DUA PULUH DUA
BALDINI MEMANDANG KEPERGIAN sang mantan murid. Ransel di punggung Grenouille bergerak melintasi jembatan ke seberang.
Tubuh itu kecil, bungkuk, mengusung ransel seperti manusia bongkok dan dari samping malah seperti orang tua. Di ujung jalan yang berkelok ke Palais de Parlement, Baldini tak bisa melihatnya lagi dan merasa amat lega.
Kini akhirnya ia mengaku bahwa ia tak pernah menyukai pemuda itu. Tak pernah merasa nyaman setiap saat bersama Grenouille di bawah satu atap sementara terus menjarah pengetahuan dan bakatnya. Ia merasa seperti seorang manusia suci yang kecipratan amal jelek untuk pertama kali, atau seperti orang yang curang saat bermain
kartu.
Memang benar bahwa resiko untuk sampai
tertangkap basah selama ini kecil sekali, apalagi prospeknya juga luar biasa, tapi kegugupan dan perasaan tak nyaman yang ditimbulkan juga sama besarnya.
Jujur saja, selama tahun-tahun belakangan ini ia selalu dihantui ketakutan bahwa suatu hari nanti ia harus membayar keterlibatannya dengan Grenouille. Semoga semua bisa
berakhir dengan baik! Begitu doanya setiap hari.
Semoga aku berhasil menggelembungkan keuntungan dari bisnis berisiko tinggi tanpa harus membayar akibatnya, Semoga aku berhasil! Yang kulakukan memang tidak benar, tapi Tuhan pasti mau memaklumi, aku yakin. Tuhan telah cukup keras menghukumku berkali‐kali di masa lalu, tanpa sebab apa pun, jadi cukup adil kalau Dia memberi keringanan untuk yang satu ini.
Coba, dosa apa yang sebenarnya kulakukan, kalau memang ada? Paling banter aku hanya beroperasi sedikit di luar peraturan Serikat Kerja Ahli Parfum dengan mengeksploitasi berkah ajaib seorang pekerja tak berpengalaman dan mengakui bakatnya sebagai milikku.
Aku hanya melenceng sedikit dari jalur
tradisional nilai-nilai serikat kerja. Yang kulakukan hari ini adalah apa yang selalu kubenci di masa lalu. Salahkah itu?
Banyak orang lain berlaku curang sepanjang hayat. Aku hanya menukil sedikit selama beberapa tahun. Itu pun hadir begitu saja di depan rumah - seperti berkah. Sebuah
peluang sekali seumur hidup yang tak mungkin kulewatkan.
Mungkin bukan semata-mata peluang, tapi
Tuhan sendiri yang mengirim penyihir itu ke rumahku, sebagai ganti hari-hari memalukan saat menghadapi Missier dan kawan-kawan.
Atau barangkali Tuhan tidak mengarahkan ini semua khusus untukku, tapi justru untuk
menghukum Pélissier! Ya, itu lebih mungkin.
Dengan cara bagaimana lagi Tuhan mampu menghukum orang itu kalau tidak dengan mengangkatku? Dari sudut pandang itu,
keberuntunganku terletak pada cara Tuhan mencapai tujuan-Nya.
Dus, tidak hanya harus kuterima, tapi juga
tanpa rasa malu dan tanpa penyesalan....
Begitulah Baldini kerap berpikir selama tahun-tahun itu. Di pagi hari saat meniti tangga turun ke toko, sore hari saat naik lagi membawa peti kas untuk menghitung koin-koin emas dan perak, dan malam hari saat ia terbaring di sisi buntal tulang yang mendengkur yang ia sebut sebagai istri...
Tapi ia sendri tak bisa tidur saking takut kehilangan harta.
Dan hari ini adalah saatnya mengenyahkan semua kecemasan itu. Tamu aneh itu telah pergi dan tak akan kembali. Tapi kekayaan yang ditinggalkan tetap jadi miliknya dan aman sampai ke masa depan.
Baldini menangkup tangan ke dada dan merasakan di balik bajunya, sebuah buku tebal terselip aman bersama detak jantung.
Enam ratus formula telah tercatat di sini. Lebih dari yang mampu diramu oleh seluruh generasi ahli parfum. Ia boleh saja kehilangan harta sekarang, tapi dengan buku ini ia bisa jadi kaya lagi dalam waktu satu tahun. Sungguh, ia tak bisa menuntut lebih dari ini!
Matahari pagi menerpa atap-atap rumah seberang jalan. Sinarnya berpendar keemasan dan terasa hangat di wajah. Baldini masih menatap ke arah selatan, ke jalan yang
menuju Palais de Parlemen ‐ menyenangkan sekali tak harus melihat tampang Grenouille lagi!
Dengan penuh rasa syukur ia memutuskan untuk berziarah ke Notre‐Dame hari ini. Di sana ia akan melempar koin emas ke dalam kotak amal, menyalakan tiga batang lilin, lalu berlutut memanjatkan puji syukur pada Tuhan yang telah memberi karunia rezeki dan menjauhkannya dari bencana.
Tapi siang hari itu juga, persis saat Baldini hendak pergi ke gereja, sesuatu yang aneh terjadi: ada kabar bahwa Inggris telah menyatakan perang terhadap Prancis.
Berita ini saja sudah sangat menggelisahkan. Terlebih lagi Baldini telah berencana mengirim produksi parfum ke London persis pada hari itu. Terpaksalah ia menunda ziarah ke Notre-Dame dan berbelok ke pusat kota untuk memastikan kabar itu lebih jauh.
Setelah itu bergegas ke pabriknya di pinggiran kota Saint-Antoine dan menunda kiriman menuju London - setidaknya untuk saat ini.
Malam itu di tempat tidur, sebelum ia lelap, mendadak ia kedatangan ide bagus. Melihat kemungkinan pecah perang dan kekerasan yang akan terjadi di seluruh koloni Dunia
Baru, ia akan meluncurkan produk parfum bertajuk 'Prestige du Quebec, sebuah parfum heroik beraroma tar, yang apabila sukses - ia yakin pasti begitu - akan
menghasilkan keuntungan yang jauh melebihi kerugian akibat pembatalan bisnis dengan Inggris.
Ide konyol ini membuatnya lega dan menelungkup nyaman di atas bantal, di atas buku kumpulan formula yang saking tebalnya sampai terasa menembus bantal.
Tapi Baldini malah merasa nyaman dan aman begitu. Maître Baldini tertidur lelap dan tidak pernah bangun lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar