Senin, 02 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 6

ENAM


SEJAK PERTAMA KALI menatap Monsieur Grimal - tidak, tepatnya  sejak  endusan  pertama  atas  bau  yang menyelimuti  lelaki  itu,  Grenouille  langsung  tahu  bahwa orang  ini  tega  menyiksanya  sampai  mati  untuk  kesalahan kecil sekalipun. 

Hidupnya bergantung pada berapa banyak 
pekerjaan yang bisa ditangani dan seberapa bergunanya ia di mata Grimal. Grenouille tak melihat pilihan selain patuh. 

Menurut dan tak mencoba melawan sama sekali. Hari demi hari  ia  memendam  seluruh  energi  pemberontakan  dan pertentangan,  mengubahnya  menjadi  keinginan  tunggal 
untuk bertahan hidup ala kutu pohon.Ia bekerja keras, tak mengeluh dan tak mencolok.  

Harapan  hidup  dipelihara dengan kobaran sangat kecil tapi tetap menyala. Ia menjadi 
teladan kepatuhan, kesederhanaan, dan ketekunan bekerja. 

Mematuhi segala perintah tanpa bertanya dan tampak puas menerima makanan apa pun yang disodorkan. 

Sore hari ia membiarkan  diri  dikunci  di  lemari  di  samping lantai penyamakan tempat  menyimpan peralatan  dan menggantung  kulit  kasar  yang  baru  saja  digarami. Di  sana ia  tidur  beralas  tanah  yang  keras dan  dingin. 

Siang  hari ia bekerja  sampai matahari  terbenam - empat jam  di musim dingin, empat  belas,  lima  belas,  dan  enam  belas  jam  di 
musim  panas.  

Tugasnya mengoreki daging dari kulit binatang, membasahinya, mencabuti  bulunya, mengapur, merendamnya dengan cairan kimia, melebarkan, menggosoknya dengan kotoran  binatang, membelah kayu bakar, mencabuti ranting dari pepohonan, turun ke sumur penyamakan berisi uap kimia yang  membakar kulit, melapis kulit yang masih mentah dan yang sudah jadi sesuai instruksi pekerja senior,  memelarkannya  dengan 
remukan gallnut, lalu menutup lubang pembakaran dengan ranting dan tanah untuk proses mumifikasi kulit. 

Bertahun-tahun kemudian ia harus menggali lagi lubang tersebut dan mengangkat kulit yang kini sudah sempurna tersamak. 

Jika  tidak  sedang  mengubur  atau  menggali  samakan kulit,  ia  ditugasi  membawa  air. Selama  berbulan-bulan  ia membawa  air  dari  sungai  dengan  dua  ember.  Jumlahnya bisa  ratusan  ember  dalam  sehari  karena  penyamakan membutuhkan air dalam jumlah  besar untuk perendaman, perebusan,  dan  pencelupan  kulit.  

Selama berbulan-bulan tugas ini membuat  badannya tak pernah kering. 

Sore hari pakaiannya selalu kuyup dan ia terpaksa tidur dengan kulit dingin dan membengkak seperti rendaman kulit antelop. 

Setelah  setahun  hidup  seperti  binatang,  ia  terjangkit anthrax  ‐  penyakit  yang  paling  ditakuti  penyamak  dan biasanya  fatal. 

Grimal  langsung  memecat  dan  celingukan 
mencari  penggantinya,  walau  diiringi  sesal  karena  belum pernah  ia  menemui  pekerja  sepatuh  dan  seproduktif Grenouille.  Di  luar  dugaan,  Grenouille  ternyata  mampu bertahan dan sembuh. Yang tinggal hanya parut kehitaman dari radang kulit di belakang telinga, di kedua  tangan, dan pipi.  

Membuat  wajahnya  cacat  dan  lebih  jelek  daripada sebelumnya.  Tapi  ini  juga membuat  ia  kebal  terhadap anthrax.  

Kini ia mampu menguliti  kulit  paling  bau  dengan tangan  tersayat  dan  berdarah  sekalipun  tanpa  khawatir terinfeksi  lagi.  Ini  membuatnya  mencuat  tak  hanya melebihi para pekerja magang dan pekerja senior, tapi juga dari  para  calon  penggantinya.  

Dan  karena  ia  tak  bisa  lagi digantikan  dengan  mudah,  nilai  kerja  dan  nilai hidupnya meningkat.  Mendadak  ia  tak  boleh  lagi  tidur  di  lantai  dan diizinkan  membuat  sendiri  ranjang  papan  (kendati  masih di  lemari  yang  sama),  diberi  jerami  sebagai  kasur  dan selimut sendiri. 

Pintu lemari tak pernah dikunci lagi saat ia 
tidur.  Makanan  juga  lebih  memadai.  Grimal  tak  lagi memeliharanya  sebagai  binatang  biasa,  tapi  sebagai peliharaan yang berguna. 

Di  usia  dua  belas  tahun,  Grimal  memberi  istirahat setengah hari setiap minggu, dan di usia  tiga belas bahkan mengizinkan Grenouille  keluar  jalan-jalan  setiap  minggu 
sore selama satu jam setelah jam kerja. 

Selama satu jam itu ia bebas melakukan apa  saja. Grenouille memenangkan taruhannya sendiri dengan tetap hidup dan menggenggam secuil kebebasan yang lebih  dari cukup untuk bernapas. 

Hibernasi  sudah  berakhir.  Kini  saatnya  Grenouille  sang kutu  pohon  menggeliat.  Aroma  fajar  dihirup  kuat-kuat.  Ia ingin sekali  berburu  aroma  lagi.  Cagar  aroma  terbesar  di dunia kini terbentang di depan mata: kota Paris.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...