EMPAT PULUH EMPAT
KETIKA LAURE RICHIS dan ayahnya meninggalkan Grasse, Grenouille sedang berada di bagian lain kota itu, di tempat Arnulfi, sibuk merendam bunga jonquil Sendirian dan suasana hatinya cerah.
Hari‐hari di kota ini akan segera berakhir. Hari kemenangan sudah dekat. Di kabinnya ada
sebuah peti beralas kain kanin berisi 24 flacon kecil yang masing-masingnya sarat dengan aroma dari 24 perawan.
Esensi aroma berharga ini dibuat Grenouille selama setahun terakhir dengan merendam tubuh mereka dalam minyak dingin, memproses potongan rambut dan pakaian,
melakukan pembilasan dan penyulingan.
Dan hari ini ia berencana mengambil korban ke-25 - korban paling berharga dan terpenting. Persiapan akhir telah dilakukan
sebelum ekspedisi. Ia telah menyiapkan sebuah wadah kecil berisi minyak yang dimurnikan beberapa kali, selembar kain dari linen terbaik, dan sebotol besar alkohol berkadar tinggi. Medan telah dipelajari sampai detail terkecil. Bulan baru telah dimulai.
Grenouille sadar tak ada gunanya mendobrak rumah di jalan Droite begitu saja. Itu sebabnya ia berniat menyelinap tanpa menggunakan parfum apa pun persis setelah matahari terbenam dan sebelum pintu-pintu ditutup.
Tubuh Grenouille yang tiada berbau ini berkali-kali terbukti ampuh menumpulkan indra perseptif manusia.
Sedikit banyak ia jadi seperti hantu, meski tetap harus berhati-hati dan segera mencari tempat persembunyian begitu masuk rumah. Ia akan menunggu di persembunyian tersebut sampai seisi rumah lelap, baru setelah itu beraksi mengikuti kompas hidung menyusuri kegelapan naik sampai ke kamar “harta karun'.
Ia berencana menggunakan kain berlapis minyak di tempat itu juga. Yang dibawa pulang nanti, seperti biasa, hanya rambut dan pakaian korban, karena dua benda ini bisa langsung dibilas dengan alkohol rektifikasi, kendati sebenarnya lebih aman dikerjakan di tempat kerja.
Mungkin butuh tambahan satu malam untuk menyelesaikan pembuatan pomade dan
mengolah konsentratnya. Kalau semua berjalan lancar, dan ia yakin pasti begitu, dua hari mendatang ia akan memiliki seluruh ramuan yang dibutuhkan umuk membuat parfum terbaik di dunia. Lalu ia akan meninggalkan Grasse sebagai manusia paling harum di dunia.
Sekitar tengah hari, ia selesai merendam jonquil. Grenouille mematikan api, menutup belanga minyak, lalu keluar untuk menyegarkan diri. Angin bertiup dari arah
barat.
Sejak napas pertama ia langsung tahu bahwa ada yang tidak beres. Atmosfernya tidak wajar. Seperti ada yang hilang dari kelambu rajutan benang emas yang membentuk aroma istimewa di taman belakang tembok.
Beberapa minggu terakhir Grenouille merasakan aroma rajutan itu tumbuh makin kuat sampai bisa diendus dengan jelas dari
kabinnya di ujung kota. Sekarang kok hilang. Lenyap begitu saja dari jamahan hidung Grenouille yang supersensitif.
Grenouille nyaris kaku ketakutan. Gadis mungilku sudah mati, pikirnya. Lalu yang lebih menakutkan lagi: ada yang mendahului. Seseorang telah memetik bunga mawarku dan mengambil aromanya untuk
disimpan sendiri! Benarkah begitu?
Grenouille bahkan tak sanggup menjerit saking tegangnya, tapi tetap bisa menghasilkan air mata yang tahu-tahu mengalir di kedua sisi hidung.
Lalu Druot, sekembalinya dari tongkrongan wajib di Quatre Dauphins untuk makan siang, iseng mengabari sambil lalu bahwa subuh tadi sang anggota dewan pergi menuju Grenoble bersama dua belas keledai beban dan putrinya.
Grenouille segera mengusap air mata dan lari memastikan sendiri ke gerbang Cours. Ia berhenti untuk mengendus udara di sekitar rumah sebelum sampai di gerbang.
Dari angin barat nan murni, yang belum lagi terkontaminasi aroma kota, ia bisa melacak rajutan benang emas itu. Walau tipis dan amat samar, tapi tidak salah lagi!
Tapi... aroma ini tidak bertiup dari barat laut menuju Grenoble, tapi dari arah Cabris - kalau tidak langsung berhembus dari barat daya.
Pada penjaga gerbang kota Grenouille bertanya jalan mana yang tadi diambil oleh sang anggota dewan. Si penjaga menunjuk arah utara. Bukan jalan ke Cabris? Atau sebaliknya barangkali, mengarah ke selatan ke arah Auroribeau dan La Napoule?
Sama sekali tidak, tegas si penjaga. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Grenouille berlari kembali ke kabin dan segera mengepak kain linen, wadah pomade, alat pengaduk, gunting, serta sebilah kayu kecil ke dalam buntel dan
langsung menempuh perjalanan. Tidak ke arah Grenoble, tapi ke arah yang ditunjuk hidungnya, yaitu ke selatan.
Jalan yang diambil adalah jalur langsung menuju La Napoule yang membentang sepanjang kaki bukit pegunungan Tanneron, lewat sungai di lembah Frayère dan Siagne. Ini jalur mudah dan Grenouille menyusul dengan cepat.
Begitu kota Auribeau muncul di sisi kanannya, menempel pada pegunungan di atasnya, ia bisa mengendus bahwa ia hampir bisa menyusul. Sekarang ia bisa mencium bau masing¬masing rombongan dan bau kuda-kuda mereka. Tak lebih dari setengah mil ke arah Barat, di suatu tempat di hutan Tartneron.
Mereka tengah menyusuri jalan ke arah selatan, ke arah laut. Grenouille mengikuti.
Sekitar jam lima sore itu, Grenouille tiba di La Napoule. Ia langsung ke penginapan, makan, dan memesan kamar murah, di samping mengaku sebagai seorang ahli penyamak kulit dari Nice yang hendak menuju Marseille.
Ia bisa tidur di kandang kuda kalau mau. Grenouille tak keberatan. Segera menggelar selimut di sudut kandang dan beristirahat.
Hidungnya mencium tiga penunggang kuda
mendekati kota Ia hanya harus menunggu. Dua jam kemudian, menjelang malam, yang ditunggu akhirnya tiba di kota.
Agar tetap tak dikenali, mereka berganti kostum. Dua wanita dari rombongan itu kini bermantel dan berkerudung hitam, sementara Richis mengenakan mantel panjang warna hitam.
Ia memperkenalkan diri sebagai seorang bangsawan yang tengah dalam perjalanan menuju Castellane. Pagi-pagi sekali ia ingin diseberangkan ke Iles de Urins. Pemilik penginapan diminta menyiapkan perahu untuk besok pagi.
Apakah ada tamu lain di penginapan ini selain ia dan rombongan? Richis bertanya.
Tidak, jawab pemilik penginapan. Hanya
seorang ahli penyamak kulit dari Nice yang kemalaman dan tidur di kandang kuda.
Richis segera menyuruh putri dan pengasuhnya naik ke kamar mereka. Ia hendak ke kandang kuda dengan alasan mau mengambil sesuatu dari tas di sadel.
Awalnya ia tak bisa menemukan si ahli karena gelap dan terpaksa meminjam lentera dari tukang kuda. Lalu ia melihatnya:
berbaring bersama tumpukan jerami dan selimut tua di sudut kandang, dengan kepala bersandar buntel dan tidur lelap.
Orang ini tidak tampak mencolok. Richis bahkan beroleh kesan seolah si ahli tidak ada di situ sama sekali. Padahal persis di depan mata. Pikirnya, pasti hanya pantulan bayangan dari cahaya lentera.
Yang jelas saat itu ia langsung yakin bahwa orang ini tidak berbahaya dan segera pergi lagi dengan diam-diam karena ia tak ingin sampai membangunkannya, lalu kembali ke penginapan.
Richis makan malam di kamar bersama putrinya. Ia belum menjelaskan alasan dan tujuan perjalanan ini padanya. Pun saat didesak. Richis berjanji akan bercerita
besok pagi, seraya meyakinkan bahwa ini demi semua kebaikan dan jaminan masa depan Laure sendiri.
Setelah makan mereka bermain kartu l'hombre sebentar. Ia kalah karena lebih menyimak wajah lawan ketimbang kartunya sendiri.
Sekitar jam sembilan ia mengantar Laure ke kamar yang berada persis di depan kamarnya sendiri. Pintu ia kunci dari luar lalu pergi tidur.
Mendadak Richis merasa begitu lelah setelah sehari semalam berkuda, sekaligus puas dengan perkembangan situasi sejauh ini. Ia tidak curiga atau mencemaskan apa
pun, padahal baru kemarin ia sulit tidur selama berminggu-minggu. Malam ini ia langsung lelap tanpa bermimpi, tanpa suara dan tidak bergerak sampai pagi.
Untuk pertama kalinya Richis tidur dengan begitu nyaman dan segar. Bersamaan dengan itu, Grenouille bangun dari peraduannya di kandang kuda. Ia juga puas dengan
perkembangan situasi dan merasa bugar, walau belum tidur sedetik pun. Saat Richis datang mencari, ia hanya pura-pura tidur.
Menebar aura kepolosan melalui aroma
aslinya yang tak berbau. Jika Richis hanya melihat sekilas, Grenouille sempat mengamati dengan cermat melalui hidung.
Kelegaan Richis juga tak lolos dari perhatiannya. Dalam pertemuan itu kedua pihak sama-sama yakin bahwa yang diamati tidak perlu dicemaskan. Keduanya sama-sama benar dan salah, dan memang demikianlah seharusnya, pikir Grenouille.
Buat dia sendiri, posisi ini akan mempermudah rencana. Richis juga akan berpikiran sama jika situasinya dibalik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar