BAGIAN II
Di belakang meja kasir dari kayu boxwood ringan, berdiri sang Baldini - setua dan sekaku pilar, mengenakan wig berpupur perak dan mantel biru berhias bros katak-katak kecil dari emas.
Harum bunga kemboja yang ia semprotkan setiap pagi membungkusnya seperti kabut, nyaris terlihat saking tebalnya dan membuat si pemakainya sedikit kabur dari pandangan.
Sedemikian kakunya ia sampai seolah
menjadi bagian dari barang jualannya sendiri. Hanya apabila bel berdering dan kedua bangau memercik parfum - itu pun agak jarang terjadi, ia mendadak “hidup”.
Tubuhnya membungkuk dan mengecil sedemikian rupa, Ialu bergegas keluar dari balik meja kasir begitu cepatnya sampai kabut parfum kemboja tak sempat mengikuti.
Segera ia menyambut serta memersilakan duduk si pelanggan sementar ia memeragakan dagangan parfum dan kosmetiknya yang terbaik.
Koleksi parfum serta kosmetik dagangan Baldini jumlahnya ribuan. Stoknya bervariasi, mulai dari essences absolues - wewangian utama dari minyak bunga, larutan alkohol, ekstrak, sari pati, balsam, getah, dan bermacam obat dalam wujud kering, cair, atau lilin. Ia juga menjual bermacam minyak rambut, pasta, bedak, sabun, krim, bedak wangi, bandolin, sampo, lilin pengeras kumis, obat kutil, dan alat-alat kecantikan mulai dari minyak mandi, losion, garam pewangi, perlengkapan kamar mandi, dan
rupa-rupa parfum yang tak terhitung banyaknya.
Namun Baldini belum puas dengan produk-produk kecantikan klasik ini. Ia berambisi mengumpulkan semua benda beraroma atau apa pun yang memiliki kontribusi dalam
pembuatan parfum. Jadi, selain pastiles pelega tenggorokan, lilin dan tali dupa, ia juga menyediakan bermacam rempah mulai dari biji minyak adas manis sampai kayu manis,
sirup, bermacam minuman anggur dan brendi perasan buah, minuman anggur dari Cyprus, Malaga, dan Corinth, madu, kopi, teh, permen, dan buah kering, daun ara,
kembang gula. atau manisan, cokelat, kastanye, bahkan caper kering, mentimun, bawang, serta ikan tuna yang diasinkan.
Masih ditambah dengan filin penyegel parfum, alat tulis-menulis, tinta khusus untuk menulis surat cinta beraroma bunga mawar, perangkat menulis dengan tas
kulit Spanyol, penyangga pena dari kayu cendana putih, peti jenazah dan peti-peti biasa dari kayu cedar, pot air dan mangkuk berdekorasi mekaran bunga, kendi dupa dari kuningan, flacon kristal dan kendi-kendi bertutup gading, sarung tangan beraroma, sapu tangan, bantal alas menjahit berisi bunga pala, serta kertas dinding beraroma kesturi yang mampu menghiasi kamar selama lebih dari seratus tahun.
Tentu saja toko Baldini tidak cukup besar untuk menampung semua barang tersebut. Ruangan toko memang apik, namun kecil dan menghadap ke arah jalan (atau ke arah jembatan). Jadi, untuk gudang ia tak hanya
menggunakan ruangan bawah tanah, tapi juga seluruh lantai dua dan lantai tiga serta nyaris seluruh ruangan yang menghadap ke sungai di lantai dasar.
Bisa dibayangkan betapa kacaunya aroma yang menaungi Rumah Keluarga Baldini. Betapa pun elok kualitas tiap-tiap barang tersebut (karena Baldini hanya mau membeli barang kualitas terbaik), paduan aromanya nyaris tak tertahankan.
Ibarat sebuah orkestra beranggotakan ribuan musisi dan masing-masing memainkan melodi berbeda sekencang dan sesuka hati. Baldini dan para asistennya sudah terbiasa dengan
kekacauan ini - persis seperti konduktor-konduktor orkestra berusia senja (yang kemampuan mendengarnya sudah pasti menurun).
Begitu pun Nyonya Baldini yang tinggal di lantai empat dan selalu menentang penumpukan barang lebih jauh, nyaris tak terganggu lagi oleh kekacauan aroma tersebut.
Tapi tidak demikian bagi para pelanggan
Baldini yang baru pertama kali memasuki toko. Neraka aroma yang menghantam indra penciuman terasa bagai hantaman tinju tepat di wajah. Tergantung kekuatan
masing-masing, yang bersangkutan bisa seketika itu pusing atau malah segar.
Apa pun itu, yang jelas tetap membuat
indra penciuman si pelanggan sedemikian linglung sampai tak ingat lagi tujuannya datang ke toko. Tak sedikit bocah-bocah kurir yang lupa pesanan, pendekar pedang nan sangar mendadak muntah-muntah, dan wanita ningrat yang mual-mual, setengah histeris, setengah klaustrofobia - ketakutan berada di ruang sempit, lantas pingsan dan hanya bisa dibangunkan oleh olesan minyak beraroma paling tajam dari minyak cengkeh, amonia, dan getah camphor.
Dengan keadaan seperti itu, sungguh tidak
mengherankan bila denting bel Persia dan percik parfum dari paruh patung bangau di pintu toko Giuseppe Baldini makin lama makin jarang terdengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar