Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 50

LIMA PULUH


SAAT  TERSADAR,  ia  tengah  terbaring  di  ranjang  Laure Richis. Bekas pakaian tidur dan rambut  telah disingkirkan. Sebatang lilin menyala di meja kecil di sisi ranjang jendela 
terbuka  dan ia  bisa mendengar luapan  ekstasi warga  kota di  kejauhan.  Antoine  Richis  duduk  di  bangku  di  samping 
ranjang  sambil  menatapnya.  Memegang  dan  membelai tangan Grenouille dengan lembut. 

Bahkan sebelum membuka mata, Grenouille sudah lebih dulu memeriksa suasana. Sekeliling sangat tenang. Tak ada ribut-ribut  atau  keramaian  jiwanya  kembali  dikuasai 
kebekuan,  sesuai  kebutuhan  pikiran  sadar  saat  ingin memproyeksikan  pikiran  ke  realitas.  

Di  sana  ia  mencium aroma  parfumnya.  Sudah  berubah.  Puncaknya  runtuh, sehingga  inti  aroma  Laure  membuncah  lebih  kuat  dari biasa, macam nyala api yang buram dan berpendar sejuk. Ia merasa aman dan Sadar tak akan  diserang  setidaknya  sampai beberapa jam lagi, lalu membuka mata. 

Tatapan  Richis  menyambut  Grenouille.  Pancaran kebaikan  berpendar  kuat  di  mata  itu.  Kelembutan,  kasih sayang,  serta senyum  bodoh  dan  rasa   cinta  seorang  kekasih. 

Ia  tersenyum,  menggenggam  tangan  Grenouille  lebih erat,  lalu  berkata,  

“Semua  akan  baik-baik  saja.  Majelis hakim  sudah  membalik  putusan  pengadilan.  Semua kesaksian  ditarik  kembali.  Kau  bebas  sekarang.  

Bebas melakukan  apa  saja.  Tapi  aku  ingin  kau  tinggal  di  sini bersamaku.  

Aku  telah  kehilangan  seorang  putri,  tapi ingin memilikimu  sebagai  putra.  Kau  mirip  sekali  dengannya. Sama  elok.  Rambutmu,  mulutmu,  tanganmu...  aku memegangi  tanganmu  terus  selama ini.  Tanganmu  seperti dia - putriku. 

Dan saat kutatap matamu, rasanya ia seperti menatap  balik  padaku.  Seolah  kau  benar-benar  kakaknya. 

Dan aku ingin kau jadi anakku, sobat. Menjadi kebanggaan dan sumber bahagiaku. Ahli warisku. Apakah... orang tuamu masih hidup?” 

Grenouille  menggeleng.  Wajah  Richis  memerah kesenangan.  

“Kalau  begitu,  maukah  kau  jadi  putraku?”  

ia tergagap.  Melompat  dari  bangku  dan  duduk  di  pinggir ranjang  sambil  menggamit  tangan  Grenouille  yang  lain. 

“Maukah?  Maukah?  Bersediakah  kau  menjadikan  aku sebagai  ayahmu?  Tunggu,  jangan  katakan  apa-apa  dulu! Jangan  bicara  Kau  masih terIalu  lemah untuk  bicara. Mengangguk sajalah.” Grenouille  mengangguk.  


Kebahagiaan  meledak  dari seluruh pori‐pori  kulit Richis bagai manisan bunga merah. Lalu ia membungkuk dan mencium mulut Grenouille. 

“Sekarang  tidurlah,  anakku!”  ia berkata  sambil  bangkit  berdiri. 

“Aku  akan  mengawasi  sampai  kau  lelap.”  

Dan  setelah memandang  lekat-lekat  dalam  diam  cukup  lama,  ia menambahkan, 

“Kau telah membuatku merasa amat sangat 
bahagia.” 

Grenouille  menarik  ujung-ujung  bibirnya  seperti  yang selalu ia  Iihat kalau orang  tersenyum. Lalu menutup mata. 

Ia  menunggu  beberapa  saat  sebelum  mengatur  napasnya, makin  teratur  dan  dalam  seperti  orang  tidur.  

Ia  bisa merasakan  tatapan  mesra  Richis.  Pada  satu  titik  ia merasakan  gerakan  Richis  yang  membungkuk  hendak mencium  lagi  tapi  tak  jadi  karena  takut  membangunkan. 
Akhirnya lilin ditiup dan Richis berjingkat keluar kamar. 

Grenouille  tetap  berbaring  sampai  tak  lagi  mendengar suara apa pun dari dalam rumah atau dari luar jendela. Saat bangun, hari sudah sore. Segera ia bersalin dan menyelinap keluar  diam-diam.  Tanpa  suara  melewati  koridor  ruang atas, turun tangga, melewati ruang duduk, dan tiba di teras.

Dari sini ia bisa melihat melewati tembok kota sampai ke lembah yang mengelilingi Grasse. Kabut tipis menggantung di atas tanah, dan aroma yang mengambang - bau rumput, semak,  dan  mawar  – terasa  membilas...  segar,  datar,  dan sederhana.  

Grenouille  melewati  taman  dan  memanjat 
tembok. Setibanya di  tempat eksekusi (karena  tak bisa memutar lewat jalan lain) ia harus membuka jalan melewati endapan aroma manusia sebelum  tiba di  lapangan  terbuka. Seluruh areal sampai ke lereng lembah diseraki bekas-bekas pesta. 

Ribuan  manusia  terbaring  di  sana‐sini,  kelelahan  setelah festival  berahi.  Banyak  yang  telanjang  atau  setengah telanjang dengan baju dipakai sebagai selimut. 

Udara berisi aroma  anggur  basi,  brendi,  keringat  dan  air  seni,  kotoran bayi  dan  daging  gosong.  Api  unggun  bekas  bakaran, 
minuman,  dan  pesta masih mengasap  di  sana-sini,  berikut bisikan  atau  cekikikan  di  antara  ribuan  bunyi  dengkur. 

Besar  kemungkinan  ada  beberapa  orang  yang  masih bangun,  melahap  dengan  rakus  sisa-sisa  kesadaran  dari benak  masing‐masing.  Tapi  tak  ada  yang  melihat 
Grenouille. 

Dengan cepat dan hati‐hati ia melewati serakan tubuh  seperti  melewati  rawa-rawa.  Yang  melihat  pun  tak lagi mengenali. 

Aromanya sudah hilang. Grenouille kembali 
tak berbau dan mukjizat telah berakhir. 
Setibanya  di  jalan  utama,  ia  tidak  mengambil  jalur menuju Grenoble atau Cabris,  tapi berjalan lurus melewati padang  ke  arah  barat  tanpa  menoleh  lagi.  

Saat  matahari terbit,  gemuk  pendaran  kekuningan  dan  terik  dengan  hangat, ia sudah lama lenyap. 

Warga  kota  Grasse  bangun  dengan  sakit  kepala  luar biasa,  seperti  habis  minum  arak  semalaman.  Bahkan mereka  yang  tidak  mabuk  juga  merasa  kepalanya  berat, mual  di  perut  dan  di  hati.  Di  tempat  eksekusi,  di  bawah siraman  matahari  pagi,  rakyat  jelata  berusaha  mencari pakaian mereka yang tersampir entah di mana. 

Para wanita terhormat mencari  suami  dan  anak-anak mereka;  pasangan-pasangan  asing melepaskan pelukan dengan kaget  dan ngeri. Kenalan, tetangga, dan pasangan yang bukan suami-istri mendadak berdiri saling membelakangi. Malu oleh ketelanjangan masing- masing. 

Umumnya  mereka  merasa  pengalaman  hari  kemarin sangat  menjijikkan,  sulit  dijelaskan,  dan  sedemikian bertentangan  dengan  nilai-nilai  moral.  Sedemikian  rupa sampai mereka menghapus begitu saja dari ingatan begitu pikiran kembali waras. 

Banyak yang tak mampu mengingat lagi peristiwa ini saat ditanya. Pihak lain yang tidak terlalu ketat  dengan  kendali  nilai-nilai,  mencoba  menutup  mata, telinga, dan pikiran. 

Tapi tentu saja tidak mudah. Rasa malu yang membayangi terlalu jelas dan universal. Jadilah, begitu menemukan  pakaian  dan  kerabat  yang  dicari,  masing-masing  segera  pulang  diam‐diam  secepat  mungkin.  Siang 
hari, tempat itu kembali lengang. 

Warga  kota  Grasse  tidak  keluar  rumah  sampai  sore kecuali  jika  amat  terpaksa.  Salam  sapa  saat  bertemu dilakukan  sepintas  lalu  atau  tidak  menyapa  sama  sekali. Tak  ada  yang  berani  membuka  pembicaraan.  

Tak  sepatah kata  pun terlontar  soal  peristiwa  pagi  ini  danmalam sebelumnya.  Semua  merunduk  dan  bicara  seperlunya. 

Memendam  jengah  dan  perasaan  bersalah.  Belum  pernah keselarasan  tercipta demikian  sempurna  seperti pada hari itu. 

Banyak  pihak  yang  dipaksa  bertanggung  jawab  dan berurusan  langsung  dengan  peristiwa  itu,  tergantung wewenang  institusi  masing‐masing.  Keberlangsungan kehidupan bermasyarakat, ketegasan hukum dan peraturan menuntut  ketegasan penyelesaian.  

Dewan  kota  segera mengadakan  pertemuan  sore  itu  juga.  Para  anggota, termasuk Richis,  saling  memberi  salam  dan berpelukan dalam  diam.  Lalu  tanpa menyebut  langsung  peristiwa  itu atau  bahkan  nama  Grenouille, mereka memutuskan  untuk segera  membongkar  dan  membubarkan  lokasi  eksekusi, plus mengembalikan lingkungan  kondisi semula.  
Untuk ini, dana 160 livre dianggap sudah cukup. 

Bersamaan  dengan  itu,  para  hakim  juga  mengadakan pertemuan  di  kantor  pengadilan.  Tanpa  banyak  debat, majelis  hakim  setuju  untuk  menganggap  “kasus  G”  telah selesai,  ditutup  dan  diarsipkan  tanpa  registrasi.  

Lalu membuka pengadilan baru tentang pembunuh 25 perawan di sekitar Grasse yang dianggap belum terungkap. 

Perintah diserahkan  ke  letnan  polisi  agar  segera  memulai penyelidikan. Esok  harinya,  sang  letnan  melaporkan  penemuan  baru. 
Atas  dasar  bukti-bukti  tak  terbantahkan,  ia  menahan Dominique Druot, Maître  parfumeur  dari jalan  Louve.  

Toh pakaian  dan  rambut  korban  memang  ditemukan  di  kabin yang  tercatat  menjadi  miliknya.  Para  hakim  menyimak permohonan  tak  bersalah  Druot  beberapa  saat  sebelum 
memutuskan bahwa ia berbohong. Setelah empat belas jam disiksa,  Druot  mengakui  segalanya  dan  bahkan  memohon untuk segera dieksekusi. Permintaan dituruti dan eksekusi dilangsungkan  sehari  kemudian. Ia  digantung  saat  fajar. 

Tanpa ribut-ribut, tanpa panggung apa pun. Hanya dihadiri seorang  algojo,  seorang  hakim  saksi,  seorang  dokter,  dan pendeta.  Begitu  kematian  diresmikan,  diverifikasi,  dan dicatat,  mayatnya langsung  dikubur.  Dengan  demikian kasus ditutup. 

Seluruh  warga  melupakan  peristiwa  itu  sama  sekali. Benar-benar  melupakan  sampai  para  pelancong  yang mampir  setelah  beberapa  hari  berselang  dan  iseng bertanya  soal  pembunuhan  perawan  kota  Grasse,  tak 
menemukan  satu  orang  waras  pun  yang  mau  memberi informasi. 

Hanya segelintir orang bodoh dan orang gila dari Rumah Sakit  Charité  yang  bercerita  dengan  kacau  tentang pesta besar di  gerbang Cours. Mereka dendam karena pada  hari itu dipaksa keluar kamar. 

Kehidupan  kembali  berjalan  normal.  Warga  kembali bekerja  keras,  tidur  nyenyak, berbisnis  dan  bersikap seperti  biasa.  Air  tetap  menggelegak  dari  mata  air  dan 
pancuran, menggenangi jalan dengan  kotoran dan lumpur. 

Kota  Grasse  kembali  kumuh,  namun  bangga  atas  posisi mereka  di  atas  lembah  raksasa  nan  subur.  Matahari bersinar hangat. Bulai Mei menjelang. Saatnya panen bunga 
mawar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...