Kamis, 05 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 29

DUA PULUH SEMBILAN 


BENCANA  YANG DIMAKSUD  bukan gempa  bumi,  bukan kebakaran  hutan,  bukan  tanah  longsor  atau  gua  runtuh. 

Sama  sekali  bukan  bencana  eksternal,  tapi  internal.  Dan kebetulan  sangat  menekan  batin  karena  mampu  menutup media pelarian favorit Grenouille. Ini terjadi sewaktu tidur, 
atau  lebih  tepat  dalam  mimpinya,  selagi  ia  berada  di kerajaan aroma. 

Saat  itu  ia  sedang  tidur  di  sofa  ungu  di  ruang  duduk seperti  biasa,  dengan  botol-botol  aroma  berserakan  di sana-sini.  Ia telah  minum  sangat  banyak,  plus  dua  botol aroma  si  gadis  berambut  merah  sebagai  penutup. 

Tampaknya  pesta  kali  ini  sedemikian  kelewatan,  karena meskipun  tidurnya  sudah  seperti  orang  mati,  tapi  tidak dibarengi  mimpi  indah  seperti  biasa.  Mimpi  yang  datang berupa gumpalan-gumpalan kabut serupa hantu. 

Grenouille mengenali  kabut  itu  sebagai  potongan‐potongan  aroma. Awalnya  melayang-layang  dalam  rajutan-rajutan  tipis 
melewati  hidung,  tapi  lama-lama  makin  tebal  dan mengawan.  Lalu  mendadak  ia  seperti  berdiri  persis  di tengah-tengah  kabut  yang  terus  menebal,  merambat  naik 
perlahan  sampai  sepenuhnya membungkusnya, menggulung  begitu  rupa  dan  membuatnya  sulit  bernapas. 

Ia  terpaksa menghirup  napas  kalau  tak mau  tercekik. Saat itulah  batin  Grenouille  berkata  bahwa  ini  adalah  aroma tubuhnya sendiri. 
Walau  tahu  bahwa  ini  bau  tubuh  sendiri,  tapi  sungguh sangat tidak sedap dan tak tertahankan. 

Sialnya, meski tak tahan bau ini, Grenouil e malah tenggelam makin dalam. Ia tak kuat mencium bau tubuhnya sendiri!

Grenouille  menjerit  seperti  orang  dibakar  hidup-hidup. Jeritan  itu  mendobrak  dinding  ruang  duduk,  meluluhkan dinding  puri,  dan  melesat  meruntuhkan  seluruh  jagat imajiner  dalam jiwanya  seperti  badai api. 

Melolong  keluar dari  mulut  gua  ke  lorong  gua  dan  menyebar  ke  seantero dataran  Saint-Flour  - seolah  gunung  itu  sendiri  yang 
menjerit.  Grenouille  terbangun  dalam  jeritan.  Ia  langsung melompat  meronta  ke  sana  kemari,  berusaha  mengusir kabut  pikiran  yang  mencekik.  Ia  amat  sangat  ketakutan.

Seluruh  tubuh  menggigil  oleh  perasaan  takut  mati.  Kalau jeritannya tak cukup kuat merobek kabut itu, ia pasti sudah tenggelam.  Brr..  sungguh  kematian  yang  mengerikan. 
Badannya gemetar lagi setiap kali  teringat. 

Dan sementara duduk  menenangkan  diri,  batinnya  mendeburkan keyakinan  baru:  ia  harus  mengubah  jalan  hidup.  Tak  sudi 
mengulang mimpi seperti itu untuk kedua kali. Ia pasti mati kalau sampai terulang. 

Grenouille  menyambar  selimut  pelana,  menutupi bahunya,  lalu  merayap  keluar.  Fajar  sudah  menyingsing. 

Suatu pagi di akhir Februari. Matahari bersinar cerah. Bumi mengepulkan  aroma  batu  lembap,  lumut,  dan  air.  Angin menisikkan  semilir  bunga  anemones.  

Grenouille berjongkok di depan gua. Cahaya matahari menghangatkan tubuh,  bersama  dengan  tarikan  napas  menghirup  udara segar.  Ia  masih  gemetar  setiap  kali  teringat  kabut  mimpi tadi.  Tapi  gemetar  yang  sama  juga  ia  nikmati  dari kehangatan  cahaya  matahari  yang  menyapa  punggung. 

Lega  rasanya  mendapati  bahwa  dunia  luar  masih  ada setidaknya  buat  tempat  mengungsi.  Apa  jadinya  kalau waktu  keluar  gua  tadi  dunia  sudah  musnah!  Tak  ada 
cahaya,  tak  ada  aroma,  tak  apa ada apapun - hanya  kabut mengerikan di dalam, di luar, di mana-mana.... 

Perlahan  rasa  kagetnya  menyurut.  Perlahan  pula kegelisahan  mereda,  dan  Grenouille  mulai  merasa  lebih aman.  Menjelang  siang  ia  kembali  ke  jiwa  lama  sebagai sosok  berdarah  dingin.  

Grenouille  merapatkan  jari  tengah dan  telunjuk  tangan  kiri  ke  bawah  hidung,  lalu  bernapas sepanjang punggung kedua jari itu.  Ia bisa mencium udara musim semi yang basah bercampur aroma anemones, tapi 
tak  mencium  bau  apa  pun  dari  jemarinya.  

Grenouille membalik  tangan  dan  mencium  telapaknya.  Ia  bisa merasakan  kehangatan  yang  memancar  tapi  tak  mencium apa  pun.  Lalu  ia  menggulung  lengan  baju  dan  mengubur hidung di lipatan siku. Ia tahu ini lokasi yang biasanya jadi salah satu sumber bau manusia,  tapi ia  tetap  tak mencium apa  pun.  Ia  tak  mencium  apa-apa  di  ketiak,  tidak  pula  di kaki  atau  sekitar  kemaluan  walau  telah  membungkuk sedekat  mungkin.  

Aneh  sekali.  Ia,  Grenouille,  mampu mencium orang lain dari jarak bermil-mil,  tapi  tak mampu mengendus  kemaluan  sendiri  dari  jarak  tak  sampai serentangan  tangan!  

Grenouille  tidak  lantas  panik,  tapi 
menanggapi  dengan  dingin  dan  berkomentar  sendiri, 

“Bukannya  aku  tidak  berbau,  karena  segala  sesuatu  pasti mengeluarkan  aroma. Tampaknya  aku  tak  bisa  mencium aromaku  sendiri  karena  sudah  sangat  terbiasa  sejak lahir. 

Hidungku  jadi  kebal.  Kalau  aku  bisa  memilah-milah aromaku - atau setidaknya sebagian dari itu, lalu mencoba lagi, pasti bisa. Begitulah adanya aku.” 

Grenouille mulai membuka pakaian satu per satu. Sudah dekil,  kumal,  dan  sobek-sobek  karena  tujuh  tahun  tak pernah  dilepas.  

Aromanya  pasti  sudah  sangat  bercampur 
dengan  aroma  tubuhnya  sendiri.  Ia menumpuk  pakaian  di depan gua dan berjalan menjauh. Seperti tujuh tahun lalu ia memanjat  lagi  ke  puncak  gunung.  Ia  berdiri  persis  di 
tempat yang sama waktu pertama kali datang, mengangkat hidung  ke  arah  barat,  dan  membiarkan  angin  menyisiri tubuh.  

Ia  berniat  mengangkat  diri  ke  udara  semaksimal mungkin. Memompa badan ke angin barat - ke arah aroma laut  dan  padang  basah,  agar  bisa  dijadikan  semacam 
penyeimbang  terhadap  bau  badan.  

Menciptakan  gradien antara  tubuh  dengan  pakaian  yang  baru  saja  dilepas,  agar bisa  dicium  lebih  jelas.  Dan  agar  hidung  tidak 
terkontaminasi  oleh  bau  tubuh,  ia  mencondongkan  diri sedemikian  rupa  ke arah angin,  dengan  tangan  terjulur  ke  belakang, seperti perenang sebelum mencebur ke air. 

Pose  konyol  ini  bertahan  selama  beberapa  jam.  Kulit Grenouille  yang  pucat  karena  jarang  kena  matahari memerah  seperti m udang  rebus.  Menjelang  sore  ia  kembali ke  gua. Dari jauh ia  bisa melihat  pakaiannya masih  ada  di tempat.  Selang  beberapa  meter  ia  menutup  hidung  dan membukanya lagi setelah berada persis di dekat tumpukan 
pakaian.  Ia  mencoba  teknik  mengendus  gaya  Baldini  - mencuri udara dengan cepat lalu dilepas lagi penuh-penuh. 

Untuk  menangkap  aroma,  ia  menangkup  tangan membentuk  lonceng  di  sekitar  pakaian,  dengan  hidung menempel di atas jempol. Segala kemungkinan dijajal demi 
mengekstraksi  aroma  dari  pakaian,  tapi  yang  dicari  tak kunjung  tercium.  Tampaknya  memang  tak  ada  di  situ. 

Aroma  lain  bisa  dijejaki  dengan  mudah,  seperti  aroma bebatuan, pasir, lumut, getah, darah burung gagak, bahkan bau sosis yang ia beli bertahun-tahun lalu dekat Sully juga masih  tercium  jelas.  

Tumpukan  pakaian  ini  menyimpan jumal  penduman  dari  tujuh  sampai  delapan  tahun  lalu. Hanya  satu  aroma  yang  tak  ada:  bau  badannya  sendiri -orang yang mengenakan pakaian itu sepanjang waktu. 

Sekarang  ia  benar-benar  mulai  cemas.  Matahari  telah tenggelam dan ia masih berdiri telanjang di pintu gua, yang telah  dihuninya  dalam  kegelapan  selama  tujuh  tahun  ini. 

Angin dingin bertiup. Tapi rasa dingin yang muncul datang dari  rasa  takut.  Tak  seperti  kengerian  yang  dirasakannya saat bermimpi - yang satu ini harus selalu dihindari dengan 
segala  cara.  Rasa  takut  yang  dihadapi  sekarang  hadir  dari kesadaran  bahwa ternyata  ia  tak  terlalu  mengenal  diri sendiri.  

Ia  tak  bisa  melarikan  diri,  tapi  juga  tak ragu melangkah lebih dekat. Ia malah merasa harus memastikan lebih  jauh  - pun  bila  harus  berujung  dengan  kenyataan bahwa ia memang tidak memiliki bau. 

Apa pun itu, ia harus tahu sekarang juga. 
Grenouille  masuk  ke  gua.  Gelap  memang,  tapi  seperti biasa  ia  selalu  bisa menentukan  arah  layaknya  siang  hari. Lagi  pula  ia sudah  ribuan  kali  melewati  jalan  itu.  Tahu setiap jengkal dan kelokan, dapat membaui setiap stalagmit dan stalagmitnya. Sama sekali tidak sulit menentukan arah. 

Yang sulit adalah perjuangan melawan ingatan ihwal mimpi mencekik  yang  makin  meninggi  setiap  langkah.  Tapi Grenouille bukan pengecut - setidaknya dari sudut pandang 
perjuangan melawan rasa takut terhadap kesadaran bahwa ia  tak  tahu  banyak tentang  diri  sendiri.  

Grenouille  bisa menang karena sadar  tak punya pilihan lain. Tiba di ujung terowongan, di tempat karang-karang menjulang miring ke atas, rasa  takut itu menghilang.  Ia merasa  tenang, berpikir jernih  dan  hidung  setajam  pisau.  Grenouille  berjongkok, meletakkan  tangan  menutup  mata  dan  mengendus.  Di 
tempat ini ia berkubang selama tujuh tahun. 

Sedikit banyak pasti ada aroma tubuh yang tertinggal. Melebihi tempat lain di  dunia.  Grenouille  bernapas  perlahan,  mencoba 
menganalisis  setepat  mungkin,  mengizinkan  diri  untuk menilai.  Selama  seperempat  jam  ia  berjongkok  di  situ. 

Memorinya  sempurna  dan  ia  tahu  persis  bagaimana  bau tempat  ini  tujuh  tahun  yang  lalu:  aroma  bebatuan  nan lembap,  asin,  dingin,  dan  begitu  bersih-sangat  pasti  tak 
pernah  ditempati  makhluk  hidup  lain  baik  manusia ataupun  binatang....  Persis  dengan  aroma  yang  ia  cium sekarang. 

Ia  terus  berjongkok  selama  beberapa  waktu.  Dengan tenang,  mengangguk-angguk  lembut.  Lalu  ia  berbalik  dan berjalan.  Semula  membungkuk,  sampai terowongan memungkinkannya untuk berdiri tegak, dan terus ke udara terbuka. 

Di  luar  gua,  Grenoullle  mengemasi  buntelnya  (jangan tanya  sepatu,  karena  sudah  hancur  sejak  bertahun-tahun lalu),  melingkari  selimut  pelana  ke  sekeliling  bahu,  dan malam  itu  juga  pergi meninggalkan  Plomb  du  Cantal,  ke arah selatan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...