Selasa, 03 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 11

SEBELAS 


GIUSEPPE  BALDINI  MEMANG  melepas  mantel berparfumnya,  tapi  itu  hanya  karena  kebiasaan.  Aroma kemboja  yang  menyengat  sudah  sejak  lama  tak  lagi mengganggu  kemampuannya  untuk  mencium.  Puluhan 
tahun  begini,  tentunya  sekarang  sudah  tidak  terasa  lagi. 

Dan walau ia telah menutup pintu dan meminta agar tidak diganggu  siapa  pun,  ia  tidak  duduk  di  belakang  meja menunggu inspirasi. 

Baldini tahu, lebih dari Chénier, bahwa inspirasi tak akan datang - dan memang tak pernah datang. 

Bahwa ia kini sudah tua dan lelah, itu benar. Juga bahwa ia bukan  lagi  seorang  ahli  parfum  yang  hebat.  Tapi  hanya Baldini  sendiri  yang  tahu  dan  sadar  bahwa  ia  tak  pernah jadi  ahli  parfum  sebenar-benarnya.  

Ia  mewarisi  'Mawar dari  Selatan’  dari  ayahnya,  dan  formula  untuk  parfum 'Buket  Baldini  nan  Megah’  ia  beli  dari  seorang  penjual rempah keliling dari Genoese. Sisa parfum yang lain hanya aroma biasa. Ia tak pernah menciptakan apa pun. Ia bukan penemu.  Hanya  seorang  penjual  wewangian  tradisional yang  hati-hati.  Itu  saja.  

Ibarat  kata, ia adalah  seorang  koki dengan  dapur  nan  hebat  plus  rutinitas  dan  resep  yang bagus,  tapi  tak  pernah  menciptakan  hidangan  kreasinya sendiri.  Seluruh  omong  kosong  ketenaran  soal  studi, eksperimen,  dan  inspirasi  serta  lagak-lagu  kerahasiaan  ia lakukan  semata-mata  demi  menjaga  citra  profesional seorang  ahli  parfum  dan pembuat  sarung  tangan.  

Seorang ahli parfum sejati setidaknya adalah juga seorang alkemis - ahli kimia, yang menciptakan keajaiban. Itu gambaran yang 
diinginkan  publik.  

Baik,  jadilah  ia  menciptakan  citra 
sedemikian.  Bahwa  karya  seninya  menghasilkan  sesuatu yang  unik  dan berbeda,  hanya  ia  sendiri  yang  tahu  dan 
bangga karenanya. Baldini  tak ingin jadi penemu.  Ia malah sangat  mencurigai  hasil  penemuan  apa  pun  karena  yakin bahwa  sebuah  penemuan  hanya  bisa  mewujud  setelah melanggar  hukum  alam  atau  hukum  masyarakat  - entah dengan perilaku curang atau culas atau apalah. 

Baldini juga tak  berniat  menciptakan  parfum  baru  untuk  Count Verhamont. Ia juga tak ingin mengikuti saran Chénier untuk membeli  saja  'Cinta  dan  jiwa’  dari  Pélissier  sore  ini. 

Ia sudah  beli  dan  kini  teronggok  di  atas  meja  dekat  jendela, dalam sebuah flacon berukuran kecil dengan sumbat gelas. 

Ia  membelinya  beberapa  hari  lalu.  Tidak  secara  langsung, tentu  saja.  Tak  mungkin  ia  melenggang  ke  toko  Pélissier dan  membeli  parfum  itu  dengan  tangan  sendiri.  

Ia  beli lewat seorang perantara yang juga menggunakan perantara lain  sebelumnya.  Kehati-hatian  dalam  berbisnis  adalah sebuah  kemutlakan.  

Baldini  tak  berniat  mengharumkan kulit Spanyol itu dengan parfum Pélissier begitu saja - lagi pula parfum dalam botol sekecil itu tak akan cukup. 

Tidak, ia punya ide lebih jahat lagi: ia ingin meniru parfum itu. 

Ya, kenapa tidak? Toh ini tak bisa dibilang ilegal. Hanya tidak  etis  saja.  Membuat imitasi  gelap  atau  membajak parfum  ciptaan  pesaing  dan  menjualnya  dengan  nama sendiri  adalah  tindakan  yang  sangat  rendah  dan  tercela.

Tapi  tidak ilegal  di  zaman itu. Dan akan lebih  tidak  pantas lagi  kalau  sampai  ketahuan  atau  tertangkap  basah.  Itu sebabnya Chénier tak boleh tahu, karena ia terkenal tukang 
gosip. 

Sungguh mengerikan melihat kenyataan bahwa seorang jujur  sampai  terpaksa  mengambil  jalan  tercela.  Betapa mengerikan  melihat  kenyataan  bahwa  hal  terpenting  dari eksistensi  manusia,  yaitu  kehormatan,  bisa  dikotori  oleh keburukan  seperti ini. 

Tapi Baldini  sudah  kehilangan akal, harus  bagaimana lagi.  Count  Verhamont  adalah  pelanggan penting yang  tak boleh dilepaskan - apalagi karena  tinggal dialah satu-satunya pelanggan yang tersisa. 

Baldini tak mau harus  mengejar-ngejar  pelanggan  lagi  seperti  di  awal kariernya  dulu  saat  berusia  dua  puluhan,  saat  terpaksa menggelandang  di  jalanan  dengan  sekotak  dagangan menggantung  di  perut.  

Tuhan  tahu  betapa  ia,  Giuseppe Baldini  - pemilik  toko  parfum  terbesar  di  Paris,  di  lokasi bisnis  yang  juga  terbaik  - kini  hanya  mampu  bertahan hidup  melalui  panggilan  dari  rumah  ke  rumah,  berbekal koper  kecil  di  tangan.  

Baldini  tak  suka  begini  karena usianya  sekarang  sudah lebih  dari  enam  puluh  tahun,  dan ia  benci  harus  menunggu  di  ruang  tamu  yang  dingin sebelum  sempat  memeragakan  eau des millefleurs  dan barang  dagangan  lain  sampai  borjuis-borjuis  tua  itu bersedia  melirik.  

Belum  lagi  kompetisi  yang  menjijikkan 
dengan  para  pesaing  lain.  Ada  si  Brouet,  orang  kaya  baru dari  jalan  Dauphine  yang  mengaku  punya  koleksi  minyak rambut terlengkap di seluruh Eropa, atau Calteau dari jalan Mauconseil  - pengusaha  katering  yang  sukses  memasok makanan  untuk  keluarga  Duchess  d'Artois,  atau  Antoine Pélissier  dari  jalan  Saint-André-des-Arts.  

Seniman  yang satu  ini  sungguh  tak  terduga,  dan  setiap  musim  selalu meluncurkan wewangian baru yang digilai seluruh dunia. 

Parfum  buatan  Pélissier  selalu  merombak  selera  pasar. Misalnya jika tren tahun ini adalah air Hungaria dan Baldini menimbun  minyak  lavender,  bergamot,  dan  rosemary 
untuk  memenuhi  tuntutan  pasar sebagaimana  wajarnya, Pélissier  akan  hadir  memperkenalkan  'Air  de  Muse'  - parfum  kesturi  yang  amat  keras.  

Setelah  itu  setiap  orang  mendadak  berbau  binatang,  dan  Baldini  terpaksa  meracik ulang  stok  minyak  rosemary‐nya  menjadi  minyak  rambut dan  menjahit  lavender  menjadi  pundi-pundi  bedak.  

Kalau Baldini kemudian ikut menimbun minyak kesturi, civet, dan castor  untuk  tahun  depan,  Pélissier  segera merilis  parfum lain bertajuk 'Kesegaran Rimbi’ yang dengan cepat menjadi 
tren  baru.

Lalu, setelah Baldini bermalam-malam melakukan percobaan dan  menyuap  sana-sini  demi menguak rahasia formula ‘kesegaran Rimbi’, Pélissier bakal segera melonjak lagi dengan 'Senja di Turki' atau 'Rempah Lisbor’,  atau  'Bouquet  de  la  Cour'  atau  parfum  sialan lainnya.  

Orang  ini  sungguh  berbahaya  bagi  bisnis  dengan kesembronoan  kreativitasnya.  Membuatmu  ingin  kembali ke  hukum  perdagangan  yang  lama.  Membuatmu  ingin 
kembali  ke  “Hukum  Draconian'  untuk  melawan  seniman pembangkang  seperti  Pélissier  ‐  si  biang  inflasi  bisnis wewangian.  

Baldini  gemas  sekali.  Kenapa  izin  praktik 
Pélissier  tidak  dicabut  saja,  plus  ganjaran  pasal  yang melarangnya  untuk  berbisnis  lebih  jauh.  Lebih  dari  itu, orang  seperti  ini  mestinya  harus  diberi  pelajaran!  Sangat 
menyebalkan,  karena  Pélissier  sendiri  dikenal  bukan seorang  ahli  parfum  atau  pembuat  sarung  tangan  yang terlatih. 

Ayahnya dulu hanya seorang pembuat cuka apel, ia pun menuruni bakat yang sama: membuat cuka apel, tidak yang lain! Tapi justru sebagai seorang pembuat cuka apel ia punya  akses  menangani  bahan-bahan  beralkohol,  dus jadilah si brengsek itu mampu menggebrak dan mengacau kedamaian  para  ahli  parfum  sejati.  

Lagi  pula,  buat  apa masyarakat  membeli  parfum  baru  setiap  tahun?  Apa memang perlu demikian? Toh sejak dulu masyarakat sudah cukup  nyaman  dengan  kolonye  sari  bunga lembayung dan wewangian  bunga  sederhana  yang  hanya  dimodifikasi sedikit  saja  tiap  sepuluh  tahun.  

Selama  ribuan  tahun masyarakat  terbiasa  dengan  wewangian  dan  getah aromatik  biasa,  beberapa  macam  balsam,  minyak  dan rempah aromatik kering. 

Pun saat orang kemudian belajar menggunakan  flacon  untuk menyuling  jejamuan,  bunga, dan  kayu  serta  mengambil  sari  aroma  dari  uap  ketiga elemen  tersebut  dalam  bentuk  minyak  yang mudah menguap,  lantas menggiling  benih,  biji,  dan  kulit  buah dalam  gilingan  pohon  ek,  kemudian  mengekstraksi  aroma dari  kelopak  bunga  menggunakan  minyak  yang  telah disaring  dengan  hati-hati,  bahkan  pada  saat  itu  jumlah parfum yang dihasilkan masih sangat sedikit. 

Di zaman itu, figur  seperti  Pélissier  tak  mungkin  ada,  karena  untuk membuat  minyak  rambut  sederhana  saja  orang 
membutuhkan  keahlian  yang  tak  terbayangkan  oleh seorang  pembuat  cuka  apel.  

Ia  tidak  hanya  harus  mampu menyuling,  tapi  juga  bertindak  sebagai  pembuat  salep, 
apoteker, alkemis, seniman, pedagang, humanis, dan tukang kebun  sekaligus.  

Ia  harus  mampu  membedakan  lemak domba  dengan  lemak  anak  sapi,  atau  antara  bunga lembayung  Victoria  dengan  bunga  lembayung  Parma.  

Ia juga harus  fasih berbahasa Latin. Harus  tahu  kapan waktu yang  baik  untuk  memanen  heliotrope  dan  kapan  bunga 
pelargonium mekar, dan tahu bahwa kelopak bunga melati cenderung  kehilangan  aroma  saat  matahari  terbit.

Nah, mana  mungkin  Pélissier  mengerti  hal-hal  seperti  ini? 

Seumur  hidupnya  pun  ia  mungkin  belum  pemah meninggalkan  Paris,  atau  melihat  bunga  melati  mekar merekah.  Belum  lagi  lengan  sekuat  Hercules  yang dibutuhkan  untuk  memeras  beberapa  tetes  saja  dari  sari pati  ratusan  kelopak  bunga  melati.  

Hmm...  mungkin  ia sudah tahu hal ini - tahu soal bunga melati, tapi pasti hanya dalam  bentuk  sebotol  cairan  konsentrat  berwarna  cokelat gelap  yang  dicampur  bersama  formula-jadi  lainnya  untuk membuat  parfum.  

Bah!  Di  masa  kejayaan  seniman  sejati 
zaman  dulu,  manusia  ngawur  seperti  Pélissier  tak  akan pernah diterima di mana pun-terutama di bisnis parfum. Ia kekurangan  segalanya:  karakter,  pendidikan,  keagungan, 
dan  kepatuhan  hierarki  dalam  serikat  kerja.  

Kesuksesan sebagai  seorang  ahli  parfum  ia  peroleh  semata-mata  dari penemuan yang sudah ada sejak dua  ratus  tahun lalu oleh 
sang  genius  Mauritius  Frangipani  - ia  orang  Italia,  lho!  Si genius  penemu  aroma  yang  dapat  larut  dalam  larutan alkohol. Dengan mencampur bubuk aromatik ciptaannya ke 
dalam  alkohol  untuk  mentransfer  aroma  dari  bubuk tersebut ke cairan  yang mudah menguap, Frangipani  telah membebaskan  aroma  dari  materi,  menghaluskannya,  dan 
menemukan aroma sebagai aroma murni. 

Pendeknya, ialah pencipta  parfum  pertama.  kali.  Hebat  sekali!  Benar-benar prestasi  monumental  dan  hanya  bisa  disejajarkan  dengan penemuan-penemuan besar umat manusia lainnya, seperti penemuan  sistem  penulisan  oleh  bangsa  Syria,  Geometri oleh Euclid, gagasan-gagasan Plato, atau metamorfosis dari anggur  menjadi  minuman  keras  oleh  bangsa  Yunani. 

Sungguh prestasi nan mulia! Namun demikian, seperti yang selalu terjadi pada semua 
penemuan  besar,  ditemukannya  larutan  alkohol  juga memiliki  akibat  baik  dan  buruk  yang  mengantar  umat manusia  pada bencana  dan  penderitaan,  setara  dengan 
manfaat  yang  bisa  dihasilkan.  

Penemuan  Frangipani  tak lepas dari hukum ini. Sekarang, saat orang tahu bagaimana 
mengikat aroma bunga, jejamuan, kayu, getah, serta sekresi binatang  dalam  larutan  alkohol  dan  mengemasnya  dalam botol,  kualitas  seni membuat  parfum  juga makin merosot. 

Dari yang semula. agung berada di  tangan para empu, kini juga  bisa  dilakukan  oleh  para  penipu - setidaknya  penipu berhidung  lumayan  tajam  seperti  si  brengsek  Missier. 

Tanpa  susah-payah  memelajari  proses  penciptaan  benda menakjubkan seperti dalam botol ini, orang-orang macam, Missier seenaknya mengikuti indra penciuman dan meracik apa  saja  yang  muncul  di  kepala  atau  apa  pun  yang  bisa menjadi tren di masyarakat, walau untuk sementara. 

Yang membuat Baldini lebih jengkel adalah fakta bahwa apa pun pendapatnya, di usia 35 tahun si brengsek Pélissier sudah  berhasil  mengumpulkan  kekayaan  lebih  besar  dari 
dia  sendiri  - sang  Baldini,  yang  sebelumnya  harus  susah-payah membanting tulang tanpa henti selama tiga generasi.

Kejayaan Pélissier tumbuh dalam hitungan hari, sementara Baldini  malah  makin merosot.  Hal  seperti  ini  sama  sekali tidak  mungkin  terjadi  sebelumnya!  Kenyataan  bahwa seorang  seniman  dan  pedagang  terhormat  sampai  harus berjuang  mempertahankan  hidup,  ini  terjadi  sejak 
beberapa  dekade  terakhir!  Dan  sejak  kegilaan  terhadap barang  baru  merebak  di  mana-mana,  masyarakat  seperti kesetanan dengan hasrat terhadap tindakan dan percobaan instan. 

Membuat perdagangan yang berlangsung jadi penuh omong  kosong,  baik  di  dunia  bisnis  maupun  ilmu pengetahuan. 

Segala  kegilaan  soal  kecepatan.  Apa  maksudnya membangun sekian banyak jalan baru di mana-mana - juga jembatan?  Apa  gunanya  semua  itu?  Apa  untungnya 
menempuh  perjalanan  ke  Lyon  dalam  seminggu?  Siapa yang mampu membangun  toko dalam waktu sesempit itu? Siapa  yang  diuntungkan  dari  kondisi  ini?  

Atau menyeberangi  Laut  Atlantik  dan  berlomba  ke  Amerika dalam sebulan - buru-buru sekali? Toh selama ini kita baik-baik  saja  tanpa  benua  itu  selama  ribuan  tahun.  Apa 
sebenarnya yang dicari oleh bangsa beradab seperti kita di tengah  hutan  yang  dihuni  oleh  Indian  atau  orang  Negro? 

Orang bahkan jauh-jauh pergi sampai ke Lapland di Kutub Utara.  Padahal  yang  ditemui  hanya  es  abadi  dan kebiadaban  sampai  terpaksa  makan  ikan  mentah.  

Dan sekarang  kabarnya  kita  tengah  berharap  menemukan benua  baru  yang  konon  berada  di  Pasifik  Selatan,  atau  di 
manalah  ‐  peduli  amat.  Kenapa  harus  gila-gilaan  begini? 

Mungkin  lantaran  yang  lain  juga  berlaku  serupa  - orang Spanyol,  orang  Inggris  nan  terkutuk,  dan  orang  Belanda yang kurang ajar – selalu menantang tarung sementara kita tak  pernah  punya  cukup  dana  perang.  

Coba  bayangkan: 
sebuah  kapal  perang  harganya  300  ribu  livre,  padahal dihajar  kanon  sekali  saja  bakal  tenggelam  dalam  waktu lima  menit  - dan  harga  segitu  dibayar  dari  pajak  kita! 

Menteri  Keuangan  baru-baru  ini  menuntut  upeti sepersepuluh  dari  pendapatan  pajak.  Ini  jelas menghancurkan  negara  - pun bila  tuntutan  itu  tak dipenuhi. Benar-benar jahat. 

Penderitaan  manusia  berakar  dari  ketidakrelaan  untuk menempatkan diri pada  tempatnya.  Ini Pascal yang bilang. 

Dan Pascal adalah tokoh hebat - katakanlah, Frangipani-nya kaum  intelektual.  Seorang  seniman  sejati.  Orang  zaman sekarang  sudah  enggan  dengan  hal-hal  begini.  

Sekarang orang  membaca  buku-buku  “panas”  karangan  Huguenots atau  orang  Inggris,  menulis  risalah  atau  mahakarya  yang katanya  ilmiah  dan  berakibat  mempertanyakan  segala sesuatu. 

Akibatnya, segala sesuatu kini tampak salah - tiba-tiba  segala  sesuatu  mesti  berbeda.  

Yang  terakhir  adalah tentang  binatang-binatang  kecil  yang  belum  pernah ditemui  sebelumnya  dan  katanya  terkandung  serta 
berenang  ria  dalam  segelas  air.  Mereka  juga  menyebut sifilis sebagai penyakit yang wajar dan bukan suatu bentuk hukuman  Tuhan.  

Tuhan  tidak  menciptakan  dunia  dalam 
tujuh hari, katanya, tapi dalam waktu jutaan tahun. Heh! Itu pun  kalau  benar  Tuhan  yang  buat.  

Mereka  juga  bilang bahwa  suku-suku  liar  sebenarnya  manusia  biasa  seperti kita juga, bahwa selama ini kita telah salah mendidik anak, dan bahwa bumi tidak lagi bulat tapi rata di bagian atas dan bawahnya  seperti  buah  melon  - apa  pun  itu,  tak  ada bedanya!  Di  segala  bidang,  manusia  mempertanyakan 
segala  sesuatu,  menggali,  mengorek-ngorek,  membongkar dan  bereksperimen  sesuka  hati.  Manusia  sudah  tak  puas lagi  dengan  kondisi  apa  adanya.  

Semua  harus  bisa dibuktikan,  harus  ada  saksi,  statistik,  dan  eksperimennya. Mereka  mengagung-agungkan  Diderot,  d'Alembert, 
Voltaire, dan Rousseau, atau entah siapa lagi  ‐ bahkan ada pendeta  dan  kalangan  ningrat  juga  di  antara  mereka!

Seluruh  tatanan masyarakat  terinfeksi oleh pengkhianatan mereka,  pada  kegemaran  mereka  akan  kegelisahan  dan ketidakrelaan  untuk  puas  dengan  pemberian  alam,  atau 
bahkan dengan  segala  kekacauan  yang  berkecamuk  di  gaung kepala mereka sendiri! 

Sejauh  mata  memandang,  hanya  kekacauan  yang terlihat.  Orang-orang  asyik  membaca  buku.  Bahkan perempuan!  Para  pendeta  membuang  waktu  di  warung kopi.  

Jika  polisi  ikut  campur  dan  memenjarakan  salah seorang  di  antara  mereka,  para  penerbit  segera  menjerit dan  buru-buru  menggelar  petisi.  

Pria  dan  wanita  dari kalangan  ningrat  berlomba  memanfaatkan  pengaruh mereka  dan  dalam  beberapa  minggu  saja  orang  itu 
dibebaskan  atau  diizinkan  keluar  negeri,  kembali  sibuk menebar pamflet  yang menyesatkan. 

Di salon orang-orang ribut  omong  kosong  soal  orbit  komet  dan  ekspedisi, tentang  gaya  angkat  dalam hukum  fisika, Newton berencana  akan, membangun kanal, sirkulasi darah, serta diameter bumi. 

Sang  Raja  sendiri  ikut-ikutan  meminta  mereka mendemonstrasikan  omong  kosong  gaya  baru  - semacam petir buatan yang mereka sebut sebagai listrik. Di hadapan 
seluruh majelis istana, seseorang menggesek sebuah botol, lalu timbul bunga api. Konon menurut laporan, Yang Mulia begitu  terkesan.  

Baldini  sungguh  tak  habis  pikir.  Tidak 
mungkin  kakek  sang  Raja,  Louis  nan  agung  yang  sejati    - yang  di  bawah pemerintahannya  Baldini  hidup  selama 
bertahun-tahun  - membiarkan  demonstrasi  sekonyol  itu. 

Tapi memang  demikian tampaknya watak zaman ini, kendati harus ditebus dengan konsekuensi cukup berat. 

Saat  orang  sudah  tak  malu  atau  takut  lagi 
mempertanyakan kekuasaan Tuhannya Gereja; saat mereka membicarakan  monarki  ‐  makhluk  dengan  keagungan setara  Tuhan  - dan  raja  sebagai  sosok  suci  di  dalamnya 
semudah  membicarakan  tukar-menukar barang  dalam katalog  tentang  berbagai bentuk  pemerintahan  yang ingin dipilih  seenak  hati;  saat  orang  sudah  sedemikian  lancang menggambarkan  Tuhan  Yang  Mahaperkasa  - Tuhan semesta alam, seolah tak beda dengan materi lain yang bisa digantikan,  plus  imbuhan  bahwa  semua  tatanan,  moral, serta  kebahagiaan  di  bumi  ini  bisa  ada  tanpa  Dia  ‐  murni berdasarkan moralitas dan nalar bawaan manusia semata.... 

Ampun  Tuhan!!  Tak  heran  kalau  semua jadi jungkir  balik, degradasi  moral  dan  azab  Tuhan  yang  disangkal  oleh manusia  sendiri.  

HasiInya  kelak  sungguh  mengerikan. Komet besar yang jatuh pada tahun 1681, misalnya. Mereka berani  berolok  dan  menyatakan  bahwa  itu  tak  lebih  dari nukilan  bintang!  

Padahal  sesungguhnya  pertanda  yang diturunkan  Tuhan  sebagai  peringatan.  Ramalan  teramat jelas  tentang  seratus  tahun  degradasi  dan  disintegrasi  di 
lingkungan  spiritual,  politik,  dan  agama  hasil  ciptaan manusia  sendiri,  dan  bahwa  suatu  hari  kelak  semua  ini akan  mengarah  pada  bencana  dan  keterpurukan  global  di 
mana  hanya  bunga  rawa  yang  bisa  tumbuh  - seperti Pélissier. 

Baldini  berdiri  dekat  jendela  sebagai seorang  tua  yang tengah  menatap  tegas  ke  arah  matahari  terik  di  atas permukaan sungai.  Kapal‐kapal  tongkang  hilir  mudik  di 
bawah  kakinya,  perlahan  bergerak  ke  barat, menuju  Pont-Neuf dan dermaga di bawah serambi-serambi kota Louvre. 

Kapal-kapal  tidak  ditambat  melawan  arus.  Untuk  itu mereka  memanfaatkan  arus  dari  seberang  pulau.  Di  sini segalanya mengapung  menjauh-baik  kapal-kapal  kosong maupun  yang  sarat  muatan, sampan  dan  kapal-kapal nelayan  yang  lebar  dan  datar,  gulungan  air  keemasan maupun  yang  cokelat  kotor..  semua  bergerak  menjauh, 
perlahan,  dengan  jarak  makin  lebar  dan  tak  tertahankan. 

Dan  jika  Baldini  melihat  persis  ke bawahnya,  persis  ke bawah  tembok  rumah  dan  jembatan,  air  serasa  mengisap fondasi jembatan. Membuatnya pusing. Ia telah salah membeli rumah di atas jembatan. Terlebih di sisi barat, karena matanya kini hanya bisa melihat sungai mengalir dan bergerak menjauh. Seolah ia dan rumah serta seluruh  kekayaan  yang  telah  susah-payah  ia  kumpulkan selama  ini  ikut  mengalir  menjauh  bersama  sungai, sementara, ia sudah  terlalu tua dan lemah untuk melawan 
arus.  

Kadang  saat  sedang  berbisnis  di  sisi  sungai  sebelah kiri,  di  daerah  Sorbonne  atau  sekitar  Saint-Sulpice,  ia sengaja tidak menyeberang jembatan dan langsung ke Pont 
Saint-Michel,  tapi  mengambil  jalan  memutar  lebih  jauh lewat Pont-Neuf, hanya karena jembatan itu tidak memiliki bangunan di atasnya. Kalau sudah begitu, ia akan berdiri di 
sisi  timur  dinding  jembatan  dan  menatap  ke  arah  sungai. 

Menikmati  arus  sungai  yang  mengalir  ke  arahnya.  Selama beberapa saat itu ia biarkan dirinya hanyut dalam lamunan bahwa  hidupnya  kini  telah  lebih  baik,  bahkan  bisnisnya sedang  marak,  keluarganya makmur,  dan  banyak  wanita yang  memuja dan  menghambur  ke  pelukannya.  Bahwa 
hidupnya sedang tumbuh makin besar dan makin besar. 

Tapi  saat  pandangan  itu  bergeser  sedikit  saja,  ia langsung  melihat  rumahnya  sendiri  di  kejauhan  - tinggi, panjang dan lurus, rapuh, berjarak beberapa ratus meter di Pont au Change. Ia juga melihat jendela ruang kerja di lantai dua dan melihat dirinya sendiri di situ, tengah memandang aliran  sungai  seperti  sekarang.  

Dan  mimpi  indah  itu  pun pupus.  Baldini  memutar  tubuh,  berjalan  gontai  dari  Pont-
Neuf  dengan  perasaan  lebih  remuk  dari  sebelumnya  - seremuk  sekarang  ini,  saat  ia  berpaling  menjauh  dari jendela dan duduk di meja kerja.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...