Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 38

TIGA PULUH DELAPAN


GRENOUILLE MENGHABISKAN WAKTU di tempat kerja. Pada  Druot  ia  menjelaskan  bahwa  ia  sedang  mencoba menciptakan formula kolonye baru. Padahal sesungguhnya 
ia sedang bereksperimen aroma untuk hal yang sama sekali lain.  Walau  amat  jarang  dipakai,  parfum  yang  ia  buat  di Montpellier  makin  lama  makin  menipis.  

Grenouille  harus membuat yang baru. Kali ini ia  tidak puas hanya menyalin aroma  dasar  manusia  dengan  mencampur  ramuan  begitu 
saja.  Ada  kebanggaan  baru  untuk menambahkan  setitik aroma pribadi, atau lebih.

Pertama-tama ia membuat aroma yang  mampu  membuatnya  jadi  tidak  mencolok  - aroma sehari-hari  yang  biasa-biasa  saja,  lengkap  dengan  aroma asam  keju  khas  manusia,  namun  dibuat  sedemikian  rupa 
agar  seolah  keluar  dari  pakaian  yang dikenakan.  Ini dimaksudkan  agar  ia  lebih  leluasa  bergerak  di  tengah manusia.  

Parfum  ini  cukup  mampu  menegaskan  aura 
kehadiran  melalui  penciuman,  namun  dibuat  sedemikian rupa  agar  tidak  mengganggu  hidung  orang  lain maksudnya,  tidak  begitu  menyengat  sampai  membuat orang  menoleh  mencari  sumber  bau.  

Dengan  parfum  ini, Grenouille  seolah  tidak  benar-benar  hadir  namun ditegaskan  dengan  aura  bersahaja.  Cocok  dipakai  di lingkungan rumah Arnulfi atau saat harus berjalan ke kota. 

Kadang  aroma  ini  ada  efek  jeleknya  juga,  seperti  saat disuruh  Druot  atau  atas  keinginannya  sendiri  keluar membeli ekstrak kesturi. Saking “bersahajanya” parfum itu 
sampai ia nyaris “tidak tampak” alias tidak diacuhkan oleh penjaga  toko,  tidak dilayani, diberi barang yang salah atau terlupakan  ketika  sedang  menunggu  untuk  dilayani. 

Grenouille  lantas  membuat  parfum  yang  lebih  harum  dan sedikit berbau keringat - katakanlah, aromanya lebih punya karakter agar kehadirannya lebih  tegas dan orang percaya bahwa  ia  memang  sedang  buru-buru  serta  ada  urusan penting. 

Ia juga sukses mengimitasi aura aroma Druot, yang dipelajari dengan meresapi secarik linen berminyak dengan sedikit  telur  bebek  segar  dan  fermentasi  tepung  terigu. Biasa  dipakai Grenouille  saat  sedang  butuh menarik perhatian.

Grenouille  juga  menciptakan  parfum  khusus  untuk menarik  simpati  dan  terbukti  efektif  di  kalangan  wanita paruh baya dan nenek‐nenek. Berbau susu encer dan kayu lembut  segar.  

Efek  yang  tercipta  bahkan  saat  keluyuran 
dengan  wajah  berantakan  tak  bercukur,  cemberut,  dan terbungkus  mantel  tebal  - adalah  sosok  seorang  anak malang  bermantel  lusuh  yang  butuh  pertolongan.  

Sekali saja  menangkap  aromanya,  wanita-wanita  tua  yang bersimpati  akan  memenuhi  kantung  mantel  Grenouille dengan kacang dan buah pir kering karena ia tampak begitu 
kelaparan  dan  tak  berdaya.  

Pernah  seorang  istri  tukang daging  membiarkannya  memilih  daging  dan  tulang  mana saja secara gratis karena aroma Grenouille menyentuh rasa keibuannya. 

Grenouille  menurut, lalu pulang dan mencerna  daging itu dalam rendaman alkohol untuk digunakan sebagai  komponen  utama  dari  aroma  berikut yang akan dibuat,  khusus jika ia  sedang ingin menghindar dan  sendirian.  Aura  aromanya  memuakkan,  seperti  bau mulut seorang pelacur  tua jalanan saat baru bangun  tidur. 

Efeknya  sangat  efektif,  sampai  Druot  yang  pemberani  dan perkasa itu langsung menghindar dan keluar mencari udara segar  - tentunya  tanpa  benar‐benar  menyadari  apa  yang membuatnya  menyingkir.  

Beberapa  parfum  tersebut  di sekitar  kabin  juga  cukup  ampuh  mengusir  pengganggu, 
baik manusia maupun binatang. 

Berbekal perlindungan beragam aroma ini, yang ia ganti sesuka  hati  seperti  orang  bersalin  pakaian  sesuai  situasi, Grenouille  mampu  bergerak.  leluasa  di  tengah  manusia sambil  tetap  menyembunyikan  wajah  aslinya.  

Kegiatan utama difokuskan pada proses pembuatan aroma. Ia belum lupa  pada  si  gadis  kecil  di  balik  tembok,  dan  sisa  waktu 
tinggal  setahun  lebih  sedikit.  Secara  sistematis  ia merencanakan  bagaimana  mengasah  “senjata',  memoles teknik, dan menyempumakan metode. 

Dus, ia mulai dari percobaan  yang dulu gagal dilakukan di tempat Baldini, yaitu mengambil sari pati aroma benda-benda  mati,  seperti batu,  etal,  kaca,  kayu,  garam,  air,  dan udara.... 

Kalau  dulu  ia  gagal  total  menggunakan  proses penyulingan  yang masih  kasar,  kini ia  sukses,  berkat  daya serap  luar  biasa  dari  teknik  lemak.  

Grenouille  mengambil sebuah pegangan pintu dari kuningan karena ia suka aroma dingin,  apak,  dan  keliatan  benda  itu.  Jadilah  ia  bungkus dengan  lemak  daging  sapi  selama  beberapa  hari.  Dan ternyata  berhasil.  Saat  lemak  dibuka  dan  diperiksa, memang  mengandung  aroma  pegangan  pintu,  meski  amat samar.  

Pun  setelah  direndam  dalam  alkohol,  aromanya tidak  hilang.  Sangat  tipis,  jauh,  dan  terbayangi  oleh  uap alkohol,  tapi  tetap  mampu  diendus  hidung  Grenouille. 

Taruhlah tak ada manusia lain yang bisa mencium ini selain Grenouille, tapi setidaknya secara prinsip Grenouille sudah jauh lebih  berhasil  ketimbang dulu.  

Kalau ia  punya  seribu buah  pegangan  pintu  dan  membungkusnya  dalam  buntel lemak  sapi  selama  seribu  hari,  pasti  bisa  menghasilkan beberapa  tetes  parfum  beraroma  pegangan  pintu  dari kuningan yang cukup kuat untuk diendus manusia normal. 

Menghadirkan  ilusi kehadiran  benda  itu  di depan  hidung  mereka. 

Grenouille  juga  sukses  bereksperimen  dengan  debu kapur sebuah batu yang ia temukan di semak taman zaitun di depan kabin.  Ia rendam dan ekstraksi menjadi sejumlah kecil  pomade  rasa  batu.  Ia  suka  aroma  mikroskopisnya. 

Lantas  dikombinasikan  dengan  aroma  lain  dari  berbagai objek  di  sekitar  kabin  dan  dengan  susah-payah  membuat miniatur  aroma  taman  belukar  zaitun  di  belakang  biara Franciscan. 

Setelah  disimpan  dalam  sebuah flacon  kecil, ia mampu  membangkitkan  taman  belukar  itu  kapan  saja  ia mau.  

Semua ini adalah adikarya aroma dari bermacam pernik remeh  yang  tak  bisa  dinikmati  atau  dikagumi  siapa  pun selain  Grenouille.  

Sebuah  jagat  kesempurnaan  yang membuat  Grenouille  berani  mencatat  bahwa  inilah  saat-saat  paling membahagiakan  dalam  hidup.  Kini  tiba  saat ia melangkah  ke  lanskap  yang  lebih  luas.  Waktunya 
mengoleksi objek hidup. 

Grenouille  mengawali  langkah  dengan  berburu  lalat, belatung,  tikus,  dan  kucing  kecil,  lalu  merendam  mereka dalam  minyak  lemak  hangat.  Malam  hari  ia  merayap  ke 
kandang binatang, menyampirkan kain berlapis minyak ke tubuh  sapi,  kambing,  dan  babi  selama  beberapa  jam,  atau membungkus  dengan  perban  berminyak.  Lain  waktu  ia 
menyelinap  ke  kandang  domba  dan  diam-diam  mencukur seekor  biri-biri.  Wol  yang  didapat  lalu  direndam  dalam alkohol  rektifikasi.  

Awalnya  tidak  terlalu  membuahkan hasil.  Tidak  seperti  benda mati,  binatang  punya  kebiasaan buruk  untuk  protes  setiap  kali  dipaksa  menyerahkan aroma.  Babi  suka  merobek  perban  dengan  menggosokkan 
badan  ke  tiang  pancang;  domba mengembik  tiap  kali didekati tengah malam dengan pisau; sapi dengan bebalnya mengguncang  badan  menjatuhkan  kain  lengket  yang menempel di punggung. Bahkan serangga juga ikut-ikutan. 
Beberapa  ekor  kumbang  suka  buang  air  saat  dikerjai; lalu tikus  - mungkin  karena  takut  - juga  buang  air  di  lapisan kain  berminyak  yang  sedianya  mau  dijadikan  dasar pomade  ala  tikus.  

Tidak  seperti  bebungaan,  rata-rata 
binatang yang coba direndam selalu sungkan menyerahkan aroma dengan sukarela. Kalau tidak berisik, pasti meronta-ronta  menjelang  mati.  

Menolak  pasrah,  mencakar  dan menendang,  membuat  keringat  keluar  dan asamnya merusak  lapisan  minyak.  

Mana  bisa  bekerja  dengan  baik kalau  begini.  Objek  harus  lebih  dulu  ditenangkan.  Dan harus  seketika,  agar  mereka  tak  sempat  panik  atau berontak. Satu-satunya jalan adalah: dibunuh. 

Metode ini dicoba pertama kali pada seekor anak anjing. Ia  pancing  agar  terpisah  dari  induknya  dengan  sepotong daging, dari rumah jagal sampai ke laboratorium. 

Begitu si anjing  kegirangan  menikmati  daging  di  tangan  kiri Grenouille,  segera  Grenouille  hajar  bagian  belakang kepalanya dengan sebilah kayu di  tangan kanan. 

Kematian datang  begitu  tiba-tiba  sampai  wajah  si  anjing  malang masih  memerikan  kegirangan  di  mata  dan  mulut.  Pun setelah  dimasukkan  ke  ruang  peresapan.  Aroma  yang keluar  sempurna  berbau  anjing,  tanpa  kontaminasi keringat.  

Tapi  ia  tetap  harus  hati-hati  karena  bangkai 
organik terkenal cepat rusak. Jadilah Grenouille menunggui korban selama  dua belas jam sampai detik pertama hidungnya menangkap  bau  bangkai  itu  - bukannya  tak 
suka,  tapi  ini  harus  segera  dibereskan  kalau  tak  mau pekerjaan  jadi  sia-sia.  

Proses  segera  dihentikan,  bangkai dibuang  dan  minyak  hasil  serapan  dituang  ke  belanga untuk  dibilas  hati-hati.  Alkohol  hasil  sulingan  dituang sedikit, lalu ia mengisi sebotol kecil dengan beberapa tetes perasan  minyak.  

Parfum  yang  dihasilkan  sangat  jelas 
beraroma  anjing-basah,  segar,  berlemak,  dan  agak  tajam. 

Benar-benar  seperti  anjing.  Iseng,  ia  mengetes  parfum  itu ke induk mendiang anak anjing tadi di rumah jagal. Kontan si induk anjing langsung menggonggong kegirangan dan tak mau  melepas  moncongnya  dari  botol  parfum.  

Grenouille menyegel botol rapat-rapat, menyimpannya di kantong cukup lama, dan membawanya  ke mana‐mana  sebagai suvenir kesuksesan. Saat pertama kali  berhasil merampas jiwa aromatik dari makhluk hidup. 

Selanjutnya,  dengan  amat  bertahap  dan  hati-hati  ia mulai  beralih  ke  manusia.  Semula  ia  menyebar  jaring pengintaian agak luas karena belum tahu benar bagaimana 
melumpuhkan  korban  baru  ini.  

Metode  perburuan  dijajal dari jarak jauh. 
Berbekal  penyamaran  dengan  parfum,  ia  membaur  di tengah-tengah  pengunjung  Quatre  Dauphins  dan  diam-diam  menyelipkan  sehelai  kain  berlapis  minyak  lemak  di bawah  bangku,  meja,  serta  sudut-sudut  tersembunyi. 

Beberapa  hari  kemudian  ia  ambil  kembali  untuk  dites. Kendati  membaur  bersama  rupa-rupa  aroma  dapur,  asap rokok,  dan  anggur,  setitik  aroma  manusia  tetap  bisa 
dikenali.  Namun  ini  masih  sangat  kabur  dan  tersamar. 

Tidak  terasa  personal.  Aura  massal  sejenis  yang  lebih murni  dan  halus  ia  peroleh  dari  katedral.  Grenouille menggantung  kain eksperimentaInya  pada  malam  tanggal 24 Desember di bawah bangku gereja dan diambil lagi pada tanggal  26  setelah  melalui  lebih  dari  tujuh  misa  berturut turut. 

Bauran aroma yang menyembur dari resapan kain ini tajam berbau keringat dubur, darah menstruasi, keringat di belakang  lutut,  dan  keringat  kepalan  tangan,  bercampur dengan  bau  napas  ribuan  pelantun  himne  gereja  dan ocehan  paduan  suara  Ave  Maria,  plus  induksi  dupa  khas gereja.  

Konsentratnya  membentuk  awan  menyesakkan yang tak terlihat, tapi tak pelak lagi memang bau manusia. 

Aroma  individual  pertama  ia  peroleh  dari  Rumah  Sakit de la Charité.  Ia  berhasil  mencuri  seprai  bekas membungkus  mayat  seorang  ahli  pembuat  karung  selama 
dua  bulan. Sedianya  seprai  itu  hendak  dibakar  karena  si mayat  mati  oleh  sakit  paru-paru. Hasilnya sungguh menakutkan. 

Si pembuat  karung seolah bangkit dari kematian. Menguap naik bersama larutan alkohol, mengambang  di  langit-langit.  Sedikit  terkontaminasi  oleh metode penyulingan dan penyakit, tapi sangat bisa dikenali sebagai  personifikasi  aroma  seseorang.  

Grenouille  bisa membayangkan si mayat bertubuh kecil, usia tiga puluhan, rambut  pirang,  hidung  pesek,  tangan  dan  kaki  pendek-pendek,  kaki  rusak  dan  rata,  kemaluan  bengkak,  gampang marah  dan bau  mulutnya  apak.  Secara  aroma pun  tak bisa dibilang tampan. Tak pantas disimpan lama-lama. 

Kendati  demikian,  sepanjang  malam.  Grenouille membiarkan  aroma  itu  berkibaran  di  kabin  sambil diendusnya berkali-kali. 

Senang dan puas dengan kekuatan yang  kini  dipegang  atas  aura  manusia  lain.  Setelah  puas, botol parfumnya ia buang ke tong sampah.

Grenouille mencoba satu eksperimen lagi musim dingin itu. Ia membayar satu franc pada seorang wanita pemulung bisu-tuli  untuk  mengenakan  beberapa  set  kain  gombal 
berlapis  minyak  lemak  yang  langsung  menempel  ke  kulit.

Dari  sini  ia  menemukan  bahwa  lemak  panggul  daging domba,  babi,  dan  sapi  bila  dicairkan  berkali-kali  dengan kombinasi rasio 2:3:5 plus sedikit minyak perawan, sangat 
baik menyerap aroma manusia. 

Grenouille  menyudahi  sampai  di  situ.  Ia  menahan  diri untuk  tidak  menguasai  dan  memproses  sepenuhnya seorang  manusia  hidup.  Setidaknya  jangan  dulu.  Risiko 
masih  terlalu  besar  dan  tak  ada  pengetahuan  baru  yang bisa  diperoleh.  

Yang  penting  sekarang  ia  telah  menguasai 
teknik  yang  dibutuhkan  untuk  merampas  aroma  manusia. Tak perlu pembuktian lebih jauh lagi. 

Lagi  pula,  aroma  manusia  sama  sekali  tidak  penting.  Ia lebih  dari  sanggup membuat  imitasinya  kalau  mau.  Yang 
diimpikannya  adalah  aroma  manusia  tertentu.  Manusia-manusia  langka  yang  mampu  menumbuhkan  rasa  cinta. Inilah korban sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...