EMPAT PULUH SATU
ADA SATU ORANG Di GRASSE yang tidak meyakini begitu saja kedamaian ini. Namanya Antoine Richis. Ia adalah anggota kedua dewan kota dan tinggal di rumah
besar dekat gerbang kota yang mengarah ke jalan Droite.
Richis hidup menduda dan punya seorang putri bernama Laure. Walau usianya belum empat puluh tahun dan tubuh masih sempurna, ia belum berniat untuk menikah lagi. Ia ingin mencari suami untuk putrinya. Dan tidak boleh sembarang orang, tapi harus dari kalangan berpangkat atau ningrat.
Kebetulan ada seorang baron bernama Baron de Bouyon yang punya seorang putra dan tanah dekat Vence.
Sang Baron terkenal bereputasi baik namun situasi keuangannya buruk. Ia dan Richis telah mengatur kontrak tentang masa depan perkawinan kedua anak mereka.
Begitu Laure menikah, Richis juga berencana mengakhiri masa mendudanya dengan salah seorang dari rumah keluarga Drée, Maubert, atau Fontmichel.
Bukan karena putus asa dan merasa hina kalau tak mendapat pasangan ningrat, tapi karena ingin membangun dinasti sendiri dan
mengatur agar anak-cucunya berada di jalur mudah yang mengarah langsung ke posisi politik dan sosial tertinggi.
Untuk itu, setidaknya ia harus mempunyai dua orang putra. Satu untuk meneruskan bisnis keluarga, yang lain untuk mengejar karier di bidang hukum yang mengarah ke parlemen di Aix dan peningkatan status ke posisi ningrat.
Posisinya sekarang tak memungkinkan untuk bisa berharap banyak, kecuali jika berhasil menyatukan pertalian hubungan keluarga dengan salah satu keluarga
ningrat.
Satu hal pasti yang mendukung angan-angan ini adalah kekayaan. Antoine Richis adalah orang terkaya dibanding siapa pun.
Propertinya tak hanya tersebar di sekitar Grasse dalam wujud ladang-ladang jeruk, minyak zaitun, gandum, dan rami, tapi juga dekat Vence dan sampai Antibes di mana ia menyewakan peternakan. Ia punya rumah dan vila di Aix dan di pedesaan sekitar, saham di kapal dagang yang berbisnis dengan India, sebuah kantor permanen di Genoa, dan termasuk penjual grosir terbesar di Prancis untuk parfum, rempah-rempah, minyak, dan kulit.
Bagaimanapun, harta paling berharga bagi Richis adalah putrinya sendiri. Anak semata wayang yang baru berumur enam belas tahun, berambut pirang-merah, bermata hijau.
Wajahnya begitu elok dan mampu memesona orang dari segala usia, baik pria maupun wanita. Membuat orang melongo dengan wajah seperti sedang menjilat es krim, memasang ekspresi dungu dan menjilat ludah.
Bahkan Richis juga suka memandangi wajah putrinya lama-lama. Seperempat atau setengah jam saja sudah cukup mengistirahatkan pikiran dari urusan dunia, bahkan dari bisnisnya sendiri.
Padahal dalam tidur pun ia selalu memikirkan bisnis. Keelokan Laure membuat batin luluh dalam kontemplasi dan sejenak lupa apa yang semula
hendak dilakukan.
Dan akhir-akhir ini, perasan Richis selalu jengah. Setiap malam saat mengantar putrinya tidur atau kadang pagi hari saat membangunkan, ia melihat Laure lelap seperti diistirahatkan oleh tangan Tuhan.
Matanya menelusuri pinggul dan buah dada putrinya dalam balutan gaun tidur. Napas yang membuat buah dada itu turun naik, bahu jenjang, siku dan lengan mulus tempat si gadis bersandar wajah.
Saat-saat seperti ini kadang membuat perutnya keram dan tercekat menelan ludah, seraya mengutuk posisinya sendiri sebagai ayah ‐ bukan sebagai seorang lelaki asing agar ia bisa berbaring di samping Si gadis, di atasnya dan di dalamnya.
Di saat seperti ini keringat mengalir deras, tangan dan kaki gemetar menahan berahi, dan akhirnya ia membungkuk memutuskan memberi kecupan di kening khas seorang ayah.
Beberapa tahun terakhir, saat sedang heboh-hebohnya terjadi pembunuhan, godaan jahat ini belum mendera. Daya tarik yang terasakan masih daya tarik normal seorang anak kecil.
Karena itu ia juga tidak terlalu mencemaskan Laure bakal jadi korban. Semua orang tahu bahwa si pembunuh
tak pernah menyerang anak-anak atau wanita dewasa.
Incarannya selatu gadis perawan yang baru mekar. Namun, ia tetap memperketat penjagaan di rumah, memasang terali di semua jendela lantai atas, dan menyuruh pengasuh Laure berbagi kamar tidur dengan si gadis. Ia tak mau mengirim putrinya keluar kota seperti banyak dilakukan kawan-kawan lain - bahkan ada yang memboyong seluruh keluarga.
Richis menganggap sikap ini sangat tidak pantas dilakukan sebagai seorang anggota dewan. Ia justru harus jadi panutan ketegaran, keberanian, dan keteguhan bagi
masyarakat.
Lagi pula, ia jenis orang yang tak rela
putusannya dibuat oleh orang lain. Apalagi oleh publik yang panik dan gosip kriminal yang tidak jelas. Jadilah ia selama hari-hari kelabu itu menjadi lah satu dari segelintir orang saja yang kebal dari rasa takut dan tetap tenang.
Anehnya, kondisi itu kini berubah. Sementara masyarakat merayakan berakhirnya pembunuhan seolah si pelaku sudah digantung dan dengan segera melupakan
masa-masa kelabu, ketakutan mulai merayapi jantung Antoine Richis seperti racun.
Selama ini ia tak pernah mengakui bahwa justru rasa takutlah yang membuat ia
menunda berbagai perjalanan dinas dan enggan meninggalkan rumah, atau buru‐buru mengakhiri kunjungan dan pertemuan hanya agar bisa segera kembali pulang.
Alasannya sibuk atau capek, tapi sesungguhnya ia cemas - sewajarnya kecemasan seorang ayah pada putrinya saat menjelang usia menikah.
Tidakkah kecantikan Laure telah tersebar ke dunia luar? Tidakkah orang-orang selalu
memanjangkan leher, bahkan sekarang, saat ia menemani putrinya ke gereja setiap Minggu? Berapa banyak lelaki terpandang yang telah mengajukan lamaran, baik atas
nama sendiri atau atas nama putra mereka ... ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar