SEMBILAN
ADA SELUSIN LEBIH ahli parfum tinggal di Paris pada zaman itu. Enam orang tinggal di sebelah kanan sungai, enam orang tinggal di sisi kiri, dan satu orang tinggal pas di tengah, persisnya di Pont au Change, yang menghubungkan sisi kanan sungai dengan Ile de la Cile.
Jembatan ini begitu padat dengan gedung-gedung berlantai empat sampai orang tak bisa lagi melihat sungai saat menyeberang
jembatan dan malah serasa berada di sebuah jalan raya biasa - jalan yang sangat elegan, malah.
Pont au Change memang terkenal sebagai salah satu distrik bisnis terbaik di Paris. Bermacam toko ternama bisa ditemui di sini. Ada pandai emas, pembuat lemari, pembuat wig dan dompet terbaik, bermacam pabrik pembuat pakaian dalam wanita dan stoking terbaik, pembuat bingkai lukisan, para
pedagang sepatu berkuda, pembuat sulaman untuk hiasan bahu, pembuat kancing emas, dan para bankir.
Di distrik ini pula berdiri bisnis serta kediaman seorang ahli parfum dan pembuat sarung tangan terkenal bernama Giuseppe Baldini. Jendela etalasenya dinaungi kanopi hijau beraltar nan mewah, persis di samping bendera simbol keluarga Baldini. Bendera simbol keluarga itu bertatahkan emas,
bergambar flacon (tabung kimia) emas yang menumbuhkan seikat bunga yang juga emas.
Di depan pintu toko terhampar sebuah karpet merah dengan gambar simbol keluarga Baldini bersulam emas. jika pintu dibuka akan terdengar denting bel Persia, disusul ayunan leher dua patung bangau memerciki air beraroma bunga lembayung dari paruh mereka ke sebuah bejana emas, yang kemudian dibentuk menyerupai flacon seperti pada simbol keluarga Baldini.
Kenapa? Malam itu terjadi sebuah bencana kecil. Dengan sedikit keterlambatan pengumuman, pihak istana mengeluarkan dekrit yang mengharuskan peruntuhan sedikit demi sedikit seluruh gedung yang berada di atas jembatan di seluruh Paris.
Maka pada malam itu, tanpa alasan jelas, sebelah Barat Pont au Change, di antara
dermaga ketiga dan keempat, runtuh berurutan. Dua buah gedung diserok ke arah sungai. Begitu menyeluruh dan tiba-tiba sampai penghuninya tak sempat menyelamatkan diri.
Untungnya hanya dua orang yang tercatat sebagai korban, yaitu Giuseppe Baldini dan istrinya, Teresa. Para pelayan telah keluar lebih dulu, dengan atau tanpa permisi.
Chénier adalah pelayan pertama yang berniat kembali lebih dulu (karena. ia tak punya tempat tinggal lain), melangkah dengan kaki terseok agak mabuk. Bisa ditebak betapa syok
dan runtuh sarafnya melihat kejadian ini.
Sia-sia saja pengorbanan hidupnya selama tiga puluh tahun, bersandar harapan agar suatu hari nanti namanya tercantum dalam
surat warisan Baldini karena si tua itu tak punya sanak ataupun saudara.
Kini, dalam sekali kebas, seluruh warisan
itu musnah ‐ semuanya: rumah, bisnis, bahan mentah, laboratorium, Baldini sendiri dan tentu saja surat warisan Baldini.
Padahal ia yakin bahwa kelak hampir pasti Baldiniakan menunjuknya sebagai pemilik pabrik di Saint-Antoine.
Tak ada apa pun yang bisa ditemukan. Tidak mayat, brankas, atau buku catatan berisi enam ratus formula. Hanya satu yang tersisa dari Giuseppe Baldini sang pembuat parfum terbesar seantero Eropa: aroma parfum aneka warna - ada aroma kesturi, kayu manis, cuka apel, lavender, dan ribuan aroma lain. Selama beberapa minggu aroma ini mengambang tinggi di atas sungai Seine, membentang dari Paris sampai Le Havre.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar