EMPAT PULUH SEMBILAN
EKSEKUSI DIJADWALKAN pada jam lima sore. Gelombang penonton pertama sudah bersiap sejak pagi dan mengamankan tempat untuk menonton. Membawa kursi dan bangku, bantal, makanan, anggur, dan anak-anak.
Seperti piknik saja. Siang hari, penduduk desa sekitar mengalir dari segala arah. Parade penonton dengan segera menjadi begitu padat. Pendatang baru terpaksa berkemah
sepanjang jalan ke Grenoble dan di taman-taman teras serta lapangan di ujung areal tempat hukuman.
Para pedagang segera kebanjiran uang. Orang-orang makan, minum, bersenandung, dan berkeliaran seperti di pasar malam.
Dengan cepat jumlah pengunjung meledak sampai seputuh ribu orang. Melebihi jumlah pengunjung saat penobatan Ratu Yasmin atau peristiwa apa pun yang pernah terjadi di Grasse.
Mereka membanjir berdiri sampai ke lereng jalan, bergelantungan di pohon, bergerombol di tembok dan atap bangunan. Hanya lokasi di pusat keramaian itu ‐ sepetak areal yang terlindungi pagar kokoh - yang sepi dari manusia dan terbuka untuk panggung
penonton VIP serta panggung eksekusi. Makin lama tampak makin kecil, seperti mainan atau panggung sandiwara boneka.
Sebuah jalan setapak dibiarkan lengang, dari tempat hukuman ke gerbang Course dan terus ke jalan Droite.
Beberapa menit lewat pukul tiga, Monsieur Papon dan para asistennya muncul. Tepuk tangan membahana bagai guntur. Mereka membawa dua bilah balok membentuk
salib St. Andrew ke tempat hukuman, memasangnya ke ketinggian tertentu dengan memasak dasarnya ke sebuah
lubang khusus.
Seorang ahli kayu memaku posisinya agar
kokoh. Setiap gerakan disambut tepuk tangan penonton. Dan ketika Papon maju membawa tongkat besi ke arah salib, mengukur langkah, mengayunkan pukulan imajiner beberapa kali, sorak-sorai massa langsung meledak.
Jam empat, panggung VIP mulai terisi. Banyak sosok bangsawan apik yang bisa dikagumi; pria-pria kaya dengan pesuruh dan tingkah gemulai, wanita-wanita cantik, topi-
topi besar, serta pakaian berkilauan.
Seluruh bangsawan dari kota dan desa hadir di situ. Para anggota dewan kota hadir bergerombol, dipimpin dua orang anggota.
Richis mengenakan pakaian hitam, dengan stoking hitam dan topi yang juga hitam.
Menyusul kemudian aparat pengadilan,
dipimpin oleh hakim tinggi. Terakhir, uskup datang dengan tandu, berkilauan dalam jubah ungu dan topi kecil berwarna hijau.
Semua yang bertopi langsung menurunkan
topi mereka. Ini benar-benar mengejutkan. Lalu tak adaapa-apa selama sepuluh menit.
Para tuan dan nyonya sudah duduk di tempat masing-masing, rakyat jelata menunggu dengan tak sabar. Semua menunggu.
Papon dan para asistennya berdiri di panggung eksekusi seolah mereka juga dipaku tak bergerak. Matahari nanar menyemburkan sinar kuning di atas Estérel. Dari lembah Grasse bertiup angin hangat, bersama sedikit aroma jeruk. Atmosfer sangat hangat dan tenang.
Akhirnya, saat ketegangan seolah tak bisa ditahan lagi tanpa ledakan suara protes, kegilaan, atau ribut-ribut, mereka mendengar suara derap kuda dan derak roda kereta.
Dari arah jalan Droite, datang sebuah kereta ditarik sepasang kuda. Itu kereta sang letnan polisi. Berjalan melewati gerbang kota dan muncul lagi di jalan sempit yang
menuju ke panggung.
Letnan polisi berkeras untuk tampil
seperti ini, karena kalau tidak ia tak bisa menjamin keselamatan si terhukum. Ini memang tidak biasa. Jarak dari penjara ke lokasi hukuman tak sampai lima menit.
Kalau si terhukum tak mampu menempuh jarak itu dengan jalan kaki, biasanya ia akan dibawa dengan kereta keledai.
