Rabu, 04 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 17

TUJUH BELAS


DEMIKIANLAH,  DENGAN  KEHADiRAN  GRENOUILLE, ketenaran Rumah Parfum Giuseppe Baldini mulai menanjak ke  tingkat  nasional,  bahkan  sampai  ke  seluruh  Eropa.  

Bel Persia di atas pintu nyaris tak pernah berhenti berdenting, begitu pun aksi tebaran wewangian patung burung bangau penyambut  tamu  - pendek  kata,  mendadak  kondisi 
bisnisnya berbalik 180 derajat. 

Menjelang malam di hari pertama Grenouille bekerja, ia harus  bekerja  keras  menyiapkan  sebotol  besar  'Nuit Napolitaine'  yang langsung  ludes  terjual  delapan  puluh flacon  keesokan  harinya.  Ketenaran  aromanya  menyebar seperti  kobaran  api.  Mata  Chénier  sampai  basah menghitung  uang  dan  punggungnya  sakit  lantaran  terlalu sering  membungkuk  hormat  setiap  kali  transaksi.  

Soalnya bukan  apa‐apa  - hanya  orang-orang  dari  kalangan terhormat atau  setidaknya  pelayan  kalangan  terhormatlah yang  datang  berkunjung.  

Pernah  suatu  hari  pintu  toko terhempas  begitu  keras  sampai  bergetar.  Setelah  itu 
masuklah  pesuruh  Count  d'Argenson  seraya  berteriak karena  ‐  memang  begitu  kebiasaan  seorang  pesuruh bahwa  ia  ingin  lima  botol  parfum  baru  ini.  Chénier  masih 
belum habis kaget ketika lima belas menit kemudian Count d’Argenson  muncul  sendiri  di  ambang  pintu.  

Bagaimana tidak  kaget?  Count  d’Argenson  adalah  orang  kepercayaan sang Raja - penasehat yang penting dan tokoh terkuat di  orange Paris.

Sementara  Chénier  berjuang  menghadapi  serbuan pelanggan,  Baldini  menutup  diri  di  laboratorium  bersama murid  baru  kesayangannya.  

Kepada  Chénier  ia membualkan situasi baru ini dengan teori fantastis yang ia sebut  sebagai  'pendelegasian  kerja  demi  peningkatan produktivitas'. Selama  bertahun-tahun, demikian  tuturnya, ia  sengaja  diam  mengamati  dengan  sabar  sementara Missier  dan  pecundang lain mencuri  para  pelanggan  serta meruntuhkan  bisnisnya.  Kesabaran  itu  kini  telah  sampai batasnya.  

Baldini  menerima  tantangan  dan  menyerang 
balik  dengan  senjata mereka  sendiri.  Setiap musim,  setiap bulan  ‐  bahkan  kalau  perlu  setiap  minggu,  ia  akan menghajar  dengan  sebuah  parfum  baru.  Dan  bukan sembarang  parfum!  Baldini  akan  mengerahkan  seluruh 
bakat kreatifnya. Karena itu ia butuh bantuan asisten yang belum  berpengalaman.  

Seseorang  yang  diserahi  tugas khusus  menangani  dan  bertanggung  jawab terhadap 
produksi parfum, sementara Chénier harus berkonsentrasi pada  penjualan.  Dengan  metode  modern  ini  mereka  akan membuka  lembaran  baru  dalam  sejarah  industri parfum, menyingkirkan  para  pesaing,  dan  tumbuh  menjadi  besar serta kaya raya tanpa dapat ditahan siapa pun.  

Ya, dengan sadar  dan  secara  eksplisit  ia  menyebut  kata  'Mereka’ karena  ia   berniat  berbagi  keuntungan  dengan  Chénier, rekan pembantu yang telah begitu lama bekerja untuknya. 

Kalau  saja  Baldini  tahu  bahwa  beberapa  hari  lalu Chénier akan menganggap ocehan seperti ini sebagai bukti kuat gejala kepikunan sang majikan. “Bersiap-siaplah jatuh miskin,” demikian ia berpikir,  “tak akan lama lagi sebelum akhirnya si  tua bangka itu bangkrut.” 

Tapi sekarang ia  tak mampu  berpikir  apa-apa  lagi.  Benaknya  bisu  dengan segunung  tugas  yang  harus  dilakukan.  

Begitu sibuknya sampai  terkapar  kelelahan  setiap  sore  dan  nyaris  tak sanggup  mengosongkan  kas  serta  mengutip  upah 
bagiannya.  Dalam  mimpi  yang  paling  liar  sekalipun  ia  tak pernah membayangkan situasi akan terus menanjak seperti ini,  walau menyaksikan  sendiri  betapa  Baldini  keluar  dari laboratorium  setiap  hari  dengan  sedikitnya  tiga  jenis parfum baru. 

Aroma  parfum-parfum  itu  juga  bukan  main-main.  Dan tidak  hanya  parfum,  Baldini  hadir  dengan  sederet  krim, bedak,  sabun,  tonik  rambut,  eau de toilette,  segala  macam minyak... pokoknya nyaris semua lini produksi kini berbau wangi  segar,  orisinal,  berbeda,  dan  setiap  kali  bahkan terasa  lebib  baik.  

Seolah  tersihir,  masyarakat  terus memburu  produk  baru  apa  saja  yang  keluar  dari  toko 
Baldini.  Benar-benar  apa  saja,  bahkan  sampai  ke  pita rambut  berparfum  yang  dibuat  Baldini  kala  iseng.  

Harga tak pernah jadi masalah. Apa pun produk keluaran Baldini selalu  jadi  hit.  Kesuksesan  ini  begitu  dahsyat  sampai 
Chénier  rela  menerimanya  sebagai  fenomena  biasa  dan tidak  lagi  mengusik  mempertanyakan  sebab.  Pikirnya, mungkin berhubungan dengan orang baru yang aneh itu, si cebol  kaku  yang  selalu  mengunci  diri  seperti  anjing  di laboratorium  dan  kadang  terlihat  saat  Baldini  keluar ruangan,  berdiri  di  latar  belakang  sedang  mengelap  gelas 
dan  membersihkan  adukan  - mungkinkah  makhluk misterius ini punya andil dalam kesuksesan bisnis mereka? 

Rasanya  Chénier  tak  akan  percaya  kalau  tidak  diceritakan sendiri oleh Baldini. 

Kita  tahu yang sesungguhnya bahwa si cebol Grenouille memang sumber segala keajaiban ini. Semua yang dipajang Baldini  di  rak  toko  dan  dipasarkan  oleh  Chénier  baru seujung kuku dari yang diciptakan oleh Grenouille di balik pintu laboratorium  yang  tertutup. 

Hidung  Baldini  tak  bisa cukup  cepat  mengimbangi  kemampuan  Grenouille.  Ada 
kalanya  ia  merasa  begitu  tersiksa  karena  terpaksa  harus memilih  di  antara  sekian  banyak  ciptaan  Grenouille  yang semuanya  begitu  baik  dan  sempurna.  

Penyihir  kecil  itu mampu memetakan  resep  untuk  seluruh  parfum  yang ada di Prancis tanpa sekalipun mengulang resep yang sama dua kali, dan tanpa sekalipun menghasilkan produk berkualitas jelek  atau  bahkan menengah.  Lebih  jauh  kalau  mau  jujur, 
Baldini tak bisa meresepkan atau memformulasikan setiap produk  itu  sekaligus,  karena  Grenouille  masih  selalu 
mengomposisikan  parfum  dengan  cara  yang  kacau  dan tidak profesional seperti saat pertama Baldini mengenalnya malam itu. 

Ia masih selalu mencampur ramuan sesuka hati dan tanpa aturan. Tak tahan melihat semua ini, tapi dengan harapan  untuk  bisa  memahami  barang  sedikit,  suatu  hari Baldini menuntut agar Grenouille mau menggunakan skala, gelas pengukur, dan pipet  saat mempersiapkan campuran, pun  walau  Grenouille  merasa  tak  perlu  begitu.  Ia  juga 
menuntut  Grenouille  membiasakan  diri  untuk  tidak menganggap alkohol sebagai salah satu bahan ramuan, tapi sebagai  pelarut  yang  harus  ditambahkan  di  akhir 
percobaan.  

Dan  demi  Tuhan!  Yang  terpenting,  Baldini 
menuntut  agar  semua  dilakukan  lebih  perlahan-dengan tahapan  dan urutan  yang  lebih  bisa  di cermati  dan dipahami, sebagaimana lazimnya seniman. 

Grenouille  menurut.  Saat  itulah  untuk  pertama  kali Baldini mampu mengikuti  dan mendokumentasikan  setiap manuver individual penyihir ini. Berbekal kertas dan pena, sambil  terus  mengingatkan  agar  bekerja  lebih  pelan,  ia duduk  di  samping  si  pemuda  dan  mencatat  berapa  ons bahan  yang  ini,  berapa  gram  yang  itu,  berapa  tetes  yang dimasukkan  ke  botol  aduk,  dan  seterusnya.  

Metode  ini amat  detail  dalam  menganalisis  prosedur;  melibatkan prinsip-prinsip  yang  bila  diabaikan  akan  menghambat prosedur  itu.  Setelah  selesai  mendokumentasikan  setiap prosedur ke dalam buku dan menyimpannya dengan aman, Baldini  merasa  yakin  bahwa  semua  kini akan jadi  miliknya seorang. 

Bagaimanapun,  Grenouille  juga  mengambil  hikmah  dan manfaat dari prosedur disiplin terapan Baldini. Meski pada dasarnya  ia  tak  pernah  dan hanya  mengandalkan penciuman semua  itu. 

Grenouille  tak  pernah  sampai  harus  melongok  sebuah formula  tertentu  untuk  membuat  parfum  yang  sama berminggu-minggu  atau  berbulan-bulan  kemudian  karena hidungnya  tak  pernah  melupakan  aroma.  

Tapi  dengan membiasakan diri menggunakan gelas pengukur dan skala, ia  memelajari  bahasa  khusus  dunia  pembuatan  parfum. 
Instingnya  berkata  bahwa  pengetahuan  ini  akan  berguna kelak.  

Setelah  beberapa  minggu,  Grenouille  telah 
menguasai  tidak  hanya  nama  seluruh  aroma  yang  ada  di laboratorium  Baldini,  tapi  juga  mampu  mencatat  formula parfumnya  sendiri.  Atau  sebaliknya,  ia  juga  mampu memodifikasi  formula  dan  instruksi  orang  lain  menjadi parfum  dan/atau  produk  beraroma  lain.  

Tidak  hanya  itu!  Sekali  ia  menguasai  bagaimana  mengekspresikan  gagasan dalam  bahasa  pipet  dan  skala,  ia  bahkan  tak  butuh  lagi perantaraan  eksperimen.  Setiap  kali  Baldini  menyuruh membuat  parfum  baru,  baik  untuk  kolonye  atau  apa  saja, 
Grenouille  tak  lagi  meraih  flacon  dan  bubuk  ramuan.  

Ia langsung  duduk  di  depan  meja  dan  menulis  formulanya saat  itu  juga.  Grenouille  belajar  menuangkan  catatan mentalnya  tentang  aroma  menjadi  sebuah  parfum  jadi 
dengan  cara  menuliskan  formulanya.  Buat  dia  hal  ini sekadar jalan memutar saja,  tapi di mata dunia-khususnya Baldini,  ini  suatu  kemajuan.  

Mukjizat  Grenouille  tidak berubah,  namun  formulasi  tertulisnya  kini  sedikit  banyak 
menyingkirkan  ketakutan  yang  dirasakan  pengamat,  dan inilah  yang  terbaik.  

Setidaknya  ini  baik  buat  kewarasan banyak pihak. Makin Grenouille menguasai teknik dan seni pembuatan parfum, ia makin mampu mengekspresikan diri dalam  bahasa  konvensional  dunia  pembuat  parfum, 
sekaligus  mengurangi  rasa  takut  dan  kecurigaan  Baldini. 

Walau masih menganggap Grenouille sebagai orang dengan bakat  dan  penciuman  luar  biasa,  Baldini  tak  lagi menyamakannya  dengan  Frangipani  atau  penyihir  aneh. 

Grenouille merasa hal ini lebih baik. Peraturan dan disiplin seni  bisa  ia  fungsikan  sebagai  samaran.  Kini  nyaris  setiap kali  ia  meninabobokan  Baldini  dengan  prosedur  yang benar.  Mengukur  berat  ramuan, memutar-mutar  botol aduk,  meneteskan  parfum  ke  sapu  tangan  sebagai  bahan penguji.  Grenouille  kini  sudah  sama  elegan  dan  ahlinya dengan Baldini dalam hal membaui sapu tangan berparfum di  bawah  hidung.  

Kadang  dari  waktu  ke  waktu,  dengan interval  yang  diatur  baik,  ia  sengaja  membuat  kesalahan yang  bisa  ditangkap  Baldini,  seperti  lupa  menyaring ramuan,  salah  menentukan  skala,  salah  mencampurkan persentase  larutan ambergris  ke  dalam  formula,  dan sebagainya.  Dengan  penuh  perhatian ia menerima  omelan Baldini dan memperbaiki dengan patuh. 

Dengan cara ini ia menenangkan  dan menyeret  Baldini  ke  dalam ilusi  bahwa 
'semuanya  wajar-wajar  saja’.  Toh  dari  awal  Grenouille memang  tak  berniat  mencurangi  Baldini.  Ia  sungguh-sungguh  ingin  belajar.  Bukan  bagaimana  mencampur ramuan,  mengomposisi  aroma,  atau  sejenisnya.  Soal  itu  ia sudah lebih mafhum dari siapa pun. 

Baginya, seluruh bahan yang  ada  di  toko  Baldini  belum  cukup  untuk menciptakan parfum yang sesungguhnya. 

Parfum yang dibuat selama ini hanya  main-main  bila  dibandingkan  dengan  apa  yang 
tersimpan dalam pikirannya - dan pasti akan ia buat suatu hari nanti. 

Untuk mencapai hal ini, Grenouille sadar bahwa ada  dua  syarat  mutlak  yang  harus  dipenuhi.  Pertama adalah  jubah  status  dan  kehormatan  kalangan  menengah ke  atas  ‐  setidaknya  status  sebagai  murid  utama  di  bisnis ini. 

Dari  sini  barulah ia  bisa memuaskan gelora  sejati atas bakatnya  dan  mewujudkan  mimpi  tanpa  terhalang  siapa pun.  

Yang  kedua  adalah  pengetahuan  tentang  seni membuat  parfum  itu  sendiri bagaimana  memproduksi, mengisolasi,  memekatkan,  mengawetkan,  dan menyalurkannya  ke  pelanggan  kalangan  atas.  

Grenouille boleh  jadi  memiliki  hidung  terbaik  di  dunia,  baik  secara analitis  maupun  visi,  tapi  pada  saat  ini  ia  belum  memiliki kemampuan mewujudkan parfum yang sesungguhnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...