★HENING★ Part 52
" siapa..? "
Hujan tlah berhenti, langit yang semula gelap tampak dihiasi biasan sinar sang bulan di angkasa.
Tembakan demi tembakan saling bersahutan dari kedua orang itu bak orkes kembang api yang menghibur penghuni hutan..
Dan semua itu membuat waktu seakan berjalan lebih lambat dari biasanya.
"CrsshHh..!"
Sebutir peluru menembus bahu kiri Elang
Namun ia tetap berlari mendekat sambil terus menembak.
"Tash..Tash..Tash!"
Keduanya terus saling menembak satu sama lain.
"Crsshh!"
Sebutir peluru kembali bersarang di paha kanan Elang, kali ini dia terjatuh.
" ! "
Elang juga terkejut menyadari beberapa inci disebelahnya adalah bibir sebuah jurang terjal yang tertutup ilalang liar sehingga sulit untuk terlihat, terdengar gemericik air menandakan ada semacam sungai atau perairan dangkal di ujung jurang ini.
"Sial...!",
gumam Elang mengetahui dirinya terdesak, ia berusaha membidik dengan benar dan menempatkan sosok Kapt.Sherman dalam pijeranya.
"Akhirnya...",
ucap Kapt.Sherman sembari mengganti magazen Pistolnya dan berjalan mendekati Elang.
"Klikk..klikk.."
Elang kehabisan peluru.
"Sialan...!, huh..huh..huh..",
umpatnya kelelahan.
"Hmm..?! sepertinya kali ini keberuntungan berada dipihakku.., aku rasa aku ingin melihat wajah orang yang telah membuat aku dan timku hingga seperti ini..",
ucap Kapt.Sherman sambil terus melangkah pelan mendekati Elang.
"Sialan..!, huh..huh..huh..",
Elang terengah-engah sambil sesekali melirik bibir jurang didekatnya.
".. .. janganlah menjadi prajurit pengecut dengan melompat kesana.. Hadapilah musuhmu prajurit..!",
tanggap Kapt.Sherman.
Elang hanya diam.
"kau dan aku sama-sama seorang prajurit.., kita diciptakan ditemani sebuah peluru.. Kita bertindak menggunakan peluru.., sudah seharusnya kita juga mati dengan peluru bukan?",
tambah Kapt.Sherman tersenyum.
"Sejujurnya aku menaruh hormat padamu.., karena baru kali ini aku beserta anak buahku dipecundangi seperti ini..",
sambung Kapt.Sherman yang telah berdiri tepat dihadapan Elang.
"Huh? Huh..",
Elang hanya diam sembari berusaha bangkit.
"Tapi kau tetaplah musuhku.., seberapa hebatnya kau hingga membuatku terkesan tetap tak akan mampu menyelamatkan nyawamu, tunjukkan wajahmu agar aku tak penasaran seperti apa rupa musuh hebatku hari ini..",
ucap Kapt.Sherman lagi yang telah mengacungkan pistolnya ke arah Elang yang tertunduk dihadapannya.
"Prajurit. . .? Kau bilang kita prajurit?",
gumam Elang.
" ? "
"Apa maksudmu..?",
tanya Kapt.Sherman.
"Prajurit itu hanyalah sebuah sebutan.., kita bukanlah prajurit, kita hanyalah alat yang digunakan di garis terdepan...",
ucap Elang.
" Hmm..?",
Kapt.Sherman terhenyak.
"Kita adalah alat yang melaksanakan perintah.., aku tak pernah menganggap diriku prajurit.., seburuk apapun perintah negara, dan sepahit apapun itu.. Kita tetap melakukannya, dan itu bukan karena kita prajurit.. Tapi karena kita adalah anak negara..!",
sambung Elang sembari mengangkat wajahnya perlahan.
"Hmm..kata-kata dinginmu mengingatkanku pada teman lamaku..",
gumam Kapt.Sherman sembari bersiap menekan picu pistolnya.
"Begitukah..?",
sahut Elang yang wajahnya telah disinari cahaya bulan dari celah dedaunan, sehingga wajahnya terlihat jelas.
" ! "
"Elang. . .???",
ucap Kapt.Sherman terbata, mengenali wajah seorang musuh dihadapannya sambil menurunkan pistolnya.
" ??? ",
Elang tertegun.
Keadaan sesaat berubah hening seketika, hanya terdengar suara binatang-binatang malam yang bersahutan.
Sementara itu Elang berusaha untuk melihat wajah seorang musuh dihadapannya yang secara mengejutkan mengetahui namanya.
"Bagimana kau tau namaku..?",
tanya Elang sembari terus berusaha melihat sosok musuhnya itu yang berdiri dalam kegelapan.
"Hmm..",
Kapt.Sherman tersenyum.
"Ini aku. . ."
"TASH..!!!"
Sebuah peluru mengoyak tubuh Kapt.Sherman sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, membuat Chief Green Berets itu terpental.
" ! "
Elang berusaha mencari darimana tembakan itu berasal.
"Elang..! Menunduk...!",
teriak seseorang yang ternyata adalah Mahda yang berlari mendekat dengan tertatih-tatih kembali bersiap untuk menembak.
"Mahda...?",
gumam Elang melihat ternyata Mahda yang melepaskan tembakan.
"Mahda tunggu...!, tunggu..!",
teriak Elang.
Namun Mahda tak menghiraukannya.
"Tash..! Tashh!"
Dua butir peluru kembali merobek tubuh kapt.Sherman, membuatnya semakin terpental roboh ke arah jurang.
" ! "
"Ekhh.. kau.. Benar..be..nar hebat..",
ucap Kapt.Sherman kepada Elang disaat-saat tubuhnya akan roboh.
"hah..?",
Elang masih belum bisa mengenali sosok Kapt.Sherman.
"Sial...!",
umpat Elang menyadari tubuh Kapt.Sherman akan jatuh kedalam Jurang.
Elang berusaha meraihnya, namun ia kesulitan karena sejumlah luka ditubuhnya.. Dan sosok musuh yang mengetahui namanya itupun terjatuh ke dalam Jurang terjal itu.
Elang hanya terperangah tak mampu berbuat banyak ketika tubuh Kapt.Sherman meluncur terjun bebas kedalam Jurang.
"Kau tak apa..? Ayo..",
ucap Mahda.
Elang tak menjawab, pikirannya masih penuh dengan tanda tanya siapa sosok musuh yang mengetahui namanya tersebut.
"Heh.., ada apa? Kau baik saja..?",
tanya Mahda lagi.
"Yah, aku tak apa.. Dimana Adam? Apakah ia baik saja?",
sahut Elang.
"aku rasa Ia akan baik saja, ayo kita segera pergi dari sini..",
jawab Mahda sembari membopong rekannya itu meskipun dengan tertatih-tatih.
Sementara tampak Elang masih menoleh ke arah jurang, ia masih memikirkan sosok Kapt.Sherman, siapa dia?, bagaimana ia bisa tahu?, darimana dia?.. sejumlah pertanyaan menyelimuti pikiran Elang.
tak berselang lama..
"Adam..! Adam bangun..!",
seru Mahda sembari menggoyang-goyang tubuh rekannya itu.
Adam masih diam tak bergerak tersandar disebuah batu besar.
"Adam..! bangunlah..! Adam..! jangan tinggalkan kami teman..!"
Mahda mulai panik, sementara Elang hanya diam, tampak raut kecemasan meliputi wajahnya.
"kau sudah berjanji akan makan nasi goreng di pinggiran monas..!! Adam bangunlah...! bangun Adam..!",
teriak Mahda sambil terus menggoncang tubuh Adam yang masih tak bergerak.
"Mahda..sudahlah..",
ucap Elang mendekat.
"tidak..! Dia tak boleh Mati..! Adam bangun..!",
teriak Mahda lagi dengan berurai air mata.
Elang juga sepertinya berusaha menahan air matanya.
angin berhembus pelan, suara binatang-binatang malam mengiringi kesedihan meraka.
Mahda masih tetap menggoncang tubuh Adam meskipun Elang berusaha menahannya.
"ekhh.., hentikan.., aku belum mati..",
ucap Adam pelan sembari membuka matanya.
"Adam..! sukurlah..! kukira kau sudah mati..!",
seru Mahda terkejut dan langsung merangkul sahabatnya itu.
"hei..hei.., kalau begini aku bisa mati sungguhan..",
ucap Adam merasa sesak.
"oh maaf..",
ucap Mahda melepaskan rangkulannya.
"bagaimana nasi gorengnya..? kau yang traktir ya..?",
tambah Adam tersenyum.
" . . ."
Mahda dan Elang saling pandang.
"hahahahaha..hahaha!"
dan mereka tertawa.
"dasar kau ini..",
sahut Elang tersenyum sembari mengingat sosok Jim.
"terima kasih..",
gumam Elang dalam hati.
.........,
Jauh dari situ..
Tampak seorang wanita tengah membereskan buku-buku yang berserakan di ranjangnya.
Kaos tank top yang ia kenakan membuat balutan perban dibahunya terlihat, serta training pendek sebatas pahanya menyisihkan ruang untuk kaki jenjangnya, sorot matanya yang tajam sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Huhh.. Akhirnya besok aku kesana.., kuharap aku bisa menemuinya..",
gumam sosok tersebut yang ternyata adalah Sers.Tari.
"HMm,, tidak-tidak.. Sebaiknya aku lihat kakak dulu..",
ucap Sers.Tari sembari menggigit jarinya juga mengerutkan dahinya, sepertinya ia bingung akan apa yang akan dilakukannya esok.
..........
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar