memohon dan membujuk. Namun  sia-sia.  Grenouille  tak  berucap  apa-apa  selain menghasilkan  sekresi  berair  dan  bisul  pecah.  Berbaring 
bisu  di  atas  kasur  berlapis  sutra, mengucapkan  salam perpisahan  dengan  cairan  menjijikkan  itu,  tanpa mewariskan  formula,  pengetahuan,  atau  aroma  apa  pun. 

Ingin  sekali  rasanya  Baldini  memberangus  dan  memukuli onggokan daging ini  sampai mati, memeras  keluar  rahasia berharga  itu  - kalau  saja  bisa  demikian...  dan  kalau  saja 
tidak  bertentangan  dengan  keyakinan Kristen  untuk mencintai sesama. 

Demikianlah ia  terus mendengkur dan memelas dengan suara  paling manis, memanjakan Grenouille,  dan dengan perjuangan  setengah  mati  menahan  diri  - mengelapi keringat  di  kening Grenouille,  pada  luka-lukanya  yang mendidih,  menyuapi  sesendok  demi  sesendok  anggur, berharap  agar  setidaknya  mampu  “melemaskan'  lidah 
Grenouille.  Ini  dilakukan  sepanjang  malam  dan  berujung sia-sia.  Menjelang  fajar  ia  menyerah.  

Baldini  jatuh kelelahan di kursi di ujung ruangan seraya menatap - tidak lagi dengan kernarahan, tapi dengan kepasrahan bisu. Pada tubuh  sekarat  Grenouille  yang terbaring  di  ranjang,  yang tak bisa ia tolong, jarah, atau bujuk untuk mengatakan apa pun. 

Kematian  yang  hanya  bisa  disaksikan  dengan  pikiran mati  rasa  seperti  seorang  nakhoda menyaksikan  kapalnya karam,  membawa  seluruh  kekayaan  ke  dasar  laut.  

Ketika itulah  mendadak  mulut  pemuda  sekarat  itu  membuka, mengeluarkan  suara  jernih  yang  berlawanan  dengan kondisinya.  Ia  berkata,  

“Katakan  padaku,  Maître,  adakah cara lain  mengekstraksi  aroma  dari  benda-benda  selain diperas dan disuling?” 

Baldini  - yang  dengan  mata  tertutup  mengelus  kening, setengah  yakin  suara  itu  keluar  dari  imajinasinya  sendiri atau dari alam lain ‐ menjawab otomatis, 

“Ya, ada.” 

“Apa itu?”  

datang  pertanyaan  dari  arah  ranjang.  Sontak Baldini  membuka  mata  lelahnya  lebar-lebar.  Grenouille masih  terbaring  tak  bergerak.  Mungkinkah mayat itu berbicara?

“Apa  sajakah  itu?”  

datang  lagi  pertanyaan  itu.  Kali  ini 
Baldini  menangkap  bibir  Grenouille  bergerak  berucap. 

Berakhir sudah,  pikirnya.  Inilah  akhirnya.  Kegilaan  akibat demam atau menjelang kematian. Ia bangkit, melangkah ke sisi  ranjang,  lalu  membungkuk  mendekati  si  sakit.  Mata Grenouille terbuka dan menatap Baldini dengan pandangan yang sama, saat pertama kali bertemu. 

“Apa sajakah itu?” kembali ia bertanya. 

Baldini  merasa  tak  tega.  Ia  tak  mungkin  menolak permintaan  terakhir  seseorang  menjelang  ajal.  Ia menjawab, 

“Ada  tiga cara lain, anakku: enfleurage à chaud, enfleurage à  froid, dan enfleurage à  l’huile. Masing-masing merupakan  teknik  penyulingan  superior  dalam  banyak aspek,  dan  biasa  digunakan  untuk  mengekstraksi  aroma terbaik  yang  pernah  ada,  yaitu  bunga  melati,  mawar,  dan jeruk.”

“Di mana semua ini bisa dilakukan?” tanya Grenouille. 

“terutama  sekali  di  kota Grasse. Di  selatan,"  jawab  Baldini, 

“Baguslah,” jawab Grenouille. 

Dan dengan itu ia menutup mata. Baldini bangkit dengan lemas.  Batinnya  tersiksa.  Ia  kumpulkan  semua  kertas  dan meniup lilin. Hari sudah lewat fajar dan ia sangat kelelahan.

Aku harus memanggil pendeta,  pikirnya.  Tangan  kanan tergesa membuat tanda salib, lalu pergi. Sementara  itu,  Grenouille  sama.  sekali  tidak  mati.  Ia hanya  tidur  nyenyak,  hanyut  dalam  mimpi,  sambil mengisap  kembali  seluruh  cairan  kehidupan  yang 
membuncah  keluar  bersama  bisul  dan  jerawat.  

Luka-luka dan  kawah  bernanah  perlahan  mengering  dan  menutup. Seminggu kemudian kondisi Grenouille kembali pulih.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...