Minggu, 01 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 43

★HENING★ Part 43 



" DEMI NEGARA "



Lembah Baliem Jaya wijaya, Papua
18.40

Sebuah Helikopter tampak terbang rendah di atas hutan kecil yang tak begitu jauh dari kawasan perkotaan, setelah beberapa kali melakukan refuel disejumlah titik, Helikopter bersimbol TNI AU itu rencananya akan mengirim sejumlah peralatan komunikasi ke Lanud. Lembah Baliem.

Heli tersebut masih terbang rendah meliuk-liuk mengikuti kontur pucuk pepohonan dibawahnya.

Secara tiba-tiba lampu penanda di bawah lambung Heli dimatikan, dan mengambang diatas sebuah celah pepohonan.

Sebuah tali menjulur ke bawah dan diikuti sejumlah orang menuruninya tak lama setelahnya, hanya beberapa menit berselang Heli itu kembali melambung tinggi dan kembali menyalakan lampu-lampu penanda dilambung maupun di ekornya dan melanjutkan perjalanannya ke Lanud. Lembah Baliem.

"Ayo, sebaiknya kita terus bergerak.., kontak kita mungkin sudah menunggu..",

 seru Adam pelan.

"Yah.. Ayo..", 

sahut Mahda, sementara Elang hanya mengangguk saja.

Ketiga orang tersebut langsung melanjutkan perjalanan mereka setelah Jendral Purnomo menyiasati keberangkatan mereka dengan menggunakan Heli supplier TNI AU yang direncanakan menuju ke Lanud.Lembah Baliem.

Setelah ini mereka dijadwalkan menemui kontak mereka disini didekat perbatasan kota tak jauh lagi dari Wamena.

Tak lama kemudian..

"Dimana kontak kita..?", 

tanya Mahda mendekati Adam yang sedang mengamati sekitar dari balik semak belukar tak jauh dari jalan utama di pinggiran hutan kecil yang sepi dari hiruk pikuk.

"Entahlah, seharusnya ia sudah berada disini..", 

sahut Adam.

"Ada yang datang..", 

gumam Elang menyadari sebuah truk pickup terlihat keluar dari jalan utama dan mengarah ke arah mereka, Sontak Elang dan yang lainnya segera bersembunyi.

Pick-up tersebut tak lama berhenti hanya sekitar 6 meter dari Posisi Adam dan yang lainnya, seseorang keluar dari pickup tersebut.

"Apa dia kontak kita?"! 

Bisik Mahda sembari terus memperhatikan seseorang yang keluar dari pickup tersebut.

"Tunggu dulu sebentar..", 

sahut Adam seperti ingin melihat sesuatu.

"ingat penjelasan Jendral..", 

gumam Elang kepada rekan-rekannya tersebut.

Sementara itu seseorang tadi tampak berjalan kedepan truk pickup-nya dan membuka kap mobilnya, kemudian dia membakar rokok kreteknya.

"Itu tanda kita..! Ayo, Elang.. Siaga", 

seru Adam sebagai komandan tim kecil ini.

"Aku mengerti..", 

sahut Elang mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.

Sesaat kemudian Adam dan Mahda perlahan keluar dari persembunyian mereka, sementara Elang tampak mengarahkannya ke seseorang tersebut dari balik semak belukar.

"Numpang tanya pak..?", 

Adam menyapa seseorang tersebut.

"Yah ada apa ya..?", 

sahut seseorang itu, dari wajahnya ia berumur sekitar 30 atau 32 dengan wajah lugu tak ada unsur menyeramkan sedikitpun, lebih cocok dipanggil pak tua karena garis keriput mulai memenuhi wajahnya.

"Wamena masih jauh pak?", 

tanya Adam lagi.

"Tidak jika anda bertanya dan menumpang pada saya..", 

sahut pak tua tersebut.

"Bagus, Elang.. Dia kontak kita..", 

seru Adam.

Tak lama Elang muncul melangkah mendekat sembari kembali menyimpan pistolnya.

"Wah, kalian sangat berhati-hati..", 

sahut Pak tua tersebut melihat Elang keluar dari balik semak belukar dengan pistol di tangannya.

"Yah, kami tidak punya pilihan lain.., karena ini sangat rahasia..",

 sahut Adam.

"Perkenalkan, saya Mohe.. Dan Baiklah, ayo segera ikut saya, saya yakin kalian tak punya banyak waktu.. Nanti saja basa-basinya", 

kata Pak tua tersebut yang bernama Mohe, mempersilahkan mereka menaiki truk-nya.

..........
Lanud. Lembah Baliem
19.25

Seseorang tampak berjalan keluar menuju sebuah mobil dengan sejumlah 'men in black' menjaga disekelilingnya, mobil Patroli Polisi dari kepolisian Wamena juga tampak ikut membantu mengawal seseorang itu yang tak lain adalah Mentri Pertahanan Amerika Sir Maloney.

Iring-iringan Sir Maloney yang berjumlah 3 buah sedan hitam yang di kawal oleh 2 buah sedan patroli kepolisian Wamena didepan maupun dibelakang konvoi Sir Malloney tersebut langsung meluncur menuju tempat dimana Sir Maloney akan menemui para pengusaha asal Amerika dan Australia yang kebetulan tengah ada disana dalam rangka peninjauan rutin mereka.

"30 menit lagi kita sampai pak.., para pengusaha itu juga sudah menantikan bapak..",

ucap salah satu pengawal Sir Malloney yang berada satu mobil dengannya.

"Yah, kita tepat waktu.. Setelah pertemuan ini saya ingin segera beristirahat.", 

sahut Sir Malloney.

"Baik pak..", 

jawab Pengawalnya tersebut.

........
Pentagon, Amerika Serikat..

Presiden Amerika Frank Carlton sibuk membolak balik semacam surat kabar sambil sesekali mengumpat setelah membaca beberapa berita yang menurutnya tak mengenakkan.

Sementara dihadapannya Major O'Connor tampak berdiri tegap menunggu instruksi setelah beberapa menit yang lalu ia dipanggil untuk menghadap.

"Dasar, tidak ada satupun berita yang masuk akal..", 

celoteh Pres.Frank.

"Lalu..Bagaimana Connor? Apa tim-mu sudah mendapatkan sesuatu?", 

tanya Presiden Frank Carlton sepertinya mulai bosan membaca surat kabar ditangannya.

"Negatif pak, Militer indonesia sepertinya mengetahui keberadaan tim Letnan Jones disana..", 

jawab Maj.O'Connor.

"Benarkah???
Apa kau tidak sedang melucu..?",

 tanya Pres.Frank lagi sembari meletakkan surat kabarnya.

"Tidak pak presiden, Letnan Jones sendiri yang melaporkannya..", 

jelas Maj.O'Connor tegang, ia mulai merasakan ketidaksenangan Presiden Frank atas kabar itu.

"Kalian baru di awal sudah dikalahkan oleh militer indonesia..?? Bagaimana kalau sampai salah satu dari kalian tertangkap atau bahkan mati ditangan mereka??? Itu bisa menjadi berita terburuk sepanjang sejarah..!",

 Pres.Frank mulai gusar.

"Saya mengerti pak..",

 sahut Maj.O'Connor.

"Kalau kau mengerti, lakukanlah sesuatu..!", 

sambung Pres.Frank.

"Baik pak, saya akan membereskan masalah ini segera.. Saya janji akan hal itu..", 

sahut Maj.O'Connor.

"Bagus.., lakukan apapun, gunakan cara apapun untuk membuat mereka tertekan.., sekarang pergilah dan lakukan tugasmu..",

 kata Pres.Frank kembali merebahkan tubuhnya dikursi kerjanya.

"Siap pak presiden..!",

 jawab Maj.O'Connor sambari memberi hormat dan berbalik meninggalkan ruangan Presiden Frank Carlton.

"Tidak ada jalan lain..", 

gumam Maj.O'Connor dalam hati, sepertinya ia merencanakan sesuatu.

Wamena, Papua..
19.45

Truk pick up yang ditumpangi Elang dan yang Lainnya tampak terparkir didepan sebuah motel kecil yang tak begitu jauh dari sebuah hotel yang lumayan besar meskipun jauh dari kata mewah, namun terlihat penuh dengan penjagaan dari pihak kepolisian setempat dan pihak asing.

"Target kalian mungkin akan muncul tak lama lagi di hotel itu..", 

kata Mohe sembari menunjuk dari jendela kamar motel yang mereka sewa.

"Penjagaannya cukup ketat..", 

gumam Adam.

"Sepertinya kita tak bisa membunuhnya saat pertemuan tersebut..", 

ucap Mahda menanggapi.

"Kita lakukan saat mereka selesai, tepat saat target kita beristirahat..", 

sahut Elang.

"Bagaimana kalau dengan tembakanmu..?", 

usul Mahda.

"Tidak bisa, posisi tepat untuk menembak tak begitu banyak.. Lagipula kepolisian setempat atau para pengawalnya pasti menempatkan para snipernya.., terlalu beresiko..", 

jelas Elang.

"Benar.., kita tunggu saja sambil mengamati lebih jauh..", 

sahut Adam mengangguk.

"Hey, mengapa sesulit itu? Bukankah ia target negara? Apakah tidak ada orang dalam?", 

sela Mohe bertanya.

Dari perawakannya tampak ia adalah warga setempat yang menerima intensif negara dalam jumlah besar sebagai mata-mata negara.

"Tidak, kami tak ada orang dalam karena ini misi rahasia..",

 jawab Adam.

"Jadi kepolisian dan bahkan militer di seluruh papua tak ada yang tau tentang misi kalian..???", 

tanya Mohe.

Elang tampak melirik Mohe.

"Sangat jelas tidak ada.., karena itu kami sangat berhati-hati, ini bisa menjadi boomerang apabila kami gagal..",

 jawab Mahda.

"Lalu.., apa kau punya teman disini?",

 Elang mulai bertanya balik.

"Tidak, aku bekerja sendirian.., haha, tenang saja, cuma aku yang tau tentang misi kalian, dan aku belum membocorkannya karena Jendral kalian membayar cukup besar padaku..",

 jawab Mohe tersenyum lebar.

"Jadi hanya kau yang tahu?", 

tanya Elang lagi.

"Kau yakin..", 

Elang terus bertanya.

"Aku sangat yakin..", 

jawab Mohe lagi.
Adam mulai merasakan gelagat aneh Elang tapi..

"Bagus. . ."

"Taskkk !"

Elang menembak Mohe tepat dikepalanya dengan pistol berperedamnya, Mohe tewas seketika.

" ! "

"Apa yang kau lakukan???",

 tanya Adam terkejut dengan tindakan Elang.

Sementara Mahda hanya diam berusaha untuk tenang.

"Tidak ada, aku hanya menjaga kerahasiaan misi ini.., lagipula aku tak suka dengan orang ini..", 

sahut Elang enteng.

"Apa maksudmu..? Dia mata-mata untuk kita dan negara..!", 

ucap Adam menarik kerah Elang.

"Hey sudah, Hentikan Adam..", 

Mahda kali ini bangkit mencegah kesalah pahaman Elang dan Adam.

"Negara??? Orang ini melakukannya demi uang..! Bukan negara..!", 

bentak Elang.

Sejenak Adam terdiam dan perlahan melepaskan kerah baju Elang.

"Lambat laun, ia akan membocorkannya.., ia bukan mata-mata.., ia hanya penjilat kertas yang tertulis kata 'perang'..",

 jelas Elang sembari meninggalkan Adam dan Mahda.

". . . "

"Dia itu... Sangat berbeda dengan semua orang yang pernah aku kenal..", 

gumam Adam pelan.

"dia tipe yang akan melakukan apapun demi negara, Biarkan saja.. lagi pula Insting-nya menyelamatkan kita..", sahut Mahda.

"Maksudmu?", 

tanya Adam.

"Lihat ini..", 

ucap Mahda sembari menunjukan sebuah kartu nama yang terjatuh dari kantong tubuh Mohe yang tergeletak tak bernyawa.

"Ini...?!?!", 

seru Adam terkejut.

Tampak sebuah kartu nama dengan nama seorang agen, dan yang paling penting..

Tertulis sebuah kata "CIA", yang merupakan Badan Mata-mata Amerika.

"Bagaimana sekarang?",

 tanya Adam.

"Sebaiknya kita berdoa semoga saja bajingan ini belum membocorkan misi kita ini..", 

sahut Mahda.

"Yah, semoga..."

..........
(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...