TUJUH BELAS
DEMIKIANLAH, DENGAN KEHADiRAN GRENOUILLE, ketenaran Rumah Parfum Giuseppe Baldini mulai menanjak ke tingkat nasional, bahkan sampai ke seluruh Eropa.
Bel Persia di atas pintu nyaris tak pernah berhenti berdenting, begitu pun aksi tebaran wewangian patung burung bangau penyambut tamu - pendek kata, mendadak kondisi
bisnisnya berbalik 180 derajat.
Menjelang malam di hari pertama Grenouille bekerja, ia harus bekerja keras menyiapkan sebotol besar 'Nuit Napolitaine' yang langsung ludes terjual delapan puluh flacon keesokan harinya. Ketenaran aromanya menyebar seperti kobaran api. Mata Chénier sampai basah menghitung uang dan punggungnya sakit lantaran terlalu sering membungkuk hormat setiap kali transaksi.
Soalnya bukan apa‐apa - hanya orang-orang dari kalangan terhormat atau setidaknya pelayan kalangan terhormatlah yang datang berkunjung.
Pernah suatu hari pintu toko terhempas begitu keras sampai bergetar. Setelah itu
masuklah pesuruh Count d'Argenson seraya berteriak karena ‐ memang begitu kebiasaan seorang pesuruh bahwa ia ingin lima botol parfum baru ini. Chénier masih
belum habis kaget ketika lima belas menit kemudian Count d’Argenson muncul sendiri di ambang pintu.
Bagaimana tidak kaget? Count d’Argenson adalah orang kepercayaan sang Raja - penasehat yang penting dan tokoh terkuat di orange Paris.
Sementara Chénier berjuang menghadapi serbuan pelanggan, Baldini menutup diri di laboratorium bersama murid baru kesayangannya.
Kepada Chénier ia membualkan situasi baru ini dengan teori fantastis yang ia sebut sebagai 'pendelegasian kerja demi peningkatan produktivitas'. Selama bertahun-tahun, demikian tuturnya, ia sengaja diam mengamati dengan sabar sementara Missier dan pecundang lain mencuri para pelanggan serta meruntuhkan bisnisnya. Kesabaran itu kini telah sampai batasnya.
Baldini menerima tantangan dan menyerang
balik dengan senjata mereka sendiri. Setiap musim, setiap bulan ‐ bahkan kalau perlu setiap minggu, ia akan menghajar dengan sebuah parfum baru. Dan bukan sembarang parfum! Baldini akan mengerahkan seluruh
bakat kreatifnya. Karena itu ia butuh bantuan asisten yang belum berpengalaman.
Seseorang yang diserahi tugas khusus menangani dan bertanggung jawab terhadap
produksi parfum, sementara Chénier harus berkonsentrasi pada penjualan. Dengan metode modern ini mereka akan membuka lembaran baru dalam sejarah industri parfum, menyingkirkan para pesaing, dan tumbuh menjadi besar serta kaya raya tanpa dapat ditahan siapa pun.
Ya, dengan sadar dan secara eksplisit ia menyebut kata 'Mereka’ karena ia berniat berbagi keuntungan dengan Chénier, rekan pembantu yang telah begitu lama bekerja untuknya.
Kalau saja Baldini tahu bahwa beberapa hari lalu Chénier akan menganggap ocehan seperti ini sebagai bukti kuat gejala kepikunan sang majikan. “Bersiap-siaplah jatuh miskin,” demikian ia berpikir, “tak akan lama lagi sebelum akhirnya si tua bangka itu bangkrut.”
Tapi sekarang ia tak mampu berpikir apa-apa lagi. Benaknya bisu dengan segunung tugas yang harus dilakukan.
Begitu sibuknya sampai terkapar kelelahan setiap sore dan nyaris tak sanggup mengosongkan kas serta mengutip upah
bagiannya. Dalam mimpi yang paling liar sekalipun ia tak pernah membayangkan situasi akan terus menanjak seperti ini, walau menyaksikan sendiri betapa Baldini keluar dari laboratorium setiap hari dengan sedikitnya tiga jenis parfum baru.
Aroma parfum-parfum itu juga bukan main-main. Dan tidak hanya parfum, Baldini hadir dengan sederet krim, bedak, sabun, tonik rambut, eau de toilette, segala macam minyak... pokoknya nyaris semua lini produksi kini berbau wangi segar, orisinal, berbeda, dan setiap kali bahkan terasa lebib baik.
Seolah tersihir, masyarakat terus memburu produk baru apa saja yang keluar dari toko
Baldini. Benar-benar apa saja, bahkan sampai ke pita rambut berparfum yang dibuat Baldini kala iseng.
Harga tak pernah jadi masalah. Apa pun produk keluaran Baldini selalu jadi hit. Kesuksesan ini begitu dahsyat sampai
Chénier rela menerimanya sebagai fenomena biasa dan tidak lagi mengusik mempertanyakan sebab. Pikirnya, mungkin berhubungan dengan orang baru yang aneh itu, si cebol kaku yang selalu mengunci diri seperti anjing di laboratorium dan kadang terlihat saat Baldini keluar ruangan, berdiri di latar belakang sedang mengelap gelas
dan membersihkan adukan - mungkinkah makhluk misterius ini punya andil dalam kesuksesan bisnis mereka?
Rasanya Chénier tak akan percaya kalau tidak diceritakan sendiri oleh Baldini.
Kita tahu yang sesungguhnya bahwa si cebol Grenouille memang sumber segala keajaiban ini. Semua yang dipajang Baldini di rak toko dan dipasarkan oleh Chénier baru seujung kuku dari yang diciptakan oleh Grenouille di balik pintu laboratorium yang tertutup.
Hidung Baldini tak bisa cukup cepat mengimbangi kemampuan Grenouille. Ada
kalanya ia merasa begitu tersiksa karena terpaksa harus memilih di antara sekian banyak ciptaan Grenouille yang semuanya begitu baik dan sempurna.
Penyihir kecil itu mampu memetakan resep untuk seluruh parfum yang ada di Prancis tanpa sekalipun mengulang resep yang sama dua kali, dan tanpa sekalipun menghasilkan produk berkualitas jelek atau bahkan menengah. Lebih jauh kalau mau jujur,
Baldini tak bisa meresepkan atau memformulasikan setiap produk itu sekaligus, karena Grenouille masih selalu
mengomposisikan parfum dengan cara yang kacau dan tidak profesional seperti saat pertama Baldini mengenalnya malam itu.
Ia masih selalu mencampur ramuan sesuka hati dan tanpa aturan. Tak tahan melihat semua ini, tapi dengan harapan untuk bisa memahami barang sedikit, suatu hari Baldini menuntut agar Grenouille mau menggunakan skala, gelas pengukur, dan pipet saat mempersiapkan campuran, pun walau Grenouille merasa tak perlu begitu. Ia juga
menuntut Grenouille membiasakan diri untuk tidak menganggap alkohol sebagai salah satu bahan ramuan, tapi sebagai pelarut yang harus ditambahkan di akhir
percobaan.
Dan demi Tuhan! Yang terpenting, Baldini
menuntut agar semua dilakukan lebih perlahan-dengan tahapan dan urutan yang lebih bisa di cermati dan dipahami, sebagaimana lazimnya seniman.
Grenouille menurut. Saat itulah untuk pertama kali Baldini mampu mengikuti dan mendokumentasikan setiap manuver individual penyihir ini. Berbekal kertas dan pena, sambil terus mengingatkan agar bekerja lebih pelan, ia duduk di samping si pemuda dan mencatat berapa ons bahan yang ini, berapa gram yang itu, berapa tetes yang dimasukkan ke botol aduk, dan seterusnya.
Metode ini amat detail dalam menganalisis prosedur; melibatkan prinsip-prinsip yang bila diabaikan akan menghambat prosedur itu. Setelah selesai mendokumentasikan setiap prosedur ke dalam buku dan menyimpannya dengan aman, Baldini merasa yakin bahwa semua kini akan jadi miliknya seorang.
Bagaimanapun, Grenouille juga mengambil hikmah dan manfaat dari prosedur disiplin terapan Baldini. Meski pada dasarnya ia tak pernah dan hanya mengandalkan penciuman semua itu.
Grenouille tak pernah sampai harus melongok sebuah formula tertentu untuk membuat parfum yang sama berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian karena hidungnya tak pernah melupakan aroma.
Tapi dengan membiasakan diri menggunakan gelas pengukur dan skala, ia memelajari bahasa khusus dunia pembuatan parfum.
Instingnya berkata bahwa pengetahuan ini akan berguna kelak.
Setelah beberapa minggu, Grenouille telah
menguasai tidak hanya nama seluruh aroma yang ada di laboratorium Baldini, tapi juga mampu mencatat formula parfumnya sendiri. Atau sebaliknya, ia juga mampu memodifikasi formula dan instruksi orang lain menjadi parfum dan/atau produk beraroma lain.
Tidak hanya itu! Sekali ia menguasai bagaimana mengekspresikan gagasan dalam bahasa pipet dan skala, ia bahkan tak butuh lagi perantaraan eksperimen. Setiap kali Baldini menyuruh membuat parfum baru, baik untuk kolonye atau apa saja,
Grenouille tak lagi meraih flacon dan bubuk ramuan.
Ia langsung duduk di depan meja dan menulis formulanya saat itu juga. Grenouille belajar menuangkan catatan mentalnya tentang aroma menjadi sebuah parfum jadi
dengan cara menuliskan formulanya. Buat dia hal ini sekadar jalan memutar saja, tapi di mata dunia-khususnya Baldini, ini suatu kemajuan.
Mukjizat Grenouille tidak berubah, namun formulasi tertulisnya kini sedikit banyak
menyingkirkan ketakutan yang dirasakan pengamat, dan inilah yang terbaik.
Setidaknya ini baik buat kewarasan banyak pihak. Makin Grenouille menguasai teknik dan seni pembuatan parfum, ia makin mampu mengekspresikan diri dalam bahasa konvensional dunia pembuat parfum,
sekaligus mengurangi rasa takut dan kecurigaan Baldini.
Walau masih menganggap Grenouille sebagai orang dengan bakat dan penciuman luar biasa, Baldini tak lagi menyamakannya dengan Frangipani atau penyihir aneh.
Grenouille merasa hal ini lebih baik. Peraturan dan disiplin seni bisa ia fungsikan sebagai samaran. Kini nyaris setiap kali ia meninabobokan Baldini dengan prosedur yang benar. Mengukur berat ramuan, memutar-mutar botol aduk, meneteskan parfum ke sapu tangan sebagai bahan penguji. Grenouille kini sudah sama elegan dan ahlinya dengan Baldini dalam hal membaui sapu tangan berparfum di bawah hidung.
Kadang dari waktu ke waktu, dengan interval yang diatur baik, ia sengaja membuat kesalahan yang bisa ditangkap Baldini, seperti lupa menyaring ramuan, salah menentukan skala, salah mencampurkan persentase larutan ambergris ke dalam formula, dan sebagainya. Dengan penuh perhatian ia menerima omelan Baldini dan memperbaiki dengan patuh.
Dengan cara ini ia menenangkan dan menyeret Baldini ke dalam ilusi bahwa
'semuanya wajar-wajar saja’. Toh dari awal Grenouille memang tak berniat mencurangi Baldini. Ia sungguh-sungguh ingin belajar. Bukan bagaimana mencampur ramuan, mengomposisi aroma, atau sejenisnya. Soal itu ia sudah lebih mafhum dari siapa pun.
Baginya, seluruh bahan yang ada di toko Baldini belum cukup untuk menciptakan parfum yang sesungguhnya.
Parfum yang dibuat selama ini hanya main-main bila dibandingkan dengan apa yang
tersimpan dalam pikirannya - dan pasti akan ia buat suatu hari nanti.
Untuk mencapai hal ini, Grenouille sadar bahwa ada dua syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pertama adalah jubah status dan kehormatan kalangan menengah ke atas ‐ setidaknya status sebagai murid utama di bisnis ini.
Dari sini barulah ia bisa memuaskan gelora sejati atas bakatnya dan mewujudkan mimpi tanpa terhalang siapa pun.
Yang kedua adalah pengetahuan tentang seni membuat parfum itu sendiri bagaimana memproduksi, mengisolasi, memekatkan, mengawetkan, dan menyalurkannya ke pelanggan kalangan atas.
Grenouille boleh jadi memiliki hidung terbaik di dunia, baik secara analitis maupun visi, tapi pada saat ini ia belum memiliki kemampuan mewujudkan parfum yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar