Senin, 02 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 7

TUJUH


RASANYA  SEPERTI  HIDUP  di  tengah padang  utopia. Perkampungan di sekitar Saint-Jacques de la Boucherie dan Saint-Eustache  serasa  taman  surga.  Di  pinggiran  jalan sempit antara  jalan  Saint-Dennis  dan  jalan  Saint-Martin, orang-orang  tinggal  dalam  rumah  yang  berdempet  rapat satu sama lain, setinggi lima sampai enam lantai, membuat 
orang  sulit  menatap  langit.  

Udara di permukaan tanah membentuk kanal-kanal lembap yang sarat dengan bekuan aroma gabungan dari aroma manusia  dan  binatang, air dan batu, abu  dan kulit,  sabun  dan  roti  segar  serta  telur yang  direbus  dalam  air  cuka,  bau  mie  dan  kuningan  yang digosok,  bau  daun,  bir  dan  air  mata,  juga  bau  lemak  dan rumput  basah  serta  kering.  

Ribuan  aroma  membentuk bubur  tak  terlihat  menyesaki  selokan,  jarang  membubung menguap melewati atap dan tak pernah berasal dari dalam tanah. Penghuninya  tak  lagi  menganggap  aneh  bubur aroma ini. 

Sebagian berasal dari badan mereka sendiri dan mereka  sudah  sangat  terbiasa.  Lagi  pula,  ini  juga  udara yang  mereka  hirup  sehari-hari seperti  baju  yang  sudah dipakai  sedemikian  lama  sampai  tak  lagi  tercium  baunya atau  terasa  menempel  di  kulit.  

Tapi ini  tentu saja merupakan pengalaman  pertama  bagi Grenouille. Ia  tidak mengendusi  sekaligus,  tapi  ia  pilah pilah  secara  analitis 
menjadi  bank  data  aroma  satu  demi  satu  dalam  ingatan terpisah.  Hidung  ajaibnya  lalu  mengurai  setiap  gumpalan uap dan aroma menjadi satu untaian terpadu yang tak bisa diuntai  lebih  jauh  lagi.  Seluruh  proses  ini  memberi kesenangan luar biasa. 

Sering  kali ia  hanya  berdiri  diam,  bersandar  di  dinding atau  berjongkok  di  sudut  dengan  mata  tertutup,  mulut setengah  terbuka  dan  hidung  terkembang  lebar.  Tenang-tenang  ia  menunggu  setiap  arus  aroma  yang  datang.  

Saat angin  mengantar  aroma  ke  arahnya,  ia  akan  memburu sampai  dapat.  Kadang ia hanya membaui  satu  aroma  saja, dihirupnya  dalam-dalam  untuk  disimpan  baik-baik  dalam ingatan. 

Kadang  ia  mencium  aroma  yang  pernah  dikenal atau variasi dari aroma itu, kadang aroma yang sama sekali baru dan belum pernah tercium atau “terlihat” sebelumnya, misalnya aroma kain sutra cetak, wangi teh liar, aroma kain brokat  bersulam  benang  perak,  aroma  gabus  penyumbat 
sebuah botol anggur tua, dan aroma sisir yang terbuat dari tempurung  kura-kura.  

Grenouille  terus  berburu  mencari berbagai  aroma  asing.  Ia  memburu  dengan kecintaan  dan kesabaran  seorang pemancing  untuk  disimpan  baik-baik dalam ingatan.

Setelah kenyang menghirup bubur aroma jalanan ia akan pergi ke daerah yang lebih segar, di mana aroma lebih tipis dan  berbaur  menyebar  bersama  angin  - persis  seperti parfum. 

Misalnya seperti saat ia pergi ke pasar Les Halles, di mana aroma siang hari terus bertahan sampai sore. Tak terlihat dan tipis-tipis, seolah para penjual masih membaur dalam  keramaian,  seolah keranjang-keranjang  dagangan mereka  masih  di  situ  dan  penuh  dengan  sayuran  serta telur,  atau  tong‐tong  sarat  anggur  dan  cuka,  kantong-kantong  berisi  rempah, kentang,  dan  tepung,  peti-peti dengan  paku  dan  sekrupnya,  meja  jagal,  meja  yang  sarat 
gulungan  pakaian,  piring  dan  sol  sepatu,  serta  ratusan macam  barang  lain  yang  dijual  di  situ  selama  siang  hari.

Kesibukan  dan  keramaian  yang  terjadi,  sampai  sekecil-kecilnya,  masih  terekam  di  udara.  Grenouille  “melihat” semua  ini dengan  hidung.  

Ia  membaui  dengan  ketepatan melebihi  normalnya  orang  melihat  dengan  mata.  Persepsi indranya  berdasarkan  fakta  dan  karena  itu  berada  di tataran lebih tinggi katakanlah, ia mampu untuk langsung “melihat” esensi dan roh dari apa yang telah terjadi, dalam kondisi murni dan tak terganggu oleh peristiwa sehari-hari pada saat  itu,  seperti  suara,  pandangan,  atau  tekanan 
manusia lain yang membuatnya muak. 

Di saat lain ia akan pergi ke tempat pemenggalan ibunya dulu.  Tempat  bernama  de  Gréve  di  mana  tanjungnya menjorok  ke  sungai  seperti  lidah  raksasa.  Di  sini  kapal-
kapal berlabuh, ditarik atau ditambat ke tonggak sepanjang tanjung,  dengan  sebaran  aroma  batu  bara,  butiran  padi, rumput kering, dan tali lembap. 

Dari arah barat, melewati jalur  tunggal  yang memotong ke  arah  kota  melalui  sungai, datang  embusan  angin  besar yang membawa aroma pedesaan - aroma padang rumput di 
sekitar Neuilly, aroma hutan di jalur antara Saint-Germain dan  Versailles,  bahkan  aroma  kota‐kota  nun  jauh  di  sana seperti  Rouen  atau  Caen,  dan  tak  jarang  juga  aroma  laut. 

Aroma  laut  tercium  seperti  sebuah pelayaran  dengan ombak  berisi  campuran  antara  air,  garam,  dan  dingin matahari.  Laut  memiliki  aroma  sederhana  tapi  sekaligus 
juga  unik  dan  begitu  kaya.  Sedemikian  kaya  sampai Grenouille  ragu  apakah  benar  pilahan  aromanya  terdiri atas  ikan,  garam,  air,  ganggang,  udara  segar,  dan sebagainya. Ia lebih suka membaui aroma laut sebagai satu kesatuan.  

Grenouille  sangat  menyukai  aroma  laut  sampai ingin  suatu hari  nanti  meraup sendiri  sepuasnya  sampai mabuk tentunya  dalam  kondisi  yang  murni  dan  belum tercemar.

Kelak,  saat  ia  mendengar  dari  cerita‐cerita tentang  betapa  luasnya laut  itu  dan  betapa  kau  bisa melayarinya dengan  kapal  selama  berhari-hari  tanpa bertemu  daratan,  dengan  gairah  menggebu Grenouille 
membayangkan  dirinya  duduk  di  atas  tiang  kapal, sepuasnya  meluncur  di  tengah samudra  aroma  lautan.  Ia yakin  bahwa yang  tercium  nanti  bukan  hanya  sekedar aroma,  tapi  napas‐napas  sebenar-benarnya  yang  menjadi akhir  dari  segala  aroma.  

Betapa  senangnya  jika  bisa membaur  lepas  dalam  napas  itu.  Tapi  ini  akan  tetap  jadi 
impian bagi Grenouille, yang saat itu tengah berdiri di tepi sungai de Gréve, dalam lantunan ajeg sisa-sisa sepoi angin laut  yang  bisa  ia  endusi.  Grenouille  tak  akan  pernah melihat  laut.  Laut  yang  sebenarnya-samudra  luas  yang terbentang jauh di barat, dan tak akan pernah bisa melebur dengan aromanya. 

Jadilah  ia  kembali  dengan  tekun  mengendusi  jalanan antara Saint‐Eustache dan Hotel de Ville sampai ia mampu mencari  jalan  sendiri  dalam  kegelapan  sekalipun. 

Grenouille  memutuskan  untuk  memperluas  daerah perburuan.  Pertama  ke  arah  barat  di  sekitar  pinggiran Saint-Honore, lalu  keluar  sepanjang jalan Saint-Antoine  ke arah Bastille, dan akhirnya menyeberang sungai ke daerah Sorbonne  dan  pinggiran  Saint Germain,  tempat  tinggal orang-orang  kaya.  

Gerbang‐gerbang  besi  rumah  mereka 
mengembuskan  aroma  pakaian  kulit  dan  bedak  rambut palsu,  sementara  tembok-tembok  tinggi  mengembuskan aroma  taman  yang  terdiri  dari  sapu,  bunga  mawar,  dan 
pagar  tanaman  yang  baru  dipotong  rapi.  

Di  sini  pula Grenouille  pertama kali mencium  aroma  parfum  secara lateral: aroma lavender atau mawar yang menyarati air-air mancur di  taman saat acara pesta.  Ia juga mencium aroma parfum  yang  lebih  kompleks  dan  mahal - larutan  aroma kesturi yang dicampur dengan minyak neroli dan tuberosa, bunga jonquil, melati, atau kayu manis. Semua dicatat baik-baik  dalam  ingatan.  

Didaftar  satu  per  satu  seperti  ketika orang  mendadak  membaui  aroma  tak  sedap  dan  lantas penasaran ingin tahu sumbernya - meski tanpa kekaguman. 

Grenouille  tentu  saja  sadar  bahwa  tujuan  parfum  adalah untuk  menciptakan  efek  memabukkan  dan  memancing minat  serta  perhatian.  Ia  juga  mengenali  nilai  masing‐
masing  aroma  yang  menyusun  parfum  tersebut.  

Namun kalau  mau  jujur,  aroma-aroma  itu  terasa  agak  kasar  dan membosankan ‐ lebih seperti diaduk asal-asalan ketimbang diracik.  

Grenouille  yakin  bisa  membuat  sendiri  aroma yang sama sekali berbeda kalau diberikan kesempatan memelajari  dan mengolah ramuan dasarnya.

Ia  tahu  bahwa  sebagian  besar  ramuan  tersebut bersumber  dari  bebungaan  dan  kios  rempah-rempah  di pasar,  sementara  sisanya  sama  sekali  tidak  ia  kenal. 

Grenouille  menyaring  satu  per  satu,  tetap  dengan  kondisi tanpa  nama:  aroma ambergris,  kesturi,  patchouli,  kayu cendana,  aroma  minyak  perasan  buah  bergamot, aroma vetiver, aroma getah pohon, kapur barus, perasan kelopak bunga, minyak jarak.... 

Grenouille tidak mengkhususkan satu aroma pun. Tidak membedakan  berdasarkan dikotomi  'aroma  yang  enak’ dengan 'aroma yang tidak enak’. Setidaknya belum. Saat ini 
ia  sedang  ingin  melahap  saja  dengan rakus.  

Tujuan perburuan ini  semata-mata  demi meraup  segala  yang  bisa diberikan  oleh  dunia  dalam  hal  aroma  - terutama  aroma 
yang baru dikenal. Bagi Grenouille, bau keringat kuda sama berartinya  dengan  aroma  seikat  bunga mawar.  Bau  sangit tubuh  serangga  tidak  lebih  berarti  dari  aroma  sapi panggang di dapur-dapur para borjuis. 

Grenouille melahap semua  tanpa  pandang  bulu.  Semua,  segalanya,  dihirup begitu  saja.  Tak  ada  prinsip  estetika  apa  pun  di  dapur 
imajinasi  indra  penciumannya.  Di  situ  ia  senantiasa menyintesis  dan  meracik berbagai  kombinasi  aromatik. 

Bau  tak sedap diterjang juga, karena nantinya  toh dibuang lagi - seperti anak kecil dengan mainan balok, ia mencipta dan menghancurkan.  

Kreativitas  Grenouille  tak  mengenal norma.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...