Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 26

DUA PULUH ENAM


KATA PANGGUNG UNTUK pesta batin ini  tidak lain dan tidak  bukan bersumber dari kerajaan  hati  yang paling dalam. Tempat ia memendam lapisan  demi lapisan  aroma yang  ditemui  sejak  lahir.  Mood  awal  dibangun  dengan 
mengingat  kembali  ingatan-ingatan  paling  awal  dan terpendam:  

Hawa  permusuhan  di  kamar  tidur Madame Gaillard, tangan-tangannya  yang  kurus  kering;  napas  cuka apel Bapa Terrier; manisnya hawa keibuan Bussie sang ibu susu;  aroma  bangkai tanah pekuburan CimetiĆ©res  des Innocents;  dan hawa-membunuh  ibunya.  

Ingatan-ingatan horor ini membuat Grenouille  berkubang dalam keseganan  dan rasa jijik sampai merinding.

Kadang,  kalau  racun  batin  ini  sedang  cukup  baik  hati menyingkir dari ingatan, ia membiarkan diri hanyut sesaat ke  momen  awal  manisnya  hidup  saat  di  tempat  Grimal  - teringat  pada  kepulan  aroma  daging,  kulit  mentah,  dan kubangan  penyamakan,  atau  membayangkan  kumpulan aroma 600 ribu penduduk Paris di akhir musim panas yang  pengap dan gerah. 

Lalu  seketika  itu,  seluruh  kebencian  yang  terpendam meledak sedemikian rupa-titik kulminasi dari  tahun-tahun awal  latihan  mendayagunakan  keajaiban  penciuman. 

Seperti  hujan  badai  disertai gemuruh  petir ia menggulung semua ingatan aroma yang selama ini begitu merendahkan hidung  ningratnya.  Ia  lemparkan  seperti  hujan  batu  es mengguyur ladang  padi. Seperti angin  topan ia mengacak-acak aroma-aroma tersebut, dan menenggelamkan mereka dalam  banjir  bandang  penyucian.  Kemarahan  ini  terasa begitu adil dan manis. 

Dendam kesumatnya terbalas pada saat ini. 

Ah, sungguh momen  yang  agung.  Tubuh  Grenouille  menggeliat kesenangan  dan  terangkat  begitu  tinggi  sampai  kepalanya 
membentur  atap  gua,  lalu  mereda  dan  kembali  rebah seperti orang kekenyangan. 

Sungguh terlalu menyenangkan aksi  vulkanik  ini  karena  mampu  menghapus  seluruh 
ingatan  aroma  yang  tidak  enak.  Begitu  terus  rutinitas favorit  Grenouille,  berulang-ulang  tanpa  henti  di  relung teater  jagatnya  yang  terdalam.  

Melemparkannya  ke kelelahan  yang  manis  dari  ledakan  pembenaran  diri, seperti seorang pahlawan usai berbuat kebajikan. 

Kini  ia  bisa  istirahat  sejenak  dengan  nurani  jernih.  Ia mengulat ‐ seluas yang bisa dijangkau tubuhnya di koridor gua  nan  sempit itu. Keterbatasan  fisik ini  tak  bisa  disamai 
dengan karpet bersih dalam batin, di mana ia bisa mengulat sepuas dan sekuatnya dengan nyaman, lalu lelap lagi. 

Yang ada sekarang  tinggal aroma-aroma menyenangkan, seperti aroma hembusan angin gunung, misalnya. Begitu kaya dan asli,  seolah  terlahir  dari  padang-padang  rumput  musim semi.  

Lalu  ada  aroma  angin  bulan  Mei  yang  berhembus mendesiri dedaunan hijau dari rimba entah di mana, aroma angin laut yang terasa sedikit pahit  dengan hawa asin ikan
salmon.

Sore menjelang saat ia bangkit - tak bisa pasti benar soal waktu di dalam gua seperti ini. Tak ada cahaya atau bahkan kegelapan,  karena  sejatinya  tak  ada  benda  nyata  apa  pun dalam  jagat  terdalam  seorang  Grenouille,  kecuali  aroma. 

(Itu sebabnya jagat ini diistilahkan sebagai 'lanskap'. Istilah ini  tidak  terlalu  tepat,  barangkali,  tapi  satu-satunya  yang paling  mungkin  karena  bahasa  kita  memang  tak  bisa menjelaskan  dunia  aroma.). 

Dalam  jagat  jiwa  Grenouille, saat  itu  hari  sore  dan  matahari  berada  di  selatan,  waktu 
tidur  siang  usai.  Terik  tengah  hari  yang  melumpuhkan perlahan  menyusut,  mengembalikan  hawa  hidup  setelah dibatasi  begitu  lama.  Panas  api  dendam  dan  kemurkaan  ‐ musuh  utama  wewangian  agung  - telah  menyingkir,  dan kawanan iblis dalam batin  telah diberangus. 

Lanskap yang tersisa  dalam  hatinya  kini  melayangkan  kelembutan  dan mengkilap  di  bawah  lapisan  gairah  kedamaian  yang menandai  momen kebangkitan menanti  uluran  tangan sang majikan untuk datang menyambut. 

Grenouille  serta-merta  bangkit,  mengusir  sisa  kantuk dari  tubuh.  Dalam  pikiran  dan  perasaan  terdalam,  sang Grenouille berdiri menjulang. Seperti raksasa yang dirawat sendiri dalam segala kebesaran dan kemegahan, sempurna dalam pandangan - sayang sekali tak ada yang melihat. 

Dan lihatlah ia: begitu angkuh dan agung. 

Ya!  Inilah  kerajaannya! Kerajaan  tanpa  tanding  seorang Grenouille! Yang tercipta dan diperintah olehnya, yang bisa dihancurkan  kapan  saja  ia  mau,  untuk  kemudian  bangkit 
lagi,  dibuat  menjadi  tidak  terbatas  dan  dipertahankan dengan  pedang  api  dari  segala  pengganggu.  

Di  sini kehendaknya  adalah  mutlak.  Kehendak  sang  Grenouille Yang Agung, indah, dan tak terbandingkan. 

Setelah berhasil mengenyahkan  aroma  busuk  masa  lalu,  ia  ingin kerajaannya  harum  semerbak.  Dengan  langkah-langkah besar  ia  lewati  padang  rendah  untuk  menabur  berbagai rupa  wewangian.  Di  sana  dan  di  sini  sesuka  hati,  di bentangan  ladang  dalam  dimensi-dimensi  tak  berbatas,  di bidang-bidang  kecil,  menabur  benih  atau  menjejalkan sendiri  satu  demi  satu  ke  lokasi-lokasi  terpilih.  

Di  tempat terjauh dalam kerajaan itu, Grenouille Yang Agung menjadi seorang  tukang  kebun  yang  gigih,  giat  berlarian  ke  sana kemari sampai tak  sejengkal tanah pun yang luput di tebari wewangian. 

Demi  melihat  betapa  bagusnya  semua  ini,  dan  ketika seluruh  bumi  telah  sesak  oleh  berkah  benih,  Yang  Mulia kemudian  menurunkan  hujan  semangat  nan  lembut  dan tanpa  putus.  Dari  segala  arah  benih‐benih  itu  mulai berkecambah, bertunas, membuncahkan taman surga yang mendamaikan  hatinya.  

Seantero  padang  bergulung  ombak 
wewangian  nan  mewah,  lengkap  dengan  taman-taman tersembunyi  yang  menyimpan  batang-batang  pohon  sarat getah, meledak bermekaran dengan indah. 

Kemudian Grenouille Yang Agung memerintahkan hujan untuk  berhenti.  Dan  demikianlah.  Lalu  ia  menyuruh matahari  untuk  mewartakan  senyum  lembutnya  ke 
seantero  padang.  Bila  jatuh  padi  sebuah  kuncup,  niscaya akan  merebak.  

Tak  lupa  Grenouille  memberi  sentuhan 
pelangi  dengan  karpet  warna  yang  ditenun  dari  berbagai jenis  kapsul  wewangian.  

Grenouille  Yang  Agung  melihat betapa  sangat  bagusnya  hal  ini,  lalu  mengirim  angin napasnya  untuk  bertiup  ke  seluruh  padang.  Mekaran-mekaran yang tersentuh segera menumpahkan diri dengan wewangian  dan  saling  mencampur  aroma  masing‐masing menjadi  sebuah  aroma  tunggal  yang  terus  berubah  dalam keanekaragaman,  bergulung  berfusi  menjadi  aroma pemujaan  universal  kepada  Grenouille.  

Grenouille Yang Agung,  Yang Tak Terbandingkan dan Terelok,  bertahta  di 
awan beraroma emas, menghirup napasnya kembali, sangat puas  dengan  persembahan  tersebut. Ia berkenan memberkahi makhluknya beberapa  kali  lipat, yang  lantas dijawab dengan  nyanyian  puja-puji, rasa  syukur, dan ledakan aroma yang lebih megah lagi. 

Saat sore menjelang, aroma itu masih terus tumpah dan bersatu dengan birunya malam, membentuk udara yang lebih fantastis lagi. 

Sebuah pesta  aroma  agung  telah  menunggu,  bersama  sebuah ledakan  besar  semburan  aroma  bernuansa  kembang  api 
yang butirannya berkilau seperti permata. 

Namun  Grenouille  Yang  Agung  merasa  agak  lelah.  Ia menguap  dan  berkata,  

“Wahai, telah kulakukan hal yang luar biasa,  dan aku senang karenanya.

Tapi sebagaimana semua pekerjaan saat  selesai, kiranya ini mulai terasa membosankan. Aku akan undur diri. Segala puncak acara,  akan kusimpan satu kesenangan kecil ke dalam hatiku.” 

Demikianlah  Grenouille  Yang  Agung  bersabda. Sementara  warga  jagat  aroma  berdansa  dan  berpesta  di bawahnya,  ia  meluncur  dengan  kepakan  sayap  terentang 
lebar dari singgasana awan emas, melintasi padang jiwanya yang gelap, dan pulang ke hatinya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...