DUA PULUH SEMBILAN
BENCANA YANG DIMAKSUD bukan gempa bumi, bukan kebakaran hutan, bukan tanah longsor atau gua runtuh.
Sama sekali bukan bencana eksternal, tapi internal. Dan kebetulan sangat menekan batin karena mampu menutup media pelarian favorit Grenouille. Ini terjadi sewaktu tidur,
atau lebih tepat dalam mimpinya, selagi ia berada di kerajaan aroma.
Saat itu ia sedang tidur di sofa ungu di ruang duduk seperti biasa, dengan botol-botol aroma berserakan di sana-sini. Ia telah minum sangat banyak, plus dua botol aroma si gadis berambut merah sebagai penutup.
Tampaknya pesta kali ini sedemikian kelewatan, karena meskipun tidurnya sudah seperti orang mati, tapi tidak dibarengi mimpi indah seperti biasa. Mimpi yang datang berupa gumpalan-gumpalan kabut serupa hantu.
Grenouille mengenali kabut itu sebagai potongan‐potongan aroma. Awalnya melayang-layang dalam rajutan-rajutan tipis
melewati hidung, tapi lama-lama makin tebal dan mengawan. Lalu mendadak ia seperti berdiri persis di tengah-tengah kabut yang terus menebal, merambat naik
perlahan sampai sepenuhnya membungkusnya, menggulung begitu rupa dan membuatnya sulit bernapas.
Ia terpaksa menghirup napas kalau tak mau tercekik. Saat itulah batin Grenouille berkata bahwa ini adalah aroma tubuhnya sendiri.
Walau tahu bahwa ini bau tubuh sendiri, tapi sungguh sangat tidak sedap dan tak tertahankan.
Sialnya, meski tak tahan bau ini, Grenouil e malah tenggelam makin dalam. Ia tak kuat mencium bau tubuhnya sendiri!
Grenouille menjerit seperti orang dibakar hidup-hidup. Jeritan itu mendobrak dinding ruang duduk, meluluhkan dinding puri, dan melesat meruntuhkan seluruh jagat imajiner dalam jiwanya seperti badai api.
Melolong keluar dari mulut gua ke lorong gua dan menyebar ke seantero dataran Saint-Flour - seolah gunung itu sendiri yang
menjerit. Grenouille terbangun dalam jeritan. Ia langsung melompat meronta ke sana kemari, berusaha mengusir kabut pikiran yang mencekik. Ia amat sangat ketakutan.
Seluruh tubuh menggigil oleh perasaan takut mati. Kalau jeritannya tak cukup kuat merobek kabut itu, ia pasti sudah tenggelam. Brr.. sungguh kematian yang mengerikan.
Badannya gemetar lagi setiap kali teringat.
Dan sementara duduk menenangkan diri, batinnya mendeburkan keyakinan baru: ia harus mengubah jalan hidup. Tak sudi
mengulang mimpi seperti itu untuk kedua kali. Ia pasti mati kalau sampai terulang.
Grenouille menyambar selimut pelana, menutupi bahunya, lalu merayap keluar. Fajar sudah menyingsing.
Suatu pagi di akhir Februari. Matahari bersinar cerah. Bumi mengepulkan aroma batu lembap, lumut, dan air. Angin menisikkan semilir bunga anemones.
Grenouille berjongkok di depan gua. Cahaya matahari menghangatkan tubuh, bersama dengan tarikan napas menghirup udara segar. Ia masih gemetar setiap kali teringat kabut mimpi tadi. Tapi gemetar yang sama juga ia nikmati dari kehangatan cahaya matahari yang menyapa punggung.
Lega rasanya mendapati bahwa dunia luar masih ada setidaknya buat tempat mengungsi. Apa jadinya kalau waktu keluar gua tadi dunia sudah musnah! Tak ada
cahaya, tak ada aroma, tak apa ada apapun - hanya kabut mengerikan di dalam, di luar, di mana-mana....
Perlahan rasa kagetnya menyurut. Perlahan pula kegelisahan mereda, dan Grenouille mulai merasa lebih aman. Menjelang siang ia kembali ke jiwa lama sebagai sosok berdarah dingin.
Grenouille merapatkan jari tengah dan telunjuk tangan kiri ke bawah hidung, lalu bernapas sepanjang punggung kedua jari itu. Ia bisa mencium udara musim semi yang basah bercampur aroma anemones, tapi
tak mencium bau apa pun dari jemarinya.
Grenouille membalik tangan dan mencium telapaknya. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar tapi tak mencium apa pun. Lalu ia menggulung lengan baju dan mengubur hidung di lipatan siku. Ia tahu ini lokasi yang biasanya jadi salah satu sumber bau manusia, tapi ia tetap tak mencium apa pun. Ia tak mencium apa-apa di ketiak, tidak pula di kaki atau sekitar kemaluan walau telah membungkuk sedekat mungkin.
Aneh sekali. Ia, Grenouille, mampu mencium orang lain dari jarak bermil-mil, tapi tak mampu mengendus kemaluan sendiri dari jarak tak sampai serentangan tangan!
Grenouille tidak lantas panik, tapi
menanggapi dengan dingin dan berkomentar sendiri,
“Bukannya aku tidak berbau, karena segala sesuatu pasti mengeluarkan aroma. Tampaknya aku tak bisa mencium aromaku sendiri karena sudah sangat terbiasa sejak lahir.
Hidungku jadi kebal. Kalau aku bisa memilah-milah aromaku - atau setidaknya sebagian dari itu, lalu mencoba lagi, pasti bisa. Begitulah adanya aku.”
Grenouille mulai membuka pakaian satu per satu. Sudah dekil, kumal, dan sobek-sobek karena tujuh tahun tak pernah dilepas.
Aromanya pasti sudah sangat bercampur
dengan aroma tubuhnya sendiri. Ia menumpuk pakaian di depan gua dan berjalan menjauh. Seperti tujuh tahun lalu ia memanjat lagi ke puncak gunung. Ia berdiri persis di
tempat yang sama waktu pertama kali datang, mengangkat hidung ke arah barat, dan membiarkan angin menyisiri tubuh.
Ia berniat mengangkat diri ke udara semaksimal mungkin. Memompa badan ke angin barat - ke arah aroma laut dan padang basah, agar bisa dijadikan semacam
penyeimbang terhadap bau badan.
Menciptakan gradien antara tubuh dengan pakaian yang baru saja dilepas, agar bisa dicium lebih jelas. Dan agar hidung tidak
terkontaminasi oleh bau tubuh, ia mencondongkan diri sedemikian rupa ke arah angin, dengan tangan terjulur ke belakang, seperti perenang sebelum mencebur ke air.
Pose konyol ini bertahan selama beberapa jam. Kulit Grenouille yang pucat karena jarang kena matahari memerah seperti m udang rebus. Menjelang sore ia kembali ke gua. Dari jauh ia bisa melihat pakaiannya masih ada di tempat. Selang beberapa meter ia menutup hidung dan membukanya lagi setelah berada persis di dekat tumpukan
pakaian. Ia mencoba teknik mengendus gaya Baldini - mencuri udara dengan cepat lalu dilepas lagi penuh-penuh.
Untuk menangkap aroma, ia menangkup tangan membentuk lonceng di sekitar pakaian, dengan hidung menempel di atas jempol. Segala kemungkinan dijajal demi
mengekstraksi aroma dari pakaian, tapi yang dicari tak kunjung tercium. Tampaknya memang tak ada di situ.
Aroma lain bisa dijejaki dengan mudah, seperti aroma bebatuan, pasir, lumut, getah, darah burung gagak, bahkan bau sosis yang ia beli bertahun-tahun lalu dekat Sully juga masih tercium jelas.
Tumpukan pakaian ini menyimpan jumal penduman dari tujuh sampai delapan tahun lalu. Hanya satu aroma yang tak ada: bau badannya sendiri -orang yang mengenakan pakaian itu sepanjang waktu.
Sekarang ia benar-benar mulai cemas. Matahari telah tenggelam dan ia masih berdiri telanjang di pintu gua, yang telah dihuninya dalam kegelapan selama tujuh tahun ini.
Angin dingin bertiup. Tapi rasa dingin yang muncul datang dari rasa takut. Tak seperti kengerian yang dirasakannya saat bermimpi - yang satu ini harus selalu dihindari dengan
segala cara. Rasa takut yang dihadapi sekarang hadir dari kesadaran bahwa ternyata ia tak terlalu mengenal diri sendiri.
Ia tak bisa melarikan diri, tapi juga tak ragu melangkah lebih dekat. Ia malah merasa harus memastikan lebih jauh - pun bila harus berujung dengan kenyataan bahwa ia memang tidak memiliki bau.
Apa pun itu, ia harus tahu sekarang juga.
Grenouille masuk ke gua. Gelap memang, tapi seperti biasa ia selalu bisa menentukan arah layaknya siang hari. Lagi pula ia sudah ribuan kali melewati jalan itu. Tahu setiap jengkal dan kelokan, dapat membaui setiap stalagmit dan stalagmitnya. Sama sekali tidak sulit menentukan arah.
Yang sulit adalah perjuangan melawan ingatan ihwal mimpi mencekik yang makin meninggi setiap langkah. Tapi Grenouille bukan pengecut - setidaknya dari sudut pandang
perjuangan melawan rasa takut terhadap kesadaran bahwa ia tak tahu banyak tentang diri sendiri.
Grenouille bisa menang karena sadar tak punya pilihan lain. Tiba di ujung terowongan, di tempat karang-karang menjulang miring ke atas, rasa takut itu menghilang. Ia merasa tenang, berpikir jernih dan hidung setajam pisau. Grenouille berjongkok, meletakkan tangan menutup mata dan mengendus. Di
tempat ini ia berkubang selama tujuh tahun.
Sedikit banyak pasti ada aroma tubuh yang tertinggal. Melebihi tempat lain di dunia. Grenouille bernapas perlahan, mencoba
menganalisis setepat mungkin, mengizinkan diri untuk menilai. Selama seperempat jam ia berjongkok di situ.
Memorinya sempurna dan ia tahu persis bagaimana bau tempat ini tujuh tahun yang lalu: aroma bebatuan nan lembap, asin, dingin, dan begitu bersih-sangat pasti tak
pernah ditempati makhluk hidup lain baik manusia ataupun binatang.... Persis dengan aroma yang ia cium sekarang.
Ia terus berjongkok selama beberapa waktu. Dengan tenang, mengangguk-angguk lembut. Lalu ia berbalik dan berjalan. Semula membungkuk, sampai terowongan memungkinkannya untuk berdiri tegak, dan terus ke udara terbuka.
Di luar gua, Grenoullle mengemasi buntelnya (jangan tanya sepatu, karena sudah hancur sejak bertahun-tahun lalu), melingkari selimut pelana ke sekeliling bahu, dan malam itu juga pergi meninggalkan Plomb du Cantal, ke arah selatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar