TIGA PULUH ENAM
TAK JAUH DARI GERBANG FÉNÉANTS, di jalan Louve, Grenouille menemukan sebuah tempat usaha pembuatan parfum kecil dan melamar kerja. Ia beroleh kabar bahwa pemilik usaha, Maître parfumeur Honoré Arnulfi, telah meninggal pada musim dingin tahun lalu dan bahwa janda berusia tiga puluh tahun berambut hitam nan ceria ini sekarang mengurus bisnis sendiri, dibantu oleh seorang ahli.
Setelah berkeluh-kesah tentang masa-masa paceklik dan kondisi keuangan yang menjelang ajal, Madame Arnulfi menyatakan bahwa ia tak sanggup membiayai seorang ahli
lagi, tapi ia memang membutuhkan tenaga ahli untuk menangani bisnis di masa depan. Ia tak bisa menampung Grenouille di rumah ini tapi memiliki sebuah kabin kecil di
tengah padang zaitun di belakang biara Franciscan yang jauhnya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki.
Grenouille bisa tidur di situ kalau mau, kendati sempit. Ia mengaku bahwa sebagai seorang nyonya yang baik ia berkewajiban
mengurus kesejahteraan fisik para pekerjanya, tapi tak mampu memberi sarapan dua kali sehari.
Pendek kata, seperti dugaan Grenouille, Madame Arnulfi adalah seorang wanita kaya nan pelit dengan insting bisnis yang baik. Dan
karena Grenouille tidak rewel soal uang dan menyatakan diri cukup puas dibayar dua franc seminggu plus kebutuhan minim lainnya, kesepakatan dengan segera terjalin.
Ahli pertama dipanggil - seorang pria raksasa bernama Druot. Grenouille langsung tahu bahwa orang ini berbagi ranjang dengan Madame Arnulfi secara teratur dan sang janda tak bisa mengambil putusan penting tanpa berkonsultasi dengannya lebih dulu.
Dengan kaki terentang dan awan aroma bernuansa sperma, ia menjejakkan diri di
depan Grenouille yang tampak begitu ringkih, mengamati dari atas ke bawah, memandang lurus ke mata - seolah dengan
teknik ini ia bisa mencium niat buruk atau gelagat sebagai calon saingan, akhirnya memberi sinyal persetujuan dengan sebuah anggukan.
Setelah urusan kontrak selesai, Grenouille berjabat tangan, dan mendapatkan makanan kecil yang sudah dingin, sehelai selimut, dan kunci di belakang biara. Kabin itu lebih tepat
disebut gubuk. Tidak berjendela dan berbau jerami serta kotoran kambing.
Tapi Grenouille tidak protes. Ia malah
suka dan mencoba membuat situasi senyaman mungkin.
Esok ia mulai bekerja untuk Madame Arnulfi.
Saat itu sedang musim bunga jonquil. Madame Arnulfi menanam bunga itu dalam bidang-bidang kecil di sebidang tanah bercekungan lebar miliknya di bawah kota, atau membeli dari para petani yang ia tawar gila-gilaan setiap onsnya.
Bunga dikirim pagi-pagi sekali lalu dipindah ke ruang kerja dengan keranjang, ke sebuah tumpukan yang sangat banyak namun ringan dan harum.
Di saat yang sama, Druor mencairkan lemak babi dan lemak sapi dalam sebuah tungku besar untuk dijadikan sup berkrim.
Sesekop penuh bunga segar ia masukkan ke godokan sementara Grenouille terus mengaduk menggunakan pengaduk sepanjang sapu.
Bunga-bunga itu mengapung sebentar, seperti mata manusia menjelang kematian, dan segera kehilangan warna begitu pengaduk mendesak mereka ke pelukan minyak hangat.
Nyaris seketika itu juga bunga-bunga itu pudar dan melayu. Kematian datang begitu cepat dan mereka tak punya pilihan selain menghembuskan napas aroma terakhir ke dalam minyak.
Grenouille menyaksikan semua ini dengan sangat kagum. Makin banyak bunga yang ia desak ke dalam tungku, makin manis aroma minyaknya.
Bukan berarti bunga-bunga itu terus menyesakkan aroma, tapi minyak sendiri telah membentuk dan menegaskan aroma
tersebut.
Kadang sup menjadi terlalu kental sehingga harus segera. dituang ke dalam ayakan, membebaskannya dari bangkai bunga dan memberi ruang untuk bunga baru.
Begitu terus Grenouille dan Druot bekerja sepanjang hari tanpa berhenti karena prosedurnya memang tidak memungkinkan penundaan. Sampai sore, seluruh tumpukan bunga ludes ke tungku minyak.
Agar tidak ada yang terbuang percuma, sisanya direndam dalam air panas dan diperas sampai tetes terakhir dalam sebuah mesin pemeras. Itu pun masih sedikit mengambangkan keharuman.
Mayoritas aroma yang menjadi jiwa lautan
bunga ini tetap berada dalam tungku. Ditutup rapat di dalam dan di awetkan pelumas berwarna putih buram yang tidak berbau dan lambat mengental.
Prosedur maceration - pelembutan dengan metode perendaman ini berlanjut keesokan harinya. Tungku dipanaskan lagi, minyak dicairkan dan diberi makan bebungaan baru.
Ini berlangsung sampai beberapa hari,
dari pagi sampai sore. Benar-benar pekerjaan melelahkan.
Tangan Grenouille serasa rontok dan tinggal tulang. Punggungnya sakit setiap kali menyeret badan pulang ke kabin. Walau Druot setidaknya berbadan tiga kali lebih
kuat, ia tak pernah mau bergantian mengaduk. Malah dengan ramah terus menuang bunga, menjaga api dan kadang - entah karena panas atau apa - pergi keluar untuk minum.
Tapi Grenouille tidak protes. Ia terus mengaduk bunga di dalam minyak tanpa mengeluh. Dari subuh sampai malam dan nyaris tidak menyadari beratnya pekerjaan
lantaran tak habis kagum dengan proses yang berlangsung di depan mata dan di bawah hidungnya ini:
Pada bunga‐bunga yang layu begitu cepat dan penyerapan aroma mereka.
Suatu hari Druot memutuskan bahwa minyak sudah jenuh dan tak mampu menyerap aroma lagi. Ia mematikan api, mengayak minyak kental untuk terakhir kali, dan menuang hasilnya ke wadah tembikar.
Minyak dengan segera mengeras menjadi pomade - minyak rambut yang sangat harum.
Kini giliran Madame Arnulfi beraksi. Ia hadir menguji kandungan logam dari produk yang baru dibuat, memberi nama dan mencatat dengan persis kualitas serta kuantitas produk tersebut.
Setelah menyumbat wadah tembikar,
menyegel, dan menyimpannya di gudang loteng berhawa sejuk, ia merapikan gaun hitamnya, mengambil kerudung berkabung sebagai seorang janda, lalu berkeliling ke para penjual parfum grosir dan eceran.
Dengan rayuan mengharukan ia menjelaskan pada para lelaki itu tentang kondisinya sebagai seorang wanita yang ditinggal mati
suami, membiarkan mereka menawar, membandingkan harga, mendesah lemas, dan akhirnya menjual atau kadang tidak menjual apa-apa.
Minyak rambut berparfum, jika disimpan di tempat sejuk, dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Kalau harga saat ini sedang jelek, siapa tahu akan naik lagi di musim dingin atau musim panas berikutnya.
Di samping pertimbangan lain apakah hendak menjual ke pedagang keliling seperti ini atau bergabung dengan produsen-produsen kecil lain dan bekerja sama mengirim pomade ke Genoa atau berbagai konvoi ke pasar malam musim gugur di Beaucaire.
Ini memang bisnis berisiko, tapi sangat
menguntungkan kalau sukses. Madame Amulfi dengan sangat hati-hati mempertimbangkan berbagai kemungkinan ini.
Kadang ia mau menekan kontrak, menjual beberapa porsi dagangan tapi tetap menyimpan porsi lain untuk cadangan, juga mengambil risiko bernegosiasi dengan pihak ketiga untuk kepentingan pribadi.
Ini memang melanggar kontrak, tapi kalau selama masa negosiasi itu ia mendapat kesan bahwa pasar pomade sedang jenuh dan bahaya jika menumpuk barang, ia segera
pulang ke rumah, menyampir kerudung, menyuruh Druot menuang produk ke tempat pemurnian dan mengubahnya menjadi essence absolue.
jika demikian yang terjadi, pomade akan dikeluarkan lagi dari gudang loteng, dihangatkan dengan hati-hati dalam belanga-belanga tertutup, dicairkan dengan alkohol
rektifikasi, lalu dicampur dan dibilas seluruhnya dengan pengaduk yang dioperasikan oleh Grenouille.
Sekembali ke gudang loteng, adukan ini segera didinginkan. Kandungan alkoholnya dipisahkan dan dituang ke botol lain. Ini proses pembuatan sejenis parfum dengan intensitas kepekatan luar biasa, sementara sisa pomade tak bisa dipakai karena telah kehilangan mayoritas aroma. Dus, aroma bunga ditransfer ke medium lain.
Tapi pekerjaan tidak berhenti sampai di sini. Setelah alkohol berparfum disaring dengan
hati-hati dengan ayakan dawai agar sesedikit mungkin mengandung sisa minyak, Druot menuang alkohol berparfum itu ke sebuah kepala tambat kecil, lalu disuling
perlahan di atas api kecil. Yang tersisa adalah sejumlah kecil cairan berwarna pucat yang sangat dikenal Grenouille tapi belum pernah dicium dalam kualitas dan kemumian seperti ini, baik di laboratorium Baldini ataupun Runel.
Ini sari pati terbaik dari minyak bunga. Polesan aromanya dipekatkan seratus kali menjadi sebotol kecil essence absolue.
Esensi ini tak lagi membawa aroma manis. Baunya nyaris menyengat, tajam, dan sengit.
Tapi jika setetes saja dilarutkan dalam seliter alkohol, mampu membugarkan dan membangkitkan seluruh aroma bunga yang
tersembunyi.
Hasilnya sedikit sekali. Cairan hasil sulingan hanya mampu mengisi tiga flacon kecil. Tak ada yang tersisa dari ratusan ribu bunga kecuali tiga flacon mungil itu.
Namun produk ini kini memiliki nilai sangat tinggi, bahkan di kota Grasse ini. Nilainya bisa lebih tinggi lagi begitu dikirim ke Paris atau Lyon, ke Grenoble, Genoa atau Marseille!
Madame Arnulfi memandangi tiga flacon itu seolah mengelusi permukaannya dengan mata, lalu menyumbat lubang dengan gabus keras yang pas memenuhi leher flacon sambil menahan napas, seolah cemas agar tidak setetes pun benda berharga ini yang terhirup atau terbuang percuma oleh napas.
Agar lebih yakin bahwa tidak satu atom pun terbuang percuma, ia menyegel sekeliling sumbat dengan lilin dan membungkus leher botol dengan plastik keras. Baru setelah itu ia taruh dalam sebuah peti kayu beralas kain katun, kemudian disimpan dan dikunci di loteng atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar