Sabtu, 28 November 2020

"SILENT KILL PERSON" CHAPTER 71

★HENING★ Part 71 



" GENG PUTIH "




Langit masih dipenuhi kilatan petir yang beramai-ramai mencoba menghias permukaan putih awan, meskipun begitu, hujan telah reda seakan mundur untuk beristirahat sejenak setelah hampir seharian penuh menyirami bumi pertiwi.

"Tidak ada apa-apa yang bisa digunakan untuk mengenalinya Ndan..", ucap Utara setelah memperhatikan dengan seksama sesosok mayat yang mereka temukan.
" Hmm.. Sudahlah.., Sendok.. Rapikan jasad ini, kita akan membawanya kembali bersama kita nanti..", sahut Komandan sembari berusaha memperhatikan sekitar.
"Hmm? Hening masuklah.. Hening..", ucap Komandan lagi teringat sebelumnya tak ada jawaban dari Hening saat di panggil oleh Utara melalui Radio.
" ... "
"... Dimana dia?", tanya Komandan.
" Tak ada apa-apa Ndan.., biasanya jika seperti ini dia sedang benar-benar mengamati..", jawab Sendok.
"Mengamati? Maksudmu?", tanya Komandan sembari mengerutkan dahi, begitu juga Panah dan gembok sepertinya juga bingung.
"Hmm.. Hei Utara, Panah, Gembok.. Apa kalian tak ingat apa yang dilakukannya saat di kalimantan?", tanya Sendok.
" Kalimantan? Saya semakin bingung.., intinya apakah ia baik saja?", tanya Komandan.
"Ya.., aku ingat.. Dia memang seperti itu..", sahut Utara tersenyum, begitu juga dengan yang lain, sepertinya mereka bersama-sama kembali teringat akan sebuah kejadian.
"Dia pasti baik saja Ndan.., dia selalu seperti itu, terlebih jika Komandan tak sedang turun bersama kami.." sambung Utara.
.
..
...
sementara tak begitu jauh dari lokasi Utara dan yang lainnya berada, 20 orang pria bersenjata lengkap bergerak ke arah mereka, tampaknya mereka adalah pasukan musuh yang telah kembali dari patroli rutin yang mereka lakukan.
Namun ada yang berbeda, sekitar 5 sampai 6 orang dari mereka mengenakan seragam yang berbeda dari yang lainnya, ditambah kulit putih mereka membuat keberadan mereka kian mencolok, terlihat sangat jelas sekali diantara yang lain yang kebanyakan berkulit hitam.

" Musuh dalam selimut..", Gumam Hening yang ternyata sedari tadi memperhatikan dari balik teropongnya di kejauhan, titik bidiknya mengarah ke salah satu pria asing dalam rombongan musuh tersebut.

"Semuanya.. Bersiaplah..", Beritahu Hening melalui radio.
" ! "
"Eh?"
" Apa? Dimana posisimu??", sahut Utara sedikit terkejut Hening tiba-tiba saja menontak melalui radio.
" Hening dimana posisimu sekarang? Berapa jumlah musuh?", sela Komandan.

...
" pada jam 3, musuh sekitar 20 orang lengkap, diantara mereka ada geng putih..", jelas Hening.
" Hah? Apa kau tak salah?", tanya komandan lagi.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas.. Ada beberapa geng putih diantara mereka..", jelas Hening berusaha meyakinkan bahwa benar beberapa orang yang iya lihat berada diantara pasukan musuh tadi adalah pasukan asing, atau biasa mereka sebut geng putih.

"Ada yang aneh dengan tempat dan titik ini Ndan..", gumam Utara.
"Apa maksudmu?", sela Hening yang mendengar ucapan Utara.
"Lihat.. Kami menemukan jasad salah seorang dari prajurit kita.., lalu sejumlah pasukan musuh dengan beberapa geng putih.., pasti ada sesuatu yang besar di daerah ini..", jelas Utara.
"Hmm.. Kau benar, tak mungkin ini hanya kebetulan saja..", sahut Komandan.
" ... "
"Utara.. Komandan, Sebaiknya bersiap untuk tembakan..", sela Hening.
"Dimana posisimu..?", tanya Utara.
"Aku bisa melihat musuh dengan jelas dari sini.., keluar...", ucap Hening.

"Dia selalu seperti itu..", ucap Panah menanggapi.
"Sudah, ia selalu bisa diandalkan.."
"Komandan? Apa yang harus kita lakukan..?", sahut Utara.

"Hmm.., baiklah dengarkan..!"
" Kita lakukan dengan cepat... Tanpa ampun, kita tak butuh sandera, habisi tanpa bekas, musuh teridentifikasi terdapat Geng putih.. Maka dari itu, selesaikan..!", ucap Komandan mengarahkan.
" Siap Ndan..!", sahut Utara, Sendok, Panah dan juga Gembok serempak.

"Sangat berbahaya jika kita membuka kontak di barak ini, sebaiknya kita ke depan..", ucap Komandan sembari menunjuk ke arah luar.
"Utara, Panah, kalian merata di sisi kanan depan di pingggir rawa.., kau sendok dan kau Gembok, bersama saya ratakan sisi kiri.., kita biarkan mereka melewati kita.., setelah mereka memasuki barak, kita gempur mereka.., jelas?!?", jelas Komandan.

"Hmmm...", Utara dan yang lainnya menganggukkan kepala.
"Hening pasti mengCover kita.., baiklah.. ayo bergerak..", seru Komandan.
Tak butuh waktu lama, utara dan yang lainnya telah berusaha berbaur dengan kondisi alam berusaha untuk tak terlihat.

"Hmm... Jebakan ya?", gumam Hening dalam hati setelah melihat pergerakan rekan-rekannya dari kejauhan.
.
..
...
"Krikk...kriikk..."
Suara jangkrik serta binatang lainnya satu-persatu kembali meramaikan belantara hutan di penghujung bumi pertiwi ini, bak mempersilahkan area pertempuran yang telah tersaji secara tak langsung.
Hanya terpaut 50 meter dari posisi dimana Utara dan yang lainnya bersembunyi para pasukan musuh telah jalan mendekat, obrolan-obrolan para prajurit asing diantara prajurit musuh juga sudah terdengar, dari pergerakannya, mereka sepertinya belum mencurigai apapun saat ini sehingga mereka hanya tampak seperti berjalan-jalan malam tanpa kewaspadaan, terlebih para prajurit lokal yang sepenuhnya adalah milisi pemberontak NKRI, mereka terlihat kelelahan dan didera kantuk.

"Apapun yang akan kau lakukan, tunggu mereka kembali ke barak mereka. . . ", bisik Utara kepada Hening dengan merapatkan mulutnya ke mikropon radio yang menempel di lehernya.

" ... "
Namun Hening tak begitu memperdulikannya, tangannya masih memegang erat senapannya, matanya terus menatap tajam titik biding teropongnya.

"..bersiaplah.., mereka mulai tampak..", bisik Panah.
" Ya.., aku tahu..", sahut Utara sembari mulai menyembunyikan kepalanya di balik semak belukar.

"Ndan.., 30 meter...", bisik Gembok yang sedari tadi sudah memperhatikan gerak pasukan musuh didepan mereka.

"Bagus.., tetap menunduk.., tahan diri kalian.., kita tunggu mereka masuk..", sahut Komandan.

" ... "
"Srkkk..srkk.."
Kisruh suara langkah kaki para praajurit musuh juga terdengar membelah tumpukan semak serta tumbuhan liar yang memenuhi permukaan tanah.

" Satu..dua..tiga..empat.. Hmm ada enam geng putih..", ucap Utara dalam hati.

" Tahan diri kalian. . .", bisik Komandan melalui radio saat musuh sudah berada pada jarak tak lebih dari sepuluh meter.

Hanya selang beberapa saat, para prajurit musuh sudah lewat tepat dihadapan mereka, terlebih Utara dan panah yang hanya berjarak 3 meter dari gerombolan musuh yang lewat.
" ?!?! "
" Tak ada emblem?", ucap Komandan dalam hati berusaha memperhatikan emblem pasukan Asing yang berada diantara para milisi pemberontak.

Sebagian besar musuh telah keluar dari batas hutan dengan rawa dan memasuki lantai yang terbuat kayu menuju barak mereka, beberapa diantara mereka yang berada paling depan terdengar tertawa terbahak, mereka menertawakan kedua teman mereka yang mereka sengaja tugaskan untuk menjaga barak tak kunjung muncul dengan mengira merek tidur dan lari dari tugas.

" ! "
"Sial...", gumam Hening merespon sesuatu.

" !!! "
"Tenanglah Utara..", ucap Komandan dalam hati ketika menyadari ada salah satu dari pemberontak yang berjalan ke arah dimana Utara berada, dari gerak-geriknya sepertinya ia hendak buang air kecil.
" ! "
Panah yang berada dekat Utara tak bisa bergerak, jika dia bergerak sedikit saja musuh akan segera menyadarinya.

Komandan, Gembok, dan Sendok tampak telah bersiap dengan apapun yang akan terjadi dengan menggenggam erat senapan mereka masing-masing ketika salah seorang pemberontak tadi berhenti tepat di depan Utara.
" ... "
pemberontak tersebut tampak memperhatikan sekitarnya sejenak, ia mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, berusaha memastikan tidak ada apa-apa.
Sejenak Utara perlahan berusaha mengayunkan tangannya untuk meraih sangkurnya, namun terlalu beresiko, sementara senjatanya berada tepat di punggungnya, sungguh sial baginya.
.
..
...
" ! "
"Trskk!!!"
Tiba-tiba saja darah berhamburan dari kepala pemberontak itu, menyadari itu, tanpa berfikir panjang lagi Panah segera mbangkit dan melompat kecil untuk menahan tubuh pemberontak tadi agar tak jatuh menimpa ranting-ranting yang tercecer di tanah hingga membuat keributan.

"Hah!?!..", Komandan hampir saja bangkit dari persembunyiannya jika saja Sendok tak menahan pundaknya dengan tangannya.
Sepertinya sendok sudah membaca apa yang terjadi.
"..bagus sekali teman..", ucap Utara sembari membersihkan cipratan darah yang mengenai wajahnya.
"Hampir saja..!", gumam Panah menghela nafas sembari memperhatikan sejumlah pemberontak yang berada paling dibelakang.
"Sepertinya mereka tak menyadarinya..", ucap Panah lagi.

"KLak!"
Hening mengokang senapannya.

(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...