EMPAT PULUH TIGA
DENGAN LEGA IA MELOMPAT dari ranjang, menarik bel pelayan, dan menyuruh pelayannya yang terkantuk-kantuk mengepak pakaian dan perbekalan karena pagi ini juga ia hendak pergi ke Grenoble bersama Laure.
Setelah salin pakaian ia bergegas membangunkan pelayan lain. Tengah malam itu, rumah di jalan Droite tampak begitu sibuk. Tungku menyala di dapur; pembantu-pembantu wanita berkelebat di koridor; para pelayan bergegas turun naik tangga; kunci-kunci gudang loteng bergemerencing di saku pengurus rumah tangga; obor-obor menyala di pekarangan; pengurus kuda sibuk menyiapkan kuda tunggang dan keledai untuk membawa perbekalan - sibuk memasang tali kekang, sadel, mondar-mandir memuati
barang.
Orang sampai nyaris yakin bahwa pasukan Austro-Sardinian akan datang, menjarah dan membakar seperti yang terjadi pada tahun 1746, dan bahwa pemilik rumah sedang bersiap kabur dalam kepanikan.
Padahal sama sekali tidak! Pemilik rumah sedang duduk di ruang kerja dengan pose seagung panglima perang Prancis.
Secangkir cafe au lait terseduh nikmat seraya memberi perintah pada bawahan. Ia juga menulis surat untuk wali kota, anggota-
pertama dewan kota, sekretaris, pengacara, bankirnya di Marseille, kepada Baron de Bouyon dan partner-partner bisnisnya.
Sekitar jam enam pagi ia selesai dengan urusan korespondensi dan memberi semua perintah yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana. Tak lupa mengantongi dua pucuk pistol, mengencangkan sabuk uang, dan mengunci laci meja. Setelah itu ia beranjak
membangunkan Laure.
Jam delapan pagi rombongan kecil itu berangkat. Richis berkuda di depan. Tampak gagah dengan bordiran emas, mantel burgundi di balik mantel berkuda warna hitam dan topi hitam berhias bulu unggas. Ia diikuti Laure, berkuda dengan gaun lebih sederhana namun memancarkan kecantikan yang membuat orang-orang sepanjang jalan dan di jendela menatap sendu.
Ditingkahi suara “aah...” dan “ooh...” sementara para lelaki menurunkan topi - seolah demi sang anggota dewan, tapi sesungguhnya demi Laure sang gadis anggun. Tak jauh di belakang menyusul si
pengasuh dan rombongan pelayan dengan dua kuda beban.
Buruknya jalan menuju Grenoble membuat perjalanan tak mungkin ditempuh dengan kereta. Ujung parade diisi selusin keledai beban di bawah pengawasan dua orang
tukang kuda.
Tiba di gerbang du Cours, para penjaga
menawarkan pengawalan sampai keledai terakhir lewat dari gerbang. Anak-anak berlarian di belakang sampai beberapa lama, melambaikan tangan pada rombongan yang
berjalan perlahan menyusuri jalan curam dan berliku ke arah pegunungan.
Kepergian Antoine Richis dan putrinya meninggalkan kesan aneh namun dalam pada warga Grasse. Rasanya seperti baru saja menyaksikan prosesi pengorbanan kuno.
Segera tersebar berita bahwa Richis sedang menuju Grenoble - kota tempat si pembunuh gadis kini bernaung. Orang-orang tak bisa menebak apa maksudnya. Apakah
Richis menunjukkan keberanian atau kebodohan dengan mengabaikan ancaman kriminal? Apakah ia sedang menantang atau berdamai dengan Tuhan? Ada pertanda
samar bahwa inilah terakhir kali mereka melihat Laure Richis, si gadis cantik berambut merah.
Kecurigaan ini bisa jadi benar, tapi dasar anggapannya palsu. Richis sama sekali tidak sedang menuju Grenoble. Pawai kepergiannya hanya taktik pengalih perhatian. Satu setengah mil di barat laut Grasse, dekat desa Saint-Vallier, ia memerintahkan rombongannya untuk berhenti.
Kepada pelayan ia menyerahkan surat-surat legal dan berkas-berkas pengiriman barang lalu menyuruhnya membawa rombongan keledai dan tukang kuda melanjutkan perjalanan ke Grenoble. Ia sendiri malah balik arah bersama sang putri dan pengasuhnya ke arah Cabris.
Di situ mereka beristirahat siang hari dan setelah itu langsung melewati pegunungan
Tannerort ke arah selatan. Jalan yang ditempuh sangat sukar, tapi mampu memutari Grasse dan lembahnya dalam jalur memutar sangat luas dan tiba di tepi pantai sore hari
tanpa dikenali.
Hari berikutnya, menurut rencana Richis, ia akan menyeberang naik feri bersama Laure ke Iles de Lérins - sebuah pulau kecil tempat biara Saint-Honorat yang terkenal berbenteng dan dijaga ketat.
Pengurusnya memang sudah tua-tua, tapi terdiri dari pendeta-pendeta mumpuni yang dikenal baik oleh Richis karena selama
bertahun-tahun ia selalu membeli dan menjual kembali seluruh hasil produksi biara berupa anggur eukaliptils, kacang pirtus, dart minyak cemara.
Biara Saint-Honorat ini - selain penjara Cháteau d’If dan penjara negara di pulau Ile Sainte-Marguerite - merupakan tempat paling aman di seluruh Provence.
Richis berniat menitipkan putrinya di situ untuk sementara. Ia sendiri harus segera kembali. Kali ini memutari Grasse ke arah timur lewat Antibes dan Cagnes, lalu tiba di Verice sore itu juga.
Ia telah memerintahkan sekretarisnya untuk langsung ke sana menyiapkan perjanjian dengan Baron de Bouyon tentang pernikahan anak-anak mereka, Laure dan Alphonse.
Richis akan memberi tawaran yang tak bisa ditolak sang Baron berupa pembayaran seluruh utang berjumlah 40 ribu livre, maskawin berupa tanah bernilai setara berikut pembagian kepemilikan atas tanah tersebut, sebuah penggilingan minyak dekat Maganose, dan penghasilan tahunan sebesar
30 ribu livre untuk kedua mempelai.
Richis sendiri mengajukan syarat agar perkawinan ini harus berlangsung dalam tempo sepuluh hari ke depan, seluruh kontrak diteken pada hari jadi dan kedua mempelai kelak tinggal di Vence.
Richis bukannya tak sadar bahwa dalam ketergesa-gesaan ini ia telah menawar harga terlalu tinggi untuk mahar penyatuan kedua keluarga. Bisa lebih murah kalau ia mau menunggu lebih lama. Sang Baron bakal mengemis padanya agar diizinkan meningkatkan status sosial putri seorang pedagang grosir borjuis melalui perkawinan
dengan putranya.
Dengan demikian, tak hanya keelokan Laure yang akan tumbuh, tapi juga kekayaan Richis dan kondisi keuangan Bouyon.
Tapi peduli amat! Lawan sesungguhnya dalam bisnis kali ini bukan sang Baron, tapi
si pembunuh misterius. Dialah pesaing yang bisnisnya wajib dirusak. Seorang wanita menikah yang tak lagi perawan, apalagi kalau hamil, tak akan cocok lagi untuk masuk ke galeri keindahannya.
Puncak potongan mosaik ini justru akan merusak keindahan yang lain. Dengan kata lain, Laure tak akan lagi menarik minat si pembunuh dan semua usahanya akan sia-sia. Richis ingin menikmati kekalahan
itu! Ia berniat menyelenggarakan pesta pernikahan di Grasse, lengkap dengan segala kemegahan dan terbuka untuk umum.
Pun bila ia tak mengenal sendiri seperti apa
wajah saingannya itu, ia tetap akan mencicipi kesenangan pribadi dengan menganggap bahwa si pembunuh pasti hadir di antara pengunjung dan terpaksa melihat objek
mimpinya dirampas di depan hidung.
Rencana telah disusun rapi, dan sekali lagi kita harus mengagumi ketajaman insting Richis yang nyaris mendekati kenyataan. Perkawinan Laure Richis dengan putra Baron memang akan menjadi pukulan berat bagi si pembunuh kora Grasse.
Tapi rencana ini belum sepenuhnya terlaksana. Richis belum menyelamatkan
putrinya dengan perkawinan. Ia belum menyeberang dan menitipkan putrinya di biara Saint‐Honorat. Tiga penunggang kuda itu - Richis, Laure, dan pengasuhnya - masih harus melewati pegunungan Tanneron yang tak ramah.
Kadang jalan begitu buruk sampai mereka terpaksa turun dari kuda. Sungguh memperlambat perjalanan. Sore hari mereka berharap bisa mencapai laut dekat La Napoule, sebuah kota kecil di sebelah barat Cannes.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar