Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 36

TIGA PULUH ENAM


TAK  JAUH  DARI  GERBANG  FÉNÉANTS,  di  jalan  Louve, Grenouille  menemukan  sebuah  tempat  usaha  pembuatan parfum kecil dan melamar kerja. Ia beroleh kabar bahwa pemilik usaha, Maître parfumeur Honoré Arnulfi,  telah meninggal pada musim dingin  tahun lalu  dan  bahwa  janda  berusia  tiga  puluh  tahun  berambut hitam  nan  ceria  ini  sekarang  mengurus  bisnis  sendiri, dibantu oleh seorang ahli. 

Setelah berkeluh-kesah tentang masa-masa paceklik dan kondisi  keuangan  yang menjelang  ajal,  Madame  Arnulfi menyatakan bahwa ia tak sanggup membiayai seorang ahli 
lagi,  tapi  ia  memang  membutuhkan  tenaga  ahli  untuk menangani  bisnis  di  masa  depan.  Ia  tak  bisa  menampung Grenouille di rumah ini tapi memiliki sebuah kabin kecil di 
tengah  padang  zaitun  di  belakang  biara  Franciscan  yang jauhnya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki. 

Grenouille bisa  tidur  di  situ  kalau  mau,  kendati  sempit.  Ia  mengaku bahwa  sebagai  seorang  nyonya  yang  baik ia  berkewajiban 
mengurus  kesejahteraan  fisik  para pekerjanya,  tapi  tak mampu  memberi  sarapan  dua  kali  sehari.  

Pendek  kata, seperti dugaan Grenouille, Madame Arnulfi adalah seorang wanita kaya nan pelit dengan insting bisnis yang baik. Dan 
karena  Grenouille  tidak  rewel  soal  uang  dan  menyatakan diri  cukup  puas  dibayar  dua  franc  seminggu  plus kebutuhan  minim  lainnya,  kesepakatan  dengan  segera terjalin.  

Ahli  pertama  dipanggil  - seorang  pria  raksasa bernama Druot. Grenouille langsung  tahu bahwa  orang ini berbagi ranjang dengan Madame Arnulfi secara teratur dan sang  janda  tak  bisa  mengambil  putusan  penting  tanpa berkonsultasi dengannya lebih dulu. 

Dengan kaki terentang dan awan aroma bernuansa sperma, ia menjejakkan diri di 
depan  Grenouille  yang  tampak  begitu  ringkih,  mengamati dari atas ke bawah, memandang lurus ke mata - seolah dengan 
teknik ini ia bisa mencium niat buruk atau gelagat sebagai calon saingan, akhirnya  memberi  sinyal  persetujuan dengan sebuah anggukan. 

Setelah  urusan  kontrak  selesai,  Grenouille  berjabat tangan,  dan mendapatkan makanan  kecil  yang  sudah  dingin,  sehelai selimut, dan  kunci  di  belakang  biara. Kabin itu lebih  tepat 
disebut  gubuk.  Tidak  berjendela  dan  berbau  jerami  serta kotoran  kambing.  

Tapi  Grenouille  tidak  protes.  Ia  malah 
suka  dan  mencoba  membuat  situasi  senyaman  mungkin.

Esok ia mulai bekerja untuk Madame Arnulfi. 
Saat  itu  sedang  musim  bunga  jonquil.  Madame  Arnulfi menanam bunga itu dalam bidang-bidang kecil di sebidang tanah  bercekungan  lebar  miliknya  di  bawah  kota,  atau membeli  dari  para  petani  yang  ia  tawar  gila-gilaan  setiap onsnya.  

Bunga  dikirim  pagi-pagi  sekali  lalu  dipindah  ke ruang  kerja  dengan  keranjang,  ke  sebuah  tumpukan  yang sangat banyak namun ringan dan harum. 

Di saat yang sama, Druor mencairkan lemak babi dan lemak sapi dalam sebuah tungku besar untuk dijadikan sup berkrim. 

Sesekop penuh bunga segar ia masukkan ke godokan sementara Grenouille terus  mengaduk  menggunakan  pengaduk  sepanjang  sapu.

Bunga-bunga  itu  mengapung  sebentar,  seperti  mata manusia menjelang kematian, dan segera kehilangan warna begitu  pengaduk  mendesak  mereka  ke  pelukan  minyak hangat. 

Nyaris seketika itu juga bunga-bunga itu pudar dan melayu.  Kematian  datang  begitu  cepat  dan  mereka  tak punya  pilihan  selain  menghembuskan  napas  aroma terakhir  ke  dalam  minyak.  

Grenouille  menyaksikan  semua  ini dengan  sangat  kagum. Makin  banyak  bunga  yang ia  desak ke  dalam  tungku,  makin  manis aroma  minyaknya.  

Bukan berarti  bunga-bunga  itu  terus  menyesakkan  aroma,  tapi minyak  sendiri  telah  membentuk  dan  menegaskan  aroma 
tersebut. 

Kadang  sup  menjadi  terlalu  kental  sehingga  harus segera.  dituang  ke  dalam  ayakan,  membebaskannya  dari bangkai  bunga  dan  memberi  ruang  untuk  bunga  baru. 

Begitu  terus  Grenouille  dan  Druot  bekerja  sepanjang  hari tanpa  berhenti  karena  prosedurnya  memang  tidak memungkinkan  penundaan.  Sampai  sore,  seluruh tumpukan  bunga  ludes  ke  tungku  minyak.  

Agar  tidak  ada yang terbuang percuma, sisanya direndam dalam air panas dan  diperas  sampai  tetes  terakhir  dalam  sebuah  mesin pemeras.  Itu  pun  masih  sedikit  mengambangkan keharuman.  

Mayoritas  aroma  yang  menjadi  jiwa  lautan 
bunga  ini  tetap  berada  dalam  tungku.  Ditutup  rapat di dalam dan di awetkan pelumas berwarna  putih  buram  yang tidak berbau dan lambat mengental.

Prosedur  maceration - pelembutan  dengan  metode perendaman  ini  berlanjut  keesokan  harinya.  Tungku dipanaskan  lagi,  minyak  dicairkan  dan  diberi  makan bebungaan baru.  

Ini  berlangsung  sampai  beberapa  hari, 
dari  pagi  sampai  sore. Benar-benar  pekerjaan melelahkan. 

Tangan  Grenouille  serasa  rontok  dan  tinggal  tulang. Punggungnya  sakit  setiap  kali  menyeret  badan  pulang  ke kabin.  Walau  Druot  setidaknya  berbadan  tiga  kali  lebih 
kuat,  ia  tak  pernah  mau  bergantian  mengaduk.  Malah dengan  ramah  terus  menuang  bunga,  menjaga  api  dan kadang - entah karena panas atau apa - pergi keluar untuk minum.  

Tapi  Grenouille  tidak  protes.  Ia  terus  mengaduk bunga di dalam minyak tanpa mengeluh. Dari subuh sampai malam  dan  nyaris  tidak  menyadari  beratnya  pekerjaan 
lantaran tak habis kagum dengan proses yang berlangsung di  depan  mata  dan  di  bawah  hidungnya  ini:  

Pada  bunga‐bunga  yang  layu  begitu  cepat  dan  penyerapan aroma mereka.

Suatu  hari  Druot  memutuskan  bahwa  minyak  sudah jenuh dan  tak mampu menyerap aroma lagi. Ia mematikan api,  mengayak  minyak  kental  untuk  terakhir  kali,  dan menuang  hasilnya  ke  wadah  tembikar.  

Minyak  dengan segera  mengeras  menjadi  pomade  - minyak  rambut  yang sangat harum. 

Kini  giliran  Madame  Arnulfi  beraksi.  Ia  hadir  menguji kandungan logam  dari  produk yang  baru  dibuat, memberi nama dan mencatat dengan persis  kualitas  serta  kuantitas produk  tersebut.  

Setelah  menyumbat  wadah  tembikar, 
menyegel,  dan  menyimpannya  di  gudang  loteng  berhawa sejuk,  ia  merapikan  gaun  hitamnya,  mengambil  kerudung berkabung  sebagai  seorang  janda,  lalu  berkeliling  ke  para penjual  parfum  grosir  dan  eceran.  

Dengan  rayuan mengharukan  ia  menjelaskan  pada  para  lelaki  itu  tentang kondisinya  sebagai  seorang  wanita  yang  ditinggal  mati 
suami,  membiarkan  mereka  menawar,  membandingkan harga, mendesah lemas, dan akhirnya menjual atau kadang tidak menjual apa-apa. 

Minyak  rambut  berparfum,  jika  disimpan  di  tempat sejuk,  dapat  bertahan  dalam  jangka  waktu  lama.  Kalau harga  saat  ini  sedang  jelek,  siapa  tahu  akan  naik  lagi  di musim  dingin  atau  musim  panas  berikutnya.  

Di  samping pertimbangan  lain  apakah  hendak  menjual  ke  pedagang keliling  seperti  ini  atau  bergabung  dengan  produsen-produsen kecil lain dan bekerja sama mengirim pomade ke Genoa atau berbagai konvoi ke pasar malam musim gugur di  Beaucaire.  

Ini memang bisnis berisiko, tapi sangat 
menguntungkan kalau sukses. Madame  Amulfi dengan sangat hati-hati mempertimbangkan berbagai kemungkinan  ini.  

Kadang  ia  mau  menekan  kontrak, menjual  beberapa  porsi  dagangan  tapi  tetap  menyimpan porsi  lain  untuk  cadangan,  juga  mengambil  risiko bernegosiasi  dengan  pihak  ketiga  untuk  kepentingan pribadi.  

Ini memang melanggar kontrak,  tapi kalau selama masa negosiasi itu ia mendapat kesan bahwa pasar pomade sedang jenuh dan bahaya jika menumpuk barang, ia segera 
pulang  ke  rumah,  menyampir  kerudung,  menyuruh  Druot menuang produk  ke  tempat pemurnian dan mengubahnya menjadi essence absolue.

jika  demikian  yang  terjadi,  pomade  akan  dikeluarkan lagi  dari  gudang  loteng, dihangatkan  dengan  hati-hati dalam  belanga-belanga  tertutup,  dicairkan  dengan  alkohol 
rektifikasi,  lalu  dicampur  dan  dibilas  seluruhnya  dengan pengaduk yang dioperasikan oleh Grenouille. 

Sekembali ke gudang  loteng,  adukan  ini  segera  didinginkan.  Kandungan alkoholnya dipisahkan dan dituang ke botol lain. Ini proses pembuatan  sejenis  parfum  dengan  intensitas  kepekatan luar biasa, sementara sisa pomade  tak bisa dipakai karena telah  kehilangan  mayoritas  aroma.  Dus,  aroma  bunga ditransfer  ke  medium  lain.  

Tapi  pekerjaan  tidak  berhenti sampai  di  sini. Setelah alkohol  berparfum  disaring  dengan 
hati-hati  dengan  ayakan  dawai  agar  sesedikit  mungkin mengandung  sisa  minyak,  Druot  menuang  alkohol berparfum itu  ke sebuah  kepala  tambat  kecil, lalu disuling 
perlahan  di  atas  api  kecil.  Yang  tersisa  adalah  sejumlah kecil cairan berwarna pucat yang sangat dikenal Grenouille tapi  belum  pernah  dicium  dalam  kualitas  dan  kemumian seperti ini, baik di laboratorium Baldini ataupun Runel.  

Ini sari  pati  terbaik  dari  minyak  bunga.  Polesan  aromanya dipekatkan  seratus  kali  menjadi  sebotol  kecil  essence absolue. 

Esensi ini tak lagi membawa aroma manis. Baunya nyaris menyengat,  tajam,  dan  sengit.  

Tapi jika  setetes  saja dilarutkan  dalam  seliter  alkohol,  mampu  membugarkan dan  membangkitkan  seluruh aroma  bunga  yang 
tersembunyi. 

Hasilnya  sedikit  sekali.  Cairan  hasil  sulingan  hanya mampu mengisi tiga flacon kecil. Tak ada yang tersisa dari ratusan  ribu  bunga  kecuali  tiga  flacon  mungil  itu.  

Namun produk ini kini memiliki nilai sangat tinggi, bahkan di kota Grasse ini. Nilainya  bisa lebih  tinggi lagi  begitu  dikirim  ke Paris  atau  Lyon,  ke  Grenoble,  Genoa  atau  Marseille! 

Madame  Arnulfi  memandangi  tiga  flacon  itu  seolah mengelusi  permukaannya  dengan  mata,  lalu  menyumbat lubang  dengan  gabus  keras  yang  pas  memenuhi  leher flacon  sambil  menahan  napas,  seolah  cemas  agar  tidak setetes pun benda berharga ini yang terhirup atau terbuang percuma  oleh  napas.  

Agar  lebih  yakin  bahwa  tidak  satu atom    pun  terbuang  percuma,  ia  menyegel  sekeliling sumbat  dengan  lilin  dan membungkus  leher  botol  dengan plastik  keras.  Baru  setelah  itu  ia  taruh  dalam  sebuah  peti kayu beralas kain katun, kemudian disimpan dan dikunci di loteng atas.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...