EMPAT PULUH
BULAN MEI TAHUN ITU, tubuh telanjang seorang gadis lima belas tahun ditemukan di sebuah padang mawar, separo jalan antara Grasse dan dusun Opie di sebelah
timur. Ia dibunuh dengan pukulan keras di belakang kepala.
Petani yang menemukan begitu kaget melihat pemandangan ini sampai nyaris dituduh sebagai pelaku. Waktu ditanya polisi lidahnya terselip, mengatakan bahwa ia tak pemah melihat hal yang begitu indah, padahal ia ingin berkata sebaliknya bahwa ia tak pernah melihat hal sekeji itu.
Si gadis memang sangat cantik. Sosoknya termasuk jajaran wanita‐wanita rapuh terbuat dari madu gelap yang mulus, manis dan sangat lengket. Biasa mengendalikan suhu ruangan dengan tingkah laku berlebihan, seperti mengibas rambut dan mengerlingkan mata sambil berdiri tegak di tengah ruangan laksana pusat badai, seolah tak menyadari daya tariknya terhadap orang lain.
Menumbuhkan hasrat pada lelaki dan kecemburuan pada wanita. Apalagi ia masih sangat muda, sehingga gelombang daya tariknya belum terlalu kental. Kedua kaki dan tangan masih mulus dan utuh, buah dada ranum dan puting sekeras telur rebus.
Bentangan wajahnya dihiasi rambut hitam panjang, sarat kontur kelembutan dan lekak-lekuk indah. Namun justru rambut itu yang hilang. Si pembunuh memotong dan memboyong rambut si gadis bersama pakaiannya.
Orang-orang langsung mencurigai kaum gipsi. Konon mereka tega melakukan apa saja. Gipsi terkenal suka menggelar karpet dari tenunan pakaian, mengisi bantal dengan rambut manusia, membuat boneka dari kulit dan gigi korban hukum gantung. Hanya gipsi yang terampil melakukan kejahatan keji. Sayangnya, tidak ada gipsi di sekitar situ waktu kejadian. Tidak dekat maupun jauh.
Rombongan terakhir melewati daerah itu bulan Desember lalu. Karena tak ada gipsi, orang lalu memutar tudingan kepada para pekerja migran keturunan Italia. Tapi mereka juga tak ada saat ini. Terlalu awal buat mereka untuk datang. Biasanya mereka baru muncul sekitar bulan Juni, saat panen bunga melati.
Akhirnya, kecurigaan jatuh pada para pembuat rambut palsu. Mereka langsung digeledah kalau‐kalau menyimpan rambut si gadis. Tentu saja tak ada hasil. Lantas kaum Yahudi dapat giliran dituduh, selanjutnya para pendeta biara Benedictine yang konon
terkenal bejat, walau semuanya sudah berusia di atas tujuh puluh tahun. Berikutnya para penganut Cistercian, para Freemason, lalu orang-orang gila dari Rumah Sakit de la
Charité berikutnya tukang bakar arang, para pengemis, dan terakhir para bangsawan juga kena tuduhan, khususnya Marquis de Cabris karena dikenal sudah tiga kali menikah dan konon sering menggelar misa hitam pesta seks di gudang loteng di mana ia meminum darah perawan untuk memperkuat kejantanan.
Semua tuduhan ini tentu saja tidak berdasar dan tak bisa dibuktikan. Tak ada yang menyaksikan pembunuhan itu. Pakaian dan rambut si korban juga tak ditemukan di mana pun. Setelah beberapa minggu, letnan polisi yang ditugasi mengusut menangguhkan penyelidikan.
Pada pertengahan bulan Juni, para pekerja migran Italia datang. Banyak yang hadir bersama keluarga dan menyewakan diri sebagai buruh pemetik bunga. Para petani mempekerjakan mereka seperti biasa. Tapi karena peristiwa pernbunuhan itu masih membayang, mereka melarang keras istri dan anak-anak mereka berhubungan dengan para pekerja itu. Tak ada salahnya berhati-hati, begitu kata mereka.
Walau tidak bertanggung jawab langsung atas pembunuhan, bisa saja..mereka ikut anda di situ, jadi lebih baik berjaga-jaga.
Tak lama setelah awal musim panen melati, terjadi dua pembunuhan beruntun. Korban lagi-lagi gadis muda nan cantik dari jenis rapuh seperti yang pertama; berambut hitam, lagi-lagi ditemukan telanjang, rambut dipotong dan terbaring di padang bunga dengan belakang kepala remuk.
Jejak pelaku juga tak ada. Kabar segera menyebar seperti kebakaran, diimbuhi adanya ancaman tindakan kekerasan
terhadap buruh migran karena kedua korban ternyata keturunan Italia, putri seorang buruh harian dari Genoese.
Ketakutan menghunjam seisi kota dan daerah sekitamya. Orang tak tahu pada siapa harus melampiaskan kemarahan.
Walau masih ada yang mencurigai orang gila atau sang Marquis nan nyentrik, namun tak ada yang benar-benar yakin karena yang pertama selalu dijaga pengawal siang malam, dan yang kedua sudah lama pergi ke Paris.
Masyarakat kota Grasse merapatkan barisan. Para petani bersedia membuka gudang-gudang mereka untuk ditinggali para migran yang selama ini selalu tidur di luar. Warga
menyusun jadwal ronda di setiap blok. Pihak kepolisian memperketat penjagaan di gerbang kota.
Namun semua usaha ini sia-sia karena beberapa hari setelah pembunuhan ganda itu muncul lagi mayat gadis keempat. Lagi-lagi
dengan karakteristik serupa. Korban kali ini seorang buruh pencuci pakaian keturunan Sardinia dari istana uskup agung.
Ia dibunuh dekat cekungan raksasa Fontaine de la Foux, persis di depan gerbang kota. Dan meski warga berhasil mendesak dewan kota untuk melakukan
penanganan lebih jauh seperti kendali pengawasan yang lebih ketat di gerbang kota, tambahan peserta ronda, dan penetapan jam malam untuk semua wanita sejak jam tujuh malam, sepanjang musim panas itu setiap minggu selalu jatuh korban wanita muda.
Selalu gadis yang belum lama puber, sangat cantik, dan biasanya berkulit gelap - tipe manis. Tak lama berselang, si pembunuh tak lagi menolak tipe yang lebih umum, dengan rata-rata karakteristik berkulit halus, pucat, dan lebih montok. Bahkan mulai merambat ke gadis berambut cokelat dan pirang kusam, asal tidak terlalu kurus.
Ia melacak korban di mana saja. Tak hanya di dusun-dusun terbuka di sekitar Grasse, tapi juga di dalam kota. Putri seorang tukang kayu ditemukan tewas di kamarnya sendiri di lantai lima.
Tak ada yang mengaku mendengar suara aneh. Dan kalau biasanya anjing-anjing menyalak setiap mencium aroma asing, kali
ini mereka diam saja. Makin menumbuhkan kesan bahwa si pembunuh tak tersentuh dan tidak nyata. Seperti hantu.
Warga jelas marah dan memaki aparat yang dianggap tak becus menangani situasi. Gosip sedikit saja sudah mampu memicu tawuran. Seorang pedagang keliling yang
menjual ramuan pelet dan obat ajaib lain nyaris dibantai massa hanya gara-gara gosip bahwa salah satu bahan dalam ramuan obatnya menggunakan rambut wanita.
Kebakaran terjadi di rumah hartawan Cabris dan Rumah Sakit de la Charité. Seorang pelayan yang pulang kemalaman ditembak oleh majikannya sendiri; seorang
penenun wol bernama. Alexandre Misnard yang menyangka si pelayan sebagai si pembunuh.
Mereka yang mampu segera mengirim putri remaja mereka ke saudara jauh atau sekolah asrama di Nice, Aix, atau Marseille.
Letnan polisi yang bertanggung jawab dicopot dari jabatannya atas desakan dewan kota. Penggantinya menugaskan ahli medis untuk memeriksa tubuh korban guna menentukan kondisi keperawanan. Hasilnya
menunjukkan bahwa semua organ seksual masih utuh dan tampaknya bahkan sama sekali tak disentuh.
Anehnya, penemuan ini justru menambah kesan seram karena semua orang menduga pasti ada tanda-tanda perkosaan.
Setidaknya dengan demikian orang tahu
kemungkinan motif pembunuhan tersebut. Tapi sekarang mereka seperti dibutakan dan benar-benar bingung.
Mereka yang percaya Tuhan segera memohon perlindungan agar dalam rumahnya terlindung dari bencana.
Dewan kota Grasse adalah sebuah komite yang terdiri atas tiga puluh orang terkaya dan paling berpengaruh dari kalangan umum serta ningrat. Mayoritas berpendidikan tinggi, tak percaya takhayul, tak suka ke gereja, dan kalau boleh lebih suka menggusur saja semua biara yang ada di kota lalu mengubahnya menjadi gudang atau pabrik.
Namun dalam kegentingan ini, orang-orang angkuh dan berkuasa itu bersedia merendahkan diri menulis petisi permohonan pada uskup untuk mengutuk monster sadis yang tak bisa ditangkap oleh kekuatan fana ini, persis seperti tindakan pendahulu mereka pada tahun 1708.
Mereka juga memohon agar si pembunuh dikucilkan dari semua kegiatan sosial. Implementasinya, mulai akhir bulan September, pembunuh sadis yang telah membunuh tak kurang dari 24 gadis tercantik dari semua kalangan itu dilaknat dan dikucilkan dari semua kegiatan sosial, baik secara tertulis apalagi sampai disebut di mimbar‐mimbar umum dan gereja diseluruh kota - termasuk larangan sang uskup sendiri untuk membicarakan hal itu di mimbar
katedral Norre‐Dame-du-Puy.
Hasilnya cukup nyata. Si pembunuh seolah lenyap dari muka bumi. Oktober dan November berlalu tanpa berita penemuan mayat baru. Memasuki awal Desember, ada
berita dari Grenoble tentang seorang pembunuh yang suka mencekik gadis-gadis muda, lalu merobek pakaian dan menarik rambut mereka sampai lepas dengan tangan.
Walau metode ini terdengar kasar dan tidak sebersih pembunuh Grasse, semua orang yakin bahwa pelakunya pasti sama. Ada kelegaan bahwa binatang itu telah hijrah ke Grenoble yang jauhnya tujuh hari perjalanan.
Warga Grasse menyilangkan tanda salib tiga kali berturut-turut tanda syukur. Lalu mereka merayakan sebuah prosesi obor untuk
menghormati sang uskup, sekalian merayakan thanks givingtanggal 24 Desember.
Pada tanggal 1 januari 1766, penjagaan dikendurkan dan peraturan jam malam untuk wanita tidak diberlakukan lagi. Kondisi normal kembali mengisi kehidupan dengan cepat. Ketakutan publik menipis dan tak ada lagi yang membicarakan teror ganas yang
pernah mendera dua kota serta permukiman sekitar beberapa bulan berselang.
Keluarga korban pun sungkan banyak bicara. Kutukan sang uskup seolah tak hanya ampuh mengusir si pembunuh tapi juga kenangan tentang dirinya. Warga sama sekali tak keberatan.
Namun, sejak peristiwa menghebohkan ini sampai sekarang di kota itu, mereka yang memiliki putri remaja tak akan membebaskan mereka bergaul atau keluyuran begitu saja tanpa pengawasan, apalagi menjelang malam.
Setiap pagi saat ayah atau ibu melihat putrinya masih sehat dan ceria, hatinya merasa bahagia tanpa mau mengakui kenapa
begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar