EMPAT PULUH DELAPAN
SEMULA TAK ADA YANG PERCAYA berita ini. Orang menganggap ini sekadar akal-akalan pemerintah untuk menutupi ketidakmampuan mereka sendiri, di samping usaha meredakan kemungkinan pemberontakan massa.
Orang-orang masih ingat benar saat tersiar kabar bahwa si pembunuh telah pindah ke Grenoble. Kali ini ketakutan telah mencengkeram begitu dalam sampai mereka tak tahulagi apa yang harus dipercaya.
Tapi semua ini berubah keesokan harinya, saat bukti-bukti digelar di alun-alun gereja di depan kantor pengadilan. Sungguh pemandangan mengerikan: 25 pakaian dengan 25 kumpulan rambut, semua ditumpuk seperti orang-orangan sawah, di tiang-tiang pancang yang disusun berjejer di depan gereja. Opini publik kontan berubah.
Ratusan orang menyemut di depan galeri horor itu. Keluarga korban yang mengenali bukti-bukti itu menjerit dan pingsan. Sisa keramaian, karena ingin mencari sensasi dan ingin diyakinkan lebih jauh, menuntut melihat si pembunuh.
Teriakan segera menjadi begitu keras dan
ramai. Begitu mengancam, sampai dewan hakim memutuskan membawa Grenouille keluar dari sel dan dipertontonkan sesuai keinginan publik, di jendela lantai kedua kantor pengadilan.
Begitu Grenouille muncul di jendela, keributan langsung hening. Tak ada suara batuk atau bahkan tarikan napas. Semua menatap dengan mulut menganga selama beberapa menit.
Tak seorang pun yang mengerti bagaimana lelaki pendek jelek dan remeh di jendela itu makhluk teramat biasa-biasa itu, mampu melakukan lebih dari dua lusin pembunuhan.
Memang tak ada yang bisa mengatakan
bagaimana tampang si pembunuh itu sebenarnya, tapi semua setuju: tidak mungkin seperti ini! Namun, meski tak cocok dengan imajinasi mereka, bukti-bukti yang terpampang tak bisa dibantah.
Realitas fisik orang yang disebut sebagai pelaku ini sangat bertentangan, tapi
begitulah adanya.
Kebingungan baru berhenti setelah bayangan Grenouille lenyap dari jendela. Orang-orang yang semula bingung dan tak yakin kembali menggemakan reaksi yang wajar: mulut
tertutup dan sorot mata nan hidup. Satu tuntutan terdengar bagai kor gereja dalam balutan amarah dan semangat balas dendam:
“Kami ingin dia!”
Massa hendak menyeruduk menyerbu kantor pengadilan dan mencekik Grenouille dengan tangan sendiri. Mencabiknya sampai menyerpih. Para penjaga dan petugas nyaris tak mampu membendung dan memaksa
massa mundur.
Grenouille segera dijebloskan kembali ke
penjara bawah tanah. Dewan hakim muncul di jendela dan menjanjikan pengadilan yang cepat dan adil. Butuh beberapa jam sampai massa benar-benar bubar, dan butuh beberapa hari sampai kota tenang kembali.
Proses pengadilan Grenouille memang bergerak sangat cepat. Tidak hanya karena bukti-buktinya sangat telak, tapi si tertuduh itu sendiri mengaku dengan suka rela atas
semua tuduhan pembunuhan.
Namun saat ditanya tentang motif, Grenouille tak punya jawaban meyakinkan. Berkali-kali ia menjawab bahwa ia membunuh karena membutuhkan gadis-gadis itu.
Dibutuhkan untuk apa dan apa maksudnya 'membutuhkan’ sama sekali tidak dijawab.
Warga menuntut diadakan penyiksaan dengan digantung terbalik berjam-jam, dipaksa minum tujuh gentong air, kaki dijepit.... Tapi tak berhasil.
Monster ini seperti tak kenal rasa sakit. Tidak menjerit atau bersuara, dan saat ditanya selalu menjawab,
“Aku membutuhkan mereka.”
Hakim meyakini bahwa orang ini tidak waras. Siksaan dihentikan dan diputuskan untuk menghentikan kasus tanpa interogasi lebih lanjut.
Satu-satunya penundaan setelah itu hanya perebutan wewenang dengan lembaga peradilan kota Draguignan yang membawahi La Napoule dan parlemen di Aix.
Keduanya menuntut pengambilalihan proses peradilan. Tentu saja pihak Grasse menolak mentah-mentah karena merekalah yang telah menangkap si pelaku, plus fakta
bahwa 24 pembunuhan terjadi di Grasse.
Kalau Grenouille diserahkan ke pengadilan lain, bisa-bisa Grasse musnah diamuk massa. Tidak! Darah Grenouille harus tumpah di Grasse!
Pada tanggal 15 April 1766, putusan pengadilan dijatuhkan dan dibacakan pada tertuduh di selnya,
“Ahli parfum bernama Jean‐Baptiste Grenouille, dalam waktu 48 jam ke depan, akan diarak ke gerbang kota dan dipaku ke
salib, wajah dihadapkan ke langit, dan jika masih hidup akan dijatuhi dua belas pukulan dengan tongkat besi untuk mematahkan seluruh persendian lengan, kaki, pinggul, dan
bahu. Lalu, dengan tubuh masih terpaku ke salib, akan diangkat dan dibiarkan tergantung sampai mati.”
Tindakan pengampunan yang biasa, di mana terhukum dicekik kawat sampai mati setelah tubuhnya hancur, dengan tegas dilarang. Pun bila rasa sakit menjelang
ajalnya berlangsung sampai berhari-hari.
Setelah mati, mayat Grenouflle akan dikubur malam hari di sebuah kuburan tak bertanda di halaman belakang tempat penjagalan binatang.
Grenouille menerima putusan hukuman tanpa emosi. Petugas pelaksana pengadilan bertanya apakah ia punya keinginan terakhir.
“Tidak, tidak ada,” jawab Grenouille.
Telah ia dapatkan semua yang diinginkan.
Seorang pendeta masuk ke sel untuk mengorek pengakuan dosa, tapi keluar lagi lima belas menit kemudian tanpa hasil.
Saat disebut nama Tuhan, terhukum hanya menatap dengan wajah kosong, seperti baru pertama kali mendengar nama itu lalu berbaring di dipan dan tidur lelap. Tak ada gunanya berkata apa-apa lagi.
Selama dua hari menjelang pelaksanaan hukuman, banyak orang ingin melihat wajah si pembunuh dari jarak dekat. Penjaga mengizinkan mereka mengintip lewat jendela kecil di pintu sambil menarik pembayaran enam sol sekali intip.
Seniman lukis yang ingin membuat sketsanya harus membayar dua franc. Objek lukisannya mengecewakan. Dengan pinggang dan pergelangan kaki terantai, ia berbaring di dipan dan tidur terus. Wajah
menghadap tembok dan tak bereaksi terhadap pukulan atau teriakan.
Pengunjung dilarang masuk ke sel. Walau
iming-imingnya menggiurkan, kali ini para penjaga tak berani melanggar larangan. Takut ada kerabat korban yang membunuh tahanan. Untuk alasan yang sama pula turun larangan memberi makanan, karena takut diracun.
Selama proses peradilan, Grenouille makan dari hidangan pelayan di dapur uskup dan harus terlebih dulu dicicipi oleh kepala penjara.
Namun dua hari menjelang hukuman, ia tidak makan apa-apa sama sekali. Hanya berbaring dan tidur. Kadang terdengar gemerencing rantainya, dan penjaga yang buru-buru melongok melihat Grenouille menyesap air dari kantong air lalu kembali tidur.
Orang ini tampaknya benar-benar lelah hidup dan tak ingin menghabiskan sisa
waktu dalam keadaan sadar.
Sementara itu, sebuah parade disiapkan untuk menyambut pelaksanaan hukuman. Tukang kayu membangun tempat eksekusi berukuran sembilan kaki kali sembilan kaki persegi dan tinggi enam kaki, lengkap dengan tangga dan pegangannya.
Grasse belum pernah seramai ini. Sebuah panggung kayu juga dibuat untuk para
bangsawan lokal, lengkap dengan pagar untuk membatasi mereka dari rakyat biasa yang dibiarkan menonton agak jauh.
Di bangunan-bangunan di kiri dan kanan gerbang Cours serta barak-barak penjaga, orang-orang memesan tempat di jendela dengan harga gila-gilaan. Para asisten
algojo bahkan sampai menyewa kamar-kamar pasien di Rumah Sakit Charite, yang kebetulan mengarah ke jalan.
Mereka menyewakannya kembali kepada para calon penonton yang penasaran dengan keuntungan yang lumayan. Para penjual limun menimbun bergentong¬gentong air gula-gula. Para pelukis mencetak
beratus-ratus lembar salinan sketsa si pembunuh di penjara, dengan sedikit sentuhan imajinasi pribadi. Lusinan penjaja keliling mengalir ke kota seperti air, dan para
pembuat roti sibuk membuat biskuit suvenir.
Sang algojo bernama Monsieur Papon. Ia sudah lama tak mengeksekusi orang. Pengadilan membuatkan sebilah tongkat besi baru untuknya. Dua hari ini ia rajin pergi ke rumah jagal untuk melatih ketepatan pukulan pada daging bangkai yang telah disediakan. Ia hanya diizinkan memukul
dua belas kali dan harus persis menghancurkan kedua belas persendian tanpa merusak organ vital seperti dada
atau kepala. Sebuah tugas sulit yang menuntut sentuhan ahli dan ketepatan waktu yang sempurna.
Warga kota bersiap diri seperti hendak menyambut perayaan nasional. Semua setuju bahwa tak boleh ada aktivitas kerja pada hari itu. Para wanita menyetrika
pakaian liburan mereka; kaum pria membersihkan mantel mantel panjang dan menyemir sepatu sampai mengkilap.
Pakaian-pakaian resmi dari semua lapisan profesi dan kenegaraan disiapkan dengan rapi, lengkap dengan medali, kain selempang, rantai, dan wig yang dibedaki putih-putih.
Kelompok beragama berniat berkumpul bersama untuk upacara keagamaan begitu hukuman selesai. Para pemuja setan berencana mengadakan misa thanksgiving untuk Lucifer.
Kalangan ilmuwan dan bangsawan berniat
berkumpul dalam pertemuan spiritual magnetis di istana Cabrises, Villeneuves, dan Fontmichels.
Bakaran dan kukusan makanan sudah mulai tercium di dapur-dapur; anggur-anggur dikeluarkan; bebungaan ditata di pasar; para pemain organ dan paduan suara berlatih di katedral.
Di kediaman Richis di jalan Droite, keadaan tetap tenang. Richis melarang persiapan apa pun menyambut apa yang disebut khalayak sebagai 'Hari Pembebasan’. Malah terasa
munafik dan menjijikkan, baik rasa takut dadakan yang timbul saat Laure dibunuh maupun suka cita mereka menjelang hukuman Grenouille.
Ia tidak ikut waktu si pelaku dihadirkan bersama bukti-bukti di alun-alun gereja. Tidak pula saat pengadilan atau prosesi para pencari sensasi selama Grenouille ditahan.
Ia hanya meminta petugas pengadilan untuk datang ke rumah, agar ia bisa mengidentifikasi rambut dan pakaian putrinya, memberi kesaksian dengan singkat dan tenang, serta diizinkan menyimpan barang-barang bukti itu sebagai kenang-
kenangan.
Ia bawa benda‐benda itu ke kamar Laure,
menggelar gaun tidur yang sobek-sobek bersama pakaian dalam di atas ranjang, menyusun rambut di atas bantal, duduk di pinggir ranjang dan tidak meninggalkan kamar lagi siang atau malam.
Seolah dengan kesia-siaan ini ia bisa
membayar apa yang gagal dijaganya malam itu di La Napoule.
Ia begitu mual dan jijik. Pada dunia dan pada dirinya sendiri, sampai tak mampu menangis.
Ia juga jijik pada si pembunuh. Tak sudi menganggapnya sebagai manusia. Lebih pantas dipandang sebagai binatang kurban untuk disembelih.
Ia tak mau melihatnya sampai pelaksanaan hukuman, saat monster itu dipaku ke salib dan
dua belas pukulan peremuk sendi dijatuhkan. Barulah ia mau melihatnya.
Melihat dari dekat. Khusus untuk itu ia
telah memesan tempat di barisan depan. Dan setelah masyarakat bubar beberapa jam kemudian, ia ingin merayap ke panggung eksekusi, berjongkok dekat situ,
terus menatap bermalam‐malam dan berhari-hari... tak peduli berapa lama.
Menatap mata orang itu, si pembunuh
putri kesayangannya, setetes demi setetes mengalirkan rasa jijiknya ke mata itu, menuangkan seluruh kebencian dan rasa jijik yang terasa bagai bara asam pada orang itu dalam kesakitan menjelang ajal... sampai binatang itu musnah....
Setelah itu? Apa yang akan ia lakukan setelah itu? Entahlah. Meneruskan hidup normal, barangkali? Atau menikah? Punya anak laki-laki? Atau tidak melakukan apa-apa? Atau barangkali lebih enak mati saja? Apa pun itu, apalah bedanya sekarang. Dipikirkan pun tak berguna.
Ia sama sekali tak tahu hendak ke mana dan mau apa setelah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar