TIGA PULUH DUA
Di AMBANG PINTU RUMAH, mendadak ia merasa takut. Ini pertama kalinya ia memancarkan aroma manusia. Baunya tidak enak dan membuat mual. Grenouille tak tahu
apakah orang lain bakal mencium seperti itu juga, karena itu ia tidak berani untuk langsung menuju kedai minum tempat Runel dan kepala rumah tangga keluarga Marquis menunggu. Akan lebih bijaksana kalau ia mencoba dulu “aura” baru ini di jalanan.
Grenouille menyelinap ke arah sungai melalui gang-gang yang paling gelap dan sempit, tempat para penyamak dan pencelup pakaian membuka kios dan berbisnis.
Setiap kali ada orang lewat atau saat melewati daerah tempat anak-anak kecil bermain atau ada wanita yang sedang duduk-duduk, ia sengaja berjalan lebih perlahan agar “aroma manusia”-nya bercampur dan membentuk awan aura yang
lebih padat.
Sejak keccil Grenouille sudah terbiasa tidak diacuhkan orang. Bukan karena mereka jijik seperti dugaannya semula, tapi lebih karena mereka tak menyadari kehadirannya. Ia tidak memiliki “aura” manusia normal.
Tak ada gelombang yang memancar dari tubuhnya ke atmosfer seperti manusia normal (karena - bau bisa dibaca juga sebagai gelombang kalau menurut ilmu fisika). Ibarat
kata, ia tak punya “bayangan” yang terpantul ke manusia lain.
Hanya kalau kebetulan bertubrukan saja mereka menoleh. Itu pun hanya sesaat. Beberapa detik berisi pandangan seolah melihat makhluk aneh yang mestinya tidak ada ‐ makhluk yang walau secara visual ada, tapi secara “rasa” tidak ada. Setelah itu berjalan lagi tanpa menoleh dan melupakan Grenouille sama sekali.
Tapi lihatlah sekarang, di jalan kota Montpellier ini Grenouille merasa dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ia memberi kesan pada orang yang dilewati.
Setiap langkah semakin menumbuhkan percaya diri dan kebanggaan yang mengguyur seperti manusia gurun bertemu air.
Ketika melewati seorang wanita yang sedang menimba air di sumur, Grenouille melihat sendiri betapa si wanita mengangkat kepala untuk melihat siapa yang lewat, lalu setelah puas kembali menimba.
Lelaki yang semula duduk membelakanginya juga menoleh dan menatap penasaran cukup lama. Anak-anak berhenti bermain dan menyingkir memberi jalan. Bahkan saat segerombolan dari mereka berlarian menghambur dari pintu sebuah rumah ke
arahnya, tak ada wajah ketakutan di situ. Mereka lewat seperti biasa. Tidak berlaku heboh atau apa.
Beberapa peristiwa sejenis mengajari Grenouille untuk menakar lebih persis daya dan pengaruh “aura” barunya ini. Ia jadi makin percaya diri dan ceroboh.
Berjalan makin cepat ke arah orang-orang, lewat lebih dekat, bahkan sedikit menjulurkan sebelah tangan, menyenggol seolah tak sengaja. Ia juga menubruk seseorang seolah tak sengaja waktu kondisi jalan sedang ramai.
Grenouille berhenti, meminta maaf, dan orang itu menanggapi baik-baik. Menerima permohonan maaf, bahkan menepuk pundak Grenouille seraya tersenyum.
Grenouille meninggalkan gang sempit dan masuk ke alun-alun di depan gereja Saint-Pierre. Bel tengah berbunyi. Orang-orang bergerombol di depan pintu gereja.
Rupanya ada yang baru menikah dan mereka ingin melihat kedua mempelai. Grenouille ikut mendekat dan membaur. Ia
mendorong membuka jalan ke sana kemari, ke tumpukan manusia yang paling padat di mana tubuhnya bisa bersenggolan - tak hanya lengan, tapi juga pipi dan dagu.
Sengaja menggosok-gosok membaurkan aroma barunya di bawah hidung mereka. Di tengah keramaian itu ia membentangkan tangan, kedua kaki, dan melonggarkan
kerah agar aroma parfum bisa keluar dengan bebas.
Kegembiraan makin membuncah ketika melihat bahwa tak ada yang menanggapi berlebihan. Betapa ajaib dan ironisnya melihat betapa sekian banyak pria, wanita, dan anak-anak berdiri berdesakan di sekitarnya, begitu bebas dan begitu mudah dikelabui.
Menghirup tanpa menghiraukan ramuan parfum yang ia buat dari kotoran kucing, keju busuk, dan cuka apel - menganggapnya sebagai bau mereka sendiri dan menerimanya begitu saja.
Lihatlah dia kini, Grenouille busuk berada di situ, tengah-tengah mereka sebagai seorang manusia normal!
Seorang gadis kecil berdiri dekat lututnya, berdiri berdesakan di tengah orang dewasa. Diangkatnya si kecil dengan perhatian pura-pura dan digendongnya dengan satu tangan agar bisa melihat lebih jelas.
Ibunya tak hanya tolol dan heran tapi juga berterima kasih, sementara si gadis
berseru gembira.
Grenouille bertahan di situi selama seperempat jam dengan anak kecil di pelukan. Upacara pernikahan terus berlanjut, berarak keluar gereja diiringi dentang bel, sorak-sorai massa, dan denting koin tanda keberuntungan.
Kegembiraan Grenouille lain lagi. Kegembiraan hitam - perasaan penuh kemenangan yang jahat dan membuatnya
gemetar seperti orang melepas berahi. Ia nyaris tak mampu membendung luapan kemenangan agar tidak tiba-tiba menjerit gila-gilaan di depan orang-orang.
Pernyataan bahwa ia tak takut lagi pada mereka. Tidak membenci mereka lagi, kendati kejijikannya begitu dalam dan total.
Karena mereka demikian bodoh sampai kebodohan itu tercium begitu keras. Demikian mudah diperdayai.
Biarlah begitu. Toh mereka bukan apa-apa dan ia adalah segalanya! Seolah mengumpatkan ejekan, Grenouille memeluk si kecil makin erat, ikut berseru dan bersorak dalam paduan bersama yang lain , “Hidup pasangan pengantin! Panjang umur kedua mempelai!”
Setelah pesta usai dan orang-orang mulai bubar, Grenouille mengembalikan si kecil ke ibunya lalu masuk ke gereja untuk menenangkan diri dan beristirahat.
Udara dalam gereja masih sarat wewangian dua dupa di sisi attar, membumbung ke atas membentuk awan. Mengapung dalam lapisan tipis di atas aroma samar para pengunjung yang baru saja duduk.
Grenouille duduk mencangkung di bangku di belakang tempat paduan suara. Seketika itu ia diliputi perasaan nyaman.
Tidak memabukkan seperti mimpinya dulu di perut gunung, tapi perasaan nyaman yang dingin dan waras, seperti baru menyadari daya kekuatan sendiri.
Kini ia tahu persis apa yang mampu dilakukan. Dengan kegeniusannya ia mampu
menciptakan imitasi aroma manusia sedemikian sempurna sampai anak kecil saja bisa tertipu.
Grenouille sadar mampu berbuat lebih jauh lagi, seperti menyempurnakan aroma ini, misalnya. Tak hanya aroma manusia tapi juga aroma super - semacam aroma malaikat yang begitu baik dan vital.
Siapa pun yang menciumnya akan terpengaruh dan mencintainya, mencintai Grenouille sang pembawa aroma tersebut.
Ya, itu yang ia inginkan. Bahwa mereka akan mencintainya seperti tersihir. Tidak hanya menerimanya sebagai salah seorang dari mereka, tapi mencintainya sampai tergila-gila dan lupa daratan.
Membuat mereka bergulung di lantai, menjerit dan menangis. Bahkan berlutut seperti memuja Tuhan. Ingin berdekatan hanya agar bisa menciumnya. Mencium Grenouille! Ia akan menjadi dewa aroma seperti dalam fantasinya, tapi kali ini dengan dunia dan orang-orang di dunia nyata.
Ia sadar mampu melakukan semua ini. Orang bisa menutup mata dari ketakutan, dari keindahan... dan menutup telinga dari
melodi atau kata-kata, tapi tak ada yang bisa melarikan diri dari aroma, karena aroma bisa diibaratkan napas itu sendiri.
Setiap tarikan akan masuk ke tubuh dan tak mungkin bisa bertahan, kecuali kalau ingin mati tercekik.
Aroma akan masuk ke kesejatian diri, ke jantung, dan menetap selamanya antara rasa pilihan untuk menyukai atau membenci aroma tersebut, memengaruhi bahkan sampai ke pilihan untuk jijik dan nafsu, cinta dan benci.
Barang siapa yang menguasai aroma pasti mampu menguasai hati manusia. Grenouille duduk santai di bangku panjang gereja Saint-Perre.
Tersenyum dalam euforia sambil membangun rencana menguasai manusia. Sinar matanya tidak memancarkan kegilaan, tidak pula senyum sinting seperti tokoh-tokoh megalomaniak klasik.
Ia tidak gila karena masih mampu
mempertanyakan diri sendiri secara objektif. Tanpa dramatisasi atau pretensi apa pun ia mengaku bahwa niat ini timbul karena ia memang jahat. Sangat jahat.
Pengakuan ini meluncur berbatur senyum dan kepuasan. Dengan wajah polos bahagia.
Grenouille duduk cukup lama menikmati keheningan. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma gereja. Seulas senyum terlintas lagi. Tuhan kok baunya tengik, ya?!
Konyol juga kalau dipikir. Kok bisa Dia membiarkan diri-Nya berbau busuk. Selain itu juga palsu, karena terbuat dari campuran ekstrak linden, dedak kayu manis, dan potasiurnnitrat.
Tuhan bau. Tuhan yang diaku oleh seorang pendeta bau di kejauhan. Tuhan yang ditipu umat, atau barangkali Dia sendiri juga penipu. Tak beda dengan Grenouille. Hanya lebih buruk!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar