Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 34

TIGA PULUH EMPAT 


GRENOUILLE  TINGGAL  DI  MONTPELLIER  selama beberapa  minggu.  Ia  kini  terkenal  dan  kerap  diundang  ke berbagai  perkumpulan  untuk  menceritakan pengalaman selama berada di gua dan tentang bagaimana sang Marquis menyembuhkannya.  

Ia  terpaksa  terus  mengangkat  kisah tentang  perampok  yang  dulu.  Bagaimana  ia  diseret, 
keranjang diletakkan di sisinya setiap kali jam makan, dan tentang  tangga  penyelamat.  

Setiap  kali  ia  menambahkan detail baru dan hiperbola yang lebih hebat. Grenouille jadi 
makin  pandai  bicara  - meski  sangat  terbatas  karena  ia belum  pernah  berbicara  dengan  benar  sepanjang  hidup. 

Dan  yang  terpenting  baginya  adalah  peluang  latihan  rutin untuk berbohong. 
Pokoknya, ia  bisa mengatakan apa  saja  pada  siapa  saja. Publik  menaruh  kepercayaan  - bahkan  sejak  napas pertama,  karena menghirup  aroma  parfum  Grenouille selagi menyimak. Mereka percaya apa saja. 

Dus, Grenouille beroleh keyakinan diri dalam bersosialisasi  ‐ sesuatu yang dulu  tak  pernah  terpikir  bisa  jadi  nyata.  Ini  juga  terlihat dari  tubuhnya  yang  seolah  bertumbuh.  Punuknya  hilang dan  ia  berjalan  nyaris  tegak.  Setiap  kali  orang  berbicara 
padanya ia tidak lagi refleks merunduk tapi tetap tegak dan balas menatap. 

Ia memang tidak langsung menjadi manusia 
abad  ini  atau  selebritis  sosial  dalam  semalam.  Yang  jelas terlihat  adalah  bahwa  ia  tak  lagi  jadi  makhluk  penggugup dan ceroboh dalam pergaulan. Yang  tampak di permukaan adalah  kesederhanaan  alami  atau  sedikit  sifat  malu-malu yang  menarik  simpati  banyak  orang,  dan  terutama  tentu 
saja wanita. 

Lingkungan elite zaman itu memang peka pada segala  hal  yang  berbau  natural  dan  pesona  tertentu  yang masih mentah seperti yang tampak pada Grenouille.

Awal  bulan  Maret,  Grenouille  mengepak  barang  dan pergi  diam‐diam.  Pagi-pagi  sekali,  saat  gerbang  kota  baru saja dibuka. Ia memakai mantel cokelat biasa yang ia beli di pasar  loak  sehari  sebelumnya,  dan  sebuah  topi  lusuh menutupi  separo  wajah.  

Tak  ada  yang  melihat  atau mengenalinya,  karena  ia  sengaja  tidak  memakai  parfum. 
Menjelang  tengah  hari  sang  Marquis datang  tergopoh-gopoh  ke  pos  penjaga  di  pintu  gerbang.  

Si  penjaga bersumpah  bahwa  ia  tahu  dan  mengawasi  berbagai  jenis orang yang meninggalkan kota pagi ini tapi tidak melihat si manusia  gua,  yang  pastinya  akan  segera  dikenali. 

Marquis lantas  menyebar  berita  bahwa  ialah  yang  mengizinkan Grenouille  pergi  dari  Montpellier  ke  Paris  karena  ada urusan  keluarga.  Padahal  ia  sangat  terpukul  karena 
sedianya  berniat  mengajak  Grenouille  tur  ke  seluruh Prancis dalam rangka menggalang pendukung dan pengikut teori fluidal.

Setelah beberapa waktu ia tenang lagi. Terutama melihat ketenarannya  tersebar  sendiri  sedemikian  rupa  tanpa harus  mengadakan  tur  dan  nyaris  tanpa  berbuat  apa-apa sama  sekali.  Sebuah  artikel panjang  tentang fluidum letale Taillade muncul di Jurnal des Sçavans dan bahkan di Courier
de I’Europe.  

Segera  setelah  itu  pasien-pasien  fluidal  dari 
dalam  dan  luar  kota  berbondong-bondong  datang memohon  penyembuhan.  

Pada musim  panas  1764  ia mendirikan organisasi 'Masyarakat Vital Fluidum’-nya yang pertama,  dengan  120  orang  anggota  di  Montpellier  dan membuka cabang di Marseille serta Lyon. Tak lama sampai ia  memberanikan  diri  maju  ke  Paris,  dan  dari  sana  mulai bergerak  menguasai  dunia  dengan  ajarannya.  

Sebagai tahap awal, ia ingin membangun basis propaganda dengan menorehkan  prestasi-prestasi  heroik.  Ini  demi menenggelamkan kisah tentang Grenouille dan percobaan-
percobaan lain di masa. lalu. 

Pada awal bulan Desember ia mengumpulkan  sekelompok  murid  dan  pendukung  setia 
untuk bergabung dalam sebuah ekspedisi ke gunung Pic du Canigou di Paris. Konon disebut sebagai gunung tertinggi di seluruh  Pyrenees.  

Walau  sudah  uzur,  ia  ingin  dikenal sebagai orang yang mampu mencapai puncak di ketinggian sembilan ribu kaki dan tinggal di sana selama tiga minggu. Katanya  ia  baru  akan  turun  persis  pada  malam  Natal. 

Setelah menghirup udara murni yang jauh dari bumi, kelak ia akan turun layaknya perjaka tingting berusia dua puluh. Para  murid  dan  pendukung  menyerah  melakukan pendakian  setiba  di  Vernet-perkampungan  manusia 
terakhir di kaki gunung yang menakutkan itu. 

Tapi tak ada yang  bisa  menghentikan  Marquis.  Di  bawah  terjangan udara  sedingin  es,  semangatnya meluap-luap  seperti  anak 
kecil dan mulai mendaki sendirian. 

Hal terakhir yang dilihat gembira  ke  langit  plus  orang  hanya  bayangan tangan melambai senandung nyanyian, sebelum  akhirnya lenyap di badai salju. 

Pengikutnya  menanti  dengan  sia-sia  kepulangan Marquis  de la  Taillade-Espinasse  pada malam Natal itu.  Ia tidak  kembali  sebagai  pemuda  atau  orang  tua.  Tidak  pula 
kembali  saat  musim  panas  tahun  berikutnya  menjelang. 

Pengikut  paling  setia  mencoba  mengadakan  pencarian, namun pulang dengan tangan hampa. Tak ada jejak barang sesobek  pakaian  pun,  tak  ada  mayat,  bagian  tubuh  atau 
tulang sekalipun yang mereka temui. 

Ajaran  Marquis  tetap  utuh.  Malah  tersebar  legenda bahwa  di  puncak  gunung  itu  ia  menyatu  dengan  fluidum vitale. Bersatu dan mengapung abadi di udara. Tak terlihat namun  senantiasa  muda,  bebas  bersinggasana  di  puncak-puncak  Pyrenees.  Barang  siapa mendaki  dan menemuinya akan terlindung dari penyakit atau proses penuaan selama 
setahun.  

Teori  fluidal  Taillade  terus  kokoh  sampai  abad kesembilan  belas.  Banyak  disokong  oleh  instansi  medis serta  dipakai  sebagai  salah  satu  terapi  penyembuhan  oleh banyak  kalangan.  

Bahkan  sampai  sekarang,  di  kedua  sisi 
Pyrenees  (Prancis  dan  Spanyol),  khususnya  di  Perpignan dan Figueras, banyak perkumpulan rahasia pemuja Taillade yang  mengadakan  pertemuan  setahun  sekali  untuk mendaki puncak Pic du Canigou. 

Di  sana  mereka  menyalakan  api  unggun  dengan  dalih untuk  merayakan  titik  balik  musim  panas  dan penghormatan  terhadap  St.  John  - tapi  sebenarnya  ini dilakukan  sebagai  penghormatan  terhadap  guru  mereka, TaiRade-Espinasse,  dan  ajaran  fluidum-nya  yang  agung, sembari mencari hidup abadi. Kalau beruntung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...