Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 23

DUA PULUH TIGA 


KETIKA  RUMAH  KELUARGA  Giuseppe  Baldini  runtuh, Grenouille  sudah  dalam  perjalanan menuju  Orleans.  Paris, kota kejam nan berkabut itu, telah ia tinggalkan nun jauh di belakang.  Setiap  langkah  membuat  udara  makin  jernih, bersih,  dan  murni.  Juga  makin  tipis.  Tak  ada  lagi  badai perubahan  ribuan  aroma  setiap  detik.  

Di  sini  hanya  ada beberapa  aroma  khas;  bau jalan  berpasir,  padang  rumput, bau  tanah,  tanaman,  air..  membentang  sepanjang  daerah pedesaan alam debur arus panjang, bergulung perlahan, mereda perlahan, nyaris tanpa jeda. 

Bagi  Grenouille,  kesederhanaan  ini  menjadi 
pembebasan. Alunan aroma surga dunia membelai hidung.

Untuk  pertama  kali  dalam  hidup  ia  tak  harus mempersiapkan  diri  menangkap  aroma  baru  yang  tak terduga  atau  bahkan  bersifat  menyerang.  Pun  tak  harus 
kehilangan  aroma  yang  menyenangkan - di  setiap  tarikan napas. 

Untuk pertama kali ia hampir bisa bernapas dengan begitu  lega  dan  bebas,  padahal  biasanya  ia  harus  selalu waspada menangkap  aroma.  Disebut  'hampir'  karena  kita pasti  mafhum  bahwa  tak  ada  yang  lewat  begitu  saja  di depan  hidung  Grenouille.  

Ia  sudah  sangat  terbiasa memasang  sikap  waspada  dan  cemas  pada  apa  pun  yang 
datang dari luar dan masuk ke indra penciuman. Sepanjang hayat,  bahkan  pada  detik-detik  ia  merasakan  setitik kepuasan,  kenyamanan,  dan  barangkali  juga  kebahagiaan, ia  lebih  memilih  membuang  napas  ketimbang  menghirup.

Persis  seperti ketika ia memulai  hidup  - tidak  dengan menghirup udara penuh  kelegaan, tapi dengan jerit  tangis membekukan  darah. 

Terlepas  dari  syarat  Baldini  yang  ia terima - yang ia pandang semata-mata sebagai pembatasan konstitusional  - yang  jelas,  makin  jauh  ia  dari  Paris, perasaan  semakin  nyaman, semakin  mudah  bernapas, makin  ringan  melangkah,  sampai  kadang mampu menegakkan  tubuh  kala  berjalan  sehingga  tampak  seperti seorang  ahli  kalau  dilihat  dari  jauh.  Seperti  manusia normal. 

Yang  paling  melegakan  adalah  keadaan  yang  jauh  dari siapa  pun.  Paris  adalah  tempat  berpenduduk  terpadat dibanding  kota  mana  pun  di  dunia.  Enam  sampai  tujuh ratus  ribu  orang  tinggal  di  Paris.  

Setiap  kelokan  jalan  dan gang-gangnya  selalu  terisi  orang.  Rumah-rumah  sesak 
dijejali  penghuni  dari  ruang  bawah  tanah  sampai  loteng. 

Nyaris  tak  ada  sudut  di  Paris  yang  tidak  dipenuhi  oleh manusia.  Tidak  ada  batu  atau  sejengkal  tanah  pun  yang tidak sumpek oleh bau manusia. 

Makin  jauh dari  kungkungan  manusia, makin  jelas  bagi Grenouille bahwa selama delapan belas tahun ini emisi bau manusialah  yang  telah  menekannya  seperti  udara  saat badai  petir.  

Semula  ia  mengira  hanya  ingin  menjauh  dari dunia secara umum,  tapi  ternyata bukan dunia,  tapi manusia  penghuninya  yang  ingin  ia  jauhi.  Kau  bisa  hidup nyaman di dunia ini kalau tidak ada manusia lain. 

Di  hari  ketiga  perjalanannya,  Grenouille  mulai mengendus  bau  kota Orleans, jauh  sebelum ada  tanda apa pun  yang menyatakan  bahwa  ia  sudah  dekat  kota. 

Hidungnya  mencium  kondensasi  aroma  manusia  di  udara dan segera memutuskan untuk tidak langsung masuk kota. 

Ia  masih  ingin  merasakan  kebebasan  penciuman  ini  lebih lama lagi sebelum tercemar oleh iklim manusia. 

Grenouille mengambil  jalan  memutar  sangat  jauh,  tiba  di  Loire  at Cháteaueuf  dan  menyeberang  di  sungai  Sully.  Bekal sosisnya hanya  bertahan sejauh ini, Ia beli lagi satu, setelah itu pergi meninggalkan sungai untuk masuk lebih jauh.

Grenouille  menghindari  tidak  hanya  kota,  tapi  juga pedesaan. Nyaris mabuk oleh udara yang makin jernih dan jauh  dari bau manusia.  

Permukiman  atau  peternakan terasing  hanya  dimasuki  kalau  butuh  bekal  baru  saja, membeli  roti  dan  langsung  menghilang  lagi  ke  hutan. 

Setelah  beberapa  minggu  ia  bahkan  tak  tahan  menemui petualang dan pejalan kaki yang kadang ditemui. Tak kuat mencium  konsentrat  aroma  yang  pasti  merebak  bersama sosok  petani  yang  muncul  saat  menata  jerami  di  padang rumput.  

Dengan  gugup  ia  menghindari  setiap  rombongan biri-biri  - bukan  lantaran  bau  kambing  atau  domba,  tapi bau  gembalanya  yang  ia  tak  tahan.  

Dusun  dan perkampungan  ia  lewati  begitu  saja  dan  lebih  suka mengambil jalan memutar setiap kali ia menangkap aroma 
penunggang kuda dari jarak beberapa jam jauhnya. 

Bukan karena takut dihadang dan ditanyai surat-surat atau diseret masuk wajib militer (ia bahkan tak tahu bahwa sedang ada perang),  tapi karena ia jijik terhadap bau penunggangnya.

Dus,  rencana  semula  untuk  mengambil  rute  terpendek menuju Grasse berubah menjadi sebuah perjalanan bebas - seperti  yang  kerap  terjadi  setiap  kali ia punya niat  atau rencana. 

Grenouille tak  ingin  lagi pergi ke suatu tempat, hanya ingin menjauh. Jauh dari manusia.

Akhirnya,  malam  hari  jadi  waktu  favoritnya  untuk bertualang.  Siang  hari  ia  merangsek  ke  bawah  belukar, tidur  di  bawah  semak‐semak,  di  cekungan  akar  pohon besar,  di  tempat  yang  paling  tidak  bisa  dijangkau, 
menggulung  badan  seperti  binatang  dengan  selimut tertarik  sampai  kepala,  menekan  hidung  di  lekukan  siku agar  mimpi  tidak  terganggu  oleh  bau  apa  pun.  

Grenouille bangun setiap senja, mengendus-endus ke segala arah, dan hanya saat ia  yakin bahwa petani  terakhir  telah pergi dari ladang dan petualang paling berani telah bermalam, hanya saat cahaya pupus dan jalan-jalan perkampungan sepi oleh manusia,  Grenouille  berani  keluar  dan  melanjutkan perjalanan. 


Ia tak butuh penerangan untuk melihat. Bahkan saat  masih  berani  jalan  siang  hari ia  kerap menutup  mata dan  berjalan mengikuti  petunjuk  hidung. Bentangan  tanah 
lapang  dan  penglihatan  membuat  matanya  sakit.  Ia  hanya suka  pada  cahaya  bulan.  

Cahaya  bulan  tidak  mengenal warna  dan  menyisiri  kontur  benda-benda dengan sangat 
lembut. Menyelimuti  bumi  dengan  warna  kelabu  suram, menahan  semut  makhluk  hidup  agar  tetap  di  sarangnya sepanjang malam. 

Dunia seperti disepuh timah, di mana tak satu  pun  yang  bergerak  kecuali  angin  yang  kadang  jatuh memayung  seperti  bayang-bayang  di  atas  rimba  kelabu. 

Tak ada sesuatu pun yang hidup kecuali aroma ibu bumi - satu-satunya  dunia  yang  ia terima,  karena  sangat  mirip dengan dunia dalam jiwanya sendiri. 

Grenouille berjalan ke arah selatan. Kira-kira saja karena ia  tidak  mengandalkan  kompas  magnet  tapi  kompas hidung. Membuatnya berjalan memutari setiap kota, setiap desa,  setiap  permukiman.  

Berminggu-minggu  ia  tidak bertemu  satu manusia  pun,  sampai  nyaris  yakin  bahwa ia 
memang  hidup  sendirian  di  dunia  ini, dalam  banjir kegelapan  atau  cahaya  bulan  nan  beku.  Tapi  ternyata hidungnya masih bisa salah. 

Manusia juga hadir saat malam. Bahkan di daerah paling terpencil  sekalipun.

Bersembunyi  seperti  tikus  masuk sarang  kalau  ingin  tidur.  Bumi  belum  bersih  dari  mereka karena  dalam  tidur  pun  mereka  masih  mengeluarkan  bau yang merembes  keluar dari celah  retakan rumah ke udara 
terbuka, meracuni alam yang  tak mampu berbuat apa-apa. 

Makin  Grenouille  terbiasa  dengan  udara  jernih,  makin sensitif pula ia terhadap bau manusia, yang sialnya kadang suka  mengapung  entah  dari  mana  saat  malam.  

Sama memuakkannya  dengan  bau  kotoran  binatang  dan  nyaris menutupi aroma  tempat  tinggal manusia itu sendiri. Kalau sudah  begini,  Grenouille  lebih  memilih  untuk  kabur  lebih jauh.  

Sensitivitas  dan  ketajaman  penciumannya  makin meningkat,  pun  dengan  bau  yang  makin  jarang  tercium. 

Demikianlah,  hidung  ajaibnya  membawa  Grenouille  ke daerah yang makin terpencil dan jauh dari manusia. Seolah tertarik  kutub  magnet  yang  mendorongnya  untuk  tak tersentuh siapa pun.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...