Minggu, 29 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 72

★ HENING ★ PART 72 



" Berlindung! "




Sejumlah pria dalam balutan seragam militer berbaur dengan lebat serta gelapnya keadaan hutan yang menjadi medan pertempuran.
sementara itu tak jauh dari mereka tampak segerombolan orang bersenjata lengkap berjalan berbaris tak teratur menuju sebuah barak darurat namun terlihat sangat kokoh dan fungsional tak menyadari keberadaan sejumlah pria yang berdiam diri dibalik rimbun hutan yang mengelilingi barak tersebut di tengah rintik hujan.

"Ndan..?", tanya seorang prajurit. Melalui radionya, berusaha menanyakan apa yang harus mereka lakukan setelah sesaat sebelumnya seorang musuh telah mereka lumpuhkan senyap.

"Pertahankan posisimu Utara..!", sahut sang Komandan.

".. Bersiaplah.., mereka akan memasuki barak itu..", Gumam Hening pelan, namun sepertinya seperti menyadari sesuatu.
" Baik.. Utara, Sendok, semuanya ambil posisi tembak.., 1 dalam 2 kiri sapu bersih dalam jangkauan..!", perintah sang komandan sembari bersiap menggunakan senapan serbu yang disandangnya.
1 dalam 2 kiri sapu bersih adalah formasi tembak yang memilih sasaran yang diawali dari musuh yang berada di arah kiri dari posisi mereka berada dengan masing-masing penembak sebisa mungkin harus bisa menembak 2 orang musuh yang terlihat, formasi sergap cepat yang kebanyakan digunakan oleh pasukan Elit dalam pengintaian.
.
..
...
Dalam sekejap ke empat anak buahnya mengambil posisi siap tembak, Utara, sendok, panah dan juga Gembok, kecuali Hening yang tampak melepaskan senapannya seperti menyadari sesuatu yang besar.
"..Ndan..!", seru Hening bermaksud menunda serangan kejut rekan-rekannya, namun sang komandan tak begitu mengerti maksud Hening memanggilnya.
" Tembak..!", perintah sang Komandan regu meraung di tiap Headset yang terpasang di telinga tiap prajurit, segera saja puluhan timah panas berhamburan meluncur.

"Tratata..tash..tash!"

Sejumlah musuh yang diketahui adalah gabungan milisi dan seorang pasukan asing yang belum teridentifikasi roboh bersimbah darah, sebagian dari mereka berlari cepat berlindung di barak yang berada di tengah rawa tersebut, perasaan terkejut sangat jelas terpampang di raut mereka masing-masing.
Namun di tengah situasi menegangkan tersebut sayup-sayup terdengar gemuruh dengung mesin memenuhi langit.
" ! "
Sontak Utara dan yang lainnya terkejut dan berusaha mencari tahu.
"Sial..!, semuanya..! Berlindung!", seru Hening sembari bangkit dari tempat persembunyiannya.

Tiba-tiba saja hadir sebuah heli di tengah-tengah medan pertempuran tersebut, dengan cepat menurunkan ketinggiannya serta langsung berputar mengitari barak di tengah rawa tersebut.
Sungguh tak dapat dipercaya sebuah Heli tempur musuh bisa melenggang bebas di kawasan wilayah hutan NKRI, mungkin masuk melalui celah tak terpantau, atau bisa jadi sudah lama berada dikawasan ujung indonesia ini, bukan main - main itu adalah Heli tempur EC 665 tiger!

" Apa..?!", kejut sang komandan terperangah, mendadak aliran darahnya berdesir, karena tak jauh di depannya sebuah Heli gagah meraung di langit-langit hutan, samar - samar namun tampak jelas heli itu meneteng persenjataan kelas berat lengkap.

"Tratatatash..tratash..!"
"Berlindung...!", teriak komandan lantang sembari melepaskan tembakan ke arah Heli tersebut berusaha memberi kesempatan untuk para anak buahnya agar segera berlindung masuk ke dalam hutan.

"Teng..tang..teng.."
Benar saja, hantaman peluru tembakan sang Komandan membuat perhatian pilot Heli itu tertuju padanya.

"Ini..?!?", gumam Hening terperangah.

"Pssstt..!!!"
Sebuah roket Hydra tipe 70 ditembakkan ke arah dimana Posisi sang Komandan berada.
.
..
...
" !!! "
Utara yang menyadari itu berusaha berbalik dari pelariannya untuk menyelamatkan Komandannya, namun Sendok dengan cepat meraih dengan merangkulnya erat sehingga mereka berdua terjatuh.

"BAAMMPp..!!!"

Ledakan menderu menggetarkan tanah.

" NDAAAAAANN...!!!", teriakan Utara membuat Sendok semakin erat merangkulnya, sementara Panah dan Gembok kehabisan kata - kata bahkan ekspresi melihat komandan mereka hancur lebur tanpa sisa.

"Kalian Mundurlah..! Berlindung!", ucap Hening melalui radionya.
"..SiaL...!", gumam Hening mengatur posisi senapannya dan segera membidik Heli tersebut dengan senapannya.

" Sialan...BEDEBAH..!!!", umpat Utara sembari berontak dari dekapan Sendok, kemudian ia berlari ditengah kepulan asap terus maju sambil melepaskan tembakan ke arah Heli tersebut.
" Utara! Kembali..!", teriak Sendok.
Namun Utara tak mengacuhkannya, liapan Emosi telah menguasainya, ia terus menembaki heli tersebut.

"Tratatatatatash..!"

" ! "
"Bodoh..! Tindakanmu bisa membuat yang lain terbunuh..!", teriak Hening menyadari.
Sementara musuh yang berupa para milisi bersama beberapa pasukan asing sebelumnya tampak memperhatikan dengan seksama seolah - olah mereka sedang menonton pertunjukan.
Dan lagi - lagi ...

"Pssstt...!"
.
..
...
"BAAAAAMMpp..!!!"

Ledakan kembali menggetarkan tanah, " aaakkkhh..!"
Sendok juga ikut terpental karena ledakan karena posisinya yang lumayan dekat dengan dimana Utara berada.

"Semuanya..! Jangan gegabah..!", teriak Hening.
Sementara itu Gembok dan Panah tampak berlari ke arah dimana Sendok tergeletak berlumuran darah.

"Sendok.. Bertahanlah! Kami akan membawamu..!", ucap Panah berusaha merangkul rekannya itu.
" Bertahanlah..", seru Gembok sembari berusaha melepas pakaian Sendok yang masih mengepulkan asap karena sebagian tubuhnya terbakar.
" Sial.., bertahanlah teman..", tambah Gembok kali ini berusaha menutupi raut kesedihan ketika ia berusaha mennghambat darah deras yang mengucur dari perut rekannya itu dengan tangannya, sebuah luka besar menganga di perut, di kelilingi luka - luka robek disertai luka bakar yang memenuhi sekujur tubuh rekannya itu.

"Gembok.. Tahan itu..!", ucap Panah menyadari itu sembari merogoh kantong - kantong di pinggangnya mengambil peralatan medis seadanya, namun tangannya yang sedang membuka untaian perban tiba-tiba dihentikan oleh tangan Sendok yang menggenggam tangannya.

"Sendok.. Tidak, tidak teman.. Kau akan selamat..!" Bentak Panah terkejut, begitu juga Gembok yang segera ikut menggenggam tangan rekannya tersebut.
.
..
...

Namun Sendok telah pergi detik itu juga, pergi dengan tangan menggenggam erat rekannya.

"Sendok..???", Panah dan Gembok terdiam sejenak, berusaha menenangkan diri dengan menerima sebesar apapun perasaan sedih yang sedang menyerang mereka, mereka akan tetap bertahan sampai titik darah penghabisan, sebagaimana semestinya seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia.
.
..
...

"...sialan kalian..", umpat Hening mendengarkan detik - detik perginya Sendok dari radionya.

"tsskk..!"
"Tang..!"

" ! "
Buru - buru Heli musuh tersebut memutar moncongnya berusaha menemukan posisi Hening yang baru saja melepaskan tembakan.

"Tskkk..!"
"Tang..", "klak.."
"Tsskk..!"
"Tang..", "klak.."

Hening terus menembak, mengokang, dan menembaki lagi.

Karena posisi Hening yang tak terlihat, pilot Heli musuh tersebut memutuskan menembaki seluruh area didepan mereka dengan Giat 30 yang garang nangkring dibawah moncong mereka.

"Dum..dumdump..dump..!"

Mereka melakukan tembakan menyusur 90 derajat dekat dengan tanah, membuat daerah pinggir rawa di hadapan mereka tercincang rapi bak petani yang hendak membuka lahan.
"Krasshh..!"
"Krakk..!"
Batang - batang pohon patah dan bertumbangan tak tentu arah.

"Tskk..!"
"Tang.."
Namun Hening terus menembaki sembari berusaha menempatkan dengan tepat titik bidiknya karena heli itu sedikit melenggang di udara.

Kedua pilot Helo itu pun seakan meladeni tembakan Hening dengan memlihi juga melepaskan tembakan menyusur, seolah - seolah duel siapa yang akan roboh lebih dahulu.
Benar saja, sapuan peluru Giat 30 mereka perlahan tapi pasti terus mendekat dengan cepat ke arah dimana posisi Hening berada.

"Dump..dumdumdummdumpp..!!!"

Desing tembakan Giat 30 dari Heli tersebut terus menggema.

"Krashh..! Krakk!"
Dibarengi roboh serta porak - porandanya pinggiran rawa tersebut.

"Tang..!"
Tembakan Hening juga terus menghantam heli tersebut.

" ! "
" Ayolah..!", gumam Hening terus menembak.
Suara desingan peluru sudah terdengar dekat dengannya, sejumlah pepohonan didekatnya juga sudah pada roboh diterjang peluru, hanya terpaut beberapa puluh senti meter lagi.
Ditengah serpihan kayu, dedaunan, serta tanah yang beterbangan, disertai kilatan proyektil yang mulai tampak...

" Tsssskkk !!!"

Peluru tembakan Hening meluncur lurus mengarah ke badan heli tersebut..

Tidak..,, tapi mengarah ke pilot kokpit pilot heli tersebut..

tidak juga..,, hanya mengarah ke begian rotor baling - baling yang sedari tadi terus ia tembaki...

"Crkkk..! Ssshhh!"
Asap hitam mengepul, sesaat kemudian Heli itu mulai kehilangan keseimbangan, Tepat! Disaat peluru tembakan mereka yang terakhir menghantam batang pohon yang digunakan Hening untuk bersandar, mungkin jika tadi ia gagal, peluru berikutnya akan melubangi kepalanya, atau merobek tubuhnya, siapa yang bakal tahu?
.
..
...
" Tiit..tiit..tiit.."
Heli itu berputar - putar, ketinggiannya terus menurun karena putaran baling - balingnya sudah tak stabil, Asap hitam memenuhi udara, tak berapa lama heli itu terjatuh menyamping ke rawa. 

"BRakkkk!!! Brsssppppp!!! "
"Krakk..krakk! Krak!"
tak berhenti disitu, baling - balingnya terus berputar mengenai sebagian barak di dekatnya hingga membuat atap dan dinding barak yang terbuat dari kayu itu berterbangan tak tentu arah, dan berhenti dengan posisi heli miring penuh kepulan asap.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...