★HENING★ Part 59
" MUSUH ADA DIMANA-MANA "
Dalam gerak yang sangat lambat tampak sebutir peluru meluncur ke arah dada salah seorang dari ketiga orang dari Paspampres tersebut, sementara itu dilain sisi Tim Srigala juga tampak telah berada masuk di kawasan hangar tua, mereka adalah Letn.Angga beserta Sers.Dimas dan Sers.Haryo yang telah berada dalam posisi siap tembak dalam pergerakan mereka.
"Crkkk ! "
Seorang anggota Paspampres roboh dengan kucuran darah di dadanya.
" !!! "
Sesaat kedua penjaga dan dua Paspampres yang tersisa terkejut dan panik mengetahui salah seorang diantara mereka roboh.
" Kita ketahuan..! Bawa dia! Kita harus segera pergi..!",
seru salah seorang Paspampres mengajak rekannya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Tidak akan kubiarkan kalian lolos..! Penghianat!",
gumam Sers.Tari menyadari pergerakan mereka dan segera mengokang kembali senapannya.
"Hmm?!",
Sers.Tari seperti menyadari sesuatu.
"Kalian mau menjebak kami?!? Membawa mereka kemari hah?!?! ",
seru salah seorang penjaga merasa ini adalah semacam drama serangan untuk jebakan.
Tampak kedua penjaga tersebut meraih senapan serbu yang mereka sandang.
"Tunggu dulu..!!!, ini tidak seperti yang kalian kira!",
teriak seorang Paspampres berusaha meyakinkan kalau ini bukanlah rencana mereka.
" Benarkah?!? Lalu bagaimana kalau begini??",
sahut penjaga tersebut sembari mengarahkan senapannya ke arah dua orang paspampres tersebut.
" ! "
"Oh sial..!",
gumam paspampres tersebut segera melompat berlindung di balik mobilnya.
"Treteretereteret!!!"
"Teng...teng..teng teng teng"
Butiran peluru menghantam body mobil hitam yang digunakan para Paspampres tersebut.
"Hmm.. Maaf.. Kalian terlihat..",
gumam Sers.Tari sembari kembali melepaskan tembakan ke arah seorang Paspampres yang terlihat jelas di titik bidiknya.
"Crrkkk!!!"
Segera saja sebuah timah panas lagi-lagi menembus tubuh salah seorang paspampres tersebut.
"Semuanya keluar..! Kita diserang, kau jaga tawanan kita, aku akan menghubungi bos! Cepat!",
seru seorang anggota penculik Sir Robert memerintahkan rekan-rekannya yang ternyata tak sedikit.
"Hmm??? Mereka datang untuk menyelamatkanku???",
gumam Sir Robert dalam hati.
Sementara itu Tim srigala yang di komandoi Letn.Angga sudah bergerak pelan mendekati pintu belakang hangar tersebut.
" Aku rasa mereka masih fokus pada Sersan Tari, ini kesempatan kita, bersiaplah..Kita masuk dalam hitungan ketiga!",
ucap Letn.Angga.
"Hmm"
Angguk kedua Sersan mudanya itu.
"Satu..!",
Agak jauh didepan terlihat kedua penjaga masih menembaki mobil yang digunakan oleh para Paspampres tadi sembari sekali-kali mereka juga mengarahkan tembakan acak berusaha menebak posisi Sers.Tari.
"Dua..!",
Sementara didalam hangar dua gerombolan orang yang masing-masing terdiri dari 5 sampai 8 orang tampak melakukan formasi, gerombolan pertama bergerak ke depan, sisanya mengarah ke bagian belakang dimana Tim Srigala Letn.Angga berada.
"Tiga..!",
seru Letn.Angga sembari menendang pintu dan segera masuk dengan sigap dalam posisi siaga diikuti Sers.Dimas dan Sers.Haryo.
" ??? ",
"Sial..!!! Berlindung...!!!",
seru Letn.Angga mendadak menyadari bahwa dalam bangunan ini segerombolan orang telah mengarahkan senjata-senjatanya ke arah timnya dari jarak hanya belasan meter.
Sontak mereka bertiga melompat berlindung di balik sebuah mesin dinamo yang berjejer disepanjang ruangan belakang bangunan tersebut.
"Tretretretretrertetetetet...!!!"
Sekitaran 8 orang yang tampaknya juga terkejut dengan kehadiran Tim Letnan Angga segera menghamburkan puluru-peluru mereka.
"Tang tang teng ting tang tang.."
Desingan suara peluru menghantam lempengan besi mesin-mesin yang Letn.Angga dan lainnya gunakan untuk berlindung, gemuruh suara itu bersatu dengan letupan senjata disertai kilatan api dari pucuk-pucuk senjata yang jelas terlihat ditengah keadaan ruangan yang memang remang-remang, mengingat hampir tak ada sinar matahari yang masuk.
"Tash..tashtatataatashh"
Letn.Angga berusaha membalas dengan mengarahkan acak senapannya sambil tetap menundukkan kepalanya.
"Hentikan..! Ini bukan ulah kami..! Apa kalian tak bisa melihat??? Dua temanku tewas?!?!",
teriak seorang Paspampres yang tersisa ditengah gemuruh tembakan yang dilepaskan dua orang penjaga tadi yang merupakan anggota dari para penculik Sir Robert, ia mulai panik menyadari jumlah para penculik Sir Robert yang semakin banyak berdatangan, belum lagi Sers.Tari yang berusaha mengeksekusinya dari kejauhan.
"Aku mohon hentikan..!!! Buka mata kalian! Dua temanku telah tewas!!",
teriak Paspampres itu lagi.
Kali ini para penculik Sir Robert menanggapinya dengan menghentikan tembakan mereka, terlihat mereka saling pandang dan berusaha memperhatikan sekitar sambil bersembunyi di antara materil-materil yang ada di sekitar situ.
Tak lama Paspampres itu keluar dari tempatnya berlindung, ia berjalan menunduk pelan mendekati para penculik Sir Robert dengan mengangkat sebelah tangannya, sementara tangannya yang satunya lagi tampak memegangi perutnya yang mengucurkan darah, sepertinya sebutir peluru berhasil merobek tubuhnya.
"Lalu apa menurutmu yang sedang terjadi sekarang..?",
tanya seorang penculik Sir Robert yang tetap menundukan kepalanya dibalik bongkahan materil besi tua.
"Mereka telah mengetahui kita.. Ini ulah pasukan khusus..,sebaiknya kalian selamatkan tubuh-tubuh rekanku atau rencana ini akan terbongkar..!",
ucap Paspampres tersebut.
"Apa kau bisa meyakinkan kami??",
tanya penculik Sir Robert tadi lagi.
"... Apa kau itu bodoh?? Lihat..! Dua rekanku telah tewas..! Kalian masih menganggap ini rencana kami?!?",
jawab Paspampres tersebut sembari menahan perih luka tembakan di perutnya.
"Hmm... Itu bisa saja terjadi, apa saja pasti dikorbankan oleh negara ini untuk sebuah keberhasilan meskipun itu hal kecil..",
ucap Penculik Sir Robert tersebut.
"...?
Bagaimana kau bisa berkata seperti itu ditengah situasi seperti ini..? Itu terdengar gila..!",
sahut Paspampres tersebut geram.
"Gila..?!?
Apa menurutmu menghianati bangsa bukan hal gila..?!?
Kami sudah terlalu jauh, dan aku bisa berkata seperti itu karena sebagian dari kami dahulunya adalah para prajurit sepertimu..!",
seru Penculik tersebut.
"Hah..? Maksudmu kalian adalah..."
"CRRRSSSHHH!"
Sebutir peluru menembus kepala Paspampres tersebut sebelum menyelesaikan kata-katanya.
" ! "
"Berlindung..! Mungkin sniper kopassus yang berada disana..!",
seru Penculik Sir Robert tersebut memperingatkan rekan-rekannya, tampak ia memutar matanya ke segala arah berusaha menemukan posisi Sers.Tari.
Sementara itu dikejauhan tampak pucuk senapan Sers.Tari masih mengeluarkan asap sisa-sisa letupan mesiu.
"Penghianat tak akan kubiarkan bernafas di bumi pertiwi ini...!!!",
gumam Sers.Tari.
" ! "
"Ini...?",
gumam Letn.Angga yang melongokkan kepalanya keluar melihat situasi didepan setelah sayup sayup suara tembakan sudah berhenti.
"Ini... Mereka bukan segerombolan orang sembarangan...!",
gumam Letn.Angga dalam hati menyadari para musuhnya menyusun formasi dengan bersembunyi di balik dinding maupun materil-materil lainnya dalam ruangan yang cukup luas tersebut.
"Dimas, Haryo... Bersiaplah.. Sepertinya ini akan sulit..",
ucap Letn.Angga mengingatkan kedua Sersannya.
"aku mengerti ndan.., jelas mereka tak mau repot-repot mendatangi kita.. Mereka menunggu kita masuk..! Itu formasi bertahan dari serangan musuh...!",
sahut Sers.Dimas.
"...serta mungkin saja mereka sedang merencanakan sesuatu, dan itu berarti mereka pernah menjalani latihan tempur. . !",
tambah Sers.Haryo.
" . . .dengan kata lain mereka adalah. . .",
ucapan Letn.Angga terhenti, ia berusaha menebak dalam hatinya.
Sers.Dimas dan Sers.Haryo tampak saling pandang, sementara itu dari jauh Sers.Tari juga tampak mendengarkan dengan mimik tegang.
Jauh dari situ...
Seseorang tampak sedang berbicara melalui telepon di dekat tempat tidurnya, rambutnya yang mulai ditumbuhi uban sibuk disisirnya rapi didepan cermin, tubuhnya yang dipenuhi gumpalan lemak menandakan ia adalah seorang yang subur dan berhasil dalam profesinya.
Sebuah seragam militer tampak tergantung di lemari tak jauh dari tempat tidurnya, mengisyaratkan ia adalah salah seorang petinggi militer dinegara ini.
"Bersikaplah seperti biasa agar mereka tak curiga.., katakan saja sesuatu yang rumit.., kita hanya perlu mengulur waktu sampai australia mengetahuinya..",
ucap seorang itu.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak pak? Mereka sedang diserang..",
sahut seseorang diteleponnya.
"Hmm.. Tenang saja, selama ini mereka hanya pura-pura bodoh.., sebenarnya mereka itu adalah mantan anggota Pasukan khusus yang aku kumpulkan...",
jawab seseorang tua ini sembari tersenyum.
"Mereka sakit hati atas apa yang mereka dapatkan dari pemerintah bodoh yang dipimpin oleh pemimpin yang juga bodoh...
Sebaiknya kau fokus pada tindakanmu nanti, tak usah menghawatirkan anak-anak, anak-anak kita prajurit-prajurit hebat dari..",
jelas seseorang itu lagi sembari menghela nafas.
"... Dari angkatan udara.. Kopaskhas..",
sambung orang tua itu sembari menutup teleponnya.
..........
KOPASKHAS
Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (disingkat Korpaskhasau, Paskhas atau sebutan lainnya Baret Jingga), merupakan pasukan (khusus) yang dimiliki TNI-AU. Paskhas merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra, yaitu udara, laut, darat. Setiap prajurit Paskhas diharuskan minimal memiliki kualifikasi para-komando (parako) untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional, kemudian ditambahkan kemampuan khusus kematraudaraan sesuai dengan spesialisasinya.
Tugas dan tanggung jawab Korpaskhas sama dengan pasukan tempur lainnya yaitu sebagai satuan tempur negara, yang membedakan yaitu dari semua fungsi paskhas sebagai pasukan pemukul NKRI yang siap diterjunkan disegala medan baik hutan, kota, rawa, sungai, laut untuk menumpas semua musuh yang melawan NKRI.
...........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar