Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 47

EMPAT PULUH TUJUH


BERITA  KEMATIAN  LAURE  RICHIS  menyebar  ke seantero Grasse. Sama hebohnya dengan berita, “Sang Raja wafat!”  atau,  “Perang kembali  merebak!”  atau,  “Bajak  laut tiba  di  pantai!”  Lengkap  dengan  kengerian  yang  sama kuatnya. 

Seketika itu ketakutan yang  telah begitu hati-hati dilupakan  kembali  merebak  dengan  intensitas  yang  sama seperti  musim  gugur  lalu,  diiringi  fenomena  klasik kepanikan,  murka,  marah,  kecurigaan  histeris  yang 
membabi  buta,  dan  keputusasaan.  

Orang‐orang  kembali mengunci  diri  di  rumah,  mengurung  putri  mereka  rapat-rapat,  memasang  barikade,  saling  curiga  dan  tak  berani tidur. Semua menduga peristiwa kali ini juga akan berlanjut seperti  dulu:  satu  pembunuhan  setiap  minggu.  

Kalender waktu seperti digulung mundur enam bulan. Ketakutan kali ini lebih hebat daripada enam bulan lalu karena  orang-orang  merasa  tak  berdaya  menghadapi bahaya  yang mereka  kira  sudah  berakhir.  

Kutukan  uskup saja tak mempan! Bahkan Antoine Richis - sosok terkaya di kota,  sang  anggota  dewan  yang  kuat,  berkuasa,  dan  pasti lebih dari mampu beroleh bantuan penjagaan ‐ tak mampu melindungi putrinya! 

Kalau tangan malaikat Laure saja tak mampu  menyurutkan  langkah  si  pembunuh  (karena  ia memang  begitu  elok  di  mata  publik  yang  mengenalnya, apalagi  sekarang  setelah  ia  mati),  harapan  apa  lagi  yang tersisa  untuk  lolos  dari  jerat  si  pembunuh?  

Monster  ini lebih  kejam  ketimbang  wabah  penyakit.  Kau  bisa  kabur sebelum  wabah  menyerang,  tapi  tidak  dari  si  pembunuh. 

Kasus Richis sudah cukup membuktikan ini. Tampaknya ia memiliki kekuatan gaib. Pasti bersekutu dengan Iblis, kalau bukan  Iblis  itu  sendiri. 

Banyak  orang,  terutama  rakyat biasa,  tak  tahu jalan lain  selain  “melarikan  diri”  ke  gereja. Para  saudagar  memanjatkan  doa  ke  pelindung  masing-masing:  ahli  kunci  kepada  St. Aloysius,  tukang  tenun kepada St. Crispin,  tukang  kebun  kepada  St. Anthony,  ahli parfum kepada St. Joseph. 

Mereka juga menyertakan anak-istri, berdoa bersama, makan dan tidur di gereja. Tidak mau pulang  karena  mereka  yakin  bahwa  inilah  satu-satunya tempat  mengungsi  paling  aman.  Di  bawah  perlindungan jemaah yang putus asa dan tatapan patung Bunda Maria. 

Mereka  yang  ingat  bahwa  gereja  telah  gagal  lebih  suka masuk  ke  kelompok-kelompok  klenik.  Rela  membayar mahal  seorang  penyihir  resmi  dari  Gourdon,  merayap  ke salah  satu gua  batu  di jalur  bawah  tanah  kota Grasse,  dan mengadakan misa hitam untuk  si penyihir. 

Kelompok lain, khususnya  kalangan  menengah  ke  atas  dan  bangsawan intelek, mempertaruhkan uang pada metode ilmiah terkini, seperti memagnetkan sekeliling rumah, menghipnotis putri mereka,  mengadakan  pertemuan  rahasia  di  ruang-ruang duduk mereka untuk menggelar rapat bertema fluidal, plus menyewa  ahli  telepati  untuk  mengusir  roh  si  pembunuh dengan pemfokusan emisi pikiran komunal. 

Serikat‐serikat kerja  menggelar  prosesi  upacara  penyesalan  dan pengakuan  dosa,  bolak-balik  dari  Grasse  ke  La  Napoule. Para  pendeta  dari  kelima  biara  yang  ada  di  kota  segera membuka  layanan  doa  24  jam  serta  mengumandangkan nyanyian  doa  tanpa  berhenti  agar  ratapan  mereka terdengar  siang  dan malam  di setiap sudut kota. Aktivitas  pekerjaan praktis lumpuh. 

Demikianlah,  dengan  kepasifan  dan  keingintahuan, warga  Grasse  menanti  siapa  korban  berikutnya.  Tak  ada yang ragu bahwa pasti bakal jatuh korban baru. 

Diam-diam mereka tak sabar menunggu kabar ini, asalkan terjadi pada orang lain, bukan diri sendiri. 

Kali ini, kalangan pemerintah sipil, regional, dan provinsi tak mau terpengaruh oleh mood histeria massa para warga. 

Untuk  pertama  kali  sejak  pembunuhan  ini  terjadi,  usaha-usaha  kerja  sama  yang  efektif  dan  terencana  diadakan antara  pemerintah  distrik  kota  Grasse,  Draguignan,  dan Toulon, melibatkan hakim, polisi, komisaris, parlemen, dan angkatan laut. 

Kerja  sama  kolosal  ini  sebagian  berangkat  dari kecemasan  akan  timbulnya  pemberontakan  sipil,  dan sebagian  lagi  dari  fakta  bahwa  hanya  pada  pembunuhan Laure inilah mereka beroleh petunjuk yang memungkinkan pembentukan  sistem pengusutan  yang  lebih  efektif. Ada saksi  mata  tentang  deskripsi  si  pembunuh.  

Yakin  bahwa buronan  mereka  adalah  si  ahli  penyamak  kulit  yang menginap di kandang kuda pada malam itu dan menghilang tanpa jejak keesokan paginya. Menurut kesaksian gabungan antara pemilik penginapan, para pelayan, dan Richis, orang ini  sulit  dideskripsikan.  

Yang  jelas,  ia  lelaki  bertubuh pendek  bermantel  cokelat  dan  menyandang  buntel  kasar dari  kain  linen.  Kesaksian  ini  tak  terlalu  menghasilkan karena  mereka  tetap  tak  mampu  menyusun  profil  fisik seperti  wajah,  warna  rambut,  atau  cara  bicara.  

Pemilik penginapan  juga  menambahkan  bahwa  kalau  tidak  salah orang  itu  agak  pincang,  seolah  kakinya  terluka  atau 
lumpuh. 

Berbekal  petunjuk  ini,  dua  pasukan  berkuda  diutus untuk melakukan pengejaran siang itu juga, mengikuti jalur sepanjang Maréchaussée  ke  arah Marseille - satu  pasukan menyusuri  pantai  dan  satu  lagi  menjejaki  jalur  darat. 
Sekitar  daerah  La  Napoule  disisir  oleh  para  sukarelawan. 

Dua komisaris polisi dari pengadilan kota  Grasse berkuda ke Nice untuk mengkonfirmasikan  petunjuk  tentang  si  ahli. Kapal-kapal yang berangkat dari pelabuhan Fréjus, Cannes, dan  Antibes  diperiksa,  jalan  ke  arah  perbatasan  menuju 
Savoy  diblokir  dan  para  musafir  harus  menunjukkan identitas  diri.  

Mereka  yang  bisa  membaca  segera  melihat 
selebaran  perintah  penangkapan  dan  deskripsi  pelaku tersebar  di  semua  gerbang  kota  Grasse,  Vince,  dan Gourdoti, termasuk di pintu-pintu gereja daerah pedesaan. 

Pengumuman berita diteriakkan  tiga kali sehari di seluruh kota.  Laporan  -bahwa  si  pelaku  berkaki  pincang  malah semakin  menegaskan  opini  bahwa  si  pembunuh  memang tak lain  dari  Iblis  itu  sendiri dan  cenderung   menambah  kepanikan ketimbang menjadi informasi berguna. 

Hakim  ketua  pengadilan  kota  Grasse  menawarkan hadiah  200  ribu  livre  atas  nama  Richis  bagi  mereka  yang memberi informasi  yang mengarah  pada tertangkapnya  si pembunuh.  Pengaduan  dan  penahanan  atas  para  ahli penyamak kulit segera marak di Grasse, Opio, dan Gourdon hanya  karena  mereka  berkaki  pincang.  

Bahkan  ada  yang langsung diadili massa walaupun punya alibi dan saksi. Sepuluh  hari  setelah  pembunuhan,  seorang  warga  kota 
datang  ke  kantor  pengadilan  dan memberikan  pernyataan berikut:  siang  hari  saat  kejadian  perkara,  ia,  Gabriel Tagliaseo, kapten penjaga gerbang kota, telah didekati oleh seseorang  saat  sedang  menjalankan  tugas  harian  di  muka gerbang Cours.  

Ia baru sadar bahwa orang itu nyaris  tepat 
dengan  gambaran  yang  disebarkan  dalam  selebaran perintah  penangkapan.  

Ia  didesak  dan  ditanya  berkali-kali tentang jalan mana yang ditempuh rombongan Richis pada pagi  hari  itu.  

Awalnya  ia  tidak  menganggap  penting 
peristiwa ini, baik saat itu maupun kemudian, dan tak akan mampu  mengingat  perawakan  orang  tersebut  hanya berdasarkan  ingatan  kalau  saja  tidak  bertemu  lagi  secara 
kebetulan  sehari  yang  lalu,  di  kota  Grasse  ini,  tepatnya  di jalan  Louve,  di  depan  studio  Maître  Druot  dan  Madame Arnulfi.  

Pada  saat  itu,  ia  melihat  si  tersangka  berjalan  masuk dengan langkah pincang. 

Grenouille  ditahan  satu  jam  kemudian.  Pemilik  dan pelayan  penginapan  dari  La  Napoule  segera  dipanggil  ke Grasse.  

Mereka  langsung  mengenali  Grenouille  sebagai  si ahli penyamak kulit yang menginap di kandang kuda pada malam  itu.  

Mereka  yakin  benar  bahwa  inilah  si  buronan pembunuh itu. Tempat Arnulfi digeledah. Juga kabin di padang zaitun di 
belakang  biara  Franciscan.  

Di  sebuah  sudut  mereka menemukan sobekan‐sobekan gaun malam, pakaian dalam, dan  rambut  merah  Laure  Richis.  Dan  waktu  lantai  kabin dibongkar, lembar demi lembar pakaian dan rambut ke-24 korban  lainnya  langsung  terlihat.  Pentungan  kayu  yang digunakan  untuk membunuh juga  ditemukan,  plus  sebuah buntel  linen.  

Lonceng  gereja  dibunyikan.  Dewan  hakim 
mengumumkan  bahwa  pembunuh  keji  para perawan  yang telah  dicari  selama  hampir  setahun,  akhirnya  berhasil ditangkap dan ditahan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...