DUA PULUH
DEMAM TINGGI MENYERANG GRENOUILLE. Beberapa hari pertama dibarengi keringat deras, tapi kemudian, seolah pori-pori kulitnya tak tahan lagi dan mulai mengeluarkan jerawat serta bisul dalam jumlah tak terhitung. Banyak yang pecah dan mengeluarkan air tapi kemudian tumbuh lagi. Ada juga yang tumbuh sampai matang benar, membengkak tebal dan memerah, lalu meletus menumpahkan nanah kental serta darah kekuningan.
Dengan segera ratusan borok, bisul, dan nanah itu membuat Grenouille tampak seperti patung martir yang ditimpuki dari dalam.
Baldini tentu saja khawatir. Sangat tidak menyenangkan kehilangan murid berharga di saat ia justru tengah berencana mengembangkan bisnis lebih jauh. Membuat cabang-cabang di luar kota dan bahkan sampai keluar negeri.
Pesanan terus meningkat, tidak hanya dari seluruh Paris, tapi terutama dari negeri-negeri seberang. Ini tentu saja harus segera diantisipasi dengan membuka cabang baru.
Baldini berniat membuka sebuah pabrik kecil di kota Saint-Antoine, di mana ia bisa memproduksi parfum-parfum yang paling cepat dibuat dalam kuantitas besar, dikemas dalam botol-botol kecil oleh anak-anak perempuan sebagai buruh, dan segera dikirim ke Belanda, Inggris, dan Jerman Raya.
Usaha begini tak sepenuhnya legal untuk
seorang ahli parfum yang berdiam di Paris, tapi Baldini baru saja beroleh dukungan dari orang-orang berpengaruh - bukan hanya dari komisaris perdagangan, tapi juga dari pihak-pihak pemegang hak waralaba untuk kantor pabean kota Paris, atau dengan salah seorang anggota Majelis Keuangan Istana dan promotor pelaksana perdagangan
nasional seperti Monsieur Feydeau de Brou.
Tokoh terakhir ini bahkan menawarkan prospek untuk mendapatkan paten kerajaan - benar-benar mimpi indah serupa cek kosong untuk meretas semua batasan sipil dan profesional.
Menjamin kebebasan dan keamanan berbisnis secara permanen serta kekayaan tak terbayangkan.
Baldini juga menyimpan rencana lain. Rencana favorit yang berfungsi sebagai rencana tandingan atas rencana pendirian pabrik di pinggiran kota Saint-Antoine. Barang-barang dagangan di tempat itu, kelak, walau tidak diproduksi massal, akan tersedia untuk siapa saja.
Tapi untuk orang-orang tertentu dan klien-kiien dari kalangan atas, ia ingin menciptakan - bahkan sudah dibuat - parfum pribadi yang hanya cocok untuk masing-masing orang
tersebut, seperti pakaian jadi yang dibuat khusus dengan parfum tersebut, misalnya, lengkap dengan pengenal dan sulaman nama pemakai.
Ia bisa membayangkan nama‐nama parfum itu sebagai 'Parfum de la Marquise de Cema’,
'Parfum de la Marechale de Villar’, 'Parfum du Duc d'Aiguillor’, dan seterusnya.
Ia membayangkan 'Parfum de Madame la Marquise de Pompadour', atau bahkan 'Parfum de Sa Majeste le Roi' dalam kemasan flacon bertatahkan batu akik mahal dengan pegangan bersepuh emas dan di bagian dasarnya, pada tempat tersembunyi, terukir tulisan:
'Giuseppe Baldini, Sang Ahli Parfum’. Nama sang Raja dan namanya kelak akan tertulis di satu benda yang sama. Sedemikian tingginya angan-angan dan gagasan Baldini.
Dan sekarang Grenouille jatuh sakit, kendati Grimal - semoga arwahnya beristirahat dengan tenang - telah bersumpah bahwa anak itu tidak mengidap penyakit apa pun, bahwa Grenouille sanggup menghadapi tugas apa pun, bahkan tak mempan diganyang wabah hitam - wabah pes abad pertengahan yang membunuh nyaris separo penduduk Eropa Barat.
Tapi nyatanya sekarang ia jatuh sakit. Sakit berat. Bagaimana kalau sampai meninggal? Mengerikan! Bisa rusak semua rencana indah mendirikan pabrik, mengupah buruh-buruh mendapatkan wanita, paten, dan parfum untuk sang Raja.
Baldini bertekad melakukan apa saja demi nyawa sang murid. Ia menyuruh Grenouille pindah dari dipan di laboratorium ke ranjang baru yang bersih di lantai atas.
Kasurnya ia lengkapi dengan kain sutra. Ia bahkan memapah Grenouille naik tangga dengan tangannya sendiri, walau jijik pada jerawat dan pecahan bisul. Ia menyuruh istrinya memanaskan sup kaldu ayam dan
menyiapkan anggur. Ia memanggil dokter paling terkenal di Paris - seorang bernama Procope yang menuntut dibayar di muka sejumlah dua puluh franc, bahkan sebelum ia setuju untuk berkunjung.
Sang dokter datang, mengangkat selimut dengan tangan terjumput karena jijik, melihat sekilas ke tubuh Grenouille yang seperti ditembusi ratusan peluru, dan langsung
meninggalkan kamar tanpa sekalipun membuka tas medis yang dibawa oleh seorang asisten.
Kepada Baldini sudah jelas. Ini kasus cacar air sifilistik bernanah stadium tinggi. Tak bisa ia melaporkan bahwa kasusnya dengan komplikasi campak dilakukan pengobatan karena pisau bedah tak bisa dimasukkan dengan benar ke bagian tubuh yang luka - ini
pun sudah lebih mirip badan mayat ketimbang organisme hidup.
Dan meskipun bau khas yang biasanya timbul bersama wabah ini belum tercium (dari sudut pandang ilmiah, ini terhitung telaah detail yang luar biasa), sang dokter memastikan bahwa si penderita akan mati dalam waktu 48 jam - sepasti namanya, Procope.
Saat itu ia menuntut dua puluh franc lagi untuk kunjungan dan prognosisnya - lima franc bisa diambil kembali apabila jasad Grenouille boleh dibawa untuk keperluan
demonstrasi medis. Lalu sang dokter pun pamit.
Baldini sangat terpukul. Ia meraung menangisi kehancuran yang menjelang. Menggigiti jemari meratapi nasib. Sekali lagi, persis di ambang pencapaian cita-cita,
seluruh rencana agungnya runtuh berantakan.
Kalau dulu ia dihancurkan oleh Pélissier dan kelompoknya dengan kekayaan dan plagiarisme mereka, sekarang oleh pemuda
dengan sumur aroma baru yang tak pernah kering ini, anak bungkuk sialan ini yang lebih berharga dari seluruh emas di dunia.
Entah bagaimana anak itu kini memutuskan untuk terserang cacar air sifilistik plus campak bernanah stadium tinggi. justru di saat seperti ini! Kenapa tidak dua tahun ke depan saja? Atau paling tidak setahun mendatang? Saat itu
Baldini pasti sudah kaya raya seperti tambang perak, seperti Raja Midas dengan pantat bersepuh emas!
Grenouille boleh saja mati tahun depan, tapi jangan sekarang, brengsek! Tidak dalam waktu 48 jam! Sesaat Baldini sempat mempertimbangkan gagasan untuk ke Notre-Dame di mana ia bisa menyalakan lilin dan
berdoa memohon pertolongan Bunda Maria untuk kesembuhan Grenouille.
Tapi ia tepiskan gagasan itu karena waktunya sempit. Baldini bergegas menyambar kertas dan tinta, lalu mengusir istrinya keluar dari kamar Grenouille. Ia akan mengawasi sendiri. Duduk di kursi di
samping ranjang, kertas catatan di pangkuan, sebuah pena bertinta di tangan dan mencoba memeras pengetahuan Grenouille tentang seni buatan parfum.
Demi Tuhan, jangan sampai dia berani mati duluan tanpa berkata apa-apa membawa harta karun Baldini ke liang kubur.
Tidakkah Grenouille sudi meninggalkan warisan pada orang tepercaya, agar generasi mendatang tidak harus kehilangan aroma terbaik sepanjang masa? Ia, Baldini, dengan amat senang hati akan menyampaikan warisan itu.
Formula utama dari parfum terluhur yang pernah ada. Akan menghantarkannya ke puncak ketenaran, bahkan atas nama Grenouille - ya, ia sungguh bersumpah demi segala suci akan melakukan itu.
Ia akan menggelar yang terbaik dari parfum‐parfum itu di hadapan sang Raja, dalam
sebuah flacon batu akik bersepuh emas dengan ukiran dedikasi berbunyi,
“Dari Jean-Baptiste Grenouille, Sang Ahli
Parfum, Paris” .
Demikian bisik Baldini ke telinga Grenouille.
Dengan segenap hati memohon dan membujuk. Namun sia-sia. Grenouille tak berucap apa-apa selain menghasilkan sekresi berair dan bisul pecah. Berbaring
bisu di atas kasur berlapis sutra, mengucapkan salam perpisahan dengan cairan menjijikkan itu, tanpa mewariskan formula, pengetahuan, atau aroma apa pun.
Ingin sekali rasanya Baldini memberangus dan memukuli onggokan daging ini sampai mati, memeras keluar rahasia berharga itu - kalau saja bisa demikian... dan kalau saja
tidak bertentangan dengan keyakinan Kristen untuk mencintai sesama.
Demikianlah ia terus mendengkur dan memelas dengan suara paling manis, memanjakan Grenouille, dan dengan perjuangan setengah mati menahan diri - mengelapi keringat di kening Grenouille, pada luka-lukanya yang mendidih, menyuapi sesendok demi sesendok anggur, berharap agar setidaknya mampu “melemaskan' lidah
Grenouille. Ini dilakukan sepanjang malam dan berujung sia-sia. Menjelang fajar ia menyerah.
Baldini jatuh kelelahan di kursi di ujung ruangan seraya menatap - tidak lagi dengan kernarahan, tapi dengan kepasrahan bisu. Pada tubuh sekarat Grenouille yang terbaring di ranjang, yang tak bisa ia tolong, jarah, atau bujuk untuk mengatakan apa pun.
Kematian yang hanya bisa disaksikan dengan pikiran mati rasa seperti seorang nakhoda menyaksikan kapalnya karam, membawa seluruh kekayaan ke dasar laut.
Ketika itulah mendadak mulut pemuda sekarat itu membuka, mengeluarkan suara jernih yang berlawanan dengan kondisinya. Ia berkata,
“Katakan padaku, Maître, adakah cara lain mengekstraksi aroma dari benda-benda selain diperas dan disuling?”
Baldini - yang dengan mata tertutup mengelus kening, setengah yakin suara itu keluar dari imajinasinya sendiri atau dari alam lain ‐ menjawab otomatis,
“Ya, ada.”
“Apa itu?”
datang pertanyaan dari arah ranjang. Sontak Baldini membuka mata lelahnya lebar-lebar. Grenouille masih terbaring tak bergerak. Mungkinkah mayat itu berbicara?
“Apa sajakah itu?”
datang lagi pertanyaan itu. Kali ini
Baldini menangkap bibir Grenouille bergerak berucap.
Berakhir sudah, pikirnya. Inilah akhirnya. Kegilaan akibat demam atau menjelang kematian. Ia bangkit, melangkah ke sisi ranjang, lalu membungkuk mendekati si sakit. Mata Grenouille terbuka dan menatap Baldini dengan pandangan yang sama, saat pertama kali bertemu.
“Apa sajakah itu?” kembali ia bertanya.
Baldini merasa tak tega. Ia tak mungkin menolak permintaan terakhir seseorang menjelang ajal. Ia menjawab,
“Ada tiga cara lain, anakku: enfleurage à chaud, enfleurage à froid, dan enfleurage à l’huile. Masing-masing merupakan teknik penyulingan superior dalam banyak aspek, dan biasa digunakan untuk mengekstraksi aroma terbaik yang pernah ada, yaitu bunga melati, mawar, dan jeruk.”
“Di mana semua ini bisa dilakukan?” tanya Grenouille.
“terutama sekali di kota Grasse. Di selatan," jawab Baldini,
“Baguslah,” jawab Grenouille.
Dan dengan itu ia menutup mata. Baldini bangkit dengan lemas. Batinnya tersiksa. Ia kumpulkan semua kertas dan meniup lilin. Hari sudah lewat fajar dan ia sangat kelelahan.
Aku harus memanggil pendeta, pikirnya. Tangan kanan tergesa membuat tanda salib, lalu pergi. Sementara itu, Grenouille sama. sekali tidak mati. Ia hanya tidur nyenyak, hanyut dalam mimpi, sambil mengisap kembali seluruh cairan kehidupan yang
membuncah keluar bersama bisul dan jerawat.
Luka-luka dan kawah bernanah perlahan mengering dan menutup. Seminggu kemudian kondisi Grenouille kembali pulih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar