Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 40

EMPAT PULUH


BULAN MEI  TAHUN  ITU,  tubuh  telanjang  seorang gadis lima  belas  tahun  ditemukan  di  sebuah  padang  mawar, separo  jalan  antara  Grasse  dan  dusun  Opie  di  sebelah 
timur. Ia dibunuh dengan pukulan keras di belakang kepala. 

Petani  yang  menemukan  begitu  kaget  melihat pemandangan  ini  sampai  nyaris  dituduh  sebagai  pelaku. Waktu ditanya polisi lidahnya  terselip, mengatakan bahwa ia tak pemah melihat hal yang begitu indah, padahal ia ingin berkata sebaliknya bahwa ia  tak pernah melihat hal sekeji itu. 

Si  gadis  memang  sangat  cantik.  Sosoknya  termasuk jajaran wanita‐wanita rapuh  terbuat dari madu gelap yang mulus,  manis  dan  sangat  lengket.  Biasa  mengendalikan suhu  ruangan  dengan  tingkah  laku  berlebihan,  seperti mengibas  rambut  dan  mengerlingkan  mata  sambil  berdiri tegak  di  tengah ruangan  laksana  pusat  badai,  seolah  tak menyadari  daya  tariknya  terhadap  orang  lain. 

Menumbuhkan  hasrat  pada  lelaki  dan  kecemburuan  pada wanita. Apalagi ia masih sangat muda, sehingga gelombang daya  tariknya belum  terlalu kental. Kedua kaki dan  tangan masih  mulus  dan  utuh,  buah  dada  ranum  dan  puting sekeras  telur  rebus.  

Bentangan  wajahnya  dihiasi  rambut hitam  panjang,  sarat  kontur  kelembutan  dan  lekak-lekuk indah. Namun justru rambut itu yang hilang. Si pembunuh memotong  dan memboyong  rambut si  gadis  bersama    pakaiannya. 

Orang-orang  langsung  mencurigai  kaum  gipsi.  Konon mereka  tega  melakukan  apa  saja.  Gipsi  terkenal  suka menggelar  karpet  dari  tenunan  pakaian,  mengisi bantal dengan  rambut  manusia,  membuat  boneka  dari  kulit  dan gigi  korban  hukum  gantung.  Hanya  gipsi  yang  terampil melakukan  kejahatan  keji.  Sayangnya,  tidak  ada  gipsi  di sekitar  situ  waktu  kejadian.  Tidak  dekat  maupun  jauh. 

Rombongan  terakhir melewati daerah itu bulan Desember lalu. Karena  tak  ada  gipsi,  orang  lalu  memutar  tudingan kepada para pekerja migran keturunan  Italia. Tapi mereka juga  tak  ada  saat  ini.  Terlalu  awal  buat  mereka  untuk datang.  Biasanya  mereka  baru muncul  sekitar  bulan  Juni, saat  panen  bunga melati. 

Akhirnya,  kecurigaan jatuh  pada para  pembuat  rambut  palsu.  Mereka  langsung  digeledah kalau‐kalau menyimpan rambut si gadis. Tentu saja tak ada hasil.  Lantas  kaum  Yahudi  dapat  giliran  dituduh, selanjutnya  para  pendeta  biara  Benedictine  yang  konon 
terkenal bejat, walau semuanya sudah berusia di atas tujuh puluh  tahun.  Berikutnya  para  penganut  Cistercian,  para Freemason,  lalu  orang-orang  gila  dari  Rumah  Sakit  de  la 
Charité berikutnya tukang bakar arang, para pengemis, dan terakhir  para  bangsawan  juga  kena  tuduhan,  khususnya Marquis de Cabris  karena dikenal  sudah  tiga  kali menikah dan  konon  sering  menggelar  misa  hitam  pesta  seks  di gudang loteng di mana ia meminum darah perawan untuk memperkuat kejantanan.  

Semua  tuduhan  ini  tentu  saja tidak  berdasar  dan  tak  bisa  dibuktikan. Tak  ada  yang menyaksikan  pembunuhan itu. Pakaian  dan rambut si korban juga tak ditemukan di mana pun. Setelah beberapa minggu, letnan  polisi  yang ditugasi mengusut menangguhkan penyelidikan. 

Pada pertengahan bulan Juni, para pekerja migran Italia datang.  Banyak  yang  hadir  bersama  keluarga  dan menyewakan  diri  sebagai  buruh  pemetik  bunga.  Para petani  mempekerjakan  mereka  seperti  biasa.  Tapi  karena peristiwa  pernbunuhan  itu  masih  membayang,  mereka melarang  keras  istri  dan  anak-anak  mereka  berhubungan dengan  para  pekerja  itu.  Tak  ada  salahnya  berhati-hati, begitu  kata  mereka.  

Walau  tidak  bertanggung  jawab langsung atas  pembunuhan,  bisa  saja..mereka ikut anda  di situ, jadi lebih baik berjaga-jaga.

Tak lama  setelah awal musim panen melati,  terjadi  dua pembunuhan  beruntun.  Korban  lagi-lagi  gadis  muda  nan cantik  dari  jenis  rapuh  seperti  yang  pertama;  berambut hitam, lagi-lagi  ditemukan telanjang,  rambut  dipotong  dan terbaring di padang bunga dengan belakang kepala remuk. 

Jejak  pelaku  juga  tak  ada.  Kabar  segera  menyebar  seperti kebakaran,  diimbuhi adanya  ancaman  tindakan  kekerasan 
terhadap  buruh  migran  karena  kedua  korban  ternyata keturunan Italia, putri seorang buruh harian dari Genoese. 

Ketakutan menghunjam seisi kota dan daerah sekitamya. Orang tak tahu pada siapa harus melampiaskan kemarahan. 

Walau  masih  ada  yang  mencurigai  orang  gila  atau  sang Marquis  nan  nyentrik,  namun  tak  ada  yang  benar-benar yakin  karena yang  pertama  selalu  dijaga  pengawal  siang malam, dan yang kedua sudah lama pergi ke Paris.

Masyarakat kota Grasse merapatkan barisan. Para petani bersedia membuka gudang-gudang mereka untuk ditinggali para  migran  yang  selama  ini  selalu  tidur  di  luar.  Warga 
menyusun  jadwal  ronda  di  setiap  blok.  Pihak  kepolisian memperketat  penjagaan  di  gerbang  kota.  

Namun  semua usaha ini sia-sia karena beberapa hari setelah pembunuhan ganda  itu  muncul  lagi  mayat  gadis  keempat.  Lagi-lagi 
dengan karakteristik serupa. Korban kali ini seorang buruh pencuci  pakaian  keturunan  Sardinia  dari  istana  uskup agung.  

Ia  dibunuh  dekat  cekungan  raksasa  Fontaine  de  la Foux,  persis  di  depan gerbang  kota.  Dan  meski  warga berhasil  mendesak  dewan  kota  untuk  melakukan 
penanganan  lebih  jauh  seperti  kendali  pengawasan  yang lebih  ketat  di  gerbang  kota,  tambahan  peserta  ronda,  dan penetapan jam malam untuk semua wanita sejak jam tujuh malam,  sepanjang  musim  panas  itu  setiap  minggu  selalu jatuh  korban  wanita  muda.  

Selalu  gadis  yang  belum  lama puber,  sangat  cantik,  dan  biasanya  berkulit  gelap  - tipe manis.  Tak lama  berselang,  si pembunuh  tak lagi menolak tipe  yang  lebih  umum,  dengan  rata-rata  karakteristik berkulit  halus,  pucat,  dan  lebih  montok.  Bahkan  mulai merambat  ke  gadis  berambut  cokelat  dan  pirang  kusam, asal  tidak  terlalu  kurus.  

Ia  melacak  korban  di  mana  saja. Tak  hanya  di  dusun-dusun  terbuka  di  sekitar  Grasse,  tapi juga  di  dalam  kota.  Putri  seorang  tukang  kayu  ditemukan tewas  di  kamarnya  sendiri  di  lantai  lima.  

Tak  ada  yang mengaku  mendengar  suara  aneh.  Dan  kalau  biasanya anjing-anjing  menyalak  setiap  mencium  aroma  asing,  kali 
ini mereka diam saja. Makin menumbuhkan  kesan bahwa si pembunuh tak tersentuh dan tidak nyata. Seperti hantu. 

Warga  jelas  marah  dan  memaki  aparat yang  dianggap tak  becus  menangani situasi.  Gosip  sedikit  saja  sudah mampu  memicu  tawuran.  Seorang  pedagang  keliling  yang 
menjual  ramuan  pelet  dan  obat  ajaib  lain  nyaris  dibantai massa  hanya  gara-gara  gosip  bahwa  salah  satu  bahan dalam  ramuan  obatnya  menggunakan  rambut  wanita. 

Kebakaran  terjadi  di  rumah  hartawan  Cabris  dan  Rumah Sakit  de  la  Charité.  Seorang  pelayan  yang  pulang kemalaman  ditembak  oleh  majikannya  sendiri;  seorang 
penenun  wol  bernama.  Alexandre  Misnard  yang menyangka  si  pelayan  sebagai  si  pembunuh. 

Mereka  yang mampu  segera  mengirim  putri  remaja  mereka  ke  saudara jauh  atau  sekolah  asrama  di  Nice,  Aix,  atau Marseille. 

Letnan  polisi  yang  bertanggung  jawab  dicopot  dari jabatannya  atas  desakan  dewan  kota.  Penggantinya menugaskan  ahli  medis  untuk  memeriksa  tubuh  korban guna  menentukan  kondisi  keperawanan.  Hasilnya 
menunjukkan bahwa semua organ seksual masih utuh dan tampaknya bahkan sama sekali tak disentuh.

Anehnya,  penemuan  ini  justru  menambah  kesan  seram karena  semua  orang  menduga  pasti  ada  tanda-tanda perkosaan.  

Setidaknya  dengan  demikian  orang  tahu 
kemungkinan  motif  pembunuhan  tersebut.  Tapi  sekarang mereka  seperti  dibutakan  dan  benar-benar  bingung. 

Mereka  yang  percaya  Tuhan  segera  memohon perlindungan agar  dalam rumahnya  terlindung  dari bencana. 

Dewan  kota  Grasse  adalah  sebuah  komite  yang  terdiri atas tiga puluh orang terkaya dan paling berpengaruh dari kalangan  umum  serta  ningrat. Mayoritas  berpendidikan tinggi,  tak  percaya  takhayul,  tak  suka  ke  gereja,  dan  kalau boleh lebih  suka menggusur  saja  semua  biara  yang  ada  di kota  lalu  mengubahnya  menjadi  gudang  atau  pabrik. 

Namun  dalam  kegentingan  ini,  orang-orang  angkuh  dan berkuasa  itu  bersedia  merendahkan  diri menulis  petisi permohonan  pada  uskup  untuk  mengutuk  monster sadis yang  tak  bisa  ditangkap  oleh kekuatan  fana  ini,  persis seperti  tindakan  pendahulu  mereka  pada  tahun  1708. 

Mereka juga memohon agar si pembunuh  dikucilkan dari semua kegiatan sosial. Implementasinya, mulai akhir bulan September, pembunuh  sadis  yang  telah  membunuh tak kurang  dari  24  gadis  tercantik  dari semua  kalangan  itu dilaknat  dan  dikucilkan  dari  semua  kegiatan  sosial,  baik secara  tertulis  apalagi  sampai  disebut  di  mimbar‐mimbar umum dan gereja diseluruh kota - termasuk larangan sang uskup  sendiri  untuk  membicarakan  hal  itu  di  mimbar 
katedral Norre‐Dame-du-Puy. 

Hasilnya  cukup  nyata.  Si  pembunuh  seolah  lenyap  dari muka  bumi.  Oktober  dan  November  berlalu  tanpa  berita penemuan  mayat  baru.  Memasuki  awal  Desember,  ada 
berita dari Grenoble tentang seorang pembunuh yang suka mencekik  gadis-gadis  muda,  lalu  merobek  pakaian  dan menarik  rambut  mereka  sampai  lepas  dengan  tangan.

Walau  metode ini  terdengar kasar dan  tidak  sebersih pembunuh Grasse, semua orang  yakin bahwa  pelakunya pasti sama. Ada kelegaan bahwa binatang itu telah hijrah ke Grenoble yang jauhnya tujuh hari perjalanan. 

Warga Grasse menyilangkan  tanda  salib  tiga  kali  berturut-turut  tanda syukur. Lalu mereka merayakan sebuah prosesi obor untuk 
menghormati sang uskup, sekalian merayakan thanks givingtanggal  24  Desember.  

Pada  tanggal  1  januari  1766, penjagaan  dikendurkan  dan  peraturan  jam  malam  untuk wanita  tidak  diberlakukan  lagi. Kondisi  normal  kembali mengisi kehidupan dengan cepat. Ketakutan publik menipis dan  tak  ada  lagi  yang  membicarakan  teror  ganas  yang 
pernah  mendera  dua  kota  serta permukiman  sekitar beberapa  bulan berselang.  

Keluarga  korban  pun  sungkan banyak  bicara.  Kutukan  sang  uskup  seolah  tak  hanya ampuh mengusir si pembunuh  tapi juga  kenangan tentang dirinya. Warga sama sekali tak keberatan. 

Namun,  sejak  peristiwa  menghebohkan  ini  sampai sekarang di kota itu, mereka yang memiliki putri remaja tak akan membebaskan mereka  bergaul atau  keluyuran  begitu saja  tanpa  pengawasan,  apalagi  menjelang  malam.  

Setiap pagi  saat  ayah  atau  ibu  melihat  putrinya  masih  sehat  dan ceria, hatinya merasa bahagia tanpa mau mengakui kenapa 
begitu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...