★HENING★ Part 56
" SEGERA DIMULAI "
"Jendral, bagaimana dengan prajurit lain yang akan kau ajukan untuk misi ini? Kita tak punya banyak waktu..",
tanya Pang.Rokhim pada Jend.Purnomo.
" baiklah kalau begitu.., segera kirim mereka.. Lakukan dengan baik, saya percayakan ini pada kalian semua, berjuanglah..",
sela Pres.Darwin sembari berniat meninggalkan ruang komando tersebut.
"Siap Pak pesiden..!",
sahut Pang.Rokhim beserta Jend.Purnomo dan Letn.Vega serempak.
Orang nomor satu dibumi pertiwi itupun segera meninggalkan mereka diikuti para pengawalnya dengan sedikit terburu-buru mengingat Pres.Darwin hendak segera menghubungi PM Dubbront.
.........
Tak lama kemudian Sers,Tari telah kembali masuk ke ruang komando tersebut.
"Izin panglima, Sersan Tari melapor untuk kesiapan bertugas..!",
seru Sers.Tari dalam posisi bersiap.
"Baik Sersan.., laporan diterima.. Jendral..?",
sahut Pang.Rokhim sembari menunggu penjelasan Jend.Purnomo tentang anggota tambahan untuk misi pencarian dan penyelamatan Sir Robert Hawkins, Kedubes Australia untuk Indonesia.
"Yah Panglima, mereka sedang dalam perjalanan kemari.. Kurasa beberapa menit lagi akan sampai..",
ucap Jend.Purnomo.
"Letnan.., bagaimana kita akan memulainya? Kita tak memiliki informasi tentang kejadian sebelumnya..",
tanya Pang.Rokhim.
"Siap Panglima.., baik panglima, barusan saya menghubungi penghubung unit mata-mata disekitar kantor kedubes, mereka mengira itu adalah tindakan dari unit Sandi Yudha sehingga mereka membiarkan saja penculikan itu terjadi.., namun mereka sempat mencatat plat mobil tersebut..",
jawab Letn.Vega sambil membolak-balik dokumen yang baru saja ia buat.
"Hmm.., begitu.. Bagus.. Sebaiknya kita segera mencari tahu dimana terakhir kali mereka terlihat..",
ucap Pang.Rokhim sembari melirik seorang petugas informasi tak jauh dari mereka.
"Siap panglima, segera saya kerjakan..",
ucap Petugas tersebut sigap.
"Minta otorisasi kamera pengawas lalu lintas kepada Polri lalu ke polantas, katakan ini perintah langsung D-1..!",
seru Pangl.Rokhim.
"Siap panglima, beri saya 5 menit..!",
sahut petugas tersebut segera mengotak-atik peralatan komputer didepannya.
"Panglima.., ini jelas misi perbandingan, jika kita berhasil menemukan Sir Robert, ada kemungkinan Musuh akan melakukan suatu tindakan berbahaya seperti melukai sampai membunuhnya..
Sebaiknya ini kita klasifikasikan menjadi misi pengintaian",
ucap Jend.Purnomo memberi saran.
"Hmm... Itu benar, Letnan.. Bagaimana menurutmu..?",
sahut Pang.Rokhim melanjutkan ke Letn.Vega.
"Saya setuju dengan pendapat dari Jendral Purnomo, untuk selanjutnya sepertinya kita tidak punya kesempatan untuk berfikir menangkap mereka yang menculik Sir Robert, tidak ada pilihan lain selain eksekusi ditempat demi keselamatan Sir Robert, penangkapan atas dasar untuk informasi harus kita jadikan prioritas ke-3 setelah penyelamatan dan keselamatan personil..",
kata Letn.Vega menjelaskan.
"...benar, keselamatan Sir Robert harus kita utamakan..",
sela Jend.Purnomo.
Namun tak lama berselang tampak tiga orang berseragam lengkap memasuki ruang komando tersebut.
"... Mereka telah tiba Panglima..",
ucap Jend.Purnomo menyadarinya.
"Sersan Haryo, Sersan Dimas, dan juga Letnan Angga.. Mereka dari satuan Rider panglima.., namun mereka ini adalah mantan anak didik saya.., saya rasa mereka cocok untuk misi ini..",
jelas Jend.Purnomo.
"Siap.., kami siap untuk melaksanakan tugas..!",
sahut ketiga prajurit itu serempak.
"Hmm.., baguslah.., saya tak ingin membuang waktu lagi.., sembari menunggu informasi sebaiknya jelaskan secara rinci misi ini pada mereka..",
ucap Pang.Rokhim.
"Baik panglima.., Vega.. Jelaskan pada mereka..",
pinta Jend.Purnomo.
" ?!?",
Letn.Angga tampak mengerutkan dahinya mengetahui timnya akan diberikan briefing oleh seorang Letnan wanita.
"Letnan? Apa kau meragukan wanita ini..?",
tanya Jend.Purnomo mengetahui gelagat Letn.Angga.
"Emm.., siap tidak Jendral..!",
sahut Letn.Angga sigap, namun tetap saja setengah pikirannya tak percaya terhadap kemampuan Letn.Vega dihadapannya, setelah begitu banyak briefing yang telah dilalui timnya baru kali ini seorang Letnan Wanita memberikan briefing pada timnya.
"Bagus, Vega.. Silahkan..",
sambung Jend.Purnomo.
Selanjutnya Letn.Vega segera bangkit berdiri dari tempat duduknya sembari tersenyum.
"Baik Jendral..",
sahut Letn.Vega.
"Baiklah kalau begitu, sebelumnya saya akan memberikan sandi untuk tim kalian, "serigala".., dengan Letnan Angga sebagai komandan regu..",
sambung Letn.Vega.
"Siap.. Dimengerti..!",
sahut Letn.Angga beserta yang lainnya serta Sers.Tari.
"Bagus.., saya telah membaca data kalian dari Jendral Purnomo.., kalian ahli dalam penyergapan, pengintaian, dan sabotase.., namun kali ini target kalian adalah kedubes Australia yang diculik oleh pihak tak dikenal.., ini adalah misi rahasia.., kalian tak akan mengenakan seragam, kita lakukan ini dengan sangat hati-hati..
Kalian juga akan mendapat dukungan dari Sersan Tari dari Kopassus unit 2 sebagai penembak jitu, ingat misi kalian adalah misi penyelamatan..
Keselamatan sandera menjadi prioritas utama bahkan dari keselamatan kalian sendiri, kalian mengerti..!?",
jelas Letn.Vega.
"Sersan Tari.., bagaimana keadaanmu..? apa kau siap akan misi ini?",
tanya Letn.Vega masih menghawatirkan keadaan adiknya itu.
"siap, saya baik saja Letnan..!",
jawab Sers.Tari sedikit menebar senyum kepada kakaknya itu.
"Kedubes Australia? Apa yang sedang terjadi?",
gumam Letn.Angga dalam hati.
"Siap.. Mengerti..!",
sahut mereka serempak.
"Lapor panglima..! Maaf menyela sebentar.., dari data yang saya terima objek musuh terakhir kali terlihat di tenggara kota jauh dari pemukiman..!",
sela petugas informasi yang ditugaskan sebelumnya.
"Bagus.., bisakah kau dapatkan lokasi tepatnya..?",
tanya PangRokhim.
"Siap.. Bisa panglima, saya akan gunakan satelit..",
sahut petugas tersebut.
"Kalau begitu lakukanlah dengan cepat..!",
perintah Pang.Rokhim.
"Siap panglima..!",
sahut petugas tersebut.
"Letnan.., langsung saja ke inti misi ini.., kita tak punya banyak waktu..",
pinta Pang.Rokhim sembari melirik Letn.Vega.
"Baik panglima..",
sahut Letn.Vega mengiyakan.
"Baik.., kali ini kalian "srigala" harus melakukan evaluasi posisi dan situasi terlebih dahulu dan laporkan ke pusat sebelum bertindak..
Sersan Tari akan mendukung kalian dari jauh, ingat.. Jangan buru-buru bertindak sebelum diperintahkan..",
jelas Letn.Vega.
"Izin bertanya Letnan..!",
sahut Letn,Angga sembari mengangkat tangannya.
"Silahkan Letnan..",
ucap Letn.Vega mempersilahkan.
"Kenapa kita tak langsung saja menerobos masuk..? Sehingga tak ada kesempatan musuh untuk melakukan sesuatu..",
ucap Letn.Angga.
"Hmm.. Itu terlalu berbahaya Letnan.., ingat.. Yang mereka culik adalah kedubes Australia, Musuh pasti bukan orang sembarangan.., dan ini semakin rumit jika pihak Australia mengetahui peristiwa ini..",
jelas Letn.Vega.
"Jadi maksud anda Australia belum mengetahui ini..?",
tanya Letn.Angga.
"Belum Letnan, namun itu tak akan bertahan lama, maka dari itu kestabilan situasi sekarang tergantung pada kalian semua..",
jelas Letn.Vega.
"Baik.. Kami mengerti Letnan..",
sahut Letn.Angga mengangguk.
"Dapat..! Panglima..saya mendapatkannya..! Mobil yang diduga membawa kedubes Australia terparkir didekat sebuah bekas pabrik Es jauh dari pemukiman..!",
seru petugas informasi sembari membawa selembar foto satelit yang didapatnya.
"Hmm..? Kerja bagus..! Sebaiknya kalian segera bersiap..!",
ucap Pang.Rokhim.
.........
Jauh dari situ..
Pesawat TNI AU, tujuan Jakarta..
"Hmmm...sepertinya aku lapar",
ucap seseorang yang terbaring disebuah tandu dengan tubuhnya yang dipenuhi balutan perban.
"Kau tak tertidur Adam..?",
tanya Mahda menyahut ocehan rekannya tersebut.
"Aku lapar bagaimana aku bisa tidur? Hey tolong carikan aku makanan..",
sahut Adam sembari meminta tolong pada 2 orang prajurit medis yang menjaga mereka.
"Sepertinya kita ada dipesawat..",
ucap Elang pelan.
"Hey.., ternyata kau juga bangun..",
seru Mahda.
"Benarkah? Aku kira kita sedang berada dalam bus.., pantas aku tak mendengar riuh jalan raya..",
sahut Adam.
"Sepertinya kau baik saja Adam..",
sela Mahda menanggapi Adam yang terus berbicara.
"Baik saja..? Ini menyakitkan tau.. Aku hanya tak menghiraukannya..",
jawab Adam sembari menunjuk sejumlah perban di tubuhnya dan sebuah selang infus ditangannya.
"Kalau itu aku juga punya..",
sela Mahda sembari menunjukan lengannya yang terkait selang infus.
"Sudahlah.., sepertinya pesawat ini akan mengantar kita ke jakarta.., sebaiknya kita beristirahat..",
ucap Elang sambil merapikan balutan perban ditubuhnya.
"Itu ide bagus..,",
sahut Mahda.
"Bagaimana aku beristirahat jika aku lapar..? Apa kalian tak lapar?",
sahut Adam.
"Akan Semakin lapar jika kau terus mengoceh..",
ucap ELang.
"Hahaha.. Itu benar..!",
sahut Mahda tertawa.
"Hmm.. Mengapa perasaanku sungguh tak enak..???",
gumam Elang dalam hati, pikirannya berusaha menerawang akan hal apa yang sedang terjadi diluar sana.
............
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar