TIGA PULUH EMPAT
GRENOUILLE TINGGAL DI MONTPELLIER selama beberapa minggu. Ia kini terkenal dan kerap diundang ke berbagai perkumpulan untuk menceritakan pengalaman selama berada di gua dan tentang bagaimana sang Marquis menyembuhkannya.
Ia terpaksa terus mengangkat kisah tentang perampok yang dulu. Bagaimana ia diseret,
keranjang diletakkan di sisinya setiap kali jam makan, dan tentang tangga penyelamat.
Setiap kali ia menambahkan detail baru dan hiperbola yang lebih hebat. Grenouille jadi
makin pandai bicara - meski sangat terbatas karena ia belum pernah berbicara dengan benar sepanjang hidup.
Dan yang terpenting baginya adalah peluang latihan rutin untuk berbohong.
Pokoknya, ia bisa mengatakan apa saja pada siapa saja. Publik menaruh kepercayaan - bahkan sejak napas pertama, karena menghirup aroma parfum Grenouille selagi menyimak. Mereka percaya apa saja.
Dus, Grenouille beroleh keyakinan diri dalam bersosialisasi ‐ sesuatu yang dulu tak pernah terpikir bisa jadi nyata. Ini juga terlihat dari tubuhnya yang seolah bertumbuh. Punuknya hilang dan ia berjalan nyaris tegak. Setiap kali orang berbicara
padanya ia tidak lagi refleks merunduk tapi tetap tegak dan balas menatap.
Ia memang tidak langsung menjadi manusia
abad ini atau selebritis sosial dalam semalam. Yang jelas terlihat adalah bahwa ia tak lagi jadi makhluk penggugup dan ceroboh dalam pergaulan. Yang tampak di permukaan adalah kesederhanaan alami atau sedikit sifat malu-malu yang menarik simpati banyak orang, dan terutama tentu
saja wanita.
Lingkungan elite zaman itu memang peka pada segala hal yang berbau natural dan pesona tertentu yang masih mentah seperti yang tampak pada Grenouille.
Awal bulan Maret, Grenouille mengepak barang dan pergi diam‐diam. Pagi-pagi sekali, saat gerbang kota baru saja dibuka. Ia memakai mantel cokelat biasa yang ia beli di pasar loak sehari sebelumnya, dan sebuah topi lusuh menutupi separo wajah.
Tak ada yang melihat atau mengenalinya, karena ia sengaja tidak memakai parfum.
Menjelang tengah hari sang Marquis datang tergopoh-gopoh ke pos penjaga di pintu gerbang.
Si penjaga bersumpah bahwa ia tahu dan mengawasi berbagai jenis orang yang meninggalkan kota pagi ini tapi tidak melihat si manusia gua, yang pastinya akan segera dikenali.
Marquis lantas menyebar berita bahwa ialah yang mengizinkan Grenouille pergi dari Montpellier ke Paris karena ada urusan keluarga. Padahal ia sangat terpukul karena
sedianya berniat mengajak Grenouille tur ke seluruh Prancis dalam rangka menggalang pendukung dan pengikut teori fluidal.
Setelah beberapa waktu ia tenang lagi. Terutama melihat ketenarannya tersebar sendiri sedemikian rupa tanpa harus mengadakan tur dan nyaris tanpa berbuat apa-apa sama sekali. Sebuah artikel panjang tentang fluidum letale Taillade muncul di Jurnal des Sçavans dan bahkan di Courier
de I’Europe.
Segera setelah itu pasien-pasien fluidal dari
dalam dan luar kota berbondong-bondong datang memohon penyembuhan.
Pada musim panas 1764 ia mendirikan organisasi 'Masyarakat Vital Fluidum’-nya yang pertama, dengan 120 orang anggota di Montpellier dan membuka cabang di Marseille serta Lyon. Tak lama sampai ia memberanikan diri maju ke Paris, dan dari sana mulai bergerak menguasai dunia dengan ajarannya.
Sebagai tahap awal, ia ingin membangun basis propaganda dengan menorehkan prestasi-prestasi heroik. Ini demi menenggelamkan kisah tentang Grenouille dan percobaan-
percobaan lain di masa. lalu.
Pada awal bulan Desember ia mengumpulkan sekelompok murid dan pendukung setia
untuk bergabung dalam sebuah ekspedisi ke gunung Pic du Canigou di Paris. Konon disebut sebagai gunung tertinggi di seluruh Pyrenees.
Walau sudah uzur, ia ingin dikenal sebagai orang yang mampu mencapai puncak di ketinggian sembilan ribu kaki dan tinggal di sana selama tiga minggu. Katanya ia baru akan turun persis pada malam Natal.
Setelah menghirup udara murni yang jauh dari bumi, kelak ia akan turun layaknya perjaka tingting berusia dua puluh. Para murid dan pendukung menyerah melakukan pendakian setiba di Vernet-perkampungan manusia
terakhir di kaki gunung yang menakutkan itu.
Tapi tak ada yang bisa menghentikan Marquis. Di bawah terjangan udara sedingin es, semangatnya meluap-luap seperti anak
kecil dan mulai mendaki sendirian.
Hal terakhir yang dilihat gembira ke langit plus orang hanya bayangan tangan melambai senandung nyanyian, sebelum akhirnya lenyap di badai salju.
Pengikutnya menanti dengan sia-sia kepulangan Marquis de la Taillade-Espinasse pada malam Natal itu. Ia tidak kembali sebagai pemuda atau orang tua. Tidak pula
kembali saat musim panas tahun berikutnya menjelang.
Pengikut paling setia mencoba mengadakan pencarian, namun pulang dengan tangan hampa. Tak ada jejak barang sesobek pakaian pun, tak ada mayat, bagian tubuh atau
tulang sekalipun yang mereka temui.
Ajaran Marquis tetap utuh. Malah tersebar legenda bahwa di puncak gunung itu ia menyatu dengan fluidum vitale. Bersatu dan mengapung abadi di udara. Tak terlihat namun senantiasa muda, bebas bersinggasana di puncak-puncak Pyrenees. Barang siapa mendaki dan menemuinya akan terlindung dari penyakit atau proses penuaan selama
setahun.
Teori fluidal Taillade terus kokoh sampai abad kesembilan belas. Banyak disokong oleh instansi medis serta dipakai sebagai salah satu terapi penyembuhan oleh banyak kalangan.
Bahkan sampai sekarang, di kedua sisi
Pyrenees (Prancis dan Spanyol), khususnya di Perpignan dan Figueras, banyak perkumpulan rahasia pemuja Taillade yang mengadakan pertemuan setahun sekali untuk mendaki puncak Pic du Canigou.
Di sana mereka menyalakan api unggun dengan dalih untuk merayakan titik balik musim panas dan penghormatan terhadap St. John - tapi sebenarnya ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap guru mereka, TaiRade-Espinasse, dan ajaran fluidum-nya yang agung, sembari mencari hidup abadi. Kalau beruntung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar