Selasa, 03 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 10

SEPULUH 


“CHÉNIER!” SERU BALDINI dari balik meja kasir setelah sebelumnya berdiri berjam-jam sekaku  pilar,  menatap  ke arah  pintu.  “Pakai wigmu!”  demikian  ia  berseru  lagi.

Dari balik  tong-tong  minyak  zaitun  dan  juntaian  daging-daging ham, muncullah Chénier, asisten Baldini yang berusia lebih 
muda  tapi  sudah  tampak  seperti  lelaki  renta.

Yang dipanggil melangkah ke meja kasir.  Ia mengambil wig dari kantung mantel dan mengepaskannya ke kepala.

“Anda mau keluar, Monsieur Baldini?” ia bertanya. 

“Tidak,”  jawab  Baldini.  

“Aku  ingin  melanjutkan  studi selama beberapa jam dan tak ingin diganggu untuk apa pun juga. Paham?” 

“Aha!  Saya  tahu!  Anda  pasti  sedang  membat  parfum baru.” 

BALDINI:  Benar.  Parfum  yang  akan  dipakai  untuk  kulit Spanyol  milik  Count  Verhamont.  Ia  ingin terima  barang sesuatu  yang benar-benar  baru.  Ia  meminta  sesuatu  yang  seperti... seperti...  kurasa  ia  menyebutnya  sebagai  'Cinta  dan  Jiwa', dan itu  dari...  dari  pecundang  di  jalan Saint-Andre-des-Arts... itu... si... si.... 

CHÉNIER: Pélissier. 

BALDINI:  Ya. Tepat sekali itu nama  pecundang  itu.

Hmm... 'Cinta dan jiwa', buatan Pélissier. Kau tahu soal ini? 

CHÉNIER:  Ya,  ya,  tentu  saja  saya  tahu.  Anda  bisa mencium  baunya  di  mana  pun  saat  ini.  Apalagi  di  setiap sudut  jalan.  Tapi  kalau  menurut  saya,  sih,  tak  ada  bagus-bagusnya! Sama sekali, dibandingkan  dengan  apa yang akan Anda ciptakan, Monsieur Baldini. 

BALDINI: Tentu saja tidak. 

CHÉNIER: 'Cinta dan jiwa' ini baunya sungguh biasa saja. 

BALDINI: Vulgar, begitu? 

CHÉNIER:  Sangat  vulgar.  Seperti  apa  pun  ciptaan Missier. Saya  yakin pasti mengandung minyak limau. 

BALDINI: Sungguhkah? Apa lagi? 

CHÉNIER:  Sari  bunga  limau,  barangkali.  Dan  sedikit rosemary dalam larutan alkohol. Tapi saya tak pasti benar. 

BALDINI: Semua itu tak ada gunanya sama sekali bagiku. 

CHÉNIER: Tentu saja tidak. 

BALDINI:  Aku  tak  peduli  apa  pun  yang  dipakai  pecundang  Missier  itu  dalam  membuat  parfum. Aku tak sudi menggunakannya sebagai inspirasi, kujamin itu. 

CHÉNIER: Anda benar sekali, Monsieur.

BALDINI: Seperti kau  tahu, aku  tak mengambil inspirasi siapa pun. dan aku  menciptakan seperti kau tahu., parfumku sendiri. 

CHÉNIER: Saya tahu. 

BALDINI:  Dan  aku  sedang  berpikir  untuk  menciptakan sesuatu  untuk  Count Verhamont  yang  akan  membuat Kehebohan besar. 

CHÉNIER: Saya yakin pasti demikian, Monsieur Baldini. 
BALDINI:  Tolong  jaga  toko.  Aku  butuh  ketenangan  dan kedamaian.  Jangan  biarkan  siapa  pun  mendekatiku, Chénier.

Demikianlah,  Monsieur  Baldini  bergegas.  Tidak  dengan langkah  seperti  patung,  tapi  membungkuk  sesuai  usianya yang  memang  sepuh.  Tapi  bungkuknya  begitu  dalam 
sampai nyaris seperti habis dipukuli, lalu perlahan menaiki  tangga ke ruang studi di lantai dua. 

Chénier  mengambil  posisi  di  belakang  meja  kasir  dan memasang  pose  persis  seperti  majikannya,  dengan pandangan  lurus  ke  arah  pintu.  Ia  tahu  apa  yang  akan terjadi  beberapa  jam  ke  depan:  sama  sekali  tidak  ada pengunjung  yang  datang  dan malapetaka  rutin  di  ruang studi  Baldini.  

Seperti  biasa, Baldini akan melepas mantel 
biru yang sarat aroma Kemboja itu, duduk di belakang meja kerja, lalu  menunggu inspirasi.  

Setelah  dapat,  ia  bergegas menuju lemari berisi ratusan flacon dan mulai mencampur 
asal-asalan.  Campuran  itu  tentu  saja  gagal.  Ia  lalu menyumpah-nyumpah,  membuka  jendela,  dan  membuang isi tabung ke sungai. Ia akan mencoba lagi sesuatu yang lain yang juga gagal, lalu kembali menyumpah-nyumpah sambil mengamuk melempari barang di kamar yang baunya makin pekat itu. 

Sekitar jam tujuh malam ia akan kembali turun ke toko  dengan  roman  sebal  dan  penampilan  berantakan, gemetar  dan  mengeluh,  lalu  berkata, “Chénier,  aku 
kehilangan hidungku. 

Aku tak bisa menciptakan parfum itu, 
aku  tak  bisa  memberi  kulit  Spanyol  itu  pada  sang  Count. 

Habislah  semua.  Jiwaku  sudah  mati.  Aku  ingin  mati, Chénier.  Tolong  bantu  aku  untuk  mati!”  Saat  itu  Chénier akan menyarankan agar menyuruh orang membeli sebotol 'Cinta  dan  jiwa  dari  Pélissier.  

Baldini  setuju saja,  tapi dengan syarat  bahwa tak seorang pun yang boleh mengetahui  peristiwa memalukan ini.  Chénier lantas  akan 
bersumpah untuk tutup mulut dan malam ini mereka akan membuat  wangi  bahan  kulit  Count  Verhamont  dengan produk  ciptaan  orang  lain.  

Pasti  demikian  yang  akan terjadi.  Tak  diragukan  lagi.  Chénier  hanya  berharap  agar sirkus ini  segera  berakhir.  Baldini  bukan lagi  seorang  ahli parfum  yang  hebat.  Dulu  memang.  Tapi  itu  dulu  sekali. 

Waktu  Baldini  masih  muda,  tiga  atau  empat  puluh  tahun yang lalu, ia  pernah menciptakan parfum  bertajuk 'Mawar dari  Selatan’  dan  'Buket  Baldini  nan Megah’  – dua  parfum yang sangat hebat dan membuatnya sekaya sekarang. 

Tapi sekarang  ia  sudah  tua  dan  kelelahan,  tidak  tahu  mode terkini  serta  cita  rasa  modern,  dan  setiap  kali  berhasil menciptakan parfum sendiri, selalu ketinggalan zaman dan tak  bisa  dipasarkan.  

Akibatnya  dalam  setahun  mereka harus  mengencerkan  dan  mengoplosnya  hingga  sepuluh banding  satu  dan  harus  puas  menjajakannya  sebagai produk  aditif  untuk  air  mancur.  

Memalukan  sekali,  pikir Chénier  sambil  memeriksa  posisi  wig  lewat  cermin. 

Memalukan  soal  si  Baldini  tua,  memalukan  soal  tokonya yang indah karena kalau begini  terus lama‐kelamaan pasti rusak, dan memalukan soal aku sendiri karena saat toko ini rusak kelak, aku sudah terlalu tua untuk mengambil alih.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...