Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 44

EMPAT PULUH EMPAT


KETIKA  LAURE  RICHIS  dan  ayahnya  meninggalkan Grasse, Grenouille sedang berada di bagian lain kota itu, di tempat  Arnulfi,  sibuk  merendam  bunga  jonquil Sendirian dan suasana hatinya cerah. 

Hari‐hari di kota ini akan segera berakhir.  Hari  kemenangan  sudah  dekat.  Di  kabinnya  ada 
sebuah  peti  beralas  kain  kanin  berisi  24  flacon  kecil  yang masing-masingnya  sarat  dengan  aroma  dari  24  perawan. 

Esensi  aroma  berharga  ini  dibuat  Grenouille  selama setahun  terakhir  dengan  merendam  tubuh  mereka  dalam minyak dingin, memproses potongan  rambut dan pakaian, 
melakukan  pembilasan  dan  penyulingan.  

Dan  hari  ini  ia berencana  mengambil  korban  ke-25  - korban  paling berharga  dan  terpenting.  Persiapan  akhir  telah  dilakukan 
sebelum  ekspedisi.  Ia  telah  menyiapkan  sebuah  wadah kecil  berisi  minyak  yang  dimurnikan  beberapa  kali, selembar kain dari linen terbaik, dan sebotol besar alkohol berkadar  tinggi.  Medan  telah  dipelajari  sampai  detail terkecil. Bulan baru telah dimulai. 

Grenouille  sadar  tak ada gunanya mendobrak  rumah  di jalan Droite begitu saja. Itu sebabnya ia berniat menyelinap tanpa  menggunakan  parfum  apa  pun  persis  setelah matahari  terbenam  dan  sebelum  pintu-pintu  ditutup. 

Tubuh  Grenouille  yang  tiada  berbau  ini  berkali-kali terbukti  ampuh  menumpulkan  indra  perseptif  manusia. 

Sedikit  banyak  ia  jadi  seperti  hantu,  meski  tetap  harus berhati-hati  dan  segera  mencari  tempat  persembunyian begitu masuk rumah. Ia akan menunggu di persembunyian tersebut sampai seisi rumah lelap, baru setelah itu beraksi mengikuti  kompas  hidung  menyusuri  kegelapan  naik sampai ke kamar “harta karun'. 

Ia berencana menggunakan kain  berlapis  minyak di tempat itu juga. Yang dibawa pulang  nanti,  seperti  biasa,  hanya  rambut  dan  pakaian korban, karena dua benda ini bisa langsung dibilas dengan alkohol  rektifikasi,  kendati  sebenarnya  lebih  aman dikerjakan di  tempat kerja. 

Mungkin butuh  tambahan satu malam  untuk  menyelesaikan  pembuatan  pomade  dan 
mengolah konsentratnya. Kalau semua berjalan lancar, dan ia yakin pasti begitu, dua hari mendatang ia akan memiliki seluruh  ramuan  yang  dibutuhkan  umuk  membuat  parfum terbaik  di dunia.  Lalu ia akan meninggalkan Grasse sebagai manusia paling harum di dunia. 

Sekitar  tengah  hari,  ia  selesai  merendam  jonquil. Grenouille  mematikan  api,  menutup  belanga  minyak,  lalu keluar  untuk  menyegarkan  diri.  Angin  bertiup  dari  arah 
barat. 

Sejak  napas  pertama  ia  langsung  tahu  bahwa  ada  yang tidak  beres.  Atmosfernya  tidak  wajar.  Seperti  ada  yang hilang dari kelambu rajutan benang emas yang membentuk aroma  istimewa  di  taman  belakang  tembok.  

Beberapa minggu  terakhir  Grenouille  merasakan  aroma  rajutan  itu tumbuh makin kuat sampai bisa diendus dengan jelas dari 
kabinnya di ujung kota. Sekarang kok hilang. Lenyap begitu saja  dari  jamahan  hidung  Grenouille  yang  supersensitif. 

Grenouille nyaris kaku ketakutan. Gadis  mungilku  sudah  mati,  pikirnya.  Lalu  yang  lebih menakutkan  lagi:  ada  yang mendahului.  Seseorang  telah memetik bunga mawarku dan mengambil aromanya untuk 
disimpan  sendiri! Benarkah  begitu? 

Grenouille  bahkan  tak sanggup  menjerit  saking  tegangnya,  tapi  tetap  bisa menghasilkan  air  mata  yang  tahu-tahu mengalir  di  kedua sisi hidung. 

Lalu  Druot,  sekembalinya  dari  tongkrongan  wajib  di Quatre  Dauphins  untuk  makan  siang,  iseng  mengabari sambil  lalu  bahwa  subuh  tadi  sang  anggota  dewan  pergi menuju  Grenoble  bersama  dua  belas  keledai  beban  dan putrinya.  

Grenouille  segera  mengusap  air  mata  dan  lari memastikan  sendiri  ke  gerbang  Cours.  Ia  berhenti  untuk mengendus  udara  di  sekitar  rumah  sebelum  sampai  di gerbang.  

Dari  angin  barat  nan  murni,  yang  belum  lagi terkontaminasi aroma kota, ia bisa melacak rajutan benang emas itu. Walau tipis dan amat samar, tapi tidak salah lagi! 

Tapi...  aroma  ini  tidak  bertiup  dari  barat  laut  menuju Grenoble,  tapi  dari  arah  Cabris  - kalau  tidak  langsung berhembus dari barat daya. 

Pada  penjaga  gerbang  kota  Grenouille  bertanya  jalan mana  yang  tadi  diambil  oleh  sang  anggota  dewan.  Si penjaga menunjuk arah utara. Bukan jalan ke Cabris? Atau sebaliknya  barangkali,  mengarah  ke  selatan  ke  arah Auroribeau dan La  Napoule?  

Sama  sekali  tidak,  tegas  si penjaga. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. 
Grenouille  berlari  kembali  ke  kabin  dan  segera mengepak  kain  linen,  wadah  pomade,  alat  pengaduk, gunting,  serta  sebilah  kayu  kecil  ke  dalam  buntel  dan 
langsung  menempuh  perjalanan.  Tidak  ke  arah  Grenoble, tapi ke arah yang ditunjuk hidungnya, yaitu ke selatan. 

Jalan  yang  diambil  adalah  jalur  langsung  menuju  La Napoule  yang  membentang  sepanjang  kaki  bukit pegunungan Tanneron, lewat sungai di lembah Frayère dan Siagne.  Ini  jalur  mudah  dan  Grenouille  menyusul  dengan cepat.  

Begitu  kota  Auribeau  muncul  di  sisi  kanannya, menempel pada pegunungan di atasnya, ia bisa mengendus bahwa ia hampir bisa menyusul. Sekarang ia bisa mencium bau  masing¬masing  rombongan  dan  bau  kuda-kuda mereka. Tak lebih dari setengah mil ke arah Barat, di suatu tempat di hutan Tartneron. 
Mereka tengah menyusuri jalan ke arah selatan, ke arah laut. Grenouille mengikuti. 

Sekitar jam lima sore itu, Grenouille  tiba di La Napoule. Ia  langsung  ke  penginapan, makan,  dan  memesan  kamar murah,  di  samping  mengaku  sebagai  seorang  ahli penyamak kulit dari Nice yang hendak menuju Marseille. 

Ia bisa  tidur  di  kandang  kuda  kalau  mau.  Grenouille  tak keberatan. Segera menggelar selimut di sudut kandang dan beristirahat. 

Hidungnya  mencium  tiga  penunggang  kuda 
mendekati kota Ia hanya harus menunggu. Dua jam kemudian,  menjelang  malam,  yang  ditunggu akhirnya tiba di kota.  

Agar  tetap  tak  dikenali,  mereka berganti  kostum.  Dua  wanita  dari  rombongan  itu  kini bermantel  dan  berkerudung  hitam,  sementara  Richis mengenakan  mantel  panjang  warna  hitam.  

Ia memperkenalkan  diri  sebagai  seorang  bangsawan  yang tengah dalam perjalanan menuju Castellane. Pagi-pagi sekali ia ingin diseberangkan ke Iles de Urins. Pemilik penginapan diminta menyiapkan perahu untuk besok pagi. 

Apakah ada tamu  lain  di  penginapan  ini  selain  ia  dan  rombongan? Richis  bertanya.  

Tidak,  jawab  pemilik  penginapan.  Hanya 
seorang ahli penyamak kulit dari Nice yang kemalaman dan tidur di kandang kuda. 

Richis segera menyuruh putri dan pengasuhnya naik ke kamar mereka.  Ia  hendak  ke  kandang  kuda dengan alasan mau  mengambil  sesuatu  dari  tas  di  sadel.  

Awalnya  ia  tak bisa  menemukan  si  ahli  karena  gelap  dan  terpaksa meminjam  lentera  dari  tukang  kuda.  Lalu ia melihatnya: 

berbaring  bersama  tumpukan  jerami  dan  selimut  tua  di sudut  kandang,  dengan  kepala  bersandar  buntel  dan  tidur lelap.  

Orang  ini  tidak  tampak  mencolok.  Richis  bahkan beroleh  kesan  seolah  si  ahli  tidak  ada  di  situ  sama  sekali. Padahal  persis  di  depan  mata.  Pikirnya,  pasti  hanya pantulan  bayangan  dari  cahaya lentera.  

Yang jelas saat itu ia langsung yakin bahwa  orang ini tidak berbahaya dan segera pergi lagi dengan diam-diam karena ia tak ingin sampai membangunkannya, lalu kembali ke penginapan. 

Richis  makan  malam  di  kamar  bersama  putrinya.  Ia belum  menjelaskan  alasan  dan  tujuan  perjalanan  ini padanya.  Pun  saat  didesak.  Richis  berjanji  akan  bercerita 
besok  pagi,  seraya  meyakinkan  bahwa ini  demi semua kebaikan dan jaminan masa depan Laure sendiri. 

Setelah makan mereka bermain kartu l'hombre sebentar. Ia  kalah  karena  lebih  menyimak  wajah  lawan  ketimbang kartunya sendiri. 

Sekitar jam sembilan ia mengantar Laure ke  kamar  yang  berada  persis di  depan kamarnya  sendiri. Pintu ia kunci dari luar lalu pergi tidur. 

Mendadak  Richis  merasa  begitu  lelah  setelah  sehari semalam  berkuda,  sekaligus  puas  dengan  perkembangan situasi  sejauh  ini.  Ia  tidak  curiga  atau  mencemaskan  apa 
pun, padahal baru kemarin ia sulit tidur selama berminggu-minggu. Malam ini ia langsung lelap tanpa bermimpi, tanpa suara dan  tidak bergerak sampai pagi. 

Untuk pertama kalinya Richis tidur dengan begitu nyaman dan segar. Bersamaan  dengan  itu,  Grenouille  bangun  dari peraduannya  di  kandang  kuda.  Ia  juga  puas  dengan 
perkembangan  situasi  dan  merasa  bugar,  walau  belum tidur  sedetik  pun.  Saat  Richis  datang  mencari,  ia  hanya pura-pura  tidur.  

Menebar  aura  kepolosan  melalui  aroma 
aslinya  yang  tak  berbau.  Jika Richis  hanya melihat  sekilas, Grenouille  sempat mengamati  dengan  cermat  melalui hidung. 

Kelegaan Richis juga tak lolos dari perhatiannya. Dalam  pertemuan  itu  kedua  pihak  sama-sama  yakin bahwa  yang  diamati  tidak  perlu  dicemaskan.  Keduanya sama-sama  benar  dan  salah,  dan  memang  demikianlah seharusnya,  pikir  Grenouille.  

Buat  dia  sendiri,  posisi  ini akan  mempermudah  rencana.  Richis  juga  akan  berpikiran sama jika situasinya dibalik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...