TUJUH
RASANYA SEPERTI HIDUP di tengah padang utopia. Perkampungan di sekitar Saint-Jacques de la Boucherie dan Saint-Eustache serasa taman surga. Di pinggiran jalan sempit antara jalan Saint-Dennis dan jalan Saint-Martin, orang-orang tinggal dalam rumah yang berdempet rapat satu sama lain, setinggi lima sampai enam lantai, membuat
orang sulit menatap langit.
Udara di permukaan tanah membentuk kanal-kanal lembap yang sarat dengan bekuan aroma gabungan dari aroma manusia dan binatang, air dan batu, abu dan kulit, sabun dan roti segar serta telur yang direbus dalam air cuka, bau mie dan kuningan yang digosok, bau daun, bir dan air mata, juga bau lemak dan rumput basah serta kering.
Ribuan aroma membentuk bubur tak terlihat menyesaki selokan, jarang membubung menguap melewati atap dan tak pernah berasal dari dalam tanah. Penghuninya tak lagi menganggap aneh bubur aroma ini.
Sebagian berasal dari badan mereka sendiri dan mereka sudah sangat terbiasa. Lagi pula, ini juga udara yang mereka hirup sehari-hari seperti baju yang sudah dipakai sedemikian lama sampai tak lagi tercium baunya atau terasa menempel di kulit.
Tapi ini tentu saja merupakan pengalaman pertama bagi Grenouille. Ia tidak mengendusi sekaligus, tapi ia pilah pilah secara analitis
menjadi bank data aroma satu demi satu dalam ingatan terpisah. Hidung ajaibnya lalu mengurai setiap gumpalan uap dan aroma menjadi satu untaian terpadu yang tak bisa diuntai lebih jauh lagi. Seluruh proses ini memberi kesenangan luar biasa.
Sering kali ia hanya berdiri diam, bersandar di dinding atau berjongkok di sudut dengan mata tertutup, mulut setengah terbuka dan hidung terkembang lebar. Tenang-tenang ia menunggu setiap arus aroma yang datang.
Saat angin mengantar aroma ke arahnya, ia akan memburu sampai dapat. Kadang ia hanya membaui satu aroma saja, dihirupnya dalam-dalam untuk disimpan baik-baik dalam ingatan.
Kadang ia mencium aroma yang pernah dikenal atau variasi dari aroma itu, kadang aroma yang sama sekali baru dan belum pernah tercium atau “terlihat” sebelumnya, misalnya aroma kain sutra cetak, wangi teh liar, aroma kain brokat bersulam benang perak, aroma gabus penyumbat
sebuah botol anggur tua, dan aroma sisir yang terbuat dari tempurung kura-kura.
Grenouille terus berburu mencari berbagai aroma asing. Ia memburu dengan kecintaan dan kesabaran seorang pemancing untuk disimpan baik-baik dalam ingatan.
Setelah kenyang menghirup bubur aroma jalanan ia akan pergi ke daerah yang lebih segar, di mana aroma lebih tipis dan berbaur menyebar bersama angin - persis seperti parfum.
Misalnya seperti saat ia pergi ke pasar Les Halles, di mana aroma siang hari terus bertahan sampai sore. Tak terlihat dan tipis-tipis, seolah para penjual masih membaur dalam keramaian, seolah keranjang-keranjang dagangan mereka masih di situ dan penuh dengan sayuran serta telur, atau tong‐tong sarat anggur dan cuka, kantong-kantong berisi rempah, kentang, dan tepung, peti-peti dengan paku dan sekrupnya, meja jagal, meja yang sarat
gulungan pakaian, piring dan sol sepatu, serta ratusan macam barang lain yang dijual di situ selama siang hari.
Kesibukan dan keramaian yang terjadi, sampai sekecil-kecilnya, masih terekam di udara. Grenouille “melihat” semua ini dengan hidung.
Ia membaui dengan ketepatan melebihi normalnya orang melihat dengan mata. Persepsi indranya berdasarkan fakta dan karena itu berada di tataran lebih tinggi katakanlah, ia mampu untuk langsung “melihat” esensi dan roh dari apa yang telah terjadi, dalam kondisi murni dan tak terganggu oleh peristiwa sehari-hari pada saat itu, seperti suara, pandangan, atau tekanan
manusia lain yang membuatnya muak.
Di saat lain ia akan pergi ke tempat pemenggalan ibunya dulu. Tempat bernama de Gréve di mana tanjungnya menjorok ke sungai seperti lidah raksasa. Di sini kapal-
kapal berlabuh, ditarik atau ditambat ke tonggak sepanjang tanjung, dengan sebaran aroma batu bara, butiran padi, rumput kering, dan tali lembap.
Dari arah barat, melewati jalur tunggal yang memotong ke arah kota melalui sungai, datang embusan angin besar yang membawa aroma pedesaan - aroma padang rumput di
sekitar Neuilly, aroma hutan di jalur antara Saint-Germain dan Versailles, bahkan aroma kota‐kota nun jauh di sana seperti Rouen atau Caen, dan tak jarang juga aroma laut.
Aroma laut tercium seperti sebuah pelayaran dengan ombak berisi campuran antara air, garam, dan dingin matahari. Laut memiliki aroma sederhana tapi sekaligus
juga unik dan begitu kaya. Sedemikian kaya sampai Grenouille ragu apakah benar pilahan aromanya terdiri atas ikan, garam, air, ganggang, udara segar, dan sebagainya. Ia lebih suka membaui aroma laut sebagai satu kesatuan.
Grenouille sangat menyukai aroma laut sampai ingin suatu hari nanti meraup sendiri sepuasnya sampai mabuk tentunya dalam kondisi yang murni dan belum tercemar.
Kelak, saat ia mendengar dari cerita‐cerita tentang betapa luasnya laut itu dan betapa kau bisa melayarinya dengan kapal selama berhari-hari tanpa bertemu daratan, dengan gairah menggebu Grenouille
membayangkan dirinya duduk di atas tiang kapal, sepuasnya meluncur di tengah samudra aroma lautan. Ia yakin bahwa yang tercium nanti bukan hanya sekedar aroma, tapi napas‐napas sebenar-benarnya yang menjadi akhir dari segala aroma.
Betapa senangnya jika bisa membaur lepas dalam napas itu. Tapi ini akan tetap jadi
impian bagi Grenouille, yang saat itu tengah berdiri di tepi sungai de Gréve, dalam lantunan ajeg sisa-sisa sepoi angin laut yang bisa ia endusi. Grenouille tak akan pernah melihat laut. Laut yang sebenarnya-samudra luas yang terbentang jauh di barat, dan tak akan pernah bisa melebur dengan aromanya.
Jadilah ia kembali dengan tekun mengendusi jalanan antara Saint‐Eustache dan Hotel de Ville sampai ia mampu mencari jalan sendiri dalam kegelapan sekalipun.
Grenouille memutuskan untuk memperluas daerah perburuan. Pertama ke arah barat di sekitar pinggiran Saint-Honore, lalu keluar sepanjang jalan Saint-Antoine ke arah Bastille, dan akhirnya menyeberang sungai ke daerah Sorbonne dan pinggiran Saint Germain, tempat tinggal orang-orang kaya.
Gerbang‐gerbang besi rumah mereka
mengembuskan aroma pakaian kulit dan bedak rambut palsu, sementara tembok-tembok tinggi mengembuskan aroma taman yang terdiri dari sapu, bunga mawar, dan
pagar tanaman yang baru dipotong rapi.
Di sini pula Grenouille pertama kali mencium aroma parfum secara lateral: aroma lavender atau mawar yang menyarati air-air mancur di taman saat acara pesta. Ia juga mencium aroma parfum yang lebih kompleks dan mahal - larutan aroma kesturi yang dicampur dengan minyak neroli dan tuberosa, bunga jonquil, melati, atau kayu manis. Semua dicatat baik-baik dalam ingatan.
Didaftar satu per satu seperti ketika orang mendadak membaui aroma tak sedap dan lantas penasaran ingin tahu sumbernya - meski tanpa kekaguman.
Grenouille tentu saja sadar bahwa tujuan parfum adalah untuk menciptakan efek memabukkan dan memancing minat serta perhatian. Ia juga mengenali nilai masing‐
masing aroma yang menyusun parfum tersebut.
Namun kalau mau jujur, aroma-aroma itu terasa agak kasar dan membosankan ‐ lebih seperti diaduk asal-asalan ketimbang diracik.
Grenouille yakin bisa membuat sendiri aroma yang sama sekali berbeda kalau diberikan kesempatan memelajari dan mengolah ramuan dasarnya.
Ia tahu bahwa sebagian besar ramuan tersebut bersumber dari bebungaan dan kios rempah-rempah di pasar, sementara sisanya sama sekali tidak ia kenal.
Grenouille menyaring satu per satu, tetap dengan kondisi tanpa nama: aroma ambergris, kesturi, patchouli, kayu cendana, aroma minyak perasan buah bergamot, aroma vetiver, aroma getah pohon, kapur barus, perasan kelopak bunga, minyak jarak....
Grenouille tidak mengkhususkan satu aroma pun. Tidak membedakan berdasarkan dikotomi 'aroma yang enak’ dengan 'aroma yang tidak enak’. Setidaknya belum. Saat ini
ia sedang ingin melahap saja dengan rakus.
Tujuan perburuan ini semata-mata demi meraup segala yang bisa diberikan oleh dunia dalam hal aroma - terutama aroma
yang baru dikenal. Bagi Grenouille, bau keringat kuda sama berartinya dengan aroma seikat bunga mawar. Bau sangit tubuh serangga tidak lebih berarti dari aroma sapi panggang di dapur-dapur para borjuis.
Grenouille melahap semua tanpa pandang bulu. Semua, segalanya, dihirup begitu saja. Tak ada prinsip estetika apa pun di dapur
imajinasi indra penciumannya. Di situ ia senantiasa menyintesis dan meracik berbagai kombinasi aromatik.
Bau tak sedap diterjang juga, karena nantinya toh dibuang lagi - seperti anak kecil dengan mainan balok, ia mencipta dan menghancurkan.
Kreativitas Grenouille tak mengenal norma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar