TIGA PULUH TUJUH
PADA BULAN APRIL mereka merendam belukar broom serta bunga pohon jeruk. Lautan mawar mendapat giliran di bulan Mei.
Aroma manisnya seperti menenggelamkan
seuruh kota dalam kabut krim manis yang tak terlihat selama sebulan.
Grenouille bekerja seperti kuda pacu. Tanpa
menonjolkan diri dan dengan kepatuhan seorang budak, ia lakukan semua tugas yang disuruh Druot.
Tapi sementara ia mengaduk, menggosok bak mandi, membersihkan tempat itu, atau mengisi kayu bakar seolah tanpa otak,
sesungguhnya tak satu hal pun yang luput dari perhatiannya, baik bisnis maupun proses metamorfosis aroma.
Grenouille memanfaatkan hidung ajaibnya untuk mengobservasi dan memonitor setiap detail kejadian dengan lebih baik ketimbang Druot. Contohnya, migrasi aroma kelopak mawar tadi; dari minyak mawar ke alkohol,
sampai ke flacon-flacon kecil yang amat berharga.
Jauh sebelum Druot sadar, ia sudah lebih dulu tahu kapan godokan minyak sudah terlalu panas, kapan bunganya perlu ditambah, dan kapan godokan telah sarat aroma.
Grenouille bisa mencium apa yang terjadi di dalam. tungku dan kapan persisnya penyulingan harus berhenti. Kadang ia sengaja memberi tahu ini - tentu dengan cara yang tidak mencurigakan dan berupa saran.
Misalnya ketika ia berkata, “Godokan minyak mungkin sudah terlalu panas...,” atau, “Minyak ini sebaiknya disaring dulu " atau, “Rasanya alkohol dalam tabung penyulingan ini sudah menguap ..... "
Druot tidak terlalu bodoh untuk mengabaikan begitu saja “saran‐saran amatir” ini. Ia tahu bahwa hasilnya memang bisa lebih baik jika menuruti kata-kata Grenouille.
Apalagi melihat cara penyampaianya yang tidak angkuh atau sok tahu, juga karena Grenouille tidak pernah - terlebih di hadapan Madame Arnulfi - mengabaikan atau meragukan otoritas dan posisi Druot sebagai seorang ahli utama, tidak pula memberi saran dengan nada sinis atau
menyinggung.
Jadi, tak ada salahnya dituruti. Pun seiring
bergulirnya waktu, ia tak merasa terlalu keberatan menyerahkan segala putusan dalam proses pekerjaan itu pada Grenouille.
Dus, makin lama Grenouille tak hanya ditugasi mengaduk adonan, tapi juga memasukkan bunga ke tungku, memanaskan dan mengayak, sementara Druot pergi ke
kedai Quatre Dauphins di seberang jalan untuk minum segelas anggur atau ke lantai atas, “menghibur” Madame Arnulfi. Yakin bahwa Grenouille bisa diandalkan.
Di pihak lain, meski pekerjaannya jadi dua kali lipat lebih berat, Grenouille lebih suka bekerja sendiri. Menyempurnakan teknik baru dan kadang sedikit bereksperimen.
Dengan girang ia menemukan bahwa
pomade buatannya bisa dibilang lebih baik, dan bahwa essence absolut buatannya sendiri lebih murni beberapa persen ketimbang buatannya bersama Druot.
Musim bunga melati berawal di akhir bulan Juli dan bunga tiberosa di bulan Agustus. Parfum dari kedua bunga ini sangat halus, elok, dan rapuh. Tak hanya bunganya harus dipetik sebelum matahari terbit, tapi mereka juga menuntut perhatian dan penanganan khusus.
Bila dihangatkan aromanya berkurang dan jika dididihkan akan musnah sama sekali. “Jiwa” mereka tak bisa direnggut begitu saja, tapi harus “dibujuk” secara metodis menggunakan ruang resapan khusus, di mana bunga-bunga itu ditabur di atas lempengan kaca berlapis minyak lemak dingin atau dibungkus kain berlapis minyak lemak.
Dengan cara ini mereka akan mati dalam tidur. Butuh tiga hingga empat hari sampai mereka layu dan menguapkan aromanya ke lapisan minyak...
Sisa bunga diangkat hati-hati untuk memberi ruang bagi bunga baru.
Prosedur ini diulang antara sepuluh sampai dua puluh kali. Baru pada bulan September pomade dari bunga ini bisa dibuat dan
minyak wangi bisa diperas dari kain pembungkus.
Hasilnya memang jauh lebih sedikit daripada metode perendaman, namun kemurnian dan kualitas pasta melati atau huile antique de tubereuse ini jauh melebihi hasil yang diperoleh dengan teknik lain.
Khusus untuk bunga melati, permukaan
minyak wangi yang dihasilkan sangat bening, manis, lengket, beraroma erotis dan murni.
Hidung Grenouille mampu membedakan antara aroma bunga yang asli dengan parfum yang dihasilkan, karena campuran aroma spesifik dari media minyak yang dipakai - betapa pun murni - tetap hadir laksana kelambu jaring laba-laba di atas aroma melati.
Melembutkan dan menipiskan ketajaman aroma asli sedemikian rupa agar lebih enak diendus manusia normal.
Di pihak lain, teknik perendaman dingin tetap merupakan metode terbaik dan paling efektif untuk menangkap aroma-aroma lembut. Tak ada cara lain lagi yang lebih baik. Pun bila metode ini dirasa tidak cukup baik buat hidung Greunouille, sudah lebih dari cukup buat hidung manusia
normal.
Berbagai teknik seni pembuatan parfum dikuasai Grenouille dengan cepat. Bahkan melebihi Druot, gurunya sendiri.
Namun Grenouille tetap waspada agar tidak menonjol dan menjaga sikap merendah. Membuat Druot dengan senang hati membiarkannya pergi ke rumah jagal
untuk membeli lemak yang paling tepat, memurnikan dan memprosesnya, menyaring serta menyesuaikan proporsinya sedemikian rupa agar menjadi media terbaik penangkap aroma.
Ini pekerjaan sulit dan kerap dikeluhkan
oleh Druot karena lemak yang banyak mengandung campuran bahan lain menjadi basi atau terlalu berbau babi, kambing, atau sapi, dapat merusak pomade yang hendak
dibuat.
Ia biarkan Grenouille memutuskan sendiri
bagaimana mengatur lempengan-lempengan berlapis minyak di ruang resapan, kapan waktu rotasi memasukkan bebungaan, dan apakah pomade yang dibuat sudah cukup resap.
Tak lama kemudian ia juga mengizinkan Grenouille memutuskan hal-hal krusial yang hanya bisa dikira-kira, sama dengan Baldini dulu. Grenouille mampu menentukan takaran yang lebih tepat, tentunya dengan bantuan hidung. Tapi Druot tak pernah curiga soal ini.
“Ia punya sentuhan yang baik,” ujar Druot suatu kali.
“Untuk sejumlah hal, instingnya bisa diandalkan.” Kadang ia juga berpikir,
“Sesungguhnya, kalau mau jujur, ia lebih
berbakat daripada aku ‐ seratus kali lebih baik sebagai seorang ahli parfum.”
Tapi tetap saja ia menganggap Grenouille dungu karena pemuda itu sama sekali tak
berniat mengomersialisasikan bakatnya.
Padahal kalau Druot diberi sedikit saja dari bakat itu, niscaya ia bakal jadi pakarnya ahli parfum. Grenouille dengan lihai mendorong
Druot untuk sampai pada kesimpulan tersebut dengan menunjukkan kesan bodoh, membosankan, serta tak berambisi.
Bertingkah seperti tak menyadari kegeniusan diri sendiri dan hanya mau bekerja berdasarkan perintah Druot yang dianggap lebih berpengalaman.
Dus, atas dasar ini mereka mampu bekerja sama dengan baik.
Musim gugur dan musim dingin tiba. Suasana tempat kerja jadi lebih sepi. Aroma bunga terperangkap di tempayan dan flacon-flacon di gudang loteng. Jika Madame Arnulfi tidak menyuruh membuat pomade atau barang lain atau menyuling sekarung rempah-rempah kering, tak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Panen zaitun tetap dipetik beberapa keranjang tiap minggunya. Minyaknya diperas dan sisanya ditaruh di penggingan. Anggur juga disuling menjadi alkohol rektifikasi.
Makin lama, Druot makin jarang kelihatan. Ia lebih sering “dinas” di ranjang Madame Arnulfi. Setiap kali muncul badannya bau keringat dan air mani. Itu pun paling hanya sekadar lewat dan langsung menuju kedai minum.
Madame juga jarang turun dari lantai atas. Sibuk dengan perhitungan investasi dan menyiapkan pakaian berkabung sebagai seorang janda.
Berhari-hari Grenouille nyaris tidak melihat seorang pun kecuali pembantu yang bertugas menyiapkan sup makan siang, roti, dan zaitun untuknya.
Sementara itu, Grenouille juga jarang sekali keluar rumah. Ia ikut ambil bagian dalam kehidupan bisnis parfum - dengan menghadiri pertemuan dan prosesi para ahli hanya agar tidak terlalu menonjolkan, saat ada maupun tidak. tak punya teman atau kenalan dekat, namun tetap berhati-hati agar tidak dianggap sombong atau kurang
supel.
Pada para ahli lain ia meninggalkan kesan sebagai sosok yang membosankan dan tidak menguntungkan.
Grenouille jadi ahli berakting membosankan dan ceroboh, walau tidak kelewatan sampai menjadi bahan olok-olok atau objek lelucon di serikat kerja. Ia sukses membuat orang berpikir bahwa ia sama sekali tidak menarik.
Orang‐orang membiarkannya sendiri, dan Grenouille memang lebih suka begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar