Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 49

EMPAT PULUH SEMBILAN
 

EKSEKUSI  DIJADWALKAN  pada  jam  lima  sore. Gelombang penonton pertama sudah bersiap sejak pagi dan mengamankan  tempat  untuk  menonton.  Membawa  kursi dan  bangku,  bantal,  makanan,  anggur,  dan  anak-anak. 

Seperti  piknik  saja.  Siang  hari,  penduduk  desa  sekitar mengalir dari segala arah. Parade penonton dengan segera menjadi  begitu  padat.  Pendatang  baru  terpaksa  berkemah 
sepanjang  jalan  ke  Grenoble  dan  di  taman-taman  teras serta  lapangan  di  ujung  areal  tempat  hukuman.  

Para pedagang  segera  kebanjiran  uang.  Orang-orang  makan, minum,  bersenandung,  dan  berkeliaran  seperti  di  pasar malam. 

Dengan  cepat jumlah  pengunjung meledak  sampai seputuh  ribu  orang.  Melebihi  jumlah  pengunjung  saat penobatan  Ratu  Yasmin  atau  peristiwa  apa  pun  yang pernah terjadi di Grasse. 

Mereka membanjir berdiri sampai ke  lereng  jalan,  bergelantungan  di  pohon, bergerombol  di tembok  dan  atap  bangunan.  Hanya lokasi  di  pusat keramaian itu ‐ sepetak areal yang terlindungi pagar kokoh - yang  sepi  dari  manusia  dan  terbuka  untuk  panggung 
penonton VIP serta panggung eksekusi. Makin lama tampak makin  kecil,  seperti  mainan  atau  panggung  sandiwara boneka.  

Sebuah  jalan  setapak  dibiarkan  lengang,  dari tempat  hukuman  ke  gerbang  Course  dan  terus  ke  jalan Droite. 

Beberapa  menit  lewat  pukul  tiga,  Monsieur  Papon  dan para  asistennya  muncul.  Tepuk  tangan  membahana  bagai guntur.  Mereka  membawa  dua  bilah  balok  membentuk 
salib  St.  Andrew  ke  tempat  hukuman,  memasangnya  ke ketinggian  tertentu  dengan  memasak  dasarnya  ke  sebuah 
lubang  khusus.  

Seorang  ahli  kayu  memaku  posisinya  agar 
kokoh.  Setiap  gerakan  disambut  tepuk  tangan  penonton. Dan  ketika  Papon  maju  membawa  tongkat  besi  ke  arah salib,  mengukur  langkah,  mengayunkan  pukulan  imajiner beberapa kali, sorak-sorai massa langsung meledak. 

Jam  empat,  panggung  VIP  mulai  terisi.  Banyak  sosok bangsawan apik yang bisa dikagumi; pria-pria kaya dengan pesuruh  dan  tingkah  gemulai,  wanita-wanita  cantik,  topi-
topi  besar,  serta  pakaian  berkilauan.  

Seluruh  bangsawan dari  kota dan desa hadir di  situ. Para anggota dewan  kota hadir  bergerombol,  dipimpin  dua  orang  anggota.  
Richis mengenakan pakaian hitam, dengan stoking hitam dan topi yang  juga  hitam.  

Menyusul  kemudian  aparat  pengadilan, 
dipimpin oleh hakim tinggi. Terakhir, uskup datang dengan tandu,  berkilauan  dalam  jubah  ungu  dan  topi  kecil berwarna hijau. 

Semua yang bertopi langsung menurunkan 
topi  mereka.  Ini  benar-benar  mengejutkan.  Lalu  tak  adaapa-apa selama sepuluh menit.  

Para  tuan dan nyonya sudah duduk di  tempat  masing-masing, rakyat jelata menunggu dengan tak  sabar. Semua menunggu. 

Papon dan para asistennya berdiri di panggung eksekusi seolah mereka juga dipaku tak bergerak. Matahari nanar  menyemburkan  sinar  kuning  di  atas  Estérel.  Dari lembah  Grasse  bertiup  angin  hangat,  bersama  sedikit  aroma jeruk. Atmosfer sangat hangat dan tenang. 

Akhirnya,  saat  ketegangan  seolah  tak  bisa  ditahan  lagi tanpa  ledakan  suara  protes,  kegilaan,  atau  ribut-ribut, mereka mendengar  suara  derap  kuda  dan  derak  roda kereta. 

Dari  arah  jalan  Droite,  datang  sebuah  kereta  ditarik sepasang  kuda.  Itu  kereta  sang  letnan  polisi.  Berjalan melewati gerbang kota dan muncul lagi di jalan sempit yang 
menuju  ke  panggung.  

Letnan  polisi  berkeras  untuk  tampil 
seperti  ini,  karena  kalau  tidak  ia  tak  bisa  menjamin keselamatan  si  terhukum.  Ini  memang  tidak  biasa.  Jarak dari  penjara  ke  lokasi  hukuman  tak  sampai  lima  menit. 
Kalau si terhukum tak mampu menempuh jarak itu dengan jalan kaki, biasanya ia akan dibawa dengan kereta keledai.

Kini  seorang  terhukum  dibawa  ke  lokasi  hukumannya sendiri dalam  sebuah  kereta  tertutup  nan  anggun,  dengan sais dan pengawalan lengkap - sungguh luar biasa. 

Tak  ada  tanda-tanda  keributan  atau  ketidakpuasan  di antara  penonton.  Malah  sebaliknya.  Publik  senang  bahwa setidaknya ada yang terjadi. Mereka malah memuji gagasan untuk  memakai  kereta  tertutup.  

Persis  seperti  penonton drama  yang  senang melihat  pertunjukan  disajikan  dengan cara  baru.  Penjahat  paling mengerikan  sudah  sepantasnya diperlakukan  lebih  dari  biasa.  

Tak  bisa  diseret  ke  tempat eksekusi  dengan  rantai  seperti  pencuri ayam lalu  dibunuh 
begitu  saja.  Tak  ada  sensasinya  kalau  begitu.  Tapi  kalau digotong  paksa  untuk  dipaku  ke  salib  setelah  badannya remuk, nah itu baru kreatif. 

Kereta  berhenti  di  tengah-tengah,  di  antara  panggung eksekusi  dan  panggung  VIP.  Seorang  penjaga  melompat turun, membuka pintu, dan menurunkan tangga penuntun. 

Letnan  polisi  juga  turun,  menyusul  petugas  lain,  dan akhirnya  Grenouille.  Ia mengenakan  mantel  biru  panjang, kemeja putih, stoking sutra putih, dan sepatu hitam bertali. Ia tidak diikat atau diseret. 

Grenouille beranjak  turun dari kereta seperti manusia bebas. Lalu  keajaiban  terjadi. Atau menyerupai  keajaiban, atau setidaknya  sesuatu  yang  sulit  dijelaskan  - begitu  dahsyat sampai semua yang menyaksikan tak punya kata lain yang lebih tepat selain keajaiban. Itu pun kalau mereka sanggup 
membuka  aib,  karena  setelah  peristiwa  ini,  tak  akan  ada yang sudi mengungkitnya. 

Sepuluh  ribu  penonton  pelaksanaan  eksekusi  sore  hari itu mendadak merasa  tak percaya, dan yakin bahwa orang bermantel biru yang baru turun dari kereta itu tak mungkin
si pembunuh.  

Bukannya  mereka  ragu  atau  tak  mengenali. 
Orang  itu  adalah  orang  yang  sama  dengan  yang  mereka lihat  beberapa  hari lalu  di jendela  kantor  pengadilan. 

Saat itu,  kalau  saja  mampu  terpegang  pasti  bakal  habis  tersate dengan  kebencian  membeludak.  Ini  memang  orang  yang dua  hari lalu  dijatuhi  vonis  hukuman mati dengan  disiksa, berdasarkan  bukti-bukti  tak  terbantahkan  dan pengakuannya sendiri. Orang yang sama yang telah dinanti pelaksanaan hukumannya. Memang dia, tidak salah lagi!

Di pihak lain... kok seperti bukan dia juga. Tak mungkin. Dia  tak  mungkin  si  pembunuh.  Orang  yang  berdiri  di panggung  itu  adalah  perwujudan  kepolosan.  Semua langsung  merasa  begitu,  mulai  dari  uskup  sampai  penjual limun,  dari  marquis  sampai pembantu,  dari  hakim  kepala sampai bocah miskin. 

