Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 46

EMPAT PULUH ENAM


SAAT  BURUNG  MULAI  BERCICIT,  tak  lama  menjelang fajar,  Grenouille  bangkit  dan  menyelesaikan  pekerjaan. Kain  linen  dibuka  dan  diangkat  seperti  membuka  perban. 

Lemak mengelupas  dari  kulit  dengan  sempurna. Beberapa potongan  kecil  bersisa  di  sejumlah  tempat  dan  harus dikerik  dengan  sendok.  Sisa  lapisan  pomade  dilap  dengan pakaian dalam si gadis. 

Grenouille mengelap seluruh tubuh dari kepala sampai telapak kaki untuk terakhir kali. Begitu 
menyeluruh  sampai  minyak  dari  pori-pori  kulit  juga  ikut terangkat,  berikut  seluruh  serpih  dan  filamen  terakhir aromanya.  

Saat  itulah  Laure  benar-benar  mati  bagi 
Grenouille. Layu, pucat, dan lemas seperti kelopak jatuh. 

Grenouille membungkus pakaian dalam bekas mengelap bersama  pakaian  tidur dan rambut.  Hanya  pada  benda benda  itu  si  gadis  kini  “hidup”.  

Grenouille  menggulung sedemikian  rupa  sampai  benar-benar  padat lalu  diapitnya 
di bawah lengan. Ia bahkan tak mau repot menutup mayat telanjang itu  di  tempat  tidur. 

Pun  saat  cahaya  buram  fajar memberkas  masuk  dari  jendela,  ia  tidak  melirik  untuk 
terakhir  kalinya.  Keelokan  fisik  tidak  menarik  minat Grenouille. Laure  tak lagi eksis sebagai  tubuh,  tapi sebagai aroma tanpa wujud. Itu yang dibawanya sekarang di bawah 
ketiaknya. 

Perlahan ia menyelinap keluar jendela menuruni tangga. Angin Mulai bertiup dan langit mulai cerah.  Memancarkan cahaya biru gelap nan dingin ke tanah di bawahnya. 

Setengah  jam  kemudian,  pelayan  penginapan menyalakan  api  di  dapur.  Saat  keluar  untuk  mengambil cambahan  kayu  bakar  ia,  melihat  tangga  masih  bersandar 
di bawah jendela, namun ia masih terlalu mengantuk untuk berkesimpulan  macam-macam.  Beberapa  menit  lewat  jam enam,  matahari  bangkit.  Berpendarlah  raksasa  merah keemasan itu,  beranjak  naik  dari  bentangan laut  di antara hes  de  Urins.  

Langit  tak  berawan,  menandai  datangnya 
musim semi. Dengan  kamar  menghadap  ke  arah  barat,  Richis  belum mau  bangun sampai  jam  tujuh.  Ia  benar-benar  tidur 
nyenyak untuk pertama kali sejak berbulan-bulan dan tidak seperti  biasanya  memilih  untuk  berbaring  dulu  barang seperempat  jam  di  atas  ranjang.  

Mengulat  dan  melenguh nikmat sementara menyimak suara kesibukan dari dapur di lantai  bawah.  Akhirnya  ia  bangun  dan  membuka  jendela. 

Menikmati  pemandangan  dan  cuaca  cerah  pagi  hari  serta desir  laut  di  kejauhan.  Suasana  hatinya  meningkat  tanpa batas. 

Richis bersiul melantunkan melodi ceria. Ia  terus  bersiul  sambil  bersalin,  dan  masih  bersiul  saat meninggalkan  kamar  lalu  tiba  di  depan  pintu  kamar putrinya  di  seberang  koridor.  Tangan  mengetuk  dan mengetuk  lagi  dengan  lembut  agar  tidak  mengejutkan 
Laure  yang mungkin masih lelap.  Tak  ada jawaban.  Richis tersenyum. Laure pasti masih tidur. 

Dengan hati-hati ia menyelipkan kunci ke lubangnya dan memutar  dengan  sangat  perlahan  agar  tidak  berisik.  Ia ingin melihat Laure lelap. Ingin membangunkannya dengan 
kecupan,  untuk  terakhir  kali  sebelum  diserahkan  ke lelaki lain dalam ikatan perkawinan. 

Pintu terbuka, Richis masuk dan langsung disambut terik matahari  pagi. Seisi kamar berkilau seperti disepuh  perak.  Untuk sesaat ia terpaksa berpejam mata karena pedih. 

Saat  membuka  pintu  lebih  lebar,  ia  melihat  Laure terbaring  di  tempat  tidur,  telanjang,  botak,  dan  mati. 

Tubuhnya  bersih  dan  berkilauan.  Rasanya  seperti  mimpi buruk. Mimpi  yang menghantui  beberapa minggu  terakhir di Grasse dan sudah nyaris terlupakan. 

Kini setiap detailnya kembali  menyerbu  bagai  kilat.  Detik  itu  segalanya  persis seperti yang ada di mimpi, hanya lebih terang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...