Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 48

EMPAT PULUH DELAPAN


SEMULA  TAK  ADA  YANG  PERCAYA  berita  ini.  Orang menganggap  ini  sekadar  akal-akalan  pemerintah  untuk menutupi  ketidakmampuan  mereka  sendiri,  di  samping usaha  meredakan  kemungkinan  pemberontakan  massa. 

Orang-orang masih ingat benar saat tersiar kabar bahwa si pembunuh  telah  pindah  ke  Grenoble.  Kali  ini  ketakutan telah mencengkeram begitu dalam sampai mereka tak tahulagi apa yang harus dipercaya. 

Tapi  semua  ini  berubah  keesokan  harinya,  saat  bukti-bukti  digelar  di  alun-alun  gereja  di  depan  kantor pengadilan.  Sungguh  pemandangan  mengerikan:  25 pakaian  dengan  25  kumpulan  rambut,  semua  ditumpuk seperti  orang-orangan  sawah,  di  tiang-tiang  pancang  yang disusun  berjejer  di  depan  gereja.  Opini  publik  kontan berubah. 

Ratusan  orang  menyemut  di  depan  galeri  horor  itu. Keluarga  korban  yang  mengenali  bukti-bukti  itu  menjerit dan pingsan. Sisa keramaian, karena ingin mencari sensasi dan  ingin  diyakinkan  lebih  jauh,  menuntut  melihat  si pembunuh.  

Teriakan  segera  menjadi  begitu  keras  dan 
ramai.  Begitu  mengancam,  sampai  dewan  hakim memutuskan  membawa  Grenouille  keluar  dari  sel  dan dipertontonkan  sesuai  keinginan  publik,  di  jendela  lantai kedua kantor pengadilan. 

Begitu Grenouille muncul di jendela, keributan langsung hening.  Tak  ada  suara  batuk  atau  bahkan  tarikan  napas. Semua menatap dengan mulut menganga selama beberapa menit.  

Tak  seorang  pun  yang  mengerti  bagaimana  lelaki pendek  jelek  dan  remeh  di  jendela  itu  makhluk  teramat biasa-biasa  itu,  mampu  melakukan  lebih dari dua  lusin pembunuhan.  

Memang  tak  ada  yang  bisa  mengatakan 
bagaimana  tampang  si  pembunuh  itu  sebenarnya,  tapi semua setuju: tidak mungkin seperti ini! Namun, meski tak cocok  dengan  imajinasi  mereka,  bukti-bukti  yang terpampang  tak  bisa  dibantah. 

Realitas  fisik  orang  yang disebut  sebagai  pelaku  ini  sangat  bertentangan,  tapi 
begitulah adanya. 

Kebingungan baru berhenti setelah bayangan Grenouille lenyap dari jendela. Orang-orang yang semula bingung dan tak yakin kembali menggemakan reaksi yang wajar: mulut 
tertutup dan sorot mata nan hidup. Satu tuntutan terdengar bagai kor gereja dalam  balutan amarah dan semangat balas dendam: 

“Kami ingin dia!” 

Massa  hendak  menyeruduk  menyerbu  kantor pengadilan  dan  mencekik  Grenouille  dengan  tangan sendiri. Mencabiknya sampai menyerpih. Para penjaga dan petugas  nyaris  tak  mampu  membendung  dan  memaksa 
massa  mundur.  

Grenouille  segera  dijebloskan  kembali  ke 
penjara bawah tanah. Dewan hakim muncul di jendela dan menjanjikan  pengadilan  yang  cepat  dan  adil.  Butuh beberapa jam sampai massa benar-benar bubar, dan butuh beberapa hari sampai kota tenang kembali. 

Proses  pengadilan  Grenouille  memang  bergerak  sangat cepat. Tidak hanya karena bukti-buktinya sangat telak, tapi si  tertuduh  itu  sendiri  mengaku  dengan  suka  rela  atas 
semua tuduhan pembunuhan. 

Namun saat ditanya tentang motif, Grenouille tak punya jawaban  meyakinkan.  Berkali-kali  ia  menjawab  bahwa  ia membunuh  karena  membutuhkan  gadis-gadis  itu. 

Dibutuhkan untuk apa dan apa maksudnya 'membutuhkan’ sama  sekali  tidak  dijawab.  

Warga  menuntut  diadakan penyiksaan dengan digantung terbalik berjam-jam, dipaksa minum  tujuh  gentong  air,  kaki  dijepit....  Tapi  tak  berhasil.

Monster ini seperti tak kenal rasa sakit. Tidak menjerit atau bersuara,  dan  saat  ditanya  selalu  menjawab,  

“Aku membutuhkan mereka.” 

Hakim  meyakini  bahwa  orang  ini  tidak  waras.  Siksaan dihentikan  dan  diputuskan untuk  menghentikan  kasus tanpa interogasi lebih lanjut. 

Satu-satunya  penundaan  setelah  itu  hanya  perebutan wewenang  dengan  lembaga  peradilan  kota  Draguignan yang  membawahi  La  Napoule  dan  parlemen  di  Aix. 

Keduanya  menuntut  pengambilalihan  proses  peradilan. Tentu  saja  pihak  Grasse  menolak  mentah-mentah  karena merekalah  yang  telah  menangkap  si  pelaku,  plus  fakta 
bahwa 24 pembunuhan  terjadi di Grasse. 

Kalau Grenouille diserahkan  ke  pengadilan  lain,  bisa-bisa  Grasse  musnah diamuk  massa.  Tidak! Darah Grenouille  harus tumpah  di Grasse! 

Pada  tanggal  15  April  1766,  putusan  pengadilan dijatuhkan  dan  dibacakan  pada  tertuduh  di  selnya,  

“Ahli parfum bernama Jean‐Baptiste Grenouille, dalam waktu 48 jam  ke depan, akan diarak  ke gerbang  kota dan dipaku  ke 
salib,  wajah  dihadapkan  ke  langit,  dan  jika  masih  hidup akan dijatuhi dua belas pukulan dengan tongkat besi untuk mematahkan seluruh persendian lengan, kaki, pinggul, dan 
bahu.  Lalu,  dengan  tubuh  masih  terpaku  ke  salib,  akan diangkat dan dibiarkan tergantung sampai mati.” 

Tindakan  pengampunan  yang  biasa,  di  mana  terhukum dicekik  kawat  sampai  mati  setelah  tubuhnya  hancur, dengan  tegas  dilarang.  Pun  bila  rasa  sakit  menjelang 
ajalnya  berlangsung  sampai  berhari-hari.  

Setelah  mati, mayat  Grenouflle  akan  dikubur  malam  hari  di  sebuah kuburan  tak  bertanda  di  halaman  belakang  tempat penjagalan binatang.

Grenouille  menerima  putusan  hukuman  tanpa  emosi. Petugas  pelaksana  pengadilan  bertanya  apakah  ia  punya keinginan  terakhir.  

“Tidak,  tidak ada,”  jawab  Grenouille. 

Telah ia dapatkan semua yang diinginkan. 
Seorang  pendeta  masuk  ke  sel  untuk  mengorek pengakuan dosa, tapi keluar lagi lima belas menit kemudian tanpa  hasil.  

Saat  disebut  nama  Tuhan,  terhukum  hanya menatap  dengan  wajah  kosong,  seperti  baru  pertama  kali mendengar nama  itu lalu  berbaring  di  dipan dan  tidur lelap. Tak ada gunanya berkata apa-apa lagi. 

Selama  dua  hari  menjelang  pelaksanaan  hukuman, banyak  orang ingin melihat wajah  si  pembunuh  dari jarak dekat.  Penjaga  mengizinkan  mereka  mengintip  lewat jendela kecil di pintu sambil menarik pembayaran enam sol sekali  intip.  

Seniman  lukis  yang  ingin  membuat  sketsanya harus  membayar  dua  franc.  Objek  lukisannya mengecewakan.  Dengan  pinggang  dan  pergelangan  kaki terantai,  ia  berbaring  di  dipan  dan  tidur  terus.  Wajah 
menghadap  tembok  dan  tak  bereaksi  terhadap  pukulan atau  teriakan.  

Pengunjung  dilarang  masuk  ke  sel.  Walau 
iming-imingnya  menggiurkan,  kali  ini  para  penjaga  tak berani melanggar larangan. Takut ada kerabat korban yang membunuh  tahanan.  Untuk  alasan  yang  sama  pula  turun larangan memberi makanan,  karena  takut diracun. 

Selama proses peradilan, Grenouille makan dari hidangan pelayan di dapur uskup dan harus terlebih dulu dicicipi oleh kepala penjara.  

Namun  dua  hari  menjelang  hukuman,  ia  tidak makan  apa-apa  sama  sekali.  Hanya  berbaring  dan  tidur. Kadang  terdengar  gemerencing  rantainya,  dan  penjaga yang buru-buru melongok melihat Grenouille menyesap air dari  kantong  air  lalu  kembali  tidur.  

Orang  ini  tampaknya benar-benar  lelah  hidup  dan  tak  ingin  menghabiskan  sisa 
waktu dalam keadaan sadar.

Sementara  itu,  sebuah  parade  disiapkan  untuk menyambut  pelaksanaan  hukuman.  Tukang  kayu membangun tempat eksekusi berukuran sembilan kaki kali sembilan  kaki  persegi  dan  tinggi  enam  kaki,  lengkap dengan  tangga  dan  pegangannya.  

Grasse  belum  pernah seramai ini. Sebuah panggung kayu juga dibuat untuk para 
bangsawan  lokal,  lengkap  dengan  pagar  untuk  membatasi mereka  dari  rakyat  biasa  yang  dibiarkan  menonton  agak jauh.  

Di  bangunan-bangunan  di  kiri  dan  kanan  gerbang Cours  serta  barak-barak  penjaga,  orang-orang  memesan tempat  di  jendela  dengan  harga  gila-gilaan.  Para  asisten 
algojo  bahkan  sampai  menyewa  kamar-kamar  pasien  di Rumah  Sakit  Charite,  yang  kebetulan  mengarah  ke  jalan. 

Mereka  menyewakannya  kembali  kepada  para  calon penonton  yang  penasaran  dengan  keuntungan  yang lumayan.  Para  penjual  limun menimbun bergentong¬gentong  air  gula-gula.  Para  pelukis  mencetak 
beratus-ratus  lembar  salinan  sketsa  si  pembunuh  di penjara, dengan sedikit sentuhan imajinasi pribadi. Lusinan penjaja  keliling  mengalir  ke  kota  seperti  air,  dan  para 
pembuat roti sibuk membuat biskuit suvenir. 

Sang algojo bernama Monsieur Papon. Ia sudah lama tak mengeksekusi  orang.  Pengadilan  membuatkan  sebilah tongkat  besi  baru  untuknya.  Dua  hari  ini  ia  rajin  pergi  ke rumah jagal untuk melatih ketepatan pukulan pada daging bangkai yang telah disediakan. Ia hanya diizinkan memukul 
dua  belas  kali  dan  harus  persis  menghancurkan  kedua belas  persendian  tanpa  merusak  organ  vital  seperti  dada 
atau  kepala.  Sebuah  tugas  sulit  yang menuntut  sentuhan ahli dan ketepatan waktu yang sempurna. 

Warga  kota  bersiap  diri  seperti  hendak  menyambut perayaan  nasional.  Semua  setuju  bahwa  tak  boleh  ada aktivitas  kerja  pada  hari  itu.  Para  wanita  menyetrika 
pakaian liburan mereka; kaum pria membersihkan mantel mantel  panjang  dan  menyemir  sepatu  sampai  mengkilap. 

Pakaian-pakaian  resmi  dari  semua  lapisan  profesi  dan kenegaraan disiapkan dengan rapi, lengkap dengan medali, kain selempang, rantai, dan wig yang dibedaki putih-putih. 

Kelompok  beragama  berniat  berkumpul  bersama  untuk upacara  keagamaan  begitu  hukuman  selesai.  Para  pemuja setan  berencana  mengadakan  misa  thanksgiving  untuk Lucifer.  

Kalangan  ilmuwan  dan  bangsawan  berniat 
berkumpul  dalam  pertemuan  spiritual  magnetis  di  istana Cabrises,  Villeneuves,  dan  Fontmichels.  

Bakaran  dan kukusan  makanan  sudah  mulai  tercium  di  dapur-dapur; anggur-anggur  dikeluarkan;  bebungaan  ditata  di  pasar; para pemain organ dan paduan suara berlatih di katedral. 

Di kediaman Richis di jalan Droite, keadaan tetap tenang. Richis  melarang  persiapan  apa  pun  menyambut  apa  yang disebut  khalayak  sebagai  'Hari  Pembebasan’. Malah  terasa 
munafik  dan  menjijikkan,  baik  rasa  takut  dadakan  yang timbul  saat  Laure  dibunuh  maupun  suka  cita  mereka menjelang  hukuman  Grenouille.  

Ia  tidak  ikut  waktu  si pelaku dihadirkan bersama bukti-bukti di alun-alun gereja. Tidak  pula  saat  pengadilan  atau  prosesi  para  pencari sensasi  selama  Grenouille  ditahan.  

Ia  hanya  meminta petugas  pengadilan  untuk  datang  ke  rumah,  agar  ia  bisa mengidentifikasi  rambut  dan  pakaian  putrinya,  memberi kesaksian  dengan  singkat  dan  tenang,  serta  diizinkan menyimpan  barang-barang  bukti  itu  sebagai  kenang-
kenangan.  

Ia  bawa  benda‐benda  itu  ke  kamar  Laure, 
menggelar  gaun  tidur  yang  sobek-sobek  bersama  pakaian dalam  di  atas  ranjang,  menyusun  rambut  di  atas  bantal, duduk  di  pinggir  ranjang  dan  tidak  meninggalkan  kamar lagi siang atau malam. 

Seolah dengan kesia-siaan ini ia bisa 
membayar  apa  yang  gagal  dijaganya  malam  itu  di  La Napoule.  

Ia  begitu  mual  dan  jijik.  Pada  dunia  dan  pada dirinya sendiri, sampai tak mampu menangis.

Ia juga jijik pada si pembunuh. Tak sudi menganggapnya sebagai manusia. Lebih pantas dipandang sebagai binatang kurban  untuk  disembelih.  

Ia  tak  mau  melihatnya  sampai pelaksanaan hukuman, saat monster itu dipaku ke salib dan 
dua  belas  pukulan  peremuk  sendi dijatuhkan.  Barulah  ia mau  melihatnya.  

Melihat  dari  dekat.  Khusus  untuk  itu  ia 
telah  memesan  tempat  di  barisan  depan.  Dan  setelah masyarakat  bubar  beberapa  jam  kemudian,  ia  ingin merayap  ke  panggung  eksekusi,  berjongkok  dekat  situ, 
terus  menatap  bermalam‐malam  dan  berhari-hari...  tak peduli berapa lama. 

Menatap mata orang itu, si pembunuh 
putri  kesayangannya,  setetes  demi  setetes  mengalirkan rasa  jijiknya  ke  mata  itu,  menuangkan  seluruh  kebencian dan  rasa  jijik  yang  terasa  bagai  bara  asam  pada  orang  itu dalam  kesakitan  menjelang  ajal...  sampai  binatang  itu musnah.... 

Setelah  itu?  Apa  yang  akan  ia  lakukan  setelah  itu? Entahlah.  Meneruskan  hidup  normal,  barangkali?  Atau menikah? Punya anak laki-laki? Atau tidak melakukan apa-apa?  Atau  barangkali  lebih  enak  mati  saja?  Apa  pun  itu, apalah  bedanya  sekarang. Dipikirkan  pun  tak  berguna.  

Ia sama sekali tak tahu hendak ke mana dan mau apa setelah itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...