Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 39

TIGA PULUH SEMBILAN


PADA BULAN JANUARI, sang janda Arnulfi menikahi ahli utamanya,  Dominique  Druot,  yang  lantas  naik  pangkat menjadi MaĆ®tre gantier etparfumeur.  Jamuan makan besar-
besaran  digelar  untuk  para  master  kelas  satu,  dan  pesta yang  lebih  sederhana  untuk  para  ahli  biasa.  

Madame Arnulfi membeli seprai baru untuk ranjang yang kini dibagi secara,  resmi bersama  Druot  dan  membuang  semua 
pakaian  mendiang  suaminya  dari  lemari.  

Nama  dinasti Arnulfi  tetap dipakai, bersama dengan warisan plus status manajer  bisnis  keluarga  dan  kunci  gudang  loteng.  Druot 
memenuhi  kewajiban  seksualnya  setiap  hari  dan menyegarkan diri dengan anggur. 

Grenouille sendiri, meski kini  menjadi  satu-satunya  ahli  di  perusahaan  ini,  tetap diserahi  tanggung  jawab  mengurus  hampir  semua pekerjaan dengan upah dan kabin yang itu-itu juga.

Tahun  baru  diawali  dengan  panen  bunga  cassia, kemudian  bakung,  mawar  ungu,  dan  narcissus  narkotik. 

Pada  suatu  minggu  di  bulan  Maret,  setahun  sejak  tiba  di Grasse,  Grenouille  pergi  melongok  perkembangan  segala 
sesuatunya di taman di belakang tembok di ujung kota. Kali ini  ia  sudah  bersiap  diri  menerima  aroma.  

Sudah  bisa mengira-ngira  apa  yang menanti.  Pun  saat  mengendusnya di  gerbang  Neuve,  separo  jalan  dari  jarak  yang  harus ditempuh  untuk  sampai  ke  belakang  tembok, jantungnya berdebar lebih keras dan darahnya berdesir kegirangan. 

Si gadis  masih  di  sana.  Bunga  tercantik  itu  tak  cacat  dihajar musim  dingin  dan getahnya  kian  matang.  Ia  sedang tumbuh,  berkembang,  dan  menguatkan  kelopak terelok yang  akan  muncul!  Aromanya  juga  main  kuat,  sesuai dugaan,  tanpa kehilangan ciri khas dan keistimewaan. 

Apa yang  setahun  lalu  hanya  setetes,  kini  membaur  menjadi aliran halus aroma nan samar dan gemerlap dengan ribuan warna,  namun  tetap  solid  dan  tidak  pecah.  

Grenouille mengenali  “mata air” ini dengan suka cita. Satu  tahun lagi. Ya, dua belas bulan lagi, dan mata air ini akan meluap. Saat itu  ia  akan  membendung  dan  menampung  aliran  aroma tersebut. 

Grenouille  berjalan  menyusuri  tembok  ke  belakang taman. Walau  si gadis  tampaknya  sedang  berada  di  dalam rumah,  di kamarnya  dengan  jendela  tertutup,  aromanya mengalir  turun ke hidung Grenouille seperti angin lembut. 

Grenouille berdiri diam. Ia tidak pusing atau segamang saat pertama  kali  mencium.  Dadanya  penuh  kebahagiaan seorang pencinta saat mendengar atau melihat kekasihnya dari  kejauhan,  dan  sadar  kelak  akan memboyong  si  gadis. 

Sungguh  menggelikan  sekaligus  ironis  melihat  Grenouille, si kutu penyendiri, si pembawa bencana, monster yang tak pernah  merasakan  cinta  dan  tak  akan  pernah  mampu mengilhami  cinta,  berdiri  dibelakang  tembok  kota  Grasse di  hari  bulan  Maret  itu,  penuh  rasa  cinta  dan  bahagia dengan perasaan tersebut. 

Benar bahwa ia  tidak mencintai manusia lain,  termasuk gadis yang  tinggal di rumah di balik  tembok. Yang dicintai hanya  aromanya.  Itu  saja,  tak  ada  yang  lain.  Sekuat  asa untuk  menjadikan  aroma  itu  miliknya  suatu  hari  kelak.  Ia bersumpah akan membawa aroma ini pulang tahun depan. 

Dan  setelah  sumpah  setia  yang aneh ini  terlontar, ia  pergi dengan  hati  ringan  dan  kembali  ke kota  lewat  gerbang Cours. 

Malam  hari,  sambil  berbaring  di  kabin,  ia  bangkitkan kembali  kenangan  aroma  itu  dan  meresapkan  diri  di dalamnya. Membelai dan dibelai. Begitu dekat, seolah telah memilikinya  benar-benar,  lalu  bercinta  dengan  aroma  itu 
dan dengan dirinya sendiri. 

Lama sekali. Ia ingin membawa perasaan  mencintai  diri  sendiri  ini  untuk menemaninya dalam  tidur.  Namun  begitu  mata  terpejam,  detik  pertama tarikan  napas  menjelang  lelap,  aroma  itu  lenyap.  Pergi 
begitu saja. Di gantikan oleh aroma kamar yang  dingin dan tajamnya bau kandang kambing. 

Grenouille  ketakutan.  Apa  yang  terjadi  jika  aroma  itu sudah  kumiliki...  bagaimana  jika  habis?  Ini  tidak  sama dengan  memori, karena  ingatan  membuat  aroma  abadi.

Realitas  selalu  punya  batas.  Fana.  Setelah  habis  dipakai, sumber  aromanya  juga  tak  akan  ada  lagi,  dan  aku  harus kembali  telanjang  seperti  dulu - kembali  bergantung  pada imitasi. Tidak, bahkan lebih buruk dari sebelumnya, karena untuk  sementara  aku  memang  pemah  memiliki  - sudah begitu  terbiasa  dan  tak  mampu  melupakan  karena  aku memang  tak pernah melupakan aroma.  

Lalu  setelah habis, aku  terpaksa  kembali  ke  memoriku.  Persis  seperti  yang kulakukan  sekarang  dengan  pertanda  atas  apa  yang  akan kumiliki kelak. Buat apa begitu?

Ini  pikiran  yang  sangat  meresahkan  Grenouille.  Amat mengerikan  ketika  tahu  bahwa  begitu  ia  memiliki  aroma yang  belum  dimilikinya  itu,  mau  tak  mau  ia  akan 
kehilangan  juga  suatu  hari  kelak.  

Berapa  lama  bisa  ia simpan?  Beberapa  hari?  Beberapa  minggu?  Mungkin sebulan  penuh  kalau  dihemat.  Lalu?  Dalam  bayangannya, Grenouille  melihat  dirinya  menangkup  beberapa  tetes terakhir  dari  botol,  membilas  flacon  dengan  alkohol  agar 
tetes  terakhir  tidak  lenyap,  lalu  ia  melihat  - mengendus, betapa  aroma  tercinta  itu  menguap  ditelan  udara, selamanya.  

Rasanya  akan  seperti  kematian  perlahan  yang amat panjang - seperti  tercekik namun dibalik. Penguapan tubuh secara  perlahan yang menyakitkan, lalu terlempar ke dunia fana. 

Kuduknya  merinding.  Mendadak  ia  dikuasai  keinginan untuk  membatalkan  rencananya  dan  menghilang  saat  ini juga di kegelapan malam. Berkelana menuruti langkah kaki, 
melewati  gunung-gunung  bersalju  tanpa  berhenti,  ratusan mil  menuju  gunung  Auvergne,  kembali  ke  gua  lamanya, terlelap dan mati. 

Tapi  ini  tidak  dilakukan.  Grenouille  duduk  tegak meneguhkan  hati,  walau  dorongan  itu  amat  kuat mendeburi  batin.  Ia  tidak  menyerah  karena  sadar  bahwa keinginan ini sejak dulu selalu mendera. Kawan lama yang 
menyuruh  untuk  kabur  dan  bersembunyi  dalam  gua.  Ia sudah tahu rasanya. Yang belum adalah bagaimana rasanya memiliki aroma manusia sesempurna aroma gadis di balik tembok. 

Pun bila harus kehilangan lagi suatu saat, perasaan memiliki  dan  kehilangan tampaknya  lebih  menggiurkan ketimbang  tak  pernah memiliki  sama  sekali.  

Toh ia  sudah menolak segalanya dalam hidup, tapi belum pernah merasa memiliki dan kehilangan. Perlahan keraguan itu mereda dan hawa  tubuh kembali normal.  

Ia  bisa  merasakan  kehangatan  darah  yang menyegarkan  dan  keinginan  untuk  kembali  ke  niat  awal. 

Kini  bahkan  lebih  kuat  karena  tidak  lagi  didasari  nafsu semata,  tapi  juga  atas  dasar  pertimbangan  matang. 

Grenouille  si  kutu  psikopat  berdarah  dingin,  dihadapkan pada  pilihan  antara  mati  kering  atau  memeluk  setetes harapan, dan ia memilih  yang  terakhir.  Sadar  bahwa  tetes ini  akan  benar-benar  menjadi  miliknya  yang  terakhir.  Ia kembali  berbaring  di  ranjang.  Nyaman  di  atas  jerami,  dan meringkuk di bawah selimut dan merasa angat heroik. 

Grenouille  tak  akan  menjadi Grenouille  yang  kita  kenal kalau  menyerah  begitu  saja  pada  fantasi  fatalistik kepahlawanan.  Kemauannya  untuk  bertahan  dan  menang terlalu  kuat,  sangat  lihai,  dan  semangatnya  kenyang 
ditempa. 

Dus, ia memutuskan untuk memiliki aroma gadis di  balik  tembok.  Kalau  ia  harus  kehilangan  lagi  setelah beberapa  minggu  dan  mati  kangen,  biarlah  begitu.  Lebih 
baik  pernah  memiliki  lalu  mati  ketimbang  tidak  sama sekali.  Atau  paling  tidak  memanjangkan  kepemilikan  itu selama  mungkin.  Ia  hanya  harus  mengawetkan  dengan lebih hati-hati saja. Menahan  sistensi aroma tanpa harus kehilangan karakternya. Semata-mata masalah seni. 

Ada  aroma-aroma  yang  mampu  bertahan  sampai berpuluh  tahun.  Sebuah..almari  yang  digosok  parfum kesturi,  sepotong  kulit  yang  dikuyupi  minyak  kayu  manis, segumpal  ambergris,  peti  dari  kayu  pohon  cedar  - semua memiliki  aroma  yang  boleh  dibilang  abadi.  Sementara benda-benda lain seperti minyak limau, ekstrak  bergamot, 
jonquil,  tuberosa,  dan  aroma  bebungaan,  umumnya menguap  setelah  beberapa  jam  terpapar  udara  terbuka ketika  dalam  bentuk  yang masih murni  dan  belum  terikat 
oleh  zat  kimia lain. 

Ahli parfum menyiasati situasi dengan 
mengikat aroma yang mudah menguap itu  membentuk rantai katakanlah begitu. 

Pada intinya adalah berusaha menjinakkan kecenderungan untuk bebas. Namun rantai ini harus disusun  “berlubang”  atau  “berjeda”  satu  sama  lain 
agar  aromanya  tetap  keluar.  Kalau  diikat  benar-benar malah  tidak  akan  tercium.  Jeda  ini  bisa  diisi  zat  lain  yang berfungsi sebagai pengikat aroma dasar. 

Grenouille pernah sukses  mencoba  cara  ini  dengan  sempurna  pada  minyak wangi beraroma tuberosa.  Ia mengikat aroma dasar bunga itu  dengan  sedikit  kesturi,  vanila,  labdanum,  dan  cemara. 

Hanya dengan cara itu aromanya bisa keluar dan bertahan, meski sedikit  tersamar oleh elemen pengikat. 

Kenapa cara serupa  tak  bisa  dicoba  pada  aroma  si  gadis?  Kenapa  ia harus  mempertahankan  aroma  tak  ternilai  dan  paling rapuh ini dalam kondisi murni? Amatir sekali! Sama. sekali tidak  berkelas  kalau  begitu!  Toh  orang  juga  tidak  begitu saja  mengenakan  permata  yang  belum  dipotong  atau bongkahan emas sebagai kalung! 

Ia kan tidak sama dengan ahli parfum primitif macam Druot atau siapalah. Bukankah ia ahli parfum terhebat di dunia?

Grenouille  menepuk  keningnya  sendiri.  Merasa  bodoh tidak  terpikir  begini sebelumnya. Aroma  unik ini memang tak  bisa  digunakan  dalam  kondisi  mentah.  Harus 
diperlakukan  seperti  batu  berharga.  Ia  harus  membuat semacam mahkota aroma, dengan puncak  terhalus  terjalin bersama aroma lain namun  tetap berada di atas yang lain. 

Aroma utama akan  tetap berkilau. Parfum ini akan ia buat dengan  mengerahkan  seluruh  tatanan  seni  pembuatan parfum, dan  aroma  gadis di balik tembok akan menjadi jiwa aroma tersebut.

Minyak  kesturi,  bunga  atar,  mawar,  atau  sari  bunga pohon  jeruk  tak  cukup  tepat  dipakai  sebagai  aksesori, sebagai  dasar,  sebagai  tenor  sekaligus  soprano,  sebagai 
puncak  dan  bahan  pengikat.  Ia  yakin  itu.  

Parfum  manusia super spesial ini membutuhkan racikan lain. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...