Jumat, 30 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 42

★HENING★ Part 42 



" MEREKA MENYULUT API. KITA MENGOBARKAN NYA!"




5 oktober 2012
21.00 wib
Markas pusat

"Saya harus segera pulang, banyak yang harus kita kerjakan besok..", 

ucap Jendral Purnomo pelan.

Sementara itu tampak Elang, Letnan Mahda, dan juga Lettu Adam serta Letnan Vega membisu seakan membiarkan Elang mengheningkan dirinya atas kejadian sore tadi, tak satupun dari mereka berani mengungkit atau membahas kejadian sore tadi.

"Sebaiknya kalian awasi dia.. Jangan biarkan ia berbuat yang tidak-tidak.., ingat.. Ini belum pasti pihak Amerika yang melakukannya.., baiklah saya serahkan dia pada kalian",

 sambung Jend.Purnomo lagi mengingatkan Lettu Adam dan Letnan Mahda.

"Siap Jendral..", 

sahut Lettu Adam.

Jendral Purnomo segera berlalu meninggalkan prajurit-prajurit terbaiknya itu.

"Ajak dia bicara..", 

ucap Letn.Mahda kepada Lettu Adam.

Sejenak Lettu Adm mengangguk dan berjalan mendekati Elang yang sedari tadi hanya duduk diam tanpa mengeluarkan sepetah katapun.

"Sudahlah.., tidak ada gunanya jika terus meratapi kejadian sore tadi, setidaknya ayo kita beristirahat karena besok banyak yang harus kita lakukan..", 

kata Lett.Adam sembari memegang pundak Elang yang hanya diam membisu.

"Itu benar.., berhentilah bersikap seperti itu..", 

tambah Letnan Vega,
Elang masih diam tak bergeming.

"Sebaiknya kita berkonsentrasi untuk besok, Panglima sepertinya akan memberi suatu misi untuk kita..",

 kata Letnan Mahda menyahut.

Kali ini Elang merespon mendengar perkataan Letnan Mahda dan menoleh.
"Maksudmu..?", 

tanya Elang dengan mimik serius.

"Tadi tak lama setelah kau pergi meninggalkan rapat, panglima berkata akan mempersiapkan suatu misi untuk kita, besok..", 

jawab Letn.Mahda.

Seketika raut wajah Elang berubah tegang dengan tatapan tajam membara, seakan ada suatu hasrat yang siap meledak sewaktu waktu.

.........
6 oktober 2012
09.45
Briefing awal
Ruang komando, Markas pusat..

Panglima kembali mengadakan rapat mendadak menindaklanjuti rapat sebelumnya yang belum menemukan solusi untuk situasi yang sedang terjadi.

"Tidak ada pilihan lain, kali ini kita akan melakukan sesuatu, wakil kita untuk PBB pak Sutrisno mengabarkan terlalu banyak tekanan dari pihak Amerika dan Australia, sehingga kemungkinan besar kita kalah dalam diplomasi perserikatan tak transparan itu, selain itu kita juga sedang mengantisipasi gerakan pasukan khusus Amerika yang berada di indonesia..", 

seru Panglima Rokhim menjelaskan situasi yang sedang terjadi.

"Pak Mentri pertahanan, pak Suprapto sudah mendapatkan izin dari Presiden atas tindakan yang akan kita lakukan setelah ini..",

 sambung Panglima Rokhim dengan berkobar-kobar, sepertinya ia juga mulai lelah bumi pertiwi terlalu diremehkan bangsa asing seperti Amerika dan Australia.

"Lalu apa yang akan kita lakukan Panglima..?", 

tanya Letnan Vega.

"Pak Suprapto..!", 

sahut Pang.Rokhim mempersilahkan menhan Suprapto untuk menjelaskan.

"Baiklah, Presiden dan anggota DPR sudah mempertimbangkan segala kemungkinan yang terjadi atas tindakan yang akan kita lakukan ini, namun mengingat mereka telah menyulut api.. Maka kita akan mengkobarkannya.

kita akan mengirim tim khusus untuk menyusup dan meng-eleminasi seorang target...", 

jelas Menhan suprapto.

"Siap pak..! Siapa target kita itu..?", 

Lettu Adam bertanya.

" Target kita adalah, Mentri pertahanan Amerika, Sir Malloney..", 

ucap Mentri pertahanan indonesia itu sambil menatap satu persatu wajah tegang semua orang diruangan itu, kecuali Elang.

Elang tampak begitu dingin dan bahkan tak berekpresi sedikitpun.

"Kapan dan bagaimana pak?", 

Elang bertanya kepada Menhan Suprapto.

Letnan Mahda, Lettu Adam, dan Letnan Vega terkejut melihat Elang begitu antusias akan misi pembunuhan ini, berbeda dengan mereka yang memikirkan segala resiko dan dampak yang pasti akan memperburuk situasi yang semakin memanas ini.

"Sir Malloney 10 jam dari sekarang menurut intelijen yang dipercaya akan keakuratannya, akan menuju Australia yang sebelumnya akan singgah di wamena papua untuk beristirahat dan bertemu dengan kolega mereka disana..

Disanalah kalian harus menyingkirkannya untuk menimbulkan efek getar, dan kita akan melakukannya secara diam-diam..", 

jelas menhan Suprapto.

"Dalam misi ini kalian tak akan mengenakan seragam kalian, kalian tak diketahui, kalian tak terdata sebagai warga negara indonesia, dan kalian tak akan diakui jika gagal atau tertangkap..!

Karena ini adalah misi rahasia..,
kalian siap melakukannya..!?!?",

 sambung Panglima Rokhim sembari bertanya dan bangkit dari tempat duduknya.

Letnan Mahda dan Lettu Adam tampak saling berpandangan berusaha meyakinkan satu sama lain.

"Siap pak..!", 

Elang langsung menjawab..,

"Kami juga siap..!", 

sambung Letnan Mahda dan Lettu Adam begitu mendengar Elang telah menyatakan kesiapannya.

Sejenak Panglima Rokhim menatap ketiga prajuritnya itu, berdasarkan statistik hanya merekalah yang bisa mengemban misi ini mengingat merekalah yang terbaik dari yang terbaik, serta loyalitas mereka tak diragukan lagi.

" . . . "

Jendral Purnomo melirik Elang, Elang mengerti kecemasan atasannya itu yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.

Elang menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia siap dengan segala konsekuensi misi ini.

Terlebih lagi Letnan Vega menatap Elang dengan mata berbinar, baru saja ia melihat sosok pria yang ia tunggu-tunggu selama ini akan pergi lagi untuk menjalankan misi berbahaya, bahkan tak sempat baginya untuk mencurahkan isi hatinya karena situasi yang tak pernah sempurna.

"Baiklah.., saya bangga dengan kalian.. Berjuanglah..! Beritahu mereka kengerian kita..!",

Seru Panglima Rokhim kepada prajurit-prajuritnya tersebut.

"Siap pak..! Merdeka..!", 

sahut Letnan Mahda dan Lettu Adam serempak, sementara Elang hanya memberi sebuah penghormatan.

" 3 jam dari sekarang diharapkan kalian kembali berkumpul disini.., bubar..",

Sambung Panglima Rokhim lagi mengakhiri briefing awal pagi itu.

.........
Kedubes Australia
11.30 wib


"Sepertinya tak banyak yang bisa kita lakukan saat ini, pastinya mereka sudah menempatkan sejumlah mata-mata untuk mengawasi kita disini mengingat keadaan yang semakin memanas karena peristiwa kemarin sore..", 

kata Lt.Jones, ketegangan diwajahnya tampak jelas terlihat.

"Lalu apa yang akan kita lakukan chief?",

 Sgt.Maj.Bradley bertanya.

Tampak juga ketegangan meliputi seluruh wajah para anggota pasukan Khusus Amerika tersebut, jauh dalam diri mereka..mereka juga merasa sedikit salut terhadap militer Indonesia yang begitu cepat mengantisipasi pergerakan mereka dengan menempatkan beberapa mata-mata yang terus mengawasi mereka.

"Tidak ada, kita harus lebih berhati-hati sekarang, aku merasa seorang penjual kopi diluar selalu muncul di jam-jam tertentu.., sepertinya dia bukan penjual kopi biasa..", 

sahut Lt.Jones sembari melirik keluar dari balik gorden jendela.

"Apakah maksud anda ia seorang mata-mata Chief???", 

kali ini Sgt.David yang bertanya.

"Itu bisa saja benar.., kita hanya perlu lebih berhati-hati saja..", 

jawab Chief pasukan khusus tersebut, berusaha agar tidak membuat para anak buahnya kaku dengan sibuk memikirkan penjual kopi keliling diluar sana.

.............
Markas Pusat
30 menit sebelum Misi

Panglima Rokhim telah selesai memberikan arahan, Mayjen Rizal yang saat itu hadir juga telah usai menyerahkan segala perlengkapan mereka.

Letnan Mahda, Lettu Adam, dan juga Elang akan diberangkatkan menggunakan Helikopter milik TNI AU.

"Sebaiknya kalian melakukannya dengan cepat.., aku tak ingin sesuatu terjadi diluar rencana kalian..", 


ucap Jendral Purnomo mendekati ketiga prajurit terbaiknya itu.

"Dan kau Elang.., tetaplah menjadi dirimu yang sekarang, buang jauh-jauh pribadimu yang dahulu.. Aku tak ingin melihatmu seperti dulu lagi..", 

sambung Jend.Purnomo lagi.

"Dia yang dulu..???", 

gumam Lettu Adam dalam hati sembari melirik ke arah Elang, begitu juga Letnan Mahda.

Sepertinya mereka merasakan suatu kecemasan Jendral purnomo tentang diri Elang yang dulu, namun mereka tak mengetahui bagaimana hal itu bisa membuat Jendral Purnomo begitu mencemaskan hal tersebut.

Sementara Elang hanya diam tak bergeming, tangannya erat menggenggam senjatanya, pandangannya lurus dan tajam.

Elang yang dahulu???

.........
.........

Jim is Death??? why..???

Jim, mata-mata korea..
Negaranya sudah tak mengakuinya lagi, bahkan Badan Militer divisi Mata-mata Korea telah menghapus seluruh catatan atau file-file sepak terjang Jim Hoo.

Menurut Statistik Divisi mata-mata Korea, Jim menduduki posisi kedua sepanjang sejarah inteligen dalam kesuksesan misi yang diembannya, hanya tertinggal satu misi lagi dari posisi pertama yang ditempati oleh Shun Lee Hoo yang tak lain adalah ayah kandung Jim Hoo.

Jim seorang yang selalu awas dan waspada meskipun ia tak pernah berhenti berbicara untuk menutupi kesepiannya karena ia adalah seorang yang sedang terguncang.

ia merasa lelah jalani hidup tapi tak bisa menjadi dirinya sendiri karena tugasnya sebagai mata-mata, lalu ia bertekad untuk mengalahkan rekor ayahnya sebagai titik akhirnya menjadi seorang mata-mata.
namun sebelum ia berhasil, Negaranya membuangnya.

ia mulai berubah ketika ia melihat dan mengenal Elang, dengan bertemu dan mengenal Elang ia merasa tak sendiri karena Elang adalah seseorang yang juga seperti dirinya, membuat ia dan Elang seperti saling terhubung.

Peran Jim adalah sebagai sahabat Elang, sahabat mempunyai 3 misi khusus dalam suatu hubungan persahabatan.

sahabat yang menghibur, menemani, dan memberikan semangat.

1. sahabat yang menghibur

Jim sering melakukannya dengan permainan kata-katanya, dan tingkahnya yang sedikit konyol.

2. sahabat yang menemani

Jim selalu menemani Elang dalam suka maupun duka, baik mudah ataupun sulit, tak perduli dimanapun mereka berada.

3. Sahabat yang memberikan semangat

Hal terakhir yang dilakukan Jim secara tak langsung, yah.. dengan kematiannya.. Jim telah membuat Elang kembali menjadi "the silent Killer" yang sesungguhnya, dan Elang butuh itu karena pribadinya telah berubah 60% dari dirinya dahulu setelah bertemu Jim.

This is a war..!
Everything is useless

(R.I.P JIM)

.............

(Bersambung)

Rabu, 28 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 41

★HENING★ Part 41 



" AKHIRNYA KITA PULANG JIM...! "




"sepertinya Amerika sudah mulai bergerak.., sebaiknya kita harus waspada dan tetap megawasi pergerakan mereka..", 

ucap Panglima Rokhim dengan mimik serius.

"Lalu apa yang menjadi target mereka..? Petinggi-petinggi negara inikah?", 

sela Jendral Purnomo bertanya.

"Aku rasa begitu, tapi masih banyak kemungkinan lain..", 

Mayjen Rizal menyahut.

"Saya rasa bukan itu pak..",

 ucap Letnan Vega tegang.

"Maksudmu Letnan?", 

tanya Mayjen Rizal.

"Panglima, apa penyamaran mereka saat masuk ke indonesia?", 

tanya Letn.Vega.

"Mereka menyamar sebagai pengusaha..", 

jawab Panglima Rokhim.

"Sudah sangat jelas, target mereka adalah bapak Wakil Presiden.. Bapak Haryono..",

seru Letn.Vega.

Semua orang yang ada diruangan itu terkejut dengan pernyataan Letnan Cantik itu.

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal itu Letnan? Bukankah terlalu awal untuk menduga-duga seperti itu?", 

tanggap Mayjen Rizal.

"Tidak pak, 3 hari dari sekarang pak Haryono akan menghadiri seminar sekala internasional yang dimotori oleh perusahaan dalam negri dalam merangkup pasar asia, dan Pak Wapres diundang untuk menghadiri itu...

Juga Tamu-tamu undangan tersebut adalah para pengusaha dari seluruh asia tenggara..!", 

jelas Letn.Vega.

"Masuk akal.., tapi apa itu tak terlalu dini Letnan..?",

sahut Panglima.

"Lapor Panglima, saya rasa tidak..",

 potong Elang,

"Untuk apa negara sebesar Amerika mengirim pasukan terbaiknya jika hanya misi penyusupan..? Saya yakin mereka punya misi besar seperti yang dijelaskan oleh Letnan Vega..",

 terang Elang.

Sejenak Panglima berfikir mengerutkan dahinya, tampak Panglima berdiskusi dengan Mayjen Rizal dan Jendral Purnomo setelah mendengar pengamatan Letnan Vega.

sementara Letnan Vega tampak melirik Elang dengan seksama.

"Penjelasanmu bagus..", 

ucap Letn.Vega pelan.

"Tidak sebagus dirimu..,", 

sahut Elang.

"Sudah lama sekali aku tak melihatmu..",

 ucap Letn.Vega lagi.

Namun Elang hanya diam dan sejenak bangkit,

"Aku hendak keluar sebentar, aku tak terbiasa dengan rapat seperti ini..", 

kata Elang berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

"Kau selalu seperti itu, tidak berubah sedikitpun..",

 Let.Vega menanggapi namun Elang tak menghiraukannya.

...........
Sementara itu..
Darah menetes dari pergelangan tangan Jim karena terkena sabetan pisau Heru, Jim berusaha menyeimbangkan badannya agar tak jatuh, sementara Heru kembali menyerangnya dengan sebuah tendangan.

" ! "

Menyadari itu Jim menghindar dengan cara menunduk seraya memberikan tendangan balasan ke arah perut Heru.

"Buk!"

Heru mementahkan tendangan Jim dengan tangannya dan melangkah cepat mendekati Jim sambil melayangkan tinjunya dan..

"Bamp!.."

Telak mengenai wajah Jim, tidak sampai disitu Heru kembali menyerang dengan pisaunya..

"Tsskk!!!!"

"Siapa kau sebe..narnya..???",

 rintih Jim ketika pisau Heru tertancap di perutnya, darah segar mengalir.

"Tak disangka.., tanpa disengaja aku menemukan kalian..!", 

sahut Heru sambil menusuk dalam-dalam pisaunya.

Darah terus mengalir, Jim mulai kehilangan tenaga.

"Astaga.. Kau berkhia..nat pada negaramu, kau adalah mata-mata pihak asing..", 

tebak Jim sambil menahan ngilu dari luka yang menganga di perut kirinya.

"Sungguh? Sudahlah jangan ceramahi aku disaat kau akan mati..!", 

sahut Heru dengan nada sombong.

Dilain tempat Elang baru mengingat Jim sahabatnya ada diruangan tak jauh dari tempatnya berada sekarang, segera saja ia menuju kesana untuk menemui sahabatnya tersebut..

Tak lama berselang ia sudah berada didepan pintu ruangan, namun betapa terkejutnya Elang ketika ia beranjak masuk dan mendapati Jim tergeletak bersimbah darah.

"Jim...!!!"

 teriak Elang berlari mendekat ke rekannya itu.

"Ada apa ini?!? Apa yang terjadi..?!?",

 tanya Elang meraih tubuh rekannya yang tak berdaya itu.

"Ekh.. Anak I..tu.., dia..", 

Jim kesulitan menyelesaikan kata-katanya.

"Sial..! Bertahanlah..!", 

seru Elang sembari berlari keluar ruangan.

"Tolong..! Panggilkan ambulan..!", 

teriak Elang ke arah para staf-staf yang berada di markas tersebut.

Sontak orang berdatangan dimana Jim berada dan berusaha memberikan pertolongan seadanya, salah satu dari mereka sibuk menelpon ambulan.

" Kau lihat seseorang keluar dari ruangan ini..?!?", 

tanya Elang pada seseorang staf yang berada di dekat situ.

"Tadi ada seorang pemuda dari ruangan itu dan berjalan keluar..",

 jawab orang itu sembari menunjuk ke arah luar.

"Sial..!",

 Elang berlari keluar, sejenak ia memperhatikan sekitar berusaha menemukan sosok Heru.

Elang berputar-putar di jalan tak jauh dari markas pusat itu masih berharap untuk menemukan sosok Heru.

Sesaat matanya melihat sosok Heru sedang berjalan dengan tergesa-gesa di kawasan yang ramai tak begitu jauh dari posisinya.

" ! "

Segera Elang berlari sembari merampas Senapan jenis SS-1 yang di sandang seorang prajurit yang lewat.

"sebentar..!",

 seru Elang dan langsung berlari dan langsung menempatkan sosok Heru di pijera Senapan rampasannya.

Heru tampaknya tak menyadari keberadaan Elang, ia tampak terus berjalan terburu-buru.

" Tak kusangka kau..", 

gumam Elang bersiap menarik picu.

"Tash..!"

Sebuah tembakan dilepaskan Elang, gemuruh suara tembakan membuat warga sipil yang tengah berlalu-lalang berteriak panik.

Sementara para anggota TNI yang berada disitu segera bersiaga dan mendekat ke arah Elang.

Sekitar 100 meter dari situ tampak Heru terbaring dengan sebutir peluru bersarang dipaha kirinya.

"Ini..!", 

ucap Elang sembari mengembalikan Senapan itu kepada pemiliknya, selanjutnya ia berlari ke arah Heru.

Tapi tiba-tiba saja sebuah sedan hitam berhenti tepat disebelah Heru, sesaat membuka pintu dan tampak 2 orang membawa Heru masuk dan langsung tancap gas meninggalkan lokasi tersebut.

"Sial...!", 

geram Elang menyadari ia gagal menangkap Heru, tak ingin berlama-lama ia segera kembali untuk melihat keadaan sahabatnya Jim.

Sudah ramai kerumunan orang mengelilingi Jim, Elang membelah kerumunan orang di ruangan itu dan mendapati sahabatnya tengah mendapat pertolongan seadanya dari seorang prajurit medis yang sedang berada disana.

"Bagaimana keadaannya?",

 tanya Elang panik.

"Dia kritis! terlalu banyak darah yang keluar, saya rasa lukanya mengenai bagian vital tubuhnya, sementara Ambulan masih dalam perjalanan kemari...", 

jelas prajurit medis tersebut.

"Jim..! Jim bertahanlah...!",

 teriak Elang.

Jim berusaha menyahut namun suaranya tak keluar dari mulutnya yang bergerak.

Jim berusaha menggenggam tangan Elang yang merangkulnya, namun sebelum jari-jarinya yang merah penuh darah berhasil meraih tangan Elang... Ia tersentak dibarengi kedua tangannya yang terkulai, saat itu juga Jim tertidur untuk selama-lamanya.

"Jangan...! Jangan begitu..! Jangan begitu Jim...!",

Elang histeris.

"Bangun...! Bangun Jim..! Bangun!",

 Elang menggoncang tubuh sahabatnya itu yang sudah tak bernyawa lagi.

Air matanya menyeruak membanjiri pipinya, Elang tak bisa itu meski dengan sangat nyata dihadapannya ia dapati sahabatnya tak lagi bergerak.

"Jim...! Jim..! Tidaaaaakkkkk....!", 

Elang semakin histeris membuat orang-orang disekitarnya ikut merasakan kesedihannya hari itu.

...........
5 oktober 2012
17.25 wib
Pemakaman umum Jakarta

Jim dimakamkan hari itu juga, tampak Elang tertunduk diam meratapi sahabatnya yang telah pergi untuk selama-lamanya.

Tampak pula disitu, Letnan Mahda, Lettu Adam dan Jendral Purnomo, serta sejumlah prajurit dibantu warga sipil melaksanakan prosesi pemakaman tersebut.

Warga yang melewati kawasan pemakaman tersebut dibuat heran melihat prosesi pemakaman hanya dihadri puluhan orang berseragam militer, namun mereka juga bertanya-tanya kenapa disemayamkan disini, bukan di makam para pahlawan.

Sore itu sebuah batu nisan tanpa nama menjadi saksi bisu peristiwa hari ini, Elang sengaja meminta agar nisan itu tak diberi nama, tapi digantikan dengan sebuah tulisan yang berbunyi..

"Akhirnya kita benar-benar pulang..."

(Bersambung)

Selasa, 27 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 40

★HENING★ Part 40 



" TANDA TANYA? "




5 Oktober 2012
09.00 wib
Markas Pusat, Jakarta..

Seorang perwira TNI berjalan menyusuri ruangan utama Markas pusat tersebut sambil sesekali membalas teguran orang-orang yang menyapanya.

Letnan Vega mendapat sambutan hangat dari sejumlah rekannya karena ini kali pertama ia kembali bertugas semenjak ia mendapat cuti mendadak karena luka tembak yang ia dapat beberapa hari yang lalu.

meskipun kelihatan jelas ia belum pulih total, namun ia merasa harus melakukan kewajibannya disaat negaranya sedang mengalami tekanan militer.

.........
Aula Ruang Komando
09.20 wib

Panglima Rokhim menggelar rapat taktis mendadak yang dihadiri oleh Jendral Purnomo, Danjen Kopassus Mayjen Rizal Harahap beserta staffnya, juga Letnan Mahda, Lettu Adam dan Elang yang mengenakan seragam PDL angkatan darat berpangkat Letnan yang diterimanya kemarin langsung dari Panglima Rokhim, tampaknya Jendral Purnomo berhasil meyakinkan Panglima besar itu.

Elang merasa haru dan bangga ia telah kembali diterima sebagai salah satu bagian dari militer Indonesia, sesekali ia memperhatikan seragamnya tersebut, sebuah Emblem berbentuk jaring laba-laba tersemat didada seragamnya, emblem khusus dari satuan intelijen TNI.

"Baiklah langsung saja, tadi malam salah seorang anggota unit 1 dibawah pimpinan Mayjen Rizal Harahap mendapatkan sesuatu dari kantor Kedubes Australia untuk indonesia, jadi langsung saja kita mendengar langsung dari beliau..", 

kata Pang.Rokhim membuka pertemuan mendadak itu.

"Terima kasih Panglima, baiklah.. Semalam selitar pukul 19.30 malam, salah satu anggota saya dari unit 1 yang ditugaskan mengamati kawasan Kedubes Australia melihat beberapa tamu Sir Robbert yang mencurigakan..

Menurut data inteligen mereka datang sebagai tamu yang berfrofesi sebagai pengusaha, untuk lebih mendetil, berikut foto-foto yang berhasil kami dapatkan..",

Ucap Danjen Kopassus tersebut sembari mengarahkan yang lainnya ke monitor 80 inci tak jauh dari mereka.

Satu persatu foto muncul secara slide di monitor tersebut, tampak Lt.Jones beserta ke-5 anak buahnya turun dari mobil dan tampak berjalan masuk ke kantor Kedubes Australia.

" !!! "

Lettu Adam tertegun begitu melihat foto Lt.Jones terpampang, Lettu Adam berusaha mengingat wajah yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya.

"Ada apa Letnan?",

Mayjen Rizal Harahap menyadari gelagat prajurit terbaiknya itu.

"Lapor ndan..! Saya sepertinya mengenali wajah salah satu dari mereka..!",

Seru Letn.Adam.

"Benarkah, yang mana itu Letnan?",

 tanya Mayjen Rizal Danjen Kopassus tersebut.

"Siap komandan, yang berkulit hitam..",

 jawab Lettu Adam.

Sejenak Mayjen Kopassus itu menekan sebuah tombol di remot yang digenggamnya.

"Inikah letnan?", 

tanya Mayjen Rizal ketika sebuah foto seorang berkulit gelap sedang berjalan.

"Siap, benar Komandan.. Tidak salah lagi", 

sahut Lettu Adam merasa yakin bahwa ia pernah melihatnya.

"Siapa dia dan dimana kau melihatnya?",

 sela Panglima Rokhim.

"Tidak salah lagi, saya melihatnya pada sekitar tahun 2000, pada saat saya ditugaskan bersama rekan-rekan saya dari unit 2 kopassus di hutan papua barat.. Orang itu adalah anggota pasukan Khusus Amerika..", 

jawab lettu Adam.

"Lanjutkan letnan..", 

sahut Mayjen Rizal.

"Siap ndan, pada saat itu saya bersama 7 orang lainnya dari unit 2 Kopassus diperintahkan memeriksa suatu area yang menurut intelijen adalah tempat "Dropping Zone' pihak asing menyuplai perbekalan para pemberontak disana..",

 ucap Lettu Adam mengingat kembali kejadian itu.

..........
Papua Barat..

Seperti yang diceritakan oleh Lt.Jones perihal seorang anggota kopassus yang hampir membunuhnya, ternyata anggota kopassus itu adalah Lettu Adam yang kala itu masih berpangkat Letnan dua Kopassus.

Setelah perkelahian singkat yang berakhir dengan sabetan sangkur Letnan Adam didada Lt.Jones, Letn.Adam bermaksud menghabisi Lt.Jones saat itu juga.

Namun ternyata seorang rekan dari Lt.Jones menyadari perkelahian mereka dan berlari mendekat sambil melepaskan tembakan, sontak Letn.Adam mengurungkan niatnya menghabisi Lt.Jones dan meraih senapan SS-1 yang disandangnya.

Letnan Adam melompat mundur kebelakang sambil membalas tembakan, suara tembakan membuat rekan-rekan Lt.Jones yang lain juga ikut menembakkan senapan-senapan serbu mereka, ditengah kontak senjata tersebut Letn.Adam memilih mundur karena sayup-sayup ia mendengar suara helikoptar yang ternyata adalah heli penjemput tim Lt.Jones.

Dan benar saja, tak lama siraman peluru kalibar 50mm dari Heli tersebur mengarah ke posisi letn.Adam membuatnya hanya bisa bersembunyi dibalik batu besar dibalik semak belukar.

Sesekali rekan-rekan Letn.Adam menembaki heli tersebut namun tak berpengaruh banyak karena Heli itu masih terus memuntahkan peluru kaliber 50mm-nya dibalik kegelapan malam disertai hujan kala itu.

Tak berapa lama, Lt.Jones dan rekan-rekannya berhasil kabur dengan Heli tersebut.

"Namun saya masih ingat jelas wajahnya dan logo diseragamnya yang saya ketahui itu adalah logo dari pasukan Khusus Amerika..", 

0jelas Lettu Adam mengakhiri ceritanya.

"Jadi benar orang itu adalah salah satu anggota pasukan Elit amerika..", 

sahut seseorang yang tiba-tiba saja muncul diruangan tersebut.

Seketika semua orang melihat ke arah orang tersebut.

"Lapor panglima.., saya Letnan Vega melapor untuk kembali bargabung disini..",

kata seseorang itu yang ternyata adalah Letnan Vega.

"Diterima Letnan..", 

sahut Panglima Rokhim merasa senang sang Letnan jenius telah kembali bertugas, Jendral Purnomo juga tampak senang dengan kehadiran Ajudannya tersebut, ia berfikir dengan begini akan ada seseorang yang piawai melihat situasi.

" . . ."

Elang yang sedari tadi serius mendengarkan juga tampak terkejut dengan kehadiran Letnan Vega, Jendral Purnomo menyadari keterkejutan Elang atas kehadiran wanita yang dahulu adalah seorang wanita yang berhasil menaklukan hati si 'Silent killer'.

" Kau. . .?", 

Letnan Vega terbata mengetahui keberadaan Elang disitu.

"Silahkan Letnan, kau datang disaat yang tepat..", 

sela Panglima Rokhim mempersilahkan Letnan Vega duduk diantara Elang dan Lettu Adam.

........
Pentagon, Amerika..

" pak presiden? Apa sebaiknya segera kita perintahkan Lt.Jones untuk menjalankan rencana K-4 itu..?", 

Major O'Connor yang telah kembali ke Amerika tampak sedang membicarakan sesuatu dengan Prasiden Frank Carlton dan Menhan Sir Maloney.

"Hmm, tunggu dulu.. Itu terlalu awal, biarkan mereka membaca situasi disana terlebih dahulu", 

jawab Presiden Frank Carlton tenang.

"Itu benar, karena target kita adalah target yang sangat vital bagi mereka.. Pasti Lt.Jones dan timnya perlu persiapan yang matang..",

 sambung Sir Maloney.

"Benar juga.., kita tak mungkin melakukan serangan terbuka.., PBB sepertinya meragukan kebenaran skenario kapal UN kita di perairan perbatasan indonesia dan Australia..",

 sahut Major O'Connor mengingat PBB masih menyelidiki peristiwa tersebut dan memberikan waktu bagi Indonesia untuk mengklarifikasi secara penuh.

........
Guest Room, Markas pusat Jakarta..

Tampak dua orang sedang berada diruangan tamu markas pusat Komando tersebut, mereka adalah Jim dan Heru.

"Apa kau tak merasa disingkirkan?",

 ucap Heru pelan.

"Hah? Apa maksudmu?", 

tanya Jim.

"Lihatlah, rekanmu itu meninggalkanmu disini..", 

tambah Heru.

"Apa yang sedang kau katakan? Apa aku terlihat bodoh? Ia sedang ikut suatu rapat penting..

Aku orang asing tentu saja tak diizinkan ikut..", 

jawab Jim gusar dengan kata-kata Heru.

"Yah benar, kau orang asing.. Aku lupa, hahaha..",

Heru tertawa.

"Ada apa kau ini..! Jika kau ingin memprovokasiku itu tidak akan berhasil..!",

kata Jim mendekati Heru, Jim merasa ada sesuatu dengan Heru.

Semula ia melihatnya sebagi pemuda tak banyak bicara, namun sekarang nyatanya Heru sangat banyak bicara.

"ini seperti..", 

Jim bergumam dalam hati mengingat kembali saat Elang menatap Heru memikirkan sesuatu saat di rumah persembunyian.

"Begitukah? Kalau begitu kau sudah tak dibutuhkan lagi..!", 

sahut Heru sembari mengeluarkan sebuah pisau dari balik jaketnya dan berniat menusuk Jim.

" !!! "

Menyadari itu Jim segara menghindar, namun Heru kembali menyabetkan pisaunya ke arah jim.

"Crssshhh!"

Percikan darah segar terlihat menetes dilantai ruangan itu

Siapa sebenarnya Heru? Mengapa ia menyerang Jim?

.....,......
(Bersambung)

Senin, 26 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 39

★HENING★ Part 39 



" PASUKAN KHUSUS "



Sejumlah negara mulai meragukan tindak tanduk Indonesia karena peristiwa tenggelamnya kapal berlambang UN di perbatasan laut Indonesia-australia, tak ayal Indonesia menjadi tujuan utama para pemburu berita dari seluruh dunia.

Sementara itu PM Australia Dubbront dan Presiden Amerika Frank Carlton semakin mempererat hubungan mereka untuk bekerja sama menghancurkan Indonesia yang semakin berkembang karena kepemimpinan Presiden Ir.Darwinsyah

Hal itu dibuktikan dengan kedatangan tim kecil dari pasukan khusus Delta force US Army ke Australia.

........
Royal Australian Navy (RAN) basecamp, Brisbane Australia..

Commander Australian Fleet Rear Admiral Deckker Wallaby menyambut kedatangan Major O'Connor dan ke-4 anggota terbaiknya menyusul kedua rekan mereka yang telah datang terlebih dahulu 2 hari sebelumnya.

Tanpa banyak basa-basi Major O'Connor tampak langsung menyusun strategi bersama Admiral Deckker.

Entah apa yang direncanakan, namun tampaknya ada semacam Deadline yang dikejar oleh pasukan Khusus Amerika tersebut, baru saja tiba mereka sudah langsung menyusun strategi.

Sementara dirumah persembunyiannya Elang dan Jim beserta Heru tampak sibuk mempersiapkan sesuatu setelah mereka mendapat telepon dari Jendral Purnomo.

"Apa yang mereka katakan..?",

tanya Jim.

"..tadi itu seorang Jendral, dia satu-satunya komandan ku.. Kita harus bersiap, ada suatu rencana yang akan melibatkan kita.., tapi aku meragukan dia..",

sahut Elang melirik Heru yang sedang membereskan sejumlah peralatan Mahda dan Adam yang juga akan mereka bawa.

"Kenapa dengannya?", 

tanya Jim.

" Entahlah.., aku tak tahu..", 

kata Elang menahan suatu hal yang sedang dipikirkannya.

Tak lama kemudian sebuah mobil kijang berwarna biru berplat militer menjemput mereka, segera saja mereka berlalu pergi menaiki mobil suruhan Jendral Purnomo itu.

Sesaat sebelumnya Jendral Purnomo beserta Lettu Adam dan Mahda sibuk membicarakan suatu rencana untuk membersihkan nama Elang dan menggulingkan Jend.Irwan dari kepemimpinannya di BPN, dan itu membutuhkan otorisasi Panglima Rokhim.

Setelah berbicara panjang lebar dengan Panglima itu, Jendral Purnomo mendapatkan Otorisasi tingkat 'sangat rahasia' dari Panglima Rokhim.

"Berarti kau yang bertanggung jawab atas kejadian di BPN??!?", 

kata Panglima Rokhim terkejut begitu mendengar penjelasan Jendral Purnomo tentang semua kejadian sebelumnya secara detil.

"Kau sudah keterlaluan..!, saya akan melaporkan ini ke Presiden", 

tambah Pang.Rokhim beranjak hendak menghubungi pihak Provost dengan telepon disudut meja kerjanya.

"..panglima.., apakah tidak benar jika seorang prajurit seperti saya dan mereka berusaha membela negara ini..?", 

ucap Jend.Purnomo.

"..tentu saja itu benar..", 

jawab Pang.Rokhim sambil mulai menekan tombol teleponnya.

"Anda harusnya bisa melihat kejanggalan yang terjadi sebelumnya setelah presiden melarang Jendral Irwan untuk terlibat..

Agen itu sedang dalam perjalanan kesini bersama beberapa temannya, anda bisa mengetahui kebenaran tentang negara ini, anda takkan menyangka bahwa anda tidak mengetahui setengah kegiatan militer kita di dunia internasional padahal anda adalah seorang panglima besar...

Dan anehnya agen kita itu mengetahui semuanya..",

jelas Jend.Purnomo dengan mimik serius.

" Apa yang sedang kau bicarakan..?

Apa maksudmu banyak kegiatan atau misi rahasia yang tak ku ketahui atau tanpa persetujuanku..?",

tanya Pang.Rokhim tertegun.

"Ya panglima.., saya pertaruhkan jabatan dan harga diri saya serta nyawa saya untuk ini.., jadi biarkanlah saya dan mereka melakukannya sebelum semua terlambat, sebelum negara ini hancur..",

 terang Jend.Purnomo.

Panglima Rokhim terhenyak mendengarnya, ia ragu.. Namun hati kecilnya merasa bahwa ia harus mempercayai Jendralnya ini.

Segera Panglima Rokhim mengurungkan niatnya melaporkan Jendral Purnomo ke Polisi Militer.

.......
4 oktober 2012
19.25 wib
Kantor Duta besar Australia, Jakarta Selatan

Dua mobil pabrikan Jepang tampak memasuki kantor Dubes Australia untuk indonesia tersebut dan enam orang berjas hitam turun dari mobil-mobil itu, Dubes Australia untuk indonesia sir Robbert Hawkins menyambut ke 6 orang tamunya itu dengan ramah disela-sela kesibukannya.

Tak jauh dari situ tampak seorang penjual kopi keliling mengamati situasi tersebut, dia adalah salah satu anggota inteligen dari unit 1 kopassus yang ditugaskan mengamati kantor Sir Robbert Hawkins itu karena situasi yang menegang antar kedua negara akibat peristiwa di perbatasan laut sebelumnya.

"Bagaimana perjalanan kalian..? Sebaiknya kalian bersiap, saya yakin kita tak punya waktu banyak dalam kondisi seperti ini..", 

ucap Sir Robbert kepada ke-6 orang tamunya itu.

"Yah semuanya baik saja pak Dubes, kami mengerti..", 

sahut salah seorang tamunya yang ternyata adalah Liutenant Jones, Chief dari tim Alpha-2 pasukan khusus Amerika Delta force bersama ke lima anak buahnya yaitu Sergeant Major Bradley, Sergeant David, Sergeant joey, Corporal Luis, dan Corporal Hopkins.

"Ternyata tak sulit untuk masuk ke negara ini..", 

kata sgt.David setelah memikir ulang perjalanan mereka dengan menyamar sebagai pengusaha-pengusaha Australia yang di undang Sir Robbert Hawkins selaku Dubes Australia untuk Indonesia.

" Maaf, sebaiknya kita tidak menganggap remeh negara ini.., bukan tidak mungkin kalian telah diamati oleh satuan khusus negara ini tapi mereka membiarkan kalian karena kalian belum melakukan apa-apa..", 

sahut Sir Robbert mengingatkan.

"Itu benar, ingat.. Kita berada di negara yang mempunyai pasukan khusus yang hebat..", 

sambung Lt.Jones.

"Apa itu Kopassus..?", 

tanya Cpl.Hopkins sebagai anggota tim ini yang paling bungsu.

"Yah.., mereka pasukan yang sangat hebat, saya yakin kalian belum pernah berhadapan dengan mereka..",

 sahut Lt.Jones serius.

"Maksud anda chief..?", 

tanya Sgt.David, sementara sir Maloney hanya diam mendengarkan.

"Saya punya cinderamata dari mereka..",

 kata Lt.Jones sembari membuka bajunya memperlihatkan sesuatu.

Kelima anak buahnya terkejut melihat ada bekas luka sayatan pisau di dada kiri dan satu bekas luka tembak di lengan kanan Chief mereka.

"..apakah itu..", 

sgt.Joey hendak bertanya.
"Yah, ini dari salah satu dari mereka..",

 jawab Lt.Jones mengingat kembali peristiwa tersebut.

...........
Papua Barat..
23 februari 2000
01.00

Disebuah perbukitan kecil ditengah hutan lebat Liutenant Jones yang kala itu masih berpangkat Private tampak berjongkok diam diantara rimbun semak belukar disekelilingnya.

Saat itu ia dan seorang atasannya yang berpangkat Sergeant Major disisipkan diantara 6 orang dari SAS Australia untuk menjaga titik 'Dropping' yang dilakukan Australia untuk men-suplai senjata-senjata untuk para pemberontak dikawasan itu.

Semua berlangsung lancar meskipun rintik hujan terus mengguyur tak henti-henti, paket telah sampai dengan aman dan setelah 3 hari berlalu kini saatnya mereka kembali.

Pvt.Jones masih diam mengamati daerah sekitar yang gelap itu, guyuran hujan semakin menyulitkan matanya untuk melihat sekitarnya, sesekali ia menggunakan teropong Night vision yang ia bawa, namun ia tetap saja merasa kesulitan.

Ia melirik jam kecilnya yang menunjukan sudah pukul 3 pagi dan jemputan belum juga datang, disaat-saat ia mulai didera kantuk ia seperti melihat pergerakan tak jauh darinya.

Yah, Pvt.Yakin bahwa itu adalah sebuah pergerakan dan semakin jelas ketika tampak berbentuk seperti beberapa orang yang sedang tiarap diantara semak belukar.

"Sial.., terlalu jauh..",

Gumam Pvt.Jones ketika berniat memanggil rekan-rekannya yang sedang tertidur di balik mantel-mantel mereka sekitar 6 meter darinya.

Pvt.Jones melirik M16A2 nya yang tergeletak disebelahnya beserta seluruh peralatannya namun jauh dari jangkauan tangannya, ia tidak ingin bergerak agresif karena ia memperkirakan beberapa orang didepannya itu pasti sedang mengamati, dan itu berbahaya.

"Mereka semakin dekat.., sungguh sialan..!",

Umpat Pvt.Jones dalam hati menyadari sejumlah musuh sudah merayap tak kurang dari 15 meter didepannya, dengan bergerak pelan ia mencoba meraih senjatanya.

Sesaat ia hampir meraih senjatanya, secara mengejutkan seseorang tiba-tiba muncul dari semak disebelahnya sambil mengarahkan pistol ke arahnya.
Menyadari itu ia buru-buru meraih senjatanya, namun

"Tssshhh!"

Sebuah peluru menghantam lengannya sehingga senjatanya terlepas dari tangannya.

Namun Pvt.Jones tak menyerah, ia segera berbalik sambil melayangkan tangan kirinya membuat seseorang itu menjatuhkan pistolnya, melihat posisi lawannya tertekan, Pvt.Jones berniat melayangkan tinjunya.

Namun secara cepat lawannya itu mencabut pisaunya dan menyabetkannya ke Pvt.Jones.

"CraSshhh"

Darah segar meluncur dari balik seragam Pvt.Jones, Pvt.Jones mengerang kesakitan dan terjatuh terbaring, ia kehabisan tenaga mengingat ia masih menahan perih luka tembak dilengannya.

"Lalu..bagaimana anda bisa selamat Chief??",

Sgt.Joey bertanya memotong cerita Lt.Jones.

"Itu tak perlu kuceritakan.., aku yakin kalian tak ingin mengalaminya..", 

jawab Lt.Jones dengan mimik tegang.
Kejadian itu masih segar dalam ingatnnya, ia yakin tak akan bisa melupakannya.

"Yang paling saya ingat saat itu adalah sebuah Emblem didada seseorang itu.., yang baru kuketahui itu adalah emblem Kopassus indonesia 5 bulan setelahnya.., mereka bergerak senyap, tak terbaca.., namun disaat kita mengetahui posisi mereka, salah seorang dari mereka sudah sedari tadi berada disebelah kita.., itu sungguh gila..", 

jelas Lt.Jones.

"Namun bukan berarti kita tidak bisa mengalahkan mereka.., ingat kita adalah Delta Alpha..!", 

seru Letnan berkulit hitam itu.

"Tentu saja pak",sahut kelima anak buahnya tersebut, sementara Sir Robbert tampak tercengang mendengar cerita letnan dari pasukan khusus tersebut.


(Bersambung)

Minggu, 25 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 38

★HENING★ Part 38 




" DELTA SIAP DITERJUNKAN DAN KEMBALINYA SKY BRAIN !"




30 menit kemudian..

Berita penembakan kapal UN cepat merebak, ditambah lagi pihak Amerika mengklaim bahwa kapal itu adalah kapal Amerika untuk UN yang berada dikawasan Australia entah dalam rangka apa, setelah ditindak lanjuti ternyata benar tak jauh dari sana ada sekitar 10 kapal sejenis yang bertuliskan UN di dekat kapal HMAS-M87 milik Australia.

"Semua tepat waktu kapten, kapal-kapal UN kami sudah disini untuk memperkuat alibi rencana kita.., bukankan sebaiknya Perdana Mentri anda pak Dubbront mengetahui rencana kita berhasil?",

 ucap Ltn.Jones sumringah.

"Yah, kami sudah menyampaikan berita ini.. Kita hanya tinggal menunggu petinggi-petinggi kita melakukan sesuatu", 

sahut Capt.Willy.

..........
Istana Merdeka, Jakarta..

Sebuah sedan hitam dengan pengawalan ketat berhenti tepat didepan Istana, sedan berplat RI-1 itu membawa orang nomor satu di nusantara ini Presiden Darwinsyah.

Tampak pula kehadiran Panglima Rokhim dan Jendral Purnomo serta Lettu Adam yang terpaksa ikut dalam rapat mendadak tentang peristiwa yang baru saja terjadi diperairan Indonesia yang berdekatan dengan wilayah perairan Australia.

Beberapa saat kemudian....

Ruang Pertemuan Kabinet Maju Merdeka Presiden Darwinsyah..

"KRI kita diperbatasan dikonfirmasi telah menenggelamkan sebuah kapal milik UN, saya sendiri terkejut begitu mendengar berita ini, sepertinya ada sesuatu yang terjadi disana dan kita tidak mengetahuinya, untuk itu saya minta bapak Laksamana Agung Sucipto untuk menjelaskannya..", 

ucap Pres.Darwin seakan tak ingin bertele-tele membuka rapat mendadak bersama para dewan dan petinggi-petinggi negara ini.

"Terima kasih pak presiden, hmmm.. Dari laporan yang saya terima setelah dikonfirmasi langsung oleh Kapten KRI kita sendiri yaitu Kapten Kadek Ashar, dijelaskan bahwa kapal UN itu masuk kedalam wilayah kita tanpa izin, seperti kita ketahui bahwa berita mengenai kapal-kapal UN yang berada dikawasan perbatasan baru kita terima 30 menit setelah penembakan yang dilakukan Kapten Ashar KRI Malahayati...

Juga dilaporkan bahwa kapal itu memiliki tulisan 'UN' yang relatif kecil dan berbendera Amerika, Kapten Ashar selaku kadek KRI Malahayati dinyatakan bersih, ia hanya melakukan hal yang sesuai prosedur.., terima kasih", 

jelas Laks.Agung Sucipto selaku petinggi dari TNI AL.

Semua orang yang hadir diruangan itu tampak diam seolah mencoba menganalisa kronologi tersebut.

"Mereka menjebak kita Jendral..",

Gumam Lettu Adam kepada Jend. Purnomo disebelahnya.

Jend.Purnomo tak menjawab, sepertinya ia berniat menunggu keputusan Pres.Darwinsyah mengenai ini.

"Panglima Rokhim.., apa yang kita dapat dari ini..",

tanya Pres.Darwinsyah sambil sesekali memijit keningnya, sepertinya semua masalah yang sedang terjadi membuatnya lelah terus berfikir.

Sesaat Panglima Rokhim diam sejenak seakan menyusun kata-kata pendapatnya agar mudah dicerna semua orang.

"Menurut saya ini jelas sekali merupakan provokasi yang mereka lakukan, sepertinya Amerika dan Australia bekerja sama untuk menyudutkan kita.., Pak presiden..

Kita harus melakukan sesuatu mulai dari segi penyidikan dan melimpahkannya ke PBB agar tidak terjadi salah arti..

 Setelah itu baru kita rencanakan tindakan selanjutnya dari segi pertahanan Militer",

Tanggap Panglima Rokhim.

"Saya rasa itu ide bagus, wakil kita untuk PBB pak Sutrisno telah saya utus untuk meloby disana, semua yang disampaikan oleh Laksamana bapak Agung tolong untuk segera diberitahukan kepada beliau untuk dijadikan bahan kepada PBB..",

kata Presiden Darwin lugas.

............
Pinggiran Jakarta Timur..

"Yang benar saja.. Angkatan laut kalian menembak kapal UN?? Apa itu tidak berlebihan?",

ucap Jim kaget.

"Begitu berita yang sedang beredar, kejadiannya sekitar 2 jam yang lalu, mungkin itu yang menyebabkan Adam belum bisa memberi kabar terhadap kita setelah ia menemui Jendral Purnomo..",

Sahut Mahda.

"Mungkin untuk beberapa waktu mereka kehilangan fokus terhadap aku dan Jim..",

Tanggap Elang pelan sambil sesekali memperhatikan keadaan sekitar rumah kecil yang mereka gunakan sebagai tempat bersembunyi, namun dengan santainya mereka duduk diberanda rumah tersebut karena mereka tahu perihal kaburnya mereka tak diangkat ke media berita sedikitpun.

"Kalian tunggu saja disini, aku juga akan melapor ke Jendral Purnomo.. Aku punya suatu rencana bagus untuk kita..",

 ucap Mahda.

"Yah, itu lebih baik.. Agar mereka tidak curiga atas tak kehadiran dirimu belakangan ini..",

Sahut Elang.

"Baiklah, aku pergi..",

kata Mahda sembari melangkah pergi membawa sebuah ransel sepertinya ia sudah merencanakan ini.

"Apa menurutmu, negaramu akan berperang lagi..?",

tanya Jim pelan.

"Aku rasa tidak akan begitu keadaannya.., mungkin akan terjadi semacam perang dingin..", 

sahut Elang.

.........
Delta Force basecamp..
Fort Bragg, California..

Di dalam suatu ruangan tertutup tampak beberapa orang berseragam militer sedang membicarakan sesuatu, diantara para anggota pasukan khusus tersebut juga terdapat Menhan sir Maloney.

"Setelah ini kalian akan menjadi unit terdepan yang akan ke indonesia meskipun secara rahasia.., ada suatu misi yang harus kalian lakukan..",

terang Menhan Maloney dengan mimik serius.

" Misi seperti apa itu pak?",

tanya Sergeant Major Bradley, dari penampilannya tampaknya Sergeant Maj.Bradley telah banyak melakoni berbagai misi, bisa dilihat dari banyaknya codet di lengannya.

"Seperti misi penyusupan misalnya, atau bisa saja misi penculikan atau bahkan pengeboman",

sahut Menhan.Maloney enteng.

"Lalu apakah kami harus bekerja sama dengan SASR (SAS) australia..?",

 sekarang giliran Sergeant Joey bertanya.

"Itu belum bisa dipastikan.., tapi sepertinya kalian tetap akan bergerak sendiri meskipun kalian akan bermarkas sementara disana..",

sahut Sir Maloney sambil sesekali membolak balik berkas-berkas yang ia bawa.

"Major O'Connor telah mengirim rekan kalian, mereka dari tim kecil kalian yaitu Liutenant Jones dan Sergeant David ke Australia..

Jadi hanya tim kalian yang dirasa cocok melakukan beberapa misi nanti..",

 tambah Menhan Maloney lagi.

"Maaf pak.., lalu dimana kami akan menerima misi kami..? Di pentagon atau washington..",

giliran Sergeant Mathew bertanya.

"Kalian akan mendapatkan misi kalian setelah kalian berada di Australia.., sekarang bersiaplah.., mungkin tak lama lagi O'Connor akan menemui dan membawa kalian ke Australia..",

jelas Menhan Maloney tegas.

"Siap pak..",

sahut Sergeant Maj.Bradley beserta yang lainnya.

..........
Markas pusat Jakarta..

"Mahda..?",

seru Jendral Purnomo ketika menyadari Mahda memberi hormat padanya dan Lettu Adam yang sedang bersamanya.

"Bagaimana dengan Elang?", 

tanya Jend.Purnomo.

"Dia baik saja kami melakukannya dengan mudah..",

sahut Mahda.

"Dan..",

" Adam telah menjelaskan semuanya pada saya selesainya kami menghadiri rapat mendadak oleh presiden tadi.., jadi saya kira kalian punya rencana setelah ini..",

potong Jend.Purnomo.

"Yah Jendral, kami ada rencana..",

sahut Adam sambil melirik Mahda.

..........
Cijantung, Jakarta Timur..

"Besok Kembali bertugas.. Kabarnya kali ini pihak Amerika dan Australia yang jadi lawan negri ini.., huhh...

Sebaiknya aku konsentrasi...", 

gumam Letnan.Vega dalam hati, meskipun ia tak menggunakan kursi roda lagi karena pihak Mabes TNI bagian kesehatan yang sangat memperhatikan kondisi Letnan cantik itu sehingga pemulihannya berangsur cepat, namun ia masih terdapat balutan perban dibalik seragamnya, ia masih jauh dari pulih total, tapi ia harus sudah kembali bertugas untuk negrinya..

........

(Bersambung)

Sabtu, 24 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 37

★HENING★ Part 37 



" JEBAKAN KECIL "



Dua orang berseragam militer tampak turun dari sebuah SUV pabrikan jerman yang dipelataran Markas pusat Jakarta,

 Beberapa prajurit tampak mengawal kedua orang itu hingga di ambang pintu masuk, selanjutnya hanya tinggal 2 orang prajurit saja yang ikut masuk.
Mereka adalah Panglima Rokhim dan Jendral Purnomo.

"Bagaimana menurutmu Jendral? Apa yang harus kita lakukan sekarang?",

 tanya Pang.Rokhim sesampainya mereka diruangan khusus Perwira TNI itu.

"Sepertinya menemukan kembali agen kita itu tidak terlalu penting sekarang.., kita punya masalah yang lebih serius sekarang..", 

ucap Jend.Purnomo berusaha memberi Elang dan yang lainnya sejumlah waktu dalam pelarian mereka karena Jendral Purnomo sendiri tidak mengetahui keberadaan para anak didiknya tersebut.


"Apakah ini tentang yang disampaikan Menhan?", 

tanya Pang.Rokhim lagi.

"..iya pak, saya rasa kali ini kita tidak bisa menganggap sepele, karena kali ini yang mungkin kita hadapi adalah negara sebesar Amerika..", 

jelas Jend.Purnomo dengan wajah tegang.

Sesaat Panglima Rokhim mengerutkan dahinya, begitu juga wajah dua prajurit pengawalnya yang berdiri di depan pintu tampak tegang tanpa sengaja mendengar penjelasan Jend.Purnomo.


"Dan jika benar terjadi, mungkin saja negara tetangga seperti Australia juga akan ikut campur membantu Amerika mengingat hubungan kita dengan Australia kurang baik akhir-akhir ini..",

 tambah Jend.Purnomo lagi.

"Hmm... Saya rasa kita bisa melakukan sesuatu terlebih dahulu", 

sahut Panglima Rokhim,

"Maksud anda pak?",

 tanya Jend.Purnomo.

"Maksud saya, mungkin saja Amerika telah mengirim mata-mata mereka kemari.., mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?", 

ucap Panglima besar TNI itu.

"Itu terlalu beresiko pak..", 

sahut Jend.Purnomo.

"Jendral, aku ingin kau memanggil prajurit dari Kopassus seperti Letnan Mahda atau Lettu Adam.., aku ingin kau memanggil salah satu dari mereka",

 pinta Panglima Rokhim.

" ?!? "

Jendral Purnomo tertegun, ia sendiri saja tak tau dimana keberadaan kedua Letnan terbaiknya itu, bahkan Danjen Kopassus Mayjen Rizal Harahap pasti akan sangat berang jika mengetahui kedua anak buahnya itu tidak diketahui dimana keberadaannya, selama periode perang dan beberapa saat kedepan Danjen Kopassus itu menyerahkan kedua Letnannya itu kepada Jendral Purnomo karena itu permintaan khusus dari Jendral Purnomo sendiri.

Jendral Purnomo diam tertegun berusaha mencari alasan yang tepat.
Namun secara tiba-tiba seorang prajurit yang mengenakan seragam doreng merah salah satu pasukan khusus di indonesia masuk ke dalam ruangan itu.


"Lapor ndan, komandan pasukan khusus anti teror regu 4 melapor..!", 

ucap Lettu Adam dengan gagah.

" Adam!?", 

Jendral Purnomo terkejut mengetahui Adam tiba-tiba saja muncul.

"Diterima Letnan, atas otoritas siapa kau menghadap kemari..?", 

tanya Panglima Rokhim.

"Siap Panglima, saya menghadap untuk otorisasi dari Mayor Rizal kepada Jendral Purnomo..",

 jawab Lettu Adam tegas.

"Sepertinya prajurit kita ini mempunyai insting yang bagus Jendral, baru saja dibicarakan dia sudah muncul..", 

ucap Panglima Rokhim.

Jendral Purnomo hanya tersenyum kecil karena ia sendiri semakin menjadi bingung dengan apa yang sedang terjadi karena kehadiran Lettu Adam secara tiba-tiba, ingin rasanya ia bertanya kepada Lettu Adam dimana Mahda dan Elang sekarang, tapi ia mengurungkannya.

..........
Samudra Hindia, 10 KM dari perbatasan Laut Australia-Indonesia..

KRI Malahayati yang dinahkodai oleh Kapten Laut Ashar Sudirman sedang dalam keadaan tegang ketika melihat sebuah kapal kelas frigat tanpa nama berbendera  Amerika mendekati batas perbatasan laut antara Indonesia dengan Australia.

"Bagaimana bisa ada kapal Amerika di perairan Australia..?",

 ucap Kapt.Ashar,

"Cari frekuensinya dan sambungkan..!",

Seru Kapt.Ashar lagi menyuruh seorang perwira komunikasi untuk segera menyambungkan mereka ke kapal asing tersebut.

"Negativ kapten..! Tidak bisa..",

Seru perwira komunikasi tersebut sambil berulang-ulang menekan sejumlah tombol serta panel-panel alat pencari frekuensi komunikasi dihadapannya.

"Ini aneh..", 

gumam Kapt.Ashar.

"5 kilometer dan terus mendekat kapten..!", 

periwira radar mengingatkan bahwa kapal itu sudah sangat dekat dan terus mendekat.

"Siapkan persenjataan, dan kau.. Acak ke seluruh frekuensi yang ada, katakan untuk menjauhi batas wilayah kita atau kita tembak..!",

 perintah Kapt.Ashar kepada perwira komunikasi tadi, kapten berumur 34 tahun itu tampak canggung dalam memimpin kRI Malahayati ini, ini merupakan pengalaman pertamanya menghadapi situasi seperti ini.

"Ini sangat aneh, kita bahkan tak melihat kapal perang Australia.. Mengapa saat ini bisa ada kapal berbendera amerika?",

 gumam Kapt.Ashar.

200 km dari perbatasan Laut Indonesia-Australia..

Sebuah kapal perang berbendera Australia tampak tenang mengapung di perairannya sendiri, kapal itu adalah HMAS YARRA-M87.

"Apakah tipuan seperti ini bisa berhasil?", 

Capt.Willy shean selaku kapten dari HMAS YARRA bertanya kepada dua orang yang berada disampingnya, dua orang itu memakai seragam berwarna hitam, sebuah emblem bergambar pisau dengan bentuk segitiga ditengahnya tampak angker menunjukan darimana ia berasal.

Mereka adalah Liutenant Jones dan Sergeant David, mereka adalah anggota dari pasukan khusus Amerika, Delta Force.

Sepertinya Major O'Connor mengirim mereka untuk bekerja sama dengan AL Australia untuk memprovokasi indonesia.

"Pasti bisa, mereka sangat mudah untuk diprovokasi kapten..", 

jawab Lt.Jones yakin.

"Jika benar begitu.., bagaimana dengan kapal angkatan Laut kalian itu..?",

 tanya Capt.Willy ingin tau lebih detil apa yang sebenarnya pasukan Khusus Amerika ini lakukan.

"Kami hanya diperintahkan memprovokasi indonesia dengan kapal bekas itu kapten, kapal itu akan terus melaju sampai ada yang menghentikannya.., tenang saja, kapal itu tak berawak, kapal itu sengaja kami siapkan untuk dihancurkan oleh mereka..", 

jawab Ltn.Jones tenang.

"Lalu orang-orang di pentagon akan mempermasalahkan masalah ini sehingga kita bisa menyerang indonesia.., hmmm ide yang bagus..",

 sahut Capt.Willy terkagum.

"Lapor Kapten..! Mereka melebar frekuensi mereka yang berisi pesan agar menjauh dari wilayah mereka atau ditembak..", 

perwira komunikasi memberi tahu Capt.Willy setelah ia menerima pesan yang disebar melalui frekuensi secara acak oleh Kapt.Ashar KRI Malahayati.

"Sebaiknya kita diam saja agar rencana ini berhasil..",

 Ltn.Jones mengingatkan Capt.Willy.

"Mereka akan sangat terkejut jika melihat dari dekat.. Mereka tidak tahu kapal apa itu sebenarnya, dan ada banyak kapal seperti itu yang sebentar lagi akan bergabung dengan kalian kapten", 

tambah Ltn.Jones.

"Hmm? Rencana seperti apa yang kalian lakukan?", 

gumam Capt.Willy heran.

Sementara itu sirine tanda situasi siaga 1 terdengar meraung diseluruh anjungan KRI Malahayati yang bernomor lambung 362 tersebut.

"1 kilometer Kapten!", 

perwira Radar memberi tahu posisi kapal asing berbendera Amerika tersebut dari garis perbatasan.

"Siapkan Rudal dan kunci mereka..!",

 perintah Kapt.Ashar.

"Siap kapten!",

 seluruh perwira pengoperasi sistem-sistem tempur kapal itu segera melakukan tugas masing-masing.

Ketegangan jelas sekali menumpuk di raut wajah Kapt.Ashar yang sebenarnya dia ragu akan apa yang dia lakukan sekarang, namun akan sangat lebih berbahaya jika membiarkan kapal itu lewat mengingat negara-negara seperti Amerika sangat menganggap remeh indonesia sehingga Kapt.Ashar merasa Amerika akan berbangga hati melihat kapalnya bebas berlenggok diperairan indonesia.

" 10 detik lagi mereka melewati perbatasan..!",

 seru perwira radar kembali.

"Dengar aba-aba saya.., bersiaplah..!",

 sahut Kapt.Ashar memantapkan keyakinannya terhadap apa yang dia lakukan sekarang.

Detik-detik krusial itu berlangsung lambat, perwira komunikasi masih berusaha mencari frekuensi kapal asing itu, namun nihil.

Sementara seorang perwira tampak tegang dengan sebuah tombol merah dibawah jarinya.

"Mereka telah lewat Kapten!", 

perwira radar memberi tahu.

"Tembak mereka!", 

seru kapt.Ashar.

"Bsssttttt....!"

Sebuah rudal anti kapal tampak meluncur menuju kapal berbendera Amerika tersebut.

"Hmmm.. Tidak ada tanda-tanda perlawanan dari mereka?", 

pikir Kapten Ashar.

"Teropong..!",

 pinta Kapt.Ashar sembari meraih teropong yang disodorkan salah satu anak buahnya, kemudian ia mulai melirik kapal asing itu yang sesaat lagi dihantam oleh rudal yang ia tembakkan.

" ?!?! "

"Sialan..!!! Ini jebakan mereka..!", 

seru Kapt.Ashar ketika melihat tulisan kecil dilambung kapal asing itu yang bertuliskan "UN", ia semakin terkejut melihat bendera berwarna biru kecil jauh dibawah bendera amerika yang sengaja dipasang tinggi.

"DUARRRR...!!!!"

Kapal UN berbendera Amerika itu meledak ketika sebuah rudal menghantam tepat di lambung kiri depan, gumpalan api beserta asap hitam mengepul bak letupan gunung merapi.

" Mereka menjebak kita..",

(bersambung)

Jumat, 23 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 36

★HENING★ Part 36 



"DITENGAH KEKACAUAN! RENCANA K-4"



Mobil-mobil polisi beserta truk-truk pasukan khusus terlihat sudah berjajar di depan gedung BPN tersebut, sementara dibagian belakang gedung di sambangi satuan Brimob.

Jendral Irwan sudah tampak hadir disitu, ia nampak buru-buru memberi isyarat kepada tim Densus 88 Polri untuk segera memeriksa keadaan didalam.

Tim 2 dari satuan Densus 88 yang berjumlah 8 orang itu pun langsung memasuki kawasan kantor tersebut, Jendral Irwan tampak tegang menunggu kabar tentang apa yang sedang terjadi di kantornya.

Tak lama seorang komandan dari anggota Densus Polri yang berada diluar mendekat dan memberi tahu bahwa tidak ada apa-apa lagi karena tersangka telah meninggalkan lokasi.

"Sial...!", 

geram Jendral yang bernama lengkap Irwansyah Marwan itu..

...........

8 jam setelahnya...
Serangan Mahda dan Adam ke kantor Badan pengamanan negara itu menjadi Headline diseluruh Media informasi nasional, dan menjadi berita kedua di internasional setelah berita perang Thailand kemarin.

Tak ayal negara-negara luar mengira-ngira ini sebagai serangan teroris dan melihat ini sebagai kelemahan indonesia dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Namun ada yang aneh dalam berita yang disampaikan kedunia luar, karena tidak ada keterangan tentang pembebasan tawanan yang dibeberkan, tapi penculikan seorang pegawai dari satuan kepolisian.

...........
Ruangan Rapat khusus RI-1
2 Oktober 2012

Sebuah Meja persegi yang sangat lebar terbentang didepan para petinggi-petinggi militer negara ini untuk membicarakan kejadian semalam, Jendral Purnomo dan Jendral Irwan tampak hadir di tempat duduk yang berseberangan.

Hadir juga Suprapto SH selaku mentri pertahanan Negara dan Panglima Rokhim diantara petinggi-petinggi lainnya..

"Baik, langsung saja saya ingin mendengar langsung dari anda Jendral..", 

kata orang nomor satu dibumi pertiwi ini, Presiden Darwinsyah.

Sontak Jend.Irwan segera berdiri.

"Diperkirakan penyerangan ini dilakukan pukul 1 dini hari pak, dari rekaman kamera pengawas diketahui mereka berjumlah 2 orang pak, berhasil membawa tahanan negara kabur dan menculik seorang polisi yang ditugaskan disana..",

Jend.Irwan menceritakan kronologinya.

"Dua orang?? Hanya dua??",

 ucap Pres.Darwin,

"Iya pak presiden..", 

sahut Jend.Irwan meyakinkan.

"Jendral, apa yang bisa kita lihat dari ini?", 

Pres.Darwin melirik Jendral Purnomo.

Jendral Pournomo menarik nafas dalam-dalam tak ingin wajah tuanya menunjukan ekspresi yang mencolok karena hanya ia yang tau persis siapa penyerang semalam.

"Ini jelas bukan tindakan orang biasa pak, ini jelas tindakan oleh orang-orang terlatih..", 

kata Jend.Purnomo.

"Dan bisa saja pasukan khusus negara ini..!", 

Jendral Irwan memotong pembicaraan.

"Itu tidak mungkin..!", 

sahut Jendral Purnomo,

"Itu mungkin saja..!", 

seru Jend.Irwan menatap tajam Jendral Purnomo seolah memberi isyarat permainan yang baru saja dimulai antara mereka berdua mengingat kejadian 4 hari yang lalu.

"Kalian hentikan...!",

 bentak Presiden Darwin, suara orang nomor 1 itu membuat kedua Jendral itu menutup rapat-rapat mulut mereka.

"Izin berbicara pak presiden..",

 Menhan Suprapto menyela,

"Silahkan pak Menhan..", 

sahut Pres.Darwin.

"Terima kasih pak.. Jendral Irwan apa atas dasar anda mengatakan hal itu?",

 ucap Menhan Suprapto, Mentri yang satu ini adalah teman dekat seorang Presiden bapak Ir.Darwinsyah, tak heran pak presiden langsung mengiyakan ketika ia ingin berbicara ditengah situasi yang menegang akibat kedua Jendral itu.

".. Bagi saya tak ada yang mampu melakukan operasi itu seakurat dan secepat itu selain pasukan khusus..",

 jelas Jend.Irwan sambil melirik Jend.Purnomo,

"Begitu..? Bukankah itu terlalu berlebihan Jendral?,, Jendral Purnomo, bagaimana menurut anda?", 

sambung Menhan Suprapto.

"Menurut saya ini bukanlah tindakan orang dalam, ingat kita baru saja selesai berperang.., tawanan yang mereka bebaskan adalah agen kita yang tersandung tuduhan pembelotan di thailand, bisa saja ini usaha pihak-pihak asing untuk mendapatkan informasi dari agen kita itu...", 

jelas Jendral Purnomo.

Semua yang ada diruangan itu tampak diam, sepertinya mereka menerima penjelasan Jendral Purnomo.

"Izin pak..", 

Panglima Rokhim meminta izin angkat bicara dan langsung di iyakan presiden.

"Pak Mentri, sepertinya permasalahan semalam sudah terealisasi setelah mendengar penjelasan Jendral Purnomo, setelah ini saya akan selesaikan masalah ini secara rahasia,, tapi saya ingin tau bagimana keadaan diluar, saya tau mereka pasti melihat ini sebagai kelemahan kita..", 

ucap Panglima tinggi itu,

Semua terhenyak mengerti maksud dari pertanyaan Panglima Rokhim.

"Pertanyaan yang bagus Pak Rokhim... Melihat ini ada beberapa negara yang menganggap ini serangan teroris, dan mereka menawarkan kerja sama beserta izin untuk mengirim armada pasukan mereka kemari, entah apa maksud mereka ingin melakukan hal itu saya juga tidak tahu..

Negara-negara itu adalah Amerika, Australia, dan singapura..", 

kata Menhan Suprapto sambil sesekali memperhatikan raut wajah semua yang hadir diruangan ini.

"Bagaimana dengan malaysia? Bukankah sebelumnya mereka berniat menyerang jakarta dengan Jet mereka?",

 tanya Jendral Purnomo melirik Panglima Rokhim mengingat saat dimana Letnan Vega tertembak.

"malaysia tak akan melakukan apapun, mereka sangat malu akan tindakan mereka kemarin.., saat ini pihak malaysia sudah meminta maaf dan bersedia bekerja sama apabila dibutuhkan...", 

jelas Menhan lagi.

"pak Mentri.., lalu negara mana yang menurut anda terlalu agresif dari kesemuanya itu..", 

tanya Panglima Rokhim.

"...Amerika..", 

jawab Menhan Suprapto dengan nanar,

"Pak presiden, kita harus melakukan sesuatu.., saya rasa Amerika punya rencana lain dengan niat mereka..", 

kata Panglima Rokhim menjelaskan.

"Saya tahu.., sepertinya Frank tua itu sedang mencari-cari kesempatan disaat keadaan kita yang sedang kacau..", 

ucap Pres.Darwin, Frank yang dimaksud adalah Frank Carlton Presiden Amerika.

"Bagaimana menurut anda pak Menhan?",

 tanya Pres.Darwin dengan wajah tegang,

karena jika ini benar seperti apa yang diperkirakan, menghadapi negara sebesar Amerika dalam segi apapun pasti sangat sulit.

"Menurut saya pak, kita tugaskan dahulu sebuah unit untuk mendapatkan kembali Agen kita itu.., saya sangat yakin sesuatu yang lebih buruk akan terjadi jika agen itu jatuh ke pihak asing..,

Setelah itu kita cari solusi menghadapi negara sok suci itu (amerika) dengan meminta bantuan dari China atau Rusia..

Ingat..kedua negara itu pernah mengajak kita untuk menjatuhkan dominasi Amerika dan bangsa sialan lainnya di PBB, saya yakin mereka pasti mau membantu..", 

jawan Menhan Suprapto lugas.

Sejenak Presiden Dawrwinsyah mengerutkan dahinya memikirkan pendapat Mentri Pertahanan itu yang juga seorang teman dekatnya.

"Baiklah, Panglima Rokhim..saya ingin anda dan Jendral Purnomo membentuk sebuah unit untuk membawa kembali Agen itu,, dan Anda Jendral Irwan.. Saya harap anda tidak melakukan apapun, dan sebaiknya anda punya alasan yang tepat atas pernyataan anda tadi.., baiklah, selesai..", 

kata Presiden Darwin menutup rapat mendadak itu.

Segera semua membubarkan diri setelah Pres.Darwin meninggalkan ruangan.

"Sial.., dimana mereka,", 

ucap Jendral Purnomo dalam langkahnya menuju sebuah mobil dinas berplat militer yang sudah menunggunya begitu menyadari ponsel Mahda tak bisa dihubungi lagi.

........
Pentagon, USA...

Major O'Connor selaku kepala divisi inteligen dari unit Delta dan Secretary of Defence Sir Maloney tampak mengadakan rapat rahasia dengan Presiden mereka Sir Frank Carlton.

"Apa yang tim anda dapat disana Mayor?",

 Pres.Frank bertanya kepada Maj.O'Connor.

" Unit inteligen Delta yang saya tempatkan di indonesia 6 bulan yang lalu mendapatkan beberapa titik yang jauh dari pantauan militer mereka, saya rasa itu tempat yang bagus untuk memulai RENCANA K-4 pak, mengingat mereka baru saja berperang menhadapi panglima gila Thailand..", 

jawab Maj.O'Connor lugas.

"Hmmm... Bagaimana dengan PBB Maloney?", 

tanya Pres.Frank kepada mentri pertahanannya itu.

"Kita bisa menggunakan kejadian kemarin pak, kita lobby semua petinggi PBB dengan memutar balikkan fakta bahwa indonesia menyerang Thailand atas dasar proyek nuklir yang seseungguhnya mereka kerjakan.., jelas dunia akan ramai-ramai mencari isu tersebut, nah disaat seperti itu kita bisa segera menjalankan RENCANA K-4 kita pak..

karena saya kira indonesia terlalu bahaya jika dibiarkan berkembang..",

 jelas Maloney.

Apa yang akan dilakukan pihak Amerika dengan RENCANA K-4.

...........

(Bersambung)

Kamis, 22 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 35 PART 2

★HENING★  Part 35 (2)

" ! "

Alarm membangunkan Heru dari tidurnya..

"Ada sesuatu yang telah terjadi diluar..",

 gumam Heru bangkit mengambil pistolnya dan memantau layar monitor-monitor kamera pengawas dihadapannya.

"Sial..!", 

paniknya ketika melihat tubuh-tubuh para penjaga tergolek di pos depan ditambah lagi kini ia melihat ada dua orang berpakaian serba hitam tampak sibuk memasang sesuatu dipintu depan kantor yang terkunci.

"Sepertinya ada yang datang menjemput kita..", 

kata Jim,

"Yah.., tak kusangka hal seperti ini terjadi.., aku kira hanya di film-film..",

 sahut Elang, mereka juga terhenyak dari tidurnya.

"Hentikan ocehanmu.., sekarang apa yang harus kita lakukan?", 

sambung Jim.

"Hmmm, kau tau apa yang harus kita lakukan setelah mereka sampai disini nanti, aku hanya penasaran siapa yang melakukan hal yang membahayakan karirnya dengan menyelamatkan kita.., karena pasti mereka orang terlatih", 

jelas Elang.

Sementara itu Mahda dan Adam tampak sudah slesai memasangkan sesuatu ke pintu utama kantor itu.

"DUAAMMP..!"

Ledakan kecil membuat pintu itu terpental, sesaat Mahda dan Adam berjalan siaga memasuki kantor itu.

"Disana..!", 

seru Adam mengarahkan sorot senter dipucuk senjatanya yang ia nyalakan mengingat kondisi seluruh bangunan yang gelap gulita agar Mahda yang berada didepannya maju menyusuri lorong menuju ruang dimana Elang dan Jim berada, sementara itu Heru tampak bersembunyi menundukkan kepalanya tak jauh dari posisi Adam dan Mahda, ia tengah berfikir apa yang harus ia lakukan, ia menjadi semakin gugup mengingat karena ia bukanlah seorang aparat yang berasal dari unit-unit atau satuan sejenis yang memang dilatih untuk menghadapi situasi seperti ini.

.........
Jauh dari situ..

"Yah, saya segera kesana..", 

ucap Jendral Purnomo seraya menutup telepon rumahnya.

"Sepertinya mereka ceroboh...", 

gumam Jend.Purnomo dalam hati,

 sesaat sebelumnya ia mendapat telepon dari panglima bahwa kantor BPN sedang diserang dan ia diminta mengirim pasukan bantuan untuk mendukung pihak kepolisian dan sejumlah pasukan khusus yang pasti dikerahkan oleh Jendral Irwan selaku pemimpin Badan tersebut.

"Elang..?!?", 

seru Mahda merapat ke pintu ruangan disudut lorong itu,

"Ya..., ini kami!" 

Sahut Jim dari dalam.

"benar disini..", 

kata Mahda kepada Adam.

"Tak tak taktakatak"

Adam segera menembaki panel kunci pintu itu dan menendangnya sehingga pintu itu terbuka.

"Sialan..!
Apa yang telah mereka lakukan pada kalian..!?!", 

geram Mahda ketika memasuki ruangan itu dan melihat keadaan Elang dan Jim yang sedemikian buruk karena penyiksaan yang mereka terima beberapa hari belakangan.

"Ini sungguh keterlaluan..!", 

gumam Mahda lagi sembari memotong ikatan Elang dan Jim dengan pisau.

"Apa kalian bisa bergerak..?", 

tanya Adam.

"Aku rasa aku bisa..", 

sahut Elang,

"Tak kusangka kalian kemari..", 

ungkap Jim sembari merengangkan tangan dan kakinya yang kaku setelah berhari-hari terikat.

"Ayo.., kita harus cepat..", 

timpal Mahda sambil memberikan pistolnya kepada Elang,

"Dimana bantuan kalian?", 

tanya Jim sembari juga meraih pistol yang dilemparkan oleh Adam ke arahnya.

"Hanya kami berdua.., sudah ayo..!",

 sahut Adam mempimpin pergerakan mereka untuk segera keluar dari situ

Tak jauh dari situ Heru masih gugup bersembunyi dibalik meja dengan sebuah pistol digenggamannya, ia semakin gugup ketika melihat sorot cahaya senter dari Adam dan yang lainnya.

ketika Adam dan yang lainnya hendak melewatinya..

"Tashh..!"

Jim melepaskan tembakan ke arah dimana Heru berada, sepertinya Jim menyadari keberadaan Heru.

"Ada seseorang disana....!" 

Seru Jim,

Sepontan Adam mengarahkan Sorot senternya, sepertinya tembakan Jim hanya mengenai meja.

"Jangan tembak.. ", 

Heru muncul sambil mengankat tangannya.

" Anak itu..", 

kata Elang pelan.

"Siapa dia..?!?", 

seru Adam sudah bersiap akan menembaknya.

"Tak apa.., ia tak tahu akan semua ini..",

 sahut Elang,

"Sudahlah, tinggalkan saja dia..",

 tambah Elang.

"Tunggu..! Aku ikut kalian..!", 

seru Heru,

"Apa kau bercanda..?", 

tanya Jim menanggapi,

"Aku serius.., aku hanya ingin ikut kalian, aku tak tahu alasannya.. Tapi aku ingin ikut..", 

jelas Heru gugup.

"Ini berbahaya untukmu..", 

sahut Elang,

"Aku tak peduli..!", 

jawab Heru bersikeras,

"Apa kita bisa mempercayai anak ini..?",

 tanya Mahda,

"Tanyakan padanya..", 

jawab Jim menunjuk Elang, Mahda langsung melirik ke arah Elang.

" Sepertinya bisa..", 

sahut Elang pelan,

"Apa kau yakin..?!?", 

tanya Adam yang sudah bersiap menembak Heru,

Elang diam sejenak menatap Heru, sementara Heru menunggu dengan wajah cemas, tampak keringat mengalir dikeningnya karena Adam sudah bersiap menembaknya.

"Aku yakin..", 

sahut Elang,

Mahda segera mendekati Heru meraih pistol yang masih tergantung di jari Heru dengan tangannya yang terangkat.

"Baiklah.., kau ikut kami..", 

kata Mahda,

"Terima kasih..",

sahut Heru berlari bergabung dengan Elang dan Jim.

"Ayo.., mereka sudah dekat..!", 

seru Adam yang sayup-sayup memang terdengar sirine mobil-mobil polisi.
Mereka pun langsung bergerak cepat keluar dari bangunan itu dan berlari kebelakang dimana mobil Adam dan Mahda diletakkan..

Tak lama berselang, seluruh unit pasukan khusus dan kepolisian sudah sampai ditempat itu, namun Elang dan yang lainnya sudah melaju pergi dengan mobil yang dipersiapkan Adam dan Mahda ditengah lebatnya hujan pagi itu.

...........

Biografi HERU

Bernama lengkap Heru Wijaya
Lahir di Malang, Jawa Timur 12 januari 1988
Ia anak tunggal dikeluarganya, ayahnya adalah seorang anggota kepolisian dijakarta pusat, ibunya adalah seorang bidan disalah satu rumah sakit di ibukota.

Sejak kecil ia memang sudah bercita-cita menjadi seorang aparat negara, masa kecilnya selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya membuat ia menjadi pribadi yang lugu dan lemah.

Heru bergabung dengan kepolisian pada usianya yang ke 19 tahun.
Tidak ada keahlian khusus dari seorang Heru, ia hanya seorang polisi biasa dan bukan dari unit khusus.

Masih belum jelas mengapa Badan besar seperti BPN merekrutnya diantara begitu banyak anggota kepolisian yang berprestasi.

(Bersambung)

Rabu, 21 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 35 PART 1

★HENING★ Part 35 (1) 



"HEAD TO ESCAPE"



Hujan turun begitu lebat disertai dentuman petir menyambar-nyambar gagah menghiasi langit gelap pagi ini..
Mahda dan Adam telah memulai aksi mereka.

Sementara didalam kantor Badan yang bertanggung jawab atas masalah keamanan Negara tersebut tampak seseorang tertidur dengan pulas, yah Heru tertidur dimeja kerjanya didepan layar-layar monitor kamera pengawas yang terpasang diluar.

Sementara ke 4 orang prajurit penjaga diluar berkumpul pos bagian depan kantor tersebut, tampak mereka hanya melakoni kebiasaan mereka seperti malam-malam biasanya bermain kartu.

"Klek...",

Mahda membuka kotak Etalase utama listrik kantor ini yang berada dibagian belakang gedung,

"Tap..!"

Mahda mematikan listrik kantor ini dengan membalikkan knob utama sehingga generator listrik cadangan tak akan merespon karena ini pemadaman secara manual.

"baiklah, tak lama lagi mungkin ada yang datang kemari untuk memeriksa.. Bersiaplah..",

 seru Mahda pelan kepada Adam,

"Yah, aku mengerti..", 

sahut Adam,

"Setelah ini, kita bertemu dipintu depan kantor ini.. Sampai nanti", 

tambah Mahda lagi sembari berjalan mengendap memutar kantor ini dari sisi kiri, sementara Adam masih menunggu dibagian belakang kantor itu untuk bersiap memutar dari sisi kanan.

"Hey, kau cepatlah periksa kenapa generatornya tak kunjung menyala",

 perintah salah satu prajurit penjaga kepada rekannya,

"Yah baiklah.., tunggu sebentar..", 

jawab seorang penjaga itu sambil bangkit meraih senter dan senjatanya.

"Apa perlu kutemani?", 

tanya salah seorangnya lagi.

"Tak perlu.., tunggulah sebentar, setelah itu aku akan bermain lagi", 

sahut prajurit itu.

Tampaknya para penjaga-penjaga itu menganggap ini hanyalah padam listrik biasa, terlihat ke 3 prajurit lainnya melanjutkan permainan kartu mereka meski hanya diterangi sebuah lampu LEd kecil menggunakan baterai.

"Huuuhhh",

Prajurit itu pun berjalan menyusuri lorong luar kantor itu yang menuju ke bagian belakang dimana Etalase listrik berada.

Sesekali ia menyorot keadaan sekeliling dengan senternya.
Baru saja ia berjalan memasuki bagian belakang kantor seseorang memukul bagian belakang lehernya dengan keras,

"Bukk!"

Sejenak matanya berkunang setengah sadar ia berusaha meraih senjatanya yang terjatuh, senter yang ia bawa terlepas dari tangannya, tampak sinarnya meredup mungkin rusak akibat hentakan dan seseorang tadi juga sudah melayangkan kembali pukulannya telak kewajahnya membuat ia tak sadarkan diri.

Yah, itu Adam yang sedari tadi sudah menunggu, ia bisa saja menghabisinya dari awal dengan senjatanya yang berperedam, namun ia mengurungkan niatnya untuk menghabisi prajurit itu.

"Begini saja..", 

gumam Adam mengikat prajurit itu, menyumpal mulutnya dan kemudian meletakkannya kedalam tong sampah besar disudut kantor itu, tak lama kemudian ia berjalan mengendap menyusuri sudut luar kantor itu menuju bagian depan, beberapa saat kemudian ia melihat 3 orang penjaga sibuk bermain kartu tak jauh didepannya.
Adam merayap pelan mendekat, untuk sesaat ia berfikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya..

Sementara Mahda juga sudah sedari tadi mengintai ke 3 prajurit penjaga itu dari seberang dari posisi Adam, namun Mahda tampaknya tak ambil pusing harus bagaimana karena ia terlihat mulai membidik salah satu kepala penjaga itu dengan senjatanya.

Ketika ia hendak menarik pelatuk, salah seorang penjaga yang kepalanya sudah tertera di pijera Mahda bangkit dan Beranjak keluar dari posnya membuat Mahda membatalkan niatnya untuk menembak..

"Hei, aku mau menyusul dia.., lama sekali, aku rasa ada yang aneh..", 

kata salah penjaga yang bangkit itu meraih senjata dan senternya, sepertinya ia mulai merasakan kejanggalan atas padamnya listrik kali ini.

"Sial..",

Gumam Adam dalam hati karena prajurti itu hendak berjalan ke arahnya, dan terlalu dekat untuk menghindar atau bersembunyi.

Prajurit itu mulai mengarahkan sorotan senternya ke arah dimana Adam berada, perlahan sorotan senternya mendekati Adam,

" ! "

Penjaga itu terhenyak ketika ia melihat seseorang bersenjata lengkap tengah mengarahkan senjatanya ke arahnya,

"Tak..takk.."

Dua tembakan dilepaskan Adam ke tubuh prajurit itu,
Karena reflek prajurit itu menekan picu senjatanya yang sudah dalam keadaan terbuka.

"Treretetetetetet...!"

Senjatanya menyalak sesaat dan kemudian berhenti saat tubuhnya tergeletak tak berdaya diterjang timah panas Adam, kedua rekannya langsung menyadari itu namun langsung terjungkang karena Mahda sudah melepaskan beberapa tembakan ke arah mereka.

" Kurang ajar..!",

Seru Mahda ketika mendekat dan menyadari salah satu tangan penjaga itu telah menekan tombol darurat disudut pos mereka.

"Teeeeenggggg.... Teeeeenggggg..."

Alarm berbunyi...

"Adam ayo..!", 

ajak Mahda untuk bergegas bergerak karena dalam tempo beberapa menit lagi akan ada sejumlah pasukan khusus sampai kesini.

........

(Bersambung)

Selasa, 20 Oktober 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 34 PART 2

★HENING★ Part 34 (2)



"PEMBEBASAN SANDERA"




"... Ada waktu tertentu dimana kita harus diam dan dimana kita harus bergerak.., sangat jelas kau tidak bisa bersikeras dengan apa yang kau anggap sebagai kebenaran dihadapan kami orang yang tak kau kenal..", 

sahut Jim,

"Dan Kau hanya perlu mengikuti arus yang diciptakan petinggi-petinggi negara ini.. Meskipun itu bertolak belakang dengan apa yang kau lihat, kau dengar, dan kau rasakan..", 

tambah Elang menyambung kata-kata Jim.

"... Jika semua ini kebohongan belaka, mengapa kalian hanya diam saja melihat mereka melakukan ini pada kalian..?", 

Heru bersikeras berusaha mendapatkan jawaban tentang semua ini.

" Yah, kami hanya akan diam.. Prajurit seperti kita tidak dilatih menghadapi situasi bak pertunjukan politik seperti ini.., kami diam karena kami tak bisa berbuat apa-apa.. Lebih baik kami menikmati semua ini, itu lebih bermakna setelah semua apa yang kami lalui",

 sahut Elang menunjukkan sisi kedewasaannya juga sisi kelelahannya menghadapi drama yang dibuat oleh petinggi-petinggi negara ini, negara yang dibelanya dengan nyawa sebagai taruhannya.

" . . ."

Heru terdiam berusaha mengumpulkan kata-kata yang tepat, tapi ia tak mampu dan beranjak keluar meninggalkan Elang dan Jim.

.........
"Dia masih terlalu muda...", 

kata Jim pelan,

"Yah, tak heran mereka merekrutnya untuk mengawasi kita.., mereka tak menyangka anak muda ini penuh rasa ingin tau dibalik kepolosannya sebagai aparat negara ini..", 

sahut Elang menanggapi perkataan rekannya tersebut.

"Huhhhh... Aku rasa malaikat pencabut nyawa sedang banyak tugas sehingga ia belum sempat kemari menjemput kita..",

 gurau Jim tertawa kecil.

"Heheh, aku rasa juga begitu.. sepertinya aku mulai merasa sakit disekujur tubuhku..", 

sahut Elang,

" ???, gurauanmu tak lucu sama sekali, kau kira luka-luka ini tak sakit sama sekali apa?", 

ucap Jim menunjukkan wajahnya yang penuh luka dan percikan darah.

"Hehehehe"

Elang hanya tertawa mendengar celoteh sahabatnya itu.

...........
Sementara itu Adam dan Mahda..
1 jam sebelum Pembebasan Elang dan Jim.

"Hanya 4 orang penjaga dikantor badan sebesar itu? Apa mereka kira mereka menahan kriminal penjambret?", 

kata Mahda memperhatikan kantor itu dari kejauhan dari sebuah jendela kamar Hotel tak jauh dari situ dengan teropongnya.

"Mungkin mereka tak ingin terlalu mencolok.., pimpinan mereka adalah rekan Jendral Purnomo dahulu, Jendral Irwan.. Seseorang yang juga pintar seperti Jendral Purnomo..", 

sahut Adam yang tampak sibuk mempersiapkan peralatan mereka.

"Letak ruang penahanan di sudut lorong ini.., kita harus bergerak cepat setelah menemukan mereka..", 

tambah Adam sembari menyusuri gambar denah kantor BPN disecarik kertas dengan jarinya.

"Bagaimana dengan penjaga-penjaga itu? Kita habisi?", 

tanya Mahda.

"..hmmm sepertinya tidak ada cara lain lagi..", 

sahut Adam sembari bangkit melihat kantor target mereka dari balik jendela.

.........
Kediaman Jendral Purnomo..
20 Menit sebelum penyerangan.

Sepertinya Jendral Purnomo tak bisa sedikitpun memejamkan matanya, ia tahu bahwa tak lama lagi Adam dan Mahda akan melakukan misi penyelamatan Elang.

Sejenak ia menoleh istrinya yang sedang tertidur pulas disebelahnya, kemudian ia turun dari ranjangnya meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar.

Jendral Purnomo berjalan ke balkon yang terletak dilantai 2 rumahnya sambil menekan beberapa tombol diponselnya,

"Tuut..."

Ia menghubungi Mahda..

"Klek.."

"Yah, ndan?", 

tanya Mahda dari ponselnya.

"Tak apa, lakukan dengan cepat.., utamakan keselamatan semua aspek..",

 perintah Jendral Purnomo,

"Siap ndan..", 

sahut Mahda.

"Dum..dum..dum.."

Gemuruh guntur menandakan sepertiny segera akan turun hujan.

"Sepertinya cuaca mendukung kalian.., berjuanglah, bawa mereka kembali..",

 seru Jend.Purnomo.

"Siap ndan, diterima..!", 

jawab Mahda.

"Tut.."

Jend.Purnomo menutup teleponnya.
Sejenak ia memperhatikan langit, bintang-bintang telah menghilang digantikan kilatan guntur yang menggelegar.

"Tenk..tenk.. Tenk.."

Rintik air hujan mulai turun membasahi genteng rumah kediaman Jendral itu, tak lama berselang hujan lebat telah mengguyur seluruh kota, otomatis kegiatan malam kota ini berangsur-angsur berhenti karena hujan yang cukup lebat disertai petir menyambar, hanya tinggal beberapa angkutan malam dan truk-truk lintas yang tampak mengisi jalan-jalan kota.

Dan setelah itu..
Tak jauh dari pos penjagaan Kantor BPN tampak dua bayangan hitam bergerak cepat menyusuri gang-gang sepi dibelakang kantor itu, Adam dan Mahda tengah bersiap melakukan penyerangan ditengah hujan lebat ini dengan seragam serba hitam bak tim SWAT amerika.

"Mahda, ayo..", 

kata Adam pelan sembari memasang peredam ke pucuk MP5-nya,

"Kita mulai dengan membuat panik mereka..", 

sahut Mahda melirik Box etalase listrik di bagian belakang kantor itu.

"Tskkk!.. Krankkk"

Adam menembak lampu penerang dibelakang kantor tersebut, gemuruh hujan membuat riak pecahan kaca lampu tak terdengar,

Mahda segera berlari mendekat, sebentar bersembungi menghindari pantauan kamera pengawas dan bergerak lagi.

Setelah sampai dikawasan kantor tersebut ia memberi tanda kepada Adam, Adam pun segera bergerak mendekat,

"Baiklah.. Kita MULAI..!"

...........

(Bersambung)

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...