Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 41

EMPAT PULUH SATU


ADA  SATU  ORANG  Di  GRASSE  yang  tidak  meyakini begitu  saja  kedamaian  ini. Namanya  Antoine  Richis.  Ia adalah  anggota  kedua  dewan  kota  dan  tinggal  di  rumah 
besar dekat gerbang kota yang mengarah ke jalan Droite.


Richis hidup menduda dan punya seorang putri bernama Laure. Walau usianya belum empat puluh tahun dan tubuh masih  sempurna,  ia  belum  berniat  untuk  menikah  lagi.  Ia ingin  mencari  suami  untuk  putrinya.  Dan  tidak  boleh sembarang orang, tapi harus dari kalangan berpangkat atau ningrat.  

Kebetulan  ada  seorang  baron  bernama  Baron  de Bouyon yang punya seorang putra dan  tanah dekat Vence. 

Sang  Baron  terkenal  bereputasi  baik  namun  situasi keuangannya buruk.  Ia dan Richis  telah mengatur  kontrak tentang  masa  depan  perkawinan  kedua  anak  mereka. 

Begitu  Laure  menikah,  Richis  juga  berencana  mengakhiri masa  mendudanya  dengan  salah  seorang  dari  rumah keluarga  DrĂ©e,  Maubert,  atau  Fontmichel.  

Bukan  karena putus  asa  dan  merasa  hina  kalau  tak  mendapat  pasangan ningrat,  tapi  karena ingin  membangun  dinasti  sendiri  dan 
mengatur  agar  anak-cucunya  berada  di  jalur  mudah  yang mengarah  langsung  ke  posisi  politik  dan  sosial  tertinggi.

Untuk itu, setidaknya ia harus mempunyai dua orang putra. Satu  untuk  meneruskan  bisnis  keluarga,  yang  lain  untuk mengejar  karier  di  bidang  hukum  yang  mengarah  ke parlemen  di  Aix  dan  peningkatan  status  ke  posisi  ningrat. 

Posisinya  sekarang  tak  memungkinkan  untuk  bisa berharap  banyak,  kecuali  jika  berhasil  menyatukan pertalian  hubungan  keluarga  dengan  salah  satu  keluarga 
ningrat. 

Satu  hal  pasti  yang mendukung  angan-angan ini  adalah kekayaan.  Antoine  Richis  adalah  orang  terkaya  dibanding siapa pun. 

Propertinya tak hanya tersebar di sekitar Grasse dalam wujud ladang-ladang jeruk, minyak zaitun, gandum, dan  rami,  tapi  juga  dekat  Vence  dan  sampai  Antibes  di mana ia menyewakan peternakan. Ia punya rumah dan vila di Aix dan di pedesaan sekitar, saham di kapal dagang yang berbisnis dengan India, sebuah kantor permanen di Genoa, dan  termasuk  penjual  grosir  terbesar  di  Prancis  untuk parfum, rempah-rempah, minyak, dan kulit. 

Bagaimanapun, harta paling berharga bagi Richis adalah putrinya sendiri. Anak semata wayang yang baru berumur enam belas  tahun, berambut pirang-merah,  bermata hijau. 

Wajahnya  begitu  elok  dan  mampu  memesona  orang  dari segala  usia,  baik  pria  maupun  wanita.  Membuat  orang melongo  dengan  wajah  seperti  sedang  menjilat  es  krim, memasang  ekspresi  dungu  dan menjilat  ludah.  

Bahkan Richis  juga  suka  memandangi  wajah  putrinya  lama-lama. Seperempat  atau  setengah  jam  saja  sudah  cukup mengistirahatkan  pikiran  dari  urusan  dunia,  bahkan  dari bisnisnya  sendiri.  

Padahal  dalam  tidur  pun  ia  selalu memikirkan  bisnis.  Keelokan  Laure  membuat  batin  luluh dalam  kontemplasi  dan  sejenak  lupa  apa  yang  semula 
hendak dilakukan. 

Dan akhir-akhir ini, perasan Richis selalu jengah. Setiap malam saat mengantar putrinya tidur atau kadang pagi hari saat  membangunkan,  ia  melihat  Laure  lelap  seperti diistirahatkan  oleh  tangan  Tuhan.  

Matanya  menelusuri pinggul dan buah dada putrinya dalam balutan gaun  tidur. Napas  yang  membuat  buah  dada  itu  turun  naik,  bahu jenjang,  siku  dan  lengan  mulus  tempat  si  gadis  bersandar wajah.  

Saat-saat  seperti  ini  kadang  membuat  perutnya keram  dan  tercekat  menelan  ludah,  seraya  mengutuk posisinya  sendiri  sebagai  ayah  ‐  bukan  sebagai  seorang lelaki  asing  agar  ia  bisa  berbaring  di  samping  Si  gadis,  di atasnya  dan  di  dalamnya.  

Di  saat  seperti  ini  keringat mengalir deras,  tangan dan  kaki gemetar menahan  berahi, dan  akhirnya  ia  membungkuk  memutuskan  memberi kecupan di kening khas seorang ayah. 

Beberapa  tahun  terakhir,  saat  sedang heboh-hebohnya terjadi pembunuhan, godaan jahat ini belum mendera. Daya tarik yang terasakan masih daya tarik normal seorang anak kecil.  

Karena  itu  ia  juga  tidak  terlalu  mencemaskan  Laure bakal  jadi  korban.  Semua  orang  tahu  bahwa  si  pembunuh 
tak  pernah  menyerang  anak-anak  atau  wanita  dewasa. 

Incarannya selatu gadis perawan yang baru mekar. Namun, ia tetap memperketat penjagaan di rumah, memasang terali di  semua  jendela  lantai  atas,  dan  menyuruh  pengasuh Laure  berbagi  kamar  tidur  dengan  si  gadis.  Ia  tak  mau mengirim  putrinya  keluar  kota  seperti  banyak  dilakukan kawan-kawan lain - bahkan ada yang memboyong seluruh keluarga. 

Richis menganggap  sikap ini  sangat  tidak pantas dilakukan  sebagai  seorang anggota  dewan.  Ia justru  harus jadi  panutan ketegaran,  keberanian,  dan  keteguhan  bagi 
masyarakat.  

Lagi  pula,  ia  jenis  orang  yang  tak  rela 
putusannya dibuat oleh orang lain. Apalagi oleh publik yang panik dan gosip kriminal yang tidak jelas. Jadilah ia selama hari-hari kelabu itu menjadi  lah satu dari segelintir orang  saja yang kebal dari rasa takut dan tetap tenang. 

Anehnya,  kondisi  itu  kini  berubah.  Sementara masyarakat merayakan berakhirnya pembunuhan seolah si pelaku  sudah  digantung  dan  dengan  segera  melupakan 
masa-masa  kelabu,  ketakutan  mulai merayapi  jantung Antoine  Richis  seperti  racun.  

Selama  ini  ia  tak  pernah mengakui  bahwa  justru  rasa  takutlah  yang  membuat  ia 
menunda  berbagai  perjalanan  dinas  dan  enggan meninggalkan  rumah,  atau  buru‐buru  mengakhiri kunjungan dan pertemuan hanya agar bisa segera kembali pulang.  

Alasannya  sibuk  atau  capek,  tapi  sesungguhnya  ia cemas - sewajarnya kecemasan seorang ayah pada putrinya saat  menjelang  usia  menikah.  

Tidakkah  kecantikan  Laure telah  tersebar  ke  dunia luar?  Tidakkah  orang-orang  selalu 
memanjangkan  leher,  bahkan  sekarang,  saat  ia  menemani putrinya  ke  gereja  setiap  Minggu?  Berapa  banyak  lelaki terpandang  yang  telah  mengajukan  lamaran,  baik  atas 
nama sendiri atau atas nama putra mereka ... ?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...