Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" BAGIAN III (35)

BAGIAN III 



TIGA PULUH LIMA


KALAU  DULU  GRENOUILLE  butuh  waktu  tujuh  tahun saat pertama kali melanglang Prancis, perjalanan kali ini ia tempuh  dalam  waktu  kurang  dari  tujuh  hari.  Ia  tidak  lagi 
menghindari  jalan  utama  dan  perkotaan.  Tidak  pula mengambil  jalan  memutar.  Kini  ia  memiliki  aroma,  uang, dan keyakinan diri. Ia tak mau buang waktu. 

Sore  hari  sepeninggalnya  dari  Montpellier  ia  tiba  di  Le Grau-du‐Roi,  sebuah  kota  pelabuhan  kecil  di  barat  daya Aigues-Morres,  di  mana  ia  menumpang  sebuah  kapal dagang  menuju  Marseille.  Di  Marseille  ia  tidak  segera meninggalkan  pelabuhan  tapi  langsung  mencari  kapal untuk  pergi  lebih  jauh  lagi  menyusur  pantai  ke  arah 
selatan. Dua hari  kemudian ia  tiba di Toulon, dan esoknya di  Cannes.  Sisa  perjalanan  dilakoni  dengan  berjalan  kaki.

Mengikuti  jalan  belakang yang  mengarah  ke  perbukitan, terus ke utara. Dua  jam  kemudian  ia  berdiri  di  tanjakan,  di  hadapan sebentang  lembah  seluas  beberapa  mil  yang  seperti 
cekungan di lanskap. Sekelilingnya dipagari perbukitan dan gunung  terjal.  Di  cekungan  itu  terdapat  banyak  ladang, taman,  dan  semak  buah  zaitun-menciptakan  iklim  yang 
intim, asli, dan khusus. 

Meski laut begitu dekat dan terlihat dari  puncak  bukit,  tapi  iklimnya  tidak  maritim.  Tidak bergaram atau  berpasir. Sebuah iklim  nonekspansif.  Pagar perbukitan  dan pegunungan  membuat  tempat  ini  hening 
bin  tenang.  Seolah  berhari-hari  jauhnya  dari  tepi  pantai. 

Dan  meski  puncak-puncak  pegunungan  sebelah  utara tertutup  salju,  tidak  membuat  tempat  ini  kering,  tandus, atau berhawa dingin. Musim semi lebih dulu muncul di sini 
ketimbang  di  Montpellier.  

Kabut  tipis  mencercah  seperti kaca  di  atas  padang.  Pohon-pohon  aprikot  dan  almond 
sedang terasa  harum, udara  angat  beraroma  bunga jonquil. 

Di  seberang  lembah,  sekitar  dua  mil  jauhnya,  berdiri sebuah  kota  diapit pegunungan.  Dari  jauh  tak  begitu mengesankan. Tidak tampak puncak katedral mengungguli atap-atap rumah, kecuali sebuah menara gereja kecil. Tidak ada  benteng  atau  bangunan-bangunan  batu.  

Dinding-dinding  berdiri  bersahaja,  rumah-rumah  berserakan  di sana‐sini,  terutama  yang  mengarah  ke  dataran,  memberi kesan berantakan seperti daerah pinggiran. Seolah kota itu sudah  berkali-kali  dikuasai  dan  diambil  alih  banyak  pihak sampai tak lagi peduli soal pertahanan terhadap pendatang. 

Mungkin  bukannya  tak  mampu,  tapi  lebih  didasari  pada kemalasan  warganya,  atau  kesadaran  akan  kekuatan sendiri.  Seperti  tak  merasa  butuh  menonjolkan  diri. 

Cukuplah  dengan  bercokol  sedikit  di  atas  lembah  di  kaki pegunungan, dan rasanya memang lebih tepat begitu. 

Kota yang nyaman dan percaya diri ini bernama Grasse. Sudah  puluhan  tahun  menjadi  pusat  produksi  dan penjualan  wewangian,  parfum,  sabun,  serta  minyak. 

Mendiang  Giuseppe  Baldini  selalu  menyebut  tempat  ini dengan takzim. Kota ini adalah Roma-nya wewangian, tanah surga  para pembuat  parfum,  dan  mereka  yang  belum 
pernah ke sini tak pantas menyandang gelar ahli parfum. 

Grenouille menatap kota itu dengan pandangan sejuk. Ia tak sedang mencari tanah surga para pembuat parfum dan hatinya  tidak  melonjak  melihat  kota  kecil  menempel  di 
lereng gunung. Kedatangannya dilandasi kesadaran bahwa di  tempat  ini  ia  bisa  memelajari  beberapa  teknik pembuatan aroma yang lebih baik ketimbang di kota manapun  di  dunia. Ia  ingin  – tidak  - ia  harus  mendapatkan pengetahuan itu, demi tujuan pribadi. 

Grenouille  mengambil  flacon  parfum  dari  saku, memercik  sedikit,  dan lanjut  berjalan.  Satu  setengah  jam kemudian, sekitar tengah hari, ia tiba di Grasse. 

Ia  makan  siang  di  sebuah  penginapan  dekat  jantung kota, di sebuah  tempat bernama Aires. Halamannya dibagi dua  oleh  sebuah  selokan  di  mana  para  penyamak  kulit mencuci  kulit  hasil  samakan  dan  setelahnya  dijemur sampai  kering.  

Baunya  begitu  menyengat  dan  kerap 
membuat pelanggan penginapan kehilangan selera makan. 

Tapi  tidak  buat  Grenouille.  Malah  terasa  akrab  di  hidung. Membuatnya  merasa  aman.  Di  setiap  kota,  yang  dicari pertama  kali  selalu lokasi  penyamakan.  Baru  setelah  itu menjelajah ke tempat lain. 

Sepanjang  siang  ia  habiskan  dengan  berkeliling  kota. Ternyata  memang  sangat  kotor  dan  jorok.  Mungkin lantaran  air  yang memancar  dari  sumur  dan  banyak mata 
air  lain  dibiarkan  mengalir  begitu  saja  tanpa  dibuatkan sungai  atau  selokan, membanjiri  jalan  dan  menyisakan kotoran.  

Rumah-rumah  di  beberapa  lokasi  permukiman berdiri  begitu  rapat, menyisakan  celah  hanya  beberapa meter untuk gang dan tangga, memaksa pejalan kaki untuk 
saling  bersenggolan  menyusuri  tanah  becek.  

Bahkan  di alun-alun  dan  sepanjang  jalan  kota  yang  lebih  besar,  kendaraan masih sulit lalu-lalang. 

Namun  betapapun  kotor,  sempit,  dan  jorok,  kota  ini tetap  ramai  dengan  aktivitas  perdagangan.  Sepanjang perjalanan Grenouille  mendapati  tak  kurang  dari  tujuh 
usaha  pembuatan  sabun,  selusin  ahli  parfum,  pembuat sarung tangan, tempat-tempat penyulingan berjumlah lebih dari  sepuluh  jari,  studio  pembuatan  minyak  rambut  dan toko rempah-rempah, juga tujuh pengusaha grosir parfum.

Mereka ini  adalah  para  pedagang  yang  berkuasa  penuh mengendalikan  jalur  perdagangan  aroma.  Orang  tak  bisa langsung  menebak  dari  rupa  rumah-rumah  mereka. 

Tampaknya  saja  yang  sederhana  ala  kelas  menengah,  tapi yang  tersimpan di belakangnya, dalam gudang dan loteng-loteng  raksasa,  dalam  tong-tong  minyak,  di  tumpukan sabun  lavender  terbaik,  dalam  botol-botol  besar  kolonye bebungaan, anggur  dan  alkohol,  dalam  bal-bal  kulit beraroma,  dalam  tumpukan  karung  dan  peti-peti  besar 
serta  kecil  sarat  berisi  rempah-rempah....  

Grenouille mengendusi  setiap  detail  yang  menguap  dari  balik dinding¬dinding  tebal.  Baginya  ini  jauh  lebih  kaya  dari kekayaan  sepuluh  orang  pangeran.  Dan  ketika  ia 
mengendus lebih  dalam menembus  toko-toko  dan  gudang penyimpanan  sepanjang  jalan,  ia  menemukan  bahwa  di balik  perumahan  pinggiran  ini  tersimpan  bangunan-bangunan  mewah.  

Ada  taman  kecil  namun  sangat elok, tempat  mawar-mawar  beracun  dan  pohon-pohon  palem tumbuh  subur  serta  air-air  mancur  dipagari  semak  bunga berornamen. Ruangan-ruangan ini memanjang  dari  sayap-sayap  rumah  yang  tampak  dari  luar,  biasanya  dibuat membentuk huruf U ke arah selatan. 

Di lantai atas, kamar kamar  tidur bermandikan sinar matahari, dinding berlapis sutra, sementara  di  lantai  bawah  ada  ruang-ruang  duduk berlapis  dinding  kayu,  juga  ruang  makan.  Kadang  disertai teras  yang  dibangun  menjorok  ke  udara  terbuka.  

Tempat ini,  persis  kata  Baldini  dulu,  adalah  tempat  penghuninya makan  dengan  piring  porselen  dan  peralatan  makan  dari emas. 

Orang‐orang yang tinggal di balik selubung toko-toko sederhana ini bermandikan emas dan kekuasaan. Kekayaan yang  diamankan  dengan  sangat  hati-hati.  Tercium  sangat 
kuat,  melebihi  apa  pun  yang  pernah  diendus  Grenouille sepanjang tur mengeliling kota ini. 

Ia  berhenti  dan  berdiri  sejenak  di  depan  salah  satu istana  terselubung  ini.  Rumah  itu  terletak  di  muka  jalan Droite  yang  merupakan  jalan  arteri  utama  yang  membagi seluruh  kota  dari  timur  sampai  ke  barat.  

Penampilannya biasa saja, tak ada yang luar biasa. Bagian depan barangkali sedikit lebih luas dan lebih besar dari  tetangga kanan-kiri, 
tapi tetap tidak mencolok. 

Di pintu gerbang berdiri sebuah kereta tempat tong-tong diturunkan ke sebuah jalur landai. 
Ada  sebuah  kendaraan  lain  yang menunggu.  Seseorang membawa  setumpuk  kertas  masuk  ke  ruangan  kantor, keluar  lagi  bersama  seorang  pria  lain, keduanya menghilang  melewati  pintu  gerbang.  

Grenouille  berdiri  di seberang  jalan  dan  mengamati.  Kita  tahu  ia  tidak  tertarik 
dengan  kesibukan  atau  bisnis  atau  apalah,  tapi  toh  ia berdiri di situ, maka pasti ada apa-apanya. 

Ia  berpejam mata dan  berkonsentrasi pada aroma  yang mengambang  dari  bangunan  di  seberang  jalan  itu.  Ada aroma  tong-tong  cuka  apel  dan  anggur,  aroma  sesak gudang barang, aroma kekayaan yang disembunyikan oleh tembok-tembok  tinggi,  dan  akhirnya  aroma  taman  yang pasti  terletak  jauh  di  ujung  bangunan  itu.  

Tidak  mudah menangkap aroma taman itu, karena mereka datang dalam untaian  tipis  dari  atas  atap  rumah  dan  turun  ke  jalan. 

Grenouille bisa mengenali aroma bunga magnolia, bakung, daphne, dan rhododendron, tapi sepertinya ada aroma lain. 

Sesuatu  di  taman  itu  yang  mengeluarkan  aroma  sangat indah.  Aroma  yang  begitu  elok  dan  tak  pernah  ia  endus sebelumnya - atau barangkali pernah, satu kali. Tapi sudah lama sekali. Ia harus bisa mendekati sumber aroma ini. 

Grenouille  menimbang-nimbang  apakah  hendak langsung  menerabas  saja  melewati  gerbang  dan  masuk. Tapi  sementara  begitu  banyak  orang  lalu-lalang  sibuk mengangkut  dan  menghitung  tong-tong  di  muka  rumah, 
risiko ketahuan akan cukup besar. 

Grenouille memutuskan untuk  kembali  ke  jalan,  mencari  gang  kecil  atau  celah sepanjang  sisi  rumah  yang mungkin  bisa membawanya  ke bagian  belakang.  Ia  berjalan  beberapa  meter  sampai menembus  gerbang  kota  di  ujung  jalan  Droite, berbelok 
tajam  ke  kiri  dan  menyusuri  dinding  kota  sepanjang  kaki gunung.  

Kaki  belum  lagi  melangkah  terlalu  jauh  ketika aroma  taman  itu  tercium.  Mulanya  samar,  bercampur dengan aroma padang pegunungan, tapi makin lama makin kuat. 

Tahulah ia bahwa jaraknya sudah dekat. Sangat dekat. Taman  itu  persis  berada  di  balik  tembok  kota.  Persis  di sebelah,  hanya  terhalang  dinding. Kalau ia mundur  sedikit 
sepanjang  lereng  yang  menuju  ke  atas,  ia  bisa  melihat pucuk‐pucuk dahan pohon jeruk di balik tembok. 

Sekali lagi ia menutup mata. Aroma taman menghambur masuk.  Konturnya  begitu  persis  dan  jelas  terbayang  di pikiran. Dan aroma itu, aroma magis yang paling berharga 
itu, ada di antara mereka. 

Wajah Grenouille dibakar gairah, sekaligus dingin di  tengkuk  oleh  rasa  takut. Darah naik  ke kepala dan turun ke pusar, lalu naik lagi, turun lagi ‐ tubuh ini nyaris tak bisa dikendalikan. Serangan aroma ini datang 
begitu tiba-tiba. 

Untuk sesaat, setarikan napas yang rasanya 
bagai  seabad,  waktu  terlipat  dua  atau malah  lenyap  sama sekali  karena  detik itu ia  tak mampu menjejaki  ruang  dan waktu. 

Rasanya seperti ditembakkan dari moncong meriam ke  dinding  masa  lalu,  ke  jalan  Marais  di  Paris,  ke  suatu malam di awal September 1753. Tak salah lagi. Aroma yang 
keluar dari taman ini adalah aroma gadis berambut merah yang  ia  bunuh  malam  itu.  

Penemuan  ini  membuat  ia menangis  terharu  - dan  kesan  bahwa   hal  ini tak mungkin terjadi membuatnya takut setengah mati. 

Grenouille  merasa  pusing.  Ia  gamang  sejenak  dan terpaksa  bersandar  ke  tembok,  lalu  melorot  berjongkok. 

Berusaha  mengendalikan  diri  dan  indra  penciumannya,  ia mulai menghirup aroma  “magis” itu  dalam  tarikan-tarikan pendek  dan  tidak  berbahaya.  Perlahan  ia  menyimpulkan 
bahwa walaupun aroma dari balik tembok ini sangat mirip dengan  aroma  si  gadis berambut merah,  tapi  tidak  benar-benar  persis.  Katakanlah,  98  persen  nyaris  menyamai. 

Sungguh  luar  biasa!  Dalam  imajinasi  penciumannya Grenouille  melihat  si  gadis  seolah  dengan  mata  kepala sendiri.  Ia  tidak  sedang  duduk  tapi  berlompatan, melakukan  pemanasan  lalu  diam  mendinginkan  diri. 

Tampaknya  sedang  bermain  permainan  di  mana  ia  harus bergerak  dan  diam  dengan  cepat.  Ada  orang  lain  juga. 

Seseorang  dengan  bau  yang  tidak  terlalu menonjol.  Orang ini memiliki kulit putih bersih. Bermata hijau. Bintik-bintik di wajah, leher, dan buah dada.... napas. Grenouille berhenti 
sejenak, lalu mengendus lebih giat  dan mencoba menekan ingatan aroma  si gadis  berambut merah  dari jalan Marais. 

Bukan  apa-apa,  tapi  gadis  di  balik  tembok  ini  belum  lagi  Memiliki  Buah  dada! Kuncup pun belum tumbuh, nyaris tak berbau dan 
berbintik-bintik.  

Buah  dada  yang  baru  mulai mengembang - kemungkinan sejak beberapa hari  terakhir, 
atau  malah  beberapa  jam,  lalu  atau  detik  ini.  Sedemikian mungilnya tangkup buah dada gadis ini...

Dengan kata lain: si gadis masih bocah! Tapi bukan sembarang bocah!  Keringat  menetes  di  kening  Grenouille.  Ia  tahu  bahwa anak-anak  tidak  memiliki  aroma  khusus.  Tak  bedanya kuncup  hijau  pada  bunga  sebelum  merekah.  

Tapi  anak  di balik  tembok  ini,  kuncup  ini  masih  tertutup  rapat,  yang berarti  baru  saja  memancarkan  ujung  aromanya.  Tak mungkin  dikenali  manusia  lain  kecuali  Grenouille.  

Anak sekecil  ini  sudah  mampu  mengeluarkan  aroma  surgawi yang kelak jika merekah akan memancarkan aroma parfum 
yang  belum  pernah  dicium  jagat.  Sekarang  saja  baunya sudah  enak  sekali.  

Grenouille  teringat  dan membandingkannya  dengan  gadis  berambut  merah  dari jalan  Marais.  Si  kecil  di  balik  tembok  pastinya  tidak bertubuh semontok dan sematang itu, tapi lebih halus, lebih kaya nuansa, dan lebih alami. Dalam satu atau dua tahun ke depan  aroma  ini  akan  semakin  matang  dan  menciptakan daya  tarik  yang  tak  mungkin  ditolak  siapa  pun,  pria  atau wanita.  

Orang  akan  dengan  mudah  luluh  dan  takluk  di bawah  pengaruh  magis  si  gadis  tanpa  tahu  kenapa.  Dan karena  mereka sedemikian  bodoh,  menggunakan  hidung hanya  untuk  bernapas  dan  hanya  meyakini  apa  yang  bisa dilihat  mata,  lantas  berpendapat  bahwa  ini  pasti disebabkan  oleh  kecantikan,  keanggunan,  dan  pesona  fisik si  gadis.  

Dalam  kedunguan  mereka  akan  memuji-muji keelokan  tubuh,  kerampingan,  dan buah  dada.  Mata  yang katanya bagai zamrud, gigi mutiara, perut semulus gading, dan segudang pembanding idiot lainnya. 

Lalu didaulatlah si gadis  sebagai  Ratu  Melati.  Dilukis  oleh  seorang  pelukis 
bodoh, dikerling penuh puja-puji sebagai wanita  terelok di seluruh  Prancis.  

Remaja-remaja  pria  berebut  memetik 
mandolin  di  bawah  jendela;  para  lelaki  kaya  nan  buncit berlutut  merajuk  pada  ayah  si  gadis  agar  menerima pinangan  mereka;  dan  wanita  segala  usia  akan  mendesah iri sampai  terbawa mimpi ingin memiliki wajah dan  tubuh seperti itu walau hanya sehari. 

Tidak satu pun sadar bahwa sesungguhnya  bukan  penampilan  yang  telah  menjerat 
mereka.  Bukan  keindahan  eksternal  yang  membuai  jagat, tapi murni aroma tubuh! 

Hanya Grenouille yang sadar akan hal ini. Ya, ia sendiri. Ia tahu persis fakta ini. Ah!  Ingin  sekali  memiliki  aroma  ini.  Tapi  tidak  dengan ceroboh seperti ketika menguras aroma si gadis dari jalan Marais.  Saat  itu  ia  hanya  mengisap  untuk  diri  sendiri  dan akhirnya  malah merusak aroma tersebut.  

Tidak.  Ia  ingin sungguh-sungguh  memiliki  aroma  gadis  kecil  di  balik tembok ini. Menguliti dari kulitnya dan menjadikan aroma 
itu  sebagai  milik  pribadi.  Bagaimana  caranya,  ia  belum tahu. Tapi ia punya waktu dua tahun untuk putar otak. Yang pasti akan jauh lebih sulit dari merampok aroma sekuntum mawar langka. 

Grenouille  bangkit.  Nyaris  dengan  takzim,  seperti meninggalkan sesuatu yang suci atau kekasih yang lelap. Ia menjauh perlahan, dengan lembut, membungkuk agar tidak dilihat  atau  didengar  orang.  Jangan  sampai  ada  yang menyadari  penemuan  ini.  

Maka  berlarilah  ia  sepanjang tembok  ke  ujung  lain  kota  itu,  di  mana  ia  tak  lagi  diusik aroma  si  gadis  dan  masuk  kembali  lewat  pintu  gerbang  Fénéants. 

Grenouille  berdiri  di  bawah  bayang-bayang  bangunan. Kebusukan  aroma  jalanan  membuatnya  merasa  nyaman dan  membantu  menjinakkan  nafsu  yang  semula 
membludak.  Dalam  lima  belas  menit  ia  tenang  kembali, sambil  mencatat  dalam  hati  untuk  tidak  lagi  mendekati daerah  sekitar  taman  di  belakang  tembok.  

Sikap  terlalu hati-hati ini  sebenarnya  tidak  perlu,  tapi ia  sedang  terlalu senang.  Sang  bunga  akan  mekar  sendiri  di  sana  tanpa  ia 
harus melakukan apa-apa, dan ia sudah tahu persis dengan cara  apa  bunga  itu  akan  merekah.  

Grenouille tak ingin meracuni diri dengan aroma itu secara prematur. 

Ia harus menyibukkan diri dengan pekerjaan.  Memperluas pengetahuan  dan menyempurnakan  teknik agar lebih  siap 
saat panen tiba. Ia punya waktu dua tahun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...