★HENING★ Part 70
" DRAMA "
" Bingo! ", ucap Hening melalui Radionya sambil kembali mengokang senapannya.
" Bagus !",
"Kalau begitu kita harus cepat.., kita belum tahu jumlah pasti musuh kita ", ucap Komandan perlahan berhasil melewati untaian kawat pemicu Ranjau yang dipegangi oleh Utara.
" Sendok.., cepat sedikit!", eluh Utara.
"Baik.., maaf teman ", sahut Sendok sembari berusaha melewati untaian kawat tersebut.
Sementara itu tak jauh dari posisi mereka tampak Panah dan Gembok terus mengamati sekitar area tersebut sambil sesekali mengarahkan moncong senapannya.
" ! "
" Hei..! Kau lihat itu?", tanya Panah kepada Gembok karena merasa melihat sesuatu.
" Ada apa..? Apa yang kau lihat?", jawab Gembok mencoba melihat ke arah yang ditunjukan oleh panah.
.
..
...
" Hah? Itu seperti... Hening! Kau bisa melihatnya?", tanya Gembok melalui Radionya.
" Posisi..?" Tanya Hening.
" Pukul 2 merayap..!", sahut Gembok.
Segera saja Hening mengarahkan teropongnya ke arah pukul 2 di sebelah kanannya dan menurunkan bidikannya.
"Hmm?" Gumam Hening.
"Kau bisa melihat apa itu..?", tanya Gembok.
"Tunggu..! Aku terhalang..", sahut Hening sembari berpindah posisi dan langsung kembali melihat dari bari balik teropongnya.
" ... "
Sementara itu Utara tampak mendengarkan percakapan rekan-rekannya itu dari radionya sembari masih berusaha melewati untaian kawat ranjau musuh.
" Itu terlihat sepertii bunker! Ternyata bukan.. Itu sebuah jalan!", jelas Elang setelah mampu melihat bahwa itu adalah potongan kayu yang dibuat sebagai pijakan menuju bibir rawa di timur.
" Hanya lantai pijakan ternyata..", gumam Gembok.
"Tidak seperti itu... Ini ..., Ndan, anda mendengarkan?", sahut Hening.
"Yah.., saya tau apa yang kau pikirkan..", jawab Komandan.
" Apa maksudnya..?", tanya Gembok sembari melirik Panah.
" ... "
Panah hanya meletakkan telunjuknya di mulutnya bermaksud menyuruh rekannya itu untuk diam dan mendengarkan.
.
..
" Apa tepat seperti yang juga aku pikirkan Ndan?", tanya Utara sembari memanjat naik ke balkon barak musuh tersebut.
"Hey.. Jangan ceroboh..!", tanggap Sendok.
"Sendok waspadalah..", beritahu Komandan.
"Tapi Ndan..!", sahut Sendok melihat Utara dengan santai berjalan masuk ke barak musuh tersebut.
Selang beberapa saat Utara kembali berjalan keluar.
"Hah? Tak ada siapa-siapa lagi?", Sendok merasa bingung, melihat Utara berjalan santai di barak musuh.
" Apa yang harus kita lakukan Ndan?", tanya Utara.
" Sepertinya ini akan ramai..", sahut komandan sembari menjulurkan tangannya hendak naik ke balkon yang terbuat dari kayu tersebut.
"Ada apa sebenarnya..?", Gembok masih bertanya-tanya.
"Baiklah.., Panah, Gembok, kalian menemukan akses lain untuk masuk ke barak ini.. sebelumnya hanya ada dua musuh yang dilumpuhkan oleh Hening..", ucap Komandan dari radionya.
"Lalu..?", tanya Gembok.
" Kemungkinan musuh lain sedang berpatroli keluar dari barak mereka.., sebaiknya kita berkumpul disini untuk melakukan serangan kejutan kepada mereka jika mereka kembali..", jelas komandan.
"Baik Ndan!", sahut Panah kemudian mengajak gembok bergerak ke arah jalan masuk ke barak musuh tersebut.
Sementara itu tampak Hening bergerak cepat menyusuri bibir rawa menuju arah timur dimana akses masuk kebarak tersebut berada.
"Sendok, periksa keseluruhan barak ini.., mungkin ada sedikit informasi..", perintah Komandan.
"Baik Ndan!", sahut Sendok sembari bergerak masuk ke barak.
"Berarti intelijen kita salah.., tidak ada aktivitas besar disini.., ini hanya pos kecil..", ucap Komandan sembari berjalan pelan masuk ke barak di ikuti Utara.
"Hmm... Tidak ada apa-apa disini..", ucap Utara melihat-lihat keadaan didalam barak ini yang memang kosong, hanya terlihat sebuah mesin genset listrik disudut ruangan.
"Hmm? Genset?", gumam Utara sejenak lalu melirik je arah sentir yang menggantung.
"Ini..?!?", gumam Utara kembali sambil berlari keluar.
"Ada apa?", tanya Komandan.
"Sepertinya ini bukan pos kecil komandan..!", jelas Utara.
"Maksudmu?", tanya Komandan beranjak keluar mengikuti Utara.
"Itu komandan..", ucap Utara sembari menunjuk kabel lampu yanr terjuntai di atas dengan beberapa lampu menyebar ke tiap sudut.
"Komandan.., anda harus melihat ini..!", ucap Sendok serius melalui Radio.
"Hah? Dimana posisimu?", tanya Komandan.
"Didepan.., eh dibelakang, aku tak tau ini depan atau belakang..", sahut Sendok.
Segera saja Komandan berjalan cepat menuju posisi Sendok diikuti Utara.
"Hening dimana kau?", tanya Utara.
" ... "
"Jawab aku..! Hening.., shhh!", eluh Utara tak ada jawaban dari Hening diluar sana.
"Ndan..! Hening tak. . . ", Utara sejenak terdiam tak melanjutkan kata-katanya terkejut melihat apa yang dilihat Komandan dan Sendok.
"Ini. . . ", gumam Utara badannya mulai bergetar.
"Sungguh sialan...", raut wajah Sendok juga tampak berubah memerah.
sementara Komandan berjongkok dan berusaha meraih sesuatu.
"... Ada apa disana ?", gumam Panah.
"Entahlah.. Ayo kita bergegas..", ajak Gembok mempercepat langkahnya.
" ..sebaiknya kita segera bergerak Komandan. . . ", ucap Utara.
"Tahan dirimu prajurit..., seharusnya kita bersyukur atas apa yang kita temukan disini.. Sehingga kedatangan kita kesini tak akan sia-sia..", sahut Komandan.
"Ini keterlaluan Ndan...", sambung Sendok masih tak percaya dengan apa yang diketemukannya.
" !!! "
Panah dan Gembok yang baru saja sampai juga tampak tercengang melihat apa yang ada di hadapan Komandan dan kedua rekannya tersebut, tiba-tiba saja tubuh mereka bergetar hebat, bukan perasaan takut yang menyelimuti.. Tapi semacam amarah yang muncul dari jiwa mereka.
"Klak..!"
" Kita harus membalasnya Komandan!!!", ucap Gembok sembari mengokang senjantanya.
"Bedebah..!", ucap Gembok sembari memukulkan tangannya ke lantai.
"Tahan diri kalian.., jangan biarkan ini mengganggu konsentrasi kalian.. Rekan kita ini pasti tenang kita telah sampai disini..", sahut Komandan.
"Utara. . .", panggil Komandan.
"Baik Ndan..", sahut Utara mengerti.
"Semuanya..! Berikan penghormatan terakhir..! Hormaaat grak!", bentak Utara.
Segera saja semua memberikan hormat.
Keadaan berubah menjadi dingin ketika kelima prajurit tersebut memberikan penghormatan terakhir kepada seseorang dihadapan mereka yang sudah tak bernyawa lagi.
Yah..,, mereka menemukan mayat salah satu dari mereka, mayat seorang prajurit berseragam militer Indonesia yang berlumuran darah terbujur kaku disudut barak musuh dengan tangan terikat.
Luka tusukan disekujur tubuh serta lebam hantaman benda tumpul melengkapi tetesan darah yang membuat seragamnya menghitam.. Mirisnya lagi, beberapa bagian tubuhnya telah terpisah, ditambah wajahnya yang sudah tak bisa dikenali membuat suasana semakin dingin disertai suara rintik hujan yang mulai berhenti seakan menyelesaikan tugas latar yang diembannya dalam sebuah drama diakhir episode.
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar