EMPAT PULUH ENAM
SAAT BURUNG MULAI BERCICIT, tak lama menjelang fajar, Grenouille bangkit dan menyelesaikan pekerjaan. Kain linen dibuka dan diangkat seperti membuka perban.
Lemak mengelupas dari kulit dengan sempurna. Beberapa potongan kecil bersisa di sejumlah tempat dan harus dikerik dengan sendok. Sisa lapisan pomade dilap dengan pakaian dalam si gadis.
Grenouille mengelap seluruh tubuh dari kepala sampai telapak kaki untuk terakhir kali. Begitu
menyeluruh sampai minyak dari pori-pori kulit juga ikut terangkat, berikut seluruh serpih dan filamen terakhir aromanya.
Saat itulah Laure benar-benar mati bagi
Grenouille. Layu, pucat, dan lemas seperti kelopak jatuh.
Grenouille membungkus pakaian dalam bekas mengelap bersama pakaian tidur dan rambut. Hanya pada benda benda itu si gadis kini “hidup”.
Grenouille menggulung sedemikian rupa sampai benar-benar padat lalu diapitnya
di bawah lengan. Ia bahkan tak mau repot menutup mayat telanjang itu di tempat tidur.
Pun saat cahaya buram fajar memberkas masuk dari jendela, ia tidak melirik untuk
terakhir kalinya. Keelokan fisik tidak menarik minat Grenouille. Laure tak lagi eksis sebagai tubuh, tapi sebagai aroma tanpa wujud. Itu yang dibawanya sekarang di bawah
ketiaknya.
Perlahan ia menyelinap keluar jendela menuruni tangga. Angin Mulai bertiup dan langit mulai cerah. Memancarkan cahaya biru gelap nan dingin ke tanah di bawahnya.
Setengah jam kemudian, pelayan penginapan menyalakan api di dapur. Saat keluar untuk mengambil cambahan kayu bakar ia, melihat tangga masih bersandar
di bawah jendela, namun ia masih terlalu mengantuk untuk berkesimpulan macam-macam. Beberapa menit lewat jam enam, matahari bangkit. Berpendarlah raksasa merah keemasan itu, beranjak naik dari bentangan laut di antara hes de Urins.
Langit tak berawan, menandai datangnya
musim semi. Dengan kamar menghadap ke arah barat, Richis belum mau bangun sampai jam tujuh. Ia benar-benar tidur
nyenyak untuk pertama kali sejak berbulan-bulan dan tidak seperti biasanya memilih untuk berbaring dulu barang seperempat jam di atas ranjang.
Mengulat dan melenguh nikmat sementara menyimak suara kesibukan dari dapur di lantai bawah. Akhirnya ia bangun dan membuka jendela.
Menikmati pemandangan dan cuaca cerah pagi hari serta desir laut di kejauhan. Suasana hatinya meningkat tanpa batas.
Richis bersiul melantunkan melodi ceria. Ia terus bersiul sambil bersalin, dan masih bersiul saat meninggalkan kamar lalu tiba di depan pintu kamar putrinya di seberang koridor. Tangan mengetuk dan mengetuk lagi dengan lembut agar tidak mengejutkan
Laure yang mungkin masih lelap. Tak ada jawaban. Richis tersenyum. Laure pasti masih tidur.
Dengan hati-hati ia menyelipkan kunci ke lubangnya dan memutar dengan sangat perlahan agar tidak berisik. Ia ingin melihat Laure lelap. Ingin membangunkannya dengan
kecupan, untuk terakhir kali sebelum diserahkan ke lelaki lain dalam ikatan perkawinan.
Pintu terbuka, Richis masuk dan langsung disambut terik matahari pagi. Seisi kamar berkilau seperti disepuh perak. Untuk sesaat ia terpaksa berpejam mata karena pedih.
Saat membuka pintu lebih lebar, ia melihat Laure terbaring di tempat tidur, telanjang, botak, dan mati.
Tubuhnya bersih dan berkilauan. Rasanya seperti mimpi buruk. Mimpi yang menghantui beberapa minggu terakhir di Grasse dan sudah nyaris terlupakan.
Kini setiap detailnya kembali menyerbu bagai kilat. Detik itu segalanya persis seperti yang ada di mimpi, hanya lebih terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar