Senin, 02 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 9

SEMBILAN 


ADA  SELUSIN  LEBIH  ahli  parfum  tinggal  di  Paris  pada zaman  itu.  Enam  orang  tinggal  di  sebelah  kanan  sungai, enam orang tinggal di sisi kiri, dan satu orang tinggal pas di tengah, persisnya di Pont au Change, yang menghubungkan sisi kanan sungai dengan Ile de la Cile.  

Jembatan ini begitu padat  dengan  gedung-gedung  berlantai  empat  sampai orang  tak  bisa  lagi  melihat  sungai  saat  menyeberang 
jembatan  dan  malah  serasa  berada  di sebuah  jalan  raya biasa  - jalan  yang  sangat  elegan,  malah.  

Pont  au  Change memang  terkenal  sebagai  salah  satu  distrik  bisnis  terbaik di Paris. Bermacam  toko  ternama bisa ditemui di sini. Ada pandai  emas,  pembuat  lemari,  pembuat  wig  dan  dompet terbaik,  bermacam  pabrik  pembuat  pakaian  dalam  wanita dan  stoking  terbaik,  pembuat  bingkai  lukisan,  para 
pedagang  sepatu  berkuda,  pembuat sulaman  untuk  hiasan bahu, pembuat kancing emas, dan para bankir. 

Di distrik ini pula berdiri bisnis serta kediaman seorang ahli parfum dan pembuat  sarung  tangan  terkenal  bernama  Giuseppe Baldini.  Jendela  etalasenya  dinaungi  kanopi  hijau  beraltar nan  mewah,  persis  di  samping  bendera  simbol  keluarga Baldini.  Bendera  simbol  keluarga  itu  bertatahkan  emas, 
bergambar flacon (tabung kimia) emas yang menumbuhkan seikat  bunga  yang  juga  emas.  

Di  depan pintu toko terhampar sebuah  karpet  merah  dengan  gambar  simbol keluarga  Baldini  bersulam  emas.  jika  pintu  dibuka  akan terdengar  denting  bel  Persia,  disusul  ayunan  leher  dua patung  bangau memerciki  air  beraroma  bunga lembayung dari paruh mereka ke sebuah bejana emas, yang kemudian dibentuk  menyerupai flacon seperti  pada  simbol  keluarga Baldini.

Kenapa? Malam itu terjadi sebuah bencana kecil. Dengan sedikit  keterlambatan  pengumuman,  pihak  istana mengeluarkan  dekrit  yang  mengharuskan  peruntuhan sedikit  demi  sedikit  seluruh  gedung  yang  berada  di  atas jembatan  di  seluruh  Paris.  

Maka  pada  malam  itu,  tanpa alasan  jelas,  sebelah  Barat  Pont  au  Change,  di  antara 
dermaga  ketiga dan  keempat,  runtuh berurutan. Dua buah gedung  diserok  ke  arah  sungai.  Begitu  menyeluruh  dan tiba-tiba  sampai  penghuninya  tak  sempat menyelamatkan diri.  

Untungnya  hanya  dua  orang  yang  tercatat  sebagai korban,  yaitu  Giuseppe  Baldini  dan  istrinya,  Teresa.  Para pelayan telah keluar lebih dulu, dengan atau tanpa permisi. 

Chénier adalah pelayan pertama yang berniat kembali lebih dulu (karena. ia tak punya tempat  tinggal lain), melangkah dengan kaki terseok agak mabuk. Bisa ditebak betapa syok 
dan  runtuh  sarafnya  melihat  kejadian  ini.  

Sia-sia  saja pengorbanan hidupnya selama tiga puluh tahun, bersandar harapan  agar  suatu  hari  nanti  namanya  tercantum  dalam 
surat  warisan  Baldini  karena  si  tua  itu  tak  punya  sanak ataupun saudara. 

Kini, dalam sekali kebas, seluruh warisan 
itu  musnah  ‐  semuanya:  rumah,  bisnis,  bahan  mentah, laboratorium, Baldini  sendiri  dan  tentu  saja  surat warisan Baldini. 

Padahal  ia yakin bahwa  kelak hampir pasti  Baldiniakan menunjuknya sebagai pemilik pabrik di Saint-Antoine. 

Tak  ada  apa  pun  yang  bisa  ditemukan.  Tidak  mayat, brankas,  atau  buku  catatan  berisi  enam  ratus  formula. Hanya  satu  yang  tersisa  dari  Giuseppe  Baldini  sang pembuat  parfum  terbesar  seantero  Eropa:  aroma  parfum aneka  warna  - ada  aroma  kesturi,  kayu  manis,  cuka  apel, lavender, dan  ribuan aroma lain. Selama beberapa minggu aroma  ini  mengambang  tinggi  di  atas  sungai  Seine, membentang dari Paris sampai Le Havre.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...