Rabu, 30 September 2020

"LAUT BIRU" CHAPTER XIV

The Friends

CHAPTER XIV

The Friends



Gedung NewsTV
07:58 WIB
H minus 26:51:00


Tita terbangun ketika tiba-tiba sebuah aroma kopi menyeruak masuk ke dalam hidungnya, dan melihat bahwa di depannya sudah tersedia segelas kopi panas, tak berapa jauh dari tempatnya meletakkan kepala untuk tidur. Tita secara otomatis mendongak dan melihat ternyata Fitri lah yang telah meletakkan gelas kopi itu di hadapannya. Baju Fitri masih sama seperti yang dia pakai kemarin dan juga kemarinnya lagi, sehingga Tita berasumsi bahwa, seperti halnya dirinya, Fitri pun tak pulang ke rumahnya semalam.

“Minumlah, segarkan diri untuk pagi ini,” kata Fitri.

“Apa aku tertidur tadi?” tanya Tita.

“Lucu, memangnya apa lagi?” balas Fitri.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Tita.

“Mengingat situasi sekarang ini, selain laporan rutin dari anak-anak di lapangan, sepertinya belum,” kata Fitri,

“meskipun ada berita bahwa semalam ada yang mendengar gemuruh pesawat lewat di atas Jawa Barat; bukan pesawat, tapi seperti beberapa helikopter yang terbang secara bersamaan,”

“Ya, aku tahu, Biro Bandung memberitahukan soal detailnya semalam, dan langsung kuteruskan pada siapa pun reporter atau koresponden kita di selatan,” kata Tita,

“dari arahnya sepertinya helikopter itu menuju ke selatan,”

“Menurutmu aneh?” tanya Fitri.

“Menurutmu sendiri bagaimana?” tanya Tita.

“Minum aja dulu kopinya,” kata Fitri.

Tita mengangguk, kemudian meneguk kopi panas itu, yang langsung membuat tenggorokannya menghangat. Dia tidak tahu jam berapa dia mulai tidur semalam atau bagaimana prosesnya sehingga bisa seperti itu, beberapa kejadian semalam sepertinya lewat begitu saja di pikirannya tanpa sempat mampir. Beberapa pesan dari Fendy, suaminya, terlihat memenuhi ponselnya, sehingga Tita pun menyempatkan untuk membaca dan membalasnya sejenak. Sudah beberapa hari dia tidak pulang, wajar apabila suaminya mulai khawatir.

“Ada kabar dari Andini? Di mana dia sekarang?” tanya Tita.

“Kau lupa? Andini sudah minta izin untuk liputan keluar semalam, itu setelah dia selesai mengoordinasikan semua reporter yang datang,” kata Fitri,

“kita sudah mengerahkan semua orang yang kita punya, lebih dari event apa pun yang pernah ada, dan baru terasa bahwa semua masih kurang,”

“Ya, tapi kita tetap masih punya yang paling banyak,” kata Tita,

“untunglah Andini bisa melakukan semuanya dengan baik,”

“Lebih dari itu, kalian harus belajar untuk saling memercayai,” kata Fitri.

“Aku percaya padanya,” kata Tita,

“kuharap dia juga begitu,”

“Setelah semua kejadian ini, tak ada yang akan meragukanmu lagi,” kata Fitri sambil tersenyum dan menepuk bahu Tita.


Depan Kedutaan Besar Australia
08:01 WIB
H minus 26:49:00


Pagi ini masih cukup sepi, kecuali dari hiruk pikuk orang yang mulai masuk kerja di kawasan Kuningan, Jakarta. Kegegeran yang terjadi di sisi lain di kota ini nyaris tak dirasakan di titik ini. Ini karena berita heboh dalam beberapa hari terakhir masih dianggap sekadar sebuah berita, dan bukan jadi sesuatu yang harus mengganggu rutinitas manusia.

Andini kembali ke salah satu mobil peliputan yang ada di dekat gang masuk, di seberang gedung Kedutaan Besar Australia. Dia meletakkan cangkir berisi sikat gigi, pasta gigi, dan juga sabun muka, sepertinya baru saja melakukan perawatan pagi. Di mobil peliputan itu, salah seorang kameramen NewsTV bernama Ahmad, salah seorang kameramen yang termasuk kawakan, masih memeriksa kameranya. Dari raut mukanya, ada sesuatu yang ingin Ahmad sampaikan pada Andini, tapi dia tidak berani mengatakannya. Itu hingga akhirnya Andini mengajaknya berbicara.

“Ada kejadian, Pak Ahmad?” tanya Andini.

“Nggak ada, Ndin,” jawab Ahmad.

Andini memang memanggil Ahmad dengan sebutan “Pak”, karena selain lebih senior, usianya pun juga jauh di atas Andini.

“Tapi aku heran, Ndin,” kata Ahmad.

“Heran soal apa, Pak?” tanya Andini.

“Reporter lain dari Banten, dari Bandung, semua kamu tempatin di titik-titik strategis, ada yang di Istana, ada yang di Kemenhan, di Markas Komando, di DPR,” kata Ahmad,

“terus ngapain kita malah ada di sini?”

Andini pun mengangkat bahunya.

“Menunggu,” kata Andini.

“Menunggu apa?” tanya Ahmad.

“Kadang-kadang reporter harus menuruti nalurinya,” kata Andini.

“Kalau kamu kayak si Prita, mungkin saya percaya,” kata Ahmad.

“Percaya aja deh, Pak, saya koq merasa bakal ada sesuatu yang terjadi di sini,” kata Andini.

“Seberapa percayanya?” tanya Ahmad.

“Jangan diyakinin dulu deh,” kata Andini,

“pokoknya tahu aja,”

Ahmad pun hanya menggeleng saja. Dia pernah beberapa kali bertugas dengan Andini, namun baru kali ini Andini membawanya tanpa sebuah arahan yang pasti, hanya berdasar firasat Andini semata. Bahkan seingatnya pula, baru kali ini Andini bertindak senekat ini.

“Ada kabar dari Pak Anton?” tanya Ahmad mengalihkan topik pembicaraan.

“Sejauh ini belum, kuharap nggak ada apa-apa,” kata Andini,

“tapi jujur saja perasaan saya nggak enak,”

“Semoga semua berjalan baik, soalnya saya dulu ngeliput kecelakaan yang ngelibatin istrinya Pak Anton yang pertama,” kata Ahmad,

“wajar saja kalau sekarang beliau pergi, siapa yang ingin kehilangan istri buat kedua kali, apalagi Lucia teman kita juga,”

“Ya, kita semua pasti nggak pengin kehilangan Lucia,” kata Andini.

Andini dan Ahmad kemudian diam. Seperti halnya reporter NewsTV lain di bawah Anton, Andini pun menyukai bosnya itu, yang memang merupakan salah satu bos paling asyik. Ditambah lagi Lucia adalah teman Andini sejak lama, sehingga kehilangan Anton dan Lucia jelas amat dirasakan oleh Andini. Sejenak suasana menjadi hening sebelum akhirnya sebuah suara gemuruh merusak keheningan pagi itu.

Sontak saja Andini berlari keluar dari gang menuju ke jalan besar, dan melihat dua buah APR-3 Anoa baru saja masuk dan berhenti tak beberapa jauh dari Kedutaan Besar Australia. Belum hilang keterkejutannya, beberapa truk Reo pun muncul dan prajurit-prajurit yang dibawa oleh kendaraan-kendaraan tersebut segera berhamburan keluar, masing-masing menyandang ransel dan senapan SS-1. Khusus bagi yang keluar dari Anoa, menyandang senapan jenis SS-2. Ini masih diikuti dengan beberapa mobil jeep CPM yang juga datang dan langsung turun, bedanya kali ini CPM turun untuk mengatur lalu lintas yang agak tersendat gara-gara kedatangan rombongan tentara itu.

“Apakah itu…” kata Ahmad sambil melihat Andini. Bertanya-tanya apakah hal ini yang tengah dinantikan oleh Andini.

Dan Andini pun tampak sama terkejutnya dengan Ahmad. Secara refleks Ahmad pun menyalakan kamera dan langsung merekam semua kehebohan yang terjadi. Sementara itu, para tentara bersiap di posisinya, yang menurut Andini, lebih terlihat seperti tengah mengepung Kedutaan Besar Australia. Aparat keamanan kedutaan pun tampak agak kaget juga dengan kedatangan pasukan ini, tapi mereka tetap bersikap tenang dan waspada. Salah seorang perwira, sepertinya pemimpin dari pasukan kecil ini, turun dari jeep yang lain, lalu segera berjalan mendekati apa yang terlihat sebagai kepala keamanan dari kedutaan. Mereka tampak berbincang-bincang. Semuanya memasang posisi siaga, seolah-olah mengantisipasi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Hal ini tak luput dari incaran kamera para tim peliputan NewsTV ini.

“Dapat?” tanya Andini.

“Ya, entah apa yang terjadi, firasatmu yang benar atau cuman kebetulan,” kata Ahmad,

“tapi ini bisa masuk ke berita,”

“Kenapa mereka mengepung kedutaan besar Australia?” tanya Andini.

“Entahlah, coba beri tahu saya,” kata Ahmad, 

“kamu yang bawa kita semua ke sini,”

Andini diam saja, lalu mereka berdua segera keluar ke jalan untuk meliput kehebohan yang terjadi ini. Baru saja mereka keluar, malangnya seorang tentara melihat mereka, dan dengan menenteng senjata, dia segera mendekati Andini dan Ahmad.

“Waduh, Pak Ahmad, gimana ini?” tanya Andini.

“Tenang aja, Ndin, dia nggak bisa apa-apa, kita udah di sini duluan, lagian nggak ada tanda-tanda,” kata Ahmad.

Tentara itu semakin mendekat.

“Jangan merekam! Serahkan kameranya!” kata si tentara.

“Pak, kami sudah di sini dari tadi, Pak,” jawab Ahmad.

“Jangan banyak alasan! Serahkan kameranya atau saya pakai kekerasan!” kata si tentara.

Andini dan Ahmad bergeming, dan kontan saja beberapa saat kemudian terjadi keributan kecil. Si tentara berusaha mengambil kamera Ahmad sementara Ahmad mempertahankannya. Andini berusaha membantu Ahmad, tapi tenaga si tentara cukup kuat. Dengan sekali kibas, tubuh Andini terlempar ke belakang hingga dia hampir jatuh.

Keributan ini sontak menarik perhatian dari komandan yang tengah berbincang dengan kepala aparat keamanan kedutaan. Dia pun segera berlari dengan diikuti oleh para CPM.

“Pak, tolong pak!” kata Andini begitu melihat si komandan datang.

“Berhenti! Ada apa ini!?” tanya si komandan.

Tentara itu berhenti kemudian memberi hormat.

“Siap, lapor, mereka melakukan perekaman, Pak!” kata si tentara.

Si komandan melihat ke arah Andini dan Ahmad yang untuk saat ini berhasil mempertahankan kameranya.

“Terus kamu ngapain?” tanya si komandan.

“Siap, saya berusaha bilang kepada mereka buat tidak merekam, Pak!” jawab si tentara.

“Apa ada dalam perintah kita yang bilang bahwa pers tidak boleh melakukan perekaman?” tanya si komandan.

Tentara itu terdiam saja.

“Siap, tidak ada, Pak!” jawab si tentara.

“Kalau begitu jangan overacting kamu!” kata si komandan.

PLAKK!!

Si komandan pun menempeleng anggotanya di hadapan semua orang yang ada di situ. Bahkan Andini dan Ahmad pun terkejut melihatnya.

“Musuh kita bukan mereka, Prajurit! Ngerti kamu?” kata si komandan.

“Siap, mengerti, Pak!” kata si tentara masih dengan sikap tegap, tapi pipinya tampak memerah.

“Tetap pada perintah, jangan bikin perintah sendiri,” kata si komandan.

“Siap, Pak!” kata si tentara.

Komandan pun lalu bergerak maju, hendak kembali ke kedutaan. Andini, melihat sikap si komandan tadi, akhirnya memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya.

“Komandan! Ada pernyataan? Kenapa semua tentara ini ada di sini?” tanya Andini.

“Tidak ada komentar, Nona,” jawab si komandan tegas,

“bukan wewenang saya untuk menjawab,”

“Kalau begitu siapa yang berwenang untuk semua ini?” tanya Andini.

“Dengar, Nona, silakan kalian melakukan tugas kalian, karena dari awal tak ada perintah mengenai pers,” kata si komandan,

“tapi jangan mengganggu tugas kami, dan bila perintahnya berubah, kami ingin kalian segera pergi dari sini, mengerti?”

Andini terdiam, dan si komandan meninggalkannya. Ia pun langsung kembali kepada Ahmad yang masih merekam.

“Bagaimana?” tanya Ahmad.

“Kita diizinkan untuk tetap di sini, sampai setidaknya perintah berubah,” kata Andini.

“Kita beri tahu pada kantor?” tanya Ahmad.

“Tentu saja,” kata Andini.

Sementara itu…


Samudera Indonesia
08.36 WIB
H minus 26:14:00


KRI Yos Sudarso (201), merupakan proyek kapal perusak pertama buatan Indonesia. Semenjak Presiden Abubakar Zakaria mengambil alih tampuk kepemerintahan, kebijakannya adalah untuk memperkuat dan memodernisasi TNI, namun khusus untuk TNI-AL, dia mensyaratkan pembangunan kapal secara domestik, yang artinya kapal-kapal tempur impor milik TNI-AL setahap demi setahap akan digantikan oleh kapal buatan dalam negeri dengan kualitas yang setara. Kebijakan ini dipegang teguh bahkan oleh penggantinya, yaitu Hariman Chaidir, sehingga modernisasi kekuatan TNI-AL terus berjalan secara berkesinambungan.

Tahap awal dari modernisasi ini adalah korvet-korvet nasional kelas Douwess-Dekker yang direncanakan untuk menggantikan korvet Parchim eks Jerman Timur dan korvet latih kelas RA Kartini untuk menggantikan KRI Ki Hadjar Dewantara. Tahap kedua adalah mensuplemen korvet SIGMA dari kelas Diponegoro dengan korvet kelas Keumalahayati, sementara tahap ketiga adalah memakai korvet berat (large corvette) kelas SIGMA-PAL (alias kelas Martha Christina Tiahahu) untuk menggantikan fregat kelas Ahmad Yani (ex-Van Speijk). Nah, pembangunan kapal perusak kelas Yos Sudarso adalah tahap keempat, yang mana dengan kapal ini Indonesia akan kembali ke jajaran elite dari segelintir negara Asia yang memiliki kapal perusak. Terakhir kali Indonesia memiliki kelas perusak adalah pada era-1960-an, yaitu saat memiliki kapal perusak kelas Skory dari Uni Soviet.

Diaktifkannya kembali satuan kapal perusak (nomor lambung kepala 2) jelas cukup menyita perhatian baik secara internal maupun eksternal. Bahkan karena kapal jenis ini belum ada padanannya dalam struktur TNI sekarang, maka sepanjang pembuatannya mulai dari perencanaan, proyek ini sudah menjadi sasaran tembak, baik dari DPR yang mempermasalahkan soal anggaran dan efektivitas kegunaan, hingga LSM-LSM yang mengkhawatirkan kapal ini akan dipakai sebagai sarana pelanggaran HAM. Inilah yang menyebabkan proyek kapal perusak molor lebih lama daripada proyek Antasena, yang notabene lebih bisa diterima karena merupakan kapal selam 100% buatan dalam negeri pertama.

Secara umum, kapal perusak kelas Yos Sudarso dibuat berdasarkan lambung kapal perusak milik AL AS dari kelas Spruance. Panjangnya 520 kaki dengan bobot pemindahan mencapai lebih dari 8.400 ton. Senjatanya berupa meriam OTO-Breda 6 inci dalam konfigurasi double-turret di bagian depan, VLS 50 sel di haluan untuk menembakkan rudal RAK-V3 yang tengah diuji juga oleh KRI Antasena, 8 peluncur rudal antipesawat Mistral, 8 peluncur rudal antikapal NC-802, 2 buah sistem CIWS Kashtan, 2x6 peluncur torpedo AEG SUT Mark XIV, kanon sekunder ZIF-72 57mm, dan tambahan 64 sel VLS di buritan. Masih ditambah pula dengan hanggar untuk menampung dua helikopter kelas NAS-555 SN Fennec 2. Namun kesaktian dari kapal kelas Yos Sudarso ini adalah kemampuan untuk mengadopsi sistem MANDALA dan KALIMASADA yang lebih mumpuni; bahkan kapal ini diproyeksikan sebagai pusat komando bagi kedua sistem ini dalam skema penyerangan armada, sementara korvet SIGMA-PAL (kelas Christina Martha Tiahahu) akan mengambil fungsi sentral pertahanan bawah air.

Latar belakang dari dibuatnya kapal perusak ini adalah kebutuhan untuk melakukan pelayaran darurat langsung, tak hanya dari Sabang ke Merauke, namun dengan dimulainya skala operasi niaga Indonesia hingga mencapai benua terjauh, pengamanan atas konvoi niaga pada perairan-perairan rawan perompakan pun menjadi amat penting. Kasus dari pembajakan kapal MV Sinar Kudus menjadi pelajaran bahwa Indonesia pun ternyata memerlukan pula kapal perang ocean-going yang harus bisa dikerahkan ke semua titik bahaya di seluruh dunia dalam waktu singkat. Ini terutama diperlukan bagi Indonesia untuk mengawal kepentingannya di Samudera Hindia, yang mana ini pun memacu persaingan hegemoni dengan India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Prancis. Dalam dokumen rapat kabinet rahasia, bahkan ditentukan pula bahwa tujuan ke depannya adalah Indonesia harus punya kemampuan mandiri untuk mengamankan kepentingannya pada 4 perairan internasional, yaitu Laut Cina Selatan, Laut Andaman, Samudera Indonesia, dan Pasifik Barat Daya.

“Jadi kau pikir itu adalah KRI Yos Sudarso?” tanya Prita pada Anton setelah mendengar penjelasannya.

“Ya, begitulah, sedikit banyak,” kata Anton,

“aku tak bisa memikirkan big guy yang lain, dan sejujurnya aku berharap semoga sebenarnya KRI Yos Sudarso sudah selesai, hanya masih disembunyikan,”

“Tapi malah ini yang datang?” tanya Prita.

“Ya, ini yang datang,” kata Anton, 

“tidak tepat seperti keinginanku, tapi boleh juga,”

Anton dan Prita pun melemparkan pandangan ke luar dari jendela. Terlihat di hadapan mereka, membentang di tengah lanskap lautan yang membiru terkena matahari pagi, adalah gugus tugas dari KRI Keumalahayati yang akhirnya sudah tiba untuk memberikan bantuan. Namun turut bersama mereka, ada dua kapal perang lain yang memakai corak warna berbeda, dan dari ukurannya pun cukup mencolok. Lebih mencolok lagi adalah pemakaian ular-ular perang milik AL Republik Federasi Russia pada haluan kedua kapal perang tersebut.

Ya, kedua kapal perang Russia itu adalah kapal perang yang dikomandani oleh Kpt-1. Yevgeny Chugainov, yaitu perusak kelas Udaloy, RFS Malatinsky, dan fregat kelas Neustrashimiyy, RFS Andrei Nikolov. Kedua kapal Russia ini sebelum ini telah berada di pangkalan aju Pelabuhan Ratu untuk “sedikit penyesuaian sistem”, kemudian bergabung dengan gugus tempur KRI Keumalahayati yang sudah berasa di sana. Maksud sebenarnya dari kedatangan dua raksasa Russia ini ke titik panas ini, baik Anton maupun Kapt. Kadek masih belum mengetahuinya. Tapi yang pasti, ini memberikan tekanan yang hebat bagi Armada Australia pimpinan Cdr. Lesley van Huydt. Bukan karena bahwa dua kapal perang Russia ini bersenjata jauh lebih lengkap daripada kapal-kapal perang Indonesia di sekelilingnya, namun tekanan jatuh pada efek politis apabila pecah perseteruan antara Australia dan Indonesia di titik itu dengan kapal-kapal Russia berada di sekitarnya.

“Kenken kabare, Kapten Kadek?” tanya Letkol Niken Listyani, komandan dari gugus tempur KRI Keumalahayati.

“Siap, becik, Letkol!” jawab Kapt. Kadek.

“Sudah tidak corah lagi?” tanya Letkol Niken.

“Sekarang sudah becik,” jawab Kapt. Kadek.

“Ada kawan yang mau dan harus ikut ke sini,” kata Letkol Niken,

“kawan kita dari jauh,”

“Siap, Letkol!” jawab Kapt. Kadek.

“Mungkin kawan kita mau perkenalkan diri dulu,” kata Letkol Niken,

“go ahead, Kamerad,”

Sesaat terdengar suara statik sejenak, dan suara Kpt-1 Chugainov pun mulai terdengar. Dia bicara di saluran radio umum, sehingga baik pihak Indonesia maupun Australia bisa mendengar apa yang akan dia katakan.

“Di sini Captain 1st Rank Yevgeny Alekseyevich Chugainov, saya datang atas nama Voyenno-Morskoy Flot Rossii (AL Russia) mewakili pemerintahan Republik Federasi Russia,” kata Kpt-1. Chugainov, 

“kami datang secara resmi atas undangan dari pemerintah Republik Indonesia untuk membantu pencarian di tempat ini; dan saya peringatkan bahwa setiap serangan yang ditujukan ke arah kami, akan dianggap sama saja dengan pernyataan perang terhadap Republik Federasi Russia,”

Semua kelasi di KRI Ternate pun berteriak-teriak, mengelu-elukan kedatangan “Kawan Russia” yang seolah bagaikan pasukan kavaleri penyelamat. Anton dan Prita pun turut pula tersenyum senang, tapi bagi Anton, ada satu hal yang masih mengganjal. Apabila benar Australia menyerang dan Russia membalas dengan menyatakan perang, maka Amerika Serikat pasti tak akan tinggal diam, dan ini akan menggiring semua negara di antara poros Barat-Timur-Selatan ke dalam perang yang amat besar!

“Salam, Kapten Kadek, saya yakin Anda cukup lega dengan kedatangan kami,” kata Kpt-1. Chugainov kepada Kapt. Kadek.

“Tentu saja, Kamerad Kapten,” kata Kapt. Kadek.

“Baiklah, tapi jangan senang dulu, kita masih jauh dari sukses,” kata Kpt-1. Chugainov,

 “ada tugas yang harus kita kerjakan, dan saya yakin waktu yang kita miliki sudah tak terlalu banyak lagi,”

“Ya, Kamerad Kapten, lalu bagaimana prosedur selanjutnya? Kami sudah hampir putus asa mencari kapal siluman sialan itu,” kata Kapt. Kadek,

“semua sensor dan sonar kami mandul di hadapannya,”

“Ya, Kapten, saya mengerti, dan soal ini, sebaiknya saya serahkan kepada orang lain yang lebih ahli,” kata Kpt-1. Chugainov,

“silakan selanjutnya dibicarakan dengannya,”

“Siap, Kamerad Kapten,” kata Kapten Kadek.

Antusiasme di sisi Indonesia disikapi dengan kebingungan di sisi yang berseberangan. Semua perwira pada Armada Australia tampak amat resah dan kebingungan akibat kedatangan kapal-kapal Russia. Menghadapi Indonesia adalah satu hal, tapi menyatakan perang pula dengan Russia adalah hal yang lain. Russia sekarang sudah hampir menyamai Russia dulu pada zaman keemasan Uni Soviet. Sekalipun antara Russia dan Australia berada pada sisi kutub yang berbeda, Russia memiliki kemampuan untuk membawa api peperangan ke benua Australia, dan dengan Indonesia berada pada sisi Russia, ancaman bahaya itu semakin besar.

“Bagaimana ini, Commodore?” tanya Lt. Com. McGraws.

“Tetap tenang, tetap pada kesiagaan kita yang semula, dan segera beri tahu Canberra soal ini,” kata Cdr. Lesley van Huydt.

“Siap, Pak!” kata Lt. Com. McGraws.

Meskipun terlihat cukup tenang, kekhawatiran pun sejatinya menggerogoti Cdr. van Huydt hingga ke tulang-tulangnya. Jika sekali ini dia salah langkah, dia bisa saja menyulut Perang Dunia Ketiga. Permasalahannya adalah, dan ini juga yang dikhawatirkan oleh Cdr. van Huydt, bagaimana jika perintah untuk berperang justru muncul dari jajaran elite, dari Canberra? Cdr. van Huydt hanya menghela napas panjang, tak berani memikirkan konsekuensinya.



Samudera Indonesia

Kedalaman 200 meter

08.39 WIB

H minus 26:11:00



“Jelaskan lagi,” kata Laksma. Mahan,

“jadi kalian sudah berhasil?”

“Secara garis besar, sudah, Kep,” kata Sers. Andre,

“kami sudah dalam tahap akhir untuk mengaktifkan kembali peralatan sonar aktif; ini berkat Saudara Reza dan Nona Lucia,”

“Saya hanya membantu sedikit, Laksamana,” kata Reza merendah.

“Apa pun, ini adalah kabar yang amat baik,” kata Laksma. Mahan,

“kapan kita bisa mengaktifkannya?”

“Kami berusaha menyambungkan semuanya secepat mungkin, Kep,” kata Sers. Andre.

“Bagus, bagus sekali,” kata Laksma. Mahan.

Laksma. Mahan lalu terduduk sejenak, dan kini dia merasa napasnya agak sesak. Dia melihat ke semua orang yang ada di sana, termasuk Lucia, dan juga Reza. Berita ini jelas amat menggembirakan, tapi tetap tak menutupi fakta bahwa cadangan udara di kapal selam ini hanya cukup untuk sekitar sehari lagi, dan itu artinya kemajuan ini tidak boleh lagi diperlambat.

“Semua harapan kini tergantung pada kalian,” kata Laksma. Mahan.

“Siap, Kep, kami tahu,” jawab Sers. Andre.

“Dan Nona Lucia, seberapa bahagianya berita ini pun, saya tidak ingin Anda memberitahukan kepada semua orang dengan terlalu berlebihan,” kata Laksma. Mahan,"

“jalan menuju kesuksesan masih panjang, dan kegagalan bisa mengintai setiap saat,”

“Saya mengerti, Laksamana,” kata Lucia.

“Dan kalau semua ini gagal dan memang kita harus mati,” kata Laksma. Mahan,

“maka saya akan memastikan kita semua mendapatkan kematian yang cepat, tanpa rasa sakit,”

Semua orang hanya diam saja mendengar kalimat yang suram ini. Sesukses apa pun mereka saat ini, tak akan ada artinya bila ternyata pada akhirnya peralatan itu tidak berfungsi, dan kemungkinan ke arah sana pun masih terbuka lebar.

“Silakan bubar,” kata Laksma. Mahan.

“Terima kasih, Kep,” kata ketiga orang itu.

Lucia, Reza, dan Sers. Andre pun segera meninggalkan ruangan Laksma. Mahan. Suasana kapal selam yang sudah suram pun menjadi amat kelabu, dan Lucia pun penasaran bisakah menjadi lebih kelam lagi seiring dengan berjalannya waktu? Makanan sudah tidak lagi dihidangkan, karena para kelasi juga sudah tidak berselera untuk makan, hanya minum saja untuk menyegarkan diri dari suasana yang semakin menyesakkan.

“Aku mau ke kabin sebentar,” kata Lucia,

“kalian langsung ke anjungan?”

“Ya, nggak boleh buang waktu lagi sekarang,” kata Sers. Andre.

“Doakan kami aja ya, Mbak,” kata Reza.

“Semoga sukses,” kata Lucia, “aku nyusul nanti,"

Lucia pun berpisah jalan dengan Reza dan Sers. Andre. Keberhasilan mereka mengisolasi pola penyaring dari kunci sonar secara signifikan mengangkat semangat mereka dan kini mereka seolah ingin terus bekerja tanpa henti. Ini tentu saja bagus, karena semakin cepat mereka selesai semakin baik. Udara hanya akan bertahan sehari semalam lagi, dan kemungkinan semua orang sudah akan mati beberapa jam sebelum udara benar-benar habis. Untuk itu, Lucia benar-benar berdoa semoga mereka diberikan jalan keberhasilan. Dia melambai kecil kepada mereka sebelum berbalik ke kabin.

Sesampainya ke kabin, Lucia agak terkejut karena di sana ada Ridwan Juhari yang tengah berbincang-bincang dengan Erika dan Iwan. Iwan sudah beberapa waktu ini hanya berbaring saja, karena kepalanya sering sakit, mungkin akibat efek benturan yang diterimanya pada saat KRI Antasena diserang oleh HMAS Pitcairn.

“Maaf, ternyata ada Pak Ridwan di sini,” kata Lucia.

“Silakan saja, maaf saya di sini cuman mencari temen ngobrol, kebetulan bisa bicara dengan adik Erika dan adik Iwan,” kata Ridwan Juhari,

“saya jadi kagum dengan cerita-cerita kalian sebagai wartawan; kedengarannya koq mengasyikkan,”

“Memangnya di Komisi I nggak mengasyikkan, Pak?” tanya Lucia.

“Saya cuman analis dan staf ahli, ya tugas saya ya cuman meriksa dokumen ama cari referensi, pokoknya buat amunisi bagi anggota Komisi I,” kata Ridwan Juhari,

“Nyaris 100% soal studi pustaka aja, nggak pernah wara-wiri ke sana kemari,”

“Kalau emang Pak Ridwan cuman studi pustaka ama kasih masukan, masukannya juga yang bener dong, Pak, masak ada fakta-fakta yang salah bisa diungkapin di Komisi?” kata Lucia,

“kasihan kita jadinya, ama masyarakat sering dituduh wartawannya pada bodrek, padahal yang kita tulis kadang udah otentik-letterlijk,”

“Hahaha… Soal itu kadang saya juga gemas koq,” kata Ridwan Juhari,

“masih banyak anggota Komisi I yang belum bisa baca data ama laporan ternyata, tapi ini off-the-record aja lho, ya, kalau tiba-tiba dimasukin News Break mati saya,”

“Off-the-record, janji deh,” kata Erika, 

“iya kan, Mbak?”

Lucia hanya mengangguk saja.

“Jadi, Nona Lucia, ada kabar apa di anjungan? Dari beberapa lama saya perhatikan kamu di anjungan terus,” kata Ridwan Juhari.

“Kabarnya lumayan baik,” kata Lucia,

“bila nggak ada aral melintang, dalam waktu dekat ini kita sudah bakal bisa perbaiki alat sonar, jadi kita bisa kasih sinyal misal di atas ada kapal,”

“Wah, jadi kita bakal cepat ditolong, dong!” kata Erika bersemangat.

“Jangan seneng dulu, nggak semudah itu juga,” kata Lucia, 

“kita cuman bisa memberi tahu, soal penyelamatan, tergantung siapa yang nangkep sinyal kita ntar,”

“Ya, aku tahu soal itu, soalnya kalau nggak salah untuk mencapai kedalaman kita, kudu pake alat yang RV… apa itu?” tanya Ridwan Juhari.

“DSRV,” kata Lucia.

“Ya, benar itu,” kata Ridwan Juhari.

“Katanya analis, koq nggak tahu, Pak?” goda Lucia.

“Nggak begitu paham soal kapal selam, Non,” jawab Ridwan Juhari,

“saya lebih paham soal kapal permukaan, tapi nggak ada lagi analis di Komisi I yang paham soal matra laut, ya cuman saya yang paling deket, makanya saya ikut,”

“Bener nih, Pak?” sindir Lucia lagi.

“Boleh samber petir deh,” kata Ridwan Juhari.

“Bapak ini lucu,” tukas Erika, “mana ada petir di kapal selam?”

Semua orang pun tertawa.

“Kamu sendiri sepertinya cukup menguasai soal alutsista, Nona?” Ridwan Juhari balik bertanya.

“Iya, suami saya penggemar kemiliteran, terutama matra laut, jadi saya lumayan tahu banyak,” kata Lucia.

“Oh, begitu rupanya,” kata Ridwan Juhari,

“sudah lama menikahnya?”

“Baru sebenarnya,” kata Lucia,

“ini penugasan pertama saya setelah cuti nikah,”

“Wah, masih hangat-hangatnya berarti,” kata Ridwan Juhari,

“ya, semoga saja semua usaha kita berhasil dan kita bisa keluar dari sini,”

“Amin, Pak,” jawab Lucia, yang juga diamini oleh semua orang.


Bina Graha

09.01 WIB

H minus 25:50:00



Suasana yang sibuk pun kembali menjadi semakin sibuk, dan Arfa mulai kalang kabut mengoordinasikan semuanya. Fakta bahwa ada kapal Russia di ground zero cukup melegakan bagi Arfa, namun juga sekaligus khawatir. Lega karena berarti Australia tak akan macam-macam untuk sementara waktu, tapi juga khawatir, karena bila ternyata Australia berani bertindak, ini akan memicu Perang Dunia III, dan perang adalah hal terakhir yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Arfa pun berdoa semoga saja waktu yang dibutuhkan selama Australia masih ragu bertindak bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menemukan KRI Antasena secepatnya.

“Bagaimana dengan duta besar kita untuk Australia? Apakah sudah ditarik kembali?” tanya Arfa.

“Belum,” kata seorang staf,

“sepertinya tak mungkin, karena aparat Australia juga sudah mengepung kedutaan besar kita di Canberra; ada himbauan dari pemerintah Australia agar semua warga negara Australia di Indonesia segera meninggalkan Indonesia dengan segera memakai pesawat pertama yang bisa didapatkan; kita belum mengeluarkan peringatan serupa kepada warga negara Indonesia di Australia,”

“Ada banyak warga negara Indonesia di Australia, dan begitu pula sebaliknya,” kata Arfa,

“mengevakuasi semuanya dalam tempo singkat hanya akan menjadi sebuah mimpi buruk; bila keadaan memburuk, kita terpaksa harus meninggalkan beberapa orang yang belum sempat dievakuasi,”

“Maskapai Qantas mengalihkan semua penerbangan yang menuju ke Indonesia, beberapa rute tujuan Indonesia juga ditutup, Garuda Indonesia pagi ini juga sudah melakukan hal yang serupa,” kata si staf,

“tapi beberapa pesawat milik Garuda Indonesia masih ada di Australia, bersiap untuk melakukan evakuasi besar-besaran hingga saat-saat terakhir,”

“Perang belum diumumkan dan keadaan sudah menjadi tak terkendali, rasanya sudah tak ada gunanya kita menutupi semuanya,” kata Arfa,

“tapi Presiden belum ingin mengeluarkan pernyataan resmi sebagai sikap bangsa, terus pantau semua keadaan,”

“Siap, Bu,” kata staf itu.

“Dan pantau juga situasi keamanan di kedutaan besar Australia,” kata Arfa,

“aku tak peduli bila ada yang melakukan sesuatu saat perang sudah pecah, tapi sebelum itu, mereka tetap menjadi tanggung jawab kita,”

“Siap, dimengerti,” kata staf itu lagi.

Seorang ajudan kemudian dengan buru-buru mendekati Arfa. Dia pun menghormat begitu sampai di depan Arfa.

“Bagaimana?” tanya Arfa.

“Kami sudah menyiapkan koneksi aman untuk telekonferensi dengan KRI Ternate dan RFS Malatinsky,” kata si ajudan.

“Kau yakin sudah aman? Sudah diperiksa dua atau tiga kali?” tanya Arfa.

“Siap, sudah aman,” kata si ajudan.

“Bagus, aku akan ke sana,” kata Arfa,

“dan bagaimana dengan pemantauan atas komunikasi antara London-Canberra-Washington?”

“Siap, masih dilaksanakan, banyak sekali kawat diplomatik yang terjadi pada komunikasi antara ketiga arah, beberapa di antaranya terenkripsi,” kata si ajudan.

“Dekripsikan semua materi yang terenkripsi, aku tak peduli bagaimana caranya, tapi lakukan secepat mungkin, dan beri tahu aku bila ada sesuatu,” kata Arfa.

“Siap, laksanakan!” kata si ajudan.

Arfa pun kemudian berjalan ke sebuah ruangan yang memiliki beberapa layar LCD berukuran besar. Ruangan ini biasa dipakai apabila Presiden ingin melakukan telewicara pada beberapa pejabat di seluruh Indonesia, atau pun dengan pemimpin negara sahabat. Tapi kini Arfa akan menggunakannya untuk melakukan koordinasi penyelamatan atas KRI Antasena. Sam sudah ada di sana, dan sepertinya semua staf operator tinggal menunggu kedatangan Arfa saja.

“Bagaimana, Sam?” tanya Arfa.

“Semua sudah siap, Nn. Aryanti,” kata Sam.

“Bagus, mulai sambungkan,” kata Arfa,

“tapi sebelumnya aku ingatkan sekali lagi bahwa kalian semua yang ada di sini sudah disumpah untuk tak mengatakan apa pun atas apa yang kalian dengar,”

Semua staf mengangguk, kemudian langsung mulai sibuk bekerja, dan dua layar LCD besar di hadapan Arfa segera menyala. Salah satunya menunjukkan suasana di anjungan KRI Ternate, sementara satu lagi menunjukkan suasana anjungan di RFS Malatinsky.

“Saya Arfa Aryanti, kepala staf pertahanan kepresidenan. Silakan berbicara, Kamerad, ini adalah sambungan aman, tidak akan bisa dilacak sehingga kita semua bisa bicara dengan nyaman,” kata Arfa,

“bersama saya di sini adalah Dr. Sam Nurzaman, yang merupakan asisten Dr. Anatoly Sedorenkov di Indonesia; sementara di KRI Ternate ada Tuan Anton, dia perwakilan saya di sana,”

“Baiklah, nama saya adalah Dr. Vyacheslav Vorobyov, saya rekan kerja Dr. Anatoly Sedorenkov dalam mengembangkan kesisteman kapal selam dan pelacaknya di Russia, saya meneruskan pekerjaan Dr. Sedorenkov di Russia setelah beliau memutuskan untuk pergi ke Indonesia; sebenarnya akan lebih baik bila beliau sendiri yang hadir,” kata Dr. Vorobyov dari RFS Malatinsky.

“Sayangnya karena satu dan lain hal, beliau tidak bisa dihadirkan di sini,” kata Arfa,

“sekarang sebaiknya kita masuk ke pokok permasalahan, Dr. Vorobyov, tak perlu lagi menunda-nunda, mengingat waktu kita semakin menipis,”

“Baiklah, Nn. Aryanti,” kata Dr. Vorobyov,

“sebenarnya saya amat terkejut karena saya harus membawa sensor ‘Rusal’naia’ ke sini, karena Rusal’naia adalah sensor terbaru yang kami kerjakan sebelum Dr. Sedorenkov ke Indonesia,”

“Rusal’naia? Maksud Anda seperti kisah Putri Duyung?” tanya Anton,

“Rusalka?”

“Ya, tepat seperti itu, Tuan…” kata Dr. Vorobyov."

“Anton,” jawab Anton.

“Apa itu Rusal’naia dan Rusalka?” tanya Arfa.

“Dalam cerita rakyat Russia, Rusalka adalah Putri Duyung versi Russia, yaitu arwah dari wanita-wanita yang belum menikah, atau menenggelamkan diri karena putus cinta,” kata Anton,

 “mereka akan muncul dari danau atau sungai pada malam hari, kemudian menyanyi untuk menarik perhatian pria yang kebetulan lewat, dan membunuh mereka dengan cara menarik mereka masuk ke air dan menenggelamkan mereka; ada hal di Russia yang disebut sebagai ‘Minggu Rusalka’, itulah saat para Rusalka menjadi amat kuat sehingga siapa pun dilarang berenang pada minggu itu, lalu pada akhir minggu itu, warga akan mengadakan festival Rusal’naia, yaitu ritual untuk mengusir para Rusalka dan menenangkan arwah mereka,”

“Sedikit banyak legenda itu mencerminkan apa yang kita hadapi sekarang,” kata Dr. Vorobyov.

Dr. Vorobyov pun berdehem sejenak, kemudian dia melanjutkan perkataannya.

“Proyek Rusalka, adalah proyek pengelakan kapal selam yang rencananya akan diintegrasikan pada proyek kapal selam kelas Veliky Novgorod, atau dulu mungkin dikenal sebagai ‘Sadko’,” kata Dr. Vorobyov.

“Sadko? Bukankah itu proyek kapal selam rudal balistik terbaru Russia? Yang katanya tiga tingkat lebih hebat daripada kelas Borei?” tanya Arfa.

“Tapi kalau tidak salah, proyek kapal selam itu dibatalkan akibat biaya pembangunannya membengkak, dan ternyata kapal itu tidak bisa lebih bagus daripada kelas Borei?” tanya Anton.

“Well, harus ada alasan untuk menyembunyikan pembuatan Sadko, bukan? Kami mensinyalir bahwa agen asing telah berusaha hingga tiga kali untuk menyabotase proyek Sadko, sehingga kami pun mengambil keputusan untuk menunda kelangsungan proyek Sadko, namun secara diam-diam kami mengintegrasikannya ke dalam proyek kapal selam baru, Veliky Novgorod,” kata Dr. Vorobyov.

“Bisakah sebuah lambung kapal selam diintegrasikan begitu saja ke rancangan kapal selam lain tanpa harus mengubahnya?” tanya Arfa,

“kalau tidak salah, Veliky Novgorod ini budgetnya hanya setengah kalinya proyek Sadko, tidakkah akan terjadi komplikasi struktur?”

“Yang orang tidak tahu, Nn. Aryanti, adalah bahwa Sadko bukanlah kapal selam, melainkan sebuah sistem yang akan dipasang di kapal selam tersebut,” kata Dr. Vorobyov,

“jadi ya, pada dasarnya bisa dipasang di kapal selam mana saja sepanjang memungkinkan; dan untuk integrasi ke dalam kelas Veliky Novgorod, kami menyempurnakan sistem Sadko dan membuatnya menjadi sistem yang sekarang, proyek Rusalka,”

“Oke, Dr. Vorobyov, cukup soal pelajaran sejarah ini, dan mari kita langsung saja ke intinya,” kata Arfa,

“ada nyawa orang yang harus kita selamatkan,”

“Baiklah, Nn. Aryanti, maaf,” kata Dr. Vorobyov,

“jadi sistem Rusalka adalah sistem yang akan mengelakkan pencarian via sonar aktif melalui serangkaian nada dan frekuensi untuk menciptakan distorsi sonar di air; penangkap sonar biasa tak akan bisa menangkap sonar ini, dan bagi mereka, hanya akan terdengar seperti ‘suara ombak yang halus’,”

“Jadi ini seperti untuk menyembunyikan kebocoran, banjiri rumahnya, begitu?” tanya Anton.

“Sedikit banyak, Tn. Sam nanti mungkin bisa menjelaskannya lebih lanjut, bila hal tersebut diizinkan,” kata Dr. Vorobyov,

“nah, guna sistemRusal’naia adalah untuk memetakan pola distorsi itu sekaligus menciptakan triangulasi di antara gelombang untuk mendapatkan posisi si kapal selam Rusalka,”

“Aku bisa mendapatkan gambaran kasarnya, Dr. Vorobyov,” kata Arfa,

“jadi dengan sistem yang sudah dipasang di kapal RFS Malatinsky ini, nanti bisa mencari KRI Antasena, begitu?”

“Ya dan tidak,” kata Dr. Vorobyov.

“Tunggu, apa maksudnya?” tanya Anton.

“Permasalahan dari sistem Rusalka dan Rusal’naia adalah bahwa harus ada keseragaman antara gelombang dasar yang dipakai; konsep pemasangan sistem Rusalka di Russia adalah dengan memasangkan sistem Rusalka pada kapal selam Veliky Novgorod, dan sistem Rusal’naiapada kapal permukaan, yang sejatinya seharusnya adalah konsep kapal perusak kelas Borodino; tapi karena desakan pemerintah, maka proyek kapal kelas Borodino dibatalkan, sehingga alternatifnya, kami memakai platform kapal perusak kelas Udaloy II; dan kalau saya tak salah ingat, tak lama setelah itu Dr. Sedorenkov pindah ke Indonesia, beliau kecewa soal pembatalan proyek Borodino,”

“Tunggu, Nn. Aryanti, saat Dr. Sedorenkov pindah ke Indonesia, kapal perang kelas Ternate sedang dibangun, bukan?” tanya Anton.

“Ya, Tn. Anton, ada sesuatu?” tanya Arfa.

“Mungkinkah Dr. Sedorenkov merencanakan untuk membuat kapal kelas Ternate sebagai platform pengusung Rusal’naia?” tanya Anton.

“Bisa jadi, Tn. Anton,” tukas Sam segera,

“kalau tidak salah awalnya kapal kelas Ternate dan Tidore memiliki konfigurasi kembar dengan dua turret berada di fore dan aft; tapi setelah itu desain kelas Ternate diubah dengan mengubah turret di aft menjadi di midship; tapi Dr. Sedorenkov tak pernah mengatakan apa-apa soal ini, dan soal proyek penjejak sebagai konter untuk pengelakan aktif KRI Antasena baru akan dikembangkan setelah proyek Antasena berhasil,”

“Jadi maksudmu, kita baru mengintegrasikan sistem Rusalka, tapi belum mengintegrasikan sistem Rusal’naia, begitu, Sam?” tanya Arfa.

“Saya tidak begitu mengerti soal itu, tapi kalau tidak salah walau pun uji coba KRI Antasena berhasil, seingat saya ada wacana untuk tidak terlebih dulu meluncurkan kelas Antasena dalam penugasan aktif sebelum sistem penjejaknya selesai,” kata Sam,

“untuk menjaga seandainya ada masalah dalam kapal selamnya,”

“Dan sistem penjejak itu nanti akan diintegrasikan ke dalam kapal KAU kelas Ternate?” tanya Arfa.

“Sepertinya begitu,” kata Sam.

“Baiklah, cukup, jadi sistem Rusal’naia yang ada di RFS Malatinsky, apakah bisa atau tidak untuk melacak KRI Antasena?” tanya Anton.

“Seharusnya bisa,” kata Dr. Vorobyov,

“tapi kami butuh 15 menit untuk melakukan penyelarasan akhir; tadi malam kami berangkat dengan terburu-buru,”

“Bagus, lakukan,” kata Arfa.

Saat itulah pintu terbuka dan seorang ajudan buru-buru masuk ke dalam ruangan sambil memegang sebuah kertas. Ajudan itu segera membisikkan sesuatu ke telinga Arfa, dan seketika raut muka Arfa pun berubah seolah mengalami keterkejutan yang cukup besar. Arfa kemudian melirik sejenak ke arah Sam, kemudian dia melemparkan pandangan ke arah Anton dan Dr. Vorobyov via LCD, lalu tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.

“Dr. Vorobyov, Tn. Anton, saya permisi dulu, ada hal lain yang membutuhkan perhatian saya sekarang,” kata Arfa,

“Sam, kau tolong berkoordinasi dengan mereka, lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan KRI Antasena,”

“Baik, Nn. Aryanti,” kata Sam.

Arfa pun segera meninggalkan ruangan disertai dengan ajudan tadi. Pintu ruangan tertutup, meninggalkan Sam di dalam sana, bertanggung jawab atas proses penyelamatan KRI Antasena. Arfa sendiri sebenarnya tak ingin meninggalkan proses itu, tapi yang dikatakan oleh si ajudan tadi benar-benar membutuhkan perhatiannya dengan segera.

“Sudah berapa lama transmisinya terdeteksi?” tanya Arfa kepada ajudan.

“Baru saja, dan saya langsung memberi tahu Anda, seperti Anda perintahkan tadi,” kata si ajudan.

“Proses pen-dekripsi sudah dilakukan?” tanya Arfa.

“Sedang berjalan,” kata ajudan.

“Bagus, segera cari juru ketik tercepat yang bisa kamu bawa sekarang juga,” kata Arfa,

“lima menit lagi kutunggu kalian di ruang sandi,”

“Siap, laksanakan!” kata ajudan.

Ajudan tadi pun segera berlari untuk mencari juru ketik seperti yang diperintahkan oleh Arfa. Sebuah transmisi panjang terenkripsi baru saja berhasil terdeteksi, dan panjang dari transmisi ini membuat Arfa sedikit cemas; dan Arfa pun takut kemungkinan terburuk yang dia takutkan akan terjadi.



Gedung NewsTV

09.09 WIB

H minus 25:42:00



Berita dari Andini mengenai pengepungan Kedutaan Besar Australia benar-benar membuat semua bagian di NewsTV bergerak dengan amat cepat. Ini adalah untuk kali pertama terjadi gerakan yang benar-benar nyata dan mengindikasikan terjadi sesuatu antara Indonesia dengan Australia, yang selama ini baru sekadar dugaan dan desas-desus belaka. Dan bagi Tita, ini seperti sebuah penyentak pada pagi yang seharusnya tenang dan rutin; bahkan untuk ukuran suasana seperti ini pun, kejadian ini tetap saja cukup menyentak.

Berkali-kali, Tita harus mondar-mandir dari satu station ke station lain, turun langsung untuk memastikan bahwa semua hal berjalan tanpa cacat. Semenit lalu dia ada di ruang audio-visual, kemudian dia di desk reporter, dan selanjutnya dia sudah di ruang editing. Pokoknya Tita benar-benar seperti sebuah satelit yang selalu beredar tanpa henti, dan satu-satunya meja yang tak dia singgahi hanyalah mejanya sendiri.

“Astaga, Tita, aku mencarimu ke mana-mana,” kata Mutia yang baru saja datang.

“Aku sibuk, Mut, seperti yang kau lihat,” kata Tita.

Tita melihat sejenak ke arah Mutia. Mutia memang bergantian dengan Fitri untuk berjaga mendampingi Tita, dan untuk ukuran ini, Mutia sudah mengusahakan untuk datang pagi. Dan ternyata dia masih kurang pagi.

“Jalanan macet, sepertinya terjadi penjagaan di jalan-jalan protokol, baru pagi ini aku melihat lebih banyak Anoa dan Leopard di sudut-sudut jalan,” kata Mutia.

“Bagus, nanti kau laporkan soal itu, segera ke ruang make up, dan suruh tukang riasnya untuk memoles seperlunya saja, lalu gantikan Fitri di ruang berita,” kata Tita,

“siapa saja anchor yang ada di sini?”

“Tadi aku bertemu Fauzia, lalu ada Tisna, Ralph, Leonard, Adrian Zhao, juga Ci Fiona,” kata Mutia.

“Dengan Prita ikut Anton dan Nana di Australia, kita kekurangan anchor di sini, jadi minta kepala departemen yang beritanya tidak mendesak untuk memberikan anchor mereka,” kata Tita,

“dan apa ada anchor muda yang kau percaya?”

“Marisa dan Putri, tapi mereka masih dalam masa percobaan,” kata Mutia.

“Masukkan mereka,” kata Tita,

“aku sudah mendapat otorisasi dari Bu Sabrina untuk mengambil siapa pun yang kuperlukan, dan semua pemberitaan News Break ini kini kutangani,”

“Tunggu, apakah kita sudah terhubung dengan Nana di Australia?” tanya Mutia,

“mungkin dia bisa melaporkan sebagai narasumber,”

“Sudah kucoba, dan semua saluran telepon dari dan ke Australia mati,” kata Tita,

“televisi Australia juga kesulitan menghubungi reporter mereka di Indonesia,”

“Apakah sudah terjadi? Apakah sudah perang?” tanya Mutia.

Tita berhenti sejenak, kemudian dia merapikan berkas yang dibawanya sambil mendengus cukup keras.

“Sejujurnya aku tak tahu, tapi apa pun itu kita harus siap,” kata Tita,

“sekarang pergi ke tempat make up segera bersiap, dan aku ingin semua anchor minus yang bertugas berkumpul di ruang lingkar segera,”

“Baik,” kata Mutia,

“oh ya, apakah kau sudah menghubungi Uki di Istana Merdeka?”

“Ya, sudah, dan aku tahu bagaimana mengerjakan pekerjaanku, Mut,” kata Tita kesal,

“jadi sekarang segera kerjakan pekerjaanmu dan berhenti khawatir soal pekerjaanku!”

“Oke, baiklah, hanya mengecek saja,” kata Mutia,

“godspeed,”

Mutia segera menembus para awak berita yang masih bersliweran dengan sibuknya, sementara Tita berhenti sejenak untuk menarik napas. Beberapa orang menghampirinya untuk memberi laporan, dan Tita hanya memeriksa cepat untuk memberi otorisasi. Tita memang berada dalam posisi yang memungkinkan dia untuk diakses oleh semua orang yang membutuhkan. Dan saat ini amatlah menguras energi Tita, baik secara fisik maupun mental.

Tita menghela napas, mencoba berhenti di sekitar dunia yang seakan tengah berputar lebih cepat. Seluruh proses menggantikan Anton sebagai commander-in-chief ini membuatnya cukup lelah. Soal bekerja, Tita memang terbiasa bekerja cepat, namun di sini yang dituntut bukan hanya soal pekerjaan saja melainkan juga skill kepemimpinannya. Bukan rahasia bahwa memang Tita merasa nyaman berada di balik Anton yang selama ini “mengerjakan semua pekerjaan kotor”, tapi hal itu membuat beberapa pihak meragukan kapabilitasnya. Meyakinkan mereka, itulah yang sulit. Dan untuk itu Tita tahu bahwa Tita harus menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tahu segalanya, persis seperti apa yang dulu diajarkan oleh Anton.

Saat terdiam sejenak itulah Tita teringat akan Erwina. Entah bagaimana perasaannya beberapa hari ini sudah tidak enak, dimulai sejak menghilangnya Erwina entah ke mana. Awalnya tentu saja Tita marah, bahkan murka akibat tingkah polah Erwina yang memang sering “seenaknya”. Bahkan Anton yang lumayan tegas itu pun tak bisa menahan Erwina untuk mematuhi semua protokol. Tapi biasanya Erwina “hanya” menghilang selama satu atau dua hari, setelah itu dia muncul sendiri, atau setidaknya memberi kabar, tapi ini sudah hampir 5 hari dia menghilang tanpa kabar, dan Tita mulai khawatir dan berpikiran buruk, siapa tahu Erwina kenapa-kenapa. Tita selalu mengecek email, BB, dan apa pun untuk kabar dari Erwina, tapi hingga saat ini nihil.

Kekhawatiran Tita pun tentu saja bukan alasan. Bekerja di sebuah kantor berita membuatnya tahu bahwa beberapa kasus orang menghilang, apalagi wanita, biasanya berakhir dengan buruk. Apa lagi Erwina orangnya cantik, dan meskipun cukup independen, bisakah dia mempertahankan dirinya dengan efektif bila diserang penjahat di luar sana? Ini masih ditambah lagi dengan sebagai salah satu reporter top NewsTV, Erwina pernah bercerita bahwa dia pernah mendapat “pesan-pesan aneh” dari “pria-pria kurang ajar” di akun-akun sosialnya. Walau pun Erwina bukan satu-satunya yang mengalami hal semacam itu, namun tetap saja dalam keadaan seperti ini, isu itu pun harus diperhitungkan. Dan Tita tak mau pada saat nantinya Erwina ditemukan, dia terpaksa harus mengisi sebuah obituari.

“Ta,”

Jantung Tita pun hampir copot ketika seseorang tiba-tiba menyapanya. Dia untuk beberapa saat tengah terputus dari dunia luar, tenggelam dalam pemikirannya sendiri, dan kini tiba-tiba sebuah sapaan menyentakkannya kembali ke dalam dunia ini. Melihat reaksi kaget Tita, Fitri yang menyapanya pun ikut-ikutan kaget

“Ya ampun, Ta, kamu ngelamun tadi?” tanya Fitri.

“Sedikit banyak,” kata Tita.

“Istirahat aja deh, Ta, dari tadi kamu udah ke sana ke mari nggak berhenti,” kata Fitri.

“Aku nggak papa, cuman butuh kopi aja,” kata Tita.

“Ya udah kalau gitu,” kata Fitri,

“ayo ambil kopi sama-sama,”

“Ya, eh, kamu udah selesai?” tanya Tita.

“Ya, udah digantiin ama Mutia,” jawab Fitri.

Fitri pun segera menggiring Tita ke pantri terdekat, kemudian membuat dua gelas kopi krim, satu untuk Tita, dan satu untuk dirinya sendiri. Tita meminumnya perlahan-lahan, dan dia mulai agak tenang setelah meminumnya. Baru Tita meminumnya, mendadak dari luar gedung (pantri tempat Fitri dan Tita kebetulan di dekat jendela), terdengar suara bergemuruh memekakkan telinga, dan tahu-tahu saja udara seolah baru dibelah oleh sesuatu yang berjalan cepat. Tita dan Fitri mau tak mau melongok keluar jendela, dan melihat bahwa baru saja ada dua pesawat jet tempur bermesin satu yang lewat di dekat gedung NewsTV, dan mereka terbang lumayan rendah. Fitri hanya mendengus saja.

“F-16?” tanya Tita.

“Bukan, F/A-50,” kata Fitri,

“sepertinya dari Kohanudnas,”

“Berarti ini yang kelima kalinya pada pagi ini,” kata Tita.

“Masa?” tanya Fitri terkejut.

“Kamu dari tadi ada di ruang studio, nggak mungkin bisa denger suara dari luar,” kata Tita,

“ini yang kelima,”

“Pesawat dari Kohanudnas terbang keliling Jakarta sampai lima kali di pagi hari,” kata Fitri,

“pertanda apa?”

“Bukan pertanda bagus,” kata Tita.

Tita pun duduk di bangku dekat meja pantri sambil menerawang ke dalam kopinya. Wajahnya sendiri yang masih agak tegang tercermin di permukaan kopi yang berwarna coklat itu.

“Istana yang menutup diri, serombongan helikopter yang terbang malam, pesawat sewaan reporter yang diintersep, kedutaan besar yang dikepung, dan sekarang ini,” kata Tita,

“semuanya tambah jadi misteri,”

“Sebenarnya tidak misteri kalau mau dinalar,” kata Fitri,

“hanya saja jawabannya mungkin nggak mau kamu denger,”

“Aku tahu,” kata Tita,

“kini tinggal satu hal lagi yang tersisa untuk itu,”

“Mungkin sebentar lagi, setiap saat,” kata Fitri sambil meminum kopinya,

“firasatku cukup kuat untuk hal ini,”

Tita melihat ke arah Fitri. Baru kali ini dia melihat ada rasa khawatir tergurat jelas pada muka Fitri. Fitri yang biasa Tita kenal adalah Fitri yang tak kenal takut, dan tak kenal khawatir, serta selalu punya solusi untuk setiap permasalahan; bukan Fitri yang dia hadapi saat ini, yang lesu, gontai, dan seolah tidak tahu apa yang akan menanti di depan. Dalam situasi krisis seperti ini, pikir Tita, mungkin bahkan orang terbaik pun akan merasa lelah dan layu.

“Oke, cukup, tadi kamu mikirin apa, Ta?” tanya Fitri mengalihkan pembicaraan dari topik yang dirasa sudah terlalu berat.

“Erwina,” jawab Tita,

“sudah lama nggak ada kabar soal dia, dan aku udah mulai berpikiran yang enggak-enggak,”

“Ya, aku juga,” kata Fitri,

“dia anak yang baik, urakan tapi baik, dan rasanya aku nggak siap saja kalau di tengah-tengah situasi seperti ini, kita temuin dia udah…”

“Jangan bilang kayak gitu,” kata Tita dengan nada tinggi.

“Tapi itu benar, kan?” kata Fitri pelan,

“kamu juga ngerasain ada yang nggak beres, kan?”

Fitri mengangkat jarinya untuk menghapus air mata yang merembes keluar. Bagaimana pun Fitri mencoba menutupinya, Tita bisa tahu bahwa Fitri tengah menangis, dan kejutan terbesarnya adalah bahwa ini pertama kalinya Tita melihat Fitri menangis. Fitri memang yang paling tegar di antara semua sekawan ini, Tita, Prita, dan Mutia; dan melihatnya seperti tadi sudah merupakan sebuah anomali, apalagi sampai Fitri menangis. Berikutnya, Tita pun mungkin tak akan kaget bila neraka juga membeku. Namun masalah Erwina ini bisa menguras emosi juga, sebagaimana ketika Lucia saat ini yang tengah berada di antah-berantah, terkubur di bawah laut di dalam peti mati baja. Tapi setidaknya ada berita soal Lucia, sementara Erwina seolah menghilang begitu saja seperti asap ditiup angin.

Seorang reporter muda pria, entah dari mana, muncul tiba-tiba di hadapan Tita dan Fitri, dan wajahnya tampak menunjukkan sebuah ketegangan sekaligus ketakutan.

“Bu Tita… Bu Tita…” kata si reporter dengan wajah pucat pasi dan napas yang tersengal-sengal.

“Ada apa, Rudy?” tanya Tita.

“Ada… ada…” kata reporter bernama Rudy ini.

“Santai dulu, Rudy, atur napas,” kata Fitri.

Tapi Tita melihat bahwa gagapnya si Rudy ini bukan karena kelelahan, tapi karena sesuatu yang lain. Melihat wajahnya yang pucat bagai melihat hantu, jantung Tita pun mendadak serasa dicengekeram oleh tangan besar kengerian yang terasa sedingin es. Bulu kuduk Tita pun, tanpa sadar, terasa berdiri.

“Ada apa?” tanya Tita lagi dengan jantungnya berdetak tak karuan.

“Erwina, Bu… Erwina…” kata Rudy.

“Sudah ketemu?” tanya Tita, masih dengan ketegangan yang belum mereda.

“Iya, sudah…” kata Rudy,

“tapi dia… tapi dia…”

Rudy tak berani melanjutkan perkataannya, hanya menunduk saja. Wajahnya semakin pucat, kombinasi dari kesedihan, ketegangan, dan ketakutan. Ini cukup untuk membuat jantung Fitri dan Tita seolah berhenti berdetak. Dan semesta pun mendadak hening, hanya ada kegelapan yang amat sangat yang seolah menutupi mereka bertiga dari dunia luar.

“Erwina kenapa, Rud?” tanya Tita.

“Erwina… dia…” kata Rudy.

“Jawab, Rudy! Erwina kenapa?” jerit Tita sambil air matanya mendadak meledak keluar.

Tita pun memegang bahu Rudy dan mengguncangkannya, tapi Rudy tetap tak menjawab. Fitri tak bisa menahan air matanya yang mulai keluar, hanya mencengkeram counter pada pantri hingga kukunya patah. Kabar yang selama ini dinanti pun akhirnya tiba, tapi benarkah ini kabar yang mereka inginkan.

“Erwina kenapa, Rudy?” tanya Tita sambil terisak yang akhirnya tak kuat dan hanya tertunduk menangis sambil tangannya terus mencengkeram bahu Rudy, yang masih tak bicara dan kini pun ikut menangis.


Samudera Indonesia

09.26 WIB

H minus 25:25:00


Pesawat peringatan dini NC-295 Blue Sky kembali terbang melintasi Armada Indonesia yang kini sudah menjadi 8 kapal, ditambah lagi dengan 2 kapal milik AL Russia yang ikut nimbrung sementara di hadapan mereka Armada Australia masih setia dengan 12 kapalnya, tidak bergerak menunggu komando selanjutnya.

“Bagaimana situasinya, Blue Sky?” tanya Kapt. Kadek.

“Mereka masih di sana, Kep, tapi saya mendeteksi bahwa ada satu flight pesawat tempur tengah diterbangkan dari Australia, mungkin untuk payung udara, Over,” jawab Blue Sky.

“Mungkin itu payung udara mereka, lalu bagaimana dengan payung udara kita?” tanya Kapt. Kadek.

“Copy that, sudah diberangkatkan, satu wing tempur kita, giliran pertama adalah Hell Hound, Over, mereka akan melindungi dari jauh,” kata Blue Sky,

“berkonsentrasilah saja pada pekerjaan penyelamatan di bawah, dan kami akan urus mereka yang di atas,”

“Roger that, Blue Sky, selamat bekerja,” kata Kapt. Kadek.

Blue Sky pun kembali melintas di atas Armada Indonesia sebelum akhirnya menaikkan ketinggiannya dan berputar ke jarak yang tak terlihat. Anton hanya menatap langit biru yang kosong dengan awan putih keperakan bergumpal-gumpal. Seolah langit itu terlihat damai dan kosong, tapi Anton tahu bahwa jauh dari pandangan mata biasa, malaikat-malaikat baja tengah mengarungi lautan awan yang luas, menjaga masing-masing Armada mereka yang tengah berhadapan di bawah.

Tapi keheningan mau tak mau harus dipecahkan. Semua orang dengan harap-harap cemas menunggu komando dari RFS Malatinsky. Ini adalah saat-saat penentuan, karena apabila ini gagal, maka semua harapan pun akan musnah. Saking tegangnya, Prita bahkan tak henti-hentinya menggamit tangan Anton erat-erat, sangat erat hingga Anton merasa tangannya kebas akibat dicengkeram terlalu kencang.

Dan ternyata bukan hanya Prita dan Anton saja yang cemas menantikan kabar dari kapal perusak Russia ini. Semua yang ada di sana pun juga begitu, bahkan mereka yang bertugas mengawaki senjata di luar kapal pun perhatiannya terpecah antara melihat ke musuhnya nun di seberang sana, dengan melihat ke arah RFS Malatinsky. Ini tentu saja berbahaya mengingat Armada Australia di seberang sana masih dalam keadaan siap tempur. Bagaimana pun, mengingat pentingnya misi yang diemban oleh RFS Malatinsky, hal yang akan dilakukan oleh kapal ini tentu saja mendapatkan perhatian dari semua orang.

Pertama-tama, dua buah tiang mirip peruan dilebarkan melewati kanan-kiri lambung RFS Malatinsky, dan kemudian dari ujung peruan itu, sebuah benda diturunkan ke dalam air via kabel. Entah itu adalah mikrofon atau justru sonobuoy. Sensor serupa nampaknya diturunkan juga dari haluan dan buritan, sehingga total ada empat sensor dalam empat tempat yang berbeda.

“Awalnya, RFS Malatinsky merupakan salah satu kapal kelas Udaloy II yang kami pakai sebagai platform Rusal’naia, tapi untuk muhibah ini, dengan alasan keamanan dan kerahasiaan, maka sistem utamanya kami lepas sewaktu masih di Russia,” kata Dr. Vorobyov,

“sayangnya kami tak sempat mengambil sistem asli milik RFS Malatinsky, sehingga kami memakai sistem milik RFS Igor Bugdanov, oleh karena itu kami harus melakukan beberapa penyesuaian pada sistem,”

“Apakah semua sudah siap kalau begitu?” tanya Anton.

“Sudah, kami akan mulai menembakkan sonar dalam dua menit,” kata Dr. Vorobyov,

“hitung mundur dari sekarang,”

Semua orang pun menantikan hitungan mundur itu dengan tegang. Dari RFS Malatinsky, hitungan disampaikan dalam bahasa Russia, sedikit banyak mengurangi ketegangan bagi mereka yang tak mengerti.

“Apakah ini bisa berhasil?” tanya Prita sambil terus menggenggam tangan Anton.

“Harus berhasil,” kata Anton.

“Kalau tidak?” tanya Prita.

Anton tidak menjawab, hanya diam saja, tapi kali ini ganti dia yang menggenggam tangan Prita dengan cukup kencang. Prita, merasakan kegelisahan Anton, segera menepuk pundak Anton dan memaksakan tersenyum, meskipun kegelisahan yang sama kini juga tengah menderanya. Waktu dua menit pun berasa amat lama.

“Sepuluh detik lagi!” kata announcer di KRI Ternate.

“Desyat…devyat…vosem…sem…shest…pyat…”

“…empat…tiga…dua…satu…” hitung Anton dengan suara lirih.

Mendadak terdengar suara mirip tumbukan besi yang amat keras, seolah-olah ada palu maha dahsyat yang menghantam paku mahabesar, disertai dengan getaran suara yang amat mengerikan, seolah-olah ada monster laut maharaksasa yang tengah menggeram marah akibat tidurnya terganggu. Anehnya, hanya orang di dalam anjungan saja yang mendengar suara ini, karena memang sumber suara ini ada di laut, yaitu dari tembakan sonar RFS Malatinsky. Saking keras dan mengerikannya suara ini, operator sonar KRI Ternate sampai melompat dan membanting headset-nya, kemudian dia duduk terdiam di bawah panel sambil memegangi telinganya. Telinganya berdenging dengan cukup kencang, membuatnya untuk beberapa saat tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh teman-temannya yang langsung mengerubunginya.

Hantaman kedua pun terdengar kembali, dan kali ini suara geraman itu terdengar agak lama, namun lebih lembut daripada sebelumnya. Kalau ada yang pernah mendengar suara air terakhir yang meninggalkan wastafel, ya kira-kira mirip seperti itu. Prita pada hantaman pertama memang agak terkejut, tapi setelah hantaman kedua, dia sudah lebih tenang, dan anehnya, wajahnya menunjukkan raut muka menyelidik seolah menemukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Dia pun mulai bersenandung ringan.

“Kalinka, kalinka, kalinka, moya… V sadu yagoda malinka, malinka moya…”

Anton tertegun mendengar Prita tiba-tiba mengalunkan lagu itu.

“Kalinka?” tanya Anton.

“Ya, kamu denger nggak?” tanya Prita,

“kayaknya ada yang menyanyikan Kalinka,”

“Ah, yang enggak-enggak aja kamu, mana ada?” tanya Anton.

“Beneran koq, coba dengerin deh,” kata Prita.

Anton pun memejamkan matanya dan berusaha mendengar lagu yang Prita nyanyikan tadi, sayangnya bagi Anton yang terdengar hanyalah suara geraman hasil dari tembakan sonar RFS Malatinsky.

“Denger, kan?” tanya Prita.

“Nggak ah,” balas Anton sambil menggelengkan kepala.

Prita mendengus, dan kali ini dia ganti yang menutup matanya.

“Ada?” tanya Anton.

“Aneh, udah nggak ada, tapi tadi jelas banget,” kata Prita.

“Sudahlah, mungkin telingamu agak pekak gara-gara suara tadi,” kata Anton.

“Telingaku masih normal, Ton!” kata Prita marah.

“Ya oke, aku percaya,” kata Anton.

Anton sendiri sejujurnya masih bingung dengan yang dikatakan oleh Prita tadi, apa yang dimaksud bahwa Prita mendengar lagu “Kalinka”? Salah satu lagu rakyat Russia. Apakah ini hanya halusinasi Prita saja?

“Bagaimana, Dr. Vorobyov?” tanya Sam dari layar.

Pertanyaan Sam tadi mengingatkan Anton bahwa saat ini mereka tengah menantikan pembacaan sonar dari RFS Malatinsky untuk menemukan lokasi KRI Antasena. Anton menunggu dengan cemas, tapi raut muka Dr. Vorobyov mematahkan harapannya.

“Sayang sekali, kita tidak bisa menemukannya,” kata Dr. Vorobyov.

Dan bersama dengan jawaban itu, lutut Anton pun serasa lemas sehingga Prita harus memeganginya agar Anton tidak jatuh.

“Bagaimana bisa tidak bisa? Katanya tadi bisa!?” kata Anton dengan nada emosi.

“Sabar dulu, akan saya jelaskan…” kata Dr. Vorobyov.

“Kami tidak butuh penjelasan Anda, Dr. Vorobyov!! Ini yang katanya alat canggih dari Russia itu, tapi kenyataannya mana??” kata Anton naik pitam.

Prita segera menenangkan Anton yang tampak emosi dengan hasil yang tak diharapkan ini. Prita sendiri jelas paham kenapa Anton bertindak seperti ini. Siapa bisa tetap tenang bila nyawa orang yang dikasihi dipertaruhkan, dan satu-satunya cara yang dikabarkan bisa menolong kini malah mandul.

“Pak Anton tenang!” kata Kapt. Kadek sambil mengkonfrontasi Anton,

“saya tahu Anda perwakilan dari Bina Graha di kapal ini, tapi saya masih sebagai kapten kapal ini, dan bila Anda tidak bisa menahan diri Anda sekarang, saya akan perintahkan anak buah saya untuk menahan Anda!”

Anton masih cukup geram, dan tinjunya terkepal amat kencang hingga tangannya bergetar hebat. Prita berusaha mengingatkan Anton sambil mengelus dada Anton supaya dia tetap tenang.

“Ton, sudah, kita dengerin dulu apa kata Dr. Vorobyov,” kata Prita,

“siapa tahu ada penjelasan di balik semua ini,”

“Penjelasan apa lagi, Prita!” hardik Anton.

“Ton, tenang!” kata Prita kali ini lebih tegas.

Anton menarik napas panjang dan dia melihat ke sekeliling. Semua orang tampak menatapnya, bersiap untuk melakukan sesuatu bila Anton mengamuk. Bahkan ada beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap. Perlahan-lahan, dengan bisikan Prita yang makin mengikis emosinya, Anton pun akhirnya bisa tenang.

“Baiklah, aku sudah tenang, maaf semuanya,” kata Anton.

Suasana yang tegang pun kembali mendingin, dan ekspresi kelegaan terpancar dari wajah semua orang ketika akhirnya Anton bersedia duduk untuk menenangkan diri.

“Maaf, Dr. Vorobyov, silakan teruskan,” kata Anton.

“Sepertinya ada perbedaan dalam nada dasar dan gelombang yang ditentukan oleh kapal selam Anda, kecuali bila dia mengaktifkan sonarnya, setidaknya sekali, maka baru kita bisa menangkap dan menyesuaikan gelombang kita untuk mendeteksinya,” kata Dr. Vorobyov,

“tapi berita baiknya, kami sudah berhasil memetakan kemungkinan-kemungkinan posisi dari kapal selam Anda, dan ada setidaknya 16 posisi yang paling memungkinkan,”

“Enam belas posisi? Banyak sekali?” tanya Anton,

“apa tidak bisa dari enam belas kemungkinan posisi itu dipakai triangulasi?”

“Sayangnya sistem Rusalka adalah sistem antitriangulasi, jadi dia akan memancarkan berbagai panjang gelombang untuk memastikan bahwa kapal selam itu tidak ada dalam titik tengah elipsis,” kata Dr. Vorobyov,

“tapi masih sulit bagi kita untuk menentukan posisi pasti kedalamannya, hanya saja dengan ini mungkin ada kabar baik,”

“Kabar baik apa, Dr. Vorobyov,” kata Anton.

“Mengingat sistem mereka masih berfungsi, besar kemungkinan mereka masih hidup,” kata Dr. Vorobyov,

“untuk berapa lama kita tak tahu,”

Keadaan pun hening, baik di Bina Graha, di RFS Malatinsky, maupun di KRI Ternate. Ada kemungkinan semua orang masih hidup jelas suatu kabar yang baik. Tapi mengingat posisi mereka masih belum diketahui, ini bukanlah kelegaan yang mutlak.

“Bisa tolong tunjukkan kemungkinan posisi KRI Antasena, Dr. Vorobyov?” tanya Sam.

“Akan saya kirimkan proyeksinya, tunggu sebentar,” kata Dr. Vorobyov.

Layar Dr. Vorobyov pun menghilang, dan berubah menjadi sebuah peta skala kecil dari ground zero dengan lingkaran-lingkaran kecil merah menunjukkan kemungkinan posisi dari KRI Antasena berdasarkan pindaian terakhir dari sonar khusus RFS Malatinsky. Anton seketika itu pula terloncat bangkit dari tempat duduknya, begitu pula semua orang yang melihatnya pun terhenyak.

“Ini tidak salah, Dr. Vorobyov?” tanya Anton.

“Sayangnya tidak, Tn. Anton,” kata Dr. Vorobyov pelan.

“Astaga!” gerutu Kapt. Kadek, diikuti oleh semua orang.

Pantas saja apabila mereka semua menggerutu. Dari 16 lingkaran merah yang ada dalam peta itu, masing-masing bisa terpisah jarak hingga 1-2 kilometer, dan yang lebih parahnya lagi, 10 dari 16 lingkaran merah terletak jauh di Selatan, alias sudah masuk ke dalam wilayah perairan Australia.

“Anton, bagaimana kalau misal KRI Antasena berada di titik 13 ini, di wilayah Australia?” tanya Prita dengan nada gemetar.

“Kita harus menerobos wilayah Australia untuk mendapatkannya, dan bila itu terjadi...” kata Anton.

“Perang?” tanya Prita.

Anton hanya mengangguk pelan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...