DUA PULUH SATU
GRENOUILLE AMAT INGIN saat itu juga berangkat ke selatan, ke kota di mana ia bisa belajar teknik penyulingan baru seperti uraian Baldini. Tapi tentu saja tidak mungkin. Ia hanya seorang murid rendahan, atau dengan kata lain: sama sekali bukan siapa-siapa.
Seperti dijelaskan Baldini - setelah menampakkan kegembiraan luar biasa menyambut kebangkitan Grenouille dari kematian - ia bahkan lebih rendah dari 'bukan siapa-siapa’ karena seorang murid yang benar harus memiliki persyaratan memadai seperti surat legitimasi, akta kelahiran, memiliki kerabat kalangan ningrat, serta sertifikat ikatan kontrak.
Semua ini Grenouille tak punya. Pun andai Baldini kelak memutuskan untuk membantunya mengurus surat-surat resmi kenaikan tingkat ke status ahli, itu hanya bisa terjadi atas dasar bakat ajaib Grenouille, kesempurnaan perilaku sejak saat itu, dan
terutama sekali atas kebaikan Baldini.
Yang terakhir ini meskipun banyak menguntungkan Grenouille, tetap saja akan membuat ia berutang budi selamanya.
Cukup lama sampai Baldini bersedia memenuhi janji - nyaris tiga tahun. Selama itu, dengan bantuan Grenouille, Baldini
mewujudkan impian. Ia membangun pabrik di pinggir kota Saint-Antoine, meloloskan tender untuk parfum eksklusif di kalangan istana, serta menerima paten kerajaan.
Parfumnya terjual sampai ke St. Petersburg di Rusia, Palermo di Italia, dan Copenhagen di Denmark.
Barang-barang beraroma kesturi sangat dicari, bahkan di Konstantinopel. Padahal Tuhan pun tahu orang-orang di sana sudah lebih dari cukup memiliki parfum sendiri.
Parfum Baldini tercium mulai dari kantor-kantor elegan di London sampai istana Parma, juga di puri Warsawa dan di istana kecil dinasti Graf von und zu Lippe-Detmold.
Kontras dengan angan-angan semula untuk hidup menyepi dalam kemiskinan di Messina, Baldini yang kini berusia tujuh puluh tahun, berubah menjadi pembuat parfum terbesar di seluruh Eropa dan termasuk salah satu orang terkaya di
Paris.
Di awal tahun 1756 Baldini membeli gedung seberang di Pont au Change yang ia pakai untuk tempat tinggal karena gedung lama sudah penuh sampai ke atap dengan parfum dan rempah-rempah. Saat itu ia menyampaikan pada Grenouille bahwa kini ia bersedia melepasnya, dengan tiga syarat.
Pertama, ia tak boleh membuat parfum apa pun yang sama dengan apa yang kini ada di bawah atap gedung milik Baldini atau menjual formulanya pada pihak ketiga.
Kedua, ia harus meninggalkan Paris dan tidak kembali lagi selama Baldini masih hidup.
Dan ketiga, Grenouille harus merahasiakan dua syarat tersebut. Ia diminta bersumpah
atas nama semua santo, atas nama. jiwa ibunya yang malang, dan atas nama kehormatannya sendiri.
Grenouille tidak memiliki kehormatan, tidak percaya santo, dan membenci ibunya, jadi dengan enteng ia bersumpah. Sumpah demi apa pun ia bersedia.
Syarat bagaimanapun yang diajukan Baldini akan diterima. karena ia sudah sangat tak sabar ingin segera memiliki surat resmi status ahli. Kunci menuju kebebasan, berkelana tanpa diganggu siapa pun, dan mencari pekerjaan. Hal lain tidak penting.
Lagi pula, syarat macam apa itu? Tak boleh memasuki Paris lagi? Siapa juga yang butuh Paris? Ia sudah kenyang dengan kota ini sampai ke ceruk terkecilnya sekalipun.
Aroma kota ini akan selalu ia bawa ke mana pun melangkah. Boleh dibilang ia telah memiliki Paris selama bertahun-tahun. Tak boleh membuat parfum-parfum laris yang kini dimiliki Baldini?
Tak boleh menyebarkan formulanya? Bah! Ia mampu membuat ribuan lagi, dan setiap kali jauh lebih baik, kapan saja ia mau!
Tapi ia tak mau begitu. Grenouille tak berniat bersaing dengan Baldini atau ahli parfum borjuis lainnya. Tak pernah terlintas niat untuk menjadi kaya dengan bakat ini. Tak ingin hidup dari situ kalau memang ada jalan lain mengongkosi hidup.
Yang paling diinginkan adalah mengosongkan jiwanya yang paling dalam - satu-satunya hal terindah dari apa pun yang bisa ditawarkan dunia. Dus, syarat Baldini bukan apa-apa
buat Grenouille.
Grenouille berkemas pagi-pagi sekali di awal musim semi, di bulan Mei. Baldini membekalinya dengan sebuah ransel kecil, selembar kemeja, dua pasang stoking, sebongkah besar sosis, selimut pelana kuda, dan uang 25 franc.
Menurut Baldini, ini saja sudah berlebihan dari apa yang semestinya diberikan, mengingat bahwa Grenouille tidak membayar sepeser pun untuk pendidikan yang diterimanya selama ini. Grenouille hanya diwajibkan membayar uang pemutusan kontrak sebesar dua franc.
Tidak lebih. Yah, Baldini rupanya masih menyimpan sedikit simpati untuk Jean-Baptiste Grenouille setelah sekian lama tinggal bersama. Ia mendoakan semoga Grenouille beruntung dalam perjalanan dan sekali lagi mengingatkan
secara empatik agar tidak melupakan janji.
Setelah itu ia mengantar Grenouille melewati koridor sempit ke pintu belakang seperti saat pertama kali bertemu, dan mereka
berpisah.
Baldini tidak mengangsurkan tangan memberi salam - simpatinya tak sampai sejauh itu. Ia tak pernah bersalaman dengan Grenouille. Selama ini ia selalu berusaha agar mereka tidak bersentuhan. Perasaan yang datang dari rasa jijik tanpa alasan, atau takut tertular, atau terkontaminasi entah apa. Ia hanya berucap, “Adieu.”
Grenouille mengangguk, merunduk melewati pintu dan berlalu. Jalanan pagi itu tampak lengang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar