TIGA PULUH SATU
HARI BERIKUTNYA, ketika sang Marquis hendak mengajari pose-pose dasar, sikap tubuh, dan langkah dansa yang dibutuhkan menjelang debut sosial Grenouille, si pemuda pura-pura lemas. Berlagak sangat kelelahan dan tercekik, lalu ambruk ke sofa.
Sang Marquis panik. Ia menjerit memanggil pelayan, memanggil tukang kipas dan operator ventilator portabel.
Sementara para pelayan berkelebat, ia berlutut di sisi Grenouille, mengipasi dengan sapu tangan beraroma violet, lalu memohon - benar-benar memohon - agar Grenouille
bangun dan jangan mati dulu sampai lusa demi kelangsungan teori fluidum letale.
Grenouille menggeliat, batuk-batuk dan mengeluh. Menepis sapu tangan kuat-kuat dan setelah “jatuh” dari sofa dengan gaya dramatis, merayap ke sudut ruangan.
“Jangan parfum itu lagi!” jeritnya lemah.
“Jangan parfum yang itu! Aku bisa mati!”
Taillade-Espinasse segera membuang sapu tangan dan botol parfumnya sekalian keluar jendela. Baru setelah itu Grenouille mau berlagak sembuh. Lalu, dengan suara makin tenang ia menjelaskan bahwa sebagai seorang ahli parfum ia punya hidung sensitif
dan selalu bereaksi terhadap parfum tertentu, apalagi selama periode penyembuhan ini.
Soal kenapa aroma violet bisa sangat mengganggu dijelaskan karena parfum itu mengandung ekstrak akar bunga violet berkonsentrasi tinggi yang pasti berasal dari dalam tanah dan dengan sendirinya memberi efek buruk pada penderita fluidum
letale.
Kemarin saja, saat pertama kali mencium aroma itu, ia sudah merasa tak enak. Dan hari ini aroma itu seperti membawanya kembali ke ingatan mencekik dalam gua
selama. tujuh tahun. Ia sungguh tak tahan.
Kini setelah disembuhkan secara ajaib oleh sang Marquis, ia merasa lebih baik mati daripada terserang fluidum lagi. Mengingat
bahwa parfum itu diekstraksi dari akar saja sudah cukup membuat tubuhnya keram.
Grenouille meyakinkan bahwa ia pasti bisa langsung sembuh jika Marquis mengizinkan ia
membuat parfum sendiri. Parfum yang mampu mengenyahkan sisa‐sisa aroma violet. Parfum baru ini sangat ringan dan beraroma udara, terbuat dari bahan-bahan penyingkir elemen bumi seperti sari almond dan bunga pohon jeruk, minyak eukaliptus, pinus, dan cemara.
Jika dipercikkan sedikit pada pakaian, beberapa tetes di leher dan pipi, Grenouille pasti akan kebal selamanya dari serangan memalukan yang baru saja terjadi.
Grenouille mengutarakan semua ini dalam ledakan verbal yang tak jelas, diiringi batuk-batuk, napas tersengal dan kesulitan bernapas, plus aksentuasi tubuh menggigil,
berkedut-kedut dan mata yang diputar sedemikian rupa sampai tinggal putihnya saja yang kelihatan.
Sang Marquis sangat terkesan melihat semua ini. Meyakinkan sekali gejala dan penjelasan yang diberikan dengan teori fluidum letale. Betapa bodohnya ia sampai tidak menyadari soal parfum violet itu. jelas, memang sangat mengandung elemen bumi. Dia sendiri pasti akan terinfeksi kalau memakainya bertahun-tahun.
Sungguh di luar dugaan bahwa hari demi hari ia digiring menuju kematian hanya
gara-gara parfum! Lihat saja gejalanya: encok, leher kaku, impotensi, sembelit, tekanan pada telinga, gigi busuk - tak
diragukan lagi bahwa semua bersumber dari racun fluidumdi parfum bunga violet itu.
Dan si bodoh ini, si bongkok buruk rupa di sudut ruangan ini, telah menguak rahasia
tersebut. Marquis jadi terharu. Ingin rasanya menghambur, memeluk, dan mengangkat Grenouille penuh girang, tapi ia takut masih terlalu banyak mengandung aroma violet.
Kalau Grenouille sakit lagi bisa repot nanti. Jadilah ia menjerit memanggil pelayan dan memerintahkan agar semua parfum bunga violet disingkirkan, menganginkan seantero rumah, semua pakaian dicuci dari racun dengan ventilator, dan membawa Grenouille dengan tandu saat itu juga ke pembuat parfum terbaik di kota.
Memang ini tujuan Grenouille berpura-pura sakit. Ilmu pembuatan parfum terhitung tradisi lawas di Montpellier, dan walau kini kalah bersaing dengan. para ahli dari kota Grasse, masih ada beberapa ahli parfum dan
pembuat sarung tangan yang tinggal di kota itu.
Sosok paling bergengsi di bidang ini adalah Runel, yang telah lama berbisnis dengan dinasti Marquis de la Taillade-Espinasse
sebagai penyedia sabun, minyak, dan wewangian.
Runel menyatakan bersedia meminjamkan studionya selama satu jam pada si ahli parfum aneh dari Paris yang hadir bersama iringan pelayan serta tandu.
Grenouille tak mau diberi petunjuk. Ia bilang sudah cukup tahu apa yang harus dilakukan dan akan baik-baik saja. Lantas ia mengunci diri di laboratorium selama satu jam, sementara Runel menunggu bersama kepala rumah tangga keluarga sang Marquis sambil minum beberapa gelas anggur di kedai minum.
Di situ dengan masygul ia diberi tahu kenapa parfum violetnya tak lagi jadi parfum favorit. Laboratorium dan bengkel kerja Runel ternyata tidak selengkap milik Baldini.
Seorang ahli parfum biasa tak akan bisa berbuat banyak hanya dengan beberapa botol minyak bunga, kolonye, dan rempah‐rempah, tapi hidung Grenouille yakin bahwa bahan-bahan di tempat ini sudah cukup untuk mencapai tujuan. Toh ia tak ingin membuat
parfum hebat atau kolonye fantastis seperti yang ia buat untuk Baldini dulu - kolonye yang begitu terkenal dan berkualitas jauh di atas rata‐rata ciptaan ahli parfum lain.
Ia juga tak berniat membuat parfum jeruk seperti bualannya pada Marquis tadi. Bahan-bahan dasar seperti minyak neroli, eukaliptus, dan cemara akan dipakai Grenouille untuk menyamarkan aroma asli yang ingin dibuat, yaitu aroma manusia.
Ia ingin punya aroma seperti manusia normal lain - pun bila itu hanya buatan dan bersifat sementara. Grenouille mafhum bahwa setiap orang memiliki bau khasnya sendiri-sendiri. Fakta ini jelas bagi hidung Grenouille yang mampu mengenali ribuan aroma individual dan bisa menentukan perbedaannya pada setiap manusia sejak mereka lahir.
Kendati demikian, tetap ada tema dasar utama pada masing-masing aroma tersebut, dan kebetulan umumnya sederhana saja, seperti aroma keju masam atau keringat, misalnya.
Tema dasar nan kaya ini ada pada semua manusia dan menciptakan aura khas
individual berbentuk awan kecil.
Aura itulah yang menjadi aroma persona pada masing-masing orang. Sangat kompleks dan tak bisa dipersepsikan oleh kebanyakan orang. Manusia normal bahkan tak menyadari bahwa mereka memiliki hal seperti ini.
Aura yang tak bisa disamarkan atau ditutupi dengan pakaian atau kosmetik apa pun, bahkan parfum. Aroma dasar yang
merupakan emisi primordial ini secara naluriah dikenal dan menciptakan kedekatan antar individu. Membuat manusia merasa nyaman dan selalu ada dorongan naluri
untuk tinggal bersama manusia lain, merasa aman dan normal.
Pendek kata, aroma standar ini membuat seorang manusia bisa diterima oleh manusia lain. Parfum aneh inilah yang dibuat Grenouille pada hari itu.
Tidak seperti parfum atau wewangian, tapi seperti manusianormal yang memancarkan bau. Sulit didefinisikan atau dijelaskan, tapi begitulah adanya.
Kalau seseorang mengendus aroma ini di kegelapan dalam sebuah ruangan, ia bisa mengetahui bahwa ada manusia lain di ruangan itu.
Kalau parfum ini dipakai oleh manusia normal, ia akan memancarkan kesan seolah ada dua orang dalam satu tubuh katakanlah, makhluk aneh berpesona ganda.
Sulit dijelaskan atau dijabarkan dengan kata-kata karena secara visual (itu pun jika terlihat) akan tampak seperti bayangan kabur dan tak fokus, seperti sesuatu di dasar danau di bawah gelombang permukaan air.
Grenouille tahu bahwa bau manusia tak akan pernah bisa ditiru secara sempurna, tapi setidaknya yang ia buat cukuplah untuk mengelabui orang lain.
Ada sedikit kotoran kucing di balik ambang pintu yang mengarah ke halaman rumah dan tampaknya masih lumayan segar.
Grenouille mengambil setengah sendok teh
kotoran itu dan mencampurnya bersama beberapa tetes cuka apel dan garam halus dalam sebuah botol aduk. Di bawah meja ia menemukan secuil keju sisa makan siang Runel. Sudah agak lama, mulai membusuk dan berbau menyengat.
Bau amis ia ambil dari tutup kaleng sarden di belakang laboratorium, dicampur telur busuk dan minyak kastroli, amonia, pala, sisa-sisa bekas cukur pada silet pencukur, plus gosongan kulit babi yang ditumbuk halus.
Ia juga menambahkan minyak kesturi dalam jumlah besar, baru setelah itu diaduk dalam larutan alkohol, dibiarkan mengendap, lalu disaring ke botol kedua.
Aroma hasil endapannya sangat memuakkan. Berbau tengik seperti got, dan kalau disebar setitik saja ke udara, rasanya seperti berdiri di tengah-tengah Paris di terik musim panas, di sudut perempatan jalan Fers dan jalan Lingerie, muara tempat bertemunya seluruh aroma dari Les Halles, tanah
pekuburan Cimetière de Innocents dan perkampungan sekitar.
Di atas dasar aroma yang menjijikkan ini - yang baunya lebih menyerupai mayat busuk ketimbang manusia, Grenouille menggelar selapis aroma minyak segar dari permen, lavender, terpentin, limau, dan eukaliptus, yang lalu disamarkan dan dilemahkan secara simultan dengan wewangian dari minyak bunga seperti geranium, mawar,
jeruk, dan melati.
Setelah dilarutkan kedua kalinya dengan
alkohol dan sepercik cuka apel, aroma dasar yang busuk tadi hilang. Sebenarnya tidak hilang, tapi bersifat laten dan tersamar oleh ramuan segar di atasnya.
Aneh juga bahwa sama sekali tak ada bau busuk yang tertinggal. Parfum yang sudah jadi ini memancarkan aroma hidup yang sehat dan bersemangat.
Grenouille membuat dua flacon penuh, disumbat dan dimasukkan ke saku baju. Lalu ia mencuci semua botol, pengaduk, corong, dan sendok bekas pakai dengan air.
Dicuci hati-hati dan dibilas dengan minyak almond pahit untuk membuang semua bau bekas percobaan tadi.
Terakhir, ia mengambil sebuah botol aduk lagi dan membuat lagi parfum yang sama dengan cepat, sebagai salinan dari yang pertama. Sama-sama mengandung elemen segar dan bebungaan tapi tidak dibangun dari aroma dasar yang busuk tadi.
Kali ini ia memberi aroma dasar konvensional dari kesturi, ambergris, setitik minyak musang dan kayu cedar. Hasil akhirnya sangat berbeda dari yang pertama.
Lebih enak, lebih polos dan segar, karena tidak mengandung imitasi aroma manusia. Jika manusia normal memakai parfum kedua ini dan bercampur dengan aroma tubuhnya sendiri, hasilnya tak akan bisa dibedakan dengan parfum Grenouille yang pertama.
Parfum kedua juga dituang ke flacon. Lalu Grenouille membuka pakaian. Parfum pertama dipercikkan pertama kali ke pakaian, lalu ketiak, sela jempol kaki, daerah kelamin, dada, leher, belakang telinga, dan rambut.
Setelah itu ia mengenakan lagi pakaian dan meninggalkan laboratorium.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar