Rabu, 04 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 16

ENAM BELAS


PAGI-PAGI  SEKALI  BALDINI  langsung  pergi  ke  tempat Grimal. Pertama‐tama ia membayar pesanan kulit kambing dengan  harga  penuh  tanpa  mengeluh  atau  menawar macam-macam.  Lalu  ia  menjamu  Grimal  di  Tour  d’Argent dengan  sebotol  arak  putih  untuk  menegosiasikan  perihal Grenouille.  

Bisa  dipastikan  Baldini  tak  akan  mengungkap 'mengapa’  ia  menginginkan  pemindahan  kepemilikan  ini. 

Alih-alih berterus terang, ia mendongeng bahwa mendadak ia kebanjiran pesanan bahan kulit berparfum dan untuk itu ia butuh pekerja tidak berpengalaman. Dikatakan bahwa ia 
butuh  pemuda  yang  tak  banyak  menuntut,  bersedia mengerjakan  tugas-tugas  mudah  seperti  memotong  kulit dan sejenisnya. 

Baldini memesan sebotol arak lagi sembari 
menawar  25  livre  sebagai  biaya kompensasi  transfer. 

Zaman  itu  uang  25  livre  sangat  besar. Grimal  langsung menyambut.  Berdua mereka  berjalan  ke  penyamakan,  di mana ‐ anehnya, Grenouille telah menunggu dengan buntel 
sederhana  yang  sudah  lengkap  terkemas.  

Baldini membayar  25  livre  dan  langsung  membawa  Grenouille pergi.  Benaknya  sadar  bahwa  ia baru  saja  membuat  transaksi terbesar sepanjang hidup. 

Grimal  juga  berpikiran  sama.  Ia  kembali  ke  Tour d’Argent  untuk  minum  dua  botol  arak  putih  lagi,  lalu pindah  ke  Lion  d’Or  di  seberang  sungai  menjelang  siang. 

Begitu  mabuknya  ia,  sampai-sampai  ketika  memutuskan untuk kembali ke Tour d’Argent tengah malam itu, ia salah mengambil  jalan  ke  jalan  Nonanindieres  yang  ia  sangka sebagai jalan Geoffroi L’Anier. 

Walhasil, saat mengira telah keluar  di  ujung jalan  Pont-Marie, ia malah jatuh  ke  sungai 
Quai des Ormes. Grimal jatuh tercebur dengan wajah lebih dulu dan langsung tewas tenggelam. 

Perlu beberapa waktu sampai  sungai  menyeretnya  keluar  dari  kedalaman, melewati  tambatan  kapal-kapal  tongkang  ke  aliran  arus utama, mengapungkan  mayatnya  saat  fajar,  mengambang ke arah barat. 

Tubuh  itu  mengapung  tanpa  suara  melewati  Pont  au Change  tanpa  terantuk  tiang-tiang  dermaga,  persis  enam puluh kaki di bawah  Jean‐Baptiste Grenouille yang hendak menjelang  tidur.  Sebuah  dipan  telah  disiapkan  di  sudut belakang  laboratorium  Baldini.  Mulut  Grenouille menyeringai  puas  sementara  mantan  majikannya mengambang  tak  bernapas  di  sungai Seine  yang  dingin.  

Ia menggulung diri di dipan seperti kutu menjelang hibernasi. Saat  lelap,  jiwanya  melayang  makin  dalam  ke  diri  sendiri, 
membuncahkan  perasaan  kemenangan  sampai  ke  tembok benteng sanubari dan imajinasi, di mana ia melayang dalam mimpi jamuan pesta yang sarat wewangian - sebuah pesta raksasa  gila‐gilaan  dengan  awan-awan  parfum  dan  kabut dupa, seluruhnya digelar atas nama keagungan pribadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...