Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 32

TIGA PULUH DUA


Di AMBANG PINTU RUMAH, mendadak ia merasa  takut. Ini  pertama  kalinya  ia  memancarkan  aroma  manusia. Baunya tidak enak dan membuat mual. Grenouille tak tahu 
apakah  orang  lain  bakal  mencium  seperti  itu  juga,  karena itu  ia  tidak  berani  untuk  langsung  menuju  kedai  minum tempat  Runel  dan  kepala  rumah  tangga  keluarga  Marquis menunggu.  Akan  lebih  bijaksana  kalau  ia  mencoba  dulu “aura” baru ini di jalanan. 

Grenouille menyelinap ke arah sungai melalui gang-gang yang  paling  gelap  dan  sempit,  tempat  para  penyamak  dan pencelup pakaian membuka kios dan berbisnis. 

Setiap kali ada  orang  lewat  atau  saat  melewati  daerah  tempat  anak-anak  kecil  bermain  atau  ada  wanita  yang  sedang  duduk-duduk,  ia  sengaja  berjalan  lebih  perlahan  agar  “aroma manusia”-nya bercampur dan membentuk awan aura yang     
lebih padat. 

Sejak  keccil  Grenouille  sudah  terbiasa  tidak  diacuhkan orang.  Bukan  karena  mereka  jijik  seperti  dugaannya semula,  tapi  lebih  karena  mereka  tak  menyadari kehadirannya.  Ia  tidak  memiliki  “aura”  manusia  normal. 

Tak  ada  gelombang  yang  memancar  dari  tubuhnya  ke atmosfer seperti manusia normal (karena - bau bisa dibaca juga  sebagai gelombang  kalau menurut ilmu  fisika).  Ibarat 
kata,  ia  tak  punya  “bayangan”  yang  terpantul  ke  manusia lain.  

Hanya  kalau  kebetulan  bertubrukan  saja  mereka menoleh.  Itu  pun  hanya  sesaat.  Beberapa  detik  berisi pandangan  seolah  melihat  makhluk  aneh  yang  mestinya tidak  ada  ‐  makhluk  yang  walau  secara  visual  ada,  tapi secara  “rasa”  tidak  ada.  Setelah  itu  berjalan  lagi  tanpa menoleh dan melupakan Grenouille sama sekali.

Tapi  lihatlah  sekarang,  di  jalan  kota  Montpellier  ini Grenouille merasa dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ia memberi kesan pada orang  yang dilewati. 

Setiap langkah  semakin  menumbuhkan  percaya  diri  dan kebanggaan yang mengguyur seperti manusia gurun bertemu air. 

Ketika melewati  seorang wanita  yang  sedang menimba air di sumur, Grenouille melihat sendiri betapa si wanita mengangkat kepala untuk melihat siapa yang lewat, lalu  setelah  puas  kembali  menimba.  

Lelaki  yang  semula duduk  membelakanginya  juga  menoleh  dan  menatap penasaran  cukup  lama.  Anak-anak  berhenti  bermain  dan menyingkir memberi jalan. Bahkan saat segerombolan dari mereka berlarian menghambur dari pintu sebuah rumah ke 
arahnya,  tak  ada  wajah  ketakutan  di  situ.  Mereka  lewat seperti biasa. Tidak berlaku heboh atau apa.

Beberapa  peristiwa  sejenis  mengajari  Grenouille  untuk menakar  lebih  persis  daya  dan  pengaruh  “aura”  barunya ini. Ia jadi makin percaya diri dan ceroboh. 

Berjalan makin cepat  ke  arah  orang-orang,  lewat  lebih  dekat,  bahkan sedikit menjulurkan sebelah tangan, menyenggol seolah tak sengaja.  Ia  juga  menubruk  seseorang  seolah  tak  sengaja waktu  kondisi  jalan  sedang  ramai.  

Grenouille  berhenti, meminta  maaf,  dan  orang  itu  menanggapi  baik-baik. Menerima permohonan  maaf,  bahkan  menepuk  pundak  Grenouille seraya tersenyum. 

Grenouille  meninggalkan  gang  sempit  dan  masuk  ke alun-alun di depan gereja Saint-Pierre. Bel tengah berbunyi. Orang-orang  bergerombol  di  depan  pintu  gereja.  

Rupanya ada  yang  baru  menikah  dan  mereka  ingin  melihat  kedua mempelai.  Grenouille  ikut  mendekat  dan  membaur.  Ia 
mendorong  membuka  jalan  ke  sana  kemari,  ke  tumpukan manusia  yang  paling  padat  di  mana  tubuhnya  bisa bersenggolan - tak  hanya  lengan,  tapi  juga  pipi  dan  dagu. 

Sengaja menggosok-gosok membaurkan aroma  barunya di bawah  hidung  mereka.  Di  tengah  keramaian  itu  ia membentangkan  tangan,  kedua  kaki,  dan  melonggarkan 
kerah  agar  aroma  parfum  bisa  keluar  dengan  bebas. 

Kegembiraan makin membuncah ketika melihat bahwa tak ada  yang  menanggapi  berlebihan.  Betapa  ajaib  dan ironisnya  melihat  betapa  sekian  banyak  pria,  wanita,  dan anak-anak  berdiri  berdesakan  di  sekitarnya,  begitu  bebas dan  begitu  mudah  dikelabui.  

Menghirup  tanpa menghiraukan  ramuan  parfum  yang  ia  buat  dari  kotoran kucing, keju busuk, dan cuka apel - menganggapnya sebagai bau mereka sendiri dan menerimanya begitu saja. 

Lihatlah dia kini, Grenouille busuk berada di situ, tengah-tengah mereka sebagai seorang manusia normal! 

Seorang  gadis  kecil  berdiri  dekat  lututnya,  berdiri berdesakan  di  tengah  orang  dewasa.  Diangkatnya  si  kecil dengan  perhatian  pura-pura  dan  digendongnya  dengan satu tangan agar bisa melihat lebih jelas. 

Ibunya tak hanya tolol dan heran  tapi  juga  berterima  kasih,  sementara  si  gadis 
berseru gembira.

Grenouille  bertahan  di  situi  selama  seperempat  jam dengan  anak  kecil  di  pelukan.  Upacara  pernikahan  terus berlanjut, berarak keluar gereja diiringi dentang bel, sorak-sorai  massa,  dan  denting  koin  tanda  keberuntungan.

Kegembiraan  Grenouille  lain  lagi. Kegembiraan  hitam  - perasaan  penuh  kemenangan yang jahat  dan membuatnya 
gemetar seperti orang melepas berahi. Ia nyaris tak mampu membendung  luapan  kemenangan  agar  tidak  tiba-tiba menjerit  gila-gilaan  di  depan  orang-orang.  

Pernyataan bahwa  ia  tak  takut  lagi  pada  mereka.  Tidak  membenci mereka  lagi,  kendati  kejijikannya  begitu  dalam  dan  total. 
Karena  mereka  demikian  bodoh  sampai  kebodohan  itu tercium begitu keras. Demikian mudah diperdayai. 

Biarlah begitu. Toh mereka bukan apa-apa dan ia adalah segalanya! Seolah mengumpatkan ejekan, Grenouille memeluk si kecil makin  erat,  ikut  berseru  dan  bersorak  dalam  paduan bersama  yang  lain , “Hidup pasangan  pengantin!  Panjang  umur kedua mempelai!” 

Setelah  pesta  usai  dan  orang-orang  mulai  bubar, Grenouille mengembalikan si kecil ke ibunya lalu masuk ke gereja  untuk  menenangkan  diri  dan  beristirahat.  

Udara dalam gereja masih sarat wewangian dua dupa di sisi attar, membumbung  ke  atas  membentuk  awan.  Mengapung dalam  lapisan  tipis  di  atas  aroma  samar  para  pengunjung yang  baru  saja  duduk.  

Grenouille  duduk  mencangkung  di bangku di belakang tempat paduan suara. Seketika  itu  ia  diliputi  perasaan  nyaman.  

Tidak memabukkan seperti mimpinya dulu di perut gunung,  tapi perasaan  nyaman  yang  dingin  dan  waras,  seperti  baru menyadari  daya  kekuatan  sendiri.  

Kini  ia  tahu  persis  apa yang mampu  dilakukan. Dengan  kegeniusannya ia mampu 
menciptakan imitasi aroma manusia sedemikian sempurna sampai  anak  kecil  saja  bisa  tertipu.  

Grenouille  sadar mampu  berbuat  lebih  jauh  lagi,  seperti  menyempurnakan aroma  ini,  misalnya.  Tak  hanya  aroma  manusia  tapi  juga aroma  super - semacam  aroma  malaikat  yang  begitu  baik dan  vital.  

Siapa  pun  yang  menciumnya  akan  terpengaruh dan mencintainya, mencintai Grenouille  sang  pembawa aroma tersebut. 

Ya,  itu  yang  ia  inginkan.  Bahwa  mereka  akan mencintainya  seperti  tersihir.  Tidak  hanya  menerimanya sebagai  salah  seorang  dari  mereka,  tapi  mencintainya sampai  tergila-gila  dan  lupa  daratan.  

Membuat  mereka bergulung  di  lantai, menjerit  dan  menangis.  Bahkan berlutut  seperti  memuja  Tuhan.  Ingin  berdekatan  hanya agar  bisa  menciumnya.  Mencium  Grenouille!  Ia  akan menjadi dewa aroma seperti dalam  fantasinya, tapi kali ini dengan  dunia  dan  orang-orang  di  dunia  nyata.  

Ia  sadar mampu  melakukan  semua  ini.  Orang  bisa  menutup  mata dari  ketakutan, dari  keindahan... dan menutup  telinga dari 
melodi atau kata-kata, tapi tak ada yang bisa melarikan diri dari  aroma,  karena  aroma bisa  diibaratkan  napas  itu sendiri.  

Setiap  tarikan  akan  masuk  ke  tubuh  dan  tak mungkin  bisa  bertahan,  kecuali  kalau  ingin  mati  tercekik. 

Aroma akan masuk ke kesejatian diri, ke jantung, dan menetap selamanya antara rasa  pilihan untuk menyukai atau membenci aroma  tersebut, memengaruhi bahkan sampai ke  pilihan untuk jijik dan nafsu, cinta dan benci. 

Barang  siapa  yang  menguasai  aroma  pasti  mampu menguasai hati manusia. Grenouille duduk santai di bangku panjang gereja Saint-Perre. 

Tersenyum  dalam  euforia  sambil  membangun  rencana menguasai  manusia.  Sinar  matanya  tidak  memancarkan kegilaan,  tidak  pula  senyum  sinting  seperti  tokoh-tokoh megalomaniak  klasik.  

Ia  tidak  gila  karena  masih  mampu 
mempertanyakan  diri  sendiri  secara  objektif.  Tanpa dramatisasi atau  pretensi apa  pun ia mengaku  bahwa  niat ini timbul karena ia memang jahat. Sangat jahat. 

Pengakuan ini  meluncur  berbatur  senyum  dan  kepuasan.  Dengan wajah polos bahagia. 

Grenouille duduk cukup lama menikmati keheningan. Ia menarik  napas  dalam-dalam,  menghirup  aroma  gereja. Seulas senyum terlintas lagi. Tuhan kok baunya tengik, ya?! 
Konyol  juga  kalau  dipikir.  Kok  bisa  Dia  membiarkan  diri-Nya berbau busuk. Selain itu juga palsu, karena terbuat dari campuran ekstrak linden, dedak kayu manis, dan potasiurnnitrat. 

Tuhan bau. Tuhan yang diaku oleh seorang pendeta bau  di  kejauhan.  Tuhan  yang  ditipu  umat,  atau  barangkali Dia sendiri juga penipu. Tak beda dengan Grenouille. Hanya lebih buruk!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...