Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 33

TIGA PULUH TIGA


MARQUIS  DE  LA  TAILLADE-ESPINASSE  kagum  dengan parfum  baru  Grenouille.  Sangat  mengejutkan,  katanya  - bahkan untuk orang sekelas penemu fluidum letale, melihat 
betapa  hebat  pengaruh  parfum  secara  umum.  Barang seremeh dan sefana parfum ternyata bisa seperti itu hanya karena  berasal  dari  ekstraksi  substansi  bumi.  

Wajah Grenouille  yang  tadinya  pias  kini  terlihat  segar  dan memerah seperti orang sehat pada umumnya. Pun dengan kualifikasi  status  rendah  karena  keterbatasan  edukasi,  ia kini  tampak  seperti  memiliki  kepribadian  baru.  

Tak diragukan  lagi  bahwa  ia,  sang  Taillade-Espinasse,  harus membahas hal ini kelak dalam sebuah bab penting tentang etika  pola  makan  di  buku  barunya  nanti  - sebuah  risalah lanjutan  tentang  fenomena  teori  fluidum letale.  

Tapi sekarang ia ingin merasakan parfum baru ini. Grenouille  memberi  dua  flacon  aroma  bunga konvensional  yang  ia  buat  berjam-jam  lalu.  Sang  Marquis memercikkan  ke  tubuhnya  dan  segera  merasa  puas.  

Ia mengaku  bahwa  setelah  bertahun-tahun  terkungkung aroma  violet,  sepercik  parfum  buatan  Grenouille  mampu membuatnya merasa tumbuh sayap. Dan kalau tidak salah, 
sakit lututnya juga mulai berkurang, begitu pun dengung di telinga.  Pokoknya  ia  serasa  melayang,  bugar,  dan  kembali muda. 

Suka cita ia memeluk Grenouille dan memanggilnya, “Saudara  fluidal-ku,”  sambil  cepat-cepat  menambahkan bahwa ini bukan sekadar sapaan sosial, tapi murni bersifat 
spiritual  dalam  conspectu universalitatis fluidi letalis  ‐ dalam  kaitannya  dengan  fluidum letale,  dan  hanya  dalam hal  ini,  semua  manusia  setara!  Tanpa  sungkan  memeluk 
Grenouille,  seperti  kawan  ia  menggiring  Grenouille  dalam rencana  berikutnya  untuk  membangun  sebuah  pondokan internasional  tanpa  memandang  status. 

Bertujuan membasmi  fluidum letale  dan menggantikannya  secepat mungkin dengan fluidum vitale (aroma buatan Grenouille). Saat  itu  juga  ia  menjanjikan  Grenouille  sebagai  penghuni pertama. Ia juga minta dituliskan formula parfum bunga itu dalam  secarik  kertas,  lalu  memberi  lima  puluh  koin emas  pada Grenouille. 

Persis satu minggu setelah ceramah ilmiah  yang pertama, Marquis de la Taillade-Espinasse mempersembahkan Grenouille  sekali lagi di aula utama universitas. Ramainya luar biasa Seolah  seluruh Montpellier tumpah di situ.  

Tak  hanya  kalangan  ilmuwan, tapi  juga  kalangan  sosial  dan  kaum  wanita  yang  ingin melihat  manusia  gua  nan  legendaris.  

Musuh-musuh  lama Taillade dari Friends of the University Botanical Gardens dan Society for the Advancement of Agricultural tak bisa berbuat banyak  kendati  telah mengerahkan  seluruh anggota untuk mengacau. Acara itu sukses besar.

Taillade-Espinasse  pertama-tama mengingatkan  kondisi Grenouile  seminggu  lalu  dengan  menyebarkan  gambar manusia  gua  dengan  segala  keburukan  dan  atribut  grafis lain.  Kemudian  ia  menampilkan  Grenouile  baru  dalam balutan  mantel  biru  beludru  yang  elok  dan  kemeja  sutra. 

Tampil  klimis,  berbedak,  rapi.  Berjalan  tegak,  anggun berlenggok  sendiri  ke  atas  podium,  membungkuk  hormat dan  mengangguk,  senyum  ke  kiri  lalu  ke  kanan. 

Membungkam  rasa  skeptis  dan  kritik.  Bahkan  kawan-kawan  dari  Universitas  Botani  juga  diam  seribu  bahasa. 

Perubahan  ini  terlalu  dahsyat,  bahkan  nyaris  bagai mukjizat.  Mereka  melihat  sendiri  betapa  seminggu  lalu Grenouille lebih mirip binatang ketimbang manusia. Lamat-
lamat terdengar bisikan orang-orang berdoa. 

Saat Taillade-Espinasse berbicara, seluruh ruangan hening. Sekali lagi ia memaparkan  teori  yang  sudah  sangat  dikenal  tentang 
fluidum letale, menjelaskan bagaimana dan dengan cara apa mekanika  serta  pola  makan  yang  ia  terapkan  terhadap tubuh  Grenouille,  sebelum  akhirnya  diberi  fluidum vitale. 

Terakhir, berdasarkan  fakta-fakta yang telah dijabarkan, ia memohon  pada  hadirin  baik  kawan  maupun  lawan,  agar sedianya menyudahi perlawanan terhadap doktrin baru ini dan  berjuang  bersama  membasmi  bencana  fluidum letaledan  membuka  diri  terhadap  manfaat  fluidum vitale.  

Pada titik ini ia membentangkan tangan dan memandang takzim ke  atas Banyak pengunjung  dan kakangan terpelajar 
berlaku serupa dan para wanita menangis. 

Grenouille  berdiri  di  podium  tapi  tidak  menyimak. Dengan  amat  puas  ia menyaksikan  efek  dari  parfum  yang sama sekah berbeda, yaitu parfumnya sendiri. 

Tak ada yang tahu  bahwa  Grenouille  telah mempersiapkan  diri  sebelum pertunjukan  untuk  memercik  parfum. 

khusus diperhitungkan  berdasarkan  ukuran  ruang  aula,  agar  efek aura  parfumnya  tersebar maksimum. Dengan mata  kepala 
sendiri ia menyaksikan pengaruhnya begitu  terlihat nyata, dari penonton di kursi terdepan sampai ke pojok belakang dan galeri bagian atas. 

Hatinya melonjak girang melihat tak ada  seorang  pun  yang  tidak  berubah  setelah  menghirup parfum itu tanpa disadari. Ekspresi wajah, aura, juga emosi, turut  berubah.  

Mereka  yang  semula  melotot  heran  kini 
menatap  dengan  pandangan  lebih  sejuk.  Yang  duduk bersandar dengan alis terangkat skeptis dan pinggir mulut melecehkan,  kini  lebih  rileks  dan  menatap  polos.  

Saat aroma  menerjang,  bahkan  yang  semula  takut‐takut,  ngeri dan  terlalu  sensitif  melihat  penampilan  lama  Grenouille, kini memandang dengan lebih bersahabat dan bersimpati. 

Saat ceramah selesai, seluruh hadirin bangkit berdiri dan bertepuk  sorai.  Meriah  sekali,  ditingkahi  seruan:  “Panjang umur  fluidum vitale!”  “Panjang  umur  Taillade-Espinasse!” 
“Selamat  untuk  teori  fluidal!”  “Tinggalkan  pengobatan ortodoks!”  Ini  semua  jeritan  kalangan  intelek  kota Montpellier  dan  anggota-anggota  terhormat  universitas 
terbesar  di  selatan  Prancis.  

Marquis  de  la  Taillade-Espinasse  tak  pernah  merasa  begitu  bahagia  seperti  saat 
ini. Lain  lagi  perasaan  Grenouille.  Saat  turun  dari  podium untuk  membaur  bersama  keramaian,  ia  tahu  bahwa sebenarnya sambutan ini diarahkan untuk dirinya seorang, 
Jean-Baptiste Grenouille, walau tak seorang pun menyadari hal ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...