ENAM
SEJAK PERTAMA KALI menatap Monsieur Grimal - tidak, tepatnya sejak endusan pertama atas bau yang menyelimuti lelaki itu, Grenouille langsung tahu bahwa orang ini tega menyiksanya sampai mati untuk kesalahan kecil sekalipun.
Hidupnya bergantung pada berapa banyak
pekerjaan yang bisa ditangani dan seberapa bergunanya ia di mata Grimal. Grenouille tak melihat pilihan selain patuh.
Menurut dan tak mencoba melawan sama sekali. Hari demi hari ia memendam seluruh energi pemberontakan dan pertentangan, mengubahnya menjadi keinginan tunggal
untuk bertahan hidup ala kutu pohon.Ia bekerja keras, tak mengeluh dan tak mencolok.
Harapan hidup dipelihara dengan kobaran sangat kecil tapi tetap menyala. Ia menjadi
teladan kepatuhan, kesederhanaan, dan ketekunan bekerja.
Mematuhi segala perintah tanpa bertanya dan tampak puas menerima makanan apa pun yang disodorkan.
Sore hari ia membiarkan diri dikunci di lemari di samping lantai penyamakan tempat menyimpan peralatan dan menggantung kulit kasar yang baru saja digarami. Di sana ia tidur beralas tanah yang keras dan dingin.
Siang hari ia bekerja sampai matahari terbenam - empat jam di musim dingin, empat belas, lima belas, dan enam belas jam di
musim panas.
Tugasnya mengoreki daging dari kulit binatang, membasahinya, mencabuti bulunya, mengapur, merendamnya dengan cairan kimia, melebarkan, menggosoknya dengan kotoran binatang, membelah kayu bakar, mencabuti ranting dari pepohonan, turun ke sumur penyamakan berisi uap kimia yang membakar kulit, melapis kulit yang masih mentah dan yang sudah jadi sesuai instruksi pekerja senior, memelarkannya dengan
remukan gallnut, lalu menutup lubang pembakaran dengan ranting dan tanah untuk proses mumifikasi kulit.
Bertahun-tahun kemudian ia harus menggali lagi lubang tersebut dan mengangkat kulit yang kini sudah sempurna tersamak.
Jika tidak sedang mengubur atau menggali samakan kulit, ia ditugasi membawa air. Selama berbulan-bulan ia membawa air dari sungai dengan dua ember. Jumlahnya bisa ratusan ember dalam sehari karena penyamakan membutuhkan air dalam jumlah besar untuk perendaman, perebusan, dan pencelupan kulit.
Selama berbulan-bulan tugas ini membuat badannya tak pernah kering.
Sore hari pakaiannya selalu kuyup dan ia terpaksa tidur dengan kulit dingin dan membengkak seperti rendaman kulit antelop.
Setelah setahun hidup seperti binatang, ia terjangkit anthrax ‐ penyakit yang paling ditakuti penyamak dan biasanya fatal.
Grimal langsung memecat dan celingukan
mencari penggantinya, walau diiringi sesal karena belum pernah ia menemui pekerja sepatuh dan seproduktif Grenouille. Di luar dugaan, Grenouille ternyata mampu bertahan dan sembuh. Yang tinggal hanya parut kehitaman dari radang kulit di belakang telinga, di kedua tangan, dan pipi.
Membuat wajahnya cacat dan lebih jelek daripada sebelumnya. Tapi ini juga membuat ia kebal terhadap anthrax.
Kini ia mampu menguliti kulit paling bau dengan tangan tersayat dan berdarah sekalipun tanpa khawatir terinfeksi lagi. Ini membuatnya mencuat tak hanya melebihi para pekerja magang dan pekerja senior, tapi juga dari para calon penggantinya.
Dan karena ia tak bisa lagi digantikan dengan mudah, nilai kerja dan nilai hidupnya meningkat. Mendadak ia tak boleh lagi tidur di lantai dan diizinkan membuat sendiri ranjang papan (kendati masih di lemari yang sama), diberi jerami sebagai kasur dan selimut sendiri.
Pintu lemari tak pernah dikunci lagi saat ia
tidur. Makanan juga lebih memadai. Grimal tak lagi memeliharanya sebagai binatang biasa, tapi sebagai peliharaan yang berguna.
Di usia dua belas tahun, Grimal memberi istirahat setengah hari setiap minggu, dan di usia tiga belas bahkan mengizinkan Grenouille keluar jalan-jalan setiap minggu
sore selama satu jam setelah jam kerja.
Selama satu jam itu ia bebas melakukan apa saja. Grenouille memenangkan taruhannya sendiri dengan tetap hidup dan menggenggam secuil kebebasan yang lebih dari cukup untuk bernapas.
Hibernasi sudah berakhir. Kini saatnya Grenouille sang kutu pohon menggeliat. Aroma fajar dihirup kuat-kuat. Ia ingin sekali berburu aroma lagi. Cagar aroma terbesar di dunia kini terbentang di depan mata: kota Paris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar