DUA PULUH DELAPAN
BEGITULAH SETERUSNYA dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan demi bulan. Tanpa henti selama tujuh tahun.
Sementara itu, dunia dilanda perang dunia. Manusia berperang di Silesia dan Saxony, di Hanover dan Low Countries, Bohemia dan Pomerania.
Bala tentara Raja berguguran di Hesse dan Westphalia, di Kepulauan Balearic, di India, di Mississippi, dan di Kanada - itu pun
kalau tidak lebih dulu ambruk terserang tifus dalam perjalanan.
Perang merampas hidup lebih dari sejuta orang. Prancis kehilangan daerah koloni, dan negara-negara lain kehilangan begitu banyak uang sampai akhirnya memutuskan dengan berat hati untuk mengakhiri perang.
Suatu hari di musim dingin selama periode tersebut, Grenouille nyaris mati kedinginan tanpa disadari. Selama lima hari ia berbaring di ruang tunggu ungunya dan saat terbangun begitu kedinginan sampai tak sanggup bergerak.
Ia menutup mata dan ingin agar tidur saja sampai mati. Tapi mendadak cuaca berubah. Es mulai mencair dan ia selamat.
Pernah salju begitu tebal sampai ia tak kuat menggali untuk mengambil lumut di bebatuan. Jadilah ia mengisi perut dari bangkai‐bangkai kaku kelelawar beku.
Pernah seekor burung gagak terbaring mati di mulut gua. Ia memakannya juga. Hanya realitas dunia luar seperti ini yang ia sadari selama tujuh tahun. Ia benar-benar tak
pernah meninggalkan gunung, nyaman bergumul dengan kerajaan mimpi dan pasti bakal di sana terus sampai mati (karena ia tak merasa kekurangan apa-apa) kalau saja tidak tertimpa sebuah bencana yang memaksanya turun gunung.
Memuntahkan Grenouille kembali ke dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar