DUA PULUH ENAM
KATA PANGGUNG UNTUK pesta batin ini tidak lain dan tidak bukan bersumber dari kerajaan hati yang paling dalam. Tempat ia memendam lapisan demi lapisan aroma yang ditemui sejak lahir. Mood awal dibangun dengan
mengingat kembali ingatan-ingatan paling awal dan terpendam:
Hawa permusuhan di kamar tidur Madame Gaillard, tangan-tangannya yang kurus kering; napas cuka apel Bapa Terrier; manisnya hawa keibuan Bussie sang ibu susu; aroma bangkai tanah pekuburan CimetiƩres des Innocents; dan hawa-membunuh ibunya.
Ingatan-ingatan horor ini membuat Grenouille berkubang dalam keseganan dan rasa jijik sampai merinding.
Kadang, kalau racun batin ini sedang cukup baik hati menyingkir dari ingatan, ia membiarkan diri hanyut sesaat ke momen awal manisnya hidup saat di tempat Grimal - teringat pada kepulan aroma daging, kulit mentah, dan kubangan penyamakan, atau membayangkan kumpulan aroma 600 ribu penduduk Paris di akhir musim panas yang pengap dan gerah.
Lalu seketika itu, seluruh kebencian yang terpendam meledak sedemikian rupa-titik kulminasi dari tahun-tahun awal latihan mendayagunakan keajaiban penciuman.
Seperti hujan badai disertai gemuruh petir ia menggulung semua ingatan aroma yang selama ini begitu merendahkan hidung ningratnya. Ia lemparkan seperti hujan batu es mengguyur ladang padi. Seperti angin topan ia mengacak-acak aroma-aroma tersebut, dan menenggelamkan mereka dalam banjir bandang penyucian. Kemarahan ini terasa begitu adil dan manis.
Dendam kesumatnya terbalas pada saat ini.
Ah, sungguh momen yang agung. Tubuh Grenouille menggeliat kesenangan dan terangkat begitu tinggi sampai kepalanya
membentur atap gua, lalu mereda dan kembali rebah seperti orang kekenyangan.
Sungguh terlalu menyenangkan aksi vulkanik ini karena mampu menghapus seluruh
ingatan aroma yang tidak enak. Begitu terus rutinitas favorit Grenouille, berulang-ulang tanpa henti di relung teater jagatnya yang terdalam.
Melemparkannya ke kelelahan yang manis dari ledakan pembenaran diri, seperti seorang pahlawan usai berbuat kebajikan.
Kini ia bisa istirahat sejenak dengan nurani jernih. Ia mengulat ‐ seluas yang bisa dijangkau tubuhnya di koridor gua nan sempit itu. Keterbatasan fisik ini tak bisa disamai
dengan karpet bersih dalam batin, di mana ia bisa mengulat sepuas dan sekuatnya dengan nyaman, lalu lelap lagi.
Yang ada sekarang tinggal aroma-aroma menyenangkan, seperti aroma hembusan angin gunung, misalnya. Begitu kaya dan asli, seolah terlahir dari padang-padang rumput musim semi.
Lalu ada aroma angin bulan Mei yang berhembus mendesiri dedaunan hijau dari rimba entah di mana, aroma angin laut yang terasa sedikit pahit dengan hawa asin ikan
salmon.
Sore menjelang saat ia bangkit - tak bisa pasti benar soal waktu di dalam gua seperti ini. Tak ada cahaya atau bahkan kegelapan, karena sejatinya tak ada benda nyata apa pun dalam jagat terdalam seorang Grenouille, kecuali aroma.
(Itu sebabnya jagat ini diistilahkan sebagai 'lanskap'. Istilah ini tidak terlalu tepat, barangkali, tapi satu-satunya yang paling mungkin karena bahasa kita memang tak bisa menjelaskan dunia aroma.).
Dalam jagat jiwa Grenouille, saat itu hari sore dan matahari berada di selatan, waktu
tidur siang usai. Terik tengah hari yang melumpuhkan perlahan menyusut, mengembalikan hawa hidup setelah dibatasi begitu lama. Panas api dendam dan kemurkaan ‐ musuh utama wewangian agung - telah menyingkir, dan kawanan iblis dalam batin telah diberangus.
Lanskap yang tersisa dalam hatinya kini melayangkan kelembutan dan mengkilap di bawah lapisan gairah kedamaian yang menandai momen kebangkitan menanti uluran tangan sang majikan untuk datang menyambut.
Grenouille serta-merta bangkit, mengusir sisa kantuk dari tubuh. Dalam pikiran dan perasaan terdalam, sang Grenouille berdiri menjulang. Seperti raksasa yang dirawat sendiri dalam segala kebesaran dan kemegahan, sempurna dalam pandangan - sayang sekali tak ada yang melihat.
Dan lihatlah ia: begitu angkuh dan agung.
Ya! Inilah kerajaannya! Kerajaan tanpa tanding seorang Grenouille! Yang tercipta dan diperintah olehnya, yang bisa dihancurkan kapan saja ia mau, untuk kemudian bangkit
lagi, dibuat menjadi tidak terbatas dan dipertahankan dengan pedang api dari segala pengganggu.
Di sini kehendaknya adalah mutlak. Kehendak sang Grenouille Yang Agung, indah, dan tak terbandingkan.
Setelah berhasil mengenyahkan aroma busuk masa lalu, ia ingin kerajaannya harum semerbak. Dengan langkah-langkah besar ia lewati padang rendah untuk menabur berbagai rupa wewangian. Di sana dan di sini sesuka hati, di bentangan ladang dalam dimensi-dimensi tak berbatas, di bidang-bidang kecil, menabur benih atau menjejalkan sendiri satu demi satu ke lokasi-lokasi terpilih.
Di tempat terjauh dalam kerajaan itu, Grenouille Yang Agung menjadi seorang tukang kebun yang gigih, giat berlarian ke sana kemari sampai tak sejengkal tanah pun yang luput di tebari wewangian.
Demi melihat betapa bagusnya semua ini, dan ketika seluruh bumi telah sesak oleh berkah benih, Yang Mulia kemudian menurunkan hujan semangat nan lembut dan tanpa putus. Dari segala arah benih‐benih itu mulai berkecambah, bertunas, membuncahkan taman surga yang mendamaikan hatinya.
Seantero padang bergulung ombak
wewangian nan mewah, lengkap dengan taman-taman tersembunyi yang menyimpan batang-batang pohon sarat getah, meledak bermekaran dengan indah.
Kemudian Grenouille Yang Agung memerintahkan hujan untuk berhenti. Dan demikianlah. Lalu ia menyuruh matahari untuk mewartakan senyum lembutnya ke
seantero padang. Bila jatuh padi sebuah kuncup, niscaya akan merebak.
Tak lupa Grenouille memberi sentuhan
pelangi dengan karpet warna yang ditenun dari berbagai jenis kapsul wewangian.
Grenouille Yang Agung melihat betapa sangat bagusnya hal ini, lalu mengirim angin napasnya untuk bertiup ke seluruh padang. Mekaran-mekaran yang tersentuh segera menumpahkan diri dengan wewangian dan saling mencampur aroma masing‐masing menjadi sebuah aroma tunggal yang terus berubah dalam keanekaragaman, bergulung berfusi menjadi aroma pemujaan universal kepada Grenouille.
Grenouille Yang Agung, Yang Tak Terbandingkan dan Terelok, bertahta di
awan beraroma emas, menghirup napasnya kembali, sangat puas dengan persembahan tersebut. Ia berkenan memberkahi makhluknya beberapa kali lipat, yang lantas dijawab dengan nyanyian puja-puji, rasa syukur, dan ledakan aroma yang lebih megah lagi.
Saat sore menjelang, aroma itu masih terus tumpah dan bersatu dengan birunya malam, membentuk udara yang lebih fantastis lagi.
Sebuah pesta aroma agung telah menunggu, bersama sebuah ledakan besar semburan aroma bernuansa kembang api
yang butirannya berkilau seperti permata.
Namun Grenouille Yang Agung merasa agak lelah. Ia menguap dan berkata,
“Wahai, telah kulakukan hal yang luar biasa, dan aku senang karenanya.
Tapi sebagaimana semua pekerjaan saat selesai, kiranya ini mulai terasa membosankan. Aku akan undur diri. Segala puncak acara, akan kusimpan satu kesenangan kecil ke dalam hatiku.”
Demikianlah Grenouille Yang Agung bersabda. Sementara warga jagat aroma berdansa dan berpesta di bawahnya, ia meluncur dengan kepakan sayap terentang
lebar dari singgasana awan emas, melintasi padang jiwanya yang gelap, dan pulang ke hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar