TIGA PULUH TIGA
MARQUIS DE LA TAILLADE-ESPINASSE kagum dengan parfum baru Grenouille. Sangat mengejutkan, katanya - bahkan untuk orang sekelas penemu fluidum letale, melihat
betapa hebat pengaruh parfum secara umum. Barang seremeh dan sefana parfum ternyata bisa seperti itu hanya karena berasal dari ekstraksi substansi bumi.
Wajah Grenouille yang tadinya pias kini terlihat segar dan memerah seperti orang sehat pada umumnya. Pun dengan kualifikasi status rendah karena keterbatasan edukasi, ia kini tampak seperti memiliki kepribadian baru.
Tak diragukan lagi bahwa ia, sang Taillade-Espinasse, harus membahas hal ini kelak dalam sebuah bab penting tentang etika pola makan di buku barunya nanti - sebuah risalah lanjutan tentang fenomena teori fluidum letale.
Tapi sekarang ia ingin merasakan parfum baru ini. Grenouille memberi dua flacon aroma bunga konvensional yang ia buat berjam-jam lalu. Sang Marquis memercikkan ke tubuhnya dan segera merasa puas.
Ia mengaku bahwa setelah bertahun-tahun terkungkung aroma violet, sepercik parfum buatan Grenouille mampu membuatnya merasa tumbuh sayap. Dan kalau tidak salah,
sakit lututnya juga mulai berkurang, begitu pun dengung di telinga. Pokoknya ia serasa melayang, bugar, dan kembali muda.
Suka cita ia memeluk Grenouille dan memanggilnya, “Saudara fluidal-ku,” sambil cepat-cepat menambahkan bahwa ini bukan sekadar sapaan sosial, tapi murni bersifat
spiritual dalam conspectu universalitatis fluidi letalis ‐ dalam kaitannya dengan fluidum letale, dan hanya dalam hal ini, semua manusia setara! Tanpa sungkan memeluk
Grenouille, seperti kawan ia menggiring Grenouille dalam rencana berikutnya untuk membangun sebuah pondokan internasional tanpa memandang status.
Bertujuan membasmi fluidum letale dan menggantikannya secepat mungkin dengan fluidum vitale (aroma buatan Grenouille). Saat itu juga ia menjanjikan Grenouille sebagai penghuni pertama. Ia juga minta dituliskan formula parfum bunga itu dalam secarik kertas, lalu memberi lima puluh koin emas pada Grenouille.
Persis satu minggu setelah ceramah ilmiah yang pertama, Marquis de la Taillade-Espinasse mempersembahkan Grenouille sekali lagi di aula utama universitas. Ramainya luar biasa Seolah seluruh Montpellier tumpah di situ.
Tak hanya kalangan ilmuwan, tapi juga kalangan sosial dan kaum wanita yang ingin melihat manusia gua nan legendaris.
Musuh-musuh lama Taillade dari Friends of the University Botanical Gardens dan Society for the Advancement of Agricultural tak bisa berbuat banyak kendati telah mengerahkan seluruh anggota untuk mengacau. Acara itu sukses besar.
Taillade-Espinasse pertama-tama mengingatkan kondisi Grenouile seminggu lalu dengan menyebarkan gambar manusia gua dengan segala keburukan dan atribut grafis lain. Kemudian ia menampilkan Grenouile baru dalam balutan mantel biru beludru yang elok dan kemeja sutra.
Tampil klimis, berbedak, rapi. Berjalan tegak, anggun berlenggok sendiri ke atas podium, membungkuk hormat dan mengangguk, senyum ke kiri lalu ke kanan.
Membungkam rasa skeptis dan kritik. Bahkan kawan-kawan dari Universitas Botani juga diam seribu bahasa.
Perubahan ini terlalu dahsyat, bahkan nyaris bagai mukjizat. Mereka melihat sendiri betapa seminggu lalu Grenouille lebih mirip binatang ketimbang manusia. Lamat-
lamat terdengar bisikan orang-orang berdoa.
Saat Taillade-Espinasse berbicara, seluruh ruangan hening. Sekali lagi ia memaparkan teori yang sudah sangat dikenal tentang
fluidum letale, menjelaskan bagaimana dan dengan cara apa mekanika serta pola makan yang ia terapkan terhadap tubuh Grenouille, sebelum akhirnya diberi fluidum vitale.
Terakhir, berdasarkan fakta-fakta yang telah dijabarkan, ia memohon pada hadirin baik kawan maupun lawan, agar sedianya menyudahi perlawanan terhadap doktrin baru ini dan berjuang bersama membasmi bencana fluidum letaledan membuka diri terhadap manfaat fluidum vitale.
Pada titik ini ia membentangkan tangan dan memandang takzim ke atas Banyak pengunjung dan kakangan terpelajar
berlaku serupa dan para wanita menangis.
Grenouille berdiri di podium tapi tidak menyimak. Dengan amat puas ia menyaksikan efek dari parfum yang sama sekah berbeda, yaitu parfumnya sendiri.
Tak ada yang tahu bahwa Grenouille telah mempersiapkan diri sebelum pertunjukan untuk memercik parfum.
khusus diperhitungkan berdasarkan ukuran ruang aula, agar efek aura parfumnya tersebar maksimum. Dengan mata kepala
sendiri ia menyaksikan pengaruhnya begitu terlihat nyata, dari penonton di kursi terdepan sampai ke pojok belakang dan galeri bagian atas.
Hatinya melonjak girang melihat tak ada seorang pun yang tidak berubah setelah menghirup parfum itu tanpa disadari. Ekspresi wajah, aura, juga emosi, turut berubah.
Mereka yang semula melotot heran kini
menatap dengan pandangan lebih sejuk. Yang duduk bersandar dengan alis terangkat skeptis dan pinggir mulut melecehkan, kini lebih rileks dan menatap polos.
Saat aroma menerjang, bahkan yang semula takut‐takut, ngeri dan terlalu sensitif melihat penampilan lama Grenouille, kini memandang dengan lebih bersahabat dan bersimpati.
Saat ceramah selesai, seluruh hadirin bangkit berdiri dan bertepuk sorai. Meriah sekali, ditingkahi seruan: “Panjang umur fluidum vitale!” “Panjang umur Taillade-Espinasse!”
“Selamat untuk teori fluidal!” “Tinggalkan pengobatan ortodoks!” Ini semua jeritan kalangan intelek kota Montpellier dan anggota-anggota terhormat universitas
terbesar di selatan Prancis.
Marquis de la Taillade-Espinasse tak pernah merasa begitu bahagia seperti saat
ini. Lain lagi perasaan Grenouille. Saat turun dari podium untuk membaur bersama keramaian, ia tahu bahwa sebenarnya sambutan ini diarahkan untuk dirinya seorang,
Jean-Baptiste Grenouille, walau tak seorang pun menyadari hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar