SEMBILAN BELAS
TAK MAKAN WAKTU LAMA sampai Grenouille menjadi ahli penyulingan. Ia menemukan - dengan hidung yang jauh lebih membantu ketimbang segudang peraturan Baldini - bahwa panas api memegang peranan penting dalam menentukan kualitas hasil sulingan.
Setiap tanaman, setiap bunga, setiap jenis kayu, dan setiap minyak perasan biji menuntut prosedur penggodokan tersendiri. Kadang harus sangat panas, kadang sedang, dan untuk bebungaan apinya harus sekecil mungkin.
Persiapan lain juga begitu. Mint dan lavender bisa disuling berkelompok. Yang lain ada yang harus disisihkan dengan hati-hati terlebih dahulu, dipetik, dipotong, digerus,
ditumbuk, atau bahkan dibuat menjadi bubur sebelum ditaruh dalam ketel.
Sialnya, ada banyak hal yang tak bisa
disuling sama sekali. Ini membuat Grenouille sebal.
Melihat betapa Grenouille makin mahir menangani perangkat kimia, Baldini bersedia membebaskannya berkreasi dengan tabung penyulingan. Jelas sebuah peluang yang tidak disia-siakan begitu saja oleh Grenouille.
Sementara tetap mengerjakan tugas pembuatan parfum dan produk wewangian lain di siang hari, malamnya ia habiskan khusus untuk menguasai seni penyulingan.
Ia berencana menciptakan aroma dasar yang sama sekali baru, untuk kemudian dikembangkan menjadi beberapa macam aroma sesuai ingatannya selama ini.
Kesuksesan datang bertahap. Awalnya ia berhasil membuat minyak dari jelatang dan dari biji seledri, eau de toilette dari batang
elderberry segar dan ranting cemara.
Hasil sulingannya memang nyaris berbeda dengan aroma ramuan asal, tapi paling tidak masih cukup menarik untuk diteruskan lebih jauh. Kendati demikian, tetap ada substansi tertentu yang
prosedurnya gagal sama sekali.
Misalnya saat Grenouille mencoba menyuling aroma kaca, lempung, aroma dingin sebuah kaca yang mulus, pokoknya benda-benda yang tak bisa diendus hidung manusia normal. Ia telah mencoba sedikit pada kaca jendela - dan pecahan botol, dan sekarang ingin mencoba lagi dalam jumlah besar, dalam pecahan-pecahan yang dibuat sehalus debu ‐ semuanya gagal.
Selanjutnya ia mencoba menyuling kuningan, porselen dan kulit, kayu, serta kerikil. Tanah juga ia coba suling mentah‐mentah. Begitu pun darah, kayu, ikan segar, dan rambutnya sendiri. Di ujung percobaan, ia menyuling air mentah dari sungai Seine.
Aroma uniknya dirasa pantas diabadikan. Ia
yakin bahwa dengan bantuan tabung penyulingan ia mampu menjarah aroma unik dari benda-benda itu, seperti yang telah kenyang ia lakukan pada tumbuhan, lavender, dan biji jintan. Ia tak sadar bahwa penyulingan sesungguhnya tak lebih dari sekadar proses memisahkan substansi kompleks menjadi komponen yang mudah
menguap dan yang tak mudah menguap. Ini hanya berguna dalam seni membuat parfum, karena sari minyak yang mudah menguap dari tanaman tertentu bisa diekstraksi atau dipisahkan dari substansi lain yang sedikit atau tidak memiliki bau.
Pada substansi yang kurang atau tidak
memiliki sari minyak, proses penyulingan tentu saja tak berguna.
Buat manusia modern seperti kita hal ini pasti bisa segera dipahami, tapi dalam kasus Grenouille, pengetahuan ini didapat secara menyakitkan, setelah melewati berjam-jam percobaan yang mengecewakan.
Selama berbulan‐bulan ia tetap keras kepala menongkrongi tabung penyulingan, malam demi malam, mencoba setiap cara dan teknik menyuling aroma baru yang radikal -
aroma yang tak pernah ada di bumi dalam wujud konsentrat.
Usaha ini tentu saja berbuah kekonyolan. Hasil
terjauh yang didapat selalu minyak tanaman. Sumur produktivitasnya yang tak terbatas itu terus memompa usaha tanpa hasil.
Hidung ajaib Grenouille justru jadi penghalang terbesarnya dalam memahami kegagalan. Saat akhirnya sadar bahwa ia telah gagal, Grenouille menyudahi percobaan dan jatuh sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar