BAGIAN III
TIGA PULUH LIMA
KALAU DULU GRENOUILLE butuh waktu tujuh tahun saat pertama kali melanglang Prancis, perjalanan kali ini ia tempuh dalam waktu kurang dari tujuh hari. Ia tidak lagi
menghindari jalan utama dan perkotaan. Tidak pula mengambil jalan memutar. Kini ia memiliki aroma, uang, dan keyakinan diri. Ia tak mau buang waktu.
Sore hari sepeninggalnya dari Montpellier ia tiba di Le Grau-du‐Roi, sebuah kota pelabuhan kecil di barat daya Aigues-Morres, di mana ia menumpang sebuah kapal dagang menuju Marseille. Di Marseille ia tidak segera meninggalkan pelabuhan tapi langsung mencari kapal untuk pergi lebih jauh lagi menyusur pantai ke arah
selatan. Dua hari kemudian ia tiba di Toulon, dan esoknya di Cannes. Sisa perjalanan dilakoni dengan berjalan kaki.
Mengikuti jalan belakang yang mengarah ke perbukitan, terus ke utara. Dua jam kemudian ia berdiri di tanjakan, di hadapan sebentang lembah seluas beberapa mil yang seperti
cekungan di lanskap. Sekelilingnya dipagari perbukitan dan gunung terjal. Di cekungan itu terdapat banyak ladang, taman, dan semak buah zaitun-menciptakan iklim yang
intim, asli, dan khusus.
Meski laut begitu dekat dan terlihat dari puncak bukit, tapi iklimnya tidak maritim. Tidak bergaram atau berpasir. Sebuah iklim nonekspansif. Pagar perbukitan dan pegunungan membuat tempat ini hening
bin tenang. Seolah berhari-hari jauhnya dari tepi pantai.
Dan meski puncak-puncak pegunungan sebelah utara tertutup salju, tidak membuat tempat ini kering, tandus, atau berhawa dingin. Musim semi lebih dulu muncul di sini
ketimbang di Montpellier.
Kabut tipis mencercah seperti kaca di atas padang. Pohon-pohon aprikot dan almond
sedang terasa harum, udara angat beraroma bunga jonquil.
Di seberang lembah, sekitar dua mil jauhnya, berdiri sebuah kota diapit pegunungan. Dari jauh tak begitu mengesankan. Tidak tampak puncak katedral mengungguli atap-atap rumah, kecuali sebuah menara gereja kecil. Tidak ada benteng atau bangunan-bangunan batu.
Dinding-dinding berdiri bersahaja, rumah-rumah berserakan di sana‐sini, terutama yang mengarah ke dataran, memberi kesan berantakan seperti daerah pinggiran. Seolah kota itu sudah berkali-kali dikuasai dan diambil alih banyak pihak sampai tak lagi peduli soal pertahanan terhadap pendatang.
Mungkin bukannya tak mampu, tapi lebih didasari pada kemalasan warganya, atau kesadaran akan kekuatan sendiri. Seperti tak merasa butuh menonjolkan diri.
Cukuplah dengan bercokol sedikit di atas lembah di kaki pegunungan, dan rasanya memang lebih tepat begitu.
Kota yang nyaman dan percaya diri ini bernama Grasse. Sudah puluhan tahun menjadi pusat produksi dan penjualan wewangian, parfum, sabun, serta minyak.
Mendiang Giuseppe Baldini selalu menyebut tempat ini dengan takzim. Kota ini adalah Roma-nya wewangian, tanah surga para pembuat parfum, dan mereka yang belum
pernah ke sini tak pantas menyandang gelar ahli parfum.
Grenouille menatap kota itu dengan pandangan sejuk. Ia tak sedang mencari tanah surga para pembuat parfum dan hatinya tidak melonjak melihat kota kecil menempel di
lereng gunung. Kedatangannya dilandasi kesadaran bahwa di tempat ini ia bisa memelajari beberapa teknik pembuatan aroma yang lebih baik ketimbang di kota manapun di dunia. Ia ingin – tidak - ia harus mendapatkan pengetahuan itu, demi tujuan pribadi.
Grenouille mengambil flacon parfum dari saku, memercik sedikit, dan lanjut berjalan. Satu setengah jam kemudian, sekitar tengah hari, ia tiba di Grasse.
Ia makan siang di sebuah penginapan dekat jantung kota, di sebuah tempat bernama Aires. Halamannya dibagi dua oleh sebuah selokan di mana para penyamak kulit mencuci kulit hasil samakan dan setelahnya dijemur sampai kering.
Baunya begitu menyengat dan kerap
membuat pelanggan penginapan kehilangan selera makan.
Tapi tidak buat Grenouille. Malah terasa akrab di hidung. Membuatnya merasa aman. Di setiap kota, yang dicari pertama kali selalu lokasi penyamakan. Baru setelah itu menjelajah ke tempat lain.
Sepanjang siang ia habiskan dengan berkeliling kota. Ternyata memang sangat kotor dan jorok. Mungkin lantaran air yang memancar dari sumur dan banyak mata
air lain dibiarkan mengalir begitu saja tanpa dibuatkan sungai atau selokan, membanjiri jalan dan menyisakan kotoran.
Rumah-rumah di beberapa lokasi permukiman berdiri begitu rapat, menyisakan celah hanya beberapa meter untuk gang dan tangga, memaksa pejalan kaki untuk
saling bersenggolan menyusuri tanah becek.
Bahkan di alun-alun dan sepanjang jalan kota yang lebih besar, kendaraan masih sulit lalu-lalang.
Namun betapapun kotor, sempit, dan jorok, kota ini tetap ramai dengan aktivitas perdagangan. Sepanjang perjalanan Grenouille mendapati tak kurang dari tujuh
usaha pembuatan sabun, selusin ahli parfum, pembuat sarung tangan, tempat-tempat penyulingan berjumlah lebih dari sepuluh jari, studio pembuatan minyak rambut dan toko rempah-rempah, juga tujuh pengusaha grosir parfum.
Mereka ini adalah para pedagang yang berkuasa penuh mengendalikan jalur perdagangan aroma. Orang tak bisa langsung menebak dari rupa rumah-rumah mereka.
Tampaknya saja yang sederhana ala kelas menengah, tapi yang tersimpan di belakangnya, dalam gudang dan loteng-loteng raksasa, dalam tong-tong minyak, di tumpukan sabun lavender terbaik, dalam botol-botol besar kolonye bebungaan, anggur dan alkohol, dalam bal-bal kulit beraroma, dalam tumpukan karung dan peti-peti besar
serta kecil sarat berisi rempah-rempah....
Grenouille mengendusi setiap detail yang menguap dari balik dinding¬dinding tebal. Baginya ini jauh lebih kaya dari kekayaan sepuluh orang pangeran. Dan ketika ia
mengendus lebih dalam menembus toko-toko dan gudang penyimpanan sepanjang jalan, ia menemukan bahwa di balik perumahan pinggiran ini tersimpan bangunan-bangunan mewah.
Ada taman kecil namun sangat elok, tempat mawar-mawar beracun dan pohon-pohon palem tumbuh subur serta air-air mancur dipagari semak bunga berornamen. Ruangan-ruangan ini memanjang dari sayap-sayap rumah yang tampak dari luar, biasanya dibuat membentuk huruf U ke arah selatan.
Di lantai atas, kamar kamar tidur bermandikan sinar matahari, dinding berlapis sutra, sementara di lantai bawah ada ruang-ruang duduk berlapis dinding kayu, juga ruang makan. Kadang disertai teras yang dibangun menjorok ke udara terbuka.
Tempat ini, persis kata Baldini dulu, adalah tempat penghuninya makan dengan piring porselen dan peralatan makan dari emas.
Orang‐orang yang tinggal di balik selubung toko-toko sederhana ini bermandikan emas dan kekuasaan. Kekayaan yang diamankan dengan sangat hati-hati. Tercium sangat
kuat, melebihi apa pun yang pernah diendus Grenouille sepanjang tur mengeliling kota ini.
Ia berhenti dan berdiri sejenak di depan salah satu istana terselubung ini. Rumah itu terletak di muka jalan Droite yang merupakan jalan arteri utama yang membagi seluruh kota dari timur sampai ke barat.
Penampilannya biasa saja, tak ada yang luar biasa. Bagian depan barangkali sedikit lebih luas dan lebih besar dari tetangga kanan-kiri,
tapi tetap tidak mencolok.
Di pintu gerbang berdiri sebuah kereta tempat tong-tong diturunkan ke sebuah jalur landai.
Ada sebuah kendaraan lain yang menunggu. Seseorang membawa setumpuk kertas masuk ke ruangan kantor, keluar lagi bersama seorang pria lain, keduanya menghilang melewati pintu gerbang.
Grenouille berdiri di seberang jalan dan mengamati. Kita tahu ia tidak tertarik
dengan kesibukan atau bisnis atau apalah, tapi toh ia berdiri di situ, maka pasti ada apa-apanya.
Ia berpejam mata dan berkonsentrasi pada aroma yang mengambang dari bangunan di seberang jalan itu. Ada aroma tong-tong cuka apel dan anggur, aroma sesak gudang barang, aroma kekayaan yang disembunyikan oleh tembok-tembok tinggi, dan akhirnya aroma taman yang pasti terletak jauh di ujung bangunan itu.
Tidak mudah menangkap aroma taman itu, karena mereka datang dalam untaian tipis dari atas atap rumah dan turun ke jalan.
Grenouille bisa mengenali aroma bunga magnolia, bakung, daphne, dan rhododendron, tapi sepertinya ada aroma lain.
Sesuatu di taman itu yang mengeluarkan aroma sangat indah. Aroma yang begitu elok dan tak pernah ia endus sebelumnya - atau barangkali pernah, satu kali. Tapi sudah lama sekali. Ia harus bisa mendekati sumber aroma ini.
Grenouille menimbang-nimbang apakah hendak langsung menerabas saja melewati gerbang dan masuk. Tapi sementara begitu banyak orang lalu-lalang sibuk mengangkut dan menghitung tong-tong di muka rumah,
risiko ketahuan akan cukup besar.
Grenouille memutuskan untuk kembali ke jalan, mencari gang kecil atau celah sepanjang sisi rumah yang mungkin bisa membawanya ke bagian belakang. Ia berjalan beberapa meter sampai menembus gerbang kota di ujung jalan Droite, berbelok
tajam ke kiri dan menyusuri dinding kota sepanjang kaki gunung.
Kaki belum lagi melangkah terlalu jauh ketika aroma taman itu tercium. Mulanya samar, bercampur dengan aroma padang pegunungan, tapi makin lama makin kuat.
Tahulah ia bahwa jaraknya sudah dekat. Sangat dekat. Taman itu persis berada di balik tembok kota. Persis di sebelah, hanya terhalang dinding. Kalau ia mundur sedikit
sepanjang lereng yang menuju ke atas, ia bisa melihat pucuk‐pucuk dahan pohon jeruk di balik tembok.
Sekali lagi ia menutup mata. Aroma taman menghambur masuk. Konturnya begitu persis dan jelas terbayang di pikiran. Dan aroma itu, aroma magis yang paling berharga
itu, ada di antara mereka.
Wajah Grenouille dibakar gairah, sekaligus dingin di tengkuk oleh rasa takut. Darah naik ke kepala dan turun ke pusar, lalu naik lagi, turun lagi ‐ tubuh ini nyaris tak bisa dikendalikan. Serangan aroma ini datang
begitu tiba-tiba.
Untuk sesaat, setarikan napas yang rasanya
bagai seabad, waktu terlipat dua atau malah lenyap sama sekali karena detik itu ia tak mampu menjejaki ruang dan waktu.
Rasanya seperti ditembakkan dari moncong meriam ke dinding masa lalu, ke jalan Marais di Paris, ke suatu malam di awal September 1753. Tak salah lagi. Aroma yang
keluar dari taman ini adalah aroma gadis berambut merah yang ia bunuh malam itu.
Penemuan ini membuat ia menangis terharu - dan kesan bahwa hal ini tak mungkin terjadi membuatnya takut setengah mati.
Grenouille merasa pusing. Ia gamang sejenak dan terpaksa bersandar ke tembok, lalu melorot berjongkok.
Berusaha mengendalikan diri dan indra penciumannya, ia mulai menghirup aroma “magis” itu dalam tarikan-tarikan pendek dan tidak berbahaya. Perlahan ia menyimpulkan
bahwa walaupun aroma dari balik tembok ini sangat mirip dengan aroma si gadis berambut merah, tapi tidak benar-benar persis. Katakanlah, 98 persen nyaris menyamai.
Sungguh luar biasa! Dalam imajinasi penciumannya Grenouille melihat si gadis seolah dengan mata kepala sendiri. Ia tidak sedang duduk tapi berlompatan, melakukan pemanasan lalu diam mendinginkan diri.
Tampaknya sedang bermain permainan di mana ia harus bergerak dan diam dengan cepat. Ada orang lain juga.
Seseorang dengan bau yang tidak terlalu menonjol. Orang ini memiliki kulit putih bersih. Bermata hijau. Bintik-bintik di wajah, leher, dan buah dada.... napas. Grenouille berhenti
sejenak, lalu mengendus lebih giat dan mencoba menekan ingatan aroma si gadis berambut merah dari jalan Marais.
Bukan apa-apa, tapi gadis di balik tembok ini belum lagi Memiliki Buah dada! Kuncup pun belum tumbuh, nyaris tak berbau dan
berbintik-bintik.
Buah dada yang baru mulai mengembang - kemungkinan sejak beberapa hari terakhir,
atau malah beberapa jam, lalu atau detik ini. Sedemikian mungilnya tangkup buah dada gadis ini...
Dengan kata lain: si gadis masih bocah! Tapi bukan sembarang bocah! Keringat menetes di kening Grenouille. Ia tahu bahwa anak-anak tidak memiliki aroma khusus. Tak bedanya kuncup hijau pada bunga sebelum merekah.
Tapi anak di balik tembok ini, kuncup ini masih tertutup rapat, yang berarti baru saja memancarkan ujung aromanya. Tak mungkin dikenali manusia lain kecuali Grenouille.
Anak sekecil ini sudah mampu mengeluarkan aroma surgawi yang kelak jika merekah akan memancarkan aroma parfum
yang belum pernah dicium jagat. Sekarang saja baunya sudah enak sekali.
Grenouille teringat dan membandingkannya dengan gadis berambut merah dari jalan Marais. Si kecil di balik tembok pastinya tidak bertubuh semontok dan sematang itu, tapi lebih halus, lebih kaya nuansa, dan lebih alami. Dalam satu atau dua tahun ke depan aroma ini akan semakin matang dan menciptakan daya tarik yang tak mungkin ditolak siapa pun, pria atau wanita.
Orang akan dengan mudah luluh dan takluk di bawah pengaruh magis si gadis tanpa tahu kenapa. Dan karena mereka sedemikian bodoh, menggunakan hidung hanya untuk bernapas dan hanya meyakini apa yang bisa dilihat mata, lantas berpendapat bahwa ini pasti disebabkan oleh kecantikan, keanggunan, dan pesona fisik si gadis.
Dalam kedunguan mereka akan memuji-muji keelokan tubuh, kerampingan, dan buah dada. Mata yang katanya bagai zamrud, gigi mutiara, perut semulus gading, dan segudang pembanding idiot lainnya.
Lalu didaulatlah si gadis sebagai Ratu Melati. Dilukis oleh seorang pelukis
bodoh, dikerling penuh puja-puji sebagai wanita terelok di seluruh Prancis.
Remaja-remaja pria berebut memetik
mandolin di bawah jendela; para lelaki kaya nan buncit berlutut merajuk pada ayah si gadis agar menerima pinangan mereka; dan wanita segala usia akan mendesah iri sampai terbawa mimpi ingin memiliki wajah dan tubuh seperti itu walau hanya sehari.
Tidak satu pun sadar bahwa sesungguhnya bukan penampilan yang telah menjerat
mereka. Bukan keindahan eksternal yang membuai jagat, tapi murni aroma tubuh!
Hanya Grenouille yang sadar akan hal ini. Ya, ia sendiri. Ia tahu persis fakta ini. Ah! Ingin sekali memiliki aroma ini. Tapi tidak dengan ceroboh seperti ketika menguras aroma si gadis dari jalan Marais. Saat itu ia hanya mengisap untuk diri sendiri dan akhirnya malah merusak aroma tersebut.
Tidak. Ia ingin sungguh-sungguh memiliki aroma gadis kecil di balik tembok ini. Menguliti dari kulitnya dan menjadikan aroma
itu sebagai milik pribadi. Bagaimana caranya, ia belum tahu. Tapi ia punya waktu dua tahun untuk putar otak. Yang pasti akan jauh lebih sulit dari merampok aroma sekuntum mawar langka.
Grenouille bangkit. Nyaris dengan takzim, seperti meninggalkan sesuatu yang suci atau kekasih yang lelap. Ia menjauh perlahan, dengan lembut, membungkuk agar tidak dilihat atau didengar orang. Jangan sampai ada yang menyadari penemuan ini.
Maka berlarilah ia sepanjang tembok ke ujung lain kota itu, di mana ia tak lagi diusik aroma si gadis dan masuk kembali lewat pintu gerbang Fénéants.
Grenouille berdiri di bawah bayang-bayang bangunan. Kebusukan aroma jalanan membuatnya merasa nyaman dan membantu menjinakkan nafsu yang semula
membludak. Dalam lima belas menit ia tenang kembali, sambil mencatat dalam hati untuk tidak lagi mendekati daerah sekitar taman di belakang tembok.
Sikap terlalu hati-hati ini sebenarnya tidak perlu, tapi ia sedang terlalu senang. Sang bunga akan mekar sendiri di sana tanpa ia
harus melakukan apa-apa, dan ia sudah tahu persis dengan cara apa bunga itu akan merekah.
Grenouille tak ingin meracuni diri dengan aroma itu secara prematur.
Ia harus menyibukkan diri dengan pekerjaan. Memperluas pengetahuan dan menyempurnakan teknik agar lebih siap
saat panen tiba. Ia punya waktu dua tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar