Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 43

EMPAT PULUH TIGA


DENGAN LEGA IA MELOMPAT dari ranjang, menarik bel pelayan, dan menyuruh pelayannya yang terkantuk-kantuk mengepak  pakaian  dan  perbekalan  karena  pagi ini juga ia hendak  pergi  ke Grenoble  bersama  Laure. 

Setelah  salin pakaian ia bergegas membangunkan pelayan lain. Tengah malam itu, rumah di jalan Droite  tampak begitu sibuk.  Tungku  menyala  di  dapur;  pembantu-pembantu wanita berkelebat di koridor; para pelayan bergegas turun naik  tangga; kunci-kunci gudang loteng bergemerencing di saku  pengurus  rumah  tangga;  obor-obor  menyala  di pekarangan;  pengurus  kuda  sibuk menyiapkan  kuda tunggang  dan keledai untuk membawa  perbekalan - sibuk memasang  tali  kekang,  sadel,  mondar-mandir  memuati 
barang. 

Orang sampai nyaris yakin bahwa pasukan Austro-Sardinian  akan  datang,  menjarah  dan  membakar  seperti yang  terjadi  pada  tahun  1746,  dan  bahwa  pemilik  rumah sedang  bersiap  kabur  dalam  kepanikan.  

Padahal  sama sekali  tidak!  Pemilik  rumah  sedang  duduk  di  ruang  kerja dengan  pose  seagung  panglima  perang  Prancis.  

Secangkir cafe au lait terseduh nikmat seraya memberi perintah pada bawahan.  Ia  juga  menulis  surat  untuk  wali  kota,  anggota-
pertama  dewan  kota,  sekretaris,  pengacara,  bankirnya  di Marseille, kepada   Baron   de  Bouyon  dan partner-partner bisnisnya. 

Sekitar jam enam pagi ia selesai dengan  urusan korespondensi dan memberi semua  perintah yang dibutuhkan untuk  melaksanakan rencana.  Tak  lupa mengantongi  dua  pucuk  pistol,  mengencangkan  sabuk uang,  dan  mengunci laci  meja.  Setelah  itu  ia  beranjak 
membangunkan Laure.

Jam delapan pagi rombongan kecil itu berangkat. Richis berkuda  di  depan.  Tampak  gagah  dengan  bordiran  emas, mantel burgundi di balik mantel berkuda warna hitam dan topi  hitam  berhias  bulu  unggas.  Ia  diikuti  Laure,  berkuda dengan  gaun  lebih  sederhana  namun  memancarkan kecantikan yang membuat orang-orang sepanjang jalan dan di  jendela  menatap  sendu.  

Ditingkahi  suara  “aah...”  dan “ooh...”  sementara  para  lelaki  menurunkan  topi  - seolah demi  sang  anggota  dewan,  tapi  sesungguhnya  demi  Laure sang  gadis  anggun.  Tak  jauh  di  belakang  menyusul  si 
pengasuh dan rombongan pelayan dengan dua kuda beban. 

Buruknya jalan menuju  Grenoble membuat  perjalanan  tak mungkin  ditempuh  dengan  kereta.  Ujung  parade  diisi selusin  keledai  beban  di  bawah  pengawasan  dua  orang 
tukang  kuda.  

Tiba  di  gerbang  du  Cours,  para  penjaga 
menawarkan  pengawalan  sampai  keledai  terakhir  lewat dari  gerbang.  Anak-anak  berlarian  di  belakang  sampai beberapa lama, melambaikan tangan pada rombongan yang 
berjalan  perlahan  menyusuri jalan  curam  dan  berliku  ke arah pegunungan. 

Kepergian  Antoine  Richis  dan  putrinya  meninggalkan kesan  aneh  namun  dalam  pada  warga  Grasse.  Rasanya seperti  baru  saja menyaksikan  prosesi  pengorbanan  kuno. 

Segera  tersebar  berita  bahwa  Richis  sedang  menuju Grenoble - kota  tempat  si  pembunuh  gadis  kini  bernaung. Orang-orang  tak  bisa  menebak  apa  maksudnya.  Apakah 
Richis  menunjukkan  keberanian  atau  kebodohan  dengan mengabaikan  ancaman  kriminal?  Apakah  ia  sedang menantang  atau  berdamai  dengan  Tuhan?  Ada  pertanda 
samar  bahwa  inilah  terakhir  kali  mereka  melihat  Laure Richis, si gadis cantik berambut merah. 

Kecurigaan  ini  bisa  jadi  benar,  tapi  dasar  anggapannya palsu.  Richis  sama  sekali  tidak  sedang  menuju  Grenoble. Pawai  kepergiannya  hanya  taktik  pengalih perhatian.  Satu setengah mil di barat laut Grasse, dekat desa Saint-Vallier, ia  memerintahkan  rombongannya  untuk  berhenti.  

Kepada pelayan  ia  menyerahkan  surat-surat  legal  dan  berkas-berkas  pengiriman  barang  lalu  menyuruhnya  membawa rombongan  keledai dan tukang  kuda melanjutkan perjalanan ke Grenoble. Ia  sendiri  malah  balik  arah  bersama  sang  putri  dan pengasuhnya  ke  arah  Cabris.  

Di  situ  mereka  beristirahat siang  hari  dan  setelah  itu  langsung  melewati  pegunungan 
Tannerort  ke  arah  selatan.  Jalan  yang  ditempuh  sangat sukar, tapi mampu memutari Grasse dan lembahnya dalam jalur memutar sangat luas dan tiba di tepi pantai sore hari 
tanpa dikenali. 

Hari berikutnya, menurut rencana Richis, ia akan  menyeberang  naik  feri  bersama  Laure  ke  Iles  de Lérins  - sebuah  pulau  kecil  tempat  biara  Saint-Honorat yang  terkenal  berbenteng  dan  dijaga  ketat.  

Pengurusnya memang  sudah  tua-tua,  tapi  terdiri  dari  pendeta-pendeta mumpuni  yang  dikenal  baik  oleh  Richis  karena  selama 
bertahun-tahun  ia  selalu  membeli  dan  menjual  kembali seluruh  hasil  produksi  biara  berupa  anggur  eukaliptils, kacang pirtus, dart minyak cemara. 

Biara Saint-Honorat ini - selain penjara Cháteau d’If dan penjara negara di pulau Ile Sainte-Marguerite  - merupakan  tempat  paling  aman  di seluruh  Provence.  

Richis  berniat  menitipkan  putrinya  di situ untuk sementara. Ia sendiri harus segera kembali. Kali ini  memutari  Grasse  ke  arah  timur  lewat  Antibes  dan Cagnes,  lalu  tiba  di  Verice  sore  itu  juga.  

Ia  telah memerintahkan  sekretarisnya  untuk  langsung  ke  sana menyiapkan  perjanjian  dengan  Baron  de  Bouyon  tentang pernikahan anak-anak mereka, Laure dan Alphonse. 

Richis akan  memberi  tawaran  yang  tak  bisa  ditolak  sang  Baron berupa pembayaran seluruh utang berjumlah 40 ribu livre, maskawin berupa tanah bernilai setara berikut pembagian kepemilikan  atas  tanah  tersebut,  sebuah  penggilingan minyak dekat Maganose, dan penghasilan  tahunan sebesar 
30  ribu  livre  untuk  kedua  mempelai.  

Richis  sendiri mengajukan syarat agar perkawinan ini harus berlangsung dalam  tempo  sepuluh  hari  ke  depan,  seluruh  kontrak diteken pada hari jadi  dan kedua mempelai kelak tinggal di Vence. 

Richis  bukannya  tak  sadar  bahwa  dalam  ketergesa-gesaan  ini  ia  telah  menawar  harga  terlalu  tinggi  untuk mahar penyatuan kedua keluarga. Bisa lebih murah kalau ia mau  menunggu  lebih  lama.  Sang  Baron  bakal  mengemis padanya  agar  diizinkan meningkatkan  status  sosial  putri seorang  pedagang  grosir  borjuis  melalui  perkawinan 
dengan  putranya.  

Dengan  demikian,  tak  hanya  keelokan Laure  yang  akan  tumbuh,  tapi  juga  kekayaan  Richis  dan kondisi  keuangan  Bouyon.  

Tapi  peduli  amat!  Lawan sesungguhnya dalam bisnis kali ini bukan sang Baron,  tapi 
si  pembunuh  misterius.  Dialah  pesaing  yang  bisnisnya wajib  dirusak.  Seorang  wanita  menikah  yang  tak  lagi perawan,  apalagi  kalau  hamil,  tak  akan  cocok  lagi  untuk masuk ke galeri keindahannya. 

Puncak potongan mosaik ini justru akan merusak keindahan yang lain. Dengan kata lain, Laure tak akan lagi menarik minat si pembunuh dan semua usahanya  akan  sia-sia.  Richis  ingin  menikmati  kekalahan 
itu!  Ia  berniat  menyelenggarakan  pesta  pernikahan  di Grasse,  lengkap  dengan  segala  kemegahan  dan  terbuka untuk umum. 

Pun bila ia  tak mengenal sendiri seperti apa 
wajah  saingannya itu, ia  tetap akan mencicipi  kesenangan pribadi  dengan  menganggap  bahwa  si  pembunuh  pasti hadir  di  antara  pengunjung  dan  terpaksa melihat  objek 
mimpinya dirampas di depan hidung. 

Rencana  telah  disusun  rapi,  dan  sekali  lagi  kita  harus mengagumi  ketajaman  insting  Richis  yang  nyaris mendekati  kenyataan.  Perkawinan  Laure  Richis  dengan putra  Baron  memang  akan  menjadi  pukulan  berat  bagi  si pembunuh  kora  Grasse.  

Tapi  rencana  ini  belum sepenuhnya  terlaksana.  Richis  belum  menyelamatkan 
putrinya  dengan  perkawinan.  Ia  belum  menyeberang  dan menitipkan  putrinya  di  biara  Saint‐Honorat.  Tiga penunggang  kuda  itu  - Richis,  Laure,  dan  pengasuhnya  - masih  harus  melewati  pegunungan  Tanneron  yang  tak ramah. 

Kadang jalan begitu buruk sampai mereka terpaksa turun  dari  kuda.  Sungguh memperlambat  perjalanan.  Sore hari mereka berharap bisa mencapai laut dekat La Napoule, sebuah kota kecil di sebelah barat Cannes.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...