Kini seorang terhukum dibawa ke lokasi hukumannya sendiri dalam sebuah kereta tertutup nan anggun, dengan sais dan pengawalan lengkap - sungguh luar biasa.
Tak ada tanda-tanda keributan atau ketidakpuasan di antara penonton. Malah sebaliknya. Publik senang bahwa setidaknya ada yang terjadi. Mereka malah memuji gagasan untuk memakai kereta tertutup.
Persis seperti penonton drama yang senang melihat pertunjukan disajikan dengan cara baru. Penjahat paling mengerikan sudah sepantasnya diperlakukan lebih dari biasa.
Tak bisa diseret ke tempat eksekusi dengan rantai seperti pencuri ayam lalu dibunuh
begitu saja. Tak ada sensasinya kalau begitu. Tapi kalau digotong paksa untuk dipaku ke salib setelah badannya remuk, nah itu baru kreatif.
Kereta berhenti di tengah-tengah, di antara panggung eksekusi dan panggung VIP. Seorang penjaga melompat turun, membuka pintu, dan menurunkan tangga penuntun.
Letnan polisi juga turun, menyusul petugas lain, dan akhirnya Grenouille. Ia mengenakan mantel biru panjang, kemeja putih, stoking sutra putih, dan sepatu hitam bertali. Ia tidak diikat atau diseret.
Grenouille beranjak turun dari kereta seperti manusia bebas. Lalu keajaiban terjadi. Atau menyerupai keajaiban, atau setidaknya sesuatu yang sulit dijelaskan - begitu dahsyat sampai semua yang menyaksikan tak punya kata lain yang lebih tepat selain keajaiban. Itu pun kalau mereka sanggup
membuka aib, karena setelah peristiwa ini, tak akan ada yang sudi mengungkitnya.
Sepuluh ribu penonton pelaksanaan eksekusi sore hari itu mendadak merasa tak percaya, dan yakin bahwa orang bermantel biru yang baru turun dari kereta itu tak mungkin
si pembunuh.
Bukannya mereka ragu atau tak mengenali.
Orang itu adalah orang yang sama dengan yang mereka lihat beberapa hari lalu di jendela kantor pengadilan.
Saat itu, kalau saja mampu terpegang pasti bakal habis tersate dengan kebencian membeludak. Ini memang orang yang dua hari lalu dijatuhi vonis hukuman mati dengan disiksa, berdasarkan bukti-bukti tak terbantahkan dan pengakuannya sendiri. Orang yang sama yang telah dinanti pelaksanaan hukumannya. Memang dia, tidak salah lagi!
Di pihak lain... kok seperti bukan dia juga. Tak mungkin. Dia tak mungkin si pembunuh. Orang yang berdiri di panggung itu adalah perwujudan kepolosan. Semua langsung merasa begitu, mulai dari uskup sampai penjual limun, dari marquis sampai pembantu, dari hakim kepala sampai bocah miskin.
Papon juga demikian. Tangan kekarnya gemetar menggenggam tongkat besi. Seketika itu kedua lengannya serasa lemah, lutut goyah, dan hatinya berdebar seperti
anak kecil. Ia tak mungkin sanggup mengangkat tongkat. Tak mungkin sanggup memakainya untuk menghajar pemuda kecil tak bersalah ini.
Ia terhuyung-huyung dan terpaksa menyangga tubuh dengan tongkat besi yang sedianya dipakai untuk membunuh, agar tidak melorot berlutut.
Tak terbayangkan, Papon yang perkasa bisa sampai sedemikian. Perasaan serupa juga dirasakan oleh sepuluh ribu laki-laki dan perempuan, anak-anak dan kepala-kepala keluarga yang berada di situ. Lemas seperti seorang wanita di pelukan pesona sang kekasih.
Hati mereka dijerat perasaan kasih sayang, kelembutan dan...
Oh, demi Tuhan, cinta pada pria pembunuh bertubuh kecil itu. Tak berdaya menahan perasaan. Rasanya seperti ledakan tangis haru yang terpendam begitu lama dan tak
bisa ditahan lagi. Meledak dan meluruhkan semua benteng pertahanan.
Semangat mereka kini layaknya cairan. Jiwa dan pikiran meleleh tak bersisa kecuali sebentuk cairan.
Hati seperti melambung dan mengambang dalam diri. Mereka persembahkan hati mereka ke haribaan lelaki kecil bermantel biru panjang itu. Terserah mau diapakan. Mereka mencintainya.
Grenouille berdiri di ambang pintu kereta, selama beberapa menit, bergeming. Penjaga di sebelahnya berlutut dan terus merendah sampai ke posisi pasrah total seperti orang Timur di hadapan sultan atau Tuhan.
Bahkan dalam posisi ini pun ia masih terus merunduk dan mengkerut, seperti coba meratakan diri dengan tanah atau tenggelam di dalamnya. Ia ingin menyelam ke seberang dunia kalau bisa, atas dasar penyerahan diri sepenuhnya.
Petugas pengawal dan letnan polisi yang gagah berani dan semula bertugas menyeret terhukum ke panggung untuk diserah terimakan ke tangan algojo, tak mampu berkoordinasi.
Mereka menangis, bolak-balik memakai dan melepas topi, berlutut, berpelukan, mengepakkan tangan ke udara, memelintir tangan sendiri, kejang-kejan dan meringis seperti korban tarian St. Vitus.
Para bangsawan yang berada sedikit lebih jauh menyerah pada emosi masing-masing tanpa malu-malu. Semua bertingkah sesuai tuntutan hati.
Ada wanita yang begitu melihat Grenouille langsung berkepal tangan di pangkuan dan mendesah bahagia. Yang lain tak kuasa
menahan perasaan dan langsung pingsan.
Ada pria bangsawan yang tak berhenti bangun dan duduk dari kursi, melompat dan menggeram memegang pangkal pedang
seolah hendak mencabutnya. Tapi setiap kali dicabut selalu dimasukkan lagi sedetik kemudian.
Ada yang melempar pandangan ke langit, mengepal dan mengacungkan tangan ke udara sambil berdoa dalam diam.
Uskup Monseigneur seperti jatuh sakit. Tubuh ambruk ke depan dan membenturkan kepala ke lutut sampai topi kecilnya jatuh.
Ia tidak sakit, tapi untuk pertama kalinya ia dibalut pesona religius melihat keajaiban yang terjadi di depan mata.
Tuhan telah menurunkan malaikat-Nya dalam wujud seorang pembunuh.
Oh, menakjubkan, hal ini bisa terjadi di abad ke-18. Betapa agung Tuhan! Dan betapa kecil serta tak berartinya diri ini, yang telah lancang menurunkan kutukan-Nya padahal ia sendiri tak yakin. Semata-mata demi menenangkan masyarakat. Oh, betapa tipis iman ini!
Dan kini Tuhan telah mempersembahkan mukjizat! Oh, betapa senangnya dipermalukan seperti ini. Penghinaan yang manis. Sungguh agung menjadi seorang uskup yang dihinakan Tuhan seperti ini.
Sementara itu, massa di seberang pagar mulai bertingkah lebih liar melihat kehadiran Grenouille. Mereka yang sejak semula sudah bersimpati kini sarat berahi, dan mereka yang sejak awal mengagumi kini meledak dalam
kegembiraan meluap-luap.
Semua melihat lelaki bermantel biru itu sebagai sosok paling tampan, paling menarik, dan sempurna.
Di mata biarawati ia hadir sebagai perwujudan sang Juru Selamat. Bagi pemuja setan ia adalah sang Raja Kegelapan. Ia laksana perwujudan Prinsip Tertinggi di mata
penganut aliran Pencerahan, menjadi pangeran negeri dongeng bagi para remaja, dan sosok ideal bagi kaum pria.
Seolah Grenouille mampu melihat menembus titik terlemah masing-masing orang, mencengkeram dan membelai pusat erotis dalam diri. Seolah memiliki sepuluh ribu tangan tak terlihat dan merangsang sepuluh ribu orang yang ada di situ dengan cara yang paling di inginkan dengan penuh fantasi terliar masing-masing.
Hasilnya adalah sebuah pesta seks terbesar dalam sejarah.
Wanita‐wanita terhormat merobek pakaian, mempertontonkan dada, menjerit histeris, rebah ke tanah dengan rok terangkat tinggi. Para lelaki menyaksikan
lanskap daging ini dengan pandangan nafsu, jari gemetar membuka celana, lalu menerkam siapa saja tanpa memandang wajah. Menggeram dan bersanggama dalam posisi dan kombinasi yang paling musykil: kakek dengan perawan, penganggur dengan istri pengacara, pekerja magang dengan biarawati, jesuit dengan istri seorang freemason - semua terjadi dengan semrawut dan sesuka hati.
Udara disarati manisnya aroma keringat nafsu dan jerit serta lenguhan dari sepuluh ribu binatang manusia. Tak bedanya neraka.
Grenouille tersenyum - atau begitulah yang tampak di mata yang melihat. Ia tampak menyunggingkan senyum paling polos, penuh cinta dan menawan sekaligus amat
menggoda.
Tapi sesungguhnya bukan senyuman, tapi
seringai sinis dalam gelora kemenangan total sekaligus kebencian.
Ia, Jean-Baptiste Grenouille - yang terlahir tanpa bau badan di tempat paling busuk di seluruh jagat, di tengah sampah, kotoran, dan keburukan, dibesarkan tanpa cinta, tanpa kehangatan jiwa manusia, bertahan hidup
hanya berdasarkan kekerasan dan kekuatan kebencian, bertubuh kecil, bongkok, pincang, buruk rupa, dijauhi, sebenar-benarnya kutukan luar-dalam - ternyata mampu
membuat dunia kagum.
Bukan, bukan kagum... tapi cinta!
Menginginkannya! Mengidolakannya! Ia telah melahirkan karya besar ala Prometheus. Ia mampu bertahan dengan
kelihaian dan kelicikan, mampu memercikkan diri dengan semburat agung kedewataan. Sesuatu yang ada pada diri
setiap manusia sejak lahir tapi hanya mampu dibangkitkan oleh Grenouille.
Dan tidak hanya itu! Ia telah memercikkan
keagungan itu ke diri sendiri. Oh, ia bahkan lebih hebat dari Prometheus. Ia telah menciptakan aura yang lebih bersinar dan lebih efektif dari semua manusia yang pernah hidup sampai sekarang.
Dan ia tidak berutang pada siapa pun -
tidak pada ayah, ibu, atau Tuhan sekalipun. Ia berutang dan bersyukur hanya pada diri sendiri.
Ia adalah tuhan bagi diri sendiri, dan lebih elok dari tuhan berbau dupa dan terkurung di gereja-gereja. Seorang uskup agung berlutut di hadapannya, melenguh kesenangan.
Orang-orang kaya dan berkuasa, wanita dan pria bangsawan yang angkuh, semua menjilat mengidolakannya.
Sementara rakyat jelata - termasuk kerabat para korban, merayakan pesta seks atas nama dan demi kehormatannya. Sekali angguk saja mereka pasti sontak mengangkatnya sebagai pengganti Tuhan dan memujanya. Memuja Grenouille yang Agung.
Ya, ia memang Grenouille yang Agung! Mimpi masa lalu menjadi semakin nyata. Detik itu Grenouille merasakan kemenangan terbesar dalam hidup.
Dan takut. Ia, merasa takut karena, tak bisa menikmati saat itu sedetik pun. Sejak melangkah keluar dari kereta, ke bawah terik matahari sebagai bahan tontonan, dibungkus parfum yang membuat orang mencintainya - parfum yang telah digarapnya selama dua tahun, parfum yang seumur hidup diinginkan... seketika ia, melihat dan mencium sendiri betapa, hebatnya pengaruh yang ditimbulkan, seketika itu pula, segenap kebenciannya, pada, manusia, melonjak dan
menghambarkan rasa, kemenangan yang ada.
Membuatnya tak hanya, nelangsa, tapi juga sama, sekali tidak puas. Apa, yang selalu diimpikan - yaitu agar orang mau mencintainya - menjadi nyata bersamaan dengan kesadaran yang membuat menara pencapaian itu hancur berantakan, karena ia, tidak balik mencintai mereka. Ia, membenci dan mendendam lahir-batin.
Grenouille baru menyadari bahwa ia, tak pernah menemukan kegembiraan dalam cinta. Kegembiraan yang didapat selama ini selalu dari kebencian. Dalam kondisi membenci dan dibenci.
Namun kebenciannya pada manusia tak lagi punya gaung. Makin ia membenci mereka pada saat ini, makin mereka memujanya, karena, yang mereka rasakan hanya aura aroma samaran, parfum curian yang memang pantas dipuja.
Ia akan senang sekali kalau bisa memusnahkan manusia dari muka bumi sekarang juga, sebagaimana ia pemah
memusnahkan aroma asing dalam jiwa kelamnya sewaktu berada di gua.
Ia ingin mereka sadar betapa besar
kebenciannya pada mereka. Betapa hanya itu emosi yang ia punya. Ia ingin mereka balik membenci dan membunuhnya seperti niat semula.
Untuk pertama kalinya, Grenouille ingin sekali mengosongkan diri. Untuk pertama kali ia, ingin seperti orang lain dan benar‐benar mengosongkan diri.
Pemujaan dan kecintaan mereka akan ia balikkan dengan kebencian. Sekali saja, ia ingin ditangkap dalam kondisi asli. Dalam. wujud Grenouille yang sebenarnya.
Agar manusia balik merespons dengan jawaban yang sama. Kebencian.
Tapi tentu saja tidak begitu. Khususnya hari ini, karena, ia sedang terbungkus oleh parfum terbaik di dunia. Tak ada, wajah di balik topeng itu. Hanya, seonggok daging
tanpa bau. Mendadak perutnya sakit. Kabut itu naik lagi.
Rasanya seperti kembali ke gua di pegunungan. Dalam mimpi, dalam tidur, dalam hati, dalam fantasi - seketika itu kabut meninggi. Kabut mengerikan dari bau badannya sendiri yang tak bisa ia cium karena memang tidak berbau.
Dan persis seperti dulu ia, kembali dicengkeram ketakutan dan teror tanpa batas. Begitu mencekik. Tapi kali ini berbeda. Kali ini bukan mimpi, bukan tidur, tapi nyata! Ia juga tidak sedang berbaring sendirian dalam gua, tapi berdiri di tempat umum, di hadapan sepuluh ribu manusia.
Kali ini tidak ada jeritan yang membangunkan dan membebaskan. Tak bisa melarikan diri ke realitas karena yang dipijaknya kini adalah dunia nyata. Saat ini mimpinya jadi kenyataan.
Seperti keinginannya.
Kabut mencekik terus membumbung dari kekelaman jiwa Grenouille, sementara di sekelilingnya, orang-orang melenguh dalam pesta dan luapan orgasme. Seseorang
berlari ke arahnya. Ia melompat dari barisan terdepan panggung VIP dengan begitu gegas sampai topi hitamnya
jatuh. Dan kini, dengan mantel hitam terkembang, orang itu melangkah melewati padang manusia, seperti burung gagak atau malaikat pencabut nyawa. Orang itu ternyata, Richis.
Ia akan membunuhku, pikir Grenouille. Satu-satunya manusia yang tak akan membiarkan diri tertipu oleh topeng aroma. Tak mungkin rela ditipu sedemikian.
Aroma putrinya, menempel di tubuhku, mengkhianati bagai darah teracun. Ia pasti mengenali dan membunuhku. Harus!
Grenouille membentangkan tangan menerima kehadiran sang malaikat pencabut nyawa. Ia sudah bisa merasakan tusukan pisau atau ujung pedang menggelitik dada, pisau
yang bergerak menembus perisai aroma dan kabut menyesakkan ini, terus sampai ke jantungnya yang beku - akhirnya, akhirnya ada sesuatu yang terasakan di hati ini
selain diri sendiri! Grenouille menyambut ajal dengan suka cita.
Yang terjadi kemudian, Richis menghambur ke pelukan Grenouille. Bukan sebagai malaikat pencabut nyawa atau dengan dendam seorang ayah, tapi sebagai Richis yang tergugu menangis sesenggukan.
Memeluk dan bergelayutan begitu kuat seperti tak ada pijakan lain di tengah laut
kebahagiaan. Tak ada tusukan pisau yang membebaskan atau tebasan pedang. Tidak pula sumpah serapah atau jerit kebencian.
Hanya pipi sang jutawan Richis yang basah oleh air mata, bergelayut dengan bibir gemetar merengek,
“Maafkan aku, anakku... putriku tersayang... maafkan aku!”
Dus, segala yang ada di dalam. diri Grenouille memutih sementara dunia luar di sekelilingnya menghitam kelam.
Perangkap kabut menebal sampai mencair seperti susu mendidih. Menggenangi dan memaksakan bobot luar biasa ke relung jiwa.
Tak ada jalan melarikan diri. Demi Tuhan, ia
ingin kabur.. tapi kabur ke mana? Ia ingin meledak. Lari dari cekikan diri sendiri. Akhirnya ia luruh dan hilang kesadaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar