Rabu, 04 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 21

DUA PULUH SATU



GRENOUILLE  AMAT  INGIN  saat  itu  juga  berangkat  ke selatan, ke kota di mana ia bisa belajar teknik penyulingan baru seperti uraian Baldini. Tapi tentu saja tidak mungkin. Ia  hanya  seorang  murid  rendahan,  atau  dengan  kata  lain: sama  sekali  bukan  siapa-siapa. 

Seperti  dijelaskan Baldini - setelah menampakkan kegembiraan luar biasa menyambut kebangkitan  Grenouille  dari  kematian  - ia  bahkan lebih rendah dari 'bukan siapa-siapa’ karena seorang murid yang benar  harus  memiliki  persyaratan  memadai seperti  surat legitimasi,  akta  kelahiran,  memiliki  kerabat  kalangan ningrat,  serta  sertifikat  ikatan  kontrak.  

Semua  ini Grenouille tak punya. Pun andai Baldini kelak memutuskan untuk membantunya mengurus surat-surat resmi kenaikan tingkat ke status ahli, itu hanya bisa terjadi atas dasar bakat ajaib Grenouille, kesempurnaan perilaku sejak saat itu, dan 
terutama  sekali  atas  kebaikan  Baldini.  

Yang  terakhir  ini meskipun  banyak  menguntungkan  Grenouille,  tetap  saja akan  membuat  ia  berutang  budi  selamanya.  

Cukup  lama sampai  Baldini  bersedia  memenuhi  janji  - nyaris  tiga  tahun.  Selama  itu,  dengan  bantuan  Grenouille,  Baldini 
mewujudkan impian. Ia membangun pabrik di pinggir kota Saint-Antoine, meloloskan tender untuk parfum eksklusif di kalangan  istana,  serta  menerima  paten  kerajaan. 

Parfumnya  terjual  sampai  ke  St.  Petersburg  di  Rusia, Palermo  di  Italia,  dan  Copenhagen  di  Denmark.  

Barang-barang  beraroma  kesturi  sangat  dicari,  bahkan  di Konstantinopel.  Padahal  Tuhan  pun  tahu  orang-orang  di sana  sudah  lebih  dari  cukup  memiliki  parfum  sendiri. 

Parfum Baldini  tercium mulai dari kantor-kantor elegan di London sampai istana Parma, juga di puri Warsawa dan di istana kecil dinasti Graf von und zu Lippe-Detmold. 

Kontras dengan  angan-angan  semula  untuk  hidup  menyepi  dalam kemiskinan  di Messina,  Baldini  yang  kini  berusia  tujuh puluh tahun, berubah menjadi pembuat parfum terbesar di seluruh  Eropa  dan termasuk  salah  satu  orang  terkaya  di 
Paris. 

Di awal tahun 1756 Baldini membeli gedung seberang di Pont au Change yang ia pakai untuk tempat tinggal karena gedung lama  sudah  penuh  sampai  ke  atap  dengan  parfum dan  rempah-rempah.  Saat  itu  ia  menyampaikan  pada Grenouille bahwa kini ia bersedia melepasnya, dengan tiga syarat.  

Pertama,  ia  tak  boleh  membuat  parfum  apa  pun yang sama dengan apa yang kini ada di bawah atap gedung milik  Baldini  atau  menjual  formulanya  pada  pihak  ketiga. 

Kedua, ia harus meninggalkan Paris dan  tidak kembali lagi selama  Baldini  masih  hidup. 

Dan  ketiga,  Grenouille  harus merahasiakan  dua  syarat  tersebut.  Ia  diminta  bersumpah 
atas  nama  semua  santo,  atas  nama.  jiwa  ibunya  yang  malang, dan atas nama kehormatannya sendiri. 

Grenouille  tidak  memiliki  kehormatan,  tidak  percaya santo,  dan  membenci  ibunya,  jadi  dengan  enteng  ia bersumpah.  Sumpah  demi  apa  pun  ia  bersedia.  

Syarat bagaimanapun yang diajukan Baldini akan diterima. karena ia sudah sangat tak sabar ingin segera memiliki surat resmi status  ahli.  Kunci  menuju  kebebasan,  berkelana  tanpa diganggu  siapa  pun,  dan mencari  pekerjaan. Hal lain  tidak penting.  

Lagi  pula,  syarat  macam  apa  itu?  Tak  boleh memasuki Paris lagi? Siapa juga yang butuh Paris? Ia sudah kenyang  dengan  kota  ini  sampai  ke  ceruk  terkecilnya sekalipun. 

Aroma kota ini akan selalu ia bawa ke mana pun melangkah.  Boleh  dibilang  ia  telah  memiliki  Paris  selama bertahun-tahun.  Tak  boleh  membuat  parfum-parfum  laris yang  kini  dimiliki  Baldini?  

Tak  boleh menyebarkan formulanya?  Bah!  Ia  mampu  membuat  ribuan  lagi,  dan setiap  kali  jauh  lebih  baik,  kapan  saja  ia  mau!  

Tapi  ia  tak mau begitu. Grenouille tak berniat bersaing dengan Baldini atau ahli parfum borjuis lainnya. Tak pernah  terlintas niat untuk menjadi kaya dengan bakat ini. Tak ingin hidup dari situ kalau memang ada jalan lain mengongkosi hidup. 

Yang paling  diinginkan adalah mengosongkan  jiwanya  yang paling dalam - satu-satunya hal terindah dari apa pun yang bisa  ditawarkan  dunia.  Dus,  syarat Baldini  bukan  apa-apa 
buat Grenouille. 

Grenouille  berkemas  pagi-pagi  sekali  di  awal  musim semi,  di  bulan  Mei.  Baldini  membekalinya  dengan  sebuah ransel  kecil,  selembar  kemeja,  dua  pasang stoking, sebongkah  besar  sosis,  selimut  pelana  kuda,  dan  uang  25 franc.  

Menurut  Baldini,  ini  saja  sudah  berlebihan  dari  apa yang  semestinya  diberikan, mengingat  bahwa  Grenouille tidak  membayar  sepeser  pun  untuk  pendidikan  yang diterimanya  selama  ini.  Grenouille  hanya  diwajibkan membayar  uang pemutusan  kontrak  sebesar  dua  franc. 

Tidak lebih. Yah, Baldini rupanya masih menyimpan sedikit simpati untuk Jean-Baptiste Grenouille setelah sekian lama tinggal  bersama.  Ia  mendoakan  semoga  Grenouille beruntung  dalam  perjalanan  dan  sekali lagi mengingatkan 
secara  empatik  agar  tidak  melupakan  janji.  

Setelah  itu  ia mengantar  Grenouille melewati  koridor  sempit  ke  pintu belakang  seperti  saat  pertama  kali  bertemu,  dan  mereka 
berpisah. 

Baldini  tidak  mengangsurkan  tangan  memberi  salam  - simpatinya tak sampai sejauh itu. Ia tak pernah bersalaman dengan  Grenouille.  Selama  ini  ia  selalu  berusaha  agar mereka tidak bersentuhan. Perasaan yang datang dari rasa jijik  tanpa  alasan,  atau takut  tertular,  atau  terkontaminasi entah  apa.  Ia  hanya  berucap,  “Adieu.” 

Grenouille mengangguk,  merunduk  melewati  pintu  dan  berlalu. Jalanan pagi itu tampak lengang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...