Papon  juga  demikian.  Tangan  kekarnya  gemetar menggenggam  tongkat  besi.  Seketika  itu  kedua  lengannya serasa  lemah,  lutut  goyah,  dan  hatinya  berdebar  seperti 
anak  kecil.  Ia  tak  mungkin  sanggup  mengangkat  tongkat. Tak  mungkin  sanggup  memakainya  untuk  menghajar pemuda  kecil  tak  bersalah  ini.  

Ia  terhuyung-huyung  dan terpaksa  menyangga  tubuh  dengan  tongkat  besi  yang sedianya  dipakai  untuk  membunuh,  agar  tidak  melorot berlutut.  

Tak  terbayangkan,  Papon  yang  perkasa  bisa sampai  sedemikian.  Perasaan  serupa  juga  dirasakan  oleh sepuluh  ribu  laki-laki  dan  perempuan,  anak-anak  dan kepala-kepala  keluarga  yang  berada  di  situ.  Lemas  seperti seorang  wanita  di  pelukan  pesona  sang  kekasih.  

Hati mereka  dijerat  perasaan  kasih  sayang,  kelembutan  dan... 
Oh, demi Tuhan, cinta pada pria pembunuh bertubuh kecil itu.  Tak  berdaya  menahan  perasaan.  Rasanya  seperti ledakan  tangis  haru  yang  terpendam  begitu  lama  dan  tak 
bisa ditahan lagi. Meledak dan meluruhkan semua benteng pertahanan.  

Semangat  mereka  kini  layaknya  cairan.  Jiwa dan  pikiran  meleleh  tak  bersisa  kecuali  sebentuk  cairan. 

Hati  seperti  melambung  dan  mengambang  dalam  diri. Mereka persembahkan hati mereka ke haribaan lelaki kecil bermantel  biru  panjang itu.  Terserah  mau  diapakan. Mereka mencintainya. 

Grenouille  berdiri  di  ambang  pintu  kereta,  selama beberapa menit, bergeming. Penjaga di sebelahnya berlutut dan  terus merendah sampai  ke  posisi  pasrah  total  seperti orang Timur di hadapan sultan atau Tuhan. 

Bahkan dalam posisi  ini  pun  ia  masih  terus  merunduk  dan  mengkerut, seperti  coba meratakan  diri  dengan  tanah  atau  tenggelam di  dalamnya.  Ia  ingin  menyelam  ke  seberang  dunia  kalau bisa,  atas  dasar  penyerahan  diri  sepenuhnya.  

Petugas pengawal dan letnan  polisi yang  gagah berani dan semula bertugas menyeret  terhukum ke  panggung untuk diserah terimakan ke tangan algojo, tak mampu berkoordinasi. 

Mereka menangis, bolak-balik memakai dan melepas topi,  berlutut, berpelukan, mengepakkan tangan ke udara, memelintir tangan sendiri, kejang-kejan dan meringis seperti korban tarian St. Vitus.

Para  bangsawan  yang  berada  sedikit  lebih  jauh menyerah  pada  emosi  masing-masing  tanpa  malu-malu. Semua  bertingkah  sesuai  tuntutan  hati.  

Ada  wanita  yang begitu  melihat  Grenouille  langsung  berkepal  tangan  di pangkuan  dan  mendesah  bahagia.  Yang  lain  tak  kuasa 
menahan  perasaan  dan  langsung  pingsan.  

Ada  pria bangsawan yang tak berhenti bangun dan duduk dari kursi, melompat  dan  menggeram  memegang  pangkal  pedang 
seolah hendak mencabutnya. Tapi setiap kali dicabut selalu dimasukkan  lagi  sedetik  kemudian.  

Ada  yang  melempar pandangan ke langit, mengepal dan mengacungkan  tangan ke  udara  sambil  berdoa  dalam  diam.  

Uskup  Monseigneur seperti  jatuh  sakit.  Tubuh  ambruk  ke  depan  dan membenturkan kepala ke lutut sampai  topi kecilnya jatuh. 

Ia tidak sakit, tapi untuk pertama kalinya ia dibalut pesona religius  melihat  keajaiban  yang  terjadi  di  depan  mata. 

Tuhan  telah  menurunkan  malaikat-Nya  dalam  wujud seorang pembunuh. 

Oh, menakjubkan, hal ini bisa terjadi di abad ke-18. Betapa agung Tuhan! Dan betapa kecil serta tak berartinya  diri  ini,  yang  telah  lancang  menurunkan kutukan-Nya  padahal  ia  sendiri  tak  yakin.  Semata-mata demi menenangkan masyarakat. Oh, betapa tipis iman  ini! 

Dan  kini  Tuhan  telah  mempersembahkan  mukjizat!  Oh, betapa  senangnya dipermalukan  seperti  ini.  Penghinaan yang  manis.  Sungguh  agung  menjadi  seorang  uskup  yang dihinakan Tuhan seperti ini. 

Sementara  itu,  massa  di  seberang  pagar  mulai bertingkah lebih liar melihat kehadiran Grenouille. Mereka yang sejak semula sudah bersimpati kini sarat berahi, dan mereka  yang  sejak  awal  mengagumi  kini  meledak  dalam 
kegembiraan meluap-luap. 

Semua melihat lelaki bermantel biru itu sebagai  sosok  paling  tampan,  paling menarik,  dan sempurna. 

Di mata  biarawati ia  hadir  sebagai  perwujudan sang  Juru  Selamat.  Bagi pemuja  setan  ia  adalah  sang  Raja Kegelapan. Ia laksana perwujudan Prinsip Tertinggi di mata 
penganut  aliran  Pencerahan,  menjadi  pangeran  negeri dongeng bagi para remaja, dan sosok ideal bagi kaum pria. 

Seolah Grenouille mampu melihat menembus titik terlemah masing-masing orang, mencengkeram dan membelai pusat erotis dalam diri. Seolah memiliki sepuluh  ribu  tangan  tak terlihat  dan  merangsang  sepuluh  ribu  orang  yang  ada  di situ  dengan  cara yang paling di inginkan dengan penuh fantasi terliar masing-masing. 

Hasilnya  adalah  sebuah  pesta  seks  terbesar  dalam sejarah. 

Wanita‐wanita  terhormat  merobek  pakaian, mempertontonkan  dada,  menjerit  histeris,  rebah  ke  tanah dengan  rok  terangkat  tinggi.  Para  lelaki  menyaksikan 
lanskap  daging  ini  dengan  pandangan  nafsu,  jari  gemetar membuka  celana,  lalu  menerkam  siapa  saja  tanpa memandang  wajah.  Menggeram  dan  bersanggama  dalam posisi  dan  kombinasi  yang  paling  musykil:  kakek  dengan perawan,  penganggur  dengan  istri  pengacara,  pekerja magang dengan biarawati, jesuit dengan istri seorang freemason - semua  terjadi  dengan  semrawut  dan  sesuka  hati. 

Udara  disarati  manisnya  aroma  keringat  nafsu  dan  jerit serta  lenguhan  dari  sepuluh  ribu  binatang  manusia.  Tak bedanya neraka.

Grenouille  tersenyum  - atau  begitulah  yang  tampak  di mata  yang  melihat.  Ia  tampak  menyunggingkan  senyum paling  polos, penuh  cinta  dan  menawan  sekaligus  amat 
menggoda.  

Tapi  sesungguhnya  bukan  senyuman,  tapi 
seringai  sinis  dalam  gelora  kemenangan  total  sekaligus kebencian. 

Ia, Jean-Baptiste Grenouille - yang terlahir tanpa bau  badan  di  tempat  paling  busuk  di  seluruh  jagat,  di tengah sampah, kotoran, dan keburukan, dibesarkan tanpa cinta,  tanpa  kehangatan  jiwa  manusia,  bertahan  hidup 
hanya  berdasarkan  kekerasan  dan  kekuatan  kebencian, bertubuh  kecil,  bongkok,  pincang,  buruk  rupa,  dijauhi, sebenar-benarnya kutukan  luar-dalam  - ternyata  mampu 
membuat  dunia  kagum.  

Bukan,  bukan  kagum...  tapi  cinta! 
Menginginkannya!  Mengidolakannya!  Ia  telah  melahirkan karya  besar  ala  Prometheus.  Ia  mampu  bertahan  dengan 
kelihaian  dan  kelicikan, mampu  memercikkan  diri  dengan semburat  agung  kedewataan.  Sesuatu  yang  ada  pada  diri 
setiap manusia sejak lahir tapi hanya mampu dibangkitkan oleh Grenouille. 

Dan tidak hanya itu! Ia telah memercikkan 
keagungan itu ke diri sendiri. Oh, ia bahkan lebih hebat dari Prometheus. Ia telah menciptakan aura yang lebih bersinar dan  lebih  efektif  dari  semua  manusia  yang  pernah  hidup sampai  sekarang.  

Dan  ia  tidak  berutang  pada  siapa  pun  - 
tidak pada ayah, ibu, atau Tuhan sekalipun. Ia berutang dan bersyukur hanya pada diri sendiri. 

Ia adalah tuhan bagi diri sendiri,  dan  lebih  elok  dari  tuhan  berbau  dupa  dan terkurung  di  gereja-gereja.  Seorang  uskup  agung  berlutut di  hadapannya,  melenguh kesenangan.  

Orang-orang  kaya dan  berkuasa,  wanita  dan  pria  bangsawan  yang  angkuh, semua menjilat mengidolakannya. 

Sementara rakyat jelata - termasuk kerabat para korban, merayakan pesta seks atas nama dan demi kehormatannya. Sekali angguk saja mereka pasti  sontak mengangkatnya  sebagai pengganti Tuhan dan memujanya. Memuja Grenouille yang Agung.

Ya, ia memang Grenouille yang Agung! Mimpi masa lalu menjadi semakin nyata.  Detik  itu  Grenouille  merasakan kemenangan terbesar  dalam hidup. 

Dan takut. Ia,  merasa  takut  karena,  tak  bisa  menikmati  saat  itu sedetik pun. Sejak melangkah keluar dari kereta, ke bawah terik matahari  sebagai  bahan  tontonan,  dibungkus  parfum yang  membuat  orang  mencintainya  - parfum  yang  telah digarapnya  selama  dua  tahun,  parfum  yang  seumur  hidup diinginkan...  seketika  ia,  melihat  dan  mencium  sendiri betapa,  hebatnya  pengaruh  yang  ditimbulkan,  seketika itu pula,  segenap  kebenciannya,  pada, manusia, melonjak  dan 
menghambarkan rasa, kemenangan yang ada. 

Membuatnya tak hanya, nelangsa, tapi juga sama, sekali tidak puas. Apa, yang selalu diimpikan - yaitu agar orang mau mencintainya - menjadi  nyata  bersamaan  dengan  kesadaran  yang membuat  menara  pencapaian  itu  hancur  berantakan, karena ia,  tidak balik mencintai mereka.  Ia, membenci dan mendendam lahir-batin. 

Grenouille baru menyadari bahwa ia,  tak  pernah  menemukan  kegembiraan  dalam  cinta. Kegembiraan yang didapat  selama ini selalu dari kebencian. Dalam kondisi membenci dan dibenci.

Namun  kebenciannya  pada  manusia  tak  lagi  punya gaung.  Makin  ia  membenci  mereka  pada  saat  ini,  makin mereka  memujanya,  karena,  yang  mereka  rasakan  hanya aura  aroma  samaran,  parfum  curian  yang memang  pantas dipuja. 

Ia akan senang sekali kalau bisa memusnahkan manusia dari  muka  bumi  sekarang  juga,  sebagaimana  ia  pemah 
memusnahkan aroma asing  dalam jiwa  kelamnya  sewaktu berada  di  gua.  

Ia  ingin  mereka  sadar  betapa  besar 
kebenciannya pada mereka. Betapa hanya itu emosi yang ia punya. Ia ingin mereka balik membenci dan membunuhnya seperti  niat  semula.  

Untuk  pertama  kalinya,  Grenouille ingin  sekali  mengosongkan  diri.  Untuk  pertama  kali  ia, ingin  seperti  orang  lain  dan  benar‐benar  mengosongkan diri.  

Pemujaan  dan  kecintaan  mereka  akan  ia  balikkan dengan  kebencian.  Sekali  saja,  ia  ingin  ditangkap  dalam kondisi  asli.  Dalam.  wujud  Grenouille  yang  sebenarnya. 

Agar manusia balik merespons dengan jawaban yang sama. Kebencian. 

Tapi  tentu saja  tidak begitu. Khususnya hari ini, karena, ia  sedang  terbungkus  oleh  parfum  terbaik  di  dunia.  Tak ada,  wajah  di  balik  topeng  itu.  Hanya,  seonggok  daging 
tanpa bau. Mendadak perutnya sakit. Kabut itu naik lagi. 

Rasanya  seperti  kembali  ke  gua  di  pegunungan.  Dalam mimpi, dalam tidur, dalam hati, dalam fantasi - seketika itu kabut  meninggi.  Kabut  mengerikan  dari  bau  badannya sendiri yang tak bisa ia cium karena memang tidak berbau. 

Dan persis seperti dulu ia, kembali dicengkeram ketakutan dan  teror  tanpa  batas.  Begitu  mencekik.  Tapi  kali  ini berbeda.  Kali ini  bukan mimpi,  bukan  tidur,  tapi  nyata!  Ia juga  tidak  sedang  berbaring  sendirian  dalam  gua,  tapi berdiri di tempat umum, di hadapan sepuluh ribu manusia. 

Kali  ini  tidak  ada  jeritan  yang  membangunkan  dan membebaskan.  Tak  bisa  melarikan  diri  ke  realitas  karena yang dipijaknya kini adalah dunia nyata. Saat ini mimpinya  jadi kenyataan. 

Seperti keinginannya. 

Kabut  mencekik  terus  membumbung  dari  kekelaman jiwa  Grenouille,  sementara  di  sekelilingnya,  orang-orang melenguh  dalam  pesta  dan  luapan  orgasme.  Seseorang 
berlari  ke  arahnya.  Ia  melompat  dari  barisan  terdepan panggung  VIP  dengan  begitu  gegas  sampai  topi  hitamnya 
jatuh. Dan kini, dengan mantel hitam terkembang, orang itu melangkah  melewati  padang  manusia,  seperti  burung gagak  atau  malaikat  pencabut  nyawa.  Orang  itu  ternyata, Richis.

Ia  akan  membunuhku,  pikir  Grenouille.  Satu-satunya manusia  yang  tak  akan membiarkan  diri  tertipu  oleh topeng aroma. Tak mungkin rela ditipu sedemikian. 

Aroma putrinya, menempel di tubuhku, mengkhianati bagai darah teracun. Ia pasti mengenali dan membunuhku. Harus! 

Grenouille membentangkan tangan menerima kehadiran sang  malaikat  pencabut  nyawa.  Ia  sudah  bisa  merasakan tusukan  pisau  atau  ujung  pedang  menggelitik  dada,  pisau 
yang  bergerak  menembus  perisai  aroma  dan  kabut menyesakkan ini,  terus  sampai  ke jantungnya  yang  beku - akhirnya,  akhirnya  ada  sesuatu  yang  terasakan  di  hati  ini 
selain diri sendiri! Grenouille menyambut ajal dengan suka cita. 

Yang  terjadi  kemudian,  Richis menghambur  ke  pelukan Grenouille.  Bukan  sebagai  malaikat  pencabut  nyawa  atau dengan  dendam  seorang  ayah,  tapi  sebagai  Richis  yang tergugu menangis sesenggukan. 

Memeluk dan bergelayutan begitu  kuat  seperti  tak  ada  pijakan  lain  di  tengah  laut 
kebahagiaan.  Tak  ada  tusukan  pisau  yang  membebaskan atau tebasan pedang. Tidak pula sumpah serapah atau jerit kebencian. 

Hanya pipi sang jutawan Richis yang basah oleh air  mata,  bergelayut  dengan  bibir  gemetar  merengek, 

“Maafkan aku, anakku... putriku tersayang... maafkan aku!” 

Dus,  segala  yang ada  di  dalam.  diri Grenouille memutih sementara  dunia  luar  di  sekelilingnya  menghitam  kelam. 

Perangkap  kabut  menebal  sampai  mencair  seperti  susu mendidih. Menggenangi dan memaksakan bobot luar biasa ke relung jiwa. 

Tak ada jalan melarikan diri. Demi Tuhan, ia 
ingin  kabur..  tapi  kabur  ke  mana?  Ia  ingin  meledak.  Lari dari  cekikan  diri  sendiri. Akhirnya  ia  luruh  dan  hilang kesadaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...