ENAM BELAS
PAGI-PAGI SEKALI BALDINI langsung pergi ke tempat Grimal. Pertama‐tama ia membayar pesanan kulit kambing dengan harga penuh tanpa mengeluh atau menawar macam-macam. Lalu ia menjamu Grimal di Tour d’Argent dengan sebotol arak putih untuk menegosiasikan perihal Grenouille.
Bisa dipastikan Baldini tak akan mengungkap 'mengapa’ ia menginginkan pemindahan kepemilikan ini.
Alih-alih berterus terang, ia mendongeng bahwa mendadak ia kebanjiran pesanan bahan kulit berparfum dan untuk itu ia butuh pekerja tidak berpengalaman. Dikatakan bahwa ia
butuh pemuda yang tak banyak menuntut, bersedia mengerjakan tugas-tugas mudah seperti memotong kulit dan sejenisnya.
Baldini memesan sebotol arak lagi sembari
menawar 25 livre sebagai biaya kompensasi transfer.
Zaman itu uang 25 livre sangat besar. Grimal langsung menyambut. Berdua mereka berjalan ke penyamakan, di mana ‐ anehnya, Grenouille telah menunggu dengan buntel
sederhana yang sudah lengkap terkemas.
Baldini membayar 25 livre dan langsung membawa Grenouille pergi. Benaknya sadar bahwa ia baru saja membuat transaksi terbesar sepanjang hidup.
Grimal juga berpikiran sama. Ia kembali ke Tour d’Argent untuk minum dua botol arak putih lagi, lalu pindah ke Lion d’Or di seberang sungai menjelang siang.
Begitu mabuknya ia, sampai-sampai ketika memutuskan untuk kembali ke Tour d’Argent tengah malam itu, ia salah mengambil jalan ke jalan Nonanindieres yang ia sangka sebagai jalan Geoffroi L’Anier.
Walhasil, saat mengira telah keluar di ujung jalan Pont-Marie, ia malah jatuh ke sungai
Quai des Ormes. Grimal jatuh tercebur dengan wajah lebih dulu dan langsung tewas tenggelam.
Perlu beberapa waktu sampai sungai menyeretnya keluar dari kedalaman, melewati tambatan kapal-kapal tongkang ke aliran arus utama, mengapungkan mayatnya saat fajar, mengambang ke arah barat.
Tubuh itu mengapung tanpa suara melewati Pont au Change tanpa terantuk tiang-tiang dermaga, persis enam puluh kaki di bawah Jean‐Baptiste Grenouille yang hendak menjelang tidur. Sebuah dipan telah disiapkan di sudut belakang laboratorium Baldini. Mulut Grenouille menyeringai puas sementara mantan majikannya mengambang tak bernapas di sungai Seine yang dingin.
Ia menggulung diri di dipan seperti kutu menjelang hibernasi. Saat lelap, jiwanya melayang makin dalam ke diri sendiri,
membuncahkan perasaan kemenangan sampai ke tembok benteng sanubari dan imajinasi, di mana ia melayang dalam mimpi jamuan pesta yang sarat wewangian - sebuah pesta raksasa gila‐gilaan dengan awan-awan parfum dan kabut dupa, seluruhnya digelar atas nama keagungan pribadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar