Jumat, 06 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 31

TIGA PULUH SATU


HARI  BERIKUTNYA,  ketika  sang  Marquis  hendak mengajari pose-pose dasar, sikap tubuh, dan langkah dansa yang  dibutuhkan  menjelang  debut  sosial  Grenouille,  si pemuda  pura-pura  lemas.  Berlagak  sangat  kelelahan  dan tercekik, lalu ambruk ke sofa. 

Sang  Marquis  panik.  Ia  menjerit  memanggil  pelayan, memanggil  tukang  kipas  dan  operator  ventilator  portabel. 

Sementara  para  pelayan  berkelebat,  ia  berlutut  di  sisi Grenouille, mengipasi dengan sapu tangan beraroma violet, lalu  memohon  - benar-benar  memohon  - agar  Grenouille 
bangun  dan  jangan  mati  dulu  sampai  lusa  demi kelangsungan teori fluidum letale.

Grenouille  menggeliat,  batuk-batuk  dan  mengeluh. Menepis  sapu  tangan  kuat-kuat  dan  setelah  “jatuh”  dari sofa  dengan  gaya  dramatis,  merayap  ke  sudut  ruangan.

“Jangan  parfum  itu  lagi!”  jeritnya  lemah.

“Jangan  parfum yang  itu!  Aku  bisa  mati!”  

Taillade-Espinasse  segera membuang  sapu  tangan  dan  botol  parfumnya  sekalian keluar  jendela.  Baru  setelah  itu  Grenouille  mau  berlagak sembuh.  Lalu,  dengan  suara  makin  tenang  ia  menjelaskan bahwa sebagai seorang ahli parfum ia punya hidung sensitif 
dan  selalu  bereaksi  terhadap  parfum tertentu,  apalagi selama periode penyembuhan ini. 

Soal kenapa aroma violet bisa  sangat  mengganggu  dijelaskan  karena  parfum  itu mengandung  ekstrak  akar  bunga  violet  berkonsentrasi tinggi  yang  pasti berasal  dari  dalam  tanah  dan  dengan sendirinya memberi  efek  buruk  pada  penderita  fluidum
letale. 

Kemarin saja, saat pertama kali mencium aroma itu, ia  sudah  merasa  tak  enak.  Dan  hari  ini  aroma  itu  seperti membawanya  kembali  ke  ingatan  mencekik  dalam  gua 
selama.  tujuh  tahun.  Ia  sungguh  tak  tahan.  

Kini  setelah disembuhkan  secara  ajaib  oleh  sang  Marquis,  ia  merasa lebih baik mati daripada  terserang fluidum lagi. Mengingat 
bahwa  parfum  itu  diekstraksi  dari  akar  saja  sudah  cukup membuat  tubuhnya  keram.  

Grenouille  meyakinkan  bahwa ia pasti bisa langsung sembuh jika Marquis mengizinkan ia 
membuat  parfum  sendiri.  Parfum  yang  mampu mengenyahkan  sisa‐sisa  aroma  violet.  Parfum  baru  ini sangat  ringan  dan  beraroma  udara,  terbuat  dari  bahan-bahan  penyingkir  elemen  bumi  seperti  sari  almond  dan bunga pohon jeruk, minyak eukaliptus, pinus, dan cemara. 

Jika  dipercikkan  sedikit  pada  pakaian,  beberapa  tetes  di leher dan pipi, Grenouille pasti akan kebal selamanya dari serangan memalukan yang baru saja terjadi. 

Grenouille  mengutarakan  semua  ini  dalam  ledakan verbal yang  tak jelas, diiringi batuk-batuk, napas  tersengal dan  kesulitan  bernapas,  plus  aksentuasi  tubuh  menggigil, 
berkedut-kedut  dan  mata  yang  diputar  sedemikian  rupa sampai  tinggal putihnya saja yang kelihatan. 

Sang Marquis sangat  terkesan  melihat  semua  ini.  Meyakinkan  sekali gejala dan penjelasan yang diberikan dengan  teori fluidum letale.  Betapa  bodohnya  ia  sampai  tidak  menyadari  soal parfum  violet  itu.  jelas,  memang  sangat  mengandung elemen  bumi.  Dia  sendiri  pasti  akan  terinfeksi  kalau memakainya  bertahun-tahun.  

Sungguh  di  luar  dugaan bahwa  hari  demi  hari  ia  digiring  menuju  kematian  hanya 
gara-gara  parfum!  Lihat  saja  gejalanya:  encok,  leher  kaku, impotensi, sembelit,  tekanan pada  telinga, gigi busuk - tak 
diragukan lagi bahwa semua bersumber dari racun fluidumdi  parfum  bunga  violet  itu.  

Dan  si  bodoh  ini,  si  bongkok buruk  rupa  di  sudut  ruangan  ini,  telah  menguak  rahasia 
tersebut. Marquis jadi terharu. Ingin rasanya menghambur, memeluk, dan mengangkat Grenouille penuh girang, tapi ia takut  masih  terlalu  banyak  mengandung  aroma  violet. 

Kalau  Grenouille  sakit  lagi  bisa  repot  nanti.  Jadilah  ia menjerit  memanggil  pelayan  dan  memerintahkan  agar semua  parfum  bunga  violet  disingkirkan,  menganginkan seantero  rumah,  semua  pakaian  dicuci  dari  racun  dengan ventilator, dan membawa Grenouille dengan tandu saat itu juga ke pembuat parfum terbaik di kota. 

Memang ini tujuan Grenouille berpura-pura sakit. Ilmu  pembuatan  parfum  terhitung  tradisi  lawas  di Montpellier,  dan  walau  kini  kalah  bersaing  dengan.  para ahli dari kota Grasse, masih ada beberapa ahli parfum dan 
pembuat  sarung  tangan  yang  tinggal  di  kota  itu.  

Sosok paling bergengsi di bidang ini adalah Runel, yang telah lama berbisnis  dengan  dinasti  Marquis  de  la  Taillade-Espinasse 
sebagai  penyedia  sabun,  minyak,  dan  wewangian.  

Runel menyatakan bersedia meminjamkan studionya selama satu jam pada si ahli parfum aneh dari Paris yang hadir bersama iringan  pelayan  serta  tandu.  

Grenouille  tak  mau  diberi petunjuk.  Ia bilang  sudah  cukup  tahu  apa  yang  harus dilakukan dan akan baik-baik saja. Lantas ia mengunci diri di  laboratorium  selama  satu  jam,  sementara  Runel menunggu  bersama  kepala  rumah  tangga  keluarga  sang Marquis  sambil  minum  beberapa  gelas  anggur  di  kedai minum.  

Di  situ  dengan  masygul  ia  diberi  tahu  kenapa parfum violetnya tak lagi jadi parfum favorit. Laboratorium  dan  bengkel  kerja  Runel  ternyata  tidak selengkap milik Baldini. 

Seorang ahli parfum biasa tak akan bisa berbuat banyak hanya dengan beberapa botol minyak bunga,  kolonye,  dan  rempah‐rempah,  tapi  hidung Grenouille  yakin  bahwa  bahan-bahan  di  tempat  ini  sudah cukup  untuk  mencapai  tujuan.  Toh  ia  tak  ingin  membuat 
parfum  hebat  atau  kolonye  fantastis  seperti  yang  ia  buat untuk  Baldini  dulu  - kolonye  yang  begitu  terkenal  dan berkualitas jauh  di  atas  rata‐rata  ciptaan  ahli  parfum lain. 

Ia  juga  tak  berniat  membuat  parfum  jeruk  seperti bualannya  pada  Marquis  tadi.  Bahan-bahan  dasar  seperti minyak  neroli, eukaliptus,  dan  cemara  akan  dipakai Grenouille  untuk  menyamarkan  aroma  asli  yang  ingin dibuat, yaitu aroma manusia. 

Ia ingin punya aroma seperti manusia  normal  lain  - pun  bila  itu  hanya  buatan  dan bersifat sementara. Grenouille mafhum bahwa setiap orang memiliki  bau  khasnya  sendiri-sendiri.  Fakta  ini  jelas  bagi hidung  Grenouille  yang  mampu  mengenali  ribuan  aroma individual dan bisa menentukan perbedaannya pada setiap manusia  sejak  mereka  lahir.  

Kendati  demikian,  tetap  ada tema dasar utama pada masing-masing aroma tersebut, dan kebetulan  umumnya  sederhana  saja,  seperti  aroma  keju masam  atau  keringat,  misalnya.  

Tema  dasar  nan  kaya  ini ada  pada  semua  manusia  dan  menciptakan  aura  khas 
individual berbentuk awan kecil.

Aura  itulah  yang  menjadi  aroma  persona  pada  masing-masing orang. Sangat kompleks dan tak bisa dipersepsikan oleh  kebanyakan  orang.  Manusia  normal  bahkan  tak menyadari  bahwa  mereka  memiliki  hal  seperti  ini.  

Aura yang  tak  bisa  disamarkan  atau  ditutupi  dengan  pakaian atau kosmetik apa pun, bahkan parfum. Aroma dasar yang 
merupakan  emisi  primordial  ini  secara  naluriah  dikenal dan  menciptakan  kedekatan  antar  individu.  Membuat manusia  merasa  nyaman  dan  selalu  ada  dorongan  naluri 
untuk  tinggal  bersama  manusia  lain,  merasa  aman  dan normal.  

Pendek  kata, aroma  standar ini membuat  seorang manusia bisa diterima oleh manusia lain. Parfum aneh inilah yang dibuat Grenouille pada hari itu. 

Tidak seperti parfum atau wewangian, tapi seperti manusianormal yang memancarkan bau.  Sulit  didefinisikan  atau dijelaskan,  tapi  begitulah  adanya.  

Kalau  seseorang mengendus aroma ini di kegelapan dalam sebuah ruangan, ia bisa mengetahui bahwa ada manusia lain di ruangan itu.

Kalau  parfum  ini  dipakai  oleh  manusia  normal,  ia  akan memancarkan  kesan  seolah  ada  dua  orang  dalam  satu tubuh katakanlah,  makhluk  aneh  berpesona  ganda.  

Sulit dijelaskan atau dijabarkan dengan kata-kata karena secara visual (itu pun jika terlihat) akan tampak seperti bayangan kabur  dan  tak  fokus,  seperti  sesuatu  di dasar  danau  di  bawah gelombang permukaan air. 

Grenouille  tahu  bahwa  bau  manusia  tak  akan  pernah bisa  ditiru  secara  sempurna,  tapi  setidaknya  yang  ia  buat cukuplah untuk mengelabui orang lain.

Ada  sedikit  kotoran  kucing  di  balik  ambang  pintu  yang mengarah  ke  halaman  rumah  dan  tampaknya  masih lumayan segar. 

Grenouille mengambil setengah sendok teh 
kotoran  itu  dan  mencampurnya  bersama  beberapa  tetes cuka  apel  dan  garam  halus  dalam  sebuah  botol  aduk.  Di bawah  meja  ia  menemukan  secuil  keju  sisa  makan  siang Runel.  Sudah  agak  lama,  mulai  membusuk  dan  berbau menyengat. 

Bau amis ia ambil  dari  tutup  kaleng  sarden  di belakang  laboratorium,  dicampur  telur  busuk  dan  minyak kastroli,  amonia,  pala,  sisa-sisa  bekas  cukur  pada  silet pencukur, plus gosongan kulit babi yang ditumbuk halus. 

Ia juga  menambahkan  minyak  kesturi  dalam  jumlah  besar, baru  setelah  itu  diaduk  dalam  larutan  alkohol,  dibiarkan mengendap,  lalu  disaring  ke  botol  kedua.  

Aroma  hasil endapannya sangat memuakkan. Berbau tengik seperti got, dan  kalau  disebar  setitik  saja  ke  udara,  rasanya  seperti berdiri  di  tengah-tengah  Paris  di  terik  musim  panas,  di sudut  perempatan  jalan  Fers  dan  jalan  Lingerie,  muara tempat  bertemunya  seluruh  aroma  dari  Les  Halles,  tanah 
pekuburan  Cimetière  de  Innocents  dan  perkampungan sekitar.

Di atas dasar aroma yang menjijikkan ini - yang baunya lebih  menyerupai  mayat  busuk  ketimbang  manusia, Grenouille  menggelar  selapis  aroma  minyak  segar  dari permen,  lavender,  terpentin,  limau,  dan  eukaliptus,  yang lalu  disamarkan  dan  dilemahkan  secara  simultan  dengan wewangian  dari  minyak  bunga  seperti  geranium,  mawar, 
jeruk, dan melati. 

Setelah dilarutkan kedua kalinya dengan 
alkohol  dan  sepercik  cuka  apel,  aroma  dasar  yang  busuk tadi hilang. Sebenarnya tidak hilang, tapi bersifat laten dan tersamar  oleh  ramuan  segar  di  atasnya.  

Aneh  juga  bahwa sama sekali tak ada bau busuk yang tertinggal. Parfum yang sudah jadi ini memancarkan aroma hidup yang sehat dan bersemangat. 

Grenouille  membuat  dua  flacon  penuh,  disumbat  dan dimasukkan  ke  saku  baju.  Lalu  ia  mencuci  semua  botol, pengaduk,  corong,  dan  sendok  bekas  pakai  dengan  air. 

Dicuci  hati-hati  dan  dibilas  dengan  minyak  almond  pahit untuk  membuang  semua  bau  bekas  percobaan  tadi. 

Terakhir,  ia  mengambil  sebuah  botol  aduk  lagi  dan membuat  lagi  parfum  yang  sama  dengan  cepat,  sebagai salinan  dari  yang  pertama.  Sama-sama  mengandung elemen  segar  dan  bebungaan  tapi  tidak  dibangun  dari aroma  dasar  yang  busuk  tadi.  

Kali  ini  ia  memberi  aroma dasar konvensional  dari  kesturi, ambergris,  setitik minyak musang  dan  kayu  cedar. Hasil akhirnya  sangat  berbeda dari yang  pertama.  

Lebih  enak,  lebih  polos  dan  segar, karena  tidak  mengandung  imitasi  aroma  manusia.  Jika manusia normal memakai parfum kedua ini dan bercampur dengan  aroma  tubuhnya  sendiri, hasilnya tak  akan  bisa dibedakan dengan parfum Grenouille yang pertama.

Parfum  kedua  juga  dituang  ke  flacon.  Lalu  Grenouille membuka  pakaian.  Parfum  pertama  dipercikkan  pertama kali  ke  pakaian,  lalu  ketiak,  sela  jempol  kaki,  daerah kelamin, dada, leher, belakang telinga, dan rambut. 

Setelah itu ia  mengenakan  lagi  pakaian  dan  meninggalkan laboratorium.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...